Hati Yang Beku

Reads
3.8K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

8. Hati Kedua

“Jas! Kamu tergesa banget. Emangnya mau ke mana sih?”
“Aku... aku... mau...” Jasmine ragu mau mengatakan niatnya donor darah, tapi melihat Lintang yang setahun ini mau berteman dengannya, Jasmine jadi berpikir ulang.
“Aku mau ke Fakultas Kedokteran Auditorium Sayap Barat, Lin ?” Jasmine ragu.
“Ohh kamu mau ikutan acara donor darah. Ihhh kamu pikir cuma kamu saja yang berminat. Jasmine! Jasmine ayolah bareng! Aku sudah ke tiga kali jadi pendonor darah. Kebetulan ada sepupuku juga yang jaga poskonya, anak Fakultas Kedokteran,” Lintang menarik tangan Jasmine.
“Udah naik mobil aku saja! Mobil kamu biar parkir di sini.”
“Wah, oiya... hehehehe...” Jasmine tertawa riang, tidak menyangka Jasmine yang selama ini satu-satunya gadis yang mau berteman dengannya dan tidak menganggap dirinya aneh ternyata mempunyai niat yang sama.
***
“Wah udah lumayan sepi sepertinya, hmmm udah jam empat sore sih...” Lintang memarkir Avanza silver-nya.
“Mana Dimas ya?” pandangan Lintang beredar di posko PMI yang mulai lengang.
“Lintang! Tang! Sini...” seorang cowok memakai kaos biru dongker dan jeans di rangkap jas putih seperti dokter melambaikan tangannya.
“Mas Raka, aku bawa sahabatku nih, mau donor darah juga.”
“Wah ok, siapa namanya?” cowok yang dipanggil Raka tersenyum senang.
“Jas ini sepupuku… namanya Mas Raka, dua tingkat di atas kita. Mas Raka anak Kedokteran dan ini salah satu acara sosial mereka...” Lintang nyerocos kaya sepur.
“Oh... aku Jasmine,” Jasmine membalas uluran tangan Mas Raka yang terlebih dulu terjulur.
Mata mereka bertatapan dan mengalirkan semburat merah di wajah Jasmine, sementara Raka juga terbengong sesaat.
“Yeee malah pada bengong, Mas Raka aku tahu pasti kamu ingat Mbak Lita kan? Apa kubilang kalau Jasmine itu mirip-mirip Mbak Lita kan? Semoga saja sifatnya nggak kaya dia!” saat mengatakan kalimat terakhir, Lintang agak memonyongkan bibirnya.
Jasmine bisa meraba kalau orang yang bernama Mbak Lita pasti orang yang pernah spesial hadir di hati cowok yang tengah berdiri di depannya yang membuat debar lembut.
“Sudah hampir empat tahun Jasmine, kamu tidak salah bila jatuh hati pada hati lain selain Kak Tetra...” bisik hatinya.
“Entahlah...” Jasmine mendesah sendiri.
***
“Ayo Girls! Siap donor darah ya... bentar! Bram, bantu aku cek mereka lolos untuk donor nggak?”
Cowok bernama Bram dengan pakaian sama seperti Raka gesit menghampiri dan langsung menggandeng Lintang, ternyata mereka sudah saling kenal. Malahan Lintang tertawa-tawa riang.
“Hmmm… jadi ini Bram yang suka Lintang bicarakan ke aku...”
Jasmine jadi paham kenapa sikap Lintang begitu riang, ternyata cowok yang ditaksirnya sekarang yang akan mengecek stamina kesehatannya.
“Ok... eh Jasmine ini donor ke berapa?” Mas Raka bertanya lembut.
“Ini pertama kali...” Jasmine berdebar.
“Hmmm ok... maaf tangannya,”
Jasmine mengulurkan tangan kanannya, dan Raka memegang punggung tangannya lalu memilih jari tengah mengusap-usap.
“Aaaa...” Jasmine memekik pelan saat Raka menyuntikkan dengan cepat lalu memencet sedikit darah segar yang muncul, lalu diteteskan pada sebuah preparat.
“Ok bisa... Hb ok... bentar aku tensi ya...”
Jasmine menurut saja saat Raka melingkarkan tensi di tangan kanan atas.
“Normal… ok… kamu juga harus isi formulir kesehatan ini ya... harus jawab sejujurnya, aku ke dalam sebentar ya,” Raka masuk ke dalam ruangan sekretariat.
Jasmine mengisi biodata dan riwayat kesehatan. Bersyukur semua yang dipertanyakan belum pernah terjadi pada dirinya.
Pas semua selesai, Raka datang lalu membaca sekilas.
“Mas Raka aku agak takut... sakit nggak ya?”
“Tuh lihat Lintang lagi donor juga ketawa-ketawa ama Bram! Nggak sakit kok tenang aja, Mas akan pelan-pelan menusukkan jarumnya. Dijamin kamu nggak terasa apa-apa! Percaya deh!” Raka mengedipkan mata pelan meyakinkan gadis ayu yang tampak lebih pucat dari aslinya.
Dengan lembut Raka meraih tangan kanan Jasmine yang sekarang sudah terbaring.
“Nih genggam bola lunak ini, yang kencang ya... ok... bagus... nah udah. Buka pelan-pelan...”
“Wah...”
Jasmine baru sadar kalau darahnya mulai mengalir berpindah pada sebuah kantung plastik bertulis 250 cc.
Rasa haru merambati relung hatinya. Sejak melihat mamanya terbujur kaku berlumur darah, Jasmine agak trauma dan mual dengan segala hal yang berbau darah, obat dan rumah sakit.
“Nah Jasmine tunggu aja ya, sabar... tuh Lintang masih aja ketawa-ketawa... aku mau ngecek yang lain sebentar,” Raka berlalu sesaat.
Jasmine maklum, dari cerita Lintang kalau Mas Raka ketua panitia bakti sosial ini, jadi dia pasti harus mengecek semuanya.
Ada kekaguman dengan kebaikan hati Raka yang terpancar dalam tindak tanduknya yang sopan.
“Ya Allah kenapa aku berharap banyak dengan cowok ini... hatinya baik sekali... aku bisa merasakannya...” laras hati Jasmine.
***
“Nah nikmati mie rebusnya ya Lintang dan Jasmine... jangan lupa obat penambah darahnya dua kali sehari untuk tiga hari dan kalian harus makan yang bergizi dan perbanyak sayur-sayuran!”
“Iyaaa Pak Dokter bawel bin cerewet!” Lintang memakan lahap mie rebusnya bergantian dengan susu UHT.
Jasmine memakan pelan-pelan saat mau berdiri, “Aduh...” tiba-tiba rasa pusing sejenak mendera.
Sontak Lintang berteriak, “Mas Rakaaaa!”
Raka datang tergopoh-gopoh.
“Kenapa?”
“Jasmine! Kamu pusing ya Jas?” Lintang agak ketakutan melihat Jasmine yang memegang kepalanya.
“Nggak sih, nggak apa-apa sudah hilang. Ini mungkin efek aku masih tegang. Aku baik-baik saja kok...” Jasmine berusaha tersenyum.
Memang hanya rasa takut tersisa, tapi Jasmine merasa baik-baik saja. Semalam dia tidur cepat, makan sehat dengan telur dan minum susu sebelum tidur.
Ditambah ternyata menjadi pendonor darah yang baru pertama kali dilakukan ternyata menimbulkan rasa berbagi yang luar biasa, bahkan diam-diam matanya berkabut.
“Nggak apa-apa kok!”
Raka memegang dahinya dan mengecek detak nadinya.
Semua yang dilakukan Raka menghadirkan kehangatan yang merebak dalam hatinya.
“Begini saja Lintang, kamu antar pulang Jasmine ya...” Raka mengusulkan.
“Yah aku gak bisa Mas, aku ada janji sama ibu mau antar ke Singosaren. Tahu sendiri ibu-ibu kita Mas! Aku bisa dimarahi. Lagipula Jasmine bawa mobil di parkiran Ekonomi,” Lintang menampilkan mimik minta maaf.
“Udah aku nggak apa-apa. Aku nebeng sampai parkiran Ekonomi ngambil mobil aku,” Jasmine tersenyum.
“Jangan-jangan, ya sudah... bentar, Bram aku nitip mobilku ya. Aku antar Jasmine dulu.”
“Ok Raka...”
“Tunggu bentar ya Jas, aku cek dulu semuanya biar aku bisa tenang meninggalkan baksos yang sepertinya juga udah kelar semua. Tinggal sisa beberapa ampul darah yang mau di setor ke PMI semua.”
Jasmine menunggu ada hampir satu jam, Lintang sudah langsung kabur. Raka sudah melepas jas kedokterannya dan mengganti baju baksosnya dengan kaos hitam bergambar penyanyi Phil Collins.
“Bram sudah, ayo...”
Jasmine mengekor saja memasuki mobil Freed putih yang terbuka otomatis pintu sampingnya.
“Eh Jas kamu di depan sama Raka... aku di belakang saja,” cowok taksiran Lintang tersenyum penuh arti.
Jasmine tidak ada pilihan, ternyata hanya sampai parkiran Fakutas Ekonomi lalu Jasmine menyerahkan kunci mobilnya pada Raka.
***
“Jas... udah lama bersahabat dengan Lintang sepupuku?” Raka memecah kediaman sesaat mulai keluar pelataran kampus.
“Sudah dua semester dan ini semester tiga kita masih bareng satu kelas Mas.”
“Eh kamu setahun di Solo sudah pernah ke mana saja?”
Raka tidak bisa membohongi hatinya, gadis putih mungil yang duduk di sampingnya sekilas mirip Lita, mantannya.
“Aku... nggak ke mana-mana, paling aku lesehan di tahu kupat dekat Taman Satwa Taru Jurug. Ada kupat tahu yang enak, Mbok Siyem yang mengizinkan aku seharian duduk di situ dan hmm… kalau mau refreshing, masuk lihat binatang-binatang...” Jasmine tersenyum cantik, berharap hadir satu hati lain yang bisa membunuh sunyi hatinya di kota kecil yang adem setahun ini.
“Haduh kasihan... eh pasti lapar! Biasanya habis donor darah bawaannya lapar, dan nggak usah ragu nanti tiga bulan donor lagi ya... banyak manfaatnya dengan donor darah,” Raka menatap sekilas Jasmine yang tengah menatap dirinya juga.
Raka tersenyum dari balik setir, tampak Jasmine kaget saat dia memergoki wajahnya yang sedang menatap wajah Raka.
“Iya Mas... tiga bulan lagi ya...” Jasmine pura-pura mengulang padahal kemarin dia sudah baca banyak di Google tentang manfaat donor darah. Tapi pura-pura membiarkan mas Raka menjelaskan.
“Betapa berharganya setitik darah, terutama bagi mereka yang membutuhkan transfusi darah untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Donor darah memiliki nilai kemanusiaan yang sangat tinggi.”
“Iya, aku nggak menyesal ikutan acara ini...”
“Bagus Jasmine, donor darah dapat membantu menurunkan berat badan dan membantu membakar kalori, deteksi dini dan mencegah resiko kesehatan, melindungi jantung, mengatur kontrol kesehatan, mencegah penyakit langka, meningkatkan sel darah merah, melancarkan sirkulasi darah, memperbaharui sel dalam darah, memaksimalkan darah dalam paru-paru, meningkatkan kapasitas paru-paru dan ginjal, meningkatkan kesehatan psikologis, menurunkan zat seng dalam darah, mengalahkan kelebihan zat besi, menghilangkan kaku pundak dan mengetahui serta mengatur lebih lanjut tentang tipe darah individual,” Raka menerangkan panjang lebar.
“Baik Pak Dokter... tiga bulan ingatkan saya juga ya,” Jasmine merasa senang bisa berteman dengan seseorang yang baru hadir, mengingatkan pada Tetra yang juga sangat menyayangi sebelum pernikahan papa dengan mama tirinya.
“Kalau boleh tahu, kenapa kamu tiba-tiba berani ikutan donor darah? Jangan katakan karena Lintang adik sepupuku yang paling cerewet,” Raka tersenyum, lesung pipi kirinya semakin meyakinkan kalau Mas Raka selain berhati baik, sabar juga cakep.
Entah kenapa dengan leluasa Jasmine bisa bercerita semua kesunyian hatinya selama ini.
Padahal baru beberapa jam dia berkenalan dengan Raka, tapi Jasmine selalu yakin hatinya tidak salah bercerita pada cowok yang sekarang menepikan mobilnya.
“Hapus air matamu...” dan Raka menyodorkan sapu tangannya.
Persis seperti di awal perkenalan dengan Tetra, sapu tangan Tetra yang masih tersimpan dengan diary-nya di almari kostan.
***
“Jas... kamu ada acara malam Minggu ini?”
Jasmine menggelengkan kepala sambil mengusap matanya dengan sapu tangan pemberian Raka.
“Kita makan malam. Kamu bisa bercerita apapun tentang kamu, tentang keluarga bahkan mungkin mantan atau masih pacar... dan sampai kamu merasa lega. Aku pun akan bercerita tentang apa yang tidak aku bisa ceritakan pada sembarang orang. Bagaimana? Biar aku menyetir dengan tenang. Sebelum jam 22.00 kamu sudah sampai dan bisa tidur lebih tenang dari malam-malam lalu.”
Sepertinya tidak ada pilihan, Jasmine setuju memang saatnya dia membuka hati, membagi kesepiannya dan menemukan hati lain yang membuat perjalanan hidupnya lebih berarti.
***
Sepanjang jalan Jasmine bercerita panjang lebar dan Raka juga membuka hatinya.
“Kalau Mas Raka gimana? Aku tebak pasti pacar Mas Raka yang tadi disebut-sebut Lintang... Mbak Lita ya?”
“Iyaa dan benar kata Lintang kalau Lita itu mirip-mirip kamu. Sebenarnya Lintang sudah setengah tahunan mau menjodohkan aku dengan kamu sejak aku putus dengan Lita.”
“Oh ya...!” tidak pernah terpikir kalau Lintang sahabatnya memperhatikan dirinya, bahkan ada niatan menjodohkan dengan sepupunya.
Selama ini mereka bersahabat tapi juga tidak terbawa sampai ke luar kampus. Kebanyakan keterlibatan dengan Lintang karena tugas-tugas kuliah, kebetulan banyak yang satu kelompok.
Bahkan Lintang tidak tahu banyak tentang dirinya yang tertutup dengan siapapun.
“Iya Lintang bercerita kalau kamu baik, pendiam dan tertutup. Kamu nggak peduli dengan apa yang ada di sekitar. Rutinitas kamu kuliah-pulang-kuliah dan hmmm… ngelamun di Taman Jurug.”
“Ihhh Lintang diam-diam menilai aku ya...” Jasmine baru bisa tertawa lepas. Terbayang entah gimana Lintang bercerita tentang dirinya di depan Mas Raka.
“Lapar banget ya...” Jasmine tersenyum menahan lapar.
“Tenang, bentar lagi kita bermalam Minggu di Night Market Ngarsopuro ini dikenal sebagai sebuah pasar seni yang hanya diadakan pada Sabtu malam, kalau anak muda yang lagi kasmaran menyebutnya malam Minggu.
“Upps siapa yang sedang kasmaran? Mas Raka ya?” dengan polos Jasmine bertanya.
“Hehe mungkin awal dari kasmaran...” ekor matanya melirik Jasmine yang tampak mengerutkan wajahnya.
“Ooo... gombal...”
“Hehe… nggaklah, kita bisa bersahabat Jasmine. Sejak ditinggalkan Lita aku belum bisa jatuh cinta. Semua teman cewek adalah sahabat, termasuk kamu...”
Jasmine mengangguk-angguk tolol, tapi hatinya merasa tidak terima, “Hanya sahabat dan hanya bisa bersahabat? Terlalu terlukakah Mas Raka ditinggal sampai segitunya. Tapi hai… Jasmine! Kamu sendiri sampai sekarang sudah empat tahun putus dengan Tetra juga tidak bisa suka cowok lain! Haloooo... kalian sama!” ada suara-suara kanan kiri bergantian dalam hatinya.
Dan Jasmine memilih diam mendengarkan cerita wisata yang mulai keluar dari mulut Raka,” Night Market Ngarsopuro digelar di sepanjang city walk kawasan Pasar Windujenar, Ngarsopuro di depan Pura Mangkunegaran. Tepatnya kita sekarang di Jalan Diponegoro. Jelang senja di kawasan Ngarsopuro ini sudah berjejer tenda-tenda yang siap dipakai untuk berjualan berbagai produk khas Solo. Beberapa produk dan oleh-oleh yang lazim dijumpai di sini antara lain berbagai baju, tas, sepatu yang bernuansa batik, pin dan stiker Solo, serta beraneka macam cendera mata yang unik dan menarik.”
Jasmine serius mendengarkan.
“Night Market Ngarsopuro selalu ramai pengunjung. Selepas magrib telah usai, banyak orang berbondong-bondong dari mulai anak-anak, pasangan remaja, maupun rombongan keluarga yang ingin mengisi akhir pekan dengan santai dan murah.”
“Tapi aku lapar ni....” Jasmine menyela.
“Pas banget di sini juga banyak terdapat makanan serta jajanan pasar yang siap memanjakan lidah. Jas kamu bisa pilih ada nasi liwet, cabuk rambak, wedang ronde, sosis solo, bakso bakar, sate kere. Asik deh. Yuk turun kita putar-putar sekalian makan.”
Malam Minggu yang cerah untuk pertama kalinya Jasmine merasakan yang berbeda dari hari-hari yang sunyi setelah mama dan Tetra yang berlalu dalam kehidupannya.
“Semoga aku bisa membuka hati ini untuk hati kedua...” bisik hati Jasmine yang tengah menatap Raka dengan tenang menikmati nasi liwet dan wedang ronde.
***
Jam 21.30 setelah memutari Kota Solo yang tenang, setelah makan dan bercerita banyak hal termasuk rasa sepi hati Jasmine setelah mama dan Tetra yang dianggapnya cinta pertama, kesibukan papa dan kehadiran Tante Gabby yang nyatanya tidak bisa menggantikan almarhum mamanya.
Rasa kebebasan hati di Solo karena meninggalkan papa, Tante Gabby dan Tetra dan tak bertemu dengan siapapun.
“Jasmine sekarang kamu tidak perlu merasakan hatimu yang sunyi, bukalah hati kamu untuk menerima teman baru dan mencoba bersahabat dengan orang-orang baru,” Raka memberi masukan.
“Apakah termasuk dengan Mas Raka, Aku boleh berteman?” Jasmine tidak bisa menahan hatinya untuk mencoba dekat dengan cowok yang hadir di saat hatinya gersang membutuhkan teman bicara.
Hatinya lelah hanya berdialog dengan hatinya sendiri. Jasmine membutuhkan hati lain yang mengimbangi dan memberikan berbagai sharing menghadapi aktivitas-aktivitas kampus dan kehidupan sosialnya.
Berbincang dengan Raka membuka cakrawala hatinya kalau selama ini memang dia tidak pernah mencoba banyak untuk sekedar berteman dengan sekitarnya.
Hatinya tertutup begitu rapat setelah mama pergi, ditambah Tetra yang memilih meninggalkannya karena tidak mau menghadapi kenyataan kalau mereka ditakdirkan menjadi kakak adik.
“Jas kok malah melamun sih?” Raka menegur Jasmine yang tengah bicara dengan hatinya.
“Hmm… iya aku lagi membenarkan saran Mas Raka, ya sepertinya aku terlalu lama hanya berteman dengan hatiku. Aku sulit atau tidak pernah ada kemauan untuk mengenal orang lain. Saatnya aku mencoba belajar berinteraksi dengan beberapa orang. Ah pasti mama sedih juga putri tercintanya terus di dera rasa bersalah atas kematiannya... kadang aku menangis sampai pagi mengingat beliau yang meninggal gara-gara harus menjemput aku pulang sekolah. Coba kalau aku tidak jadi anak manja! Aku mau dijemput Mang Karto, mungkin mama masih bersamaku. Aku tidak perlu putus dengan Tetra dan mendapat mama tiri. Aku juga tidak menjadi cewek cupu yang sangat tertutup. Temanku hanya diary dan beberapa barang-barang kenangan.”
Raka membiarkan Jasmine bercerita panjang lebar semuanya, walau selalu ada beberapa yang diulang, Raka bisa paham pasti enam tahun ke belakang dari mamanya meninggal dia melewati sunyinya hati.
Dalam hati terdalam, Raka ingin membantu gadis yang masih bercerita untuk bisa menemani hatinya yang sunyi, meskipun hatinya belum yakin sepenuhnya terobati juga dengan pengkhianatan Lita.
Walau sakit hati terhadap Lita, tapi hatinya masih saja susah melupakan sosok cewek cinta pertamanya itu.
***
“Jas, tidur ya... tidur dengan nyenyak. Besok Minggu kalau kamu tidak sibuk aku boleh main ke sini? “Raka memberikan kunci mobilnya.
“Bolehlah Mas Raka... aku tidak ada rencana ke mana-mana,” dengan antusias Jasmine mengizinkan Raka yang akan bertemu dengannya.
Nyatanya malam ini Jasmine bisa tidur dengan senyum mengembang, dalam tidurnya bermimpi dengan mama yang mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Dimana Jasmine bisa bercerita hatinya sepertinya mulai jatuh hati pada seorang cowok yang berhati lembut.
Wajah mama menyunggingkan seulas senyum saat dirinya bercerita tentang Raka dan hatinya yang mulai terbuka untuk mencoba lembaran baru agar bisa bersahabat dengan orang lain.

Other Stories
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...

Beyond Two Souls

Saat libur semester, Fabian secara tiba-tiba bertemu Keira, reuni yang tidak direncanakan ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Cinta Koma

Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Kau Bisa Bahagia

Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...

Download Titik & Koma