Chapter 5, Menemui Beno
Perasaan ngeri merayapiku, namun di tengah semua ketakutan, ada satu hal yang kini lebih kuat rasa penasaran, pikiranku beŕputar, "Siapa Beno? Apa hubungannya dengan Dika dan sosok mengerikan yang merasukinya?"
Aku tak bisa menunggu lagi. Malam itu juga, aku mencari kontak Beno di ponsel Dika. Jari-jariku gemetar saat mengetik pesan.
“Beno, ini Alya. Pacar Dika. Ada yang harus aku tanyakan padamu. Penting.”
Tak butuh waktu lama, Beno membalas. Ia mengajakku bertemu di sebuah kafe yang sepi. Malam itu, di bawah lampu kafe yang temaram, aku berhadapan dengan Beno. Wajahnya terlihat lelah, kantung mata menghitam, dan ia tak berani menatapku.
“Jadi, ada apa?” tanyanya, suaranya pelan dan ragu.
Aku tak bertele-tele, “Dika. Ada yang tidak beres dengannya, tapi ada hal lain yang lebih besar. Ada sosok lain di dalam tubuh Dika. Dia bilang, kamu tahu segalanya. Kenapa dia muncul?”
Beno terdiam, ia menunduk. Tangannya gemetar, “A-Aku tidak seharusnya menceritakan ini padamu.”
“Ben, kumohon,” pintaku, “Dika dalam bahaya. Aku harus menolongnya.”
Air mata Beno mengalir, “Aku tidak pernah ingin ini terjadi. Ini semua salahku.”
Ia akhirnya memulai ceritanya. Semua bermula saat Dika mengalami kecelakaan mobil beberapa tahun lalu. Kecelakaan itu parah meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam. Selama pemulihan, Dika seringkali mengalami mimpi buruk dan halusinasi. Ia merasa ada yang salah, ada yang kosong di dalam dirinya.
“Itu bukan kecelakaan,” bisik Beno, air mata membanjiri wajahnya, “Aku yang menyebabkannya. Aku sedang mabuk saat itu. Aku mencoba mengejar mobil Dika karena dia marah padaku. Dan aku menabraknya.”
Deg!
Jantungku berdebar tak karuan. Jadi ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang tragedi.
“Setelah kecelakaan itu, Dika menjadi pribadi yang berbeda,” lanjut Beno, “Dia menjadi dingin dan tertutup. Tapi kadang, aku melihatnya kembali menjadi Dika yang kukenal. Dia akan berteriak, memohon padaku untuk pergi. Tapi aku tidak bisa. Aku terlalu takut dan merasa bersalah.”
“Lalu kenapa dia selingkuh?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak pernah mengerti. Dia bilang, itu cara untuk menunjukkan pada dunia bahwa ia tidak lemah. Ia harus menunjukkan bahwa ia bisa mendapatkan segalanya.”
Penjelasan Beno membuat semuanya masuk akal. Sosok jahat itu, pendamping jiwa yang lahir dari trauma Dika. Sosok itu bukan hanya merasuki Dika, tapi juga memanipulasi Dika dan hubungannya dengan orang lain. Dengan Beno, dan kini denganku.
“Lalu bagaimana cara mengusirnya?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Aku tidak tahu,” jawab Beno, menggelengkan kepala, “Tapi Dika pernah berkata padaku. Kau harus mencintai bagian tergelap dariku, agar aku bisa bebas.’”
Kata-kata itu mengiang di telingaku, "Mencintai bagian tergelap Dika? Maksudnya aku harus mencintai pendamping jiwa itu? Mustahil. Aku tak bisa mencintai monster yang merasuki pacarku."
“Tidak ... tidak mungkin,” gumamku, “Pasti ada cara lain.”
Beno hanya menggelengkan kepala, "Aku tidak tahu lagi, Alya. Mungkin itu satu-satunya cara. Dika selalu bilang hanya cinta yang bisa membebaskannya dari kegelapan."
Aku meninggalkan kafe itu dengan perasaan hampa dan bingung. Jawaban yang kudapatkan tidak seperti yang kuharapkan, "Mengapa Dika memilih jalan ini? Mengapa ia melibatkan orang lain dalam penderitaannya?"
Aku harus kembali ke apartemen Dika. Aku harus menghadapi sosok itu dan mencari tahu, apakah cinta memang satu-satunya kunci untuk menyelamatkan Dika.
Aku tak bisa menunggu lagi. Malam itu juga, aku mencari kontak Beno di ponsel Dika. Jari-jariku gemetar saat mengetik pesan.
“Beno, ini Alya. Pacar Dika. Ada yang harus aku tanyakan padamu. Penting.”
Tak butuh waktu lama, Beno membalas. Ia mengajakku bertemu di sebuah kafe yang sepi. Malam itu, di bawah lampu kafe yang temaram, aku berhadapan dengan Beno. Wajahnya terlihat lelah, kantung mata menghitam, dan ia tak berani menatapku.
“Jadi, ada apa?” tanyanya, suaranya pelan dan ragu.
Aku tak bertele-tele, “Dika. Ada yang tidak beres dengannya, tapi ada hal lain yang lebih besar. Ada sosok lain di dalam tubuh Dika. Dia bilang, kamu tahu segalanya. Kenapa dia muncul?”
Beno terdiam, ia menunduk. Tangannya gemetar, “A-Aku tidak seharusnya menceritakan ini padamu.”
“Ben, kumohon,” pintaku, “Dika dalam bahaya. Aku harus menolongnya.”
Air mata Beno mengalir, “Aku tidak pernah ingin ini terjadi. Ini semua salahku.”
Ia akhirnya memulai ceritanya. Semua bermula saat Dika mengalami kecelakaan mobil beberapa tahun lalu. Kecelakaan itu parah meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam. Selama pemulihan, Dika seringkali mengalami mimpi buruk dan halusinasi. Ia merasa ada yang salah, ada yang kosong di dalam dirinya.
“Itu bukan kecelakaan,” bisik Beno, air mata membanjiri wajahnya, “Aku yang menyebabkannya. Aku sedang mabuk saat itu. Aku mencoba mengejar mobil Dika karena dia marah padaku. Dan aku menabraknya.”
Deg!
Jantungku berdebar tak karuan. Jadi ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang tragedi.
“Setelah kecelakaan itu, Dika menjadi pribadi yang berbeda,” lanjut Beno, “Dia menjadi dingin dan tertutup. Tapi kadang, aku melihatnya kembali menjadi Dika yang kukenal. Dia akan berteriak, memohon padaku untuk pergi. Tapi aku tidak bisa. Aku terlalu takut dan merasa bersalah.”
“Lalu kenapa dia selingkuh?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak pernah mengerti. Dia bilang, itu cara untuk menunjukkan pada dunia bahwa ia tidak lemah. Ia harus menunjukkan bahwa ia bisa mendapatkan segalanya.”
Penjelasan Beno membuat semuanya masuk akal. Sosok jahat itu, pendamping jiwa yang lahir dari trauma Dika. Sosok itu bukan hanya merasuki Dika, tapi juga memanipulasi Dika dan hubungannya dengan orang lain. Dengan Beno, dan kini denganku.
“Lalu bagaimana cara mengusirnya?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Aku tidak tahu,” jawab Beno, menggelengkan kepala, “Tapi Dika pernah berkata padaku. Kau harus mencintai bagian tergelap dariku, agar aku bisa bebas.’”
Kata-kata itu mengiang di telingaku, "Mencintai bagian tergelap Dika? Maksudnya aku harus mencintai pendamping jiwa itu? Mustahil. Aku tak bisa mencintai monster yang merasuki pacarku."
“Tidak ... tidak mungkin,” gumamku, “Pasti ada cara lain.”
Beno hanya menggelengkan kepala, "Aku tidak tahu lagi, Alya. Mungkin itu satu-satunya cara. Dika selalu bilang hanya cinta yang bisa membebaskannya dari kegelapan."
Aku meninggalkan kafe itu dengan perasaan hampa dan bingung. Jawaban yang kudapatkan tidak seperti yang kuharapkan, "Mengapa Dika memilih jalan ini? Mengapa ia melibatkan orang lain dalam penderitaannya?"
Aku harus kembali ke apartemen Dika. Aku harus menghadapi sosok itu dan mencari tahu, apakah cinta memang satu-satunya kunci untuk menyelamatkan Dika.
Other Stories
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
My 24
Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...
Gm.
menakutkan. ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...