Mendua

Reads
3.4K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Chapter 15

Sabtu pagi yang basah. Sejak Subuh, gerimis tak henti mengguyur bumi. Siswa-siswi tak ada yang berkeliaran di lapangan. Mereka berkumpul membentuk beberapa kelompok di depan kelas masing-masing. Wajah-wajah mereka menampakan ketegangan. Bagaimana tidak, ini adalah hari Sabtu terakhir mereka sekolah dengan tenang karena hari Senin besok, mereka akan mengha-dapi ujian akhir sekolah.
Aku, Apud dan Slamet berkumpul dalam kelas. Apud dan Slamet asik membaca.
“Rencananya lu mau lanjutin ke mana, Pud?” Aku bertanya kepada Apud yang sedang asik membaca.
“Nggak tahu atuh. Lihat kondisi aja, Men,” jawabnya.
”Elu?”Apud balik nanya.
“Kayaknya gue kagak kuliah. Gue mau kerja aja bantu Nyak,” jawabku.
”Elu, Met?”
“Ana sudah bilang sama orangtua kalau lulus atau tidak dari SMA, Ana pengen langsung nikah saja,” jawab Slamet tanpa menoleh.
“What!” Aku dan Apud menoleh bersmaan.
”Kaga salah lu, Tong!?” seruku.
“Kenapa? Salah?”
“Kagak sih, cuma hidup berumah tangga ntu kagak semudah dan seindah yang lu bayangin. Emang lu udah siap jadi suami?”
Slamet tersenyum.
”Siap atau tidak, harus siap. Ana takut terjerumus pada gaya hidup anak muda zaman sekarang Akhi,” jelasnya tenang.
Aku dan Apud tak ingin berdebat dengan Slamet. Karena dari dulu prinsip Slamet memang tak bisa dipengaruhi orang lain. Jika dia sudah berkata A, maka itu yang akan dia lakukan. Bersamaan dengan itu, Dita yang tadi sempat pergi ke kantin sudah kembali. Dia membawa sebungkus kripik. Kebiasaannya ngemil sambil belajar tak juga berubah. Anehnya, meskipun dia sangan doyan ngemil tubuhnya tetap langsing.
“Gama, ntar pulangnya nengok Si Lara, yuk!” serunya sambil duduk di sampingku.
Tentu saja aku bingung. Bisa terbongkar rahasiaku bersama Lara jika kami ke sana berdua. Aku terdiam.
“Kenapa?”Dita menatapku.
“Mhhh...entaraja deh, kalau aku benar-benar ada waktu luang. Aku lagi banyak pesenan, Dit.” Untung saja aku punya alasan yang tepat.
”Lagian ntar juga wali kelas pasti mengajak kita untuk jenguk Si Lara bareng-bareng,” lanjutku.
“Kalau aku sendiri ke sana gimana?” Entah kenapa Dita sangat ingin menengok Lara.
“Kapan?”
“Pulang sekolah.”
“Sebenarnya nanti aku pengen ngajak kamu jalan-jalan. Tapi kalau kamu mau nengok Lara, lain kali aja deh.”Entah darimana aku dapat alasan untuk mencegah Dita.
“Mauu...” Rajuk Dita mengedip-ngedipkan matanya.
Aku senyum.“Tapi jangan yang mahal-mahal ya.”
“Iya iyaaa, yang penting itu bukan makanannya, tapi siapa yang nemenin kita makan.” Sahut Dita bersamaan dengan terdengarnya bel pertanda masuk kelas. Anak-anak berhamburan masuk. Dita segera menuju bangkunya. Hanya Slamet dan Apud saja yang terihat cuek, bahkan ketika aku ngobrol sama Dita tadi mereka seolah tak mendengar.
Bu Aisah masuk kelas. Hari ini, kami tidak di periksa kerapihan. Memang tak seperti biasanya. Atau memang bu Aisah sudah menganggap kami semua rapi. Dia berdiri di depan kelas memandang satu-persatu wajah anak didiknya lalu berkata.
“Anak-anak, hari Senin kita akan melaksanakan Ujian Na-sional. Ibu harap kalian sudah mempersiapkannya. Saran Ibu, kurangi bermain dan kegiatan-kegiatan yang tidak ada gunannya. Ujian Nasional adalah penentuan lulus atau tidaknya kalian dari sekolah ini.” Ungkap Bu Aisah berwibawa.
Anak-anak menarik napas berat. Padahal masih ada satu hari menjelang UN. Namun wajah mereka sudah terlihat tegang. Kecuali aku, tak peduli akan UN. Menurutku, hasil belajar selama tiga tahun tak patut jika hanya ditentukan oleh satu minggu dan beberapa mata pelajaran saja. Mungkin Apud dan Slamet sependapat denganku.
Pulang sekolah, aku penuhi janjiku mengajak Dita jalan-jalan sekalian makan siang di sebuah mall. Sekaligus menemui mbak Wahyuning untuk melihat berapa kerajian tanganku yang terjual. Dita ikut senang ketika mengetahui cukup banyak kerajinanku yang terjual. Bahkan ada hampir sepuluh buah pesanan.
Ketika aku sedang makan bersama Dita. Beberapa kali hp ku bergetar. Namun lagi-lagi aku tak menggubrisnya. Aku tak mau merusak kebahagian Dita. Dan pasti Dita bertanya jika mengetahui ada SMS dan panggilan ke hp ku.
“Ntar malem kamu ada acara, nggak?” tanya Dita. Tangannya tak henti memainkan sedotan dalam gelas es capucino nya.
“Biasa lah, ngerjain pesanan. Lebih cepat selesai kan lebih cepet dapat uangnya.“ Aku menjawab padahal dalam hatiku, aku berencana untuk mengunjungi Lara.
“Ya udah, kalau gitu aku tidur aja.” Dita terlihat kecewa.
“Kok kayak yang putus asa gitu Yang,” tanyaku.
“Lagian malam Minggu bukannya ngapelin ceweknya, ini malah sibuk nyari duit.” Dita cemberut.
Aku tersenyum.”Tiap hari kita’kan ketemu, Sayaaang.”
Dita tetap cemberut.
“Malam Minggu depan aku pasti ke rumah.” Aku berusaha menghibur.
Senyum pun tersungging dari bibir Dita.”Ya sudah. Yang penting kamu tetap setia.”
Deg! Hatiku seketia sesak mendengar kata setia dari bibir Dita.
“Maafkan aku, Dit. Aku berjanji tak’kan meninggalkanmu. Aku berjanji akan meninggalkan Lara, namun tidak saat ini...aku tak tega melakukanya.” Aku berkata dalam hati.
“Kok ngelamun, Yang?” Sepertinya Dita melihat perubahan di raut wajahku.
“Tidak apa-apa, kok. Aku cuma sedikit kaget dengan cinta ini. Tak menyangka kalau kita ternyata memang sudah saling mencintai sejak lama.” Aku mengubah arah pembicaraan.
Dita tersenyum. Menatapku dengan mata sayunya. Dan aku selalu suka mata itu ketika sedang menatapku. Pada bening matanya, aku seolah melihat dalamnya telaga kautsar. Bening dan meneduhkan.
Hening menjeda. Aku dan Dita sama-sama sibuk dengan hati masing-masing. Bicara tentang cinta yang terlahir setelah lama berdiam dalam dada.
Namun, “Ah...” Aku mendesah.
***
Malam minggu yang indah. Vespaku melaju tenang menuju rumah sakit tempat dimana Lara menungguku. Sebelumnya aku sempat menelepon. Meminta maaf tak bisa datang tadi siang karena harus segera menyiapkan pesanan untuk besok. Dan aku berjanji, bahwa malam ini aku akan menemaninya di rumah sakit hingga pagi.
Sementara itu dikamarnya, Dita sedang membaca buku pelajar. Sangat serius, diiringan lagu-lagi Raisa favoritnya. Tiba-tiba bu Satrio nongol dari pintu tanpa mengetuk. Kontan saja Dita terkejut. Bahkan buku di tangannya sampai terjatuh.
“Duuh...Mama bikin kaget aja!” serunya sambil memegang dada.
Bu Satrio tersenyum sambil menghampiri Dita.
”Maaf Deh, Mama cuma mau nyampein pesen Papamu.” Katanya lembut sambil membelai kepala Dita.
“Apa?”
“Bilangin sama Gama kalau ada temen Papamu yang minta contoh miniatur buatannya. Kalau menurut dia menarik, temen Papamu itu akan memberinya modal dan memasarkannya di Australia sana,” kata bu Satrio.
“Wah...bagus tu, Mah!” seru Dita. ”Biar nanti Dita telepon,” lanjunya.
“Sekarang dong...”
“Iya iyaa Mamaaa...” katanya seraya mengambil hp yang tergeletak di atas kasur.
“Mama turun dulu ya, nanti kalau sudah dapat jawaban dari Gama, cepat sampein sama Papamu.”
“Siap, Bos!”
Bu Satrio tersenyum. Mengucek-ngucek rambut Dita sebentar lalu keluar kamar.
Dita segera menelepon Gama. Namun hingga 4 kali dia menghubungi, Gama tak jua menerima telepon darinya. Dita pun mengirim SMS. Menunggu beberapa saat namun sama, tak ada balasan.
”Duuhh...ngapain sih, masa balas SMS saja nggak sempet.” Dita mulai kesal dan entah kenapa keresahan kembali menyiksa hatinya. Seperti tadi siang.
”Ah, kamu baik-baik saja kan, Sayang...” Desahnya.
Lalu menghempaskan tubuh di atas tempat tidur. Hp diletakan di atas dada. Berharap Gama bisa merasakan keresahan yang kini dia derita.
Seketika Dita bangkit dan melihat jam dinding. Baru pukul 19.05. Ia pun berdiri mengganti celana pendek dengan celana jins, tak lupa memakai jaket lalu segera turun.
“Gimana kata Gama, Dit?” tanya pak Satrio begitu Dita melewati ruang tengah.
“Itu dia, Pa. Telepon tak diangkat! SMS juga nggak ada balasan,” jawab Dita sambil tetap berdiri.
“Terus?”
“Ya Dita mau ke rumahnya. Sebentar saja...boleh ya Paa, Maa...” Dita memohon.
Papa dan Mamanya tersenyum.
“Iya, boleh. Tapi jangan malem-malem ya,” kata pak Satrio.
“Makasiih...Papa baik deh. Apalagi kalau Dita boleh pinjem mobilya.” Dita kembali merajuk diakhiri senyum.
Lagi-lagi pak Satrio tersenyum. Lantas mengangguk.
“Hati-hati ya...” Katanya.
“Siap!” seru Dita sambil memberi hormat.
Pak Satrio dan bu Satrio hanya tertawa kecil melihat kelucuan putri mereka.
***
Seperti biasa, jalanan macet. Apalagi malam Minggu seperti ini. entah apa alasannya malam Minggu menjadi ikon malam kebebasan. Malam penuh hiburan. Bahkan disebut malam panjang padahal sih sama saja.
Dita membawa mobil sedikit tersendat-sendat. Ia menyesal memakai mobil. Andai pakai motor, mungkin ia akan lebih cepat sampai di rumah Gama yang memang tak terlalu jauh dari rumahnya. Namun, apa yang bisa menghalangi jika cinta, rindu sekaligus cemas telah bicara bersama-sama tak ada yang bisa menghentikannya.
Setelah berlelah-lelah, Dita pun sampai di rumah Gama yang disambut nyak Mardiah dan Dina yang saat itu sedang ngobrol di bale-bale. Udara panas di Jakarta memang membuat orang lebih kerasan berdiam di luar rumah. Kecuali mereka yang rumahnya memakai AC tentunya.
“Lo, Non Dita kagak ikut sama Gama nengok Lara toh!” sapa Nyak Mardiah segera begitu Dita mencium tangannya.
“Apa, Gama nengok Lara, Bu!” Dita sangat terkejut mendengarnya.
“Iya, Mbak. Tadi berangkat jam 6. Kirain Dina sama Kak Dita.” Dina menimpali menambah keyakinan Dita yang seketika itu juga hatinya bertambah resah.
“Kenapa Gama tidak bilang padaku kalau akan menjenguk Si Lara?” tanya Dita dalam hati.
”Ada apa sebenarnya?” Dita bertanya-tanya dalam hati.
“Kenape, Non?” tanya Nyak Mardiah.
“E ti tidak apa-apa, Bu.” Dita sedikit gugup.
”Kalau begitu saya mau nyusul Gama saja, Nyak,” lanjutnya.
“O ya udah hati-hati di jalan ya Non.”
Dita menggangguk. Baru saja ia hendak melangkah, ia berputar kembali.
”Tapi Bu...apa tadi Gama berpesan sama saya mesti nemuin dia di rumah sakit mana?” Sebenarnya Dita memancing jawaban agar Nyak Mardian mengatakan ke rumah sakit mana Gama pergi.
“Kagak tuh, Non. Tapi katanya non Lara di rawat di Rumah Sakit Umum Depok,” jawab Nyak Mardiah.
“Oh ya sudah. Saya pamit ya Nyak,” kata Dita untuk yang terakhir kali.
Tanpa banyak berpikir, terdorong rasa curiga yang memang sebenarnya sudah sedari tadi siang dirasa, Dita pun segera meluncur ke RS dimana Lara dirawat. Tak lupa ia berpesan kepada orangtuanya bahwa ia akan pulang sedikit larut karena menjenguk teman ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit Dita bingung, di ruangan mana Lara dirawat. Tak mungkin jika ia harus melihat satu persatu ruangan yang ada di rumah sakit itu. Namun seketika ia tersenyum ketika melihat seorang perawat. Dita segera menghampirinya.
“Maaaf Mbak...” Sapa Dita.
“Iya, Dik. Ada apa?” jawab perawat itu ramah.
“Anu, Mbak. Saya sedang mencari saudara saya yang katanya di rawat di rumah sakit ini, tapi saya lupa lagi nomor berapa ruangannya. Mbak tahu dimana pasien bernama Lara dirawat?” tukas Dita.
“Oh, Lara pengidap kanker itu yaaa,” jawab mbak perawat.
Dita sedikit terkejut ketika perawat itu mengatakan bahwa Lara mengidap kanker. “Tapi apa Lara yang dia maksud? Ataukah Lara yang lain.” Dita terdiam sejenak.
“Dia di lantai 2 kamar 012 kelas VIP.” Perawat itu menyebutkan dimana Lara dirawat.
‘Makasih ya, Mbak,” ucap Dita dan tersenyum.
“Sudah tugas kami, Dik. Semoga saudaranya cepet sembuh ya...” Jawab perawat itu.
Lara segera naik kelantai dua menggunakan lift. Hatinya terus bertanya-tanya tentang kenapa Gama menjenguk Lara tanpa sepengetahuannya. Apakah dirinya tak penting buat Gama atau kah Gama dan Laraa...Ah, tak mungkin. Aku tahu Gama cowok setia. Tak mungkin ia mengkhianatiku. Dua orang perawat yang kebetulan satu lift dengannya melirik dengan ekor mata namun Dita terlampau asik dengan hatinya sendiri.
“Lantai 2 Dik,” kata salah satu perawat.
“Oh...” Dita sedikit terkejut. Bergegas dia keluar dan pintu lift kembali menutup.
Sejenak Dita terdiam di depan lift. Tidak ada arah lurus, kiri dan kanan. Ke arah mana dia harus melangkahkan kakinya. Dia baru pertama kali berkunjung ke rumah sakit ini. Apa yang harus dia lakukan jika Gama benar-benar ada di rumah sakit ini bersama Lara.
Dita memandang pintu ruangan yang ada di selasar sebelah kanan.
“008,”gumamnya.
Lalu mulai melangkah mengambil jalur kanan.
“009, 010, 011 dan 012,” Dita menghentikan langkahnya tepat di pintu dengan papan nomor 012. Menoleh kiri dan kanan. Sepi. Tak ada seorang pun padahal baru jam 9 malam. Atau mungkin perawat jaga sedang istirahat atau bisa saja sedang siap-siap pulang untuk diganti shif berikutnya. Dita tak mau memikirkan itu.
Sangat pelan dia mendekati pintu. Entah kebetulan atau memang pintu sengaja tak ditutup rapat sehingga ada sedikit celah untuk mengintip ke dalam ruangan. Dita pun spontan mengintip. Dan...
Deg! Dadanya seolah ditumbuk benda keras. Napasnya seketika sesak. Mulutnya sedikit terbuka. Antara percaya dan tidak, ia melihat Gama sedang mengecup kening Lara. Sakit hati, emosi dan bingung bergulung menjadi satu. Membuatnya sejenak tak bisa berpikir. Dan pada menit pertama, air mata pun meleleh di pipi kemerahannya. Tahulah ia kini kenapa Gama tak mau menjenguk Lara bersamanya.
“Aku akan menemanimu hingga pagi, Ra...” Suara Gama terdengar bagai ribuan jarum yang mencucuk gendang teli-nganya. Dita tak kuasa lagi menahan sesak di dada. Ia pun berlari menjauhi ruangan itu sambil terus mencoba menahan air mata agar tak tumpah di sana. Namun, air mata tak mampu ditahan karena dorongan rasa perih begitu kuat menekan.
Dita terus berlari. Tak peduli beberapa orang yang berpapasan dengannya mena-tap heran. Ia ingin cepat pergi dari tempat terkutuk ini bahkan kalau bisa, ia meminta Tuhan untuk menghilangkan ingatanya. Atau terbangun dari tidur. Ia berharap semua itu hanya mimpi. Tapi semua itu memang nyata. Gama yang sangat dicintainya ternyata telah mendua. Dan mungkin sudah lama.
Masih jelas terdengar di telinganya kata sayang dan cinta dari bibir Gamayang lama ia damba. Dan, belum sebulan kata cinta dan sayang itu ia dengar, semua berubah menjadi kata-kata yang menyakitkan. Ya, andai ia tetap bersahabat dengan Gama, mungkin ia masih bisa menahan sakit atau setidaknya pura-pura bahagia dengan kebahagaian Gama dan Lara. Tapi kini tak bisaikatan cinta telah terucap. Dan ternyata Gama mendua.
Dapatkah dibandingkan dengan luka tersiram cuka? Seperti itulah perasaan Dita malam ini. Air mata terus meleleh sepanjang jalan pulang. Berkilatan di pipi nan sembap tersiram lampu-lampu jalanan ibu kota yang temaram. Harusnya malam ini indah. Harusnya malam ini dia di rumah saja daripada harus mengalami peristiwa yang membuat hatinya hancur.
“Kenapa, Gamaa. Kenapaa...” Jeritnya dalam hati sambil terus mengemudi. Tanpa disadari, Dita menginjak gas terlalu dalam dan...
Braak! Dita menabrak mobil di depannya suasana gelap seketika. Bersamaan dengan turunnya gerimis perlahan menjadi hujan. Dita menelungkup memeluk stir tak sadarkan diri.
***

Other Stories
Queen, The Last Dance

Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...

Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

7 Misteri Korea

Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...

Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

Coincidence Twist

Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...

Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Download Titik & Koma