Bab 22 Perdamaian Edo Dan Papanya
Di saat suasana bahagia tersebut, tiba-tiba ponselnya Edo berdering. Dia segera mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Halo mama. Ada apa kok mama telepon Edo?"
"Papa kamu,Sayang!!!"
"Papa kenapa,Ma?"
"Papa kamu opname di rumah sakit."
"Papa opname di rumah sakit,Ma?"
"Iya, Sayang."
"Memang papa sakit apa,Ma?"
"Nanti mama ceritakan. Kamu sekarang ke sini ya, Nak! Mama tunggu!!!"
Saat itu Edo sedang bimbang dan bingung mendengar berita yang disampaikan oleh mamanya tersebut. Vonny langsung menanyakan hal tersebut.
"Ada apa,Do? Siapa yang barusan telepon kamu?"
"Mama aku mengabarkan bahwa papa barusan opname di rumah sakit."
"Papa kamu opname di rumah sakit,Do?"
"Iya Von."
"Tapi kenapa kamu malah kayak orang kebingungan seperti itu? Kenapa nggak segera ke rumah sakit?"
"Aku bingung jika aku muncul, apakah papa aku mau menerima aku?"
"Kenapa nggak mau menerima? Sudah, nggak usah tunggu waktu! Kita segera ke rumah sakit sekarang!!" perintah Vonny.
"Benar kata Vonny. Cepat, kalian segera ke sana sebelum terlambat. Biar Bobby yang mengantarkan kalian berdua ke rumah sakit." ujar Hartono.
"Iya, jangan tunggu waktu lagi! Bob,segera antar mereka berdua ke rumah sakit!" perintah Aliya kepada adiknya.
"Baik mbak."
Bobby Setiawan segera mengantarkan Edo dan Vonny menuju rumah sakit. Begitu sampai di rumah sakit, Edo segera menemui mamanya.
"Gimana keadaan papa,Ma?"
"Sedang dalam penanganan dokter."
"Kenapa papa bisa seperti ini,Ma?"
"Ceritanya begini."
Vita Sanjaya menceritakan kronologi kejadian saat Johan Sanjaya terserang penyakit jantung secara mendadak.
Ketika itu dia sedang berada di kamar. Dia melihat bahwa suaminya saat itu sedang membaca surat kabar di teras belakang rumah. Tiba-tiba saja saat itu dikejutkan oleh suara suaminya yang mengeluh dadanya sebelah kiri terasa nyeri.
"Mama....mama!!! Tolongin papa,Ma!"
Dia yang mendengar suara suaminya mengeluh kesakitan segera mendatangi. Dia melihat suaminya sudah tergeletak di lantai kesakitan sambil memegang dadanya sebelah kiri.
"Papa.....!!! Papa kenapa?"
"Dada papa sebelah kiri terasa sakit." ujar Johan sambil meringis kesakitan.
"Pak Yusuf.....pak Yusuf!!!" teriak. Vita memanggil sopir pribadinya.
Yusuf segera datang dan melihat majikan kesakitan.
"Ada apa dengan tuan, Nyonya?"
"Nggak tahu. Tiba-tiba saja mengeluh, dadanya terasa sakit. Tolong, segera bawa ke rumah sakit sekarang!!" perintah Vita kepada Yusuf.
"Baik nyonya."
Yusuf dibantu oleh Vita,Ambar segera memasukkan Johan Sanjaya ke dalam mobil. Selanjutnya Yusuf segera melarikan majikannya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan penanganan. Sedangkan Ambar, pembantunya diminta jaga rumah.
Begitu sampai di rumah sakit, para perawat langsung membawa tubuh Johan yang sudah tak berdaya untuk dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk dilakukan penanganan secara intensif. Vita yang didampingi Yusuf,menunggu di luar ruang IGD berharap cemas. Dalam kondisi panik tersebut, Vita menelepon Edo untuk datang.
"Demikian ceritanya,Do! Akhirnya mama telepon kamu barusan."
"O... begitu ceritanya."
"Oh ya,ini siapa ya? Mama belum kenal."
"Ini namanya Vonny."
Vonny mengangguk sambil berjabat tangan.
"Apakah ini pacar kamu,Edo?"
"Hampir."
Vonny langsung mencubit lengannya Edo. Edo kesakitan.
"Dan yang ini siapa ya?"
"Saya Bobby Setiawan, omnya Vonny." ujar Bobby Setiawan menjabat tangan Vita.
Tak lama kemudian dokter rumah sakit tersebut segera keluar dari ruang IGD tersebut. Vita menghampirinya.
"Gimana keadaan suami saya, Dok?"
"Alhamdulillah sudah bisa tertangani. Terlambat sedikit saja sudah berakibat fatal. Untuk sementara waktu harus tinggal di sini agar bisa ditangani."
"Apakah saya bisa menengoknya,Dok?"
"Silahkan. Tapi tolong dijaga ya! Jangan sampai dikasih beban pikiran yang berat agar jantungnya tidak mengalami gangguan lagi."
"Baik dok."
Vita memerintahkan sopirnya untuk membawakan baju untuk majikannya.
"Pak Yusuf."
"Iya nyonya."
"Sekarang pak Yusuf pulang dulu. Minta kepada pada Ambar untuk menyiapkan baju untuk ganti saya dan suami saya."
"Baik nyonya."
Setelah masa kritisnya sudah lewat,maka Johan Sanjaya segera dipindahkan ke bangsal. Sementara itu Vita ingin mengajak Vonny mengobrol. Dia meminta Edo untuk menemui papanya.
"Vonny, bisa kita bicara berdua?"
"Bisa tante."
"Kamu masih memanggil calon mama mertua dengan memanggil tante,Von?"
"Oh ya, lupa."
"Emang kalian sudah jadian?"
"Sudah ma, barusan."
"Kenapa nggak kasih tahu mama sih jika sudah jadian?"
"Semuanya serba mendadak, nggak sempat kasih tahu mama."
"Vonny yang sengaja bikin kejutan kepada Edo untuk mengajak jadian. Edo sendiri malah nggak tahu jika mau jadian." jelas Bobby Setiawan.
"Beneran,Von?"
"Iya ma. Vonny sengaja bikin surprise buat dia. Jadi, maafkan Vonny ya,Ma!"
"Ya udah, nggak apa-apa. Edo, sebaiknya kamu temui papa kamu sekarang!"
"Tapi ma....."
"Kami nggak mau patuh pada perintah mama,Edo!"
"Sudahlah Edo,kamu turuti saja keinginan mama kamu. Kamu temui papa kamu sekarang. Biar bagaimanapun dia itu papa kamu. Jangan sampai kamu menyesal jika sampai terlambat. Om akan mendampingi kamu." ujar Bobby Setiawan menasehati sambil menepuk pundak Edo. Edo mengangguk. Keduanya segera menemui Johan Sanjaya di kamar rawat.
"Ayo Vonny, ikut mama!" ujar Vita sambil menarik tangan Vonny.
"Baik ma." jawab Vonny.
Vita mengajak Vonny untuk bicara empat mata dengan Vonny. Mereka berdua berbicara di kantin rumah sakit yang terletak di lantai dasar.
"Kita ngobrolnya di sini saja,Von!"
"Baik ma. Vonny ikut aja."
"Kamu mau pesan apa,Von?"
"Vonny minum teh hangat aja."
"Nggak makan?"
"Nggak ma. Vonny masih kenyang."
Vita memesan air teh hangat sebanyak 2 gelas. Sambil minum teh,Vita memulai pembicaraan dengan Vonny.
"Vonny, boleh mama tanya sesuatu sama kamu?"
"Silahkan mama tanya apa?"
"Sudah berapa lama kamu mengenal Edo?"
"Sudah kurang lebih satu setengah bulan."
"Awal mulanya gimana kalian bisa saling kenal? Padahal dulunya dia cerita bahwa dia pernah punya kenalan wanita bernama Erika."
"Awal mulanya saat dia jalan sendiri, tiba-tiba saja saya lewat. Secara nggak sengaja mobil saya menginjak genangan air dan muncrat mengenai tubuhnya."
"Dia nggak marah sama kamu?"
"Awalnya marah. Tapi entah kenapa dia berubah pikiran setelah melihat saya."
"Hmmm.... begitu rupanya. Lalu?"
"Setelah saya mengenalnya, saya baru tahu dia punya bakat di bidang musik. Dia saya kenalkan dengan om Bobby. Akhirnya gayung bersambut. Edo dapat kesempatan rekaman di studio om Bobby. Dan alhamdulilah saat lagu Edo diunggah di media sosial, sukses dan menjadi viral."
"Selama ini Edo pernah cerita apa saja sama kamu?"
"Edo cuma cerita bahwa dia pernah menjalin cinta dengan seorang wanita bernama Erika. Sayang, cintanya kandas karena Erika tidak pernah membalas cintanya."
"Udah, cuma itu yang dia ceritakan?"
"Iya, cuma itu.Memangnya ada apa,Ma?"
"Bolehkah mama ceritakan masa lalu Edo kepada kamu agar kamu bisa tahu Edo sebenarnya?"
"Memangnya Edo punya masa lalu apa,Ma?"
"Dengerin cerita mama ya!"
Vita kemudian menceritakan masa lalu Edo ketika menjadi anak band. Saat itu dia terperosok ke dalam perilaku negatif yakni mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu sehingga masuk rehabilitasi. Setelah keluar justru papanya sangat memusuhi dan mengusir dari rumah. Dalam kondisi depresi dan frustrasi, dia nyaris bunuh diri hingga ditolong dan disadarkan oleh Erika.
"Sekarang kamu sudah tahu masa lalu Edo kan? Apa tanggapan kamu? Apakah kamu menyesal?"
"Mama, kenapa mesti menyesal dengan semua yang telah terjadi? Disesali nggak ada gunanya karena nggak akan mengubah keadaan. Yang terpenting dia bisa menyadari kesalahannya dan mau mengubah perilaku sebelumnya. Sudah sepantasnya kita kasih kesempatan untuk berubah, bukan terus menghakimi kesalahan masa lalu. Karena itu justru membuat dirinya semakin tertekan dan kembali mengulangi perbuatannya lagi."
"Oh Vonny, sungguh dewasa pemikiran kamu. Rasanya Edo beruntung bisa memiliki kamu."
"Setiap orang pernah mengalami masa sulit. Sudah seharusnya saling membantu dan memberikan dorongan untuk bangkit."
"Mama percaya dengan adanya kamu, Edo bisa berubah."
"Semoga ma."
"Ayo kita kembali ke bangsal menengok kondisi papa!"
"Iya ma."
Sedangkan Edo yang ditemani oleh Bobby Setiawan segera menemui papanya. Johan Sanjaya yang melihat kehadiran Edo terkejut.
"Edo!"
"Gimana kondisi papa sekarang?"
"Sudah lebih baik dari sebelumnya."
"Syukurlah kalo gitu."
"Darimana kamu tahu jika papa dirawat di sini? Dan siapa yang datang bersama kamu?"
"Perkenalkan pak Johan, nama saya Bobby Setiawan."
"Beliau ini sekarang boss Edo dan juga omnya Vonny."
"Memang kamu sudah bekerja? Dimana kamu kerja? Dan siapa itu Vonny?"
"Edo bekerja sebagai penyanyi di bawah naungan saya. Sekarang dia sedang jadi idola."
"Oh ya, syukurlah kalo gitu."
"Dan Vonny adalah calon menantu papa."
"Kamu kok memberitahu papa jika akan menikah sih?"
"Gimana mau memberitahukan kepada papa jika Edo mau menikah. Papa aja ogah lihat Edo selama ini. Jika Edo ngomong apakah papa percaya?"
"Edo, jangan ngomong gitu ke papa kamu! Itu nggak baik jika didengar yang lain."
"Om Bobby nggak pernah merasakan saat Edo terpuruk dan butuh dukungan. Tapi apa yg dilakukan oleh papa? Papa tega mengusir Edo dari rumah karena kesalahan Edo sehingga papa merasa malu dan gengsi kelewat tinggi. Saat itu Edo dalam kondisi depresi dan frustrasi sehingga nyaris bunuh diri. Untung, saat itu ada Erika yang menolong Edo. Kalo nggak ada dia entah apa jadinya. Mungkin cuma tinggal nama."
"Sudahlah,yang berlalu biarlah berlalu. Tidak usah mengungkit masa lalu. Kita perbaiki di masa mendatang dengan hidup yang baru. Bagaimana pendapat pak Johan?"
"Saya sependapat dengan penjelasan pak Bobby. Saya juga mengakui kesalahan masa lalu karena khilaf sehingga tega melakukan itu semua. Papa minta maaf atas kesalahan papa. Apakah kamu mau memaafkan kesalahan papa,Edo?"
"Gimana,Edo? Kamu mau memaafkan kesalahan papa kamu?"
"Baiklah, Edo maafkan. Edo juga minta maaf atas ucapannya Edo barusan."
"Sudah, sekarang kita sepakat untuk bisa damai." ujar Bobby sambil memegang tangan Edo dan Johan untuk berpegangan tangan bertanda damai.
"Wah.... wah....wah.....lega rasanya papa dan anaknya bisa damai seperti itu!" ujar Vita yang tiba-tiba muncul dari pintu.
"Iya, sekarang papa sudah lega."
"Om Bobby memang hebat, bisa mendamaikan Edo dan papa." ujar Vonny memuji.
"Omnya siapa dulu dong,Von?"
"Iya deh, omnya Vonny."
"Sekarang kita tunggu hasil diagnosa dokter. Semoga kondisi pak Johan bisa membaik." ujar Bobby Setiawan.
Tak lama kemudian dokter masuk untuk memeriksa kondisi Johan Sanjaya.
"Gimana kondisinya,Dok?" tanya Edo.
"Bagus. Kondisinya semakin stabil."
"Kapan papa bisa pulang,Dok?"
"Besok sudah bisa pulang."
"Terima kasih ya,Dok!"
"Sama-sama. Maaf, saya tinggal. Karena saya harus memeriksa pasien yang lain."
"Silahkan dok."
Esok harinya Johan Sanjaya sudah diijinkan pulang ke rumah. Yusuf,sopir pribadi telah menunggu di lobby keluar untuk menjemput majikannya. Dengan diantar Edo,Vita, Vonny dan Bobby, Johan Sanjaya meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke rumah.
Pada hari berikutnya dengan diantar oleh Bobby Setiawan, Hartono dan Aliya datang menjenguk Johan Sanjaya. Saat itu juga Edo dan Vonny juga ada di situ.
"Pak Johan, perkenalkan ini papa dan mamanya Vonny." ujar Bobby Setiawan memperkenalkan Hartono dan Aliya kepada Johan Sanjaya dan Vita
"Perkenalkan nama saya Hartono dan ini istri saya Aliya."
"Saya Johan Sanjaya dan ini istri saya Vita. Kami berdua adalah papa dan mamanya Edo."
"Kami berdua dengan diantar oleh Bobby ingin menjenguk calon besan. Karena sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga. Nggak ada salahnya kami berdua silaturahmi."
"Terima kasih pak Hartono untuk perhatiannya."
"Vonny,kamu ke sini!"
"Ya pi."
"Tentunya pak Johan sudah mengenal anak kami yakni Vonny."
"Iya. Mamanya Edo sudah cerita tentang Vonny. Saya bersyukur bahwa punya calon menantu seperti Vonny."
"Von,kamu nggak bilang apa-apa dengan calon papa mertua kamu?" ujar Hartono menggoda putrinya.
"Vonny harus bilang apa,Pi?"
"Bilang kapan kami berdua akan segera menikah? Bukankah begitu,Mi?"
"Setuju,Pi!" timpal Aliya.
"Papi dan mami sekongkol ya! Gimana kalo Vonny menolak?"
"Beneran kamu mau menolak orang seperti Edo? Padahal di luar banyak cewek yang ngantri lho!!!" ujar Aliya lagi.
"Kalo Vonny nggak mau, saya cari cewek boleh nggak ya, Mi....Pi?" ujar Edo kepada Hartono dan Aliya.
"Kamu bilang apa? Awas...kalo macam-macam!!" ujar Vonny menjewer telinga Edo.
"I...iiii...iya!! Ampun....ampun....ampun!!!Nggak akan berani." kata Edo menjerit kesakitan karena telinga dijewer oleh Vonny.
"Udah....udah, nggak usah diteruskan! Sebaiknya kita tunggu hari yang tepat untuk melangsungkan pernikahan mereka berdua." ujar Vita menengahi pertengkaran tersebut.
Dan pertemuan itu diakhiri dengan acara makan malam bersama di antara kedua keluarga yakni keluarganya Edo dan Vonny.
"Halo mama. Ada apa kok mama telepon Edo?"
"Papa kamu,Sayang!!!"
"Papa kenapa,Ma?"
"Papa kamu opname di rumah sakit."
"Papa opname di rumah sakit,Ma?"
"Iya, Sayang."
"Memang papa sakit apa,Ma?"
"Nanti mama ceritakan. Kamu sekarang ke sini ya, Nak! Mama tunggu!!!"
Saat itu Edo sedang bimbang dan bingung mendengar berita yang disampaikan oleh mamanya tersebut. Vonny langsung menanyakan hal tersebut.
"Ada apa,Do? Siapa yang barusan telepon kamu?"
"Mama aku mengabarkan bahwa papa barusan opname di rumah sakit."
"Papa kamu opname di rumah sakit,Do?"
"Iya Von."
"Tapi kenapa kamu malah kayak orang kebingungan seperti itu? Kenapa nggak segera ke rumah sakit?"
"Aku bingung jika aku muncul, apakah papa aku mau menerima aku?"
"Kenapa nggak mau menerima? Sudah, nggak usah tunggu waktu! Kita segera ke rumah sakit sekarang!!" perintah Vonny.
"Benar kata Vonny. Cepat, kalian segera ke sana sebelum terlambat. Biar Bobby yang mengantarkan kalian berdua ke rumah sakit." ujar Hartono.
"Iya, jangan tunggu waktu lagi! Bob,segera antar mereka berdua ke rumah sakit!" perintah Aliya kepada adiknya.
"Baik mbak."
Bobby Setiawan segera mengantarkan Edo dan Vonny menuju rumah sakit. Begitu sampai di rumah sakit, Edo segera menemui mamanya.
"Gimana keadaan papa,Ma?"
"Sedang dalam penanganan dokter."
"Kenapa papa bisa seperti ini,Ma?"
"Ceritanya begini."
Vita Sanjaya menceritakan kronologi kejadian saat Johan Sanjaya terserang penyakit jantung secara mendadak.
Ketika itu dia sedang berada di kamar. Dia melihat bahwa suaminya saat itu sedang membaca surat kabar di teras belakang rumah. Tiba-tiba saja saat itu dikejutkan oleh suara suaminya yang mengeluh dadanya sebelah kiri terasa nyeri.
"Mama....mama!!! Tolongin papa,Ma!"
Dia yang mendengar suara suaminya mengeluh kesakitan segera mendatangi. Dia melihat suaminya sudah tergeletak di lantai kesakitan sambil memegang dadanya sebelah kiri.
"Papa.....!!! Papa kenapa?"
"Dada papa sebelah kiri terasa sakit." ujar Johan sambil meringis kesakitan.
"Pak Yusuf.....pak Yusuf!!!" teriak. Vita memanggil sopir pribadinya.
Yusuf segera datang dan melihat majikan kesakitan.
"Ada apa dengan tuan, Nyonya?"
"Nggak tahu. Tiba-tiba saja mengeluh, dadanya terasa sakit. Tolong, segera bawa ke rumah sakit sekarang!!" perintah Vita kepada Yusuf.
"Baik nyonya."
Yusuf dibantu oleh Vita,Ambar segera memasukkan Johan Sanjaya ke dalam mobil. Selanjutnya Yusuf segera melarikan majikannya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan penanganan. Sedangkan Ambar, pembantunya diminta jaga rumah.
Begitu sampai di rumah sakit, para perawat langsung membawa tubuh Johan yang sudah tak berdaya untuk dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk dilakukan penanganan secara intensif. Vita yang didampingi Yusuf,menunggu di luar ruang IGD berharap cemas. Dalam kondisi panik tersebut, Vita menelepon Edo untuk datang.
"Demikian ceritanya,Do! Akhirnya mama telepon kamu barusan."
"O... begitu ceritanya."
"Oh ya,ini siapa ya? Mama belum kenal."
"Ini namanya Vonny."
Vonny mengangguk sambil berjabat tangan.
"Apakah ini pacar kamu,Edo?"
"Hampir."
Vonny langsung mencubit lengannya Edo. Edo kesakitan.
"Dan yang ini siapa ya?"
"Saya Bobby Setiawan, omnya Vonny." ujar Bobby Setiawan menjabat tangan Vita.
Tak lama kemudian dokter rumah sakit tersebut segera keluar dari ruang IGD tersebut. Vita menghampirinya.
"Gimana keadaan suami saya, Dok?"
"Alhamdulillah sudah bisa tertangani. Terlambat sedikit saja sudah berakibat fatal. Untuk sementara waktu harus tinggal di sini agar bisa ditangani."
"Apakah saya bisa menengoknya,Dok?"
"Silahkan. Tapi tolong dijaga ya! Jangan sampai dikasih beban pikiran yang berat agar jantungnya tidak mengalami gangguan lagi."
"Baik dok."
Vita memerintahkan sopirnya untuk membawakan baju untuk majikannya.
"Pak Yusuf."
"Iya nyonya."
"Sekarang pak Yusuf pulang dulu. Minta kepada pada Ambar untuk menyiapkan baju untuk ganti saya dan suami saya."
"Baik nyonya."
Setelah masa kritisnya sudah lewat,maka Johan Sanjaya segera dipindahkan ke bangsal. Sementara itu Vita ingin mengajak Vonny mengobrol. Dia meminta Edo untuk menemui papanya.
"Vonny, bisa kita bicara berdua?"
"Bisa tante."
"Kamu masih memanggil calon mama mertua dengan memanggil tante,Von?"
"Oh ya, lupa."
"Emang kalian sudah jadian?"
"Sudah ma, barusan."
"Kenapa nggak kasih tahu mama sih jika sudah jadian?"
"Semuanya serba mendadak, nggak sempat kasih tahu mama."
"Vonny yang sengaja bikin kejutan kepada Edo untuk mengajak jadian. Edo sendiri malah nggak tahu jika mau jadian." jelas Bobby Setiawan.
"Beneran,Von?"
"Iya ma. Vonny sengaja bikin surprise buat dia. Jadi, maafkan Vonny ya,Ma!"
"Ya udah, nggak apa-apa. Edo, sebaiknya kamu temui papa kamu sekarang!"
"Tapi ma....."
"Kami nggak mau patuh pada perintah mama,Edo!"
"Sudahlah Edo,kamu turuti saja keinginan mama kamu. Kamu temui papa kamu sekarang. Biar bagaimanapun dia itu papa kamu. Jangan sampai kamu menyesal jika sampai terlambat. Om akan mendampingi kamu." ujar Bobby Setiawan menasehati sambil menepuk pundak Edo. Edo mengangguk. Keduanya segera menemui Johan Sanjaya di kamar rawat.
"Ayo Vonny, ikut mama!" ujar Vita sambil menarik tangan Vonny.
"Baik ma." jawab Vonny.
Vita mengajak Vonny untuk bicara empat mata dengan Vonny. Mereka berdua berbicara di kantin rumah sakit yang terletak di lantai dasar.
"Kita ngobrolnya di sini saja,Von!"
"Baik ma. Vonny ikut aja."
"Kamu mau pesan apa,Von?"
"Vonny minum teh hangat aja."
"Nggak makan?"
"Nggak ma. Vonny masih kenyang."
Vita memesan air teh hangat sebanyak 2 gelas. Sambil minum teh,Vita memulai pembicaraan dengan Vonny.
"Vonny, boleh mama tanya sesuatu sama kamu?"
"Silahkan mama tanya apa?"
"Sudah berapa lama kamu mengenal Edo?"
"Sudah kurang lebih satu setengah bulan."
"Awal mulanya gimana kalian bisa saling kenal? Padahal dulunya dia cerita bahwa dia pernah punya kenalan wanita bernama Erika."
"Awal mulanya saat dia jalan sendiri, tiba-tiba saja saya lewat. Secara nggak sengaja mobil saya menginjak genangan air dan muncrat mengenai tubuhnya."
"Dia nggak marah sama kamu?"
"Awalnya marah. Tapi entah kenapa dia berubah pikiran setelah melihat saya."
"Hmmm.... begitu rupanya. Lalu?"
"Setelah saya mengenalnya, saya baru tahu dia punya bakat di bidang musik. Dia saya kenalkan dengan om Bobby. Akhirnya gayung bersambut. Edo dapat kesempatan rekaman di studio om Bobby. Dan alhamdulilah saat lagu Edo diunggah di media sosial, sukses dan menjadi viral."
"Selama ini Edo pernah cerita apa saja sama kamu?"
"Edo cuma cerita bahwa dia pernah menjalin cinta dengan seorang wanita bernama Erika. Sayang, cintanya kandas karena Erika tidak pernah membalas cintanya."
"Udah, cuma itu yang dia ceritakan?"
"Iya, cuma itu.Memangnya ada apa,Ma?"
"Bolehkah mama ceritakan masa lalu Edo kepada kamu agar kamu bisa tahu Edo sebenarnya?"
"Memangnya Edo punya masa lalu apa,Ma?"
"Dengerin cerita mama ya!"
Vita kemudian menceritakan masa lalu Edo ketika menjadi anak band. Saat itu dia terperosok ke dalam perilaku negatif yakni mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu sehingga masuk rehabilitasi. Setelah keluar justru papanya sangat memusuhi dan mengusir dari rumah. Dalam kondisi depresi dan frustrasi, dia nyaris bunuh diri hingga ditolong dan disadarkan oleh Erika.
"Sekarang kamu sudah tahu masa lalu Edo kan? Apa tanggapan kamu? Apakah kamu menyesal?"
"Mama, kenapa mesti menyesal dengan semua yang telah terjadi? Disesali nggak ada gunanya karena nggak akan mengubah keadaan. Yang terpenting dia bisa menyadari kesalahannya dan mau mengubah perilaku sebelumnya. Sudah sepantasnya kita kasih kesempatan untuk berubah, bukan terus menghakimi kesalahan masa lalu. Karena itu justru membuat dirinya semakin tertekan dan kembali mengulangi perbuatannya lagi."
"Oh Vonny, sungguh dewasa pemikiran kamu. Rasanya Edo beruntung bisa memiliki kamu."
"Setiap orang pernah mengalami masa sulit. Sudah seharusnya saling membantu dan memberikan dorongan untuk bangkit."
"Mama percaya dengan adanya kamu, Edo bisa berubah."
"Semoga ma."
"Ayo kita kembali ke bangsal menengok kondisi papa!"
"Iya ma."
Sedangkan Edo yang ditemani oleh Bobby Setiawan segera menemui papanya. Johan Sanjaya yang melihat kehadiran Edo terkejut.
"Edo!"
"Gimana kondisi papa sekarang?"
"Sudah lebih baik dari sebelumnya."
"Syukurlah kalo gitu."
"Darimana kamu tahu jika papa dirawat di sini? Dan siapa yang datang bersama kamu?"
"Perkenalkan pak Johan, nama saya Bobby Setiawan."
"Beliau ini sekarang boss Edo dan juga omnya Vonny."
"Memang kamu sudah bekerja? Dimana kamu kerja? Dan siapa itu Vonny?"
"Edo bekerja sebagai penyanyi di bawah naungan saya. Sekarang dia sedang jadi idola."
"Oh ya, syukurlah kalo gitu."
"Dan Vonny adalah calon menantu papa."
"Kamu kok memberitahu papa jika akan menikah sih?"
"Gimana mau memberitahukan kepada papa jika Edo mau menikah. Papa aja ogah lihat Edo selama ini. Jika Edo ngomong apakah papa percaya?"
"Edo, jangan ngomong gitu ke papa kamu! Itu nggak baik jika didengar yang lain."
"Om Bobby nggak pernah merasakan saat Edo terpuruk dan butuh dukungan. Tapi apa yg dilakukan oleh papa? Papa tega mengusir Edo dari rumah karena kesalahan Edo sehingga papa merasa malu dan gengsi kelewat tinggi. Saat itu Edo dalam kondisi depresi dan frustrasi sehingga nyaris bunuh diri. Untung, saat itu ada Erika yang menolong Edo. Kalo nggak ada dia entah apa jadinya. Mungkin cuma tinggal nama."
"Sudahlah,yang berlalu biarlah berlalu. Tidak usah mengungkit masa lalu. Kita perbaiki di masa mendatang dengan hidup yang baru. Bagaimana pendapat pak Johan?"
"Saya sependapat dengan penjelasan pak Bobby. Saya juga mengakui kesalahan masa lalu karena khilaf sehingga tega melakukan itu semua. Papa minta maaf atas kesalahan papa. Apakah kamu mau memaafkan kesalahan papa,Edo?"
"Gimana,Edo? Kamu mau memaafkan kesalahan papa kamu?"
"Baiklah, Edo maafkan. Edo juga minta maaf atas ucapannya Edo barusan."
"Sudah, sekarang kita sepakat untuk bisa damai." ujar Bobby sambil memegang tangan Edo dan Johan untuk berpegangan tangan bertanda damai.
"Wah.... wah....wah.....lega rasanya papa dan anaknya bisa damai seperti itu!" ujar Vita yang tiba-tiba muncul dari pintu.
"Iya, sekarang papa sudah lega."
"Om Bobby memang hebat, bisa mendamaikan Edo dan papa." ujar Vonny memuji.
"Omnya siapa dulu dong,Von?"
"Iya deh, omnya Vonny."
"Sekarang kita tunggu hasil diagnosa dokter. Semoga kondisi pak Johan bisa membaik." ujar Bobby Setiawan.
Tak lama kemudian dokter masuk untuk memeriksa kondisi Johan Sanjaya.
"Gimana kondisinya,Dok?" tanya Edo.
"Bagus. Kondisinya semakin stabil."
"Kapan papa bisa pulang,Dok?"
"Besok sudah bisa pulang."
"Terima kasih ya,Dok!"
"Sama-sama. Maaf, saya tinggal. Karena saya harus memeriksa pasien yang lain."
"Silahkan dok."
Esok harinya Johan Sanjaya sudah diijinkan pulang ke rumah. Yusuf,sopir pribadi telah menunggu di lobby keluar untuk menjemput majikannya. Dengan diantar Edo,Vita, Vonny dan Bobby, Johan Sanjaya meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke rumah.
Pada hari berikutnya dengan diantar oleh Bobby Setiawan, Hartono dan Aliya datang menjenguk Johan Sanjaya. Saat itu juga Edo dan Vonny juga ada di situ.
"Pak Johan, perkenalkan ini papa dan mamanya Vonny." ujar Bobby Setiawan memperkenalkan Hartono dan Aliya kepada Johan Sanjaya dan Vita
"Perkenalkan nama saya Hartono dan ini istri saya Aliya."
"Saya Johan Sanjaya dan ini istri saya Vita. Kami berdua adalah papa dan mamanya Edo."
"Kami berdua dengan diantar oleh Bobby ingin menjenguk calon besan. Karena sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga. Nggak ada salahnya kami berdua silaturahmi."
"Terima kasih pak Hartono untuk perhatiannya."
"Vonny,kamu ke sini!"
"Ya pi."
"Tentunya pak Johan sudah mengenal anak kami yakni Vonny."
"Iya. Mamanya Edo sudah cerita tentang Vonny. Saya bersyukur bahwa punya calon menantu seperti Vonny."
"Von,kamu nggak bilang apa-apa dengan calon papa mertua kamu?" ujar Hartono menggoda putrinya.
"Vonny harus bilang apa,Pi?"
"Bilang kapan kami berdua akan segera menikah? Bukankah begitu,Mi?"
"Setuju,Pi!" timpal Aliya.
"Papi dan mami sekongkol ya! Gimana kalo Vonny menolak?"
"Beneran kamu mau menolak orang seperti Edo? Padahal di luar banyak cewek yang ngantri lho!!!" ujar Aliya lagi.
"Kalo Vonny nggak mau, saya cari cewek boleh nggak ya, Mi....Pi?" ujar Edo kepada Hartono dan Aliya.
"Kamu bilang apa? Awas...kalo macam-macam!!" ujar Vonny menjewer telinga Edo.
"I...iiii...iya!! Ampun....ampun....ampun!!!Nggak akan berani." kata Edo menjerit kesakitan karena telinga dijewer oleh Vonny.
"Udah....udah, nggak usah diteruskan! Sebaiknya kita tunggu hari yang tepat untuk melangsungkan pernikahan mereka berdua." ujar Vita menengahi pertengkaran tersebut.
Dan pertemuan itu diakhiri dengan acara makan malam bersama di antara kedua keluarga yakni keluarganya Edo dan Vonny.
Other Stories
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...