Kuraih Mimpiku

Reads
2K
Votes
3
Parts
24
Vote
Report
Penulis Agung Budi Prasetya

Bab 9 Pembelajaran Awal Erika Kepada Edo

Setelah terusir dari rumah orangtuanya serta terbebas dari percobaan bunuh diri, Edo menjalani hidup dengan tinggal bersama Erika. Wanita tersebut yang telah menyelamatkan nyawanya dari tindakan konyol yang dilakukannya.
Selanjutnya Edo harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang selama ini belum pernah dirasakannya. Dia harus bangun pagi sebagai suatu kebiasaan atau rutinitas. Untuk bisa mandi, dia harus menimba air dari sumur kemudian dimasukkan ke dalam bak mandi. Dia juga harus mencuci pakaian sendiri. Ini yang sebelumnya tidak dilakukan.
Selama ini dia selalu dimanjakan fasilitas kemewahan yang ada di rumah orangtuanya. Bahkan untuk mandi, dia tinggal menggunakan peralatan shower yang terpasang di kamar mandi.
Ketika itu dia sudah selesai mandi. Erika mengajaknya untuk sarapan pagi.
"Kamu masak sendiri,Rik?" tanya Edo kepada Erika.
"Lha iya. Memang di rumah ini ada siapa lagi? Kan cuma kita berdua, nggak ada yang lain."
"Wah.... hebat kamu!"
"Hebat apanya?"
"Kamu bisa mandiri, melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan serta tergantung pada orang lain. Beda dengan aku yang selalu tergantung pada orang lain di sekitarnya."
"Suatu saat kamu juga akan mengalami situasi seperti ini. Di saat kamu harus hidup sendiri,mau nggak mau kamu harus melakukan sesuatu agar bisa bertahan hidup. Sudah, lebih baik kamu makan, nggak usah berpikir yang macam-macam!"
"Iya deh,maaf."
"Do, nanti selesai makan,kamu bisa nggak bantu aku?"
"Apa yang bisa aku bantu,Rik?"
"Nanti aja setelah selesai makan."
"Oke."
Setelah selesai makan, Edo memenuhi janji untuk membantu Erika. Saat itu Erika mengajaknya ke belakang rumah dan memintanya untuk membelah kayu.
"Do,kamu coba membelah kayu itu menjadi 4 bagian. Setelah itu dikumpulkan menjadi kayu bakar untuk memasak."
"Aku disuruh membelah kayu itu,Rik?"
"Kenapa? Nggak mau?"
"Bukannya nggak mau. Tapi aku nggak terbiasa melakukan pekerjaan seperti itu."
"Saatnya kamu untuk membiasakan diri dalam situasi dan kondisi seperti ini. Karena suatu saat jika kamu mengalami situasi seperti ini tidak merasa kaget."
"Baiklah,aku coba."
"Nah.... begitu dong! Itu kapaknya yang dipakai untuk membelah kayu."
Edo kemudian mengambil kapak untuk membelah kayu. Karena belum terbiasa sehingga cara memegang kapak juga terlihat kaku. Saat kayu tersebut akan dibelah justru kayu tersebut malah terpelanting jauh. Erika yang menyaksikan kejadian tersebut tertawa terpingkal-pingkal.
"Kamu belum pernah ya membelah kayu untuk dijadikan kayu bakar?"
"Ya belum. Ini baru pertama kali melakukannya."
"Sini,aku ajari caranya agar kayu tak terpelanting jauh."
Erika kemudian memperagakan cara membelah kayu bakar yang digunakan untuk masak. Edo mencoba untuk melakukan, tapi masih gagal. Akhirnya, Erika melakukan sendiri dalam membelah kayu tersebut. Setelah semua sudah terbelah, kayu tersebut dikumpulkan untuk nantinya akan dijadikan kayu bakar untuk memasak.
Sementara malam itu Edo sedang istirahat di kamar setelah kecapekan membelah kayu. Ketika dia sedang istirahat tersebut, ponselnya berdering. Dia melihat dari layar monitor bahwa yang melakukan pemanggilan itu adalah mamanya. Dia pun segera mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Hallo ma. Ada apa kok telepon Edo?"
"Gimana kabarmu, Sayang? Mama benar-benar khawatir sama kamu."
"Edo baik-baik saja. Mama nggak perlu khawatir."
"Kamu sekarang berada dimana? Biar mama mencari kamu dan membawa kamu pulang ke rumah."
"Edo sekarang berada di suatu tempat yang mama nggak perlu tahu tempat tersebut. Dan Edo merasa nyaman berada di sini."
"Apakah kamu nggak ingin pulang? Kamu nggak kangen sama mama?"
"Edo jelas kangen banget sama mama. Mama adalah orang yang paling Edo sayangi."
"Kalo kamu sayang sama mama, kenapa nggak mau pulang?"
"Belum saatnya Edo untuk pulang,Ma! Karena situasi nggak memungkinkan bagi Edo untuk pulang."
"Apakah karena papa kamu, Sayang?"
"Nggak perlu Edo ngomong,mama pasti sudah paham."
"Kamu nggak seharusnya bersikap seperti itu. Omongan papa kamu jangan kamu masukkan dalam hati."
"Nggak ma. Untuk apa Edo menikmati semuanya tapi hati Edo nggak bahagia?Lebih baik hidup jadi gelandangan ketimbang berlimpah kemewahan tapi seperti di neraka."
"Jangan ngomong gitu, Sayang! Itu nggak baik sebab ucapan bisa menjadi doa."
"Iya ma."
"Trus apa yang ingin kamu lakukan untuk saat ini?
"Edo sudah bertekad untuk bisa meraih kesuksesan dari keringat Edo sendiri. Dan Edo ingin membuktikan bahwa tanpa fasilitas yang diberikan papa, Edo masih bisa hidup."
"Ya udah kalo gitu. Kamu harus jaga diri ya!"
"Iya ma."
"Nanti kalo ada waktu mama akan menyempatkan diri untuk ketemu sama kamu. Sudah dulu ya, Sayang!"
"Iya ma. Selamat malam."
Setelah selesai telepon, Edo meletakkan ponselnya di meja dekat tempat tidurnya. Alangkah terkejutnya dia saat mengetahui Erika sudah berdiri di depannya.
"Eh.... sudah lama kamu berdiri di situ?"
"Belum lama kok."
"Kenapa nggak masuk aja?"
"Aku mau masuk, nggak enak kamu sedang telepon. Nanti dikira aku nguping pembicaraan kamu."
"Itu tadi mama aku yang telepon."
"Oh... gitu! Kayaknya mama kamu perhatian banget sama kamu."
"Selain kamu, hanya mama yang peduli sama aku."
"Ya udah, ini sudah malam. Sebaiknya kamu segera tidur supaya besok bangunnya nggak kesiangan. Ini selimut supaya kamu nggak kedinginan."
"Terima kasih ya,Rik!"
"Sama-sama."
Edo menerima selimut dari Erika. Dia kemudian mulai merebahkan tubuhnya untuk tidur.







Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Download Titik & Koma