Mendua

Reads
3.4K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Chapter 17

Hari kedua ujian masih sama. Dita belum mau bicara denganku. bahkan bukan cuma sama aku, melainkan Slamet dan Apud pun ikut menjadi korban kemarahan Dita. Hatiku semakin tak karuan belum lagi Lara yang selalu menghubungiku untuk menemuinya. Aku gagal fokus. Tak sempat lagi memikirkan ujian. Dan aku tak akan membiarkan ini berlangsung lebih lama lagi atau hari-hariku akan menjadi semakin kacau.
Setelah bel berbunyi aku berlari mendahului semua orang menuju parkiran. Lalu berdiri dekat mobil yang dibawa Dita. Sudah dua hari ini Dita memang menggunakan mobil. Itu pun dia tidak menyetir sendiri. Dengan langkah gontai, Dita menghampiri, aku menatapnya tanpa kedip. Wajahnya terlihat layu dan tak ada kecerian. Setelah dekat aku langsung memegang tangannya.
“Katakan ada apa sebenarnya, Dita? Aku tak mengerti dengan diammu. Dan kenapa keningmu.”
Dita berusaha melepaskan genggaman tanganku seraya meringis.
”Sakit Gama!” serunya.
Aku terpaksa melepaskan tanganya.
“Katakan, Dita?” ucapku penuh harap.
Dita menatapku.
”Kenapa tidak kau tanyakan saja pada dirimu sendiri kesalahan apa yang telah kau buat?” tukasnya kemudian masuk mobil. Detik berikutnya, Avanza putih itu pun membawa Dita pergi dariku.
Aku menarik napas dalam.
“Ada apa sebenarnya antara Akhi Gama dan Ukhty Dita? Bukankah dalam Islam itu kita dilarang bertengkar. Apalagi memutuskan tali silaturahim.” Tiba-Tiba Slamet sudah ada di belakangku. Di sampingnya Apud nyengir kuda. Dan aku garuk-garuk jok Vespa.
Dreedd...hp ku bergetar. Aku segera membukanya. Sebuah SMS dari Lara.
“Gama ...aku kangenn...”
“Aku juga, sayang. Aku ke sana ya...”
Sent.
Namun setelah terkirim aku terdiam. Aku tak mengerti, ada apa denganku? di sisi lain, aku sangat takut kehilangan Dita, namun aku selalu tak berkutik di hadapan cintanya Lara. Ah, Cinta...
“Siapa, Men?” tanya Apud.
“Orang yang pesen miniatur.” Singkatku.
”Aku duluan ya...” Lanjutku. Dan tanpa menunggu jawaban dari Slamet juga Apud, aku segera melajukan Vespa menuju rumah sakit tempat Lara menanti perhatian dan cintaku.
***
Sementara itu, Dita yang baru saja sampai, langsung menemui ibunya. Meski bu Satrio masih heran dengan perubahan sikap Dita akhir-akhir ini yang lebih banyak diam, namun bu Satrio tak berani bertanya. Ia mengira Dita hanya sedang galau. Dan pasti itu disebabkan oleh Gama karena semenjak malam dimana Dita kecelakaan itu, bu Satrio tak pernah mendengar Dita bicara tentang Gama. bahkan meski hanya lewat telepon.
“Ma, Dita mau bicara,” katanya pelan.
Bu Satrio yang sedang mencuci sayur untuk di masak segera menoleh dan tersenyum. Lalu mengelus pipi putri kesayangannya.
“Dikamar yuk...” sambil menggandeng Dita naik ke lantai dua dan masuk kamar Dita.
Sejenak tak ada suara. Mereka duduk di tepian tempat tidur. Dita merebahkan kepalanya di bahu sang ibu. Di luar terdengar suara mobil berhenti.
”Papamu sudah pulang tuh,” kata bu Satrio.
Tak lama, pintu dari pintu kamar yang memang tak tertutup rapat pak Satrio muncul dan langsung tersenyum.
”Idih...Mama sama anak mesra banget, ikutan doongg...” Katanya seraya duduk di samping Dita. Kini Dita diapit oleh papa mamanya yang begitu menyayanginya.
“Ma...Pa...apakah tawaran ke Australia masih berlaku?” tanya Dita tiba-tiba.
Pak Satrio dan istrinya saling menatap.”Kapan pun kamu mau, Dit. Papa akan segera siapkan keberangkatanmu,” katanya.
”Tapi, kok mendadak. Apa apa sebenarnya Sayang?” lanjutnya.
Dita tak lantas menjawab, ia terdiam untuk beberapa saat. Menimbang-nimbang apa dia harus menceritakan semua kepada orangtuanya atau tidak.
”Nggak ada apa-apa, Pa. Dita hanya berpikir, pergi keluar negeri lebih baik buat Dita. mungkin di sana, Dita bisa lebih hidup mandiri.”
Lagi-lagi pak Satrio dan bu Satrio saling menatap.”
Kapan kamu ingin pergi?” tanya bu Satrio tak ingin membahas lebih jauh kenapa pendirian Dita tiba-tiba berubah.
“Setelah beres ujian, Ma. Hari itu juga Dita ingin segera terbang. Kebetulan Dita semalam sudah googling. Dan menemukan universitas yang cocok dengan keinginan Dita. sambil daftar, Dita ingin tinggal dulu di rumah tante Diani,” katanya mantap.
“Baiklah. Papa sama Mama selalu mendukungmu. Apapun yang kamu anggap baik, maka jangan segan-segan bicara sama Papa dan Mama.” Pak Satrio mengusap rambut putrinya.
“Makasih, Pa.”
Pak Satrio dan bu Satrio tersenyum,”Sekarang kita makan siang dulu. Setelah itu kamu minum obat dan tidur ya, biar lukamu cepet sembuh.”
Dita mengangguk.
***
Aku baru pulang dari rumah sakit ketika malam baru saja tiba. Nyak dan Dina sedang ngobrol di bale-bale. Namun aku sedang tak ingin bicara. Setelah basa-basi sebentar aku pun segera masuk kamar. Berpikir keras tentang jalan keluar terbaik akan apa yang sedang aku alami sekarang ini. Namun hingga kerutan di keningku berjumlah tujuh, keputusan dalam hatiku tak berubah. Aku ingin memiliki keduanya. Aku mencintai Dita dan Lara secara sempurna.
Esoknya aku bangun pagi sekali. Aku berniat menjemput Dita di rumahnya. Bahkan aku tak sempat sarapan. Namun begitu tiba di rumah Dita, aku kembali kecewa. Dita lebih memilih diantar oleh sopir pribadinya. Pak Satrio hanya menepuk bahuku seraya tersenyum.
“Santai saja, Gama mungkin Dita sedang tak enak hati,” katanya.
“Apa kalian lagi ada masalah?” tanya bu Satrio.
“Sepertinya iya, Pak, Bu,” jawabku.”Kalau begitu, Gama juga berangkat deh. Semoga di sekolah nanti, Dita mau bicara sama Gama.”
“Iya, silakan,” jawab pak Satrio.
***
Di sekolah, Dita tak ada di kelas. Aku berusaha mencarinya namun tetap tak mene-mukannya. Rupanya Dita benar-benar menghindariku. Baru setelah bel pertanda ujian dimulai, Dita masuk kelas itu pun paling belakang hingga aku tak ada kesempatan untuk bicara dengannya.
Hatiku semakin kacau. Tak sempat lagi memikirkan ujian. Yang ada dalam otakku hanya bagaimana cara menyelesaikan masalah Dita dan Lara agar tak ada yang tersakiti dan dua-duanya tetap aku miliki. Ujian tak penting bagiku. Karena lulus atau tidak, aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Namun aku tak putus asa. Aku terus berusaha agar dapat bicara dengan Dita. Pada hari ke 3 ujian aku berhasil mencegat Dita. Kebetulan hari itu sopir pribadinya telat menjemputnya. Aku menghampirinya. Di bawah pohon kersen yang tumbuh di halaman parkir, Dita berdiri memeluk tas gendongnya. Dan seperti biasa, tali tas itu dia gigit.
“Izinkan aku bicara, Dita,”sapaku.
Dita menoleh sebentar kemudian kembali memandang ke jalan darimana biasanya mobilnya datang.
“Ada apa sebenarnya, Dita. Apa salahku hingga kamu mendiamkan aku begini. Jika aku bersalah karena ketika itu aku menemui Lara tanpa sepengetahuanmu, aku mohon maaf. Namun percayalah, aku dan Lara tak ada hubungan apa-apa. Aku menemuinya karena permintaan Pak Achmadi ayahnya. Sekaligus beliau ada pesenan miniatur Harley,” jelasku.
Dita melirik tersenyum sinis.”Aku tak menyangka kalau kamu pintar bersilat lidah, Gama!” ketusnya.
”Kamu kira aku tak tahu apa yang kamu katakan dan kamu lakukan sama Si Lara itu? aku tahu, Gamaa...tahu...apa yang kamu katakan bahkan aku melihat dengan kepalaku sendiri ketika kamu mencium kening Si Lara dan kamu akan menjaganya sampai pagi,” lanjutnya.
Tentu saja aku sangat kaget. Wajahku seketika merah menahan malu dan rasa bersalah.
“Aku tidak tahu apa salahku sehingga kamu bisa melakukan itu semua padaku.” Kini suara Dita disertai isak.
Aku panik, sedih, bingung sekaligus malu. Tak tahu lagi apa yang harus aku katakan.
“Ayo, berikan aku alasan yang bisa membuat hatiku bahagia kembali, Gama. Kenapa kau begitu tega padaku. Katakan Gama...katakaann...jangan biarkan aku menangis.” Dita berkata kembali. Dan aku tetap terdiam.
Percuma, semua sudah terbongkar. Tak mungkin aku melakukan kebohongan lagi. Mataku pun berkaca-kaca. Namun sekuat tenaga aku tahan.
Sebuah Avanza mendekat Dita segera berlari. Tanpa menoleh aku lagi, dia pun masuk mobil dan segera menyuruh sopir pribadinya untuk segera pergi meninggalkan aku bersama segala penyesalan. Bahkan tak memberi kesempatan aku untuk mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya. Sebesar rasanya cintaku kepada Lara...ah...
Aku belum bisa bernapas normal ketika handphoneku bergetar. Aku segera merogohnya. Ternyata panggilan dari Pak Achmadi. Segera kutekan tombol ok dan menempelkan di telinga.
“Gama, cepat kamu kemari. Lara tiba-tiba pingsan. Cepat Gama, semoga dengan adanya kamu, Lara dapat cepat pulih. Om sangat cemas.” Pak Achmadi berkata tanpa jeda.
“I iya, Pak. Saya segera ke sana,” jawabku.
“Cepat ya!”
Tiba-tiba hubungan terputus sebelum aku sempat berkata kembali. Tanpa banyak pikir lagi, segera ku hidupkan Vespa. Dan langsung meluncur menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit aku melihat Pak Achmadi mondar-mandir di ruang ICU.
“Bagaimana kondisi Lara, Pak?” tanyaku.
“Bapak juga belum tahu, Gama. Tim Dokter sedang menanganinya.”
“Bukankah kemarin kondisinya sudah mulai membaik, kenapa tiba-tiba tak sadar?” Aku terus menghajar pak Achmadi dengan pertanyaan.
Pak Achmadi menatapku.” Itulah Lara, Gama.Tak dapat di prediksi kapan penyakitnya kambuh. Itulah kenapa Bapak super ekstra memerhatikannya.”
Pelan pak Achmadi berkata dalam setiap huruf yang keluar dari bibirnya, ada nada kecemasan yang sangat.
Hening menjeda. Aku dan pak Achmadi duduk di bangku depan ruang ICU. Pikiranku semakin kacau. Dalam hati, aku panjatkan doa agar Lara baik-baik saja. Dan, semoga Dita “Ah, doa apa yang harus aku panjatkan untuk Dita tak mungkin aku berdoa agar Dita segera menemukan orang yang sangat mencin-tai dan menyayanginya karena aku yakin, orang itu hanya aku.”
Setelah menunggu hampir dua jam lamanya, seorang pria berpakaian putih-putih keluar dari ruang ICU. Pak Achmadi segera berdiri menyambutnya. Dokter itu mengelap keringat yang mengembun di keningnya. Lalu tersenyum. Senyumnya sudah dapat dipastikan pertanda semua baik-baik saja. Tapi tentu saja pak Achmadi belum puas sebelum mendengar langsung.
“Lara dalam kondisi stabil, Pak Achmadi,”katanya pasti.
“Alhamdulillah...terima kasih, Dokter. Boleh saya mene-muinya?” Pak Achmadi terlihat senang.
“Silakan,” sahut si Dokter.” Tapi saya sarankan untuk tidak membuat Lara berpikir keras. Buatlah dia bahagia,” lanjutnya.
“Tentu saja, Dokter. Saya pasti melakukan apapun demi kebahagian Lara,” kata Pak Achmadi sungguh-sungguh.
Sang Dokter tersenyum. Lalu menatap Gama.”Sepertinya kamu yang namanya, Gama.”
Aku mengangguk.”Iya, Dok. Kenapa?”
Dokter kembali tersenyum.”Tadi saat pertama kali Lara bangun, dia menyebut nama Gama.”
“Benarkah, Dok?”aku senang bercampur sedih.
Dokter mengangguk, ”Ayo, temui dia.”
Katanya lebih lanjut,”Cinta memiliki energi kuat. Berikan dia cinta, agar semakin bahagia hatinya. Buatlah dia tenang dengan tatapanmu.”
Aku segera mengikuti Pak Achmadi masuk ruangan. Begitu masuk, Lara segera membuka mata dan tersenyum manis pada-ku. Bahan Pak Achmadi dibuat cemburu.
“Duuh...kok Gama yang pertama dikasih senyum sih? Papa nggak...” Kata Pak Achmadi. Aku pun tersenyum.
“Iya deehh...nih senyum buat Papaku tercinta.” Lara tersenyum pada ayahnya.
“Idih sama Papa kok gitu senyumnya, beda sama Gama.” Pak Achmadi tersenyum geli melihat bibir putrinya yang dibuat dower.
Kami berdua duduk di tepian tempat tidur. Menatap wajah pucat Lara. Kanker otak perlahan mulai melindapkan aura di wajah Lara. Sungguh tidak akan ada yang menyangka jika gadis ceria, centil dan sedikit galak ini menderita kanker otak.
“Pa, Lara pengen pulang aja. Semakin lama Lara di sini, malah rasanya semakin tertekan. Lara ingin menjalani hari-hari seperti biasanya.” Ujar Lara dengan suara sedikit seraknya.
Aku dan Pak Achmadi saling melirik.
“Tapi kamu sakit, Ra. Papa takut terjadi apa-apa sama kamu. Kalau di sini kan kamu terjaga dengan baik.” Pak Achmadi membelai rambut putrinya.
”Lagian Gama akan selalu menemanimu setiap dia ada waktu. Iya’kan, Gama?” Pak Achmadi menatapku.
Aku mengangguk dan tersenyum.”Iya, Ra. Nanti saja kalau kondisimu sudah pulih. baru pulang.”
“Tapi kapan Gama. Aku sudah sangat bosan. Tidur, makan, tidur. Untuk apa aku hidup jika tak bisa melakukan apa pun. Aku ingin seperti yang lain.” Lara tetap dengan keinginannya.
Pak Achmadi kembali bertanya padaku dengan tatapannya. Aku menjawab dengan mengangkat bahu. Suasana kembali hening. Lara memejamkan matanya. Aku dan Pak Achmadi hanya mampu menatap dengan cinta dan kasih sayang.
Sementara dalam hati, aku terus bicara. Rasanya tak adil Tuhan memperlakukan dua wanita yang sangat aku cintai ini. Lara dan Dita sama-sama baik. Sama-sama tak punya salah. Akulah yang salah kenapa tidak aku saja yang mengalami sakit ini. Dan kenapa tidak aku saja yang mengalami luka hati yang dirasakan Dita.
Tapi tentu saja Tuhan selalu mempunyai cara sendiri kepada hambanya. Kebaha-gian adalah bentuk kasih sayang. Sedang rasa sakit adalah bentuk perhatian Tuhan hanya saja terkadang kita sebagai penerima takdir terlalu terbatas untuk menggapai maksud Tuhan dalam setiap kejadian yang terjadi dalam hidup.
 ***

Other Stories
Free Mind

KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Dari 0 Hingga 0

Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...

Testing

testing ...

Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Download Titik & Koma