Sunyi Yang Menguji
Hari itu udara terasa lebih berat dari biasanya. Sejak pagi, halaman sekolah dipenuhi wajah-wajah tegang para siswa kelas I sampai V yang bersiap menghadapi ujian semester. Mereka membawa setumpuk buku catatan, berbisik lirih sambil mencoba mengulang rumus atau definisi yang mungkin saja akan keluar di soal.
Aku masuk ke ruang ujian dengan langkah tenang, membawa daftar hadir dan lembar pengawas. Namun ketenangan itu mendadak goyah ketika aku menyadari siapa yang akan mengawas bersamaku. Itu dia, Sosok yang entah sejak kapan selalu mengisi ruang pikiranku.
Kelas itu seakan berubah atmosfernya. Suasana yang semestinya penuh ketegangan siswa malah jadi ruang ujian batin bagiku diriku sendiri.
Bel berbunyi. Para siswa duduk rapi, menunduk, siap menghadapi soal yang dibagikan. Aku berdiri di depan, sementara dia bergerak pelan dari bangku ke bangku, membagikan lembar soal dengan penuh ketelitian. Sesekali terdengar kata demi kata kecil siswa yang meminta penghapus atau pensil, dan ia menjawab dengan nada sabar, lembut, tanpa nada marah.
Aku memperhatikannya dari jauh dengan cara yang berusaha kusamarkan. Seolah-olah mataku hanya sekadar mengawasi siswa, padahal diam-diam aku sedang mengawasi dirinya.
Ada satu momen kecil ketika seorang siswa tampak panik karena kehilangan kartu ujian.
Ia mendekatinya, menenangkan dengan kata-kata sederhana.“Tenang, coba cari pelan-pelan, jangan gugup dulu.”
Suaranya lembut, tak tinggi, namun cukup untuk menenangkan anak itu. Aku yang mendengarnya dari sisi lain ruangan bahkan ikut merasakan ketenangan itu. Seakan bukan hanya murid yang ditenangkan, tapi juga hatiku yang diam-diam bergejolak.
Waktu berjalan sangat lambat. Jarum jam seakan enggan beranjak melewati detik waktu. Keheningan ruang ujian terasa memekakkan telinga. Suara gesekan pensil di atas kertas terdengar begitu jelas, juga bunyi kursi yang bergeser pelan. Sesekali aku berjalan di antara barisan meja, berpura-pura fokus pada pekerjaan mengawas, padahal pikiranku jauh lebih sibuk menata perasaan yang kian berlapis.
Sesaat, pandangan kami berpapasan. Hanya sebentar, sekilas. Namun cukup membuatku buru-buru menunduk, pura-pura memeriksa lembar jawaban siswa. Aku tahu, itu mungkin hanya tatapan biasa baginya hanya tatapan kolega yang sama-sama sedang menjalankan tugas. Tetapi bagiku, momen singkat itu seakan menyisakan getaran yang lama hilang.
Menjelang akhir waktu, beberapa siswa mulai gelisah. Ada yang menggigit ujung pensil, ada yang menunduk terlalu lama, bahkan ada yang menatap kosong pada lembar soal.
Dia berjalan mendekati salah seorang siswa, menunduk, dan dengan sabar berbisik.“Coba baca pelan-pelan, jangan terburu-buru. Waktu masih ada.”
Aku hanya berdiri tak jauh dari situ, pura-pura tidak memperhatikan. Tapi di dalam hati, aku merasa seperti sedang menyaksikan sesuatu yang sangat berharga, sifatnya yang penuh ketenangan, yang membuat ruangan itu terasa teduh meski di luar sana matahari terik menyengat.
Bel tanda ujian berakhir akhirnya berbunyi. Para siswa menyerahkan lembar jawaban dengan wajah lega, beberapa bahkan langsung menghela napas yang sangat panjang. Aku dan dia mulai mengumpulkan kertas, menghitung jumlahnya, memastikan tidak ada yang tertinggal.
“Lengkap?” tanyanya singkat, matanya menatap lembar-lembar jawaban di tanganku.
"Ya, sudah semua,” jawabku, terdengar biasa.Hanya itu percakapan kami. Ringkas, formal, tak ada yang istimewa.
Tapi entah kenapa, bagi diriku, suara itu akan terus terputar ulang dalam ingatan.
Kami keluar dari kelas bersamaan. Tidak ada banyak kata, hanya langkah yang seirama menyusuri koridor. Sesekali siswa-siswa yang lewat memberi salam, dan ia membalas dengan senyum ringan. Aku pun ikut tersenyum, tapi lebih karena melihat caranya tersenyum.
Hari itu berakhir begitu saja, tanpa kejadian besar, tanpa cerita panjang. Namun justru di balik kesederhanaan itulah aku merasa semakin sulit mengabaikan sesuatu dengan berprasangka bahwa kebersamaan sekilas, bahkan dalam diam, mampu meninggalkan bekas yang lebih dalam dari yang pernah kubayangkan.
Bagi banyak orang, ujian semester hanyalah rutinitas tahunan. Tapi bagiku, ujiansemester kali ini adalah lembar ujian hati yang tak pernah kutuliskanjawabannya.
Aku masuk ke ruang ujian dengan langkah tenang, membawa daftar hadir dan lembar pengawas. Namun ketenangan itu mendadak goyah ketika aku menyadari siapa yang akan mengawas bersamaku. Itu dia, Sosok yang entah sejak kapan selalu mengisi ruang pikiranku.
Kelas itu seakan berubah atmosfernya. Suasana yang semestinya penuh ketegangan siswa malah jadi ruang ujian batin bagiku diriku sendiri.
Bel berbunyi. Para siswa duduk rapi, menunduk, siap menghadapi soal yang dibagikan. Aku berdiri di depan, sementara dia bergerak pelan dari bangku ke bangku, membagikan lembar soal dengan penuh ketelitian. Sesekali terdengar kata demi kata kecil siswa yang meminta penghapus atau pensil, dan ia menjawab dengan nada sabar, lembut, tanpa nada marah.
Aku memperhatikannya dari jauh dengan cara yang berusaha kusamarkan. Seolah-olah mataku hanya sekadar mengawasi siswa, padahal diam-diam aku sedang mengawasi dirinya.
Ada satu momen kecil ketika seorang siswa tampak panik karena kehilangan kartu ujian.
Ia mendekatinya, menenangkan dengan kata-kata sederhana.“Tenang, coba cari pelan-pelan, jangan gugup dulu.”
Suaranya lembut, tak tinggi, namun cukup untuk menenangkan anak itu. Aku yang mendengarnya dari sisi lain ruangan bahkan ikut merasakan ketenangan itu. Seakan bukan hanya murid yang ditenangkan, tapi juga hatiku yang diam-diam bergejolak.
Waktu berjalan sangat lambat. Jarum jam seakan enggan beranjak melewati detik waktu. Keheningan ruang ujian terasa memekakkan telinga. Suara gesekan pensil di atas kertas terdengar begitu jelas, juga bunyi kursi yang bergeser pelan. Sesekali aku berjalan di antara barisan meja, berpura-pura fokus pada pekerjaan mengawas, padahal pikiranku jauh lebih sibuk menata perasaan yang kian berlapis.
Sesaat, pandangan kami berpapasan. Hanya sebentar, sekilas. Namun cukup membuatku buru-buru menunduk, pura-pura memeriksa lembar jawaban siswa. Aku tahu, itu mungkin hanya tatapan biasa baginya hanya tatapan kolega yang sama-sama sedang menjalankan tugas. Tetapi bagiku, momen singkat itu seakan menyisakan getaran yang lama hilang.
Menjelang akhir waktu, beberapa siswa mulai gelisah. Ada yang menggigit ujung pensil, ada yang menunduk terlalu lama, bahkan ada yang menatap kosong pada lembar soal.
Dia berjalan mendekati salah seorang siswa, menunduk, dan dengan sabar berbisik.“Coba baca pelan-pelan, jangan terburu-buru. Waktu masih ada.”
Aku hanya berdiri tak jauh dari situ, pura-pura tidak memperhatikan. Tapi di dalam hati, aku merasa seperti sedang menyaksikan sesuatu yang sangat berharga, sifatnya yang penuh ketenangan, yang membuat ruangan itu terasa teduh meski di luar sana matahari terik menyengat.
Bel tanda ujian berakhir akhirnya berbunyi. Para siswa menyerahkan lembar jawaban dengan wajah lega, beberapa bahkan langsung menghela napas yang sangat panjang. Aku dan dia mulai mengumpulkan kertas, menghitung jumlahnya, memastikan tidak ada yang tertinggal.
“Lengkap?” tanyanya singkat, matanya menatap lembar-lembar jawaban di tanganku.
"Ya, sudah semua,” jawabku, terdengar biasa.Hanya itu percakapan kami. Ringkas, formal, tak ada yang istimewa.
Tapi entah kenapa, bagi diriku, suara itu akan terus terputar ulang dalam ingatan.
Kami keluar dari kelas bersamaan. Tidak ada banyak kata, hanya langkah yang seirama menyusuri koridor. Sesekali siswa-siswa yang lewat memberi salam, dan ia membalas dengan senyum ringan. Aku pun ikut tersenyum, tapi lebih karena melihat caranya tersenyum.
Hari itu berakhir begitu saja, tanpa kejadian besar, tanpa cerita panjang. Namun justru di balik kesederhanaan itulah aku merasa semakin sulit mengabaikan sesuatu dengan berprasangka bahwa kebersamaan sekilas, bahkan dalam diam, mampu meninggalkan bekas yang lebih dalam dari yang pernah kubayangkan.
Bagi banyak orang, ujian semester hanyalah rutinitas tahunan. Tapi bagiku, ujiansemester kali ini adalah lembar ujian hati yang tak pernah kutuliskanjawabannya.
Other Stories
Pintu Dunia Lain
Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Bunga Untuk Istriku (21+)
Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...