Bab 3 Pesta Narkoba Di Kontrakan
Sudah genap 6 minggu Edo dan kawan-kawan tampil menghibur pengunjung cafe milik Ramon. Dan respon dari pengunjung sangat positif. Hal itu bisa dilihat bahwa para pengunjung cafe menantikan kiprahnya band Edo.
Edo dan kawan-kawan juga merasa senang dan bahagia bisa tampil rutin di cafe tersebut. Mereka merasa bahwa kemampuannya dalam bermusik sangat dihargai baik pengunjung maupun pemilik cafe.
"Kayaknya pentas kita selama ini berhasil. Terbukti banyak pengunjung cafe selalu menantikan kehadiran pentas kita." ujar Edo penuh semangat.
"Iya. Ini patut kita syukuri bahwa kita bisa diberikan kesempatan untuk tampil di cafe tersebut." kata Sonny.
"Iya. Kita terus menerus ditunggu kehadirannya di cafe tersebut. Ini membuktikan bahwa kualitas kita kagak kaleng-kaleng. Kayaknya pak Ramon juga puas dengan perform kita. Terbukti kita sering dapat bonus setiap habis pentas." timpal Dito.
"Lalu langkah kita selanjutnya apa,Do? Apakah kita cukup puas dengan keadaan seperti ini?" tanya Denny.
"Ya enggak lah!! Masak cuma kayak gini terus. Kalo gue pengin punya mimpi agar kita bisa dikenali publik di tanah air bahwa kita bisa eksis di blantika musik Indonesia."
"Apakah mimpi lu kagak ketinggian,Do? Gue kagak yakin bisa tercapai. Karena untuk menuju ke sana butuh kerja keras." ujar Ringo ragu.
"Kenapa elu kok pesimis sih,Nggo? Kita harus optimis bahwa mimpi harus diwujudkan."
"Elu bener,Do! Gue setuju pendapat elu. Jika ingin maju, kita harus berani terima tantangan, bukan cuma statis." jelas Denny meyakinkan teman-temannya.
"Udah...kagak usah berdebat. Lebih baik untuk saat ini patut kita merayakan bersama kesuksesan ini. Hari ini kita enjoy saja." kata Edo.
"Maksudnya enjoy gimana,Do?." ujar Dito.
"Sebentar lagi bakal ada kiriman barang dari teman gue yang ada di luar kota. Kita bakal party bareng." ujar Edo.
"Barang apaan,Do?" tanya Sonny penasaran.
"Elu sebentar lagi bakal tahu."
Tak lama kemudian ada mobil model caravan berhenti di depan rumah kontrakan yang disewa Edo dan kawan-kawan. Saat itu ada 4 orang turun dari mobil tersebut dan menenteng tas koper berisi narkoba jenis sabu-sabu.
"Gimana, barangnya udah komplit?" tanya Edo kepada orang tersebut.
"Udah dong,Do!" jawab orang tersebut yang dipanggil Boy.
"Kalo gitu, saatnya party bareng dimulai!!!"
Edo kemudian membuka tas koper berisi sabu-sabu. Dia menunjukkan kepada Denny dam kawan-kawan.
"Gimana,oke kan barangnya?" kata Edo sambil memperlihatkan benda berwarna putih dibungkus plastik.
"Gile elu,Do!! Elu minta kita untuk nyabu?" kata Denny terkejut dengan barang yang dibawa Edo.
"Apa salahnya? Hari ini kita bersenang-senang mumpung ada kesempatan." ujar Edo sambil menghisap tabung berisi sabu-sabu.
"Wah....kalo gitu gue kagak ikutan,Do!!" tegas Denny.
"Gue juga sama dengan Denny. Gue kagak setuju jika acara party pake nyabu." ujar Sonny.
"Gue juga ogah,Do! Elu sendiri aja yang party. Mending gue cabut dari sini!" tegas Ringgo."
"Elu sendiri gimana,Dit?" tanya Edo.
"Gue juga sama kayak mereka. Gue kagak mau terlibat kasus kriminal." jawab Dito.
"Do, kalo elu masih denger omongan kita dan menganggap kita kawan elu, mending tinggalkan barang terkutuk tersebut! Ketimbang timbul masalah di kemudian hari." ujar Denny.
"Apakah elu lupa kita terikat kontrak dengan Cafe Elok. Dalam klausul kontrak tersebut jika kita terlibat kasus pidana, kita bisa diputusin kontraknya secara sepihak. Apakah elu lupa?" ujar Sonny.
"Ah....itu cuma akal-akalan dan gertakan pemilik cafe tersebut! Percaya deh ama gue! Kagak terjadi apa-apa. Kontrak kita aman."
"Ya udah,kalo elu kagak denger omongan kita berempat, mending kita segera cabut dari sini. Selamat tinggal!!" tegas Denny lalu pergi diikuti oleh Ringgo, Sonny,Dito.
"Wah.... dasar pengecut kalian!! Kalian berempat bukan cowok!!"
"Udah,kagak usah dipikirin. Mending gue temenin elu party sampe puas!!!" ujar Boy.
"Cuma elu yang ngerti gue,Boy!" ujar Edo sambil menghisap sabu-sabu dari kantong plastik.
Edo,Boy dan 3 kawannya benar-benar pesta sabu-sabu di rumah kontrakan tersebut.
.
Edo dan kawan-kawan juga merasa senang dan bahagia bisa tampil rutin di cafe tersebut. Mereka merasa bahwa kemampuannya dalam bermusik sangat dihargai baik pengunjung maupun pemilik cafe.
"Kayaknya pentas kita selama ini berhasil. Terbukti banyak pengunjung cafe selalu menantikan kehadiran pentas kita." ujar Edo penuh semangat.
"Iya. Ini patut kita syukuri bahwa kita bisa diberikan kesempatan untuk tampil di cafe tersebut." kata Sonny.
"Iya. Kita terus menerus ditunggu kehadirannya di cafe tersebut. Ini membuktikan bahwa kualitas kita kagak kaleng-kaleng. Kayaknya pak Ramon juga puas dengan perform kita. Terbukti kita sering dapat bonus setiap habis pentas." timpal Dito.
"Lalu langkah kita selanjutnya apa,Do? Apakah kita cukup puas dengan keadaan seperti ini?" tanya Denny.
"Ya enggak lah!! Masak cuma kayak gini terus. Kalo gue pengin punya mimpi agar kita bisa dikenali publik di tanah air bahwa kita bisa eksis di blantika musik Indonesia."
"Apakah mimpi lu kagak ketinggian,Do? Gue kagak yakin bisa tercapai. Karena untuk menuju ke sana butuh kerja keras." ujar Ringo ragu.
"Kenapa elu kok pesimis sih,Nggo? Kita harus optimis bahwa mimpi harus diwujudkan."
"Elu bener,Do! Gue setuju pendapat elu. Jika ingin maju, kita harus berani terima tantangan, bukan cuma statis." jelas Denny meyakinkan teman-temannya.
"Udah...kagak usah berdebat. Lebih baik untuk saat ini patut kita merayakan bersama kesuksesan ini. Hari ini kita enjoy saja." kata Edo.
"Maksudnya enjoy gimana,Do?." ujar Dito.
"Sebentar lagi bakal ada kiriman barang dari teman gue yang ada di luar kota. Kita bakal party bareng." ujar Edo.
"Barang apaan,Do?" tanya Sonny penasaran.
"Elu sebentar lagi bakal tahu."
Tak lama kemudian ada mobil model caravan berhenti di depan rumah kontrakan yang disewa Edo dan kawan-kawan. Saat itu ada 4 orang turun dari mobil tersebut dan menenteng tas koper berisi narkoba jenis sabu-sabu.
"Gimana, barangnya udah komplit?" tanya Edo kepada orang tersebut.
"Udah dong,Do!" jawab orang tersebut yang dipanggil Boy.
"Kalo gitu, saatnya party bareng dimulai!!!"
Edo kemudian membuka tas koper berisi sabu-sabu. Dia menunjukkan kepada Denny dam kawan-kawan.
"Gimana,oke kan barangnya?" kata Edo sambil memperlihatkan benda berwarna putih dibungkus plastik.
"Gile elu,Do!! Elu minta kita untuk nyabu?" kata Denny terkejut dengan barang yang dibawa Edo.
"Apa salahnya? Hari ini kita bersenang-senang mumpung ada kesempatan." ujar Edo sambil menghisap tabung berisi sabu-sabu.
"Wah....kalo gitu gue kagak ikutan,Do!!" tegas Denny.
"Gue juga sama dengan Denny. Gue kagak setuju jika acara party pake nyabu." ujar Sonny.
"Gue juga ogah,Do! Elu sendiri aja yang party. Mending gue cabut dari sini!" tegas Ringgo."
"Elu sendiri gimana,Dit?" tanya Edo.
"Gue juga sama kayak mereka. Gue kagak mau terlibat kasus kriminal." jawab Dito.
"Do, kalo elu masih denger omongan kita dan menganggap kita kawan elu, mending tinggalkan barang terkutuk tersebut! Ketimbang timbul masalah di kemudian hari." ujar Denny.
"Apakah elu lupa kita terikat kontrak dengan Cafe Elok. Dalam klausul kontrak tersebut jika kita terlibat kasus pidana, kita bisa diputusin kontraknya secara sepihak. Apakah elu lupa?" ujar Sonny.
"Ah....itu cuma akal-akalan dan gertakan pemilik cafe tersebut! Percaya deh ama gue! Kagak terjadi apa-apa. Kontrak kita aman."
"Ya udah,kalo elu kagak denger omongan kita berempat, mending kita segera cabut dari sini. Selamat tinggal!!" tegas Denny lalu pergi diikuti oleh Ringgo, Sonny,Dito.
"Wah.... dasar pengecut kalian!! Kalian berempat bukan cowok!!"
"Udah,kagak usah dipikirin. Mending gue temenin elu party sampe puas!!!" ujar Boy.
"Cuma elu yang ngerti gue,Boy!" ujar Edo sambil menghisap sabu-sabu dari kantong plastik.
Edo,Boy dan 3 kawannya benar-benar pesta sabu-sabu di rumah kontrakan tersebut.
.
Other Stories
Namaku Amelia
Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...
Separuh Dzrah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...