Bab 11 Kasih Tak Sampai
Setelah masuk ke dalam kamar, Edo ingin tidur. Tapi anehnya, dia tidak bisa memejamkan mata. Dia selalu gelisah saat ingin tidur sampai mengganti posisi tidur, kadang telentang, kadang miring kanan, kadang miring kiri. Tapi tetap saja dia tidak bisa untuk memejamkan matanya.
Dia segera bangun dan bersandar pada tembok sambil memeluk selimut.
"Kenapa gue kagak bisa tidur malam ini? Apakah gue kepikiran ama Erika ya sehingga kagak bisa tidur?"
Edo masih merenung dan berimajinasi tentang sosok Erika, wanita sederhana yang bisa merebut pintu hatinya.
"Erika....Erika! Elu itu siapa sih? Apakah elu itu bidadari surga yang ditugaskan turun ke bumi sampe bikin gue klepek-klepek, kagak berdaya? Ah...ngaco nih gue!!! Sudah jelas kalo Erika itu manusia bukan bidadari surga. Harus gue akui bahwa Erika memiliki pesona yang kagak dimiliki cewek lain. Selain cantik,dia sangat lembut, perhatian ama gue dan kagak matre. Kayaknya gue sekarang beneran jatuh cinta kepadanya. Tapi gimana caranya gue ingin mengungkapkan perasaan gue bahwa gue suka ama elu?"
Edo terus-menerus membayangkan Erika. Tapi dia segera tersadar dari lamunannya tersebut ketika Erika memanggilnya untuk makan malam.
"Edo,ayo makan malam! Masakan sudah siap nih." tutur Erika mengajak Edo makan.
"Iya, aku akan keluar."
Edo segera keluar dari kamar untuk menuju ruang makan. Dia segera mengambil nasi kemudian ditaruh ke piring.
"Do, gimana masakan aku ini? Kayaknya nggak seenak yang kamu makan tadi siang bersama mama kamu."
"Kata siapa nggak enak?"
"Ya....kataku! Tadi siang kamu makan yang lezat sekali. Betul kan?"
"Sama aja."
"Sama gimana?"
"Enak atau enggaknya masakan tergantung koki yang memasak. Apalagi kalo kokinya tersebut sangat cantik dan murah senyum, pasti rasanya enak dan mengenyangkan." ujar Edo mencoba merayu.
"Prettt!!! Siapa koki cantik yang kamu maksud?"
"Ada deh....!!!"
"Ah....kamu itu!"
"Rik, malam ini kamu ada waktu nggak ya? Aku ingin ngomong sesuatu dengan kamu."
"Kamu mau ngomong apa,Do? Kenapa nggak di sini aja sih?"
"Rasanya kok nggak etis ngomongnya sambil makan."
"Iya deh! Nanti sehabis makan ya!"
Edo girang bukan main karena bisa ada kesempatan mengobrol dengan Erika dari hati ke hati. Selanjutnya Edo dan Erika segera menghabiskan makan malam bersama. Setelah selesai makan dan mencuci piring, Edo menemui Erika yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Rik, bolehkah aku duduk di sini?"
"Memang ada larangan untuk duduk di situ? Kalo mau duduk,ya duduk aja!"
"Kamu sedang menonton televisi,Rik?"
"Sudah tahu kok masih tanya."
"Oh...iya!" ujar Edo yang masih garuk-garuk kepala untuk mengatakan hal penting kepada Erika.
"Rik, boleh aku ngomong sesuatu?"
"Bukankah dari tadi kamu sudah ngomong?"
"Iya. Tapi aku bener-bener ingin ngomong sesuatu kepada kamu."
"Kalo mau ngomong, ngomong aja!"
"Anu Rik."
"Kok pake anu segala sih? Kamu itu sebenarnya mau ngomong apa? Dari tadi kok muter-muter terus ngomongnya."
"Itu yang aku bingung harus memulai darimana."
"Ngomong aja terus terang, nggak usah bertele-tele."
"Gitu ya,Rik?"
"Sekarang kamu mau ngomong apa?"
"Begini Rik. Aku mau bilang bahwa sesungguhnya aku......." Edo tidak jadi melanjutkan.
"Kenapa berhenti,Do? Tinggal ngomong kok susah banget sih!"
"Itu yang jadi persoalannya. Lidah aku terasa kaku ketika mau ngomong sesuatu."
"Sebaiknya kamu ambil nafas yang dalam. Setelah itu buang. Nanti kamu bisa tenang ngomongnya."
Edo kemudian melakukan yang diperintahkan oleh Erika.
"Aku sudah melakukan seperti yang kamu bilang."
"Sekarang kamu mau ngomong apa? Cepetan, aku sudah mengantuk nih!"
"Sesungguhnya anu,Rik!"
"Tuh....anu lagi!!"
"Oh iya,aku lupa."
"Dasar! Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih? Jangan bikin aku tambah bete!"
"Iya Rik. Sebenarnya yang aku ngomongin bersifat pribadi."
"Maksudnya apa,Do?"
"Iya, sifatnya pribadi banget. Ini tentang perasaan antara aku dan kamu."
"Ahu....aku ngantuk banget! Aku tidur dulu ya!"
"Sebentar,Rik! Aku minta waktu kamu 5 menit aja, nggak lebih."
"Lekas katakan!!"
"Sebenarnya sudah nggak sabar aku mau ngomong sesuatu yang sangat penting kepada kamu tentang perasaan kita berdua. Selama ini aku jujur dan mengakui bahwa kamu adalah orang yang sangat berarti dalam hidupku. Kamu adalah Dewi Penolongku di saat aku sedang dalam situasi depresi dan frustrasi. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku benar-benar jatuh cinta kepada kamu. Aku suka sama kamu. Kamu begitu lembut dan perhatian tersebut membuat hatiku tersentuh. Hari ini aku mengungkapkan segala isi hatiku. Gimana dengan kamu,Rik? Apakah kamu juga suka sama aku? Tolong jawab dengan jujur,Rik!"
Tidak ada respon dari Erika. Edo heran karena Erika tidak segera memberikan jawaban tentang perasaannya.
"Rik, kenapa kamu diam? Apakah kamu juga suka sama aku? Rik... Rik... Erika! Jaelah.... dari tadi gue ngomong panjang lebar sampe mulut gue berbusa, nggak tahunya elu tidur. Percuma deh gue ngomong!" tutur Edo jengkel.
Dia kemudian memilih untuk kembali ke kamarnya dan meninggalkan Erika yang tertidur di depan televisi.
Esok harinya, Edo sudah melihat Erika sudah berada di dapur. Dia kemudian mendekati Erika yang sedang menanak nasi. Dia berinisiatif mendekatinya.
"Rik, aku ingin menanyakan jawaban kamu tentang yang aku omongin semalam."
"Yang mana ya? Aku nggak dengar semalam kamu ngomong apa."
"Jelas aja nggak dengar. Aku ngomong panjang lebar, malah kamu tinggal tidur."
"Maaf, semalam aku ngantuk banget sehingga nggak dengar yang kamu omongin."
"Kalo gitu sekarang aku harus ngomong ke kamu tentang omongan aku semalam."
"Memangnya semalam kamu ngomong apa sampe aku dengar sama sekali?"
"Semalam aku ngomong tentang perasaan kita berdua selama ini. Jujur aja aku ingin bilang..."
"Nanti aja ngomongnya ya,Do! Aku takut masakan aku gosong. Setelah sarapan baru kamu bisa ngomong panjang lebar ke aku."
"Kenapa nggak sekarang aja sih,Rik?"
"Kamu lihat sendiri aku sedang memasak. Bisa-bisa aku nggak fokus memasaknya."
"Iya deh,aku mengalah!"
"Nah... gitu dong!"
Selanjutnya Erika meneruskan memasak hingga selesai. Setelah itu mereka berdua sarapan pagi. Setelah sarapan pagi selesai, Edo ingin melakukan obrolan yang tertunda.
"Rik, sekarang aku sudah bisa ngomong ke kamu kan?"
"Ya, ngomong aja! Kamu memangnya mau ngomong apa?"
"Sesungguhnya semalam aku sudah ngomong panjang lebar. Karena kamu nggak dengar,aku ulangi lagi yang aku omongin semalam."
"Sekarang apa yang ingin kamu omongin?"
"Rik, aku mau bilang bahwa sebenarnya sudah lama aku ini menyimpan perasaan aku kepada kamu. Aku menunggu kesempatan untuk bisa ngomong dari hati ke hati bahwa sekarang saatnya aku ingin mengungkapkan perasaan aku kepada kamu bahwa aku beneran suka sama kamu. Aku beneran jatuh cinta kepada kamu. Aku tak bisa membohongi perasaanku ini."
Erika mendengar yang diucapkan oleh Edo. Dia malah tertawa geli mendengarnya. Hal itu membuat gusar Edo tentang respon dari Erika.
"Kenapa kamu malah tertawa sih,Rik? Emang lucu ya?"
Erika tidak langsung menjawab pertanyaan dari Edo. Dia kemudian memegang keningnya Edo lalu mengatakan sesuatu.
"Kamu sedang nggak kesurupan kan,Do? Kamu nggak sedang mabuk kan? Kamu tadi ngomongnya dalam keadaan sadar kan?"
"Rik,aku serius nih! Kok kamu gitu sih responnya?"
"Ketimbang kamu ngomong ngelantur yang nggak jelas, mending kamu beraktivitas lagi. Aku mau ke dapur lagi untuk menyiapkan untuk makan siang ini"
Erika kemudian segera beranjak dari tempat duduk untuk menuju ke dapur menyiapkan hidangan untuk makan siang nanti. Tentu saja Edo merasa jengkel dengan yang dilakukan oleh Erika.
"Kenapa kok Erika responnya kayak gitu ya? Padahal gue udah mencoba mengungkap perasaan gue bahwa gue demen ama dia. Apa yang harus gue lakuin agar Erika mau membalas perasaan gue? Apakah Erika lebih suka ke action ketimbang mengumbar kata-kata? Kagak salahnya dicoba, siapa tahu berhasil."
Saat itu Edo berniat untuk lebih agresif dalam mengungkapkan perasaan cintanya kepada Erika. Dan malam itu setelah makan malam dia akan melakukan upaya dia agar berhasil.
Saat itu Erika kembali mengajak Edo makan malam. Saat makan tersebut, Edo sering kali memandang wajahnya Erika. Sadar dilihat oleh Edo, Erika menanyakan perilaku Edo tersebut.
"Kenapa kamu terus memandang aku terus,Do?"
"Rik, malam ini kamu cantik banget." kata Edo menggoda.
"Ya wajar karena aku cewek."
"Tapi kamu hari ini lain dari biasanya. Kamu terlihat seperti bidadari surga yang turun ke bumi."
"Uh..... gombal!!! Lebih baik kamu untuk makan, nggak usah mikirin yang lain."
"Kamu nggak sadar ya jika kamu itu sungguh cantik." kata Edo merayu.
"Aku mau cuci piring dulu. Kamu segera habisin makannya trus tidur agar besok pagi bisa segar."
Selesai makan, Erika menuju ke dapur untuk mencuci piring. Edo yang melihat Erika sedang mencuci piring, dia langsung memeluk tubuhnya Erika dari belakang. Sontak membuat Erika terkejut.
"Edo,kamu itu apa-apaan sih? Lepaskan aku,Edo!"
"Aku nggak akan melepaskan kamu. Kamu itu milikku sekarang dan selamanya." ucap Edo sambil mencium pipi Erika.
Hal itu tentu saja membuat Erika tidak senang. Dia langsung menampar wajah Edo dan mendampratnya.
"Edo,kamu sungguh kurang ajar! Kamu memang orang yang tak tahu diuntung. Yang telah kamu lakukan sungguh menjijikan."
"Erika, nggak usah munafik dan sok suci! Bukankah kamu suka hal seperti itu?"
"Edo, jaga ucapan kamu! Aku nggak serendah itu. Aku nggak suka dengan yang kamu lakukan tadi. Jangan diulangi lagi!" tegas Erika.
"Erika, bukankah kamu itu suka padaku? Kenapa kamu nggak mau terus terang? Kenapa kamu harus mengingkari hatimu yang beneran suka padaku?"
"Aku suka sama kamu? Pede banget kamu!"
"Kalo kamu nggak suka sama aku, kenapa selama ini kamu selalu baik kepadaku? Kenapa kamu menolongku saat aku mau bunuh diri? Kenapa juga kamu selalu mempedulikan aku? Bukankah itu karena cinta? Jawab dengan jujur!"
"Edo, ternyata kamu salah paham tentang tindakan aku selama ini. Aku melakukan semua itu atas dasar kemanusiaan, nggak lebih"
"Jika demikian, kenapa waktu itu kamu mencegah aku untuk bunuh diri? Padahal kita nggak saling kenal."
"Aku mencegah kamu untuk bunuh diri agar kamu nggak melakukan tindakan konyol. Dan aku nggak ada setitik pun perasaan cinta melakukan semuanya. Aku menolong kamu itu sudah sewajarnya sebagai umat manusia harus saling tolong menolong. Aku peduli sama kamu agar kamu bisa bangkit, nggak terpuruk, nggak putus asa dan patah semangat. Rupanya yang aku lakukan justru disalahartikan. Aku sungguh kecewa padamu,Edo!"
"Rik, aku beneran suka sama kamu. Aku ingin hidup dengan kamu. Tolong, jangan kamu tolak cintaku!"
"Pergi kamu dari hadapanku! Aku sungguh muak melihat tampang kamu!"
"Tapi Rik...."
"Pergi!!!" bentak Erika.
"Jika kamu mengusirku, aku harus tinggal dimana?"
"Itu bukan urusanku!" tegas Erika.
Erika kemudian langsung masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam. Edo mencoba untuk mengajak bicara, tapi tidak digubris. Edo kemudian pergi untuk menenangkan diri.
Dia segera bangun dan bersandar pada tembok sambil memeluk selimut.
"Kenapa gue kagak bisa tidur malam ini? Apakah gue kepikiran ama Erika ya sehingga kagak bisa tidur?"
Edo masih merenung dan berimajinasi tentang sosok Erika, wanita sederhana yang bisa merebut pintu hatinya.
"Erika....Erika! Elu itu siapa sih? Apakah elu itu bidadari surga yang ditugaskan turun ke bumi sampe bikin gue klepek-klepek, kagak berdaya? Ah...ngaco nih gue!!! Sudah jelas kalo Erika itu manusia bukan bidadari surga. Harus gue akui bahwa Erika memiliki pesona yang kagak dimiliki cewek lain. Selain cantik,dia sangat lembut, perhatian ama gue dan kagak matre. Kayaknya gue sekarang beneran jatuh cinta kepadanya. Tapi gimana caranya gue ingin mengungkapkan perasaan gue bahwa gue suka ama elu?"
Edo terus-menerus membayangkan Erika. Tapi dia segera tersadar dari lamunannya tersebut ketika Erika memanggilnya untuk makan malam.
"Edo,ayo makan malam! Masakan sudah siap nih." tutur Erika mengajak Edo makan.
"Iya, aku akan keluar."
Edo segera keluar dari kamar untuk menuju ruang makan. Dia segera mengambil nasi kemudian ditaruh ke piring.
"Do, gimana masakan aku ini? Kayaknya nggak seenak yang kamu makan tadi siang bersama mama kamu."
"Kata siapa nggak enak?"
"Ya....kataku! Tadi siang kamu makan yang lezat sekali. Betul kan?"
"Sama aja."
"Sama gimana?"
"Enak atau enggaknya masakan tergantung koki yang memasak. Apalagi kalo kokinya tersebut sangat cantik dan murah senyum, pasti rasanya enak dan mengenyangkan." ujar Edo mencoba merayu.
"Prettt!!! Siapa koki cantik yang kamu maksud?"
"Ada deh....!!!"
"Ah....kamu itu!"
"Rik, malam ini kamu ada waktu nggak ya? Aku ingin ngomong sesuatu dengan kamu."
"Kamu mau ngomong apa,Do? Kenapa nggak di sini aja sih?"
"Rasanya kok nggak etis ngomongnya sambil makan."
"Iya deh! Nanti sehabis makan ya!"
Edo girang bukan main karena bisa ada kesempatan mengobrol dengan Erika dari hati ke hati. Selanjutnya Edo dan Erika segera menghabiskan makan malam bersama. Setelah selesai makan dan mencuci piring, Edo menemui Erika yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Rik, bolehkah aku duduk di sini?"
"Memang ada larangan untuk duduk di situ? Kalo mau duduk,ya duduk aja!"
"Kamu sedang menonton televisi,Rik?"
"Sudah tahu kok masih tanya."
"Oh...iya!" ujar Edo yang masih garuk-garuk kepala untuk mengatakan hal penting kepada Erika.
"Rik, boleh aku ngomong sesuatu?"
"Bukankah dari tadi kamu sudah ngomong?"
"Iya. Tapi aku bener-bener ingin ngomong sesuatu kepada kamu."
"Kalo mau ngomong, ngomong aja!"
"Anu Rik."
"Kok pake anu segala sih? Kamu itu sebenarnya mau ngomong apa? Dari tadi kok muter-muter terus ngomongnya."
"Itu yang aku bingung harus memulai darimana."
"Ngomong aja terus terang, nggak usah bertele-tele."
"Gitu ya,Rik?"
"Sekarang kamu mau ngomong apa?"
"Begini Rik. Aku mau bilang bahwa sesungguhnya aku......." Edo tidak jadi melanjutkan.
"Kenapa berhenti,Do? Tinggal ngomong kok susah banget sih!"
"Itu yang jadi persoalannya. Lidah aku terasa kaku ketika mau ngomong sesuatu."
"Sebaiknya kamu ambil nafas yang dalam. Setelah itu buang. Nanti kamu bisa tenang ngomongnya."
Edo kemudian melakukan yang diperintahkan oleh Erika.
"Aku sudah melakukan seperti yang kamu bilang."
"Sekarang kamu mau ngomong apa? Cepetan, aku sudah mengantuk nih!"
"Sesungguhnya anu,Rik!"
"Tuh....anu lagi!!"
"Oh iya,aku lupa."
"Dasar! Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih? Jangan bikin aku tambah bete!"
"Iya Rik. Sebenarnya yang aku ngomongin bersifat pribadi."
"Maksudnya apa,Do?"
"Iya, sifatnya pribadi banget. Ini tentang perasaan antara aku dan kamu."
"Ahu....aku ngantuk banget! Aku tidur dulu ya!"
"Sebentar,Rik! Aku minta waktu kamu 5 menit aja, nggak lebih."
"Lekas katakan!!"
"Sebenarnya sudah nggak sabar aku mau ngomong sesuatu yang sangat penting kepada kamu tentang perasaan kita berdua. Selama ini aku jujur dan mengakui bahwa kamu adalah orang yang sangat berarti dalam hidupku. Kamu adalah Dewi Penolongku di saat aku sedang dalam situasi depresi dan frustrasi. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku benar-benar jatuh cinta kepada kamu. Aku suka sama kamu. Kamu begitu lembut dan perhatian tersebut membuat hatiku tersentuh. Hari ini aku mengungkapkan segala isi hatiku. Gimana dengan kamu,Rik? Apakah kamu juga suka sama aku? Tolong jawab dengan jujur,Rik!"
Tidak ada respon dari Erika. Edo heran karena Erika tidak segera memberikan jawaban tentang perasaannya.
"Rik, kenapa kamu diam? Apakah kamu juga suka sama aku? Rik... Rik... Erika! Jaelah.... dari tadi gue ngomong panjang lebar sampe mulut gue berbusa, nggak tahunya elu tidur. Percuma deh gue ngomong!" tutur Edo jengkel.
Dia kemudian memilih untuk kembali ke kamarnya dan meninggalkan Erika yang tertidur di depan televisi.
Esok harinya, Edo sudah melihat Erika sudah berada di dapur. Dia kemudian mendekati Erika yang sedang menanak nasi. Dia berinisiatif mendekatinya.
"Rik, aku ingin menanyakan jawaban kamu tentang yang aku omongin semalam."
"Yang mana ya? Aku nggak dengar semalam kamu ngomong apa."
"Jelas aja nggak dengar. Aku ngomong panjang lebar, malah kamu tinggal tidur."
"Maaf, semalam aku ngantuk banget sehingga nggak dengar yang kamu omongin."
"Kalo gitu sekarang aku harus ngomong ke kamu tentang omongan aku semalam."
"Memangnya semalam kamu ngomong apa sampe aku dengar sama sekali?"
"Semalam aku ngomong tentang perasaan kita berdua selama ini. Jujur aja aku ingin bilang..."
"Nanti aja ngomongnya ya,Do! Aku takut masakan aku gosong. Setelah sarapan baru kamu bisa ngomong panjang lebar ke aku."
"Kenapa nggak sekarang aja sih,Rik?"
"Kamu lihat sendiri aku sedang memasak. Bisa-bisa aku nggak fokus memasaknya."
"Iya deh,aku mengalah!"
"Nah... gitu dong!"
Selanjutnya Erika meneruskan memasak hingga selesai. Setelah itu mereka berdua sarapan pagi. Setelah sarapan pagi selesai, Edo ingin melakukan obrolan yang tertunda.
"Rik, sekarang aku sudah bisa ngomong ke kamu kan?"
"Ya, ngomong aja! Kamu memangnya mau ngomong apa?"
"Sesungguhnya semalam aku sudah ngomong panjang lebar. Karena kamu nggak dengar,aku ulangi lagi yang aku omongin semalam."
"Sekarang apa yang ingin kamu omongin?"
"Rik, aku mau bilang bahwa sebenarnya sudah lama aku ini menyimpan perasaan aku kepada kamu. Aku menunggu kesempatan untuk bisa ngomong dari hati ke hati bahwa sekarang saatnya aku ingin mengungkapkan perasaan aku kepada kamu bahwa aku beneran suka sama kamu. Aku beneran jatuh cinta kepada kamu. Aku tak bisa membohongi perasaanku ini."
Erika mendengar yang diucapkan oleh Edo. Dia malah tertawa geli mendengarnya. Hal itu membuat gusar Edo tentang respon dari Erika.
"Kenapa kamu malah tertawa sih,Rik? Emang lucu ya?"
Erika tidak langsung menjawab pertanyaan dari Edo. Dia kemudian memegang keningnya Edo lalu mengatakan sesuatu.
"Kamu sedang nggak kesurupan kan,Do? Kamu nggak sedang mabuk kan? Kamu tadi ngomongnya dalam keadaan sadar kan?"
"Rik,aku serius nih! Kok kamu gitu sih responnya?"
"Ketimbang kamu ngomong ngelantur yang nggak jelas, mending kamu beraktivitas lagi. Aku mau ke dapur lagi untuk menyiapkan untuk makan siang ini"
Erika kemudian segera beranjak dari tempat duduk untuk menuju ke dapur menyiapkan hidangan untuk makan siang nanti. Tentu saja Edo merasa jengkel dengan yang dilakukan oleh Erika.
"Kenapa kok Erika responnya kayak gitu ya? Padahal gue udah mencoba mengungkap perasaan gue bahwa gue demen ama dia. Apa yang harus gue lakuin agar Erika mau membalas perasaan gue? Apakah Erika lebih suka ke action ketimbang mengumbar kata-kata? Kagak salahnya dicoba, siapa tahu berhasil."
Saat itu Edo berniat untuk lebih agresif dalam mengungkapkan perasaan cintanya kepada Erika. Dan malam itu setelah makan malam dia akan melakukan upaya dia agar berhasil.
Saat itu Erika kembali mengajak Edo makan malam. Saat makan tersebut, Edo sering kali memandang wajahnya Erika. Sadar dilihat oleh Edo, Erika menanyakan perilaku Edo tersebut.
"Kenapa kamu terus memandang aku terus,Do?"
"Rik, malam ini kamu cantik banget." kata Edo menggoda.
"Ya wajar karena aku cewek."
"Tapi kamu hari ini lain dari biasanya. Kamu terlihat seperti bidadari surga yang turun ke bumi."
"Uh..... gombal!!! Lebih baik kamu untuk makan, nggak usah mikirin yang lain."
"Kamu nggak sadar ya jika kamu itu sungguh cantik." kata Edo merayu.
"Aku mau cuci piring dulu. Kamu segera habisin makannya trus tidur agar besok pagi bisa segar."
Selesai makan, Erika menuju ke dapur untuk mencuci piring. Edo yang melihat Erika sedang mencuci piring, dia langsung memeluk tubuhnya Erika dari belakang. Sontak membuat Erika terkejut.
"Edo,kamu itu apa-apaan sih? Lepaskan aku,Edo!"
"Aku nggak akan melepaskan kamu. Kamu itu milikku sekarang dan selamanya." ucap Edo sambil mencium pipi Erika.
Hal itu tentu saja membuat Erika tidak senang. Dia langsung menampar wajah Edo dan mendampratnya.
"Edo,kamu sungguh kurang ajar! Kamu memang orang yang tak tahu diuntung. Yang telah kamu lakukan sungguh menjijikan."
"Erika, nggak usah munafik dan sok suci! Bukankah kamu suka hal seperti itu?"
"Edo, jaga ucapan kamu! Aku nggak serendah itu. Aku nggak suka dengan yang kamu lakukan tadi. Jangan diulangi lagi!" tegas Erika.
"Erika, bukankah kamu itu suka padaku? Kenapa kamu nggak mau terus terang? Kenapa kamu harus mengingkari hatimu yang beneran suka padaku?"
"Aku suka sama kamu? Pede banget kamu!"
"Kalo kamu nggak suka sama aku, kenapa selama ini kamu selalu baik kepadaku? Kenapa kamu menolongku saat aku mau bunuh diri? Kenapa juga kamu selalu mempedulikan aku? Bukankah itu karena cinta? Jawab dengan jujur!"
"Edo, ternyata kamu salah paham tentang tindakan aku selama ini. Aku melakukan semua itu atas dasar kemanusiaan, nggak lebih"
"Jika demikian, kenapa waktu itu kamu mencegah aku untuk bunuh diri? Padahal kita nggak saling kenal."
"Aku mencegah kamu untuk bunuh diri agar kamu nggak melakukan tindakan konyol. Dan aku nggak ada setitik pun perasaan cinta melakukan semuanya. Aku menolong kamu itu sudah sewajarnya sebagai umat manusia harus saling tolong menolong. Aku peduli sama kamu agar kamu bisa bangkit, nggak terpuruk, nggak putus asa dan patah semangat. Rupanya yang aku lakukan justru disalahartikan. Aku sungguh kecewa padamu,Edo!"
"Rik, aku beneran suka sama kamu. Aku ingin hidup dengan kamu. Tolong, jangan kamu tolak cintaku!"
"Pergi kamu dari hadapanku! Aku sungguh muak melihat tampang kamu!"
"Tapi Rik...."
"Pergi!!!" bentak Erika.
"Jika kamu mengusirku, aku harus tinggal dimana?"
"Itu bukan urusanku!" tegas Erika.
Erika kemudian langsung masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam. Edo mencoba untuk mengajak bicara, tapi tidak digubris. Edo kemudian pergi untuk menenangkan diri.
Other Stories
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...
Susan Ngesot Reborn
Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...