Hati Yang Beku

Reads
3.8K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

14. Sahabat Hati

Jasmine masih meringkas barang-barang yang masih bagus untuk dijual lagi ke Pasar Gedhe. Hatinya sudah bulat untuk pindah dari kostan putri yang sebenarnya sangat nyaman dengan fasilitas kamar besar dan terletak di lantai dua tapi sebanding dengan biaya per bulannya yang terlalu mahal buat saku mahasiswa biasa.
Kemarin-kemarin tentu saja tidak masalah, tetapi sekarang dia bukan lagi anak orang kaya yang kurang perhatian tapi dipenuhi materi.
Sekarang Jasmine merasa sebatang kara, kemarin sempat bertanya kalau di sekitar kampus ada kost-kosatan yang jauh lebih murah dari tempat yang sekarang ditinggalin. Kamarnya jauh lebih kecil, makanya Jasmine benar-benar harus habisin barang-barangnya dan berubah jadi uang.
Dia akan pindah hanya dengan membawa baju-baju yang sudah lebih setengahnya di garage sale, pernak-pernik hiasan kamar habis terjual. Hanya buku-buku yang Jasmine selamatkan.
Beruntung papa tidak menyita laptopnya, Jasmine berniat mengirim tulisan-tulisannya ke media, siapa tahu bisa lolos dan menjadi uang. Sekarang pikirannya terfokus mendapat uang untuk bertahan sampai bisa meraih gelar sarjana yang tinggal kurang beberapa semester.
“Dreeet”
SMS ternyata dari Fafa, “Jas bantu aku pahami kuliah MP ya, bisa nggak aku main ke kostan? Sekalian bahas ada lowongan kerjaan nih.”
SMS balasan Jasmine, “Ok Fa, aku masih di Pasar Gedhe ini jualin sisa barangku. Jam 13.00 aku udah di kostan.”
SMS Fafa, “Sip, aku jam 13.30-an sampai... cu...”
***
Jasmine tersenyum puas semuanya sudah terjual, kamarnya sekarang sangat lega.
Sudah empat kali dia menjual barang-barang yang tidak perlu dibawa ke kostan baru yang sudah dicarinya sepulang kuliah.
Sementara tentang Raka sudah hilang dalam benaknya. Sejak Raka terlihat amat kecewa, Jasmine sadar dia sudah kehilangan harapan untuk bisa membuat hati Raka mencair dan mengalir dalam hati dan raganya. Semua kembali membeku seperti hatinya yang sunyi dan perlahan juga beku untuk menerima hati-hati lain yang mungkin saja bisa hadir di setiap saat.
Jasmine tersadar ada SMS kalau Fafa sudah ada di bawah. Dengan membawa buku MP-nya Jasmine tergopoh-gopoh menuruni tangga.
“Hai Fa… segar amat, baru bangun ya?” Jasmine melihat Fafa yang masih basah rambutnya dengan kaos cokelat agak ketat rapi dan celana jeans ketat juga, tas selempangnya masih tetap, sendal semi japit santai.
“Iya Jas, jadi semalam Papi datang terus kita rapat di markas Big Bang, berencana mengundang group POTRET sebagai bintang tamu untuk acara ulang tahun bank swasta BANGSA di Yogyakarta. Kebetulan Bank Bangsa ini sudah mau ketiga kali pakai EO kita setiap tahun untuk acara ulang tahun mereka.”
“Group band Potret itu kan keren banget. Vokalisnya Melly Goeslaw, lagu-lagunya keren, unik dan menyentil gitu deh! Aku punya CD-nya juga. Wah asyik banget!” Jasmin semangat mendengar Fafa akan mendatangkan salah satu band favoritnya.
“Nah sesuai janji aku Jas, kamu mau terlibat dalam EO aku? Tapi kamu harus profesional ya! Papiku nggak suka dengan orang yang tidak serius bekerja. Jujur sih aku baru kenal kamu, tapi melihat kredibilitas kamu dalam perkuliahan dengan IPK nyaris 4 menandakan hampir semua mata kuliah kamu dapat A, aku nggak salah pilih cari partner sekaligus asisten aku,” Fafa tidak kalah seru menerangkan kabar gembira buat Jasmine.
“Beneran Fa? Serius kamu mau kasih aku kerjaan?” Jasmine tidak bisa menutupi rasa girangnya.
“Jas, nggak ada main-main dalam kamusku untuk pekerjaan, sebenarnya juga dalam kuliah juga. Cuma aku memang masih kedodoran mengatur waktu antara kerja dan kuliah, jadi beberapa mata kuliah aku harus mengulang, tapi aku yakin aku bisa memperbaikinya. Makanya aku bela-belain nih ke kostan kamu untuk belajar Metodologi Penelitian yang ngeganjel aku nggak bisa ambil skripsi. Aku udah janji ke Papi mau menyelesaikan kuliah secepatnya paling tidak IPK 2,75 harus di tangan! Please bantu aku ya Jas...” Fafa memegang tangan Jas sembari pasang wajah memelas.
“Iya Fa, kita sama-sama belajar ya! Aku akan bantu kamu sebisa aku!” Jasmine berjanji dan meyakinkan kepada Fafa kalau dia juga akan membantunya dalam masalah mata kuliah yang harus Fafa ulang dan kejar.
Sesaat keduanya asyik mengutak-atik mata kuliah kemarin dan hampir dua jam waktu berjalan tanpa terasa.
“Eh Jas, kamu jadi pindah kost?” tiba-tiba Fafa bertanya rencana kepindahan kostan.
“Iya Fa, aku sudah nggak mungkin sanggup bayar kostan di sini dengan berbagai fasilitasnya. Kemarin enak semua ditanggung Papaku... sekarang aku sebatang kara...”
Dan mengalirlah semua cerita sedih Jasmine terhadap Fafa. Nyatanya Fafa, lelaki setengah cewek ini rela menjadi sandaran saat dirinya butuh seseorang untuk mencurahkan sedihnya. Nyatanya berkontak kulit tidak menimbulkan rasa apapun, sebaliknya Fafa juga tidak ada rasa ketertarikan dengan cewek. Bahkan terkadang sifat ceweknya melebihi cewek tulen, seperti saat mengeluarkan sapu tangan kain dari tas selempangnya agar Jasmine menghapus air matanya.
“Jadi Raka juga menjauh dari kamu Jas, ah cowok memang kadang egois! Kecuali aku lho! Karena aku fisik aja cowok tapi hati selembut cewek,” Jasmine geli dengan rasa kesal yang ditunjukkan Fafa atas sikap Raka yang menjauhinya.
“Oh ya Jas, jadi begini… besok kita mulai ada meeting untuk event Potret ini, pokoknya kamu ikuti aja perintah-perintah aku dan beberapa teman yang sudah tergabung lama dan tenang saja mereka semua baik-baik dan welcome! Yang penting kamu niat belajar, bekerja keras, disiplin dan profesional aku yakin pasti kamu bisa handle kerjaan... yah meskipun kamu aku taruh di Humas tapi juga akan ada kerjaan-kerjaaan lain selain Humas atau mungkin kamu cocok di bendahara atau sekretaris, pokoknya ikuti saja pola kerja kita. Dan aku akan lihat kamu tepat di bagian mana.”
“Ok Fa, bantu aku beneran ya Fa... masalah penggajian gimana? Sorry aku harus tanya Fa, soalnya aku harus banting tulang dan orientasi aku kerja jelas uang,” Jasmine agak ragu, belum apa-apa sudah menanyakan masalah pendapatan.
“Besok ada di perjanjian kerja Non, ada yang handle di bagian Human Resource Departement. Jadi intinya Big Bang Event Organizer, kita memang mengusahakan ada gaji tetap walau tidak besar dan selebihnya adalah bagi hasil berdasarkan kesepakatan prosentasi di setiap untung kesuksesan event.”
“Alhamdulillah, terima kasih ya Fa, aku janji akan handle event perdanaku di Big Bang Event Organizer sebaik mungkin.” Jasmine tersenyum lega, setidaknya apa yang diterangkan Fafa yaitu adanya kontrak kerja, gaji tetap membuat sedikit mengurangi masalah biaya jasmine.
Dan Jasmine juga akan mencari tambahan uang di luar menjadi partner Fafa, yang ada dalam otaknya sekarang adalah mengembangkan hobby menulisnya untuk coba kirim ke berbagai media baik lokal maupun nasional.
***
Jasmine mengikuti saran Fafa untuk mengikuti alur kerja di Big Bang EO, ternyata Fafa adalah anak owner dari EO ini. Jasmine sempat tercengang juga, Fafa yang kelihatannya kecewean ternyata saat memimpin meeting bisa terlihat sangat profesional dan sistematis.
Jasmine paham kalau Fafa ternyata sudah terbiasa memegang kegiatan berbagai event band, teater, drama, film dari skala kecil sampai nasional. Bahkan papinya beberapa kali sukses mengundang penyanyi dan band luar negeri.
Jasmine merasa senang gabung di EO Big Bang. Untuk pengalaman pertama saat bertemu muka dengan Melly Goeslaw, vokalis Potret yang diidolakan, ikut mengawalnya dan malam harinya membantu seksi konsumsi menemani Melly dan crew-nya yang ingin menikmati suasana Malioboro.
Bahkan Jasmine serasa mimpi saja berandong ria bersama Melly memutari jalan Malioboro dan menerobos permainan beringin kembar di alun-alun Selatan.
Di samping itu juga harus belajar memahami agar crew Potret nyaman sebelumnya mempelajari juga script apa saja yang menjadi permintaan masing-masing personil Potret, termasuk hal-hal yang tidak disukai. Bagaimana menjaga privasi dari setiap kejaran wartawan, semua menjadi bagian dari pekerjaan dan tanggung jawab sebagai EO.
Sampai akhirnya mengawasi jalannya saat band Potret manggung pun Jasmine mengamati bagaimana teman-temannya saling berkoordinasi dari walky talky. Semua merupakan pengalaman pertama Jasmine yang mengesankan.
Persiapan yang memakan waktu hampir dua minggu ternyata menghasilkan kesuksesan, pihak bank swasta Bangsa sangat suka dengan cara EO Big Bang yang rapi dalam bekerja dari awal sampai akhir acara. Makanya tak ragu lagi sudah tiga tahun ini setiap event, bank swasta Bangsa akan dikerjai oleh EO Big Bang.
***
Beruntung juga kostan baru Jasmine tanpa induk senang, jadi Jasmine yang sekarang bukan anak rumahan lagi tidak perlu repot urusan izin untuk tidak pulang dengan ibu dan bapak kost.
Seperti event perdana barusan yang menuntut Jasmine akhir minggu menginap bersama crew EO yang lain di Yogyakarta. Bahkan tidak perlu resah ada yang mencari dirinya sekarang.
Papa sudah tidak lagi menghubungi dirinya sejak peristiwa pengakuan paksa foto asusila dirinya, hanya papa yang kemarin-kemarin selalu dinanti telephone-nya menanyakan bagaimana kuliahnya, tetapi sekarang tak pernah lagi Jasmine mendengar sapaan kangen papanya.
***
Jasmine beruntung kerja keras menulis berbagai cerita anak yang dikirim rutin juga mendapat perhatian dari sebuah koran lokal.
“Fafa... aku diminta menjadi penulis tetap cerita anak di koran Mahardika untuk terbitan setiap hari Minggu, kamu tidak keberatan?” Jasmine menyampaikan kabar gembira karena menulis memang menjadi bagian hidupnya dan sekarang diminta mengisi kolom cerita anak mingguan sebagai penulis tetap adalah sesuatu yang membuatnya sangat bahagia, selain sekarang pekerjaan di EO Big Bang yang terus mengalir mengundang band nasional.
“Selamat dong Jasmine Sayang! Aku senang mendengar kamu jadi penulis tetap cerita anak koran mingguan. Aku juga lagi senang soalnya Metodologi Penelitian aku berkat kamu juga dapat nilai B, jadi semester ini aku bisa ambil skripsi. Yess!” Fafa tidak kalah girang setelah melihat hasil ujian semester ini.
“Hebat kamu Jas, semua nilai kamu A! Padahal kamu juga kerja tapi dasar otak kamu dan rajin! Pantaslah kamu dapat nilai-nilai istimewa,” Fafa tulus mengagumi Jasmine.
“Nggaklah Fa, aku nggak ada apa-apanya tanpa kamu yang banyak membantu aku dan memberi kesempatan aku bergabung kerja dengan EO kamu dengan teman-teman yang welcome berbagi. Terima kasih ya Fa, semoga engkau terus menjadi sahabat hati yang sejati buatku.”
Fafa dan Jasmine saling berpelukan, tanpa Jasmine sadari sepasang mata Raka dari balik mobilnya mengamati kedekatan mereka.

Other Stories
Kesempurnaan Cintamu

Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...

Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

The Unkindled Of The Broken Soil

Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...

Sinopsis

hdhjjfdseetyyygfd ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Download Titik & Koma