Kuraih Mimpiku

Reads
2K
Votes
3
Parts
24
Vote
Report
Penulis Agung Budi Prasetya

Bab 5 Edo Di-blacklist

Malam ini cafe milik Ramon beraktivitas seperti biasanya. Dan bandnya Edo juga mendapatkan kesempatan untuk tampil menghibur pengunjung cafe malam ini pukul 21.00.
Saat itu Ramon justru sangat gelisah yang tidak seperti biasanya. Karena saat itu Edo dan kawan-kawan belum juga muncul. Dan waktu telah menunjukkan pukul 20.30.
Untuk itu dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Edo. Tapi tidak mendapatkan respon sama sekali.
"Aneh!! Nggak seperti biasanya Edo dan kawan-kawan belum muncul hari ini!! Biasanya satu jam sebelum pentas mereka sudah datang untuk mempersiapkan diri. Apakah ada sesuatu yang terjadi kepada mereka sehingga belum datang malam ini?" gumam Ramon.
Kembali Ramon menghubungi ponselnya Edo. Tapi tidak ada respon dari yang bersangkutan. Itu yang membuat gusar Ramon karena jam pementasan semakin dekat. Sedangkan para pengunjung juga sudah mulai berdatangan untuk menonton aksi panggungnya Edo dan kawan-kawan.
Ramon benar-benar panik melihat situasi seperti ini. Apalagi waktu menunjukkan pukul 20.58. Dan para pengunjung sudah meneriakkan nama Edo sebagai vokalis utama dari band tersebut.
Untuk meredam agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,Ramon segera naik panggung dan mengambil mikrofon untuk menjelaskan situasi yang terjadi.
"Para pengunjung setia cafe ini. Terima kasih atas kehadirannya pada malam ini. Tentu semuanya tidak sabar untuk menantikan penampilan dari pengisi utama acara musik malam ini. Apakah betul?" ujar Ramon mencoba mencairkan suasana.
"Betullll!!!!" jawaban para pengunjung serempak seperti paduan suara.
"Malam ini ijinkan saya selaku pimpinan cafe memberikan penjelasan bahwa untuk saat ini yang ditunggu kehadirannya belum muncul. Saya sudah beberapa kali menghubungi, tapi tidak ada respon sama sekali. Untuk itu dengan sangat menyesal tidak bisa menghadirkan dan menampilkan mereka malam ini." jelas Ramon kepada pengunjung.
"Kami nggak mau tahu! Kami ingin Edo dan kawan-kawan tampil dan menghibur kami malam ini!! ketus salah satu pengunjung cafe.
"Iya betul!! Kami semua ingin Edo dan kawan-kawan tampil malam ini! Jika tidak, jangan salahkan kami jika berbuat yang tidak sopan!! ujar pengunjung cafe lainnya.
"Sabar. Jangan terburu emosi." ujar Ramon mencoba menenangkan pengunjung.
"Sabar gimana? Kami jauh-jauh datang kemari cuma dikecewakan seperti ini!"
"Ya.... betul!!!" jawab mereka serempak.
"Saya bisa mengerti kekecewaan semuanya yang hadir di sini. Sebagai kompensasi atas kejadian malam ini,maka semua pengunjung bisa makan dan minum di sini tidak dipungut biaya alias gratis. Ini wujud komitmen dan tanggung jawab kami selaku pengelola cafe."
Upaya dari Ramon untuk meredam emosi dan amukan pengunjung bisa berhasil. Para pengunjung cafe bisa menikmati sajian makanan dan minuman dari cafe tersebut. Setelah para pengunjung cafe pulang,Ramon memerintahkan anak buahnya untuk menutup cafe. Dia kemudian mengumpulkan anak buahnya untuk mendiskusikan kejadian yang terjadi malam ini.
"Ini sungguh di luar dugaan bahwa cafe kita akan mengalami situasi seperti ini. Apakah kalian mengetahui yang terjadi sehingga bisa seperti ini?" ujar Ramon kepada anak buahnya.
"Kami sungguh tidak tahu,Boss. Kami juga tidak menyangka akan terjadi peristiwa seperti ini."
"Edo juga tidak bisa dihubungi sama sekali. Apa yang terjadi dengan mereka? Coba kalian cari tahu informasi tentang mereka!!" tegas Ramon.
"Baik boss."

Setelah situasi mereda, cafe tersebut beraktivitas seperti biasanya. Para karyawan cafe tersebut melayani pengunjung seperti hari biasa.
Berita penyergapan di rumah kontrakan tersebut cepat menyebar dan viral di media sosial. Para karyawan cafe yang biasanya Edo dan kawan-kawan pentas ikut membicarakan. Saat itu mereka membaca berita dari sosial media lewat ponselnya. Mereka seakan tidak percaya dengan berita yang diperoleh di media sosial tersebut.
"Apakah betul itu yang tertangkap polisi adalah si Edo, penyanyi cafe kita ya?" tanya salah satu karyawan cafe bernama Arga tersebut.
"Aku juga nggak yakin,Ga!. Ini beneran atau cuma hoax?"
Ketika para karyawan cafe tersebut sedang membicarakan berita tersebut, terdengar oleh Ramon Lukito,boss cafe tersebut.
"Apa yang kalian bicarakan? Bukannya bekerja melayani tamu,malah ngerumpi!" kata Ramon Lukito dengan nada tinggi.
"Eh...boss! Ini kami dapat berita dari sosial media bahwa Edo, penyanyi cafe kita tertangkap polisi karena mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu."
"Apa? Yang bener aja,jangan asal bicara!"
"Ini buktinya,Boss!"
Ramon Lukito membaca berita dan mencermati dengan seksama. Lalu dia berkata kepada anak buahnya.
"Berita di sosmed itu kadang nyata, kadang cuma hoax. Jadi, kita nggak bisa langsung memvonis seseorang bersalah atau tidak."
"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menyikapinya,Bos?"
"Kita cek dan ricek saja kebenaran berita tersebut. Jika itu tidak benar, kita jangan memvonis Edo yang menjadi korban dari berita palsu."
"Gimana kalo berita itu benar, Boss?"
"Kalo berita itu benar, saya bersikap tegas,tak akan mentolerir seorang pecandu narkoba tampil di sini. Kita menjunjung citra agar cafe kita bersih dan tidak tercoreng oleh perilaku negatif. Meskipun dia sudah termasuk ikon cafe, kita, tapi jika perilakunya memalukan, terpaksa kita blacklist. Saya tidak mau cafe ini dijadikan tempat transaksi narkoba."
Pembicaraan mereka terdengar oleh ada salah satu karyawan bernama Anto yang baru saja datang di cafe tersebut.
"Berita tersebut nyata, bukan hoax!" ujar Anto.
"Kamu baru datang,Anto?" tanya Ramon kepada anak buahnya yang bernama Anto.
"Iya boss."
"Kamu itu niat kerja nggak sih? Hari ini baru datang"
"Maaf boss. Hari ini saya ingin menyampaikan laporan kepada boss."
"Ada apa? Apa maksud dari perkataan kamu tersebut? Apakah kamu melihat sesuatu yang ingin kamu laporkan ke saya?"
"Berkaitan dengan berita penyergapan Edo tersebut,Boss."
"Berita apa yang kamu peroleh hari ini?"
"Tadi saya mau berangkat ke sini, saya lewat rumah kontrakan yang biasanya dipakai mereka untuk latihan. Tapi anehnya, rumah tersebut kok sudah diberi garis polisi warna kuning."
"Kamu enggak salah lihat?" tanya Ramon penasaran.
"Beneran, saya tidak bohong. Dan ketika saya tanya ke warga sekitar, katanya ada penggrebekan polisi. Karena yang ada di dalam rumah tersebut sedang pesta narkoba. Jadi berita tersebut benar, bukan hoax." terang Anto.
"Apa kamu bilang? Rumah yang dipakai mereka untuk latihan beneran dipakai untuk pesta narkoba?"
"Iya boss. Lalu apa langkah kita, Boss?"
"Keputusan saya tetap seperti tadi saya omongkan ke kalian semua. Ini tidak bisa ditolerir. Mulai hari ini dan seterusnya dia di-blacklist, dilarang tampil di sini." ujar Ramon geram.
"Bagaimana nantinya jika cafe kita sepi,Boss? Jika di-blacklist di sini."
"Lebih baik kita kehilangan pelanggan, ketimbang kehilangan kredibilitas di mata publik. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin tempat ini bisa dipakai untuk transaksi narkoba. Apakah kalian bisa mengerti?"
"Mengerti boss"
"Sudah, kalian kembali bekerja."
Para karyawan cafe tersebut menjalani aktivitas seperti biasa.









Other Stories
Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

Hellend ( Noni Belanda )

Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...

Kala Kisah Menjadi Cahaya

seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Download Titik & Koma