Chapter 1 Dika-ku
Hawa panas di kamar itu terasa pengap, setara dengan perasaan yang berkecamuk di dadaku. Di depanku, Dika duduk mematung, wajahnya dipoles cahaya remang dari lampu meja. Matanya, yang dulu selalu memancarkan kehangatan, kini dingin dan jauh. Ponselku tergeletak di antara kami, layarnya menampilkan pesan-pesan yang tak seharusnya ada. Pesan-pesan dari Beno.
“Siapa dia, Di?” suaraku bergetar, lebih karena luka daripada amarah.
Dika tak menjawab. Ia hanya menunduk, mengusap wajahnya perlahan. Aku tahu, sejak beberapa bulan lalu ada yang aneh. Jadwalnya yang tiba-tiba padat, alasan lembur yang tak masuk akal, dan tatapan kosongnya setiap kali ia berpikir. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa curiga itu, mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu hanya bayanganku saja.
Namun, kini bayangan itu menjadi nyata. Pesan-pesan itu jelas, tak bisa disangkal. Ada foto, ada janji, kata-kata mesra yang seharusnya hanya diucapkan untukku. Dadaku sesak, rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku.
“Jawab aku, Dika!” desakku, air mata mulai menggenang di pelupuk.
Ia mengangkat kepala, dan di situlah aku melihatnya. Di matanya, ada sesuatu yang asing. Ada kilatan yang bukan lagi Dika-ku. Ada bayangan seorang wanita lain. Tubuhku mendadak merinding. Ini bukan Dika. Dia bukan dia. Aku mundur selangkah, napas tercekat di tenggorokan.
“Di, kamu kenapa?” tanyaku dengan suara hampir tak terdengar.
Wajah Dika tetap datar, tapi matanya, seolah memohon, ada suara lain di balik tatapan kosong itu yang meminta pertolongan. Keringat dingin mulai membasahi punggungku. Ini bukan Dika yang kukenal. Dika-ku tak pernah punya tatapan setajam ini. Dika-ku tak pernah punya ekspresi setenang ini di tengah badai.
Saat aku hendak bertanya lagi, Dika berdiri. Tubuhnya yang tegap kini terasa mengancam. Ia berjalan mendekatiku, langkahnya pelan dan pasti. Aku ingin berteriak, dan lari, tapi kakiku terasa lumpuh.
“Kamu harus pergi, Alya,” bisiknya dengan suara yang berat. Suaranya pun beda. Ada nada serak yang tak pernah kudengar sebelumnya.
“Apa maksudmu? Kamu ini siapa?” suaraku pecah.
Ia hanya tersenyum tipis. Senyum yang penuh rahasia dan jauh dari kehangatan. Ia meraih tanganku, dan sentuhannya terasa dingin. Bukan lagi sentuhan hangat Dika yang selalu menenangkanku. Sentuhan ini terasa asing, seolah dari orang lain.
Mataku tertuju pada cermin di belakangnya. Di sana, pantulan Dika berdiri di sampingku. Tapi ada yang aneh. Bayangannya tersenyum lebih lebar, mengerikan, dan matanya memancarkan kilatan kejahatan yang memuakkan.
Aku menoleh kembali pada Dika, namun yang kulihat adalah bayangan yang sama. Seseorang dengan mata yang tajam, senyum yang dingin, dan sentuhan yang mematikan. Dia bukan Dika. Dika-ku telah hilang, ditelan oleh sosok lain di depan mataku. Aku berdiri di hadapan seseorang yang telah mengambil alih kekasihku, dan tidak tahu harus lari ke mana.
Other Stories
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Kuntilanak Gaul
Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...