Chapter 11
Seperti yang telah disepakati, sepulang sekolah aku dan Apud ke rumah Dita. Slamet tidak ikut dengan alasan dia ada pengajian. Tentu saja aku tak dapat memaksanya. Justru aku sangat senang mendengarnya. Dan entah kenapa aku yakin bahwa suatu hari nanti Slamet akan menjadi salah satu tokoh agama yang dipercaya umat karena kejujuran dan kerendahan hatiannya.
Namun sebelum menengok Dita, aku dan Apud mampir ke mall terlebih dulu untuk melihat bagaimana penjualan miniatur Harley hasil karyaku. Dan kebahagiaanku pun bertambah ketika mengetahui bahwa miniatur Harley Davisonku bayak diminati oleh pengunjung toko. Dalam waktu tiga hari sudah terjual 10 buah. Belum lagi ada 50 orang yang pesen untuk segera dibuatkan.
Namun, kebahagiaanku seketika hilang ketika melihat kon-disi Dita belum juga membaik. Meskipun senyum kebahagiaan mekar dari sepasang bibirnya yang pucat begitu mendengar kemajuan usahaku dan Apud.
“Aku sangat bangga menjadi bagian dari kalian dan menjadi saksi keberhasilan kalian,” ucap Dita sembari berusaha bangkit dari tidurnya.
Aku segera membantunya. Menahan tubuhnya dengan tubuhku agar bisa duduk nyaman. Apud tersenyum-senyum melihatnya. Dita tersenyum. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku sehingga aku bisa merasakan hembusan hangat napas-nya. Sejenak kami saling bertatapan.
“Yee...malah saling berpandangan mesra kaliiii kalian. Cieee...” Seru Apud.
Dita segera mengalihkan tatapannya. Wajahnya merona. Apud semakin tersenyum senyum sambil terbatuk-batuk.
“Kenape sih lu, nyengir kayak kambing pengen kawin!” seruku.
Hahaha Apud tertawa.” Nggak apa apa sih, cuma aneh aja sama kalian.”
“Aneh kenape lu?”
“Sampe kapan kalian akan memendam rasa cinta kalian itu!”
“Sok tahu lu ah!” seruku.
Tiba-tiba Dita merunduk hampir saja terjatuh dari kasur kalau saja aku tak segera memeluknya dari belakang. Bukan hanya itu, Dita pun muntah-muntah. Tentu saja aku kaget dan panik.
“Cepat panggil pak Satrio, Pud!” seruku.
Namun ternyata pak Satrio sudah ada di depan pintu. Maka ia pun segera memintaku membopong Dita ke dalam mobil untuk segera dibawa ke rumah sakit. Tanpa banyak pikir lagi aku pun segera membopong Dita yang terkulai lemas keluar dari kamar dan segera membawanya masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh sopir pribadi pak Satrio, maka Dita pun segera dilarikan ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Dita terus berada dalam dekapanku. Dan aku tak ingin melepaskannya. Bahkan aku sedikit tak rela ketika dokter memintaku untuk membaringkan Dita di kasur ruangan UGD. Aku pun segera diminta untuk keluar karena Dita harus segera diperiksa.
Aku dan pak Satrio duduk di ruang tunggu. Tak lama, bu Satrio datang dengan dibonceng oleh Apud karena saat kejadian tadi bu Satrio sedang tidak ada di rumah. Wajahnya menampakan kecemasan yang sangat. Begitu datang ia langsung memeluk pak Satrio. Sedang Apud segera duduk di sampingku. Menepuk-nepuk bahuku.
“Santai aja, Men. Aku yakin Dita nggak apa-apa.” Apud coba menghiburku.
Aku hanya menjawabnya dengan tatapan.
20 menit kemudian seorang dokter menghampiri kami.
“Tenang, Dita tidak apa-apa pak Satrio. Dia hanya terserang penyakit mag biasa,” kata dokter itu yang ternyata adalah teman dari pak Satrio.
“Huhh...syukurlah,” desah pak Satrio. Sambil memeluk bahu istrinya.
“Alhamdulillah...” desahku dalam hati.
“Tapi saya sarankan supaya Dita dirawat dulu hingga kondisinya kembali normal,” kata dokter itu lagi.
“Iya Dok, bagaimana baiknya saja. Boleh ditemui sekarang?” tanya pak Satrio.
“Dita sedang dipindah keruang rawat inap oleh perawat. Di lantai 4 ruang 21.”
“Oke Dok. Terima kasih.” Pak Satrio menyalami dokter itu.
Kami pun segera menuju ruangan yang disebutkan oleh dokter tadi. Sesampainya di sana kami pun segera masuk. Di sebuah kasur berseprai putih, Dita terbaring. Matanya terpejam. Seorang perawat mengatakan bahwa Dita baru saja diberi obat tidur dengan cara disuntik karena butuh istirahat agar kondisinya cepat pulih. Maka aku pun hanya menatap wajahnya dengan segenap cinta.
Sebenarnya aku ingin sekali menunggu hingga Dita mem-buka matanya, namun masih banyak yang harus aku lakukan. Begitupun dengan Apud. Akhirnya kami mohon pamit kepada pak Satrio untuk pulang. Aku pun mengatakan bahwa akan sering datang menjenguk Dita. Pak Satrio dan bu Satrio hanya mengangguk. Sebelum keluar dari ruangan, aku sempatkan untuk membetulkan selimut yang menutupi sebagian tubuh Dita. Setelah itu barulah keluar dan langsung pulang dibonceng Apud. Namu sebelumnya aku mampir ke rumah Dita untuk mengambil Vespaku.
***
Sebelum azan asar aku sudah sampai di rumah. Dan alangkah kagetnya ketika ternyata Lara sedang asik mengobrol dengan ibu.
“Nah tuh Gama pulang, Non!” seru ibu. Lara tersenyum menatapku yang menghempaskan badan di bale-bale.
“Kusut banget. Ngeloyor kemane dulu?Non Lara nungguin dari tadi tuh!” kata ibu.
“Biasalah Nyak, nyari bahan!” jawabku. Sebenarnya aku ingin mengatakan kalau Dita sakit dan dirawat di rumah sakit, tapi karena ada Lara entah kenapa keinginan itu aku simpan dulu.
“Oh.” Jawab ibu sembari masuk ke dalam.
“Dari sekolah langsung kemari, Ra?” tanyaku kepada Lara.
Lara mengangguk.”Ganggu ya?”
“Kagak lah, ganggu apenye.”
Ibu datang kembali sambil membawa segelas besar es teh manis, kemudian diletakan di depanku. Tanpa ba bi bu aku segera mereguknya. Ibu dan Lara sama-sama tersenyum menatapku.
“Ah segar...makasih, Nyak!” kataku sembari meletakan gelas.
“Ngomong-ngomong ade ape nih, Ra?” tanyaku.
“Nggak ada apa apa sih, cuma lagi suntuk aja. Nggak boleh ya aku main kemari?”
“Ye, bukanye gitu. Siapa tahu mau ngasih rezeki. Hehehe,” jawabku.
“Uh, duit mulu yang dipikirin,”sahutnya.
Aku nyengir.”Bentar ya aku ganti baju dulu,” kataku.
Tanpa menunggu jawaban aku pun segera masuk rumah lanjut ke kamar dan segera mengganti bajuku. Setelah itu segera kemali ke teras menemui Lara.
“Beneran nggak ganggu nih?” tanya Lara kembali.
“Kagaaak...apalagi kalau lu mau bantuin gue!”
“Bantuin apaan?”
“Ikut gue, ayo!” seruku sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Namun Lara terlihat ragu-ragu.
“Ayoo dong!”
“Bareng dong, aku kan malu,” jawab Lara manja.
Aku tersenyum, suka sekali dengan gaya bicaranya yang manja. Membuatku gemas. Aku dan Lara pun segera masuk rumah. Namun ketika sampai di pintu kamar, Lara menghentikan langkahnya.
“Kok di kamar, mau ngapain?” tanya Lara.
“Mau bantuin gue kagak nih!” seruku.
“Ya tapi kenapa harus dikamar?”
“Kalau di luar takut ada yang ganggu, ayo!” Aku menarik tangan Lara.
Akhirnya Lara pun mengikutiku meski masih sedikit ragu-ragu. Setelah berada dalam kamar, aku menyuruhnya duduk di lantai kamar beralas karpet berwarna merah. Kemudian aku mengambil dus yang aku letakan di atas lemari berisi tulung-tulang ayam yang sudah aku keringkan dan meletakannya di depan Lara.
“O, jadi kamu minta dibantuin bikin miniatur motor toh, kiraian mau ngapain!” seru Lara seraya tersenyum.
“Emangnye lu kira gue mau ngajak apaan, hayoo...”
“Nggak kok aku nggak mikir ke sana, sumpah!” sahut Lara dengan wajah merona.
“Mikir apa emangnya!”
“Iicchh...kamu nakal ah!” Wajah Lara seketika merona. Aku tertawa melihatnya.
Bersamaan dengan itu, ibu masuk kamar sambil membawa dua toples berisi kue kering.
”Kerjanye sambil ngemil ye Non. Biar kagak bosen,” katanya.
“Kok ngerepotin, Bu!”
“Ngerepotin ape, kalau mau minum ngomong ama Si Gama aje ye. Nyak ada perlu dulu!”
“Mau kemane, Nyak?” tanyaku.
“Ntu tadi Mpok Neneng SMS katenye minta dibantuin bikin makanan buat acara selametan. Terus kalo Dina pulang, tolong bilang sama dia ye!” jawab ibu.
“Iye Nyak,” jawabku.
Ibu pun segera keluar dari kamar meninggakan aku berdua dengan Lara. Lara duduk bersila, otomatis rok abu-abunya naik hingga pahanya yang putih terlihat jelas. Aku menatapnya sekilas. Lalu mengembuskan napas berat.
“Kok kaya yang cape gitu?”
“Iye cape lihat itu!” jawabku. Mataku mengerling ke arah paha.
“Icchh...” Lara segera menutup pahanya dengan tas.
”Nakal ich!” katanya lagi.
Aku hanya tertawa.
“Terus, aku ngapain nih?” tanya Lara meskipun wajahnya masih merona.
Aku berpikir sejenak kemudian berdiri mengambil bebe-rapa miniatur motor Harley yang sudah jadi namun belum diberi plitur.” Lu olesin aja ini dengan plitur ya, biar warnenye mengkilat,” kataku.
“Pliturnya mana?”
“Noh ada di bawah tempat tidur!” seruku.
Lara segera mengambilnya. Dan segera melakukan apa yang aku suruh. Sedang aku langsung menyusun tulang-tulang itu membentuk miniatur motor Vespa sesuai dengan pesanan. Bahkan ada juga yang minta dibikinin miniatur mobil balap.
“Sory dong Ra!” seruku.
“Apa?” jawab Lara sambil tetap mengolesi miniatur Harley dengan plitur.
“Tolong ambilin pisau kecil di atas lemari,” kataku.
“Tanpa menjawab, Lara segera berdiri dan segera melangkah menuju lemari di sisi kamar kemudian mengambil pisau kecil yang aku minta.
“Ini!” serunya sambil memperlihatkan sebuah pisau lipat kecil.
“Hu’um,” jawabku.
Lara pun kembali menghampiriku. Namun, ketika melangkahkan kakinya, Lara tak melihat kalau ada kabel melintang. Ia pun tersandung, tubuhnya melayang hendak terjatuh. Reflek aku menangkap tubuhnya. Namun, karena aku menangkapnya dalam posisi duduk, aku tak kuasa menahan beban tubuh Lara. Kami pun langsung terjatuh. Lara menindih tubuhku.
Saking kagetnya hingga aku tak cepat melepaskan tubuh Lara yang menindih tubuhku. Begitu pun dengan Lara. Dadanya berdetak kencang sedang kepalanya rebah di dadaku. Sejenak tak ada suara.
Perlahan Lara mengangkat wajahnya hingga hanya beberapa inci dari wajahku. Dan, entah setan apa yang tiba-tiba merasuk dalam otak Lara dan otakku. Bukannya cepat bangkit, malah diam saling menatap. Napas kami memburu, bahkan aku bisa merasakan debaran dada Lara yang menempel di dadaku. Perlahan, Lara menurunkan wajahnya. Semakin dekat dan...
“Astaghfirullah!” seruku sambil bangkit dan menjauhkah tubuh Lara.
Begitu pun dengan Lara. Wajahnya yang putih bersih seketika itu juga merona. Ia tertunduk sambil membetulkan rok seragamnya yang terangkat hingga setengah pahanya kelihatan. Aku segera berdiri lalu keluar dari kamar menuju dapur. Kemudian mengambil sebotol air dingin dan segera mereguknya.
Perlahan napasku kembali tenang. Aku pun kembali ke kamar tak lupa membawa segelas air putih dingin untuk Lara. Sesampainya di kamar, Lara masih duduk selonjoran. Menyenderkan punggungnya pada dinding kamar, matanya terpejam, dadanya turun naik mengatur napas. Aku segera duduk di sampingnya.
“Ini minum duluRa,” kataku pelan.
Lara membuka matanya. Tanpa melihatku, ia menerima segelas air yang aku berikan. Setelah memainkannya sebentar ia pun segera mereguk air itu sampai habis. Kemudian kembali merebahkan punggung dan kepalanya pada dinding kamar.
Aku masih bingung apa yang harus aku katakan dan lakukan. Sepertinya Lara pun sama. Hampir sepuluh menit lamanya tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir kami berdua. Detak jam dinding terdengar jelas. Sejelas otakku memutar ulang apa yang baru saja terjadi.
“Maafin gue, Ra.” Akhirnya aku sanggup berkata.
“Hmmm...” Lara mendesah. Perlahan membuka matanya. Menatap dalam kepadaku.
“Lu marah ye ama gue!” kataku lagi.
Lara geleng-geleng kepala,”Aku cuma bingung kenapa itu bisa terjadi. Padahal sebelumnya aku tak pernah melakukan ini. Jangankan berciuman, berpelukan, pacaran pun baru sama Si Samsul, itu pun bukan atas dasar suka apalagi cinta. Tapi barusan...”
Lara menoleh kepadaku. Matanya yang sipit dan tajam seolah ingin mengorek-ngorek dadaku.“Apakah ini yang dinamakan cinta?” katanya.
Aku masih terdiam. Dan Lara terus menatapku.
“Jawab, Gama! Atas dasar apa kita melakukan itu tadi?” tanya Lara kembali.
“Gue juga kagak ngerti, Ra. Soalnye gue juga baru ngerasain itu. Lu nyesel ye?”
Lara geleng-geleng sembari tersenyum.”Justru aku malah merasa bahagia.”
“Bahagia?!”
“Hu’um atau barangkali kamu yang nyesel ya?”
Aku garuk-garuk kepala sambil nyengir. “Kalau boleh sih gue pengen lagi!”
“Idichh...Gama nakal ah ...!” Lara mencubit perutku. Spontan aku memegang tangannya. Pandangan pun kembali bertemu. Napas memburu. Wajah kami semakin dekat, dan...
Gubrak! Terdengar suara pintu dibuka. Aku dan Lara langsung saling menjauh. Pura-pura mengerjakan pekerjaan masing-masing. Dina nongol di pintu.
“Serius amat sih, sambil ngobrol dong!” seru Dina.
“Eh, elu. Dah pulang lu Dina. Nyak sedang ke Rumah Mpok Nining bantuin masak!” seruku. Lara hanya menoleh sebentar sambil tersenyum. Kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya. Itu ia lakukan agar Dina tak melihat wajahnya yang sedang merah merona.
“Kalau gitu, Dina susul Nyak ah!” seru Dina dan langsung pergi tanpa mengganti seragamnya.
Sepeninggal Dina, aku dan Lara menghentikan pekerjaanku. Kembali saling menatap. Namun kali ini disertai senyum.
“Sepertinya aku harus pulang deh!” ucap Lara.
“Kenape emangnye?”
“Kalau di sini terus bahaya, takut digigit kucing garong!” jawabnya.
Aku nyengir sambil garuk-garuk kepala.”Tapi suka kan sama kucing garong yang ganteng ini...”
“Idiiih...PeDe. Udah ah, aku pamit ya!” serunya sembari berdiri. Aku pun mengi-kutinya. Bahkan tanpa sadar aku memegang tangannya. Lara menatapku sambil tersenyum. Kami pun berjalan sambil terus saling bergenggaman menuju mobil Avanza putih yang terparkir dihalaman rumah.
“Terima kasih ya!” seru Lara setelah berada dalam mobil.
“Untuk?”
“Yang tadi! Daahh...” katanya lagi sambil menginjak pedal gas. Mobil pun segera melaju meninggalkan aku yang masih bingung oleh apa yang baru saja terjadi.
“Cinta, ataukah? Ah, bodo amatlah, gue kagak mau mikir.” Gerutuku sambil kembali masuk kamar dan meneruskan pekerjaanku.
Namun konsentrasiku seakan hilang. Wajah Lara kini mendominasi dalam benakku. Kejadian tadi
dengannya benar-benar melekat dalam memori otakku. Telah kucoba melupakannya dengan berbagai cara, mandi, makan, ngerokok namun wajah Lara kini seakan telah menjadi bagian dari otak dan pikiranku.
“Hmmm...bahaya nih!” gumamku sembari merebahkan tubuh di atas tempat tidur.
***
Other Stories
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Flower From Heaven
Setelah lulus SMA, Sekar Arum tidak melanjutkan kuliah seperti dua saudara kembarnya, Dyah ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Testing
testing ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...