Deru Suara Kagum

Reads
6.8K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
Penulis Pale

Rasa Mulai Menyapa

Hari-hariku yang perlahan mulai terasa lebih ringan. Aku sudah mulai terbiasa dengan ritme mengajar, sudah mulai mengenal wajah-wajah murid, bahkan sudah bisa bercakap lebih akrab dengan beberapa rekan kerja. Namun, di antara semua itu, ada satu hal yang tak pernah benar-benar bisa kuabaikan kehadirannya.

Awalnya, aku hanya menganggapnya sebagai rekan biasa. Seseorang yang kebetulan duduk di seberang meja ruang guru, yang sesekali menyapaku dengan senyum singkat. Tapi entah sejak kapan, setiap kali ia lewat di depan pintu kelasku mengajar, langkahku terasa ikut berhenti sejenak. Ada semacam jeda kecil dalam diriku, seakan seluruh rutinitas yang biasa bergerak cepat tiba-tiba melambat.

Aku masih ingat suatu siang ketika ia menunduk serius menulis sesuatu di buku catatannya. Jari-jarinya bergerak cepat, wajahnya tampak lelah tapi fokus. Saat itu, aku mendapati diriku hanya duduk diam memperhatikan, tanpa alasan jelas. Tidak ada percakapan, tidak ada momen besar, hanya kesunyian ruang guru yang diisi oleh bunyi pena dan napas pelan. Namun, justru dari kesunyian itulah sesuatu mulai tumbuh.

Rasa itu bukan ledakan besar, melainkan seperti tetes air yang jatuh perlahan. Tidak langsung terasa, tapi lama-lama mengisi ruang yang sebelumnya kosong. Aku mulai menunggu momen-momen kecil saat ia tersenyum pada muridnya, saat ia tertawa pelan mendengar gurauan teman sejawat, atau bahkan saat ia sekadar meletakkan buku di meja dengan rapi.

Aku tahu, ini bukan rasa yang bisa kuucapkan begitu saja. Terlalu dini, terlalu samar, dan mungkin hanya ilusi sesaat. Tapi diam-diam aku mulai menikmati perasaan itu. Ada sesuatu yang hangat setiap kali ia ada di dekatku, seakan hari-hariku yang tadinya terasa datar perlahan mendapatkan warna yang berbeda.

Dan di titik itu, aku menyadari mungkin aku sedikit merasakannya dalam hati. Tidak banyak, tidak dengan brutal sebab aku harus menjaga batasan, hanya secuil rasa yang muncul di sela-sela rutinitas. Tapi justru karena kecil dan sederhana, rasa itu terasa begitu nyata.


Other Stories
The Pavilion

35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Dua Tangkai Edelweis

Dalam liburan singkat di Cianjur, Rani—remaja tomboy berhati lembut—mengalami pertemua ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Download Titik & Koma