Rindu Pada Keheningan
Hari-hariku yang dipenuhi perasaan abstrak akhirnya berlalu, iburan semester usai. Jalanan menuju sekolah kembali ramai, dipenuhi anak-anak berseragam putih merah yang berjalan berkelompok sambil bercanda. Suasana pagi terasa lebih hidup, seolah kota kecil ini ikut bernapas lega karena sekolah sudah kembali dibuka.
Aku datang lebih awal hari itu. Entah mengapa ada semangat lain yang membuat langkahku terasa lebih ringan. Mungkin karena keramaian yang kutemui selama liburan membuatku rindu pada rutinitas. Atau bisa jadi karena ada satu alasan lain yang tak pernah kuucapkan.Di ruang guru, suasana sudah mulai ramai. Beberapa guru sibuk bercerita tentang liburan mereka, ada yang mudik, ada yang hanya beristirahat di rumah, ada pula yang berlibur bersama keluarga. Aku hanya duduk, mendengarkan sambil tersenyum. Lalu, tanpa sengaja mataku menangkap sosok yang selama ini menjadi pusat perhatianku.
Dia sudah ada di sana, duduk tenang sambil merapikan beberapa berkas. Seperti biasa, sederhana, tapi entah mengapa tetap membuatku merasa ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada kata sapa yang keluar dariku, hanya sekadar tatapan singkat yang kemudian buru-buru kuarahkan kembali ke meja sendiri.
Hari pertama setelah liburan biasanya penuh dengan cerita siswa. Benar saja, di kelas suasananya gaduh. Mereka berebut bercerita tentang pengalaman masing-masing. Ada yang dengan antusias menceritakan jalan-jalan ke luar kota, ada yang bangga karena bisa membantu orang tua di rumah, ada pula yang hanya senang karena bisa tidur lebih lama. Aku mendengarkan mereka sambil sesekali tertawa, tapi pikiranku sesekali melayang kembali ke ruang guru.
Sejujurnya, aku berharap ada perubahan setelah libur panjang ini. Mungkin sedikit keberanian baru, atau sekadar kesempatan untuk memulai percakapan sederhana. Namun kenyataannya, ketika kembali bertemu dengannya, aku tetap menjadi diriku yang sama dengan diam, hanya mengagumi dari kejauhan.
Siang itu, ketika jam pelajaran selesai, aku kembali ke ruang guru. Dia masih ada di sana. Kali ini sedang membaca, wajahnya serius tapi damai. Ada rasa ingin bertanya, ingin sekadar membuka obrolan ringan, tapi lidahku seperti terikat. Aku hanya melewati mejanya, menaruh buku di atas mejaku, lalu duduk.
Aneh. Liburan yang panjang, hari yang mungkin melelahkan, bahkan rindu yang sempat tumbuh, semuanya tidak mengubah kenyataan bahwa aku tetap berada di posisi ini sebagai pengagum yang memilih diam.Namun, justru dalam diam itu, aku menemukan sesuatu yang berbeda. Ada rasa lega bisa melihatnya kembali, ada rasa tenang hanya karena tahu bahwa ia masih berada di lingkar kehidupanku. Tanpa perlu kata, tanpa perlu cerita, kehadirannya saja sudah cukup untuk mengisi ruang kosong setelah liburan panjang.
Hari itu berakhir dengan suasana yang tenang. Dijalan pulang, aku tersenyum sendiri, menyadari bahwa tidak semua kerinduanharus diselesaikan dengan pertemuan yang sempurna. Kadang, cukup dengan melihatdari jauh, hati sudah merasa pulang.
Aku datang lebih awal hari itu. Entah mengapa ada semangat lain yang membuat langkahku terasa lebih ringan. Mungkin karena keramaian yang kutemui selama liburan membuatku rindu pada rutinitas. Atau bisa jadi karena ada satu alasan lain yang tak pernah kuucapkan.Di ruang guru, suasana sudah mulai ramai. Beberapa guru sibuk bercerita tentang liburan mereka, ada yang mudik, ada yang hanya beristirahat di rumah, ada pula yang berlibur bersama keluarga. Aku hanya duduk, mendengarkan sambil tersenyum. Lalu, tanpa sengaja mataku menangkap sosok yang selama ini menjadi pusat perhatianku.
Dia sudah ada di sana, duduk tenang sambil merapikan beberapa berkas. Seperti biasa, sederhana, tapi entah mengapa tetap membuatku merasa ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada kata sapa yang keluar dariku, hanya sekadar tatapan singkat yang kemudian buru-buru kuarahkan kembali ke meja sendiri.
Hari pertama setelah liburan biasanya penuh dengan cerita siswa. Benar saja, di kelas suasananya gaduh. Mereka berebut bercerita tentang pengalaman masing-masing. Ada yang dengan antusias menceritakan jalan-jalan ke luar kota, ada yang bangga karena bisa membantu orang tua di rumah, ada pula yang hanya senang karena bisa tidur lebih lama. Aku mendengarkan mereka sambil sesekali tertawa, tapi pikiranku sesekali melayang kembali ke ruang guru.
Sejujurnya, aku berharap ada perubahan setelah libur panjang ini. Mungkin sedikit keberanian baru, atau sekadar kesempatan untuk memulai percakapan sederhana. Namun kenyataannya, ketika kembali bertemu dengannya, aku tetap menjadi diriku yang sama dengan diam, hanya mengagumi dari kejauhan.
Siang itu, ketika jam pelajaran selesai, aku kembali ke ruang guru. Dia masih ada di sana. Kali ini sedang membaca, wajahnya serius tapi damai. Ada rasa ingin bertanya, ingin sekadar membuka obrolan ringan, tapi lidahku seperti terikat. Aku hanya melewati mejanya, menaruh buku di atas mejaku, lalu duduk.
Aneh. Liburan yang panjang, hari yang mungkin melelahkan, bahkan rindu yang sempat tumbuh, semuanya tidak mengubah kenyataan bahwa aku tetap berada di posisi ini sebagai pengagum yang memilih diam.Namun, justru dalam diam itu, aku menemukan sesuatu yang berbeda. Ada rasa lega bisa melihatnya kembali, ada rasa tenang hanya karena tahu bahwa ia masih berada di lingkar kehidupanku. Tanpa perlu kata, tanpa perlu cerita, kehadirannya saja sudah cukup untuk mengisi ruang kosong setelah liburan panjang.
Hari itu berakhir dengan suasana yang tenang. Dijalan pulang, aku tersenyum sendiri, menyadari bahwa tidak semua kerinduanharus diselesaikan dengan pertemuan yang sempurna. Kadang, cukup dengan melihatdari jauh, hati sudah merasa pulang.
Other Stories
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Kala Kisah Tentang Cahaya
Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...