Bab 17 Nasehat Vonny Untuk Bangkit
Setelah menyaksikan rumah Erika terbakar, semangat Edo untuk bermusik justru mengendor. Dia menjadi tidak bergairah untuk bisa melanjutkan hidupnya.
Hal itu diketahui oleh Vonny yang melihat bahwa Edo sudah kehilangan semangat, Dia penasaran dengan sosok Erika sehingga Edo begitu memujanya. Untuk itu dia ingin mengorek keterangan dari Edo tentang wanita yang bernama Erika.
"Do,ada apa dengan dirimu? Kenapa sejak peristiwa terbakar rumah tersebut,kamu jadi kehilangan semangat hidup? Sebenarnya ada apa dengan rumah tersebut? Kayaknya punya arti khusus ya?" tanya Vonny.
"Rumah tersebut punya kenangan tersendiri bagi diriku. Karena rumah tersebut memberikan pelajaran hidup bagi diriku. Aku tak bisa melupakan rumah yang telah mengajarkan banyak hal kepadaku."
"O gitu ya! Pantesan kamu seperti kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupmu."
Edo hanya menerawang jauh dan masih memikirkan kondisi Erika saat ini. Karena dia tidak tahu Erika masih hidup atau sudah meninggal setelah rumahnya terbakar habis.
Vonny yang sebenarnya ingin mencari tahu tentang sosok Erika kemudian mencoba ingin menanyakan kepada Edo.
"Edo,boleh aku tanya sesuatu kepada kamu? Tapi kamu jangan marah ya?"
"Kamu mau tanya apa,Von?"
"Aku mau tanya.... Ah nggak jadi!! Lain kali aja."
"Kamu itu kenapa, Von? Kok kayaknya ada yang kamu pikirkan sehingga berpikiran aneh seperti itu."
"Sebenarnya aku mau tanya kepada kamu, tapi aku takut kamu tersinggung."
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Tapi kamu janji nggak akan marah ya?"
"Iya,aku janji."
"Baik. Aku ingin tanya sebenarnya siapa itu Erika?"
Sontak pertanyaan tersebut mengejutkan Edo karena tidak menyangka Vonny akan menanyakan hal tersebut.
"Darimana kamu tahu nama Erika?"
"Saat kamu berada di tempat tersebut kamu teriak menyebutkan nama Erika. Memang siapa itu Erika? Apakah itu pacar kamu?"
"Apakah itu penting yang harus aku jawab,Von?"
"Kalo kamu nggak mau jawab juga nggak apa-apa. Mungkin itu suatu rahasia yang nggak boleh diketahui orang lain." ujar Vonny lalu meninggalkan Edo.
"Tunggu,Von! Jangan pergi dulu!"
Vonny menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Edo.
"Edo, apakah kamu ingin mengatakan sesuatu?"
"Aku akan ceritakan kepada kamu supaya kamu nggak muncul pertanyaan lagi."
"Baiklah,aku akan mendengarkan ceritamu tersebut."
"Ketahuilah bahwa Erika itu adalah Dewi Penolongku. Dia yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan ini. Dia pula sebagai sebagai inspirasi bagi hidupku."
"Awal mulanya gimana kamu bisa ketemu Erika?"
"Dia dulu pernah menyelamatkan hidupku ketika aku nyaris bunuh diri."
"Kamu mau bunuh diri,Edo? Kenapa kamu mau melakukan itu? Itu dosa besar."
"Ada persoalan yang aku hadapi dalam hidupku. Jika aku ceritakan akan menjadi aib. Biarlah menjadi masa lalu bagi hidupku."
"Baiklah,aku tak akan memaksa kamu untuk cerita. Lalu kenapa kamu nggak menjalin hubungan dengan Erika? Apakah kamu nggak menyukai orang seperti Erika?"
"Kamu salah,Von! Justru aku jatuh cinta kepada Erika. Tapi sayang,cintaku bertepuk sebelah tangan."
"Maksudnya? Dia menolak cintamu?"
Edo menganggukkan kepalanya.
"Aku mengerti sekarang."
"Aku sekarang kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku."
"Kamu jangan begitu,Do! Kamu harus move on. Bukankah kamu bisa bermusik? Kenapa kamu enggak terpikirkan untuk menjadikan Erika sebagai inspirasi kamu dalam bermusik? Aku yakin jika kamu bisa sukses, Erika pasti senang banget. Jika dia masih hidup pasti akan bangga sama kamu."
"Apakah dia masih hidup di dunia ini,Von?"
"Entah dia masih hidup atau sudah meninggal,kamu jangan patah semangat. Kamu harus bangkit agar nggak mengecewakan dia."
"Begitu ya, Von?"
"Apakah kamu nggak punya impian untuk terjun ke industri musik?"
"Apakah bisa,Von? Mungkinkah aku bisa menggapai mimpi tersebut?"
"Kenapa nggak? Setiap orang boleh punya impian untuk maju dan berkembang. Jika kamu serius, aku akan membantumu untuk mewujudkan impian tersebut. Kebetulan aku punya om yang punya studio rekaman sehingga bisa untuk sarana mewujudkan impian kamu."
"Benarkah itu,Von?"
"Iya."
"Kalo begitu aku akan lakukan itu."
"Sekarang kamu fokus untuk bisa berkarya. Nggak usah memikirkan yang lain."
"Baiklah, Von. Aku akan turuti kata-kata kamu itu."
"Sekarang aku akan menemui om aku supaya bisa kamu secepatnya bisa dapat kesempatan untuk rekaman.
Hal itu diketahui oleh Vonny yang melihat bahwa Edo sudah kehilangan semangat, Dia penasaran dengan sosok Erika sehingga Edo begitu memujanya. Untuk itu dia ingin mengorek keterangan dari Edo tentang wanita yang bernama Erika.
"Do,ada apa dengan dirimu? Kenapa sejak peristiwa terbakar rumah tersebut,kamu jadi kehilangan semangat hidup? Sebenarnya ada apa dengan rumah tersebut? Kayaknya punya arti khusus ya?" tanya Vonny.
"Rumah tersebut punya kenangan tersendiri bagi diriku. Karena rumah tersebut memberikan pelajaran hidup bagi diriku. Aku tak bisa melupakan rumah yang telah mengajarkan banyak hal kepadaku."
"O gitu ya! Pantesan kamu seperti kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupmu."
Edo hanya menerawang jauh dan masih memikirkan kondisi Erika saat ini. Karena dia tidak tahu Erika masih hidup atau sudah meninggal setelah rumahnya terbakar habis.
Vonny yang sebenarnya ingin mencari tahu tentang sosok Erika kemudian mencoba ingin menanyakan kepada Edo.
"Edo,boleh aku tanya sesuatu kepada kamu? Tapi kamu jangan marah ya?"
"Kamu mau tanya apa,Von?"
"Aku mau tanya.... Ah nggak jadi!! Lain kali aja."
"Kamu itu kenapa, Von? Kok kayaknya ada yang kamu pikirkan sehingga berpikiran aneh seperti itu."
"Sebenarnya aku mau tanya kepada kamu, tapi aku takut kamu tersinggung."
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Tapi kamu janji nggak akan marah ya?"
"Iya,aku janji."
"Baik. Aku ingin tanya sebenarnya siapa itu Erika?"
Sontak pertanyaan tersebut mengejutkan Edo karena tidak menyangka Vonny akan menanyakan hal tersebut.
"Darimana kamu tahu nama Erika?"
"Saat kamu berada di tempat tersebut kamu teriak menyebutkan nama Erika. Memang siapa itu Erika? Apakah itu pacar kamu?"
"Apakah itu penting yang harus aku jawab,Von?"
"Kalo kamu nggak mau jawab juga nggak apa-apa. Mungkin itu suatu rahasia yang nggak boleh diketahui orang lain." ujar Vonny lalu meninggalkan Edo.
"Tunggu,Von! Jangan pergi dulu!"
Vonny menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Edo.
"Edo, apakah kamu ingin mengatakan sesuatu?"
"Aku akan ceritakan kepada kamu supaya kamu nggak muncul pertanyaan lagi."
"Baiklah,aku akan mendengarkan ceritamu tersebut."
"Ketahuilah bahwa Erika itu adalah Dewi Penolongku. Dia yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan ini. Dia pula sebagai sebagai inspirasi bagi hidupku."
"Awal mulanya gimana kamu bisa ketemu Erika?"
"Dia dulu pernah menyelamatkan hidupku ketika aku nyaris bunuh diri."
"Kamu mau bunuh diri,Edo? Kenapa kamu mau melakukan itu? Itu dosa besar."
"Ada persoalan yang aku hadapi dalam hidupku. Jika aku ceritakan akan menjadi aib. Biarlah menjadi masa lalu bagi hidupku."
"Baiklah,aku tak akan memaksa kamu untuk cerita. Lalu kenapa kamu nggak menjalin hubungan dengan Erika? Apakah kamu nggak menyukai orang seperti Erika?"
"Kamu salah,Von! Justru aku jatuh cinta kepada Erika. Tapi sayang,cintaku bertepuk sebelah tangan."
"Maksudnya? Dia menolak cintamu?"
Edo menganggukkan kepalanya.
"Aku mengerti sekarang."
"Aku sekarang kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku."
"Kamu jangan begitu,Do! Kamu harus move on. Bukankah kamu bisa bermusik? Kenapa kamu enggak terpikirkan untuk menjadikan Erika sebagai inspirasi kamu dalam bermusik? Aku yakin jika kamu bisa sukses, Erika pasti senang banget. Jika dia masih hidup pasti akan bangga sama kamu."
"Apakah dia masih hidup di dunia ini,Von?"
"Entah dia masih hidup atau sudah meninggal,kamu jangan patah semangat. Kamu harus bangkit agar nggak mengecewakan dia."
"Begitu ya, Von?"
"Apakah kamu nggak punya impian untuk terjun ke industri musik?"
"Apakah bisa,Von? Mungkinkah aku bisa menggapai mimpi tersebut?"
"Kenapa nggak? Setiap orang boleh punya impian untuk maju dan berkembang. Jika kamu serius, aku akan membantumu untuk mewujudkan impian tersebut. Kebetulan aku punya om yang punya studio rekaman sehingga bisa untuk sarana mewujudkan impian kamu."
"Benarkah itu,Von?"
"Iya."
"Kalo begitu aku akan lakukan itu."
"Sekarang kamu fokus untuk bisa berkarya. Nggak usah memikirkan yang lain."
"Baiklah, Von. Aku akan turuti kata-kata kamu itu."
"Sekarang aku akan menemui om aku supaya bisa kamu secepatnya bisa dapat kesempatan untuk rekaman.
Other Stories
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...
Melepasmu Untuk Sementara
Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...