Chapter 13
Aku baru membuka mata ketika ibu menggedor-gedor pintu sambil berteriak-eriak memanggilku. Kulihat jam di handphone-ku, ternyata sudah jam setengah tujuh pagi. Bahkan ada beberapa kali panggilan tak terjawab dari Dita. Serentak aku bangkit. Mengucek-ngucek kedua mataku yang perih.
“Gama, lu kagak ape-ape’kan?” Ibu berteriak lagi.
“Iye Nyak! Aye kagak ape-ape,” jawabku. Kemudian membuka pintu kamar.
“Lu mau sekolah kagak, udah jam brape nih!” seru ibu begitu pintu terbuka.
“Iye Nyak, aye tau,” jawabku seraya melangkah menuju kamar mandi.
Rasa ngantuk pun seketika hilang ketika air mengguyur kepalaku. Usai mandi segera ku kenakan seragamku. Kemudian minum kopi sambil meroko di bale-bale. Wajah Dita dan Lara pun langsug terbayang dalam benak. Jam 7 tepat, barulah aku berangkat ke sekolah. Jalanan pagi itu macet parah. Aku tak bisa menyelinap karena padatnya jalan yang di dominasi oleh motor. Riuh bunyi klakson semakin membuat aku kesal.
Tiba di sekolah, sudah tak aku lihat lagi siswa-siswi yang berkeliaran. Rupanya aku sudah terlambat lima belas menit. Aku pun segera berlari menuju kelas. Bukan, bukan aku takut dihukum karena terlambat, tapi aku ingin segera melihat wajah Dita yang sangat kucintai.
“Kenapa kamu telat, Gama?” tanya bu Aisha yang kebetulan pagi itu mengajar jam pertama.
“Saya kesiangan bangun, Bu. Ditambah jalanan macet,” jawabku seadanya.
“Ya sudah, besok-besok kamu harus berangkat dari rumah lebih pagi ya. Duduk sana!” kata bu Aisha.
Aku pun segera melangkah di antara deretan bangku. Sekilas kulihat, bangku Lara kosong. Maka hatiku pun semakin bertanya-tanya. Rasa cemas semakin menekan jiwa. Namun, hatiku langsung tenang ketika Dita menyambutku dengan senyum manisnya. Dia masih duduk sebangku denganku. Slamet pun tersenyum padaku sementara Apud hanya nyengir.
Selama mengikuti pelajaran aku sedikit gelisah ketika melirik ke bangku Lara. Biasanya setiap aku melirik, Lara pun selalu melirik sambil tersenyum. Handphoneku pun sedari tadi tidak bergetar. Biasanya Lara selalu mengirim SMS mengajak bertemu di kamar mandi. Aku merasa kehilangan dan aku lupa niatku yang sebenarnya untuk mengakhiri hubunganku denganya yang baru seminggu.
“Gue harap lu baik-baik aja, Ra.” Gumamku dalam hati.
Hatiku terus bertanya-tanya kepada siapa aku arus menanyakan Lara. Samsul? Tidak mungkin. Aku pun merasa menyesal karena selama ini aku tak tahu alamat rumah Lara dimana. Akhirnya aku hanya bisa menggerutu sendiri. Hingga bel istirahat berbunyi aku masih asik dengan kegalauanku.
“Kamu baik-baik saja kan Gama?” tanya Dita.
“E iye baik. Gue cuma masih sedikit ngantuk,” jawabku.
“Kita ngopi di luar yuk, Men! Gua juga agak ngantuk nih,” sahut Apud.
“Kenapa tidak dikantin saja?” tanya Dita.
“Yah elu, Dit. Di kantin mana ada kopi. Lagian ngopi tidak sambil ngeroko itu, bagaikan hidup tanpa cinta,” timpal Apud.
“Ceilah yang udah jadi penulis, puitis banget!” Dita tertawa.
”Aku di sini saja deh, lagi males jalan,” sambungnya.
“Lu ikut kagak, Met?” tanya Apud kepada Slamet.
“Syukron atas ajakannya, Akhi tapi Ana sepertinya lebih nyaman di mushola,” jawab Slamet tetap dengan gaya ustadnya.
“Udah kite berdua aje, Tong!” seruku.
“Ayo lah!” sahut Apud.
***
Warung kopi bang Jali memang salah satu tempat nongkrong yang asik buatku. Sebab di sana, aku dapat merokokdengan bebas tanpa harus takut bakalan ada yang melaporkan. Terletak tepat di samping sekolah, terhalang oleh dua konter handphone. Sesampainya di sana, Apud segera memesan dua gelas kopi hitam.
“Rokoknya sebungkus, Bang!” seru Apud.
“Wah tumben sebungkus, lagi banyak duit lu, Tong!” jawab bang Jali dengan logat Betawi. Kemudian mengambil sebungkus rokok dan diberikan kepada Apud.
Apud menerimanya sambil tersenyum. Setelah membuka bungkus rokok itu, ia menawariku. Aku mengambil sebatang dan langsung membakarnya. Apud merasa senang melihatku menikmati rokok pemberiannya. Ia pun kemudian melakukan hal sama denganku.
Setiap regukan kopi dan hisapan rokok, malah semakin membuatku teringat pada Lara. Aku sendiri tak menyangka kalau aku bakalan mempunyai rasa ini. Rindu dan cemas adalah komposisi yang pas dan cukup untuk membuat hatiku semakin tak karuan.
“Lu kenapasih, Men. Dari tadi gua perhatiin kayak yang sedang ada masalah. Ada apa, Men?” Apud bertanya. Namun matanya terpejam menikmati rokoknya.
“E kagak ape-ape, cuma inget samaaa ...”
“Siapa?”
“Mmm...Babeh!” Aku berbohong karena sesungguhnya aku teringat kepada Lara.
“Gua ngerti, Men.” Apud menepuk-nepuk bahuku.
”Gimana kalo ntar kita ziarah?” sambungnya.
Aku hanya tersenyum. Kemudian kembali menghisap rokokku dalam-dalam. Bersamaan dengan itu, seorang siswi nampak keluar dari gerbang mendekati kami. Dia adalah Ratna. Mantan pacarnya Si Apud. Namun karena Apud sedang merem menikmati rokoknya, makanya ia tak sadar ketika Ratna sudah berada di depannya.
“Apud...” suara Ratna terdengar lirih. Aku mengerti.
“Gue duluan, Tong. Kasihan Si Dita kagak ada temennye.” Tanpa menunggu jawaban, aku pun segera berlalu. Meninggalkan Apud.
“Wah, nggak asik lu, Men!” seru Apud.
Dan setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi antara Apud dan Ratna. Aku segera kembali ke sekolah dan segera me-nuju kelas meski ada beberapa orang wanita yang memanggilku. Dita masih duduk di tempat tadi. Sambil membaca mulutnya tak henti mengunyah roti isi keju kesukaannya.
“Kok sendirian Si Apud mana?” tanya Dita begitu aku duduk di sampingnya.
“Die lagi sama Si Ratna,” jawabku.
“Mau?” tanya Dita sambil mencoba menyuapkan roti ke mulutku.
Aku menyambutnya. “Kagak tau ah,” jawabku.
”Lu baca ape sih Dit, serius asik banget?”
“Ini cerpenya Si Apud yang dimuat di majalah. Oke juga dia ngangkat cerita.”
“Tentang apa?”
“Tentang dua orang sahabat yang sebenarnya saling mencintai, namun tak bisa untuk mengungkapkannya,” jawab Dita.
Aku langsung terdiam merasa tersindir dengan cerita itu.
“Tapi sayangnya, Si Cowok akhirnya malah jadian sama orang lain. Karena sahabat ceweknya itu terlalu pintar menyem-bunyikan rasanya. Setelah cowok itu jadian sama cewek lain, barulah Si Cewek mengungkapkannya. Tapi telat, Si Cowok sudah terlajur berjanji setia sama kekasihnya,” kata Dita lagi dan dia pun langsung terdiam.
“Kasian ya tu cewek!”kataku
“Iyauntung aku nggak ngalamin hal itu ya,” sahut Dita sambil memegang tanganku.
Segera kucium tangannya. Dita pun tersenyum.
Belum sempat kami berkata lagi, anak-anak berhamburan masuk kelas bersamaan dengan terdengarnya bel pertanda masuk. Suasana kelas yang tadi sepi pun kini kembali riuh. Hanya Slamet dan Apudlah yang belum terlihat masuk kelas.
“Ngapain sih mereka!” seruku.
“Siapa?”
“Si Apud dan Si Slamet lah!”
“Alah, Si Slamet paling ketiduran di mushola. Nah kalau Si Apud, kayaknya langsung mabur sama si Ratna,” jawab Dita.
Benar saja belum lima detik Dita bicara, Apud mengirim SMS aku yang isinya memintaku untuk mengantarkan tasnya sepulang sekolah nanti karena dia langsung pulang sama Ratna.
“Ah, pujangga kampret!” gerutuku.
“Kenapa?”
“Lihat nih!” aku tunjukan SMS dari Apud kepada Dita.
Dita pun langsung tertawa. Melihat tawanya kecemasanku pada Lara pun seketika lenyap.
***
Esoknya, Lara masih belum nampak di sekolah. Tentu saja aku semakin heran sekaligus cemas. Tapi tak bisa berbuat apa-apa pula karena setiap aku mencoba menghubungi nomornya selalu tidak aktif. Bukan cuma aku yang heran, tapi semua anak terlebih Samsul. Ia terlihat salah tingkah dan risau.
Suasana kelas sangat hening. Semua anak konsentrasi mengerjakan soal ulangan yang diberikan pak Susilo. Sementara pak Susilo sendiri terus berkeliling memperhatikan murid-muridnya. Tak memberi kesempatan sedikit pun untuk menyontek. Sementara aku masih terus bertanya-tanya, dimana dan kenapa Lara sebenarnya. Namun semua tanya tenggelam dalam soal-soal ulangan yang cukup membuatku ingin muntah ini.
Di tengah keheningan terdengar suara pintu kelas diketuk dari luar. Pak Susilo segera membuka pintu. Ternyata pak Bambang. Kami semua menatapnya. Mengira-ngira apa yang terjadi dan siapa yang berbuat masalah karena setiap pak Bambang datang ke kelas pastilah mau memanggil seorang siswa yang sedang bermasalah.
“Gama!” Pak Susilo memanggilku.
“Iya, Pak!”
“Sekarang juga kamu ikut pak Bambang!”
Tentu saja aku kaget. Sebab aku merasa tak punya masalah atau salah.
“Memangnya ada apa, Pak!”
“Kamu ikut dulu saja. Nanti juga kamu tahu sendiri.” Pak Bambang yang menjawab dengan suara lembut.
Aku menghela napas dalam. Dari nada suaranya, aku bisa menebak kalau pak Bambang tidak sedang marah. Bahkan aku merasa ada nada kesedihan dalam nada bicaranya. Aku pun berdiri namun Dita segera memegang tanganku. Entah kenapa.
”Kalau sudah selesai, cepat kembali ya, Gama,” katanya seolah sangat takut aku tinggalkan.
Aku hanya tersenyum. Dita pun melepaskan genggaman tangannya. Kemudian aku melangkah mengikuti pak Bambang menuju ruang kepala sekolah. Dan aku cukup terkejut ketika di ruangan itu telah ada pak Achmadi ayahnya Lara yang langsung mengajakku bersalaman bahkan memelukku.
“Maaf jika Bapak mengganggu waktu belajarmu Gama,” katanya. Tanganku di genggamnya erat.
“Kagak apa-apa, Pak. Tapi saya tak mengerti ada apa atau Lara! ada apa dengan Lara Pak?” tanyaku, tiba-tiba saja firasatku buruk.
“Dua hari yang lalu Lara mengalami kecelakaan. Dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit.”
“Kenapa barubilang sekarang, Pak?” seruku.
Pak Achmadi menarik napas dalam. ”Bapak terlalu cemas hingga lupa segalanya, Nak Gama,” katanya.
Aku terdiam sangat mengerti apa yang dirasakan pak Achmadi.
“Semalam Lara sadar. Dan meminta Bapak untuk memberitahu kamu,” ujar pak Achmadi.
”Jadi sekalian saja Bapak kemari ngasih tahu sama pihak sekolah,” lanjutnya.
Dadaku seketika sesak. Aku merasa sangat berdosa. Sebab disaat aku sedang memadu cinta dengan Dita, Lara malah sedang sakit.
”Oh Tuhan manusia macam apa aku ini...” Desahku.
“Bapak harap kamu mau menengoknya. Dan tolong beri dia semangat untuk bertahan,” kata pak Achmadi kemudian.
“Saya pasti nengok Lara, Pak. Dan saya pikir Lara pasti akan sembuh,” jawabku.
Pak Achmadi kembali menarik napas berat.
”Sebenarnya untuk kecelakaan, dia tidak parah, tapi...” Pak Achmadi menghentikan kata-katanya.
“Tapi apa Pak?” seruku dan pak Bambang hampir bersamaan.
“Sebenarnya Lara menderitakanker otak,” Suara Pak Achmadi hampir tak terdengar.
Deg! Dadaku serasa ditumbuk benda keras. Begitupun dengan pak Bambang. Ia tak bisa berkata apa-apa.
“Dan dokter telah memvonis kalau Lara tidak akan mampu bertahan hingga 3 bulan lagi.” Pak Achmadi berkata kembali. Semakin membuat hatiku nyeri.
Suasana dalam ruangan sangat hening. Aku dan pak Bambang bingung harus berkata apa. Hatiku menjerit-jerit memanggil Lara meminta maaf karena aku telah mengkhianatinya.
“Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Padahal aku sudah akan meninggalkan Lara. Tapi jika keadaan seperti ini, apa aku sanggup melakukannya. Dan bagaimana dengan Dita? Oh, aku pun sangat mencintainya. Tak mungkin aku meninggalkannya. Tapi aku tak bisa terus mendua. Karena pada akhirnya itu akan menyakiti semua.”Aku terus berkomunikasi dengan diriku sendiri, tentang cinta, dusta, dan kesetian.
***
“Ada apa, Gama? Kenapa wajahmu begitu murung. Kamu sakit ya? Atau kamu dihukum lagi?” Dita menghujaniku dengan tanya begitu aku duduk di sampingnya.
“Lara, Dit. Lara...” jawabku spontan. Namun segera ku hentikan kata-kataku.
Dita mengerutkan kening.”Kenapa Si Lara? Dia bikin ulah lagi?” Tatapannya seolah ingin megorek isi hatiku.
Aku geleng-geleng. Lalu menarik napas dalam.”Sudahlah, nggak usah dibahas.”
Aku sadar kalau aku terus bicarakan Lara, Dita bisa curiga. “Oh iya, Dit pulang sekolah nanti, aku harus nyari bahan buat kerajinan. Kamu langsung pulang aja ya tapi aku anterin dulu.” Aku mengalihkan topik.
Dita masih menatapku.
”Kamu belum jawab pertanyaanku, Gama,” katanya.
”Kenapa dengan Si Lara dan kenapa pula kamu terlihat begitu cemas. Jangan-jangaan...” Dita tak meneruskan kata-katanya.
Aku menatapnya, menyembunyikan kecemasan pada Lara dengan senyuman.
”Dia kecelakaan Dit dan dia meminta ayahnya untuk menyampaikan permintaan maaf padaku.” Aku terpaksa berbohong.
Dita masih menatapku. Sepertinya dia tidak puas dengan jawabanku.”Oh, terus kamu mau nengok? Aku ikut ya...” Katanya.
“Iyalah pasti kamu aku ajak. Tapi ntar aja deh ya...aku masih males,” jawabku.
Dita tersenyum,”Masih dendam ya...”
“Nggak kok.“Aku menjawab sambil menghindari tatapan Dita yang terus me-nguliti perasaanku. Rasa bersalahku semakin menyakitkan.
Untung saja bel pulang berbunyi. Aku langsung menarik napas lega. Kami pun segera keluar. Dan seperti biasa aku antar Dita pulang. Namun aku tidak mampir karena harus segera menjenguk Lara tapi bilang sama Dita aku akan keliling mencari bahan untuk kerajinan dan jika Dita ikut, aku takut dia kecapaian dan kembali sakit. Itu alasan yang aku anggap paling baik.
“Ya sudah. Hati-hati ya...jangan ngebut. Dan nanti kalau sudah santai cepat telepon aku,” kata Dita tersenyum.
Aku mengangguk setelah membalas senyum Dita, aku pun segera pergi. Dita mengantarku dengan tatapan cintanya yang suci.
***
Other Stories
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...