Mendua

Reads
3.4K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Chapter 9

“Kiri, Bang!” teriakku.
Angkot berhenti tepat di depan gerbang sekolah.
“Makasih, Bang!” seruku.
“Hati-hati lu!” jawab sopir angkot. Dia adalah sahabat almarhum babeh. Makanya setiap aku naek angkotnya tak per-nah sekalipun dia menerima ongkos dariku. Aku pun segera melangkah masuk gerbang.
Dan seperti biasa pula, Slamet yang kian hari semakin alim dan Apud yang kian hari semakin gokil telah menungguku di pinggir lapang basket sambil menikmati gorengan yang seperti biasa juga dibawa oleh Apud dari rumah. Sebagai orang Sunda tulen, dia memang tak bisa sarapan selain gorengan yang dia sebut bala-bala dan gehu.
“Wiss! Makin keren aja nih bos kita!” serunya ketika melihatku.
“Mbok ya ucapkan salam dulu duhai Akhi Apud!” timpal Slamet.
“Anjrit gua teh lupa terus Met,” sahut Apud.
“Assalamu’alaikum duhai Akhi Gama. Bagaimanakah nasib keimanan Akhi pagi ini. Semakin tebalkah, atau malah semakin tipis kayak dompet akhir bulan!” seru Apud menirukan gaya Slamet.
“Hahaha...lu ada-ada aje, masa iman disamain ama dompet akhir bulan. Kualat lu! Bener nggak Ustad!” jawabku melirik pada Slamet.
“Maaf Akhi Gama, untuk kali ini Ana setuju kepada Akhi Apud,” jawab Slamet.
“Nah lo, apa Ana bilang Akhi Gama.” Timpal Apud mengikuti cara bicara Slamet sambil tertawa.
“Setuju sebelah mananye Met! Masa iman disamain ame dompet akhir bulan?” tanyaku.
“Iman kita ini memang tidak menentu Akhi, kadang tebal dan kadang tipis. Ya nggak beda dengan dompet,” jawab Slamet tenang.
Aku garuk-garuk kepala. Baru kali ini aku dengar orang nyamain iman dengan dompet meski ada benarnya juga. Tawa Apud semakin keras melihatku seperti ini.
“Udaaahh, nggak usah dipikirin. Tar stres lagi!” seru Apud.
”Makan nih!” sambungya seraya mengulurkan tempat nasi dari plastik berwarna merah yang di dalamnya ada bala-bala, gehu dan nasi putih.
“Kagak, lu abisin aja sendiri,” jawabku.
“Ya udah, abisin Met! ane udah kenyang,” seru Apud kepada Slamet. Dengan sigap Slamet menerimanya. Dia pun langsung melahap nasi putih bersama bala-bala dan gehu itu setelah sebelumnya membaca basmalah seribu kali hehehe.
Bersamaan dengan itu, sebuah Avanza putih memasuki gerbang sekolah. Kemudian berhenti tepat di tengah lapang basket. Mataku langsung tertuju ke sana. Aku tahu, itu adalah Lara karena aku masih ingat mobil yang dipakenya semalam. Benar saja, Lara turun dari pintu mobil. Dengan seragam abu-abu 5 centi di atas lututnya serta sweater berwarna pink.
Pagi itu Lara nampak lebih cantik dari biasanya, di mataku. Rambutnya yang masih basah digerai begitu saja. Siulan dan teriakan para siswa pun langsung terdengar. Namun Lara tak menggubrisnya. Dia malah menoleh ke arahku dan langsung tersenyum. Aku pun membalas senyumnya sambil melambaikan tangan. Lara pun melangkah menuju kelas.
“Hah, nggak salah, Men!” seru Apud heran. Bahkan saking herannya dia sampai garuk-garuk tanah.
“Kenape, emang kagak boleh gue balas senyum die?”
“Bukan begitu, tapii.. Teuing ah lieur!” sahutnya pake bahasa Sunda.
Aku hanya nyengir.
Tak lama setelah Lara, masuk kelas sebuah motor matic pun memasuki gerbang sekolah. Dia adalah Samsul yang sudah seminggu tak menggunakan mobil. Dia pun sama menoleh ke arahku, namun dengan tatapan sinis. Apud yang melihat itu segera berdiri di depanku menghalangi pandangan Samsul padaku. Sedang Slamet masih saja sibuk dengan makananya. Samsul mengepalkan tinjunya ke arahku. Aku membalasnya dengan senyum.
“Uh sekarang aja lu berani kaya gitu, coba dari dulu, gua jadiin ketoprak tuh muke!” gerutuku dalam hati bersamaan dengan terdengarnya bel pertanda masuk. Kami pun segera masuk kelas.
Rupanya hari ini, Lara sudah tidak sebangku lagi dengan Samsul. Entah kenapa. Ia duduk di barisan kedua dari belakang hampir berdampingan denganku. Aku pun baru sadar kalau hari itu Dita tidak masuk.
“Ah, kemana dia?” tanyaku dalam hati.Namun, lirikan dan senyuman Lara mampu membuatku melupakan Dita sejenak.
Pak Hamdani guru mata pelajaran agama masuk. Ia seorang guru yang paling santun di sekolahku. Ia tak pernah marah menghadapi kenakalan muridnya. Dan yang paling disayang oleh Pak Hamdani adalah Apud.
“Assalamu’alaikum anak-anak...”
“Wa’alaikum salam...” Jawab kami serempak.
“Sampai dimana pembahasan kita minggu lalu?” tanya Pak Hamdani.
“Pembahasan tentang adil, Ustad!” jawab Apud.
“Baiklah! Ada yang tau ciri-ciri orang yang adil?” tanya Pak Hamdani. Anak anak tak ada yang menjawab.
“Gama! Coba sebutkan ciri-ciri atau devinisi dari adil?” tanya Pak Hamdani.
Tanpa memindahkan tatapan dari wajah Lara, aku langsung menjawab. “Cantik, matanya indah, hidungnya mancung dan bibirnya seksi,” jawabku spontan.
“Grrr...” anak-anak bersorak. Suasana kelas yang tadi sepi kini berubah seperti dipasar. Dan yang paling keras tertawa adalah Apud. Sedang Slamet hanya geleng-geleng kepala.
“Gama!” Pak Hamdani memanggilku.
“E i iya Pak!” aku baru sadar kalau jawabanku ngaco. Sementara Lara langsung tertunduk menyembunyikan wajahnya yang merona. Aku menatap pak Hamdani yang juga sedang menatapku sambil geleng-geleng kepala.
“Lagi mikirin apa kamu, Gama?” tanyanya.
“Ma ma maaf, Pak. Saya tadi tidak konsentrasi,” jawabku.
“Kecantikannya mampu mangalihkankan duniaku. Hihihi Afgan keles,“ kataku dalam hati.
“Bapak ulangi pertanyaannya. Apa definisi adil menurutmu,” tanyanya kembali.
“Mhhh...adil adalah menempatkan atau memberikan sesuatu sesuai tempatnya. Adil itu bukanlah berarti sama rata. Contohnya seorang ibu atau bapak tidak bisa disebut adil jika memberikan uang jajan yang sama kepada seluruh anaknya karena kebutuhan anaknya yang masih duduk di bangku SD dan SMA berbeda,” jawabku.
Pak Hamdani tersenyum puas mendengar jawabanku barusan. Aku menghela napas lega. Untung saja aku segera ingat apa yang aku pelajari dulu ketika di pesantren, jika tidak mungkin aku akan menanggung malu. Pelajaran pun berlanjut. Aku berusaha konsentrasi dengan tidak melirik ke arah Lara. Dan sepertinya Lara melakukan hal yang sama denganku.
***
Bel pertanda waktu pulang disambut para siswa dengan senang. Ya tak ada yang lebih menyenangkan bagi para siswa selain mendengar bel pertanda pulang. Suara bel itu seolah suara kebebasan. Aku, Slamet dan Apud jalan beiringin. Sesekali Apud tertawa setiap mendengar Slamet bicara. Sedang aku hanya terdiam. Wajah Lara mulai memenuhi kepalaku.
“Lu mau gua antar pulang, nggak?” tanya Apud.
“Kagak usah! Lagian gue mau muter-muter dulu nyari bahan buat kerajinan,” jawabku.
“Ana salut sama Akhi Gama. Kreatif dan aktif. Dan memang harus seperti itulah generasi muda Islam. Tak boleh loyo dalam menjalani kehidupan,” ucap Slamet yang kali ini benar.
“Gue juga salut sama lu, Met!” timpal aku.
“Kenapa Ya Akhi!”
“Ilmu lu masih nol tapi dalam segi pengamalan lu jauh melebihi ustad-ustad artis yang ilmunya banyak tapi amalnya nol,” jawabku.
“La elu, Men. Palingan juga Si Slamet bakalan kaya mereka kalo sudah ngetop!” sahut Apud.
“Insya Allah ndak begitu duhai Akhi Apud,” jawab Slamet.
Tiba-tiba...
“Gama, tunggu lo!” terdengar seseorang berteriak. Kami seketika berhenti dan menoleh ke arah datangnya suara ternyata Samsul, Davin dan dua orang siswa yang aku kenal sebagai preman di sekolah sedang berjalan ke arahku. Tatapan mereka memancarkan permusuhan.
“He! Gue ingetin sama lu. Jika masih ingin hidup aman di sekolah ini, sebaiknya lu jauhin Si Lara!” seru Samsul setelah berada tepat di depanku.
“Lu juga Apud Surapud sebaiknya jangan ganggu lagi Si Ratna. Dia udah jadi milik gue sekarang!” Davin ikut bicara.
“Eh, boyband! Lu kira gue takut apa sama lu. Lagian siapa juga yang ganggu Si Ratna. Ambil noh bekas gue!” Emosi Apud langsung terpancing.
“Tenanglah duhai saudara seimanku. Janganlah kalian berkelahi karena itu akan merusak tali silaturahmi,” Slamet menimpali.
“Diem lu buntut onta. Gue lagi kagak butuh ceramah!” sahut Samsul. Kemudian kembali menatapku yang hanya diam. Tapi bukan karena takut, melainkan berusaha meredam amarahku yang langsung menggelegak.
“Lu denger kagak gembel!” seru Samsul lagi padaku.
“Iya, gue denger. Tapi siapa yang ganggu Si Lara?”
“Alah...lu jangan dusta. Semalam lu jalan bareng Si Lara kan! Ngaku!” Samsul terlihat sangat emosi.
Sebelum aku menjawab. Lara sudah ada di antara kami.
“Samsul, lu denger ya. Semalam aku dan Gama nggak sengaja ketemu. Dan dia sudah nolong gue. Jadi bukan dia yang ganggu gue!” Ketus Lara.
“Kok lu jadi bantuin gembel ini Sayang?” Nada suara Samsul melembut.
Aku mengerti sekarang. Sepertinya mereka selama ini berhubungan, meski secara diam-diam. Dan Samsul cemburu denganku.
“Tapi, siapa yang ngasih tahu Si Samsul kalau gue semalam bersama Lara?” tanyaku dalam hati.
“Gue bukan bela dia. Tapi emang lu yang salah.”
“Aku salah apa Sayangku?” jawab Samsul sambil berusa-ha menggengam tangan Lara. Namun secepat kilat Lara menghempaskanya.
“Alah udahlah!” seru Lara.
Belum lagi Samsul menjawab, tiba-tiba Ratna datang dan langsung menjewer Davin. Sedang dua teman mereka yang lain hanya bengong.
Apud menyikutku, memberitanda agar segera meninggal-kan tempat ini.
”Biarkan saja mereka berantem. Ingat ancaman kepala sekolah tempo hari lalu,” bisiknya.
Tanpa menjawab bisikan Apud. Kami pun segera me-ninggalkan tempat itu. Setelah jauh, tawa kami pun meledak.
“Dasar calon suami takut istri! Gaya aja kaya preman pasar tapi hati pink!” seru Apud.
Aku pun semakin keras tertawa.
“Sudahlah Akhi, jangan terlalu banyak tertawa di dunia, nan-ti menangis di akherat!” ujar Slamet dengan nada tetap kalem.
Aku dan Apud menghentikan tawa.
“Iyaaaa Ustaddd...” Jawab kami serempak. Sambil berusaha menahan tawa. Kemudian tertawakembali.
***
Ibu sedang tak ada ketika aku tiba di rumah. Dina pun masih belum pulang. Setelah meredakan keringat dengan ngadem di bale-bale sambil bertelanjang dada, aku mandi kemudian shalat dzuhur. Pada saat aku shalatlah ibu pulang. Usai shalat Zuhur, aku segera menemuinya.
“Nyak darimane sih?”tanyaku.
“Ntu di minta ibu-ibu arisan PKK masak di kelurahan,” jawabnya.
“O kirain kemane. O iye Nyak, aye mau pergi nyari bahan ye.”
“Iye, Etapi tadi Non Dita telepon, katenye die lagi sakit,” sahut ibu.
“O pantesan die kagak masuk sekolah. Aye juga lupa kagak bawa hp. Ya udah deh, ntar aye ke rumahnye.”
“Jangan malem-malem pulangnye ye.”
“Sip Nyak,” jawabku.
Setelah pamitan, aku pun segera berangkat. Memang agak males sih karena ku harus jalan kaki atau naik angkot. Selain membuang waktu, energi juga banyak terbuang percuma. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus berangkat karena bahan-bahan untuk membuat miniatur Harley telah habis.
Matahari jakarta sangat terik siang itu. Deru jalanan meme-kak pendengaranku. Debu-debu yang beterbangan segera singgah di rambutku. Membuat kepalaku terasa gatal. Setelah mendapatkan yang dicari aku pun segera menuju rumah Dita. Ternyata benar saja Dita sedang terbaring lemah. Wajahnya sangat pucat. Hatiku bergetar.
“Maafin gue, Dit...gue kagak bawa hp kesekolah.” Kataku sambil duduk di tepian tempat tidur.
“Terus semalam kamu kemana? DiSMS gak bales. Ditelepon nggak diangkat.”
“Semalam gue musti bolak-balik ke mall. Kebetulan ada salah satu toko asesoris yang mau nampung kerajinanku. Setelah itu langsung tidur. Sory ye”
“Syukurlah kalau gitu,” jawabnya pelan. Kemudian batuk-batuk.
Segera ku ambil segelas air putih. Kemudian membantu Dita untuk bangun. Ku rebahkan Dita di dadaku. Dita tersenyum menatapku.
“Minum, Dit...jangan banyak bicara dulu,” kataku.
Dita segera mereguk segelas air putih yang ku berikan. Pak Satrio dan bu Satrio masuk kamar. Melihat posisi aku dan Dita seperti itu mereka tersenyum.
“Kamu nggak kemana-mana, Gama?” tanya pak Satrio.
Sebelum menjawab. Aku merebahkan kembali kepala Dita di bantal.
“Ni aye baru pulang nyari bahan Pak. Langsung kemari,”jawabku.
“Lagi banyak pesenan?” bu Satrio menimpal.
“Alhamdulillah Bu,” jawabku.
“Dita sakit apa sih, Pak?” tanyaku kemudian.
Pak Satrio menatap wajah Dita, kemudian tersenyum. ”Nggak apa-apa paling juga karena kelelahan, belum lagi dia emang susah sekali makan. Sekalinya mau makan, makannya baso yang pedes pula! Jadinya ya begitu.” Pak Satrio berkata sambil menatap wajah Dita. Meski bernada tenang, namu nampak jelas kecemasan di tatapannya.
“Silakan dilanjut ngobrolnya ya. Bapak dan Ibu ada diruang tengah kalau butuh sesuatu,” lanjutnya.
Aku hanya mengangguk. Setelah pak Satrio dan bu Satrio tak terlihat lagi, aku pun kembali menatap Dita yang juga sedang menatapku. Sejenak tak ada suarakami berbincang melalui tatapan. Dita pun tersenyum.
“Kok gitu sih ngeliatnya. Kasihan ya sama aku!” serunya.
“Ih GR! Siapa juga yang kasihan.”
“Habis apa dong, kangen?”
“Weee...itu di hidungmu ada upil!” aku menunjuk hi-dungnya.
Dita langsung memegang hidungnya. Dan aku tertawa. Dita segera sadar kalau aku mengerjainya.
“Ihh...nyebeliin...”Dita merajuk manja. Dan itulah yang paling aku suka dari Dita.
“Cowok lu tahu kagak lu sakit?” tanyaku.
“Tau...tapi mungkin dia sibuk,” jawab Dita.
“Sesibuk apa pun mustinye seorang cowok ntu bisa nyisihin waktu buat ceweknya lo.”
Dita ternsenyum.”Emang kamu kayak gitu?”
“La, makanya gue ada di sini juga berarti perhatian.” Aku membetulkan kerah baju.
Dita tersenyum. Sepertinya senang mendengar kata-kataku. Dia tersenyum sambil mencoba bangkit. Aku segera membantunya kembali. Lagi-lagi mata kami bertemu, senyum pun tersimpul. Saat itu aku sangat bahagia karena di saat Dita sedang butuh seseorang, aku ada buatnya.
“Gue sayang sama lu, Dit. Cinta! Tapi sayang lu cuma anggap gue temen biasa. Dan lu juga udah punya cowok.” Gumamku dalam hati.
“Maaf ya gue ngerepotin,” ucapnya.
“Lu ngomong apa sih, inilah gunanya sahabat,” jawabku. Dan, setiap aku menyebutnya sahabat, saat itulah hatiku terasa sakit karena membohongi hati nurani
“O iya, Gama...aku mau minta maaf sama kamu.”
“Minta maaf mulu kayak lebaran aja,” jawabku.
“Kenapa emangnye?”
“Soal motor lu!”
“Hah Vespa gue maksud lu. Kenapa?”
“Vespa kamu udah aku beli, sekarang ada di garasi. Maaf ya, aku nggak ada maksud apa-apa. Selain ingin membantu saja. Aku tahu,kamu sangat sayang sama motor itu, makanya ketika aku tahu kamu jual motor, aku langsung membelinya agar kamu nggak kehilangan motor itu. Soal uangnya, lu boleh balikin kapan aja. Bahkan kagak dibalikin juga kagak apa-apa.” Dita berkata sambil menatapku.
Sejenak aku terdiam. Jika bukan Dita yang melakukan ini, pasti aku sudah sangat marah. Tapi karena Dita, kemarahan itu tak ada, yang ada hanyalah rasa cinta dan sayang yang kian bertambah dalam padanya.
“Kamu marah ya?” tanya Dita.
“Kagak Dit, justru gue sangat berterima kasih sama lu. Tapi gue kagak bisa balikin uang lu cepet-cepet. Lu tahu sendiri kan gua kayak gimana.”
“Soal uang nggak usah dipikirin deh. Itulah gunanya sahabat,” jawab Dita.
“Iya, sahabat,” sahutku.
Padahal dalam hati aku berteriak,”Aku cinta kamu Ditaaa..”
“Sekalian bawa ya kalau pulang!” seru Dita.
“Iya. E...tapi orang tua lu tahu soal ini?”
“Tahu, tapi mereka nggak apa-apa kok...nyantei saja.”
Aku percaya sama Dita. karena bukan sehari dua hari aku kenal sama orang tuanya. Pak Satrio dan bu Satrio adalah salah satu orang kaya di kota Depok ini yang rendah hati dan baik. Tak jarang mereka pun membantu para tetangga yang kekurangan.
“Dari sini lu mau kemana?” tanya Dita lagi.
“Pulanglah, mau ngurus tulang-tulang ayam dulu biar bisa cepat digunakan. Aku harus lebih giat lagi sekarang takutnya makin banyak pesenan,” jawabku.
“Tapi, besok kemari lagi kan. Temenin aku!” Dita merajuk manja.
“Tentu. E...tapi gimana kalau ada cowok lu?”
“Udah dibilang dia sibuk!” sahut Dita. Masih kuat dengan kebohongannya yang semakin menyiksanya karena sesungguh-nya dia tak mempunyai pacar. Cowok yang ditemui di mall tempo hari adalah saudaranya dari Yogyakarta. Putera om nya.
“Oke deh. Kalau begitu gue balik sekarang ye. Udah sore. Lu banyakin makan dan istirahat biar cepet sehat.”
“Bawel!”jawabnya ketus.
“Non Dita yang cantik dan manja, gue bukan bawel, tapi sebel sama lu yang kagak bisa nyayangin diri sendiri. Gimana lu bisa sayang sama orang lain!” seruku sambil ngucek-ngucek rambut Dita.
“Icchh..kusut ni rambut!” Rajuk manjanya. Aku tersenyum.
Dita mencoba turun dari tempat tidur, namun karena tubuhnya masih lemas, dia limbung. Untung aku segera meme-gang pinggangnya. Lagi-lagi kami berpandangan. Kemudian bertukar senyum. Aku merasa ada yang lain di senyuman Dita. Tapi, segera kuusir rasa itu karena biar bagaimana pun Dita sebentar lagi akan bertunangan. Itulah yang pernah dikatakanya yang membuatku mati-matian membunuh cinta dalam hati.
Sambil terus menggandengnya, kami keluar dari kamar. Bu Satrio hanya terseyum melihat kami. Begitu pun dengan pak Satrio. Dita mengajakku ke garasi. Setelah sampai di sana aku melihat vespaku terparkir di sudut lain garasi yang cukup besar itu di samping sebuah mobil mercy hitam.
“Tuh!” Dita menunjuk motor dengan wajahnya.
“Makasih ya, Dit. Lu bener-bener sahabat gue yang paling baik dan ngerti.”
“Udah, nggak usah ngegombal. Mendingan lu cek motor lu. Tadi pagi nggak sempet aku panasin.”
Aku segera menghampiri Vespaku. Sedang Dita bersandar pada dinding garasi. Seorang pria pendek besar masuk ke garasi dan langsung membuka pintu garasi. Dia adalah sopir pribadi pak Satrio. Aku langsung menyelah Vespaku. Anehnya langsung hidup, tak seperti biasanya.
“Udah diservis ya?” tanyaku pada Dita. Kubiarkan Vespaku menyala kemudian kembali mendekati Dita.
“Hu’um. Sebelum aku bawa ke rumah aku suruh si pemilik bengkel menyervisnya,” jawab Dita.
Aku tersenyum. Memegang tangan Dita. Menatapnya dalam. “Makasih ya, Dit.”
“Iya udaaah...makasih mulu!” jawab Dita.
“Habis cuma kata itu yang bisa gue ucapin,” jawabku.
”Sebenarnya masih ada kata cinta yang tak mungkin gue katakan Dit,”sambungku dalam hati.
“Ya udah, gue pamit sekarang ya.”Ucapku sambil melepas tangan Dita.
Dita mengangguk. Menghela napas dalam. Sepertinya berat melepas kepergianku. Tapi tak urung Dita tersenyum. Aku pun segera pulang dengan rasa bahagia karena aku sudah dapat mengungkapkan cintaku pada Dita meskipun tidak
secara langsung. Dan, aku tak peduli Dita tahu atau tidak tentang rasaku ini yang penting bagiku, aku mencintainya. Aku akan selalu menyimpan cinta ini di tempat paling rahasia dibelahan jiwaku yang paling dalam.
 ***

Other Stories
Pesan Dari Hati

Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...

FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Buku Mewarnai

ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...

Download Titik & Koma