Bab 16 Rumah Erika Terbakar
Pagi ini Vonny sudah bangun pagi dan pergi mandi. Setelah berdandan cantik dan memakai parfum wangi, dia segera turun dari kamarnya menuju ruang makan.
Di ruang makan papi dan maminya yakni Hartono dan Aliya sudah menunggu di meja makan. Vonny menyapa papa dan mamanya tersebut.
"Selamat pagi papi...mami."
"Pagi sayang. Wah.... anak papi sudah dandan cantik! Mau kemana nih?"
"Hari ini Vonny ada urusan,Pi!"
"Memang ada urusan apa,Von? Kok kayaknya buru-buru banget." tanya Aliya kepada putrinya tersebut.
"Rahasia..." jawab Vonny lugas.
"Ya... ampun, pake rahasia segala sih!" ujar Aliya.
"Kamu nggak sarapan dulu,Von?" tanya Hartono.
"Nggak papi. Vonny sarapan ini aja." kata Vonny sambil mengambil roti yang diolesi selai nanas dan segelas susu.
Setelah selesai, Vonny segera pamit dengan papi dan maminya.
"Vonny berangkat dulu, Pi...Mi!" ujar Vonny sambil mencium pipi papi dan maminya.
"E....ini anak kok langsung pergi aja!" ujar Aliya.
"Udah biarin aja,Mi! Kayak mami nggak tahu kelakuannya Vonny aja."
"Tapi pi...."
"Udah mami nggak usah mikirin aneh-aneh. Vonny itu udah besar dan udah bisa memilah dan memilih yang baik dan buruk. Sekarang papi mau berangkat kerja dulu."
"Hati-hati pi."
Aliya melepas kepergian suaminya yang berangkat kerja sampai teras depan rumah. Dia kemudian masuk ke rumah lagi dengan perasaan tidak tenang memikirkan putrinya tersebut.
Di lain pihak Vonny sudah berada di jalan. Dengan mengemudikan mobilnya,dia sedang dalam perjalanan menuju ke villa miliknya yang sekarang dipakai oleh Edo untuk tempat tinggalnya.
"Omong-omong Edo baru ngapain ya? Apa harus ditelepon dulu ya? Ah.... nggak usah! Lebih baik bikin kejutan buat dia."
Vonny meletakkan kembali ponselnya yang sebenarnya ingin dipakai menghubungi Edo. Dia sekarang mengarahkan perhatian dalam mengemudikan mobilnya agar cepat sampai di villa miliknya tersebut.
Sementara Edo yang sementara waktu tinggal di villa milik Vonny. Di tempat tersebut juga disediakan pembantu yang akan melayani segala kebutuhannya.
Ketika itu Edo sedang menonton berita di televisi. Saat acara Breaking News di televisi tersebut menyiarkan berita kebakaran di sebuah tempat yang dia merasa tidak asing.
"Bukankah itu rumah Erika? Rumah Erika mengalami kebakaran? Gimana dengan nasibnya? Gue harus ke sana untuk melihat kondisinya."
Edo segera mengganti baju dan keluar. Sebelumnya dia pamit dengan pembantunya untuk keluar.
"Bi Ijah,saya keluar dulu ya!"
"Emang den Edo mau kemana?"
"Saya ada urusan sebentar."
"Gimana nanti kalo non Vonny tanya? Bibi harus bilang apa, Den?"
"Bilang aja saya keluar ada urusan. Udah, tinggal dulu ya,Bi!"
Edo segera keluar dari villa untuk menuju lokasi kebakaran tersebut. Dia segera naik ojek yang tak jauh dari tempat tinggalnya tersebut.
Perginya Edo dengan naik ojek diketahui oleh Vonny. Vonny bergumam dalam hati.
"Edo mau kemana? Kok kayaknya buru-buru banget. Lebih baik ikuti aja dari belakang."
Singkat cerita Edo sudah tiba di lokasi kebakaran. Dia segera turun dari ojek tersebut untuk menuju ke lokasi kebakaran.
Ketika sampai di lokasi kebakaran, ternyata tempat tersebut sudah diberikan garis polisi warna kuning. Ketika dia nekat untuk mendekat, dihalangi oleh beberapa orang. Dia kemudian teriak-teriak memanggil nama Erika.
"Erika.... Erika!! Di mana kamu? Apakah kamu baik-baik aja? Aku akan segera datang untuk menolong kamu."
Edo mencoba mendekatinya lokasi kebakaran tersebut tapi tidak berhasil karena sudah diringkus oleh petugas yang ada di lokasi.
"Jangan halangi saya untuk menolong seseorang!!" teriaknya kepada petugas tersebut.
"Sabar mas. Kami sedang mengamankan lokasi dan memadamkan api supaya nggak menjalar ke lingkungan sekitar." kata petugas Damkar tersebut.
"Tapi saya harus segera menolongnya! Erika,aku harus menolong kamu!"
Saat Edo ingin menerobos masuk, tiba-tiba ada seseorang yang mencegah tindakannya tersebut.
"Edo, kamu jangan bertindak bodoh!!"
Edo menoleh ke belakang dan ternyata Vonny sudah ada di belakangnya.
"Tapi aku harus menolong Erika supaya nggak mati terbakar,Von!"
"Petugas Damkar sedang berusaha keras. Kita tunggu hasilnya!"
"Tolong mbak, teman anda supaya menyingkir dulu agar tidak mengganggu kami dalam bertugas."
"Baik pak. Ayo Edo.... kita menyingkir dulu!!"
Setelah api sudah padam, Edo menanyakan hasilnya kepada petugas Damkar tersebut.
"Gimana pak hasilnya?"
"Semuanya sudah ludes terbakar, tidak ada yang tersisa sama sekali."
"Berarti Erika juga ikut terbakar?"
"Saya kurang tahu persis. Yang pasti tidak ada yang tersisa di rumah tersebut"
Mendengar jawaban dari petugas Damkar tersebut,Edo berteriak kencang.
"Erika, maafkan aku terlambat menolong kamu!!!"
Vonny yang berada di dekat Edo segera menasehatinya.
"Edo, kamu tenang dulu! Jangan kalap kayak orang kesurupan!!"
"Aku kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku,Von!"
Petugas Damkar tersebut meminta Vonny untuk membawa pulang Edo.
"Mbak, sebaiknya teman anda dibawa pulang dulu agar bisa tenang."
"Iya pak. Ayo Edo, kita pulang dulu!! Percayalah, semuanya akan baik-baik aja." bujuk Vonny.
Edo menganggukkan kepalanya lalu naik ke mobilnya Vonny untuk kembali ke villa.
Di ruang makan papi dan maminya yakni Hartono dan Aliya sudah menunggu di meja makan. Vonny menyapa papa dan mamanya tersebut.
"Selamat pagi papi...mami."
"Pagi sayang. Wah.... anak papi sudah dandan cantik! Mau kemana nih?"
"Hari ini Vonny ada urusan,Pi!"
"Memang ada urusan apa,Von? Kok kayaknya buru-buru banget." tanya Aliya kepada putrinya tersebut.
"Rahasia..." jawab Vonny lugas.
"Ya... ampun, pake rahasia segala sih!" ujar Aliya.
"Kamu nggak sarapan dulu,Von?" tanya Hartono.
"Nggak papi. Vonny sarapan ini aja." kata Vonny sambil mengambil roti yang diolesi selai nanas dan segelas susu.
Setelah selesai, Vonny segera pamit dengan papi dan maminya.
"Vonny berangkat dulu, Pi...Mi!" ujar Vonny sambil mencium pipi papi dan maminya.
"E....ini anak kok langsung pergi aja!" ujar Aliya.
"Udah biarin aja,Mi! Kayak mami nggak tahu kelakuannya Vonny aja."
"Tapi pi...."
"Udah mami nggak usah mikirin aneh-aneh. Vonny itu udah besar dan udah bisa memilah dan memilih yang baik dan buruk. Sekarang papi mau berangkat kerja dulu."
"Hati-hati pi."
Aliya melepas kepergian suaminya yang berangkat kerja sampai teras depan rumah. Dia kemudian masuk ke rumah lagi dengan perasaan tidak tenang memikirkan putrinya tersebut.
Di lain pihak Vonny sudah berada di jalan. Dengan mengemudikan mobilnya,dia sedang dalam perjalanan menuju ke villa miliknya yang sekarang dipakai oleh Edo untuk tempat tinggalnya.
"Omong-omong Edo baru ngapain ya? Apa harus ditelepon dulu ya? Ah.... nggak usah! Lebih baik bikin kejutan buat dia."
Vonny meletakkan kembali ponselnya yang sebenarnya ingin dipakai menghubungi Edo. Dia sekarang mengarahkan perhatian dalam mengemudikan mobilnya agar cepat sampai di villa miliknya tersebut.
Sementara Edo yang sementara waktu tinggal di villa milik Vonny. Di tempat tersebut juga disediakan pembantu yang akan melayani segala kebutuhannya.
Ketika itu Edo sedang menonton berita di televisi. Saat acara Breaking News di televisi tersebut menyiarkan berita kebakaran di sebuah tempat yang dia merasa tidak asing.
"Bukankah itu rumah Erika? Rumah Erika mengalami kebakaran? Gimana dengan nasibnya? Gue harus ke sana untuk melihat kondisinya."
Edo segera mengganti baju dan keluar. Sebelumnya dia pamit dengan pembantunya untuk keluar.
"Bi Ijah,saya keluar dulu ya!"
"Emang den Edo mau kemana?"
"Saya ada urusan sebentar."
"Gimana nanti kalo non Vonny tanya? Bibi harus bilang apa, Den?"
"Bilang aja saya keluar ada urusan. Udah, tinggal dulu ya,Bi!"
Edo segera keluar dari villa untuk menuju lokasi kebakaran tersebut. Dia segera naik ojek yang tak jauh dari tempat tinggalnya tersebut.
Perginya Edo dengan naik ojek diketahui oleh Vonny. Vonny bergumam dalam hati.
"Edo mau kemana? Kok kayaknya buru-buru banget. Lebih baik ikuti aja dari belakang."
Singkat cerita Edo sudah tiba di lokasi kebakaran. Dia segera turun dari ojek tersebut untuk menuju ke lokasi kebakaran.
Ketika sampai di lokasi kebakaran, ternyata tempat tersebut sudah diberikan garis polisi warna kuning. Ketika dia nekat untuk mendekat, dihalangi oleh beberapa orang. Dia kemudian teriak-teriak memanggil nama Erika.
"Erika.... Erika!! Di mana kamu? Apakah kamu baik-baik aja? Aku akan segera datang untuk menolong kamu."
Edo mencoba mendekatinya lokasi kebakaran tersebut tapi tidak berhasil karena sudah diringkus oleh petugas yang ada di lokasi.
"Jangan halangi saya untuk menolong seseorang!!" teriaknya kepada petugas tersebut.
"Sabar mas. Kami sedang mengamankan lokasi dan memadamkan api supaya nggak menjalar ke lingkungan sekitar." kata petugas Damkar tersebut.
"Tapi saya harus segera menolongnya! Erika,aku harus menolong kamu!"
Saat Edo ingin menerobos masuk, tiba-tiba ada seseorang yang mencegah tindakannya tersebut.
"Edo, kamu jangan bertindak bodoh!!"
Edo menoleh ke belakang dan ternyata Vonny sudah ada di belakangnya.
"Tapi aku harus menolong Erika supaya nggak mati terbakar,Von!"
"Petugas Damkar sedang berusaha keras. Kita tunggu hasilnya!"
"Tolong mbak, teman anda supaya menyingkir dulu agar tidak mengganggu kami dalam bertugas."
"Baik pak. Ayo Edo.... kita menyingkir dulu!!"
Setelah api sudah padam, Edo menanyakan hasilnya kepada petugas Damkar tersebut.
"Gimana pak hasilnya?"
"Semuanya sudah ludes terbakar, tidak ada yang tersisa sama sekali."
"Berarti Erika juga ikut terbakar?"
"Saya kurang tahu persis. Yang pasti tidak ada yang tersisa di rumah tersebut"
Mendengar jawaban dari petugas Damkar tersebut,Edo berteriak kencang.
"Erika, maafkan aku terlambat menolong kamu!!!"
Vonny yang berada di dekat Edo segera menasehatinya.
"Edo, kamu tenang dulu! Jangan kalap kayak orang kesurupan!!"
"Aku kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku,Von!"
Petugas Damkar tersebut meminta Vonny untuk membawa pulang Edo.
"Mbak, sebaiknya teman anda dibawa pulang dulu agar bisa tenang."
"Iya pak. Ayo Edo, kita pulang dulu!! Percayalah, semuanya akan baik-baik aja." bujuk Vonny.
Edo menganggukkan kepalanya lalu naik ke mobilnya Vonny untuk kembali ke villa.
Other Stories
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...