Chapter 12
Hari-hari berikutnya, aku dan Lara semakin dekat. Kejadian itu telah mengikat hatiku dan hatinya. Entah itu cinta atau nafsu, yang pasti datang sekonyong-konyong tanpa aku duga. Bagaimana tidak aku dan Lara yang sebelumnya saling membenci kini menjadi saling mencintai.
Akan tetapi kedekatan kami, cinta kami dan rindu kami, masih belum berani kami publikasikan kepada teman-teman satu kelasku. Itu semua untuk menjaga agar tak ada masalah lagi dengan Si Samsul. Sehingga jika di sekolah, kami paling hanya saling melirik dan melempar senyum. Sesekali juga kami janjian di kamar mandi siswa untuk sekedar saling menggenggam tangan meski hanya satu menit.
Namun, tanpa sepengetahuan Lara, aku pun tak pernah absen untuk menjenguk Dita di rumah sakit setiap hari, sepulang sekolah. Memperhatikannya sepenuh hati karena memang aku pun menyayanginya meskipun hingga kini cinta ini tak pernah tersampaikan karena yang aku tahu kalau Dita sudah mempunyai calon pacar bahkan sebentar lagi katanya mereka akan bertunangan. Tapi anehnya Dita seolah sangat bahagia setiap kali berdekatan denganku. Itu terlihat jelas pada senyum dan matanya. Dan selama seminggu Dita di rumah sakit, tak pernah aku melihat calon tunangannya itu menjenguk.
“Ape mereka udah putus ye?” tanyaku dalam hati.
”Tapi kan gue udah jadian sama Si Lara?” tanyaku lagi, masih dalam hati.
Hari-hariku kini dipenuhi ketidakmengertian akan pera-saanku sendiri. Bagaimana tidak, aku mencintai dua orang dengan begitu dalam di saat yang sama. Dengan satu hati yang ini ini juga. Jika Lara adalah tanganku, maka Dita adalah mataku. Mekipun aku sadar, tak mungkin aku memiliki keduanya. Tapi aku pun tak ingin kehilangan salah satunya.
***
Hari ini adalah hari pertama Dita masuk setelah satu minggu tidak sekolah. Pagi sekali Dita sudah menelepon minta dijemput. Ia ingin berangkat ke sekolah bersamaku. Tentu saja aku sangat senang, tapi juga bingung karena meskipun selama ini aku di sekolah biasa-biasa saja denga Lara sebenarnya kami telah jadian. Dan dia pasti akan sangat sakit hati jika melihat aku jalan dengan Dita. Tapi aku tak mungkin menolak keinginan Dita karena aku pun menyanyanginya.
Jam enam lewat lima belas menit, aku segera memacu Vespaku menuju rumah Dita. Ketika sampai di sana, pak Satrio dan bu Satrio menyambutku ramah. Bahkan aku ditawari sarapan bersama. Namun, dengan ramah aku menolaknya.
“Makasih, Pak. Aye udah sarapan tadi rumah,” kataku seramah mungkin.
“Kalau begitu ngopi ya!” sahut bu Satrio. Kemudian memanggil bi Ijah pembantu mereka dan menyuruhnya mem-buatkan kopi untukku. Bibi Ijah pun segera melaksanakan perintah tuannya
“Duduk dulu, Nak Gama!” seru pak Satrio.
“Aye tunggu di teras aje, Pak,”jawabku.
“Ya sudah kalau begitu.”
Pak Satrio dan bu Satrio tersenyum. Mereka pun melanjutkan sarapan kembali. Sementra aku segera menuju teras rumah. Duduk pada kursi terbuat dari kayu jati yang mejannya terbuat dari batu marmer berwarna putih dengan urat-urat berwarna biru. Tak lama setelah aku duduk dan menyalaka sebatang rokok, bi Ijah datang sambil membawa segelas kopi hitam minuman kesukaanku.
“Udah lama?” Dita muncul dari pintu. Menyapaku dengan suara terlembutnya. Dan langsung duduk di depanku. Senyumnya membuat pagiku terasa semakin indah.
“Di sini sih aku baru. Namun sudah lama aku mencintaimu,” jawabku.
“Icchh...pagi-pagi udah ngegombal. Cepet abisin kopinya tuh, udah jam tujuh,” jawabnya. Wajahnya sedikit merona.
Aku tersenyum. Kutatap wajahnya. Bagiku Dita memang selalu tampak cantik. Cinta dalam dada inilah yang membuat apa pun dalam diri Dita adalah suatu keindahan. Cinta membuat segala sesuatu terlihat sempurna.
“Malah bengong, ayo dong ah!” seru Dita lagi.
“Iye iyeee...” jawabku. Segera kureguk kopiku hingga habis dan langsung berdiri. bersamaan dengan itu, pak Satrio dan bu Satrio keluar menghampiri kami.
“Hati-hati ya, Dit!” ucap bu Satrio menatap Dita penuh cinta.
“Tenang Bu. Selama ada Gama, Dita akan baik-baik saja,” sahutku.
“Iyaa, Bapak percaya sama kamu, Gama,” timpal pak Satrio.
“Bener nih, mau jagain aku?” Dita berkata. Matanya yang indah mengerling padaku.
“Akan gue buktiin Dit,” jawabku sekenanya.
Pak Satrio dan bu Satrio tersenyum. Begitu pun dengan Dita. senyumnya memancarkan aura kebahagiaan.
“Dita berangkat dulu ya Pa, Ma!” ucap Dita sambil mencium tangan pak Satrio dan bu Satrio.
“Iya, hati-hati. jangan ngebut ya Gama!” kata pak Satrio.
“Motor tua ini mana bisa ngebut, Pa!” jawabku.
Pak Satrio dan bu Satrio tertawa.
Aku dan Dita pun berangkat. Sepanjang jalan, di antara bunyi klakson dan asap kendaraan, Dita memegang erat pinggangku. Aku sangat bahagia sekali. Sesekali, Dita menggelitikku, tentu saja aku menggelinjang sambil tertawa. Dita pun ikut tertawa. Hingga saking asiknya, tak terasa kami pun sudah sampai di sekolah.
Slamet dan Apud seperti biasa sedang duduk sambil sarapan ditempat biasa kami menunggu bel pertada masuk terdengar. Mereka terlihat sangat senang ketika melihat Dita telah sembuh. Slamet pun segera mengangkat kedua telapak tangannya sebagai tanda bersyukur. Apud segera mengamini setiap doanya.
Tiba-tiba handphoneku bergetar. Aku segera merogohnya dari saku celana. Ternyata Lara SMS.
“Ciee ...mesra banget sih!”katanya dalam SMS.
Aku bingung. Dengan kata apa SMS ini harus kubalas.
Kuedarkan pandangan. Di depan kelas bersama beberapa orang siswi, Lara memandangku dengan tatapan cemburu. Aku pun mencoba mengangguk sambil tersenyum. Padahal hatiku saat itu serasa tak karuan. Namun Lara membelas senyumku dengan tatapan sinis. Kemudian membuang muka.
“Kenapa Gama?” tanya Dita.
“E,a a anu, Dit.”
Dita tersenyum.”Aku kira selama aku sakit kamu dan Lara sudah baikan. Ternyata masih musuhan toh!” katanya.
Aku hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir diiringi bel pertanda masuk.
Selama mengikuti pelajaran aku tak bisa berkonsentrasi. Belum lagi, Dita tiba-tiba ingin duduk sebangku denganku. Sementara itu Lara terus mengirimkan SMS nya dengan kata-kata sindiran. Lirikan matanya pun mencerminkan kecemburuan yang sangat.
“Ah, musti gimana nih gue?” tanyaku dalam hati.
Jam istirahat pun tiba. Semua murid berhamburan keluar kelas menuju kantin. Apud mengajakku untuk ke perpustakaan, tapi karena Dita ingin aku menemaninya di kelas, maka aku pun menolak ajakan Apud. Begitu pun ketika Slamet mengajakku ke mushola. Sehingga di kelas tinggal aku berdua bersama Dita.
“Aku bawa roti mau?” tanya Dita.
“Kagak ah masih kenyang gue,” jawabku.
Bersamaan dengan itu Lara masuk ke dalam kelas dengan wajah cemberut. Di belakangnya Samsul mengiikutinya sambil tak henti berusaha memegang tangannya.
“Dengar aku dulu Lara!” seru Samsul.
Namun Lara tak peduli. Ia segera duduk dibangkunya kemudian mengeluarkan smart phone nya dan menyumpal telinganya dengan handsfree. Ingin sekali aku menghampirinya tapi tak bisa ku lakukan karena aku sedang bersama Dita. Bahkan melihat itu, Dita malah memegang tanganku. Tentu saja aku semakin bingung. Akhirnya aku hanya mampu menatap Samsul yang kini duduk di samping Lara. Tangannya memeluk bahu Lara.
“Aku salah apa sih, Ra. Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini, tidak mau bicara denganku,” Samsul terdengar berkata.
Lara melepaskan tangan Samsul dari bahunya dengan kasar. Kemudian menatap Samsul dengan tatapan kebencian.
Setelah melepas handsfree yang menyumbat telinganya, Lara pun berkata,“Sudah aku bilang, aku tidak mencintaimu Samsul. Kenapa kamu nggak ngerti-ngerti sih. Percuma kamu memohon. Sampai nangis darah sekalipun karena aku telah mencintai orang lain.” Katanya sambil melirikku.
“Oke, tapi kalau boleh aku tahu siapa pria yang kau cintai itu?” tanya Samsul lagi.
Entah kenapa hatiku berdebar ketika mendengar Lara berkata seperti itu. Aku yakin, yang dimaksud oleh Lara adalah aku. Tapi bukan Samsul yang aku takutkan, melainkan Dita. Ya, aku takut kehilangan Dita ketika mengetahui bahwa selama dia sakit, aku dan Lara sering bertemu untuk memadu cinta.
“Nanti juga kau akan tahu sendiri. Sekarang sebaiknya kau tinggalkan aku dan jangan coba-coba dekati aku lagi!” seru Lara.
Aku sedikit lega mendengar jawaban Lara. Lain dengan Samsul. Ia terdiam dadanya turun naik menahan amarah. Kemudian sambil membanting kursi Samsul pun pergi keluar dari ruang kelas. Lara menghela napas dalam, pun aku. Sementara Dita menatap Lara sambil terus menikmati roti kejunya.
Hening sekali kelas ini. Aku dan Dita tak berkata sedikit pun. Begitu pun dengan Lara. Di sana, di bangkunya, ia mene-lungkupkan wajahnya di meja. Bahunya terlihat bergerak-gerak. Isaknya terdengar lirih. Ingin sekali aku menghampiri dan memeluknya. Namun itu tak kulakukan. Ternyata aku lebih tega membiarkanLara menangis ketimbang harus meninggalkan Dita.
Untung saja bel segara berbunyi, hingga Lara tidak terus menangis karena beberapa orang siswi segera menghampiri dan menenangkannya. Pak Susilo masuk ke dalam kelas dengan wajah arogannya. Namun kini, ia tak lagi berbuat semena-mena karena kejadian tempo lalu, cukup membuatnya kecut untuk berbuat seenaknya. Ia tahu murid-muridnya bukan anak SD yang selalu menerima perlakuan apa pun gurunya.
Di tengah keheningan kelas, handphoneku bergetar. Lirikan Lara cukuplah memberi tahu bahwa ia mengirimkan SMS. Dengan sangat hati-hati aku pun membukanya. Ketika itu, Dita sedang mencatat, makanya dia tak memperhatikan aku. Benar saja, Lara mengirimkan SMS yang isinya, memintaku untuk menemuianya di kamar mandi siswa di pojok sekolah. Dan dia akan beralasan kepada pak Susilo mau menemui kepala sekolah.
Setelah berpikir beberapa saat dan tak ada yang lebih baik selain mengikuti kemauan Lara, aku pun segera minta izin kepada pak Susilo ke kamar mandi. Tanpa banyak tanya, pak Susilo mengizinkannya. Aku pun segera keluar dan melangkah pelan menuju kamar mandi siswa yang terletak di lantai satu, di pojok timur sekolah. Terpisah dari bangunan utama. Sehingga memang cukup aman untuk bertemu.
Setelah 3 menit aku menunggu, Lara pun datang dengan wajah menampakan kekesalan padaku. Namun aku berusaha menyambutnya dengan senyum. Kami pun segera menyelinap ke belakang kamar mandi yang berbatasan langsung dengan benteng sekolah. Setelah berada di belakang kamar mandi dan dirasa tak ada yang melihat, segera ku genggam tangannya.
“Maafkan aku Lara,” kataku pelan.
Lara hanya menatapku lekat.
“Sebenarnya ada apa antara kamu dan Si Dita, kenapa tadi berangkat bareng dan duduk sebangku?” ketus Lara.
“Gue sama Si Dita cuma teman, tak lebih. Tadi pagi aku ketemu dia di jalan terpaksa aku ajak dia dan soal kenapa aku duduk sebangku dengannya, itu hanya karena dia ingin mencatat semua pelajaran yang tertinggal. Agar lebih mudah, maka sementara dia duduk denganku. Besok juga dia kembali ke bangkunya,” jawabku terpaksa bohong.
“Kamu nggak bohong, kan?” Lara seperti tidak yakin dengan jawabanku.
“Percaya deh ama gue, Ra. Gue kagak ada hubungan apa-apa sama Si Dita,” jawabku sambil mencium tangannya.
Lara pun tersenyum.
”Aku mencintaimu, Gama. Aku tak rela melihat kamu berdua dengan wanita lain,” katanya.
“Gue juga cinta kamu Ra,” jawabku.
Senyum Lara semakin mekar. Dia pun mengecup pipiku.
“Ya udah, kamu masuk duluan gih, entar aku nyusul. Entar pulang sekolah aku ke rumahmu ya. Kita nonton,” katanya.
“Oke, seperti biase ye.”
Lara mengedipkan mata kirinya pertanda setuju. Wajahnya sudah tak semurung tadi. Kecantikannya makin terpancar.
***
Bel pertanda pulang memang saat saat yang selalu menyenang-kan bagi siswa. Aku sengaja memperlambat membereskan buku-bukuku dengan maksud agar Lara pulang duluan dan dia tak melihatku mengantar Dita pulang. Dan seperti biasa pula, sudah seminggu ini, Apud dan Slamet selalu pulang lebih dulu.
Apud kini sibuk mencari referensi untuk novel yang sedang dia susun. Niatnya untuk jadi penulis makin kuat. Sedang Slamet, setiap hari sepulang sekolah selalu mengikuti pengajian di salah satu masjid di Depok. Bahkan katanya, ia berniat masuk pesantren setelah lulus sekolah. Hingga sudah satu minggu ini aku hanya bertemu mereka di sekolah. Tapi itu tak masalah, karena Dita dan Lara selalu bersamaku. Sedang malam biasa aku gunakan untuk mengerjakan pesanan miniatur Harley yang kian hari kian banyak peminatnya.
Setelah yakin semua telah pulang. Barulah aku dan Dita keluar dari kelas. Benar saja di parkiran hanya tersisa Vespaku. Dita berdiri di sampingku sambil tersenyum melihatku menyelah motor. Setelah Vespa menyala, Dita pun segera duduk di belakangku. Menyamping tangan kanannya segera dilingkarkan pada pinggangku. Vespa pun melaju tenang.
“Jalan-jalan dulu, yuk!” katanya.
“Duh, lain kali aja deh ye, lu kan baru sembuh Dit,” jawabku sambil terus memperhatikan jalan. Menyelinap di antara kemacetan.
“Huhh...”Dita menyahut kesal.
Kami pun kembali terdiam. Kebisingan dan panasnya siang itu, membuat kami malas untuk ngobrol sembari jalan. Baru setelah sampai di rumahnya Dita berkata,“Mampir yuk, harus!”
“Oke!” jawabku.
Setelah memarkir motor di depan garasi rumah yang tertutup, aku duduk di teras rumah. Di kursi yang tadi pagi aku duduki. Sementara Dita masuk ke dalam hendak mengganti baju.
Tak lama, bi Ijah datang ambil membawa sebotol minuman dingin. Setelah mempersilakan padaku, bi Ijah pun segera kembali ke dalam rumah. Tanpa banyak kata, ku sedot minuman dingin itu hingga tersisa setengah. Tenggorokanku seketika segar. Kebetulan masih ada sisa sebatang rokok di dalam tas. Aku pun segera membakarnya. Mataku terpejam menikmati kenikmatan ini.
“Huhh..!” tiba-tiba Dita telah duduk di depanku. Dita terlihat seksi dengan celana jins pendek yang dipadukan dengan tengtop. Aku sampai melongo dibuatnya.
“Heh! Malah bengong. Nyebelin ich!” seru Dita.
Aku tertawa kecil. Kumatikan rokokku pada bungkusnya yang telah kosong. Kemudian kembali menyedot minuman dingin itu lagi.
“Mau lagi?” tanya Dita.
“Apa?”
“Minumannya, Gamaaa. Kamu kira apa?”
Aku kembali nyengir. “Boleh boleh,” jawabku.
“Bentar ya,” katanya kemudian masuk ke dalam rumah. Tak lama sudah kembali sambil membawa tiga botol minuman dingin.
“Nih!” katanya sambil menaruh minuman dingin itu di meja, lalu kembali duduk.
“Makasih ye!” seruku sambil nyengir. Tanpa banyak kata aku langsung mengambil sebotol rasa stawbery. Lalu segera meminumnya. Dita hanya menatapku sambil tersenyum.
“O iya, Dit cowok lu kenape kagak pernah keliatan lagi? Lu masih hubungankan ame die?” tanyaku.
Dita seperti agak kaget aku bertanya seperti itu. Sejenak ia terdiam. Matanya menatap ke arah lain.
“Menurutmu?” Dita malah balik tanya.
“Ya elah, malah balik nanya. Terus gimane rencana pertunangan lu?” tanyaku lagi.
“Kamu memang bener-bener nggak peka ya, Gama,” jawab Dita.
“Kagak peka gimane?”
“Ya nggak peka! Kamu nggak bisa bedain mana kejujuran atau kedustaan. Kamu juga nggak bisa bedain mana perhatian sebagai teman biasa dengan perhatian yang benar-benar di dasari rasa cinta dan sayang,” katanya lagi.
“Gue kagak ngarti, Dit. Ngomong langsung ngapa!”
“Aku cinta kamu, Gama!” lirih Dita.
“Ape, Dit? Gue kagak salah denger kan!”
“Tidak Gama. Kamu tidak salah dengar. Sejak dulu aku memang mencintaimu, tapi rasa ini selalu aku simpan karena melihat sikapmu yang cuek dan menganggap aku hanya sebagai teman. Namun, setelah kejadian kemarin selama aku sakit dan kamu selalu menjenguk ku entah kenapa aku merasakan perhatianmu lebih dari perhatian seorang teman,” katanya. Menunduk tak berani membalas tatapanku.
“Maafin aku jika aku salah menerka perasaanmu Gama,” ucapnya lagi. Seperti yang baru saja terbebas dari beban berat Dita mengembuskan napasnya.
“Tapi kan lu bentar lagi tunangan, Dit!” seruku.
“Tidak, Gama. Pada kenyataannya aku tak punya pacar. Dan laki-laki yang bersamaku di mall tempo lalu adalah saudara sepupu dari Yogyakarta,putera dari tanteku.”
“Tapi kenape?”
“Aku hanya ingin tahu reaksimu cemburu atau tidak,” jawab Dita.
Aku kembaliterdiam. Semua kata-katanya terdengar tulus dan jujur. Hatiku bisa merasakannya sebagaimana aku bisa merasakan hembusan angin siang ini yang cukup kencang. Daun-daun pohon mangga bergoyang. Sepucuk daun kering pun gugur. Sebagaimana gugurnya penantianku akan cinta yang selama aku pendam. Akan tetap tiba-tiba wajah Lara muncul dalam ingatanku. Tersenyum dengan bibir yang selalu membuatku rindu.
“Tapi, gimane dengan Si Lara?” tanyaku dalam hati.
”Ah...” Desahku.
“Maafkan aku Gama. Jujur aku tak sanggup lagi memendam semua rasa ini...” Lirih Dita kembali.
Kutatap wajahnya. Dita menundukan wajahnya kembali. Tangannya memainkan ujung kaosnya. Kemudian mataku beralih pada serumpun bunga-bunga yang mengelilingi kolam ikan dihalaman rumah. Pikiranku terus melayang, singgah sebentar pada wajah Dita, namun sedetik kemudian kembali terbang bersama wajah Lara.
“Gue harus memilih salah satu di antara mereka!” seruku dalam hati.
“Dita...” Lirih.
“Ya...” Dita mengangkat wajahnya. Ada embun dikedua sudut matanya.
“Lo, kenapa nangis?” tanyaku.
“Aku malu, Gama. Aku malu mengatakan ini semua. Tapi harus bagaimana lagi, aku tak kuasa lagi memendamnya, sedang menunggumu untuk mengatakan ’Aku cinta kamu’ rasanya itu hal yang mustahil. Kau boleh memandangku wanita pembohong atau apalah, terserah. Tapi aku hanya memohon, apa pun rasa yang ada dalam hatimu jangan sampai membuatmu menjauh dariku,” pinta Dita.
“Kok ngomong begitu?”
“Ya karena mungkin kau hanya menganggapku teman,” Dita menunduk kembali.
“Siape bilang?”
“Maksudmu?”
“Ah, ternyata bukan gue yang kagak peka, tapi lu!”
“Aku nggak peka!”
“Ternyata perhatian gue selama ini cuman lu anggap perhatian dari seorang teman. Kalo gitu apa bedanya gue sama Si Apud dan Si Slamet!”
“Aku nggak paham, Gama.”
“Gue juga cinta ama lu, Dita!” kataku sungguh-sungguh.
“A a apa...” Dita seperti tak yakin dengan kata-kataku.
“Dit, ape lu kira cuman lu aja yang selama ni memendam rasa cinta? Gue apalagi! Dan perlu lu tahu, setiap lu ngomomgin tentang cowok lu yang ternyata cuman khayalan itu, hati gue seperti terbakar. Tapi gue cuma bisa ngelus dada karena gue tahu siapa gue di mata lu,” jawabku.
Dita menatap dengan bola matanya yang berbinar,”Beneran apa yang kamu katakan itu, Gama?”
Aku segera berdiri. Kupegang kedua tangannya. Dita hanya terdiam. Matanya terus menatapku. Sambil tetap memegang tangannya, kutekuk kaki kiriku. Berdiri dengan tumpuan lutut.
“Aku cinta kamu, Dita. Terimalah cintaku yang serba sederhana ini,” ucapku lirih.
Akhirnya Dita tersenyum. Manis sekali senyumnya. Hampir tak kuasa aku menatap binar indah matanya. Namun tak jua menjawab.
“Mau kagak nih!” seruku lagi.
“Ichh...nggak romantis banget sih!”
“Terus gue mesti gimana lagi dong?!” seruku sambil berdiri.
”Apa harus kaya gini!” seruku lagi namun kini sembari memeluk Dita.
“Aku cinta kamu, Dita...cintaaa...banget!Sudah sangat lama aku menunggu kapan saatnya aku harus mengungkapkan cinta ini...” Bisikku.
Dita tak menjawab namun pelukan eratnya cukuplah menjadi tanda betapa dalamnya cintanya padaku. Tak ada yang lebih membahagiakan dalam hidupku selain saat ini. Saat dimana aku memiliki cinta yang telah lama kunanti. Dan saat itu pun aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Lara karena tak mungkin aku mempunyai dua cinta dalam satu hati, seperti tak mungkinada dua nyawa dalam satu tubuh.
“Ekhem!”Tiba-tiba terdengar suara orang berdekhem.
Serentak kami melepaskan pelukan. Wajah Dita nampak merona ketika ternyata bi Ijah sedang berdiri dimuka pintu sambil tersenyum.
“Maafin Bibi ya, Non. BiIjah nggak tahu kalau Non Dita dan Den Gama sedang...hihihi...” Bi Ijah tertawa ngikik.
“Apaan sih, Bi!” ketus Dita wajahnya merona.
“Maaf Non, Bibi cuma mau bilang kalau makanannya sudah siap. Bapak dan ibu sudah menelepon mengingatkan agar Non untuk segera makan,” kata bi Ijah.
Dita menatapku.” Makan yuk!” ajaknya.
“Makasih deh, gue belon laper,” jawabku.
“Ayo dongg...katanya sayang. Masa nemenin makan aja nggak mau?” rajuk Dita sambil memegang tanganku.Aku pun tak bisa menolak kemanjaannya yang memang selalu membuatku rindu. Dan kini, aku tak sungkan untuk memanjakannya. Makan siang itu adalah makan siang pertama masa jadianku dengannya. Siang ini aku sangat bahagia. Kebahagiaan yang tak bisa aku ungkapkan dalam kata-kata.
Usai makan, aku segera pamit pulang dengan harapan Lara masih menungguku di rumah. Aku akan segera mengatakan ini semua. Aku tak peduli dia akan sakit hati atau tidak. Aku memang lebih mengutamakan kebahagiaan Dita dari pada Lara. Mungkin karena cintaku kepada Dita lebih tulus ketimbang cintaku pada Lara.
***
Sesampainya di rumah, ibu menyambutku dengan senyuman. Kucium tangan-nya, kemudian duduk di bale-bale sambil membuka kancing baju seragam. Angin yang berembus membuat mataku ngantuk hingga tak sadar aku tertidur dan baru bangun sore menjelang senja. Aku pun segera mandi.
Usai mandi aku ngopi di bale-bale sambil menghaluskan tulang-tulang ayam yang sudah kering untuk aku susun nanti malam menjadi beragam bentuk. Kini aku tak hanya menjadikan tulang-tulang ayam itu menjadi miniatur Harley, tapi apa pun permintaan pemesan aku layani, tentu saja harganya pun aku sesuaikan tergantung tingkat kesulitan.
Tiba-tiba aku teringat kepada Lara.”Kok die kagak dateng ye?” tanyaku dalam hati. kemudian aku masuk rumah untuk mengambil hp berharap Lara SMS. Tapi tak ada. Entah kenapa hatiku menjadi tak enak. Pikiranku terus teringat pada Lara.
“Ada ape ye?” tanyaku lagi.
Sejenak aku menebak-nebak kenapa Lara tidak datang. Padahal tadi di sekolah dia sudah berjanji akan datang. Bahkan memberi kabar pun tidak. Akhirnya kuputuskan untuk meneleponnya. Namun ternyata nomornya pun tidak aktif.
“Ah, kenape gue jadi cemas gini?” kataku lagi dalam hati.
Hingga malam datang, Lara pun tak jua datang dan memberi kabar. Untuk menghilang rasa hati yang tidak karuan, aku pun melanjutkan pekerjaan. Sebisa mungkin aku hilangkan semua ingatan kepada Lara dengan berpikir positif sambil mendengarkan lagu dari radio bututku. Akhirnya beberapa miniatur motor dan mobil pun berhasil aku selesaikan meski harus sampai larut malam. Mungkin karena aku kelelahan, hingga aku lupa pada semua hal, yang aku ingat hanyalah kata tidur!
***
Other Stories
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Hati Diatas Melati ( 17+ )
Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...