Mendua

Reads
3.4K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Chapter 14

Dari rumah Dita aku langsung menuju rumah sakit tempat dimana Lara dirawat. Sepanjang perjalanan aku hanya teringat kepada dua wajah. Dita dan Lara. Anehnya, niatku untuk mengakhiri hubungan dengan Lara kini menjadi rasa iba yang sangat. Aku tak mungkin memutuskan Lara saat kondisinya sedang sakit parah aku masih punya hati. Tapi sampai kapan aku bisa menyembunyikan ini? Bukankah jika Dita atau Lara tahu malah kondisinya akan semakin gawat? Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan.
Sampai di rumah sakit aku segera bertanya pada perawat jaga tentang pasien bernama Lara. perawat itu pun memberi tahu dimana kamar rawat inap Lara. Tanpa banyak kata lagi, aku segera menuju ke ruangan tempat Lara dirawat yang ada di lantai 2 ruangan kelas 1. Ruangan khusus untuk orang-orang berduit.
Aku ketuk pintu ruangan bernomor 012.
“Masuk...” Terdengar seseorang berseru dari dalam.
Setelah pintu terbuka, nampaklah Lara sedang berbaring di temani Pak Achmadi. Lara langsung tersenyum begitu melihat aku datang. Senyum manis di saat kesakitan itu sungguh indah. Aku seperti melihat purnama merah di gelap malam.
“Gama...” Ujarnya lirih.
Aku tersenyum. Hatiku dag dig dug. Entah kenapa, semen-tara Pak Achmadi menatapku dari atas hingga bawah. Lalu tersenyum.
Pak Achmadi berdiri dan langsung menghampiriku yang masih mematung di depan pintu. Tanpa aku duga, pak Achmadi memeluk bahuku.
”Ayo, Nak...kamu sudah ditunggu sejak kemarin,” katanya.
“Ada yang kangen,” bisiknya. Namun cukup keras untuk didengar Lara yang seketika itu juga mencoba duduk. Namun sepertinya kondisi masih terlalu lemas. Lara meringis menahan sakit.
Aku segera duduk di sampingnya memegang tangannya spontan.”Jangan banyak bergerak dulu, Ra.”
Lara tersenyum. Matanya berbinar.
”Terima kasih udah mau datang Gama dan maafkan aku karena kemarin aku tak datang ke rumahmu,” katanya.
“Udahlah, tak perlu ada yang dimaafkan. Yang penting sekarang aku ada di sini,” jawabku.
Pak Achmadi tersenyum penuh arti mendengar obrolan aku dan Lara.
”Papa keluar dulu ya, Ra.”
Lalu menatapku,”Nak Gama...”
“YaPak,” jawabku.
“Tolong temenin dulu Lara ya. Bapak mau beli sesuatu. Awas Jangan ditinggal ya...” Katanya.
Aku mengangguk dengan wajah sedikit merona.
Lara dan aku saling menatap lalu tersenyum.
“Aku cinta kamu Gama,” lirihnya setelah Pak Achmadi keluar.
“Aku juga, Ra.” Ku remas jemari tangannya.
”Yang aku sesalkan, kenapa tak bilang sejak awal kalau kamu...”
“Kanker otak!” sahut Lara.
Aku mengangguk, mata kami bertemu saling meraba hati masing-masing.
“Aku takut kamu mau menemaniku karena iba jika tahu aku sakit parah,” kata Lara dengan mata berkaca-kaca.
Aku mencoba tersenyum.
“Ra, aku mencintaimu. Bukan mengibakanmu. Aku me-nyayangi apa pun yang ada dalam dirimu...sehatmu kucintai dan sakitmu kucintai,” jawabku.
Lara terlihat bahagia mendengar kata-kataku.”Apa benar tak ada wanita lain yang kamu cintai selain aku Gama.”
Aku geleng-geleng.
“Si Dita?!”
Deg! Hatiku serasa ditumbuk benda ketika Lara menyebut nama Dita. Tiba-tiba saja terbayang saat ini Dita sedang duduk di teras sambil melamun. Hatinya pasti sangat resah, dan pasti sangat tersakiti jika mengetahui semuai ini.
“Kok diam!” seru Lara.
“Ti tidak, Ra.”Aku Menyahut.
”Lagian kenapa tiba-tiba kamu ingat sama Si Dita?” lanjutku.
“Ya siapa tau aja,” katanya.
“Sudah ah, jangan ngomongin orang lain,” seruku.
”Kamu sudah makan kan?”
Lara melirik sebuah mangkok yang ada di meja kecil. Aku mengikuti ke arah mana dia melirik.
“Mau makan itu?” tanyaku.
Lara mengangguk.
”Tapi suapiin...” Katanya manja.
Aku tersenyum mencubit pelan pipinya, lalu mengambil mangkok yang ternyata bubur nasi putih tanpa bumbu. Hanya ada sebutir telor dan dua potong tahu.
“Maklumah makanan orang sakit.” Lara tersenyum.
“Makanya cepet sembuh ya, ntar aku traktir makan,” jawabku.
“Janji...”
“Iya Sayaaang...” Lalu mulai menyuapi Lara.
Tatapan kami senantiasa bertemu. Senyum pun selalu mekar. Aku dan Lara benar-benar terhanyut dalam cinta begitu dalam.
***
Sementara itu Dita duduk di pinggiran kolam ikan. Entah kenapa tiba-tiba hatinya resah. Wajah Gama sangat melekat dalam ingatan. Ia memaikan kaki yang terbenam sebatas betis dalam kolam. Namun, dinginnya air kolan tak mampu mendinginkan hatinya.
”Ah, ada apa ini...” Gumamnya.
Ia pun beranjak masuk rumah. Bahkan ketika melewatiruang tamu dimana kedua orangtunya sedang duduk, ia seolah tak melihat. Ia langsung naik ke atas dimana kamar tidurnya berada. Tentu saja kedua orangtunya cemas. Mereka saling menatap lalu mengangkat bahu.
“Paling juga sedang kangen sama Gama, Ma...” Kata pak Satrio.
Bu Satrio mengangguk menarik napas lalu menyenderkan kepala di bahu suaminya. ”Ngomong-ngomomg, Papa sudah bicara belum sama Dita soal rencana kita pindah ke Australia setelah dia lulus nanti?”
“Udah, Ma. Tapi Dita tak menjawab sepertinya dia berat jika harus berjauhan dengan Gama. Biasalah anak muda,” jawab pak Satrio.
“Iya juga si, Pa. Dulu juga Mama begitu sama Papa. Nggak mau jauh-jauhan. Takut kegaet janda.” Bu Satrio tertawa kecil.
”Alah sekarang juga maunya nempel terusss...” Pak Satrio meledek.
“Emang Papa nggak mau deketan sama Mama!?” Bu Satrio cemburu.
Mereka pun tertawa bersama. Sungguh keluarga yang harmonis. Pak Satrio sebagai kepala keluarga sangat bertanggung jawab dan lembut, bisa menjadi apa saja untuk anak dan istrinya.
Sementara itu di kamarnya, Dita melanjutkan proses galau. Hatinya main tak karuan, ingin marah, tapi kenapa dan pada siapa. Cemas, curiga dan rindu kepada Gama berbaur jadi satu.
”Ah, biasanya tak seperti ini. Biasanya tidak disertai rasa curiga. Atau mungkin ini karena cintaku kepada Gama yang semakin besar?” gumamnya.
Dita mengambil handphone. Setelah menimang-nimang sebentar, ia pun segera menghubungi Gama namun hingga beberapa kali, Gama tak mengangkat teleponnya.
”Mungkin dia lagi di jalan dan hp nya di-silent.” Dita menghibur dirinya sendiri lalu mengirimkan sebuah SMS.
“Hati-hati sayang. Kalau sudah santai cepet hubungi aku ya...”
Sent!
Empat puluh delapan huruf itu pun segera melesat. Andai kita dapat melihat, pastilah di angkasa saat itu triliunan huruf melesat-lesat. Entah berupa cahaya atau hanya berupa garis-garis. Huruf-huruf tentang kerinduan, cinta bahkan kebencian saling mendahului untuk bisa sampai ke handphone yang dituju.
***
Dreed...
Handphone ku bergetar. Aku punya firasat bahwa itu SMS dari Dita. Namun karena saat itu aku masih bersama Lara, aku tak ingin membuat Lara curiga. Aku tak ingin meredupkan binar bahagia di kedua matanya.
Bertepatan dengan habisnya makan, Pak Achmadi sudah kembali dengan membawa buah-buahan. Dan karena sudah sore, aku pamitan.
“Kok cepet-cepet sih...” Lara terlihat kecewa.
“Besok kan aku bisa ke sini lagi, Ra. Sekarang aku mau cari bahan dulu untuk kerajinan.” Untung saja akupunya alasan yang tepat.
“Janji! Besok ke sini ya. Temenin aku lagi.” Lara sedikit cemberut.
“Iya, aku janji.”
“Mau Bapak antar, Nak Gama?” tanya Pak Achmadi.
“Kalau Bapak nganter saya, terus Lara sama siapa?” Aku tersenyum.
Pak Achmadi balas tersenyum. “Baiklah, kalau bisa besok ajak ibu dan adikmu kemari. Biar Lara semakin merasa hangat. Ia butuh kasih sayang seorang ibu.” Pak Achmadi berkata sambil menatap Lara.
Aku mengangguk.
“Insya Allah, Pak. Aku pulang dulu ya, Ra.” Kataku untuk terakhir kali. Lara mengangguk dan tersenyum. Namun, jemari lentiknya tetap melilit jemariku. Aku pun tersenyum. Aku bahagia dicintai wanita secantik Lara. tapi aku pun ingin bersama Dita untuk selama-lamanya.
***
Baru saja aku tiba di parkiran handphone ku bergetar kembali, kali ini lama. Aku segera merogoh.
“Dita...” Segera ku tekan tombol ok dan menempelkan di telinga.
“Kamu kemana aja Gama, tolong jangan buat aku cemas,” suara Dita di telepon bagaikan silet yang mengulitiku. Perih.
“Maafkan aku, Dita. Aku tak tahu kenapa semua jadi seperti ini,” kataku dalam hati.
“Halooo, Gamaaa...”
“Eh i i iya, Dit. Maaf kepalaku sedikit sakit mungkin karena kepanasan,” jawabku. Lagi-lagi alasan yang tepat aku dapat.
“Duhh...kamu ini, udah minum obat belum. Sekarang kamu dimana?” Dita terdengar cemas. Aku jemput yaa...” Sambungnya.
“Oh Tuhan, kenapa aku bisa menyakiti dua wanita baik dalam hidupku. Maafkan aku, Ditaa...” Desahku.
“Gama, kamu baik-baik saja kan Sayang?” Terdengar kembali suara Dita makin cemas.
“Aku masih di jalan, Dit. Nanti kalau sudah di rumah aku telepon lagi ya,” kataku.
“Hmmm...baiklah, kalau begitu nanti aku ke rumahmu saja. Aku BT di rumah.”
“Iya, aku tunggu ya...”
“Tunggu Gama!” seru Dita ketika aku akan menutup telepon.
“Apa?”
“Idiiih ...kata sayangnya manaaa...” Dita terdengar manja.
Aku tersenyum.
”Iya sayangg...aku tunggu di rumah nanti ya,” kataku.
“Ya udah. Daahhh emuuach!”
Deg! Jantungku berhenti berdetak ketika terdengar Dita menciumku. Meski dari jauh, namun kecupan itu langsung terasa di hati.
Sejenak, aku termangu di parkiran rumah sakit. Meresapi setiap kata sayang yang terucap dari bibir Dita. Sungguh indah, kata-kata seperti itulah yang aku tunggu selama hampir tiga tahun. Dan kini semua itu bukan hanya hayalan semata. Namun, hatiku seketika perih ketika teringat akan Lara, yang juga mencintaiku dan tak dapat aku pungkiri kalau aku juga mencintainya.
”Ah, bagaimana mungkin aku bisa mencintai dua wanita dalam waktu bersamaan. Dengan hati yang ini juga,”kataku dalam hati.
***
Benar saja. Baru lima menit aku sampai di rumah. Dita sudah datang dengan wajah putih merona dan senyum manisnya.
“Kamu baik-baik saja’kan Yaaang...aku cemas lo...” Katanya begitu duduk di kursi rotan teras rumah.
Aku senyum. Setiap kata dan perhatian Dita benar-benar membuatku teduh.
”Udah minum obat tadi?” tanya Dita.
Dita mengeluarkan bungkusan plastik dari dalam saku jaketnya.
”Ini, aku tadi mampir ke apotek. Buat jaga-jaga saja. Syukur kalau kamu selalu sehat.” Katanya dan tersenyum.
“Makasih ye, Dit, lu emang bener-bener baik.”
“Aku nggak baik kok! Aku sayang kamu Gama,” katanya lirih seolah takut terdengar angin.
“Apa? Yang keras dong kalau ngomong!” Aku pura-pura tak mendengar.
“Idiih...kamu nakal ah.” Wajah Dita merona.
”Jadi pengen maluuu...” Lanjutnya.
Aku tertawa kecil.”Udah makan, Dit? Makan yuk! Nyak bikin sayur lodeh lo...”
“Iye, Non Dita. Makan dulu gih...temenin Si Gama. Mungkin kalau makan bareng Non Si Gama makan banyak.” Tiba-tiba ibu menyahut dari dalam.
“Nah tuh, Nyak juga nyuruh. Yuk!” Aku meraih tangan Dita lalu menggandengnya masuk rumah.
Dita hanya senyum.
“Suapiinn...” Katanya manja ketika duduk di meja makan.
“Idiihh...manja banget sih!”
“Kagak apa-apa Gama. Suapin aja. Nyuapin doang kan kagak capek.” Ibu menyahut lagi sambil meletakan sepiring ikan asin di meja makan.
“Iya deehh...”
Dita terlihat senang. Namun hatiku tiba-tiba resah. Aku teringat pada Lara yang tadi pun minta disuapin. Selama menyuapi Dita, aku merasa sedang meyuapi dua gadis yang kini sangat aku cintai dan tak ingin kutinggalkan. Aku ingin memiliki keduanya.
“Tapi apa mungkin?” Ah...aku menghela napas dalam.
Hari berangsur senja. Dita pamitan. Aku mengantarnya dengan tatapan hingga motor matic yang di tungganginya menghilang di tikungan. Aku menghela napas, lalu kembali masuk.
Di dalam ibu sedang duduk di ruang tengah.
”Sini Gama, Nyak mau ngomong sama elu.” Dengan tatapan mendikte.
Aku duduk, ”Ada apa Nyak?”
“Nyak lihat akhir-akhir ini elu sama non Dita makin mesra aja. Pacaran?” Entah kenapa ibu bertanya seperti itu.
Aku mengangguk.
“Begitulah, Nyak.” Aku tak bisa berbohong.
“Syukurlah Nyak seneng dengernye,” katanya.
”Tapi Nyak kok nggak pernah lihat non Lara lagi, ye. Apa kalian musuhan lagi?”
Aku menatap ibu, lalu mengempaskan napas pelan. ”Lara ternyata kecelakaan Nyak. Tadi pulang sekolah Gama nengokin dia.”
“Innalillahi...gimana kondisinye?”
“Kecelakaannya tidak parah Nyak, yang parah itu kanker otaknya.”
“Apa? Non Lara sakit kanker otak!”
Aku menggangguk haru.
Nyak Mardiah terdiam sejenak.”Elu kagak pacaran’kan sama Non Lara?”
Deg! Lagi-lagi jangtungku berhenti berdetak sejenak. Seper-tinya ibu dapat merasakan apa yang tengah aku rasakan kini.
“Lu kagak boleh nyakitin wanita, Gama. Nyak nggak suka,” kata ibu melihat aku terdiam.
”Elu kudu cepet-cepet nentuin sikap. Kalau kagak, lu bisa dibenci ama keduanya. Dan dua-duanya bisa sakit hati sama elu,” lanjutnya.
“Lantas Gama musti gimana Nyak?”
“Elu yang mulai masalah ni. Elu juga yang musti me-nyelesaikannya,” Katanya tegas. Dan beranjak masuk kamar.
Aku pun masuk kamar. Awalnya berniat untuk membuat miniator Vespa sesuai pesanan. Namun hingga hampir satu jam lamanya, tulang-tulang ayam yang sudah siap pakai itu hanya aku tatap saja.
***

Other Stories
Takdir Cinta

Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Cinta Harus Bahagia

Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Download Titik & Koma