Riuh Lomba, Sunyi Di Hati
Hari lomba pun tiba. Sejak pagi halaman sekolah sudah ramai. Anak-anak mengenakan kostum berwarna-warni, suara tawa bercampur dengan ketegangan, sementara guru-guru sibuk memastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana.
Aku berdiri di pinggir lapangan, mengawasi murid-murid yang bersiap tampil. Mereka berlatih gerakan terakhir, wajah-wajah kecil itu tampak tegang sekaligus bersemangat. Di seberang sana, aku bisa melihat dia, berdiri di tengah barisan murid kelas V, memberikan arahan singkat. Dari jauh pun aku bisa melihat sorot matanya yang begitu serius, seolah sedang menyalurkan keyakinan pada murid-muridnya.
Acara dimulai. Lomba demi lomba berjalan meriah, nyanyi, tari, baca puisi, hingga drama sederhana. Para guru mendampingi, menenangkan murid yang gugup, bahkan ikut tertawa saat ada yang lupa lirik. Aku ikut larut saat itu.
Ada satu momen yang tak akan kulupa. Saat kelas V tampil menyanyi, dia berdiri tepat di samping panggung, mengangkat tangannya untuk memberi aba-aba. Anak-anak bernyanyi lantang, dan aku bisa melihat senyum tipis di wajahnya ketika mereka berhasil menyelesaikan lagu dengan baik. Senyum sederhana namun anehnya, terasa seperti sebuah kemenangan kecil bagiku yang hanya menjadi penonton dari jauh.
Saat tengah hari matahari yang tak enggan pergi dari pandangan, lomba pun usai. Semua guru berkumpul untuk rekap hasil penilaian. Ruang guru penuh suara diskusi, beberapa saling bercanda melepas lelah. Aku duduk di kursi ujung, membuka berkas nilai. Tak lama, dia masuk membawa berkas kelas V dan duduk di bangku seberangku. Kami saling menatap sekilas, lalu sama-sama kembali menunduk pada kertas masing-masing. Tidak ada percakapan Panjang.
Hanya satu kalimat darinya, “Anak-anak ternyata lebih berani dari yang saya kira.”
Aku menjawab pelan, “Iya, mereka belajar percaya diri.”
Hanya itu. Sederhana. Tapi di balik riuhnya lomba, percakapan singkat itu terasa seperti ruang sunyi yang hanya kami tahu.
Ketika sore benar-benar datang, aku pulang dengan langkah lelah. Namun anehnya, di dalam hati justru ada sesuatu yang terus berdenyut seperti gema dari riuh lomba yang masih tersisa. Bedanya, gema itu bukan berasal dari tepuk tangan murid-murid, melainkan dari momen kecil bersamanya yang tak sengaja tertanam.
Aku tahu, aku hanyalah bagian dari keramaian yang ialewati. Tapi di dalam sunyi, aku menyimpan rasa yang semakin sulit kuredam.
Aku berdiri di pinggir lapangan, mengawasi murid-murid yang bersiap tampil. Mereka berlatih gerakan terakhir, wajah-wajah kecil itu tampak tegang sekaligus bersemangat. Di seberang sana, aku bisa melihat dia, berdiri di tengah barisan murid kelas V, memberikan arahan singkat. Dari jauh pun aku bisa melihat sorot matanya yang begitu serius, seolah sedang menyalurkan keyakinan pada murid-muridnya.
Acara dimulai. Lomba demi lomba berjalan meriah, nyanyi, tari, baca puisi, hingga drama sederhana. Para guru mendampingi, menenangkan murid yang gugup, bahkan ikut tertawa saat ada yang lupa lirik. Aku ikut larut saat itu.
Ada satu momen yang tak akan kulupa. Saat kelas V tampil menyanyi, dia berdiri tepat di samping panggung, mengangkat tangannya untuk memberi aba-aba. Anak-anak bernyanyi lantang, dan aku bisa melihat senyum tipis di wajahnya ketika mereka berhasil menyelesaikan lagu dengan baik. Senyum sederhana namun anehnya, terasa seperti sebuah kemenangan kecil bagiku yang hanya menjadi penonton dari jauh.
Saat tengah hari matahari yang tak enggan pergi dari pandangan, lomba pun usai. Semua guru berkumpul untuk rekap hasil penilaian. Ruang guru penuh suara diskusi, beberapa saling bercanda melepas lelah. Aku duduk di kursi ujung, membuka berkas nilai. Tak lama, dia masuk membawa berkas kelas V dan duduk di bangku seberangku. Kami saling menatap sekilas, lalu sama-sama kembali menunduk pada kertas masing-masing. Tidak ada percakapan Panjang.
Hanya satu kalimat darinya, “Anak-anak ternyata lebih berani dari yang saya kira.”
Aku menjawab pelan, “Iya, mereka belajar percaya diri.”
Hanya itu. Sederhana. Tapi di balik riuhnya lomba, percakapan singkat itu terasa seperti ruang sunyi yang hanya kami tahu.
Ketika sore benar-benar datang, aku pulang dengan langkah lelah. Namun anehnya, di dalam hati justru ada sesuatu yang terus berdenyut seperti gema dari riuh lomba yang masih tersisa. Bedanya, gema itu bukan berasal dari tepuk tangan murid-murid, melainkan dari momen kecil bersamanya yang tak sengaja tertanam.
Aku tahu, aku hanyalah bagian dari keramaian yang ialewati. Tapi di dalam sunyi, aku menyimpan rasa yang semakin sulit kuredam.
Other Stories
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Lombok; Tanah Surga
Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang tidak pernah diduga akan terjadi. Tetapi menjad ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...