Ruang Guru, Ruang Rasa
Ada banyak hal yang tak bisa kusampaikan, bahkan kepada diriku sendiri. Sejak pertama kali aku masuk ke sekolah ini, kehadirannya seperti menjadi titik kecil yang pelan-pelan tumbuh menjadi bayangan besar dalam setiap langkahku. Kedekatan itu bukan sekedar lahir dari kata-kata, melainkan dari diam yang panjang, dari tatap sekilas, dari momen-momen biasa yang tanpa kusadari mulai mengikatku.
Hari-hariku di sekolah sering kali terasa rutin. Mengajar, memeriksa buku, mengisi absensi, rapat singkat bersama guru lain. Tapi di antara semua itu, ada satu benang halus yang selalu membuat rutinitas itu berbeda, kehadirannya. Rasanya aneh, bagaimana seseorang bisa menjadi begitu berarti hanya dengan duduk di kursi seberang, atau lewat dengan langkah tergesa.
Suatu siang hujan tidak segan untuk hadir menyambut, setelah bel tanda pulang berbunyi, sebagian besar guru sudah bergegas pulang. Aku masih duduk di ruang guru, menuliskan catatan akhir. Dia tiba-tiba masuk, membawa setumpuk kertas di tangannya.Muka penuh lelah, mungkin karena seharian sibuk mengajar. Ia menaruh kertas itu di meja, menghela napas pelan, lalu menatap ke arah luar jendela yang dihujani rintik-rintik. Tidak ada kata-kata, tapi kehadiran membuat ruangan itu terasa hangat dengan cara yang sederhana.
"Banyak yang belum dikoreksi, ya?” akhirnya aku berani bertanya padanya, hanya sekadar mencari celah.
"Iya,” jawabnya singkat sambil tersenyum tipis.
"Murid-murid kelas ini rajin sekali menulis, jadi tambah lama periksa jawabannya.” Aku hanya mengangguk.
Percakapan berhenti di situ. Tapi entah kenapa, aku merasa cukup. Seolah-olah satu kalimat sederhana darinya mampu membangkitkan semangat hingga malam hari.
Kedekatan ini terus tumbuh dengan caranya sendiri. Bukan lewat pertemuan panjang atau percakapan mendalam, melainkan melalui hal-hal kecil. Saat kami sama-sama mengambil spidol di ruang guru dan tanganku hampir menyentuh tangannya. Saat ia tiba-tiba meminjam penghapus papan tulis dariku. Atau saat aku tanpa sengaja mendengar tawanya yang tulus ketika bercakap dengan kepala sekolah tercintanya itu. Semua itu sederhana, tapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya membekas.
Pernah suatu kali, sekolah mengadakan rapat panjang hingga sore. Semua guru sudah tampak letih, termasuk aku.
Ketika rapat selesai, ia berjalan pelan ke arah pintu, lalu menoleh ke belakang sejenak, tersenyum, dan berkata.“Sampai besok, Pak.” Itu saja.
Tapi senyum kecil itu seperti menghapus semua rasa lelah di tubuhku.
Kedekatan yang tak terucap ini kadang membuatku bertanya pada diri sendiri benarkah aku terlalu berlebihan menafsirkannya? Atau memang ada yang sengaja dibiarkan samar oleh waktu? Tapi setiap kali pertanyaan itu muncul, aku hanya kembali pada kenyataan bahwa aku tidak butuh jawaban. Karena kenyataannya, tanpa kata pun, aku sudah merasakan cukup banyak bahwa aku tidak lagi sendiri dalam hari-hari panjang di sekolah baru ini.
Di titik tertentu, aku mulai menyadari rasa ini tidak menuntut untukdiucapkan. Ia hanya ingin hidup dalam diam, dalam pandangansingkat, dalam percakapan sepotong, dan dalam momen kebetulan yang terus hadir.
Mungkin begitulah bentuknya kedekatan yang tak terucap, tapi justru terasapaling nyata.
Hari-hariku di sekolah sering kali terasa rutin. Mengajar, memeriksa buku, mengisi absensi, rapat singkat bersama guru lain. Tapi di antara semua itu, ada satu benang halus yang selalu membuat rutinitas itu berbeda, kehadirannya. Rasanya aneh, bagaimana seseorang bisa menjadi begitu berarti hanya dengan duduk di kursi seberang, atau lewat dengan langkah tergesa.
Suatu siang hujan tidak segan untuk hadir menyambut, setelah bel tanda pulang berbunyi, sebagian besar guru sudah bergegas pulang. Aku masih duduk di ruang guru, menuliskan catatan akhir. Dia tiba-tiba masuk, membawa setumpuk kertas di tangannya.Muka penuh lelah, mungkin karena seharian sibuk mengajar. Ia menaruh kertas itu di meja, menghela napas pelan, lalu menatap ke arah luar jendela yang dihujani rintik-rintik. Tidak ada kata-kata, tapi kehadiran membuat ruangan itu terasa hangat dengan cara yang sederhana.
"Banyak yang belum dikoreksi, ya?” akhirnya aku berani bertanya padanya, hanya sekadar mencari celah.
"Iya,” jawabnya singkat sambil tersenyum tipis.
"Murid-murid kelas ini rajin sekali menulis, jadi tambah lama periksa jawabannya.” Aku hanya mengangguk.
Percakapan berhenti di situ. Tapi entah kenapa, aku merasa cukup. Seolah-olah satu kalimat sederhana darinya mampu membangkitkan semangat hingga malam hari.
Kedekatan ini terus tumbuh dengan caranya sendiri. Bukan lewat pertemuan panjang atau percakapan mendalam, melainkan melalui hal-hal kecil. Saat kami sama-sama mengambil spidol di ruang guru dan tanganku hampir menyentuh tangannya. Saat ia tiba-tiba meminjam penghapus papan tulis dariku. Atau saat aku tanpa sengaja mendengar tawanya yang tulus ketika bercakap dengan kepala sekolah tercintanya itu. Semua itu sederhana, tapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya membekas.
Pernah suatu kali, sekolah mengadakan rapat panjang hingga sore. Semua guru sudah tampak letih, termasuk aku.
Ketika rapat selesai, ia berjalan pelan ke arah pintu, lalu menoleh ke belakang sejenak, tersenyum, dan berkata.“Sampai besok, Pak.” Itu saja.
Tapi senyum kecil itu seperti menghapus semua rasa lelah di tubuhku.
Kedekatan yang tak terucap ini kadang membuatku bertanya pada diri sendiri benarkah aku terlalu berlebihan menafsirkannya? Atau memang ada yang sengaja dibiarkan samar oleh waktu? Tapi setiap kali pertanyaan itu muncul, aku hanya kembali pada kenyataan bahwa aku tidak butuh jawaban. Karena kenyataannya, tanpa kata pun, aku sudah merasakan cukup banyak bahwa aku tidak lagi sendiri dalam hari-hari panjang di sekolah baru ini.
Di titik tertentu, aku mulai menyadari rasa ini tidak menuntut untukdiucapkan. Ia hanya ingin hidup dalam diam, dalam pandangansingkat, dalam percakapan sepotong, dan dalam momen kebetulan yang terus hadir.
Mungkin begitulah bentuknya kedekatan yang tak terucap, tapi justru terasapaling nyata.
Other Stories
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
The Truth
Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...
Dua Tanda Baca
Di sebuah persimpangan kota yang ramai, Rafi bertemu Alyaperempuan yang selalu tersenyum l ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...