Kuraih Mimpiku

Reads
2K
Votes
3
Parts
24
Vote
Report
Penulis Agung Budi Prasetya

Bab 7 Edo Depresi

Setelah gagal membujuk Sonny serta keinginan untuk menyanyi di Cafe Elok ditolak oleh pemiliknya , Edo justru tidak pulang ke rumah. Dia malah jalan-jalan menghabiskan waktu malam dengan duduk di bangku di sebuah taman.
Meskipun penuh dengan hingar bingar suara kendaraan yang lalu lalang, justru hatinya merasa kesepian. Sekarang dia merasa sendiri setelah semua temannya menjauh darinya.
"Sekarang apa yang bisa gue lakuin untuk saat ini? Sekarang temen-temen gue sudah ninggalin gue sendirian. Gue kagak tahu bisa seperti ini." gumam Edo.
Saat itu cuaca malam itu sangat dingin. Edo kemudian mencari tempat untuk sekedar bisa menghalau dinginnya udara malam. Dia memilih sebuah gardu kosong sebagai tempat untuk berteduh agar tidak terkena udara malam yang dingin secara langsung. Karena merasa sudah capek dan mengantuk sehingga Edo tertidur di gardu tersebut.
Esoknya dia sudah terbangun karena sudah mulai pagi hari. Banyak orang sudah mulai beraktivitas seperti biasanya. Dia kemudian bergegas untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Ketika sudah sampai di depan pintu pagar rumah, dia menengok suasana di dalam sepi. Mobil papanya sudah ada di depan rumah untuk dipakai untuk bekerja.
Ketika itu terlihat Yusuf, sopir pribadi papanya keluar dari garasi rumah untuk memanaskan mesin mobil. Edo kemudian segera memanggilnya.
"Pak Yusuf.....pak Yusuf!!" Edo memanggilnya.
Yusuf mencari sumber suara yang memanggil namanya. Setelah sudah mengetahui sumber suara, segera mendatangi yang tak lain adalah Edo, putra majikannya. Dia segera mendatangi Edo yang berdiri di depan pintu pagar rumah.
"Lho....mas Edo!!" kata Yusuf berseru karena terkejut.
"Iya. Ini saya pak Yusuf."
"Sudah lama berdiri di luar?"
"Lumayan. Papa dan mama ada, Pak Yusuf?"
"Ada mas."
"Tolong,buka pintunya! Saya ingin ketemu papa dan mama."
"Baik mas."
Yusuf segera membuka pintu pagar rumah. Edo kemudian masuk ke dalam rumah. Dia langsung menuju ke ruang makan, tempat papa dan mamanya biasanya duduk untuk sarapan pagi.
"Pagi,Pa,Ma!" sapa Edo kepada orang tuanya.
"Pagi sayang." sapa Vita, ibunya Edo.
"Kamu masih ingat pulang ke rumah!" seru Johan, papanya Edo.
"Lho....kok papa gitu sih? Bukannya senang anaknya pulang ke rumah. Malah sambutannya sinis kayak gitu." ujar Vita.
"Memangnya kenapa papa bersikap seperti ini?"
"Edo barusan pulang ke rumah. Nggak sepatutnya papa bersikap seperti itu!" protes Vita kepada suaminya.
"Lalu papa harus bersikap manis dan lembut kepada dia! Apakah seperti itu?" ujar Johan.
"Ya...iyalah! Anaknya pulang ke rumah kok nggak senang sih."
"Papa nggak merasa punya anak kayak dia. Dia sudah bikin malu keluarga kita. Lebih baik dia nggak usah ada di rumah ini."
"Papa!" seru Vita terkejut ucapan suaminya.
"Sudahlah,Ma! Kayaknya Edo sudah nggak dianggap lagi di rumah ini. Lebih baik Edo pergi saja!" ujar Edo lalu membalikkan badannya.
"Edo,tunggu!! Kamu jangan pergi!! Biar mama bicara sama papa kamu."
"Mama nggak usah membela dia. Itu semua salah mama yang selalu memanjakan dia sehingga kayak gitu. Perilaku dia sudah bikin malu kita." tegas Johan kepada istrinya.
"Papa menyalahkan mama? Padahal papa juga salah dalam hal ini."
"Papa salah dimana? Kok papa juga ikut salah."
"Papa terlalu sibuk dengan urusan perusahaan. Nggak pernah peduli dengan yang terjadi di dalam keluarga."
"Sudahlah,papa... mama! Rasanya Edo sudah nggak dikehendaki di rumah ini. Lebih baik Edo pergi dari sini."
"Itu lebih baik. Kehadiran kamu di sini cuma bikin musibah di rumah ini."
"Mama dengar sendiri ucapan papa barusan."
"Nggak usah didengerin omongan papa kamu. Lebih baik kamu mandi dan sarapan."
"Jangan kasih dia makan,Mama!"
"Papa kok kejam banget sama anaknya sendiri."
"Papa menyesal punya anak seperti dia."
"Mohon maaf papa. Bukan berarti Edo berani sama papa. Tapi ucapan papa mengisyaratkan bahwa merasa papa malu mengakui Edo sebagai anak."
"Betul. Papa menyesal telah melahirkan kamu."
"Edo nggak pernah minta dilahirkan. Jika papa menyesal, berarti papa sudah mengingkari kehendak Tuhan. Karena Edo lahir di dunia ini kehendak Tuhan."
"Apa katamu? Sudah berani membantah papa. Dasar anak kurang ajar!!" bentak Johan sambil menampar wajah Edo.
"Tampar lagi!!! Tampar lagi!! Jika itu bisa membuat papa puas!" seru Edo.
"Pergi!! Jangan kembali ke rumah ini!!"
"Papa, istighfar!! Jangan emosi!!"
"Sudahlah, nggak ada artinya mama berkata seperti itu. Papa itu orang yang tak pernah punya salah, nggak bisa salah,dan tak mau disalahkan."
"Diam!! Lebih baik kamu pergi dari sini! Aku muak lihat muka kamu!"
"Baik. Edo akan pergi dari sini!" ketus Edo.
Edo kemudian membalikkan badannya untuk pergi. Baru beberapa langkah, Johan langsung menahannya.
"Tunggu!!" seru Johan.
Edo membalikkan badannya menghadap ke ayahnya.
"Sebelum kamu pergi, tinggalkan fasilitas yang papa berikan ke kamu termasuk kartu kredit,ATM dan lainnya.
"Papa, kenapa papa melakukan hal itu kepada Edo? Ingat, cuma Edo
anak kita satu-satunya. Jangan sampai menyesal nantinya."
"Papa tak akan menyesal."
"Baik, jika itu maunya papa! Ini semuanya Edo kembalikan!" ujar Edo lalu pergi.
Edo kemudian pergi meninggalkan papa dan mamanya.
"Mama nggak menyangka papa bersikap seperti itu!" ujar Vita lalu menyusul Edo.
Vita menyusul Edo lalu berkata kepada putranya tersebut.
"Edo, jangan kamu masukkan dalam hati ucapan papa kamu. Papa kamu cuma emosi."
"Sudahlah, mama nggak usah memikirkan Edo. Edo akan pergi agar rumah ini bisa tenang."
"Kamu tega meninggalkan mama,Edo?"
"Maafkan Edo. Edo harus menentukan sikap. Edo harus pergi."
Vita hanya bisa menonton melihat putranya pergi meninggalkannya.

Edo setelah pergi dari rumah, merasa sangat depresi karena harus dimusuhi banyak orang. Teman-temannya sudah menjauh darinya. Kini keluarga terutama papanya juga ingin memusuhi bahkan tega mengusirnya.





Other Stories
Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...

Aroma Kebahagiaan Di Dapur

Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...

Perpustakaan Berdarah

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Download Titik & Koma