Deska

Reads
7K
Votes
1
Parts
27
Vote
Report
Penulis Pale

Kebersamaan Yang Tak Disangka

Waktu berjalan tanpa kompromi. Hari-hari mengajar yang padat, rapat guru yang panjang, serta rutinitas sekolah yang sering kali melelahkan, ternyata menyimpan kejutan kecil yang tidak pernah kuduga. Pada suatu pagi, kepala sekolah tiba-tiba mengumumkan bahwa akan ada kegiatan lomba antar kelas yang melibatkan para guru sebagai pembina sekaligus pendamping.

Aku ditunjuk untuk mengatur jalannya lomba. Sementara itu, dia mendapat tugas membina kelas V dan aku juga mendapat peran untuk mendampinginya. Kegiatan ini menuntut kami banyak bekerja sama. Menyusun jadwal lomba, bersama memantau latihan, bahkan mengatur perlengkapan. Hal-hal yang biasanya kulalui sendiri, kini terasa berbeda karena banyak momen kecil mempertemukan kami.

Siang itu, saat anak-anak latihan menyanyi untuk lomba seni, aku sedang berdiri di depan pintu kantor sekolah. Dari jauh kulihat dia sedang mengatur barisan murid-murid kelas V. Wajahnya tampak serius, sesekali menegur anak yang bercanda berlebihan, lalu kembali tersenyum ketika mereka berhasil menyanyikan bait lagu dengan benar. Ada ketulusan dalam caranya membimbing murid-murid itu, dan aku tak bisa menampik bahwa aku kembali belajar sesuatu darinya dengan bagaimana sabar bisa mengalahkan penat.

Selesai latihan, aku menghampiri meja perlengkapan. Ternyata dia juga ada di sana, sedang mencatat kebutuhan kelasnya.

"Kekurangan mic satu lagi,” katanya, tanpa menoleh.

Aku spontan menjawab, “Nanti biar saya pinjamkan dari kelas lain. Kebetulan ada cadangan.”

Dia menoleh sebentar, tersenyum singkat, lalu mengangguk. “Terima kasih, ya.”

Itu percakapan sederhana. Tapi bagiku, justru percakapan sederhana itulah yang menjadi jembatan tipis antara diamku dan dunianya.

Hari-hari menjelang lomba semakin intens. Kami sering berada di ruang yang sama, meski tidak selalu berinteraksi langsung. Kadang hanya duduk bersebelahan sambil masing-masing sibuk dengan catatan. Kadang saling menyapa ketika berselisih jalan. Atau sekadar berbagi minum dari botol air mineral yang kubawa saat semua orang kelelahan.

Namun ada satu momen yang membekas. sebelum lomba dimulai, sekolah mengadakan gladi bersih. Murid-murid masih riuh berlatih, sementara sebagian guru duduk mengawasi. Aku duduk agak jauh, menuliskan catatan tentang urutan acara. Tanpa kusadari, dia duduk di sebelahku. Tidak ada percakapan panjang, hanya diam. Sesekali ia menghela napas, mungkin lelah.

Aku memberanikan diri berkata pelan, “Besok semoga lancar, ya.”

Dia menoleh, matanya terlihat letih tapi tetap lembut. “Iya. Semoga anak-anak juga percaya diri.”

Percakapan singkat itu berhenti di situ. Tapi di tengah riuh rendah suara murid dan dentuman musik dari pengeras suara, aku merasakan keheningan yang lain seolah-olah dunia hanya menyisakan kami berdua di sudut itu.

Dan di situlah aku sadar, kebersamaan tidak selalu lahir dari banyak kata. Kadang ia tumbuh dari kehadiran yang berulang, dari momen-momen sederhana yang datang tanpa diminta, dari waktu yang mempertemukan dua orang tanpa rencana.

Kebersamaan itu memang tak pernah kurencanakan, tapi justruketidaksengajaan itu terasa begitu berharga.


Other Stories
Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

2r

Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...

Download Titik & Koma