Deska

Reads
7K
Votes
1
Parts
27
Vote
Report
Penulis Pale

Ketika Jarak Runtuh

Satu hari itu sebenarnya sama seperti hari-hari sebelumnya. Pagi berangkat dengan terburu-buru, siang penuh dengan kelas yang melelahkan, dan ruang guru menjadi sandaran lelah. Tidak ada yang istimewa. Namun justru di saat aku sedang berada dalam titik jenuh itulah sesuatu terjadi, sesuatu yang kelak mengubah caraku memandang kehadirannya.

Ruang guru mulai sepi. Jam pelajaran telah usai, sebagian besar rekan sudah pulang, menyisakan hanya aku yang sibuk menandai lembar tugas murid. Suara kipas angin yang berdecit serak menjadi satu-satunya pengisi hampa. Mataku sudah mulai lelah menatap tulisan-tulisan anak didik, tapi tanganku tetap bergerak.

Tiba-tiba, dari arah pintu terdengar suara yang tak pernah kuduga.

“Belum pulang juga?”Aku mendongak refleks.

Ia berdiri di ambang pintu dengan senyum sederhana, membawa beberapa map merah muda di tangannya. Seketika dadaku berdegup lebih cepat. Suara itu, tatapan itu, bukan hanya hadir tapi langsung menusuk ruang sadarku.

Aku mencoba bersikap biasa. “Ah, iya, masih ada beberapa yang harus dibereskan.”

Ia masuk perlahan, meletakkan map di meja lalu duduk di kursi kosong tepat di hadapanku. Aku tak pernah membayangkan ia akan duduk sedekat ini. Selama ini jarak selalu menjadi tembok, aku hanya bisa mengamati dari jauh, mencuri pandang di sela kegiatan sekolah, atau sekadar menyusun kata yang tak pernah terucap. Kini, jarak itu runtuh.

“Aneh ya, rasanya lebih sepi kalau ruang guru kosong begini,” katanya sambil menatap ke sekeliling.

Aku mengangguk. “Iya, biasanya selalu riuh.”

Lalu percakapan mengalir. Awalnya hanya ringan, tentang anak-anak yang suka membuat ulah, tentang jadwal piket yang tak pernah sesuai, bahkan tentang Kepala Sekolah yang selalu bersemangat memberi motivasi murid meski dipayungi cuaca panas. Kami tertawa kecil bersama. Suara tawanya membuat waktu terasa melambat.

Namun tanpa kusadari, topik bergeser. Ia mulai bercerita tentang alasan memilih menjadi guru. Katanya, sejak kecil ia terbiasa melihat banyak dari keluarganya tekun membimbing belajar anak-anak penerus generasi Indonesia tercinta ini. Dari situlah tumbuh niat dalam dirinya dengan ingin memberikan manfaat melalui pendidikan. Ia bercerita dengan tatapan yang sungguh-sungguh, penuh keyakinan, seakan setiap kata adalah janji yang diucapkan pada dirinya sendiri.

Aku terdiam lama. Bukan karena tidak ada yang bisa kukatakan, melainkan karena aku ingin menyerap setiap kalimatnya. Ternyata di balik wajah tenang itu, tersimpan cita-cita yang kokoh. Aku hanya menimpali sesekali, lebih banyak mendengarkan.

Dalam mendengarkan itu, ada perasaan yang aneh, tenang sekaligus bergetar.

Percakapan berlanjut lama. Kami membicarakan harapan untuk murid-murid, tentang bagaimana menghadapi anak-anak yang bandel, bahkan tentang mimpi sederhana yaitu suatu saat bisa melihat siswa-siswa menjadi pribadi yang mampu menjadi sosok harapan bangsa. Aku mulai berani membuka sedikit cerita tentang diriku sendiri, tentang kegugupanku di hari-hari pertama mengajar, tentang bagaimana aku sering ragu apakah murid-murid benar-benar menyukaiku.

Ia mendengarkan dengan sabar, mengangguk, lalu menambahkan nasihat kecil yang tak pernah kuduga keluar dari mulutnya.“Yang penting kamu hadir, itu sudah berarti untuk mereka. Tidak semua guru bisa hadir dengan hati.”

Kalimat itu seperti menancap dalam-dalam.Waktu berjalan tanpa terasa. Hingga hadir senyap yang menyapa, tanda hari sudah semakin mendekati sore. Kami tersadar terlalu lama mengobrol.

“Wah, ternyata sudah jam 2,” katanya sambil meraih map merah muda yang selalu dibawanya itu.

Aku mengangguk, beranjak ikut berdiri. “Iya terima kasih, sudah mau ngobrol panjang. Jarang-jarang bisa begini.”

Ia tersenyum tipis, menatapku sebentar. “Saya juga senang. Besok kalau sempat, kita ngobrol lagi.”

Hanya itu. Namun setelah ia melangkah pergi, aku masih berdiri di ruang guru. Ada sisa tawa, ada jejak kata, ada rasa yang tak bisa kuuraikan. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar mengenalnya, meski hanya sedikit. Dan entah bagaimana, hari itu terasa lebih hidup daripada ratusan hari yang pernah kulewati sebelumnya.



Other Stories
Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Bukan Cinta Sempurna

Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...

Tes

tes ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Download Titik & Koma