6. Kebebasan Hati
Jasmine membereskan baju-baju yang dibawa dari Tegal ke Solo. Kamar kostan di lantai dua ini terletak paling ujung, memberikan rasa nyaman tersendiri.
Jasmine memang mencari yang tidak banyak bersinggungan dengan orang-orang, baginya tidak penting harus banyak mengenal orang.
Sepertinya anti sosial lebih pas buat julukan dirinya.
“Hmmm akhirnya... aku tidak perlu banyak basa-basi lagi, capek aku harus menghormati Mama Gabby yang kelakuannya kaya anak ABG! Tetra… ah! Sudahlah sepertinya kamu memang sudah tidak pernah menganggap aku ada. Aku hanya membutuhkan waktu untuk konsentrasi kuliah lalu selesai dan mendapat pekerjaan dan mungkin masih ketemu jodoh, menikah! Punya keluarga! Entahlah aku tidak merasa lelah sendiri... hanya hatiku yang tahu seutuhnya! Cukup sudah rasa sunyi mendera... aku mencoba membuka lembaran baru dengan sunyi hatiku di sini...” Jasmine berdialog dengan hatinya.
***
Beruntung papa memercayakan Jazz sport-nya dibawa untuk urusan Jasmine selama kuliah, berbagai fasilitas alat elektronik, perhiasan, kartu kredit dan tabungan yang cukup banyak.
Saat Tetra mulai kuliah, dia juga mendapat fasilitas mobil dari papanya Jasmine.
Awalnya Tetra tidak mau, tapi jarak kuliah yang lumayan dari rumah akhirnya Tetra mau memakainya, tapi kadang juga mengembalikan ke garasi.
Ospek yang dilewati juga orientasi biasa saja, tidak ada yang istimewa. Dosen-dosen, teman-teman yang sederhana membuat dirinya merasa nyaman.
Teman-teman kostan yang tidak rese, demikian bapak ibu kost yang baik hati ditambah suasana Kota Solo yang tenang membuat dirinya merasa damai.
Hanya sesekali papanya menelepon, dan Mama Gabby sepertinya lebih lega tanpa ada dirinya di rumah, pasti kebebasan akan lebih dia rasakan. Apalagi Mbok Sri akhirnya keluar dari rumahnya untuk hal yang Jasmine juga tidak terlalu mengerti.
Papa bertanya sekedar menanyakan kesehatan dan bagaimana kuliahnya, apakah Jasmine bisa mengikuti dengan baik.
Jasmine bersyukur dirinya menjauh, tetapi hati mama tirinya malah menjadi dekat, Jasmine hanya bersikap apa adanya. Belajar jujur menjalani kehidupan apa adanya.
Tapi nyatanya rasa bersalah kematian mamanya kadang masih membayanginya, menghadirkan mimpi buruk.
Masih saja rasa bersalah mama meninggal karena akan menjemput dirinya pulang sekolah, andai saja dia minta dijemput sopir keluarga atau jemputan pasti mama tidak akan meninggal.
Berkali-kali sisi hatinya berperang melawan rasa bersalah dan membisikkan kelembutan, “Jasmine ini adalah takdir, mamamu meninggal sama sekali bukan karena kesalahanmu...”
Jasmine butuh waktu lama untuk menyembuhkan rasa bersalah. Bertubi masalah bergantian dimulai putus cinta dengan Tetra dan pernikahan papanya dengan Tante Gabby yang ternyata mama pacarnya.
Yang menyakitkan, dua hati yang baru datang hanya mengacuhkan dirinya. Kalau saja mau jujur mengatakan pada papanya kalau Mama Gabby hanya mementingkan kepuasan dirinya dan menghamburkan harta yang diusahakan papa dengan kerja keras.
Padahal Jasmine ingat almarhum mamanya yang sangat menjaga uang papa dalam pengeluaran.
Almarhum mama yang sangat sederhana, tidak memakai uang papa untuk hal yang aneh-aneh seperti waktu lalu Mama Gabby mengadakan kumpul-kumpul, berkaraoke dan memesan makanan dengan delivery.
Demi papa, Jasmine lebih baik memilih diam atas pemandangan setiap hari yang harus disaksikan saat mama dan gengnya mulai berkumpul.
Other Stories
Dua Tangkai Edelweis
Dalam liburan singkat di Cianjur, Rani—remaja tomboy berhati lembut—mengalami pertemua ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Naik Ke Langit, Turun Tuk Tuntaskan Kisah
Bagaimana jika kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ternyata datang setelah semuanya ter ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...
Escape [end]
Setelah setahun berlarut- larut dalam luka masa lalunya, Nadine pun dipaksa oleh sahabatny ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...