Chapter 16
Minggu pagi yang cantik. Matahari sudah sedepa dari titik terbit ketika aku melangkah keluar dari rumah sakit menuju tempat parkir setelah semalaman menemani Lara hatiku sedikit lega karena kondisi Lara kian membaik.
Aku mampu menumbuhkan kembali semangat hidupnya yang kata Pak Achmadi hampir mati. Katanya juga, sebelum bertemu denganku Lara sangat tak peduli akan kesehatan.
Bahkan pernah berkata, ”Kalau mati ya mati saja. Apa salahnya!” Itu kata Pak Achmadi tadi.
Namun kini ia sangat peduli akan dirinya. Bahkan sangat penurut, apa yang dianjurkan dokter ia lakukan dan apa yang dilarang ia tinggalkan. Katanya semua itu ia lakukan agar bisa selalu bersamaku.
“Ah, aku tak menyangka jika ada wanita yang benar-benar mencintaiku.” Desahku seraya menghirup udara pagi yang beum terlalu panas.
”Bahkan bukan cuma satu orang tapi dua. Ya, Dita. Ah, sedang apa dia sekarang.” Desahku kemudian ketika wajah Dita seketika terbayang.
Tanpa pikir panjang lagi, segera ku selah Vespa bututku. Setelah diservis, mesin Vespaku memang lebih baik. Kini aku tak perlu bersusah payah untuk membuatnya hidup. Helm aku kenakan. Lalu segera pulang. Rencannya, nanti siang setelah istirahat karena semalaman tak bisa tidur aku akan berkunjung ke rumah Dita. Aku sangat merindukannya.
Kebetulan jalanan Minggu pagi ini tak terlalu macet, hingga satu jam kemudian aku sampai di rumah. Dina sedang menyapu halaman dengan sapu lidi. Suara sapu lidi yang bergesekan dengan tanah itu sangat khas. Dia langsung tersenyum menyambutku.
“Ciee yang udah kencan. Sampai semalaman. Awas lo kebablasan,” katanya setengah mengejek setengah lagi menasehati.
“Apaan si, lu,” tukasku seraya melangkah menuju teras lalu duduk di bale-bale.
Ibu keluar dari rumah sambil membawa satu ember cucian yang akan dijemur. Begitu melihatku, ia tak melanjutkan langkahnya. Ia malah duduk di sampingku. Matanya yang tajam menatap seolah sedang mengorek isi hatiku. Tentu saja aku sedikit kecut dengan tatapan itu. Aku sangat paham, jika tatapa ibu seperti itu berarti dia sedang kecewa padaku.
“Kemana aja lu semalaman kagak pulang?” tanya ibu.
“La, aye kan udah bilang jenguk Lara di rumah sakit, Nyak. Nah mau pulang udah malem. Kepaksa Gama nginep di rumah sakit,” jawabku.
Ibu masih menatapku.”Lu kagak bohong’kan ama, Nyak!”
“Kapan sih Gama bohong sama Nyak. Lagian kenapa tiba-tiba Nyak jadi kagak percaya ama Gama?”
“Lu kagak nginep sama non Dita, kan!”
“Apa! darimana Nyak bisa nyangka Gama nginep sama Dita?” Aku kaget darimana Nyak punya pikiran kalau aku nginep sama Dita.
“Nyak kagak bakalan ngelarang lu pacaran Gama! Selama kagak keterlaluan. Yang wajar aja,” kata nyak terus menekanku.
”Kalau lu kagak nginep sama non Dita, terus lu biarin non Dita pulang sendiri dari rumah sakit?” lanjutnya.
Aku semakin heran.”Nyak dengerin Gama ya, semalam ntu Gama nginep di ruangan tempat Lara dirawat. Itu pun ada babehnya. Dan Dita kagak datang ke rumah sakit.Dia kagak tahu kalau Gama jenguk Lara.”
“Lo, bukannya semalam non Dita nyusul elu ke rumah sakit? Dia kan semalam kemari nyariin kamu. Nyak bilang aja kalau lu jenguk Lara.”
“Jadi semalem Dita kemari Nyak!”
“Ho’oh!”
“Waduhh...bahaya nih,” gumamku.
“Apanya yang bahaya Gama?”
“Sebenarnya Gama kagak bilang kalau mau jenguk Lara. Dita mungkin ngambek sama Gama. Tapi semalem kagak ada Dita dateng ke rumah sakit tuh.”
“La terus dia kemana?”
“Mungkin langsung pulang, Nyak.” Hatiku tiba-tiba resah.
Ibu terdiam. “Hati-hati memperlakukan cewek lu. Jangan lu nyakitin cewek. Nyak kagak suka.”
Entah apa maksud ibu bicara seperti itu. Mungkin ibu tahu atau setidaknya dapat meraba apa yang aku rasa saat ini.
Hatiku seketika gelisah. Jika tahu aku jenguk Lara, Dita pasti saat ini sedang marah. Aku tahu, Dita memang tak pernah menunjukan kemarahan kepada siapa pun kecuali dengan diam. Justru itulah yang aku tak suka. Ah...apa pun itu, yang pasti aku telah berbuat salah pada dua wanita itu.
“Cepet hubungi non Dita, Gama,” ucap ibu.
“I iya, Nyak,” jawabku sedikit kaget.
Lalu segera mengeluarkan hp yang sejak semalam aku matikan. Namun, alangkah kagetnya ketika hp itu menyala langsung masuk beberapa SMS dari Dita.
“Ah, maafkan aku Dita,” gumamku.
Tanpa banyak berpikir lagi, segera ku telepon Dita. namun setelah beberapa kali mencoba, nomor Dita tidak aktif. Hatiku semakin gelisah.
“Dita pasti sangat marah padaku.” Pikirku sambil meletakan hp di meja dan menyandarkan tubuh di bale-bale. Memikirkan apa yang harus aku lakukan agar Dita mau memaafkan aku.
”Semoga saja dia tidak benar-benar tahu kalau aku memang menginap di rumah sakit,” kataku dalam hati.
“Kenapa? non Dita kagak mau angkat telepon lu?” tanya ibu.
“Nomornya tidak aktif, Nyak.”
“Lagian si lu, pake bohong segala sama non Dita, kasian kan dia.” Ibu menyalahkan sikapku.
”Samperin sono ke rumahnya!” lanjutnya.
“Sekarang, Nyak!”
“Taun depan!” Ibu beranjak dari hadapanku.
Aku menghela napas dalam memikirkan kata apa yang harus aku jadikan alasan.
“Iya, kalau benar Dita langsung pulang ke rumah, kalau ternyata benar dia nyusul ke rumah sakit dan ngelihat gue sedang berduaan sama si Lara gimana?” kataku dalam hati.
“Aduuh...biung...” Aku berdiri. Masuk sebentar untuk sekedar minum air putih. Lalu kembali menyalakan Vespa untuk pergi ke rumah Dita dengan harapan Dita masih mau bicara denganku.
Sampai di sana rumah terlihat sepi. Bahkan tukang kebun yang biasanya setiap hari Minggu merapikan halaman kini tak ada. Aku menekan bel. Menunggu, namun tak seorang pun penghuni rumah keluar. Aku tak putus asa. Kucoba lagi dan lagi... namun tetap tak ada siapa pun.
“Pada kemana, ya?” tanyaku pada diri sendiri.
Karena tak ada siapa pun jua, aku pun pulang membawa hati yang gelisah.
***
“Sebenarnya apa yang terjadi, Dita?” tanya pak Satrio lembut sambil megusap kepala Dita. sementara bu Satrio duduk di samping kiri memeluk bahu Dita.
“Dita melamun, Pa. Tak sadar menginjak gas terlalu kencang,” lirih Dita.
“Ya sudah, lain kali hati-hati. untung saja tidak kamu tidak apa-apa. Kata dokter kamu hanya kaget saja.”
“Mobilnya?”
“Nggak usah pikirin mobil kamu lebih berharga dari apapun buat Mama sama Papa.” bu Satrio mengecup lembut pipi Dita.
“Makasih, Pa...Ma...” lirih Dita.
Padahal saat itu ia ingin menangis karena teringat kepada Gama yang telah menduakannya. Tapi ia tak ingin membuat kedua orangtuanya semakin cemas. Ia hanya merebahkan kepala di bahu ibunya.
“Kita pulang yuk...” Bu Satrio berkata pelan. Tangannya tak henti mengelus kepala putri kesayangannya.
Dita mengangguk lemah.
Pak Satrio berdiri.
”Mama sama Dita siap-siap. Papa mau ngurus administrasi dulu,” katanya. Tanpa menunggu jawaba ia pun keluar.
Setelah semua selesai. Mereka pun pulang. Dita hanya mengalami luka kecil saja di keningnya. Pak Satrio dan bu Satrio sedikit lega meski masih was-was kerena Dita terlihat sepertinya masih kaget. Dita tak ceria lebih banyak diam, padahal Dita saat itu sedang sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia hanya mampu menangis dalam hati sambil terus bertanya-tanya, kenapa Gama bisa berbuat seperti itu.
“Aku sangat mencintaimu, Gama. Tapi kini, aku pun sangat membencimu. Aku ingin bertemu denganmu, tapi aku takut tak bisa menahan amarahku.” Dita terus berkomunikasi dalam hati.
”Mungkin sebaiknya aku biarkan saja kau bahagia bersama Lara dan kita tak usah bertemu lagi,”katanya kembali.
Sampai di rumah, Dita segera masuk kamar dengan alasan mengantuk. Pak Satrio dan bu Satrio tak mau mencegahnya. Karena memang istirahat adalah yang terbaik untuk Dita saat ini. Padahal saat itu di kamar, Dita sedang membenamkan wajah di bantal agar tangisnya tak terdengar oleh siapa pun.
***
SMA 22 pagi itu tak seperti biasanya. Siswa-Siswi yang biasanya banyak tingkah, pagi itu terlihat lebih diam. Bahkan siswi-siswi yang biasanya cerewet kini terlihat anggun. Dan satu lagi, semua terlihat memegang buku pelajaran. Meskipun ada yang hanya dikipas-kipaskan ke tubuhnya.
Pagi itu juga aku masih tak bisa menghubungi Dita. Aku semakin gelisah. Sementara Apud dan Slamet kini seolah tak peduli lagi dengan apa yang aku alami. Mereka sibuk dengan dirinya sendiri. Ya, Slamet dan Apud memang tak peduli jika hari ini adalah hari pertama Ujian Nasional. Akan tetapi mereka sibuk dengan cita-citanya masing-masing.
Yang satu sibuk memperbaiki diri dengan belajar agama, sedang yang satu lagi sibuk mewujudkan cita-citanya untuk menjadi penulis terkenal. Aku hanya menarik napas sambil memerhatikan wajah Apud dan Slamet yang serius membaca.
“Kemana Si Dita ya? Kenapa belum dateng? Ah, semoga dia baik-baik saja.” Aku berkata dalam hati.
Waktu terus berjalan. Satu persatu siswa mulai masuk kelas masing-masing. Padahal biasanya, sebelum lonceng berbunyi, mereka lebih suka berada di luar kelas. Ah, ujian memang mampu merubah karakter anak sekolah sesaat, namun setelah ujian berakhir mereka pun kembali ke semula. Jadi apa gunanya ujian jika tak mampu mengubah karakter siswa dari tidak baik ke baik. Lebih parah lagi, ada sebagian siswa yang menganggap ujian hanyalah perjudian dengan nasib. Lulus atau tidak lulus tidak lah penting. Bahkan nilai baik atau buruk tak peduli. Yang penting mereka ikut ujian.
Bel terdengar. Wajah siswa-siswi terihat seperti prajurit yang akan menghadapi perang. Sangat tegang beberapa orang terlihat menyembunyikan contekan. Berbagai cara mereka lakukan agar bisa menyontek dan tidak ketahuan. Ada yang menempelkan kertas contekan dengan solasi di bawah meja, sedang para siswi yang sedikit nakal biasa menuliskan contekan di pahanya.
Pengawas ujian telah masuk. Sebelum membagikan lembar ujian, guru pengawas mengabsen siswa-siswi terlebih dulu. Ketika sampai pada nama Dita, tak ada yang menjawab. Tiba-tiba Dita muncul dari pintu. Aku sangat terkejut ketika melihat kening Dita di balut perban. Wajahnya juga terlihat sayu.
“Kamu kenapa, Dita?” tanya Bu Aisah.
“Kecelakaan, Bu.” Singkat Dita.
”Maaf jadinya saya telat, Bu.”
Bu Aisah maklum.”Nggak apa-apa, silakan duduk.”
Aku terus menatap Dita, berharap Dita menatapku dan seperti biasa memberikan senyum termanisnya. Namun, hingga Dita duduk dan membelakangiku, tak sedetik pun matanya menyapaku. Hmmm...aku menarik napas yang kemudian terasa sesak. Sementara mataku tak lepas dari rambutnya yang tergerai begitu saja.
“Lara juga belum masuk ya?” tanya Bu Aisah entah pada siapa.
“Belum, Bu. Lara masih dirawat,” Dita yang menjawab.
“Kamu sudah menengoknya, Dita?”
“Semalam, Bu.” Singkat Dita.
Bagi orang lain mungkin kata-kata Dita itu bukanlah apa-apa. hanya sekedar informasi saja. Namun bagiku, setiap kata yang keluar dari bibir Dita itu laksana tombak yang tepat menancap di jantungku.
“Apa benar Si Dita ke rumah sakit? Kalau iya, tak ada ampun, dia pasti tahu aku bersama Lara. Dia pasti sangat membenciku kini.” Kataku dalam hati.
Bu Aisah segera membagikan lembar soal. Semua telah siap. Dan ketika terdengar
suara bel pertanda ujian di mulai maka, semua siswa pun berkutat dengan soal-soal yag sebenarnya sudah pernah mereka jawab di hari-hari sebelumnya dari kelas X hingga kelas XII. Namun telah mereka lupakan.
Suasana kelas hening namun terjadi kericuhan di dalam otak kami. Terlebih aku. Selain berusaha menjawab soal-soal ujian itu, aku pun berusaha menjawab semua tanya tentang Dita dan Lara yang hingga kini bukan bahagia yang kurasa, tapi menyesal telah melukai mereka berdua.
***
Hari pertama Ujian Nasional pun berakhir. Meski wajah-wajah siswa siswi terlihat lelah, namun ada sedikit kelegaan pada setiap tatapannya. Mereka berhamburan keluar kelas saling bertanya dengan temannya tentang soal-soal tadi.
Aku berdiri. menghampiri Dita yang juga telah berdiri dan berjalan keluar kelas sedikit tergesa.
“Tunggu, Dita!” Aku berusaha memanggilnya. Namun Dita seolah tak peduli. Bahkan langkahnya semakin cepat. Tentu saja perasaanku semakin tak enak. Aku berusaha mengejarnya.
“Nyantei, Men. Perempuan kalau sedang marah memang suka begitu. Nanti juga dia baik lagi,” kata Apud.
“Iya, Akhi. Benar kata Akhi Paud.”
“Apuuud...buntut ontaa...” Sahut Apud.
Aku sedikit terhibur oleh mereka.
“Langsung pulang atau kita ngopi dulu nih? Sudah lama nih kita teh nggak ngumpul,” seru Apud.
“Okeh, tadi gue kagak bisa lama. Ada yang harus gue kerjain.”
“Iya sebenatar saja atuh, Gama itung-itung ngilangin stres bekas ujian tadi,” sahut Apud.
“Itu belum seberapa jika dibanding dengan ujian hidup dari Tuhan, Akhi.” Slamet menimpal.
Aku dan Slamet saling menatap. Lalu tertawa bersama. Kata-kata Slamet memang benar, namun kenapa kalau Slamet yang ngomong semua terdengar lucu. Aku dan Apud pun menggan-deng Slamet dari samping. Mengajaknya setengah menyeret untuk ikut ngopi di warung bang Jali. Kami kangen ceramahnya.
***
Other Stories
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Coincidence Twist
Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...