Kuraih Mimpiku

Reads
2K
Votes
3
Parts
24
Vote
Report
Penulis Agung Budi Prasetya

Bab 12 Penyesalan Edo

Setelah pergi dari rumah Erika, Edo mengungkapkan kekesalannya karena cintanya tidak ditanggapi oleh Erika. Untuk melampiaskan kekesalannya tersebut, dia masuk ke sebuah bar. Dia memesan minuman beralkohol yang berkadar tinggi. Dia menenggak minuman alkohol tersebut sebanyak 3 botol sehingga mabuk berat.
Dalam keadaan mabuk tersebut,dia mengumpat terus tanpa henti.
"Erika, kenapa sih elu menolak cinta gue? Apa kekurangan gue sampe elu menolaknya?"
Edo terus menerus mengumpat sambil menuangkan minuman alkohol ke dalam gelasnya.
"Erika,gue beneran sayang ama elu. Gue kagak bisa hidup tanpa elu. Jangan elu tolak cinta gue!"
Setelah menenggak minuman beralkohol tersebut sebanyak 3 botol, dia langsung tertidur dengan kepala bersandar pada meja di depannya. Saat itu dia terkejut ketika pelayan bar membangunkannya.
"Permisi mas."
"Ada apa elu ngganggu gue? Pergi sono!" ujar Edo mengusir pelayan bar tersebut.
"Mohon maaf mas. Bar sudah mau tutup. Silahkan mas pulang."
"Pulang? Pulang kemane?"
"Ya.... pulang ke rumah!"
"Gue kagak punya rumah!" ucapnya Edo yang masih dalam keadaan mabuk.
"Kalo begitu, silahkan tinggalkan tempat ini. Karena sudah mau tutup. Ini sudah jam 12 malam."
Akhirnya Edo dalam keadaan sempoyongan keluar dari bar. Dia berjalan tak tentu arah, tanpa tujuan pasti. Merasa sudah capek,dia kemudian tidur di emperan toko.
Saat itu dia terkejut karena dibangunkan oleh tukang parkir yang bertugas di depan toko tersebut.
"Heh....bangun... bangun....bangun!! Ini udah siang. Gari gini masih molor!!" ucap tukang parkir tersebut
Edo segera membuka matanya bahwa saat itu memang sudah terang karena sudah jam 6 pagi. Dia kemudian mencari air mineral untuk membasuh mukanya. Dia kemudian kembali untuk menemui Erika.
Ketika sampai di depan rumah Erika, dia melihat Erika sedang menyapu halaman rumah. Dia mendekati wanita tersebut.
"Rik, aku mau ngomong sama kamu."
Ucapan Edo sama sekali tidak ditanggapi oleh Erika yang masih menyapu halaman depan rumah.
"Rik,aku beneran suka sama kamu. Aku benar-benar sayang sama kamu. Aku nggak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku suka kamu ketika pertama kali ketemu. Kamu itu wanita yang istimewa di mataku. Kamu bukan tipe cewek matre. Sebaliknya, kamu cewek yang punya kepribadian. Itu yang membuat aku kagum dan tergila-gila kepada kamu."
Ucapan Edo kembali tidak direspon oleh Edo. Saat itu Edo membalikkan badannya Erika, dia berkata lagi kepada Erika.
"Rik, masihkah kamu menolak cintaku?"
Saat itu Erika mencium bau alkohol yang menyengat dari mulut Edo. Dia lalu mengatakan kepada Edo.
"Edo,kamu mabuk lagi ya?"
"Siapa yang mabuk,Rik? Aku nggak mabuk."
"Nggak usah bohong. Mulut kamu bau alkohol."
"Masak sih?"
"Kamu cium sendiri bau mulut kamu, pasti ada aroma alkohol!"
Edo kemudian membuka mulut dan mengeluarkan bau dari mulutnya, tangan kanannya diletakkan di depan mulut. Seketika dia mencium aroma alkohol yang belum hilang dari mulutnya.
"Iya, kamu benar. Aku semalam mabuk berat. Dan aku mabuk karena memikirkan kamu."
"Ternyata kamu nggak berubah sama sekali. Kamu tetap keras kepala, nggak mau menerima masukan yang positif. Percuma selama ini aku memberikan nasehat dan bimbingan kepada kamu. Setelah ini terserah kamu. Kamu ingin berubah atau tetap seperti ini! Aku sudah nggak peduli lagi!" tegas Erika yang langsung masuk ke rumah.
Edo yang mencoba mengikutinya masuk ke rumah,tapi ditahan. Edo kemudian merenung dan menyadari bahwa yang dilakukannya tersebut sangat keliru. Karena melampiaskan kekesalannya dengan menenggak minuman alkohol bukan sebuah solusi, tapi menimbulkan masalah baru.
"Rik, ucapan barusan tadi menyadarkan gue bahwa menenggak minuman keras bukan solusi. Justru menimbulkan masalah baru bagi gue. Gue janji akan berubah supaya elu kagak kecewa sama gue."
Selanjutnya Edo pergi meninggalkan rumah Erika, mencari tempat yang sepi untuk menenangkan diri sekaligus instrospeksi terhadap perilakunya tersebut. Sementara waktu dia tinggal di rumah kosong. Malam itu dia merenung terhadap perilaku yang tidak seharusnya dilakukan sehingga Erika membencinya.
"Gue heran, kenapa gue bisa melakukan hal tersebut? Kemana akal sehat gue sampe berbuat seperti itu? Pantesan sekarang Erika benci ama gue setelah melihat kelakuan gue. Apalagi gue datengin dia dalam keadaan bau alkohol. Sekarang apa yang harus gue lakuin untuk menebus kesalahan gue?" gumam Edo.
Setelah merenungkan diri terhadap perilakunya tersebut, Edo berniat untuk mendatangi rumah Erika sekaligus meminta maaf.
"Besok pagi gue harus mendatangi rumahnya dan meminta maaf secara langsung agar dia semakin kagak benci ama gue. Semoga ini bisa memperbaiki hubungan gue ama dia."
Setelah memikirkan hal tersebut,dia pergi tidur agar besok bisa bangun pagi dan menemui Erika lagi.
Fajar pagi menyingsing Edo sudah bangun dari tidurnya. Setelah itu dia segera bergegas menuju rumah Erika. Dia berniat melakukan rencananya tersebut.
Begitu sampai di rumah Erika, dia terkejut karena melihat rumah Erika terlihat sepi. Pintu rumahnya tertutup rapat. Dia kemudian mendatangi rumah tersebut.
"Rik....Rik.....!! Bukakan pintunya! Aku mau ngomong penting sama kamu." ucap Edo mengetuk pintu rumahnya Erika.
Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam rumah. Dia heran rumah Erika sepi dan tidak ada respon saat dirinya mengetuk pintu rumahnya.
"Kagak biasanya rumah ini sepi. Kemana perginya Erika? Tumben rumahnya tertutup rapat. Apa yang harus gue lakuin? Apakah gue harus nungguin dia pulang? Lebih baik gue tungguin aja."
Edo kemudian menunggu di depan rumah Erika. Karena merasa kecapekan menunggu kepulangan Erika sehingga dia ketiduran.
Siang hari dengan naik ojek Erika pulang belanja dari pasar. Ojek tersebut berhenti di depan rumah sehingga membangunkan Edo dari tidurnya.
Erika yang melihat Edo sudah berada di depan rumah, hanya bisa menghela nafasnya. Dia langsung masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan kehadiran Edo.
"Rik, tunggu dulu! Aku mau ngomong sama kamu."
"Rasanya nggak ada yang perlu diomongin lagi."
"Ada. Aku benar-benar ingin ngomong sama kamu hari ini. Tolong, dengerin dulu!"
"Maaf, aku masih capek dan harus istirahat." jawab Erika sambil masuk ke rumah dan mengunci pintu rumah dari dalam.
"Rik, bukakan pintunya dulu! Kita bisa ngomong baik-baik."
Ucapan Edo sama sekali tidak digubris oleh Erika sehingga membuat Edo dongkol untuk kesekian kalinya.
Merasa bahwa dirinya sudah nggak dianggap lagi membuat Edo sakit hati. Dia kemudian memilih kembali ke tempat tinggalnya setelah pergi dari rumah Erika.
"Kenapa elu tega memperlakukan gue seperti ini,Rik? Kenapa elu kagak kasih kesempatan untuk ngomong sekaligus minta maaf kepada elu? Apakah segitu bencinya elu ama gue sehingga kagak mau ketemu gue lagi. Kalo memang seperti itu, gue benar-benar akan menjauh dari kehidupan elu. Tapi ijinkan gue ngomong sesuatu kepada elu yang terakhir kali sebelum gue benar-benar menjauh dari kehidupan elu." ungkap Edo.
Setelah berketetapan hati, Edo bertekad bulat untuk melakukan niatnya tersebut. Dia berusaha keras bisa ketemu dengan Erika dan mengucapkan salam perpisahan kepada wanita tersebut.
Sore harinya Edo sudah kembali ke rumah Erika. Dia melihat Erika sedang menanam dan menyiram tanaman yang berada di pekarangan rumah. Tanpa menunda waktu dia langsung mendatangi Erika.
Melihat kemunculan Edo, Erika bergegas untuk kembali masuk rumah. Dengan gesit Edo segera mencegah Erika masuk ke rumah dengan menarik tangan Erika.
"Mau apa lagi sih kamu,Do? Kamu sudah tahu bahwa aku sama sekali nggak ada perasaan cinta sedikitpun sama kamu. Kenapa kamu masih ngotot memaksakan perasaan kamu kepadaku?"
"Rik, kamu jangan salah sangka dulu! Aku ke sini bukan ingin merayu kamu bahkan memaksakan diri untuk bisa mendapatkan cinta kamu."
"Lalu kamu ngapain datang kemari kalo bukan tentang itu?"
"Makanya dengerin dulu,Rik! Aku ingin ngomong sesuatu kepada kamu."
"Lekas!! Waktuku nggak banyak nih!"
"Baik. Kasih aku waktu 5 menit untuk ngomong. Setelah itu terserah tanggapan kamu tentang aku."
"Baik. Aku kasih waktu 5 menit, nggak lebih." tegas Erika.
Edo kemudian menghela nafas panjang. Setelah itu dia mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Erika, aku tahu kamu sekarang ini muak bahkan jijik jika melihat aku karena kelakuanku tempo hari. Aku bisa mengerti dan memahami perasaan kamu. Sungguh aku benar-benar menyesal atas yang kulakukan padamu waktu itu. Aku ke sini justru ingin pamit sama kamu. Aku akan pergi jauh dari kehidupan kamu. Aku berjanji nggak akan mengganggu kehidupan kamu lagi. Aku ingin berpetualang untuk mencari jatidiri. Sudah saatnya aku harus bangkit untuk menjadi diri sendiri seperti yang kamu inginkan. Aku tak mau selamanya terpuruk dan jadi pecundang sejati. Aku ingin bisa meraih mimpi yang selama ini belum bisa terwujud. Dan pada kesempatan ini pula aku juga mengucapkan terima kasih atas semua yang kamu lakukan padaku. Aku akan selalu ingat segala nasehat dan bimbingan yang selama ini kamu berikan padaku. Dan kesempatan ini pula aku juga meminta maaf jika selama ini aku telah melakukan hal yang nggak pantas kepada kamu. Dan yang terakhir juga, ijinkan aku untuk pamit dan pergi jauh. Anggap aja kita nggak pernah ketemu sebelumnya. Rasanya udah cukup aku ngomong panjang lebar kepada kamu. Saatnya aku harus pergi. Selamat tinggal, Erika!"
Edo langsung pergi meninggalkan rumah Erika. Saat membalikkan badannya, Erika memanggilnya.
"Tunggu dulu,Edo!"
"Ada apa,Rik?"
"Kamu beneran mau pergi? Emang kamu mau pergi kemana?"
"Aku sendiri nggak tahu tujuan pasti untuk pergi. Aku akan mengikuti kemanapun kaki ini melangkah."
"Kenapa kamu nggak tetap di sini menemani aku melewati sisa hidup ini,Do?"
"Enggak,Rik! Saatnya aku untuk bisa bangkit dan nggak tergantung pada orang lain. Aku tak mau menyusahkan hidup kamu lagi. Tekadku sudah bulat,tak bisa ditawar-tawar lagi."
"Kalo memang sudah bulat tekad kamu dan sudah menjadi keputusan, aku nggak bisa berkata-kata lagi untuk mencegah kamu untuk pergi. Aku berharap kamu bisa menjaga diri. Jangan sampai kamu terperangkap dalam lubang yang sama. Ingat, di luar banyak godaan yang bisa membuat kamu terlena."
"Segala nasehat kamu akan aku perhatikan. Aku pamit sekarang. Jaga diri baik-baik,Rik!"
Dengan berat hati Erika melepas kepergian Edo sambil memeluk tubuh pemuda tersebut. Matanya berkaca-kaca sambil berucap.
"Selamat jalan,Edo! Semoga kamu bisa mewujudkan segala impian kamu. Semoga kamu berhasil dalam petualangan baru kamu."
Edo kemudian pergi meninggalkan Erika sendirian. Sementara Erika masih memandangi perginya Edo yang semakin lama semakin menjauh. Dia juga merasa kehilangan. Tapi dia tidak berdaya karena sudah menjadi keputusan Edo.






Other Stories
Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Download Titik & Koma