Deska

Reads
7.7K
Votes
1
Parts
27
Vote
Report
Penulis Pale

Perpisahan Sekolah Memiliki Kesan

Hari itu datang juga itu perpisahan sekolah.

Sejak pagi, aula sudah dihiasi pita-pita warna-warni, balon yang menggantung di langit-langit, dan panggung kecil tempat para siswa akan menampilkan tarian, nyanyian, hingga pidato perpisahan. Suasana ramai, penuh canda, penuh tangis haru.

Aku berdiri di sudut aula, mempersiapkan diri dengan tugas menjadi pembawa acara saat itu. Entah kenapa kepala sekolah mempercayakan hal itu kepadaku, padahal aku masih baru disitu. Para siswa berlarian ke sana kemari, sibuk dengan kostum mereka, guru-guru sibuk memberi arahan. Semua tampak hidup, penuh riang. Tapi di dalam hatiku, ada sesuatu yang justru terasa hening.

Di tengah keramaian itu, mataku kembali menemukan dirinya. Ia sibuk mengatur murid-murid yang akan tampil, memberi senyum tipis, menenangkan mereka yang gugup, mengingatkan yang lupa gerakan. Wajahnya tampak begitu biasa bagi orang lain, tapi bagiku ada yang berbeda sedikit memiliki keteduhan yang menempel pada setiap geraknya.

Aku ingin menyapanya. Sekadar mengatakan “kerja bagus” atau “selamat sudah membimbing anak-anak dengan baik.”

Tapi lagi-lagi, lidahku kelu. Aku hanya menatap dari jauh, menyimpan rasa yang semakin mengakar tanpa pernah kuucapkan.

Acara demi acara bergulir. Tawa, tepuk tangan, air mata semuanya bercampur jadi satu. Hingga akhirnya, momen salam-salaman pun tiba. Para siswa satu per satu mencium tangan guru mereka, memberikan bunga, bahkan ada yang menangis tersedu-sedu. Aku tidak tergabung di barisan, hanya menyaksikan.

Dan ketika aku menoleh, kulihat ia pun dikerumuni para murid. Tangan-tangan kecil itu menggenggam erat tangannya, memberikan bunga sederhana yang mereka bawa dari rumah. Wajahnya berseri, tapi matanya sembab mungkin ikut terbawa haru.

Pemandangan itu membekas dalam diriku. Ada sesuatu yang bergetar perasaan bahwa aku menyaksikan sosok yang bukan hanya sekadar guru, melainkan seseorang yang memberi cahaya dalam kebersahajaannya.

Ditengah perpisahan itu, aku merasa aneh. Bagi semua orang, acara ini adalahakhir. Tapi bagiku, justru terasa seperti awal-awal dari cerita yang entah akanke mana.



Other Stories
Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Menolak Jatuh Cinta

Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Download Titik & Koma