Mendua

Reads
3.4K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Chapter 8

Waktu berlalu hari berganti seminggu sudah kejadian itu terlewati. Tak butuh waktu lama juga bagiku untuk melupakan kejadian itu. Selain karena aku bukanlah tipe orang yang pendendam, juga sahabat-sahabatku cukup membuat hari-hariku dipenuhi canda dan tawa. Namun ada yang tak berubah dalam hatiku cintaku pada Dita. Bahkan rasa cinta ini semakin menyiksa karena tak mampu ku ungkapkan.
“Ah, mungkin gue musti bunuh rasa ini,” gumamku sambil terus berjalan meniti tangga pintu masuk mall.
Mall sore ini nampak ramai. Sengaja masuk melalui pintu bagian selatan dan langsung menuju lantai dua tempat dimana toko-toko aksesoris berada. Seperti biasa, sebulan sekali aku selalu mencari tahu aksesoris apa yang lagi banyak digandrungi kawula muda. Sekalian ingin mencoba memasukan kerajinan miniatur Harleyku ke toko-toko supaya aku tak hanya menunggu orang pesanan. Tak lupa aku membawa beberapa sample.
Disebuah toko aksesoris dan kerajinan aku berhenti. Kulihat seorang pelayan sedang sibuk melayani pembeli. Toko aksesoris ini nampak lebih banyak dikunjungi oleh para remaja karena barang-barangnya lumayan unik-unik dan juga bagus. Semua tersedia di toko ini. Dari mulai jepitan rambut, kalung, gelang, gantungan kunci, stiker, tempelan kulkas dan berbagai pernak-pernik lainnya. Aku pun mencoba masuk ketika melihat seorang wanita berkerudung sedang duduk santai.
“Mungkin Si Mbak itu pemilik toko ini,” desahku. Segera kuhampiri.
Setelah basa-basi sebantar dan ternyata benar dia pemilik toko ini, aku pun segera menawarkan kerajinan tanganku kepadanya. Mbak Wahyuning nampak tertarik dengan hasil karyaku. Dia benar-benar pecinta karya seni.
“Wah, barang seperti ini bernilai seni. Kenapa kamu nggak coba memasarkannya sendiri. Keuntungannya pasti lebih besar buatmu,” katanya.
“Sudah, Mbak. Aye sudah memasarkan sendiri lewat sosial media. Dan alhamdulillah sudah banyak yang pesen. Dan kedepannya saya ingin agar pembeli tidak harus menunggu dulu setelah memesan karena barang-barang saya sudah ada di toko ini. Jadi saya fokus membuat, terus saya simpan di toko ini. Agar mereka yang menginginkan bisa langsung datang ke toko ini. Soal bagi hasil mah, kite bagi rata saja sesuai kentungan.”
“O, jadi saya tak perlu membeli dulu dari kamu!”
“Kagak usahlah Mpok. Jadi biar bagaimanapun toko ini tak akan saya rugikan.”
“Mhhh...bagus tuh. Mulai kapan kamu akan menyimpan barangmu di sini?”
“Nanti malam juga bisa, Mpok. Tapi aye harap Mpok juga ikut mempromosikannya, terserah Mpok dengan cara apa. Soalnya karya saya inikan masih bisa dibilang baru, belum banyak yang mengetahuinya.”
“Itu pasti. Toh kalaularis saya juga dapat keuntungan. Oke kita patner sekarang. Siapa namamu?”
“Panggil saja Gama. Dan maafin aye, Mpok. Soalnye logat bicara aye emang begini. Jadi, maaf jika sedikit kurang sopan.”
“O, Mbak ngerti kok. Yang penting kita jujur dan bisa bekerjasama. Entah kenapa, sejak awal Mbak lihat karya-karyamu ini, Mbak langsung optimis bahwa barangmu bakalan laris.”
“Aamiin. Kalau begitu aye pamit dulu ye Mpok. Nanti malem sekitar jam 7 aye kemari lagi sambil membawa lagi beberapa miniatur Harley buat dipajang di sini.”
“Ok. Mbak tunggu ya. jangan telat. Soalnya jam 8 Mbak harus sudah pulang.”
“Sip deh. Yakinlah saya tak seperti orang Indonesia kebanyakan yang apa-apa serba telat Mbak.”
Mbak Wahyuning tertawa kecil. Aku baru sadar kalau mbak Wahyuning sebenarnya masih muda dan cantik. Hanya saja cara berpakaiannya seperti orang dewasa bahkan seperti ibu-ibu. Mengenakan gamis dan kerudung model paris. Namun, semakin terpancarlah darinya aura seorang muslimah.
Ku tinggalkan toko itu dengan hati bahagia. Jalan rezeki buatku makin terbuka lebar. Tinggal bagaimana aku memanfaatkan momen ini dengan baik. Tak henti-hentinya aku mengucap Hamdallah dalam hati.
“Gue yakin bulan depan udah dapet duit buat nebus motor yang gue gade.” Semangatku kian menyala.
Aku segera turun ke lantai satu untuk selanjutnya keluar mall dan pulang. Namun baru saja aku menginjakan kaki di lantai satu, di sebuah kursi stanles, menyender pada sebuah tiang yang ada di tengah-tengah lantai satu mall itu, aku melihat Lara sedang duduk. Dan, wajahnya?
“Nah lo, kenape die kayak yang sedih dan bingung begitu?” tanyaku dalam hati. Jiwa kepo ku pun bangkit. Aku berjalan di belakang seorang pria bertubuh besar agar Lara tidak melihatku. Kemudian menyelinap dan berdiri di belakang Lara yang sedang duduk termenung dan tampak kebingungan.
“Kamu dimana sih?” teriak Lara, entah dengan siapa dia bicara. Yang pasti dia sedang menelepon.
“Kalau kamu nggak bisa datang, maka sekarang pun kita putus!” serunya kemudian.
Aku terus mendengarkanya sambil berdiri di balik tiang. Sesekali ku intip dia.
“Oke, lu kira gue beneran suka sama lu!” serunya lagi.
“Wah...lagi berantem rupanya,” kataku dalam hati.
Ku tunggu beberapa saat, namun tak terdengar lagi suara Lara. Aku pun mengintipnya. Lara terlihat menundukan kepa-lanya. Duduknya pun terlihat sangat gelisah. Sesekali dia meme-gang bagian pantatnya.
Dantahulah aku bahwa Lara sedang datang bulan. Mungkin karena datang bulan yang datang tiba-tiba, dia tak ada persiapan. Sedang untuk berdiri dan berjalan tentu dia sangat malu karena senja jelang Maghrib mall ini sangatlah ramai sementara di celana pendek bagian belakang ada noda merah yang cukup menyolok.
Lara terlihat memencet-mencet hpnya kembali. Kemudian terdengar ia bicara dengan seseorang yang dia panggil papa. Namun sepertinya lagilagi harus kecewa. Aku pun mulai iba padanya.
“Tapi gimane caranye gue tolong tu cewe?” tanyaku dalam hati. Sejenak aku terdiam. Dan tengah mikir gimana caranya nolong Lara...
“Apaan sih, emang gua cewek apaan!” Terdengar bentakan Lara. Aku pun sedikit kaget. Dan ketika aku melihatnya, ternyata telah ada dua orang pria di kiri kanannya. Yang satu nampak masih muda meskipun tidak termasuk remaja. Sedangkan yang satu lagi terlihat sudah tua dengan kepala botak laknat.
“Waduh! Bahaya nih, Si Botak laknat lagi nyari mangsa! Dasar kucing garong!” gerutuku.
Tanpa pikir panjang lagi aku segera keluar dari persem-bunyian dan langsung menghampiri Lara yang sedang berusaha menghindar dari godaan pria-pria hidung belang. Lara terlihat sedikit kaget ketika melihatku tapi juga ada raut senang dan permohonan tolong ditatapan matanya.
“Ada apa nih! Lagi pada nyari mangsa ye!” seruku pada dua pria itu.
Mereka langsung berhenti dan berbalik menatapku.
“Heh! Siape lu berani-berani ganggu urusan gue. Belum tahu gue ye!”
“Sepertinya kalian yang belum tahu gue, pernah denger nama Gama kagak lu!” tandasku.
Kedua pria itu pun langsung terdiam. Setelah saling menatap, mereka pun segera pergi tanpa menoleh lagi kepadaku atau pun Lara. Aku menghela napas dalam. Kemudian duduk di samping Lara setelah dua orang itu tak terlihat lagi.
“Lu kagak apa-apa kan?” tanyaku.
“Mmm...nggak...siapa sih mereka itu?” tanya Lara.
“Mereka itu om senang yang doyan merawanin perempuan. Yang mereka cari adalah gadis-gadis remaja dengan mengiming-imingi sejumlah uang atau pekerjaan.”
“Iiiiyyy.” Lara bergidik.
“Kalau boleh gue tahu, ngapain lu di sini. Sendirian, pakaian seksi lagi! Panteslah digodain sama om senang.” Goda aku.
“Tadinya gue janjian sama Si Samsul. Tapi dia nggak datang,” jawab Lara menunduk sambil menarik celana pendeknya yang naik hingga setengah pahanya.
“O, terus sekarang mau ngapain?” tanyaku lagi.
Lara tak menjawab.
“Lebih baik lu segera balik aja deh.”
“Tapi...”
“Udeh tenang. Lu tunggu di sini sebentar ye!” seruku. Lalu berlari keluar mall menuju ke seberang jalan. Kemudian memasuki sebuah mini market. Ku ambil satu bungkus pembalut entah merek apa. Setelah membayar aku pun segera kembali kepada Lara. Setelah duduk, aku membuka jaket. Kemudian memberikannya kepada Lara.
“Ini buat nutupin celana belakang lu,” bisikku.
Lara nampak terkejut. Wajahnya langsung merona. Dia menatapku.
“Udeh, jangan bengongburuan!” seruku.
Lara segera mengikuti saranku. Setelah jaket terikat di pinggangnya dan menutupi bagian belakang, aku pun segera menggandeng tangannya. Kemudian menuntunya menuju toilet yang berada di sudut mall. Setelah sampai, aku berikan pembalut yang tadi aku beli kepada Lara.
“Gue tunggu di sini ye. Tu toilet cewek!” seruku.
Lara tak menjawab. Ia hanya tersenyum. Kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi wanita. Aku menunggunya di depan mushola bersamaan dengan Lara keluar dari toilet azan magrib terdengar dari sebuah masjid yang tak jauh dari mall. Lara menghampiriku.
“Terima kasih ya. Aku...”
“Sstt...” Aku memberikan kode kepadanya untuk diam.
Lara langsung terdiam. Dengan tatapan sedikit aneh dia menatapku. Setelah azan berhenti, maka aku segera berkata pada Lara.
“Gue mau shalat dulu. Kalau lu mau pulang silakan saja. Jaketnya bisa lu kembaliin gue kapan-kapan,” kataku.
Tanpa menunggu jawaban dari Lara, akupun segera melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu shalat di mushala berjamaah dengan beberapa pengunjung mall lainnya. Tak lebih dari lima belas menit aku sudah selesai. Dan keluar dari mushola. Namun aku cukup terkejut katika melihat Lara sedang duduk di bangku kayu panjang di depan mushola.
“Lo, kenapa belum pulang!” tanyaku sambil duduk di samping Lara yang sedang menunduk.
Lara tak menjawab namun ia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahku. Tentu saja aku sangat jelas melihat betapa cantik gadis ini. Hampir sama cantiknya dengan Si Dita. Tapi kenapa matanya berkaca-kaca.
“Aku malu...” Jawabnya pelan, menatapku sekilas kemudian kembali tertunduk.
“Hahaha...ternyata cewek galak juga punya rasa malu.”
Lara makin menunduk. Tiba-tiba dia terisak. Entah kenapa.
“Kok nangis sih?” tanyaku.
Namun isaknya semakin jelas terdengar. Bahunya bergerak-gerak menahan tangis. Dan aku paling tak tega jika melihat seorang wanita sudah menangis.
“Lu kenapa sih? Jangan bikin gue bingung dong...” Tanyaku kembali.
Tanpa aku duga, Lara merebahkan kepalanya di bahuku. Tentu saja aku sangat kaget. Tapi untuk menghindar pun tak mungkin. Akhirnya aku hanya diam. Membiarkan Lara menangis di bahuku.
“Maaf, Dik. Ini mushola lo, bukan tempat pacaran.” Seorang pria berseragam serba hitam dengan pentungan di pinggang menegurku.
“Maaf, Bang. Temen saya ini sedang ada masalah. Kami bukan pacar kok!” jawabku.
“Iya tapi, sebaiknya adik berdua cari tempat lain saja,” katanya.
”Masa sedih-sedihan di depan WC,” lanjutnya dan ter-senyum.
Lara mengangkat kepalanya dari bahuku sambil menyeka air matanya dengan tangan.
“Betul Pak. Kami tidak pacaran, maaf saya tak bisa menahan air mata,” Lara berkata.
Pak security tersenyum. Mungkin dialah satu-satunya security paling ramah yang pernah aku temui. Biasanya sih yang namanya security itu lebih galak dari seorang jendral.
“Baik Pak Agus, kami akan segera pergi dari sini!” seruku.
“Silakan, selesaikan masalah kalian ya ...e...tapi darimana kamu tahu namaku?”
“Lha, itu nama yang bapak pasang di dada nama siapa, tentunya bukan nama pak lurah kan!” seruku lagi.
Pak security nyengir kuda setelah melihat papan nama di dada kirinya.”Hehehe kadang Bapak memang suka lupa nama sendiri,” katanya.
“Hahaha, kacau nih Si Bapak!” seruku.
Lara sedikit tersenyum meskipun masih sibuk menyeka air matanya. Matanya pun terlihat sempab.
“Lu cuci muka dulu, gih!” kataku pada Lara.
Lara mengangguk. Kemudian melangkah menuju tempat wudhu perempuan. Jaketku masih tersampir menutupi bagian belakang. Sehingga tidak terlihat kalau ada noda darah. Diam diam aku mengagumi bentuk tubuhnya.
“Bengong lu!” bentak pak security.
“Bodinye bagus ya Pak!”
“Dasar otak mesum lu!” seru pak security sambil tertawa dan pergi.
Tak lama Lara sudah kembali. Wajahnya sedikit segar namun basah. Kemudian aku mengambil handuk kecil yang selalu aku bawa kemana-mana dan diberikan kepadanya. Lara menerimanya. Kemudian tanpa ragu dia menyeka wajahnya dengan handukku.
“Sekarang kamu mau kemana?” tanyaku.
“Pulang lah, kamu?”
“Aku juga mau pulang, tapi harus kembali kemari.”
“Ngapain?”
“Ada yang harus aku ambil dan diberikan kepada toko asesoris di atas.”
“Kamu nggak bawa kendaraan kan?” tanya Lara.
Aku geleng-geleng.
“Biar urusanmu cepat kelar, bagaimana kalau aku anterin kamu ke rumah kemudian balik lagi kemari. Setelah itu aku pulang. Sekalian ada yang mau aku omongi sama kamu. Kebetul-an aku bawa mobil.”
Aku diam sejenak menatapnya. Dari matanya aku melihat sebuah ketulusan.
“Baiklah. Tapi mobilmu nggak pake argo kan!”
“Emangnya taksi. Ayo! Tar keburu malam takutnya tokonya keburu tutup.” Lara berjalan mendahuluiku. Aku pun segera mengekor.
Kami berjalan bergandengan. Terkadang bahu kami bersentuhan. Beberapa pasang pria mata terlihat menatap Lara dari ujung kaki hingga wajah. Aku tak heran karena Lara memiliki wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang bagus. Apalagi malam ini, Lara mengenakan celana di atas lutut yang dipadukan dengan kaos ketat putih bersih. Aku sedikit bangga bisa berjalan berdampingan dengannya.Sampai dilapangan parkir, sebuah Avanza putih telah menanti.
“Kamu bisa nyetir?”Lara bertanya.
Aku geleng-geleng. Lara tersenyum. Kemudia mengambil kunci dari saku celananya dan langsung menekan kunci otomatis.
“Yuk, biar aku yang nyetir!” serunya sambil membuka pintu mobil. Setelah di dalam Lara membuka pintu yang sebelah lagi. Aku pun segera masuk dan duduk di sampingnya. Tak banyak bicara, Lara pun menstarter mobilnya. Tak lama mobil pun berjalan keluar dari lapangan parkir. Namun berhenti sejenak.
“Rumahmu dimana?” tanyanya.
“Rawa Besar, pokoknya tak jauh dari sekolah. Nanti sebe-lum sekolah kamu belok kiri dan lurus saja. Nanti kalau udah deket aku kasih tahu lagi,”jawabku.
“Oke.”
Mobil pun kembali melaju. Jakarta malam hari memang lebih indah dari siang hari. Hingar bingarnya mampu membuat lupa diri. Sepanjang jalan, lampu-lampu bertebaran seolah berlari menjauhiku. Aku menghela napas dalam.
“Gama!” Suara Lara memecah diam. Aku menolehnya. Lara sendiri menolehku sebentar kemudian kembali konsentrasi ke jalan.
“O iya, katanya ada yang mau kamu omongin. Apa?”
Lara menarik napas dalam. kemuadian mengembuskanya pelan.
“Aku mau minta maaf atas kelakuanku sama kamu selama ini. Aku nggak ngerti kenapa aku harus bersikap seperti itu sama kamu. Pokoknya aku merasa sangat bersalah sama kamu.”
“Oh..”
“Kok cuma oh!”
“Habis apa dong? ‘Ih’!”
“Yee...aku serius nih!”
“Aku juga serius. Lagian ngapain kejadian yang udah terjadi musti dibahas lagi?”
“Memangnya, kamu nggak dendam sama aku?”
“Dendam? Hahaha...aku nggak pernah dendam sama siapa pun. Lagian semua yang terjadi antara kita kemarin itu bukan cuma salahmu. Tapi salahku juga,” jawabku.
Lara terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Dari samping Lara terlihat cantik. Rambut sebahunya digerai begitu saja. Hidungnya yang mancung itu seolah memayungi sepasang bibir mungil dengan lekukan yang indah. Maka pantas saja jika banyak pria yang tergila-gila padanya di sekolah.
“Nah, di depan ada gapura, masuk ke sana. Rumahku yang di depannya ada pohon nangka. Pokoknya rumah paling jelek, itulah rumahku!” seruku.Lara melirikku dengan matanya yang sipit berbulu lentik. Semakin aku menatapnya semakin aku kagum akan kecantikannya.
Lara menghentikan mobilnya tepat di depan rumahku. Aku segera turun. Sedang Lara menunggu di mobil. Aku pun segera masuk rumah. Ibu dan Dina yang sedang nonton tv sedikit heran melihatku terburu-buru. Namun tak sempat bertanya karena aku langsung masuk kamar. Dan memasukan beberapa miniatur Harley ke dalam kotak kardus. Kemudian segera keluar.
“Gama pergi lagi ya Nyak! ada toko yang minta sample,” kataku. Tak menunggu jawaban aku segera kembali ke mobil.
“Itu apaan?”tanya Lara begitu aku masuk ke mobil.
“Tar aja lihat sendiri lah!”
“Ih, tinggal jawab aja juga pelit banget sih!” Lara cemberut sambil menyalakan mobil kembali dan segera menginjak pedal gas. Mobil pun kembali melaju tenang.
Aku hanya senyum melihat bibirnya yang maju setengah centi. Ternyata Lara aslinya lucu juga. Sepanjang jalan Lara tak bicara lagi. aku pun sama. Bahkan ada sedikit tak percaya bahwa aku kini sedang duduk di samping orang yang kemarin sempat aku benci.
20 menit kemudian kami sudah tiba kembali di mall. Ternyata Lara ingin ikut dulu masuk. Alasannya dia ingin tahu apa isi kotak kardus yang aku bawa. Tentu saja aku tak keberatan. Bahkan aku mulai merasa nyaman bersamanya. Entah kenapa, mungkin nanti aku akan menemukan jawabnya.
Aku dan Lara berjalan berdampingan. Bahkan ketika me-naiki eskalator secara tak sengaja Lara menggandeng tanganku. Namun hanya sebentar karena Lara segara menyadarinya. Wajahnya yang putih langsung merona. Aku hanya tersenyum.
Toko asesoris yang aku tuju masih nampak ramai. Namun karena aku sudah janjian sebelumnya dengan mbak pemilik toko, maka aku tak segan untuk langsung masuk. Lara terus mengikutiku. Kedatanganku disambut dengan senyum oleh mbak Ning.
“Wah pacarnya ya, cantik banget!” seru mbak Ning ketika melihat Lara.
Aku dan Lara hanya senyum.”Ini Mbak silakan dilihat,” jawabku sambil menyerahkan kotak kardus kepada mbak Ning. Kemudian melirik Lara sebentar. Ternyata Lara sedang menatapku juga. Kami pun bertukar senyum.
“Wuih! Keren-keren nih. Suami Mbak pasti suka!” seru mbak Mbak Ning.
“Untuk suami Mbak nanti saya kasih bonus deh!” sahutku.
“Bener ya! eh, berapa kamu jual ni?”
“Menurut Mbak bagusnya berapa?”
“Lah, kamu biasa jual berapa?”
“Ya sekitar 75 ribu Mbak. Mentoknya 50 ribu.”
“Ok, kalau gitu, Mbak coba pasarkan 100 ribu ya, nanti ada notanya kok. Jadi kamu bisa tahu berapa Mbak jual.”
“Iya deh Mbak, gimana baiknya aja.”
“Sip, mulai besok Mbak akan coba pasarkan. Tapi kamu pun musti terus bikin ya, siapa tahu laris manis.”
“Tentu Mbak. Ok deh kalau begitu saya permisi, Mbak!”
“Lo mau kemana?”
“Biasa lah anak muda. Hehehe,” jawabku.
Mbak Ning tersenyum. Kemudian menatap Lara.”Hati-hati ya! Cowok kaya dia biasanya gigit atau paling nggak nyakar,” candanya
Lara hanya menanggapinya dengan senyum.
“Ye...emang gue kucing apa!” sahutku.
Mbak Ning tertawa. Beberapa orang yang ada di toko melirik ke arah kami.
“Mari Mbak!”
“Iya iya silakan,” jawabnya.
Aku dan Lara pun segera meninggalkan tokonya mbak Ning. Langsung turun ke lantai satu. Lagi-lagi Lara memegang tanganku ketika menuruni eskalator.
“Eit, bukan muhrim!” kataku.
“Ih, nyebelin!” sahut Lara segera melepas tangannya. Namun, karena kondisi tubuhnya tak seimbang, Lara pun terhuyung. Untung saja aku segera merangkul pinggangnya, jika tidak mungkin Lara sudah jatuh. Namun, itu membuatku seolah memelukya dari belakang. Aku pun segera melepaskanya. Degup jantungku tiba-tiba saja terasa lebih cepat. Kini giliran wajahku yang merona. Untung saja kulit wajahku tak terlalu putih sehingga tak terlalu nampak malunya.
“Bukan muhrim!” seru Lara. Kemudian tertawa.
Aku hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala.
Tiba di tempat parkir, Lara tak langsung masuk mobil. Ia malah diam berdiri sambil menatapku yang juga sedang menatapnya.
“Malah bengong. Mau pulang nggak?” tanyaku.
“Mmm...makasih ya, Gama,” lirihnya.
“Untuk?”
“Ini!” sahut Lara sambil menunjukkan bagian belakang ba-dannya yang masih tertutup oleh jaketku.
Aku tertawa melihat tingkahnya itu.
“Kok malah ketawa.”
“Lagian nggak perlu ditunjukin gitu juga kali. Pake kata-kata kan bisa.”
“Hehehe...ya udah. Kamu mau pulang naek apa?”
“Angkot lah atau bis. Soalnya kalau taksi aku nggak punya duit.”
“Aku anterin aja lagi, gimana?”
“Nggak usah deh, kamu kan harus segera pulang.”
“Nggak apa-apa juga kali. Lagian kita kan searah?”
“Mmmhhh...”
“Udah jangan mikir lama, yuk!” seru Lara sambil masuk ke dalam mobil.
Aku pun segera masuk. Tak lama mobil pun telah melaju tenang. Sepanjang jalan aku dan Lara sudah mulai berani saling bercanda. Hingga tak terasa kami pun tiba di depan rumahku.
“Mau masuk dulu? Tapi jangan deh ya udah malam,” kataku.
“Ye situ yang nawarin situ juga yang ngelarang. Eh boleh minta nomor kamu nggak?”
“Hehehe. Nomor apa?”
“Nomor hplah, masa nomor celana!” Lara sambil mengeluarkan smartphonenya.
Aku pun menyebutkan nomor tanpa mengeluarkan hp.
“Udah?”
Lara tak menjawab. Ia malah mendekatkan hp ke telinganya. Sementara itu, hp dalam saku celanaku bergetar.
“Udah masuk,” kataku.
“Sip. Aku pulang ya!” serunya.
“Makasih ye udah nganterin bolak-balik.”
Lara mengangguk sembari senyum. Setelah itu memutar tubuhnya dan segera masuk ke dalam mobilnya. Tak lama mobil pun melaju. Aku menatapnya hingga hilang di tikungan jalan. Kemudian segera masuk rumah. Namun baru sampai di teras Dina yang ternyata sedang duduk bersama ibu di bale-bale terbatuk-batuk.
“Cieee...yang punya cewek. Siape tuuhh... kok kagak dike-nalin ama kite ya, Nyak!” katanya. Sedang ibu hanya tersenyum.
“Ye anak kecil. Siapa yang pacaran. Ntu temen satu kelas Abang tahu!” sahutku.
“O, kirain...” jawabnya lagi.
“Lu bilang tadi ada toko yang nerima kerajinan?” tanya ibu.
“Iye Nyak. Alhamdulillah. Doain semoga laris ye.”
“Aamiin...kalau udah dapet uang, buruan lu beli lagi tu Vespa. Lumayan biar kemane-mane lu ada kendaraan.”
“Iye Nyak. Maksud Gama juga gitu kok. Aye istirahat duluan ya Nyak!”
“Ya sudah sana,”singkat ibu.
“Dina juga ah!” sahut Dina sambil mendahuluiku masuk rumah dan langsung masuk kamar.
“Yah...Nyak sendirian dong!”
“Lah Nyak juga tidur lah. Ayo Nyak!” sahutku sambil menggandeng ibu mengantarnya hingga pintu kamar.
Setelah itu aku pun segera masuk kamar. Jam beker menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Seperti biasa, jendela aku buka. Meskipun aku asli Jakarta, tapi tetap saja aku tak suka dengan udara panasnya. Setelah itu aku mengganti baju dengan celana pendek dan kaos singlet. Lalu mengolesi tubuhku dengan obat anti nyamuk. Barulah aku baringkan tubuh di kasur. Mungkin karena lelah aku langsung terlelap.
 ***

Other Stories
Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Pintu Dunia Lain

Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Hati Diatas Melati ( 17+ )

Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...

Download Titik & Koma