Mendua

Reads
3.5K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Chapter 18

Ujian berakhir. Wajah-wajah siswa-siswi SMA 22 menampakan kelegaan. Meski terlihat masih ada sedikit kecemasan menanti hasil ujian. Aku, Apud dan Slamet duduk-duduk di warung bang Jali. Seperti biasa, Apud mentraktirku. Namun, aku sedang tak selera minum apalagi makan.
Apud dan Slamet tak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku, Dita dan Lara. mereka mengira kalau aku dan Dita hanya marahan biasa saja. Makanya mereka sedikit tak peduli. Apalagi mereka selalu sibuk dengan cita-citanya.
“Udah...jangan terlalu dipikirin, Men. Tahu sendiri’kan Si Dita kalau lagi ngambek. Nggak pernah mau ngomong sama siapa pun.”Apud berkata sambil menikmati pisang goreng dan segelas kopi. Pun Slamet dia hanya mengangguk tanda setuju dengan apa yang Apud katakan. Aku menarik napas dalam, belum sempat aku berkata, di jalan berhenti Avanza putih.
“Aku bilang juga apa, noh nyamperin!” seru Apud.
Dita keluar dari Avanza. Keningnya sudah tak di perbanlagi. Sampai kini, aku belum tahu bagaimana kening Dita bisa terluka. Dia kini berdiri di depan kami bertiga. Matanya yang sayu menatap sendu ke arahku.
“Gama...”Pelan.
“Ya, Dit...aku...”
“Besok aku pergi ke Australia.”Katanya sungguh-sungguh.
“Apaa!” Aku terkejut.
“Aku harap, kamu mau mengantarku untuk yang terakhir kali. Pesawatku berangkat jam 10 malam. Aku harap kamu besok ada waktu buatku. Aku tunggu di rumah,”jelasnya.
”Aku pulang dulu,” lanjutnya tanpa menunggu jawaban ya atau tidak dariku. Sementara aku hanya bengong. Jantungku berdegup kencang.
“Kenapa sangat tiba-tiba, Dita. Apakah aku sangat menya-kitimu hingga kau pergi sejauh-jauhnya dariku. Maafkan aku...aku mohon, jangan pergi terlalu jauh seberapa pun kau membenciku. Setidaknya aku masih bisa menatap wajahmu diam-diam.”
Slamet dan Apud pun ikut terdiam, bukan oleh karena men-dengar Dita akan pergi. Tapi karena melihat mataku berkaca-kaca. Tanpa aku duga, Slamet memberiku sapu tangan berwarna pink. Dan itu membuat Apud hilang fokus. Ia langsung tertawa.
“Ciee...Ustad sapu tangannya,pink.” Apud meledek.
“Apa salahnya, toh cuma warna. Ndak ada pengaruhnya dalam hidup.” Slamet menanggapinya serius.
“Ya Si Ustad, gitu aja di anggap serius.” Apud kesal. ”Nggak boleh gitu lo, Metsama teman. Dosa tahu,” lanjutnya.
“Astagfirullah...” Slamet beristigfar.
“Nggak sekalian Azan, Met!” Apud nyengir.
Biasnya obrolan kedua sahabatku itu selalu mampu buatku paling tidak tersenyum. Namun kali ini hatiku terlalu kacau. Andai ada badut mandi junub di depanku, mungkin aku tak akan tersenyum.
Tanpa berkata aku segera melangkah menuju Vespa yang terparkir di trotoar. Apud dan Slamet hanya menatapku tanpa berani mencegah. Setelah Vespa hidup, aku pun segera pulang untuk sekedar menenangkan diri di kamar.
***
Senja yang basah. Langit kota Jakarta sangat tak bersahabat. Kapan saja hujan bisa turun tanpa diduga. Dan aku tengah bimbang. Jam sudah menunjukan pukul empat sore. Baru saja Lara mengirimkan SMS. Ia meminta aku segera datang, katanya kepalanya terasa sangat sakit. Hanya satu kali Lara SMS. Selanjutkan pak Achmadi pun menelepon. Memberitahu bahwa kondisi Lara semakin melemah. Namun aku juga ingin menemui Dita paling tidak ini adalah hari terakhir aku bisa bertemu dengannya.
“Lara kan masih bisa ditemui nanti malam, paling tidak besok. Sedangkan Dita? Ah...” Aku memutuskan untuk memenuhi permintaan Dita.
Setelah pamitan sama Ibu, aku segera memacu Vespa ke rumah Dita. Sialnya, jalanan sore itu macet hingga untuk sampai ke rumah Dita butuh waktu satu jam setengah. Dan benar saja, begitu sampai di rumah Dita, pak Satrio dan bu Satrio sedang memasukan koper besar ke dalam mobil. Mereka tersenyum begitu melihatku.
“Masuk saja, Gama. Dita sedang siap-siap di kamar,” kata Pak Satrio tanpa aku harus bertanya.
“Makasih, Pak.” Aku segera masuk. Sebenarnya agak cang-gung juga. Namun keadaan memaksaku untuk segera bertemu dengan Dita. aku ingin memastikan apa kepergian Dita karena sakit hati olehku? Dan sudah pasti iya. Aku ingin memohon maaf padanya. Berharap suatu hari nanti akan bertemu kembali.
Aku ketuk pintu kamar Dita.
“Masuk saja...tidak di kunci.” Dita sepertinya belum tahu kalau aku yang datang.
Pelan aku membuka pintu. Dita sudah rapih dengan celana jins dan sweater ungu muda kesayangannya. Begit melihat aku yang masuk, Dita sedikit terkejut.
“Maaf aku tidak sopan, Dit...tapi aku sudah dapat izin dari papamu.” Aku berkata sambil tetap berdiri di depan pintu.
“Nggak apa-apa,” jawab Dita.
”Lagian aku sudah siap,” lanjutnya.
Aku mencoba tersenyum.
“Kamu tidak ada janji sama Si Lara kan?” Dita bertanya sambil duduk di tepian tempat tidur tanpa menoleh. Lalu mengeluarkan sepatu dari bawah tempat tidur.
Aku tak menjawab pertanyaan Dita itu. Aku tak ingin membahas Lara denganya. Karena itu akan semakin menyakiti hati Dita.
”Maafkan aku, Dit. Aku juga tak tahu kenapa semua jadi seperti ini.” Aku mendekati dan duduk di sampingnya.”Namun yang pasti, aku sangat mencintaimu.”
Dita tersenyum menatapku. ”Tak kan ada dua cinta dalam satu hati Gama. Seperti tidak akan adanya dua jiwa dalam satu raga. Andai pun ada jiwa lain dalam satu raga, maka yakinlah bahwa salah satunya adalah setan. Dan kamu pasti tahu, jika ada dua cinta dalam satu hati, maka salah satunya adalah nafsu,” jelas Dita.
”Dan aku sangat takut jika salah satu itu adalah aku. Karena kamu tak mampu menentukannya,” lanjutnya.
“Tapi, Dita...aku sangat yakin bahwa mencintaimu bukanlah sebuah nafsu. Karena kau pun tahu bahwa aku sudah mencintai-mu sejak lama.”
Dita kembali tersenyum.
“Aku mohon, Dit. Kamu boleh membenciku, tapi jangan pergi. Setidaknya aku masih bisa mencintaimu diam-diam seperti dulu.”
“Dan hatiku akan selalu hancur ketika melihatmu bersama Lara Begitu?” tukas Dita.
”Tidak Gama. Kau pun tahu aku sangat mencintaimu. Namun ketika aku menengar dan melihatmu mengecup kening Lara aku sadar bahwa kau lebih nyaman dengan Lara. Aku mengalah, aku ikhlas meski aku musnah.” Mata Dita berkaca-kaca.
“Lagian semua sudah telat. Pesawatku akan terbang bebe-rapa jam lagi. Aku harap aku mampu memberiku kesempatan untuk terakhir kalinya bersamamu. Antar aku ya dan jangan dulu pergi sebelum pesawat yang membawaku tak terlihat lagi,” kata Dita kemudian.
“Baiklah, Dit jika ini sudah menjadi keputusanmu. Namun aku harap selama di sana kamu tetap mengabariku.”
“Iya, kalau kamu belum menikah dengan Lara.” Dita mencoba bercanda.
Aku tersenyum.
“Ayo, Dita nanti telat lo...” Tiba-tiba bu Satrio sudah ada di depan pintu.
“Iya Ma...”Sahut Dita.
”Ayo Gama...Vespamu taruh di sini aja. Kita pakai mobil ke bandara.” Dita menatapku. Meski aku masih melihat cinta di matanya, namun aku mendengar nada perih pada setiap huruf yang diucapkannya.
Sepanjang perjalanan, Tak ada yang bersuara. Aku dan Dita duduk di belakang. Sementara pak Satrio dan bu Satrio duduk di depan. Sepertinya mereka pun ikut merasakan betapa sakitnya perpisahan aku dan Dita. Sebuah perpisahan tanpa diduga. Penyesalanku semakin besar. Ingin sekali aku memeluk Dita, memohaon padanya agar membatalkan kepergiannya. Namun itu tak mampu aku lakukan. Aku hanya mampu menggenggam tangannya erat. Dan Dita pun membalas genggamanku sama eratnya.
Meski tak ada kata yang terucap dari bibir aku dan Dita, namun eratnya jemari yang bertaut, cukuplah mengungkapkan bahwa sebenarnya aku dan Dita belum puas bersama. Hati kecilku yang paling dalam, sama sekali tidak menginginkan perpisahan ini. Tapi apa boleh buat, mungkin inilah cara Tuhan membantuku untuk memilih. Mungkin Tuhan ingin aku memilih untuk bersama Lara memberinya semangat untuk bertahan hidup dalam gerogotan virus kanker. Saking dalamnya aku tenggelam dalam nuansa perpisahan ini, aku tak tahu kalau sedari tadi handphone ku bergetar pertanda ada SMS dan panggilan masuk.
Sampai di bandara langit sudah gelap. Seperti gelapnya hatiku diliputi kesedihan akan perpisahan. Aku sedikitpun tak menyangka kalau aku dan Dita akan berakhir seperti ini. Lama aku menanti cintanya, namu setelah aku memiliki cintanya aku malah menyakitinya.
“Maafkan aku, Dit jaga diri baik-baik di sana. ”Aku tak kuasa lagi menahan lelehan air mata. Dita mengusapnya dengan jemari.
“Kamu juga ya jaga diri baik-baik. Jangan pernah lagi menyia-nyiakan orang yang menyayangimu.”Dita mencoba tersenyum.
Aku peluk Dita erat. Inilah kedua kali aku memeluknya. Pertama, saat pertama kali kami mengatakan cinta dan yang kedua saat ini. Saat perpisahan berusaha keras membunuh cinta di dada kami. Bahkan pak Satrio dan bu Satrio pun hanya terdiam, mereka sangat pengertian.
“Aku harus pergi Gama,” lirihnya ditelingaku.
Aku tak ingin melepas pelukan ini, namun harus. Jika tidak, Dita akan terlambat. Suara dari pengeras suara bandara sudah memanggil calon penumpang yang hendak berangkat ke Australia.
Dengan sangat enggan aku melepaskan pelukan. “Aku sayang kamu, Dita.” Untuk yang terakhir kalinya sebelum Dita mulai melangkahkan kakinya memasuki pintu terminal keberangkatan. Dita terus melangkah. Tanpa menoleh lagi ke belakang. Aku tak tahu seperti apa air mata meleleh di pipinya.
“Kita pulang Gama.” Suara pak Satrio memecah heningku.
“Tunggu, Pak. Dita meminta saya agar jangan dulu pergi sebelum peswatnya lepas landas,” jawabku.
Pak Satrio dan bu Satrio tersenyum. “Kalau begitu, Ibu sama Bapak tunggu di mobil ya...” katanya.
Aku mengganguk.
***
“Kalau boleh Bapak tahu, apa sebenarnya yang terjadi di antara kalian?” tanya Pak Satrio sambil terus menyetir.
Aku tak menjawab. Tak mungkin akumengatakan yang sebenarnya terjadi. Aku terlalu pengecut untuk mengakui kesalahan kepada orangtua Dita.
“Baiklah, terkadang kita harus mempunyai rahasia dalam hidup yang hanya kita dan Tuhan yang mengetahuinya.” Pak Satrio menginjak gas sedikit dalam karena jalanan mulai lengang. Dan aku masih belum bisa berpikir untuk menjawab kata-kata pak Satrio. Ingatanku seolah terbang mengikuti pesawat yang Dita tumpangi.
Sampai di rumah Dita, aku segera pamitan. Jam sudah menujukan pukul sembilan malam. Badanku terasa sangat lelah. Mungkin efek dari hati dan pikiranku yang kacau. Aku ingin merebahkan badanku yang terasa sangat lelah. Aku ingin tidur, dan bangun berharap semua ini hanya mimpi. Aku ingin kehidupanku kembali seperti dulu, saat aku belum bertemu dengan Lara. Tapi ini semua sudah terjadi, dan aku harus menjalaninya.
Tiba di rumah, aku segera masuk kamar bahkan aku tak peduli ketika ibu memanggilku. Bahkan aku menyuruh Dina keluar yang sedang membuat kerajinan di kamarku. Pokonya aku ingin sendiri. Berharap insomnia agar rasa hatiku kembali normal.
Ku rebahkan tubuh di atas ranjang. Sambil berbaring, aku membuka kaosku. Tubuhku terasa sangat gerah. Namun, ketika aku menelengkupkan tubuh, handphone yang aku ada di saku depan celanaku cukup mengganggu. Aku pun mengeluarkannya. Tanpa sengaja, aku menekan salah satu keypadnya. Hp menyala. Aku melihat simbol amplop di sudut atas kanan. Aku penasaran, segera aku buka SMS itu. Ku baca satu persatu. Ternyata Lara yang SMS.
Jam 16.15
“Gamaaa. Tolong. Kepalaku sakit sekalii ...”
Jam 16.30
Gama, kamu dimana sih Sayang. Aku membutuhkanmu. Di sini tidak ada siapa-siapa. Papa sedang pergi.
Jam 17.30 Dari Pak Achmadi.
“Gama, cepatlah kemari. Lara sangat membutuhkanmu.”
Hatiku semakin kacau. Tak ada SMS lagi. Lalu beberapa panggilan tak terjawab dari Pak Achmadi.
Rupanya tadi saat ku sedang bersama Dita, Lara dan Pak Achmadi mencoba menghubungiku. Perlahan aku bangkit. Hatiku gelisah. Teringat pada Lara.
”Tidak! Aku tak boleh kehilangan keduanya. Dita telah pergi. Dan inilah kesempatanku untuk belajar melupakan Dita dan mencintai Lara utuh.
Tubuhku memang sangat lelah. Namun, kecemasan pada Lara tak dapat dikalahkan apapun. Aku pun keluar dari kamar dan segera menghidupkan Vespa.
“Gama mau ke rumah sakit Nyak,” jawabku ketika ibu bertanya. Tanpa menunggu jawaban. Bergegas aku pergi ke rumah sakit. Hatiku kini sedikit lega. Tuhan sepertinya telah memilihkan Lara untukku.
Sampai di rumah sakit, aku segera menuju ruangan ICU tempat dimana Lara dirawat. Namun, alangkah kagetnya aku ketika ruangan itu kosong. Hatiku makin tak karuan. Seorang perawat menghampiriku.
“Mau jenguk siapa, Dik?” sapanya.
“A anu, Sus. Pasien yang kemarin dirawat di ruangan ini di pindah kemana ya?”Aku bertanya dengan nada cemas.
“Lo, Memangnya nggak ada yang ngasih kabar ya. Pasien itu kan sudah meninggal sekitar jam 6 sore.” Perawat itu menjawab dingin seolah kematian adalah hal biasa untuknya.
Seketika itu juga badanku terasa lemas. Bumi rasanya berputar. Namun aku berusaha untuk kuat. Aku berpegangan pada dinding agar tidak terjatuh.
“Kamu tidak apa-apakan, Dik?” tanya perawat itu, kini sedikit panik. Detik berikutnya aku pun tak sadar diri.
***
Pagi yang dingin. Aku bersimpuh di depan gundukan tanah basah. Menangis sejadi-jadinya. Mengutuk diriku sendiri karena telah menyakiti dua wanita sekaligus. Namun, semakin aku keluarkan air mata, aku semakin tenggelam dalam duka.
“Ra, tenanglah di sana. Maafkan aku. Semua ini karena salahku tak mampu berbuat yang terbaik buatmu.” Aku menggumam. Di langit, sebuah pesawat melintas. Aku mena-tapnya. Air matapun semakin berlinang.
***

Other Stories
Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

Cinta Dua Rasa

Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Lam Biru

Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...

Takdir Cinta

Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...

Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Download Titik & Koma