Bab 18 Tawaran Untuk Rekaman Lagu
Setelah mengantarkan pulang Edo ke villa miliknya, Vonny pulang ke rumah. Saat perjalanan pulang dia berniat untuk menghubungi omnya yang bernama Bobby Setiawan. Saat itu dia menelepon adik kandung dari maminya tersebut. Dan panggilan telepon darinya tersebut langsung diangkat oleh Bobby Setiawan.
"Hallo."
"Om Bobby. Ini Vonny om."
"Tumben kamu telepon om hari ini."
"Iya om. Vonny kangen sama om Bobby."
"Ah.... yang bener!! Beneran kamu kangen sama om? Atau karena maksud lain?"
"Ya.... dua-duanya om hehehe."
"Ya.... ketawa lagi! Ada apa kamu telepon om kali ini?"
"Boleh nggak Vonny ketemu sama om Bobby. Ada yang ingin Vonny omongin sama om hari ini."
"Waduh.... nggak bisa, Von! Om sedang keluar kota. Lusa baru balik."
"Ya udah, lusa aja Vonny menemui om Bobby.
Vonny segera menutup teleponnya dan kembali mengemudikan mobilnya untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah dia langsung masuk kamar. Maminya segera mengetuk pintu kamarnya.
"Von, buka pintunya! Mami mau ngomong."
Vonny segera membuka pintu kamar.
"Ada apa mami?"
"Darimana aja kamu? Seharian perginya dan baru sore pulangnya."
"Bukannya masih mending Vonny pulang. Gimana kalo Vonny nggak pulang? Pasti mami ngomel lagi!"
"Dasar anak susah untuk diatur!!"
"Ini ada apa kok ribut terus" ujar Hartono yang baru pulang kerja menyela pembicaraan.
"Tuh.... lihat anak papi! Baru saja pulang setelah seharian perginya."
"Memangnya kenapa,Mi? Toh Vonny juga nggak kenapa-kenapa kan?"
"Tuh papi aja nggak pernah ngributin kok. Mami kok selalu ribut terus."
"Senang ya kamu dibela sama papi kamu!"
"Sudah-sudah, nggak usah diperpanjang! Kamu seharian darimana,Von? Sampai mami kamu ngomel-ngomel kayak gitu."
"Dari rumah teman yang tertimpa musibah yakni kehilangan orang terdekat."
"Musibah apa yang dialami teman kamu itu?"
"Rumahnya terbakar sehingga dia merasa terpukul. Vonny mencoba menghibur dan menguatkan hati untuk tabah menerima cobaan." tutur Vonny.
"Mami dengar sendiri penuturannya Vonny kan? Sekarang nggak usah dibahas lagi. Setelah ini kita mandi trus makan malam."
Akhirnya Hartono, Aliya,dan Vonny kembali ke kamarnya. Setelah malam tiba mereka segera makan malam bersama.
2 hari kemudian pada suasana pagi yang cerah, Vonny sudah siap untuk pergi. Dia segera menuju ke ruang makan untuk sarapan pagi dengan papi dan mami.
"Wah....anak papi mau pergi nih!!!"
"Iya papi. Vonny ada janjian ketemu dengan om Bobby di kantornya."
"Kamu ingin ketemu dengan om kamu di kantor, Vonny?" tanya Aliya.
"Iya. Memangnya kenapa,Mi?"
"Ngapain kamu ke kantornya om Bobby?"
"Kepengin main. Sudah lama nggak ke sana."
"Vonny,om kamu itu kerja. Jangan diganggu ya, Sayang!"
"Kenapa mami yang sewot sih? Om Bobby aja nggak keberatan kok."
"Tuh... lihat anak papi!! Benar-benar keras kepala!!"
"Kalo dia keras kepala, pasti ada yang ditiru. Kira-kira meniru siapa ya?"
"Ya jelas meniru papi!!
"Ah....apa iya begitu?"
"Papi....mami, silahkan diteruskan berantemnya ya! Vonny pergi dulu.Dah....papi...mami!!" ujar Vonny lalu pergi.
"Udah nggak usah dibahas lagi. Papi mau berangkat ke kantor. Nanti telat jika membahas urusan beginian."
Hartono segera masuk ke dalam mobilnya dan berangkat menuju ke kantornya.
Sementara Vonny sudah tiba di kantornya Bobby untuk membicarakan suatu hal.
"Selamat pagi om." sapa Vonny.
"Pagi. Eh...kamu,Von! Ayo.... duduk sini!"
"Iya om."
"Ada apa nih? Kok kayaknya penting banget kamu pengin ketemu om."
"Vonny pengin tanya situasi di sini sekarang gimana nih,Om?"
"Ya.... sekarang kamu tahu sendiri,Von! Seiring perkembangan teknologi dari analog ke digital. Sekarang sudah nggak jaman lagi memakai kaset maupun CD. Terlebih dengan hadirnya sosial media sehingga orang bisa membuat demo rekaman sendiri."
"Tapi studio rekaman ini masih jalan kan,Om?"
"Ya masih. Memangnya ada apa kamu tanya seperti itu?"
"Vonny punya teman yang seorang musisi yang pengin bisa masuk ke sebuah industri musik. Hanya saja nggak tahu jalan menuju ke sana. Apakah om Bobby bisa membantu teman Vonny tersebut?"
"Teman kamu lelaki atau perempuan?"
"Lelaki om."
"Teman atau teman nih?"
"Om Bobby ini! Vonny serius nih! Bisa nggak om Bobby membantunya?"
"Tapi om harus melihat kualitas suaranya seperti apa dulu. Om nggak bisa sembarangan merekrut orang yang kualitas suaranya pas-pasan."
"Kalo itu Vonny belum bisa menjawab. Karena belum pernah dengar dia sedang menyanyi."
"Lebih baik kamu survey dulu. Jika oke, baru kasih tahu om. Nanti om yang akan mengatur dan kasih kesempatan buat dia."
"Kalo gitu Vonny jalan dulu om."
"Ok. Hati-hati di jalan."
Vonny kemudian keluar dari kantornya Bobby Setiawan. Dia akan mendatangi tempat tinggal Edo. Setelah menyalakan mesin mobil,dia bergegas menuju villa miliknya yang sekarang menjadi tempat tinggal Edo.
Ketika sampai di depan villa tersebut,dia terkejut karena dia mendengar ada orang yang sedang melantunkan sebuah lagu yang liriknya indah dan menyentuh perasaan. Dia penasaran dengan orang yang sedang menyanyi tersebut.
"Aku kok dengar ada orang yang menyanyikan lagu penuh penghayatan dan suaranya benar-benar merdu. Siapa orang tersebut?"
Ketika itu dia masuk lewat samping sehingga tembus ke dapur. Dia menanyakan kepada pembantunya tentang orang yang sedang menyanyi tersebut.
"Bi Ijah."
"Eh....non Vonny yang datang."
"Bibi dengar ada seseorang yang sedang menyanyi?"
"Iya dengar non. Memang ada apa,Non?"
"Apakah bibi tahu orangnya yang sedang menyanyi tersebut?"
Bibi Ijah memberikan kode lewat lirikan matanya yang menunjuk orang yang sedang menyanyi dengan diiringi sebuah gitar. Orang tersebut tak lain adalah Edo. Vonny yang mendengar merasa terpesona dan hanyut dalam perasaan.
"Oh....my God!! Baru kali ini aku mendengar Edo menyanyi. Ternyata suaranya benar-benar merdu dan lirik lagu sangat menyentuh hati. Rasanya nggak salah jika aku bisa membantu dia untuk bisa menjadi penyanyi di industri musik."
"Kenapa non? Non Vonny terpesona ya?"
"Ssssttt.... jangan ribut!!" ujar Vonny mengacungkan jari telunjuknya di depan mulut agar supaya pembantunya tenang.
"Non suka lagunya atau orangnya?"
"Hush....bawel amat sih!" ucap Vonny jengkel.
"Bilang iya aja kok malu sih,Non?"
"Ah... maless aku ngomong sama bibi!!"
Bibi Ijah hanya tersenyum melihat perilaku majikan mudanya.
Sedangkan Vonny segera menelepon Bobby Setiawan untuk memberikan laporan.
"Om Bobby, barusan Vonny dengar dia sedang bernyanyi. Dan ternyata dia benar-benar nggak mengecewakan. Suaranya benar-benar merdu dan menyentuh perasaan."
"Oh ya! Kalo begitu minggu depan ajak dia kemari. Om pengin dengar suaranya."
"Siap om, laksanakan!"
Vonny kemudian menutup teleponnya. Setelah itu dia kembali mendengar suaranya Edo lagi. Setelah selesai Edo menyanyikan lagunya, Vonny langsung bertepuk tangan.
Edo terkejut melihat kehadiran Vonny yang datang secara tiba-tiba.
"Kamu bikin kaget aku,Von! Kenapa nggak bilang jika mau datang kemari sih?"
"Aku sengaja bikin surprise. Kalo nggak gini,aku nggak bakal dengar suara merdu kamu."
"Kamu jangan meledek,Von! Suaraku kayak gini,kamu anggap merdu. Jangan-jangan telinga kamu ada masalah ya?"
"Sumpah,Do! Aku nggak meledek kamu. Dan lagu yang kamu nyanyikan benar-benar menyentuh perasaan. Kalo boleh tahu, apa judul lagu tersebut?"
"Judulnya adalah TANPAMU."
"Lagu itu ciptaan kamu?"
"Iya."
"Wow.....amazing!!! Mungkinkah lagu tersebut menggambarkan perasaan kamu terhadap sosok Erika?"
"Ya... kurang lebih begitu!"
"Gini ya, Do! Aku pernah janji bahwa aku akan membantumu untuk bisa rekaman di studio. Kebetulan om aku setuju untuk memberikan kamu kesempatan untuk rekaman. Gimana? Apakah kamu mau?"
"Itu beneran,Von?"
"Iya."
"Aduh.... terima kasih,Von!" ujar Edo langsung memeluk Vonny secara spontan.
Vonny terkejut karena tidak menyangka akan dipeluk oleh Edo. Setelah sadar, Edo segera melepas pelukannya pada Vonny.
"Sorry, Von! Tadi itu spontan aja aku peluk kamu."
Vonny tersenyum sambil berkata.
"Nggak apa-apa. Aku nggak keberatan kok kamu peluk." ujar Vonny yang dalam hati sangat senang dipeluk Edo.
Bibi Ijah yang melihat dari dapur cuma tersenyum geli.
Setelah itu Edo menanyakan kepastiannya tersebut.
"Kapan aku bisa memperoleh kesempatan untuk rekaman,Von?"
"Minggu depan. Bisa ya kamu?"
"Tentu saja bisa. Ini impian yang aku tunggu-tunggu."
"Kalo gitu minggu depan aku jemput kamu. Sekarang aku pulang dulu."
"Terima kasih ya,Von."
"Sama-sama."
Vonny kemudian keluar dari villa tersebut untuk pulang ke rumah.
Seminggu kemudian Vonny mengajak Edo menuju studio rekaman milik omnya tersebut. Saat itu Vonny memperkenalkan Edo kepada Bobby Setiawan.
"Ini orang yang Vonny ceritakan tempo hari om. Namanya Edo."
"Oh ya? Perkenalkan nama saya Bobby Setiawan, omnya Vonny." ujar Bobby Setiawan memperkenalkan diri.
"Nama saya Edo Sanjaya."
"Vonny pernah cerita bahwa mas Edo punya suara yang merdu. Benarkah begitu?"
"Ah.... Vonny terlalu berlebihan dalam mengarang cerita. Saya tidak punya suara seperti yang diceritakan."
"Jangan merendah seperti itu. Saya yakin Vonny nggak akan salah menilai karena saya paham betul sifat dan karakter dia. Apakah bisa saya dengar suara mas Edo?"
"Baiklah."
"Kalo begitu mas Edo segera masuk studio rekaman untuk ditest suaranya."
Edo segera masuk studio rekaman untuk ditest suaranya. Dan ternyata setelah mendengar suaranya Edo, Bobby Setiawan merasa terpesona dan terkesan. Terlebih lagi dengan lagu yang dinyanyikan Edo benar-benar menyentuh perasaan. Dia mengacungkan 2 jempolnya kepada Edo.
"Wow.... excellent!!! Luar biasa!! Ternyata benar penilaian Vonny."
"Benar kan penilaian Vonny,Om?"
"Ternyata keponakan om benar-benar jeli."
"Keponakan siapa dulu dong?"
"Ah...kamu itu! Oh ya,Mas Edo!"
"Ya pak Bobby."
"Dalam waktu dekat ini, anda akan dihubungi untuk pembuatan video klip dari lagu mas Edo tersebut."
"Beneran,Pak Bobby?"
"Iya. Saya benar-benar puas bisa kerjasama dengan mas Edo."
"Sama-sama."
"Kalo gitu kami bisa pulang,Om?"
"Silahkan."
"Ayo kita pulang,Edo!" ujar Vonny sambil menarik tangan Edo.
Bobby Setiawan yang menyaksikan perilaku keponakannya hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Hallo."
"Om Bobby. Ini Vonny om."
"Tumben kamu telepon om hari ini."
"Iya om. Vonny kangen sama om Bobby."
"Ah.... yang bener!! Beneran kamu kangen sama om? Atau karena maksud lain?"
"Ya.... dua-duanya om hehehe."
"Ya.... ketawa lagi! Ada apa kamu telepon om kali ini?"
"Boleh nggak Vonny ketemu sama om Bobby. Ada yang ingin Vonny omongin sama om hari ini."
"Waduh.... nggak bisa, Von! Om sedang keluar kota. Lusa baru balik."
"Ya udah, lusa aja Vonny menemui om Bobby.
Vonny segera menutup teleponnya dan kembali mengemudikan mobilnya untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah dia langsung masuk kamar. Maminya segera mengetuk pintu kamarnya.
"Von, buka pintunya! Mami mau ngomong."
Vonny segera membuka pintu kamar.
"Ada apa mami?"
"Darimana aja kamu? Seharian perginya dan baru sore pulangnya."
"Bukannya masih mending Vonny pulang. Gimana kalo Vonny nggak pulang? Pasti mami ngomel lagi!"
"Dasar anak susah untuk diatur!!"
"Ini ada apa kok ribut terus" ujar Hartono yang baru pulang kerja menyela pembicaraan.
"Tuh.... lihat anak papi! Baru saja pulang setelah seharian perginya."
"Memangnya kenapa,Mi? Toh Vonny juga nggak kenapa-kenapa kan?"
"Tuh papi aja nggak pernah ngributin kok. Mami kok selalu ribut terus."
"Senang ya kamu dibela sama papi kamu!"
"Sudah-sudah, nggak usah diperpanjang! Kamu seharian darimana,Von? Sampai mami kamu ngomel-ngomel kayak gitu."
"Dari rumah teman yang tertimpa musibah yakni kehilangan orang terdekat."
"Musibah apa yang dialami teman kamu itu?"
"Rumahnya terbakar sehingga dia merasa terpukul. Vonny mencoba menghibur dan menguatkan hati untuk tabah menerima cobaan." tutur Vonny.
"Mami dengar sendiri penuturannya Vonny kan? Sekarang nggak usah dibahas lagi. Setelah ini kita mandi trus makan malam."
Akhirnya Hartono, Aliya,dan Vonny kembali ke kamarnya. Setelah malam tiba mereka segera makan malam bersama.
2 hari kemudian pada suasana pagi yang cerah, Vonny sudah siap untuk pergi. Dia segera menuju ke ruang makan untuk sarapan pagi dengan papi dan mami.
"Wah....anak papi mau pergi nih!!!"
"Iya papi. Vonny ada janjian ketemu dengan om Bobby di kantornya."
"Kamu ingin ketemu dengan om kamu di kantor, Vonny?" tanya Aliya.
"Iya. Memangnya kenapa,Mi?"
"Ngapain kamu ke kantornya om Bobby?"
"Kepengin main. Sudah lama nggak ke sana."
"Vonny,om kamu itu kerja. Jangan diganggu ya, Sayang!"
"Kenapa mami yang sewot sih? Om Bobby aja nggak keberatan kok."
"Tuh... lihat anak papi!! Benar-benar keras kepala!!"
"Kalo dia keras kepala, pasti ada yang ditiru. Kira-kira meniru siapa ya?"
"Ya jelas meniru papi!!
"Ah....apa iya begitu?"
"Papi....mami, silahkan diteruskan berantemnya ya! Vonny pergi dulu.Dah....papi...mami!!" ujar Vonny lalu pergi.
"Udah nggak usah dibahas lagi. Papi mau berangkat ke kantor. Nanti telat jika membahas urusan beginian."
Hartono segera masuk ke dalam mobilnya dan berangkat menuju ke kantornya.
Sementara Vonny sudah tiba di kantornya Bobby untuk membicarakan suatu hal.
"Selamat pagi om." sapa Vonny.
"Pagi. Eh...kamu,Von! Ayo.... duduk sini!"
"Iya om."
"Ada apa nih? Kok kayaknya penting banget kamu pengin ketemu om."
"Vonny pengin tanya situasi di sini sekarang gimana nih,Om?"
"Ya.... sekarang kamu tahu sendiri,Von! Seiring perkembangan teknologi dari analog ke digital. Sekarang sudah nggak jaman lagi memakai kaset maupun CD. Terlebih dengan hadirnya sosial media sehingga orang bisa membuat demo rekaman sendiri."
"Tapi studio rekaman ini masih jalan kan,Om?"
"Ya masih. Memangnya ada apa kamu tanya seperti itu?"
"Vonny punya teman yang seorang musisi yang pengin bisa masuk ke sebuah industri musik. Hanya saja nggak tahu jalan menuju ke sana. Apakah om Bobby bisa membantu teman Vonny tersebut?"
"Teman kamu lelaki atau perempuan?"
"Lelaki om."
"Teman atau teman nih?"
"Om Bobby ini! Vonny serius nih! Bisa nggak om Bobby membantunya?"
"Tapi om harus melihat kualitas suaranya seperti apa dulu. Om nggak bisa sembarangan merekrut orang yang kualitas suaranya pas-pasan."
"Kalo itu Vonny belum bisa menjawab. Karena belum pernah dengar dia sedang menyanyi."
"Lebih baik kamu survey dulu. Jika oke, baru kasih tahu om. Nanti om yang akan mengatur dan kasih kesempatan buat dia."
"Kalo gitu Vonny jalan dulu om."
"Ok. Hati-hati di jalan."
Vonny kemudian keluar dari kantornya Bobby Setiawan. Dia akan mendatangi tempat tinggal Edo. Setelah menyalakan mesin mobil,dia bergegas menuju villa miliknya yang sekarang menjadi tempat tinggal Edo.
Ketika sampai di depan villa tersebut,dia terkejut karena dia mendengar ada orang yang sedang melantunkan sebuah lagu yang liriknya indah dan menyentuh perasaan. Dia penasaran dengan orang yang sedang menyanyi tersebut.
"Aku kok dengar ada orang yang menyanyikan lagu penuh penghayatan dan suaranya benar-benar merdu. Siapa orang tersebut?"
Ketika itu dia masuk lewat samping sehingga tembus ke dapur. Dia menanyakan kepada pembantunya tentang orang yang sedang menyanyi tersebut.
"Bi Ijah."
"Eh....non Vonny yang datang."
"Bibi dengar ada seseorang yang sedang menyanyi?"
"Iya dengar non. Memang ada apa,Non?"
"Apakah bibi tahu orangnya yang sedang menyanyi tersebut?"
Bibi Ijah memberikan kode lewat lirikan matanya yang menunjuk orang yang sedang menyanyi dengan diiringi sebuah gitar. Orang tersebut tak lain adalah Edo. Vonny yang mendengar merasa terpesona dan hanyut dalam perasaan.
"Oh....my God!! Baru kali ini aku mendengar Edo menyanyi. Ternyata suaranya benar-benar merdu dan lirik lagu sangat menyentuh hati. Rasanya nggak salah jika aku bisa membantu dia untuk bisa menjadi penyanyi di industri musik."
"Kenapa non? Non Vonny terpesona ya?"
"Ssssttt.... jangan ribut!!" ujar Vonny mengacungkan jari telunjuknya di depan mulut agar supaya pembantunya tenang.
"Non suka lagunya atau orangnya?"
"Hush....bawel amat sih!" ucap Vonny jengkel.
"Bilang iya aja kok malu sih,Non?"
"Ah... maless aku ngomong sama bibi!!"
Bibi Ijah hanya tersenyum melihat perilaku majikan mudanya.
Sedangkan Vonny segera menelepon Bobby Setiawan untuk memberikan laporan.
"Om Bobby, barusan Vonny dengar dia sedang bernyanyi. Dan ternyata dia benar-benar nggak mengecewakan. Suaranya benar-benar merdu dan menyentuh perasaan."
"Oh ya! Kalo begitu minggu depan ajak dia kemari. Om pengin dengar suaranya."
"Siap om, laksanakan!"
Vonny kemudian menutup teleponnya. Setelah itu dia kembali mendengar suaranya Edo lagi. Setelah selesai Edo menyanyikan lagunya, Vonny langsung bertepuk tangan.
Edo terkejut melihat kehadiran Vonny yang datang secara tiba-tiba.
"Kamu bikin kaget aku,Von! Kenapa nggak bilang jika mau datang kemari sih?"
"Aku sengaja bikin surprise. Kalo nggak gini,aku nggak bakal dengar suara merdu kamu."
"Kamu jangan meledek,Von! Suaraku kayak gini,kamu anggap merdu. Jangan-jangan telinga kamu ada masalah ya?"
"Sumpah,Do! Aku nggak meledek kamu. Dan lagu yang kamu nyanyikan benar-benar menyentuh perasaan. Kalo boleh tahu, apa judul lagu tersebut?"
"Judulnya adalah TANPAMU."
"Lagu itu ciptaan kamu?"
"Iya."
"Wow.....amazing!!! Mungkinkah lagu tersebut menggambarkan perasaan kamu terhadap sosok Erika?"
"Ya... kurang lebih begitu!"
"Gini ya, Do! Aku pernah janji bahwa aku akan membantumu untuk bisa rekaman di studio. Kebetulan om aku setuju untuk memberikan kamu kesempatan untuk rekaman. Gimana? Apakah kamu mau?"
"Itu beneran,Von?"
"Iya."
"Aduh.... terima kasih,Von!" ujar Edo langsung memeluk Vonny secara spontan.
Vonny terkejut karena tidak menyangka akan dipeluk oleh Edo. Setelah sadar, Edo segera melepas pelukannya pada Vonny.
"Sorry, Von! Tadi itu spontan aja aku peluk kamu."
Vonny tersenyum sambil berkata.
"Nggak apa-apa. Aku nggak keberatan kok kamu peluk." ujar Vonny yang dalam hati sangat senang dipeluk Edo.
Bibi Ijah yang melihat dari dapur cuma tersenyum geli.
Setelah itu Edo menanyakan kepastiannya tersebut.
"Kapan aku bisa memperoleh kesempatan untuk rekaman,Von?"
"Minggu depan. Bisa ya kamu?"
"Tentu saja bisa. Ini impian yang aku tunggu-tunggu."
"Kalo gitu minggu depan aku jemput kamu. Sekarang aku pulang dulu."
"Terima kasih ya,Von."
"Sama-sama."
Vonny kemudian keluar dari villa tersebut untuk pulang ke rumah.
Seminggu kemudian Vonny mengajak Edo menuju studio rekaman milik omnya tersebut. Saat itu Vonny memperkenalkan Edo kepada Bobby Setiawan.
"Ini orang yang Vonny ceritakan tempo hari om. Namanya Edo."
"Oh ya? Perkenalkan nama saya Bobby Setiawan, omnya Vonny." ujar Bobby Setiawan memperkenalkan diri.
"Nama saya Edo Sanjaya."
"Vonny pernah cerita bahwa mas Edo punya suara yang merdu. Benarkah begitu?"
"Ah.... Vonny terlalu berlebihan dalam mengarang cerita. Saya tidak punya suara seperti yang diceritakan."
"Jangan merendah seperti itu. Saya yakin Vonny nggak akan salah menilai karena saya paham betul sifat dan karakter dia. Apakah bisa saya dengar suara mas Edo?"
"Baiklah."
"Kalo begitu mas Edo segera masuk studio rekaman untuk ditest suaranya."
Edo segera masuk studio rekaman untuk ditest suaranya. Dan ternyata setelah mendengar suaranya Edo, Bobby Setiawan merasa terpesona dan terkesan. Terlebih lagi dengan lagu yang dinyanyikan Edo benar-benar menyentuh perasaan. Dia mengacungkan 2 jempolnya kepada Edo.
"Wow.... excellent!!! Luar biasa!! Ternyata benar penilaian Vonny."
"Benar kan penilaian Vonny,Om?"
"Ternyata keponakan om benar-benar jeli."
"Keponakan siapa dulu dong?"
"Ah...kamu itu! Oh ya,Mas Edo!"
"Ya pak Bobby."
"Dalam waktu dekat ini, anda akan dihubungi untuk pembuatan video klip dari lagu mas Edo tersebut."
"Beneran,Pak Bobby?"
"Iya. Saya benar-benar puas bisa kerjasama dengan mas Edo."
"Sama-sama."
"Kalo gitu kami bisa pulang,Om?"
"Silahkan."
"Ayo kita pulang,Edo!" ujar Vonny sambil menarik tangan Edo.
Bobby Setiawan yang menyaksikan perilaku keponakannya hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Other Stories
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Kk
jjj ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Jika Nanti
Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...