Sepucuk Surat Tak Terkirim
Untukmu,
yang namanya masih berdenyut di dalam sunyi,
Aku menuliskan ini bukan untuk dikirim, melainkan untuk meredakan hati yang terus bergetar oleh namamu. Kau tahu, ada banyak hal yang tak pernah sempat kukatakan, dan kini semuanya menumpuk di antara jeda dan diam.
Rindu ini sering datang tanpa permisi, di pagi yang sepi, di lorong yang sunyi, bahkan dalam riuh ramai yang mestinya bisa mengalihkan pikiran. Namun, selalu ada celah di mana bayanganmu menyusup, hadir sebagai cahaya kecil yang enggan padam.
Aku ingin menemuimu, sekali saja. Bukan untuk mengulang kisah, bukan untuk menuntut apa-apa, hanya untuk merasakan lagi bagaimana dunia pernah terasa sederhana ketika ada senyummu. Mungkin hanya untuk duduk berhadapan, menukar satu dua kalimat, atau sekadar menatap tanpa perlu menjelaskan apa-apa.
Pernahkah kau merasakan hal yang sama? Ataukah aku hanyalah pejalan yang sesekali singgah dalam cerita panjangmu? Jika memang begitu, biarlah. Sebab bagiku, kau tetap menjadi bagian yang tak bisa kuserahkan kepada lupa.
Aku menuliskan namamu dalam setiap doa yang diam, dalam setiap jeda yang hening. Semoga kau baik-baik saja, meski aku tak lagi berada di dekatmu. Semoga semesta masih menjagamu dengan lembut, sebagaimana dulu kau menjaga kehadiranku dengan cara yang sederhana tapi penuh makna.
Dan jika suatu hari, entah kapan, entah bagaimana, kita dipertemukan kembali aku hanya ingin satu hal biarkan aku mengucapkan semua yang tak pernah sempat terucap, meski hanya sekali.
Hingga saat itu tiba, biarlah surat ini tetap tersimpan. Biarlah ia menjadi saksi bahwa aku pernah merindukanmu dengan seluruh hatiku, meski tanpa pernah kau baca.
Dari aku,
yang masih menyimpan cahaya dirimu dalam setiap langkah.
yang namanya masih berdenyut di dalam sunyi,
Aku menuliskan ini bukan untuk dikirim, melainkan untuk meredakan hati yang terus bergetar oleh namamu. Kau tahu, ada banyak hal yang tak pernah sempat kukatakan, dan kini semuanya menumpuk di antara jeda dan diam.
Rindu ini sering datang tanpa permisi, di pagi yang sepi, di lorong yang sunyi, bahkan dalam riuh ramai yang mestinya bisa mengalihkan pikiran. Namun, selalu ada celah di mana bayanganmu menyusup, hadir sebagai cahaya kecil yang enggan padam.
Aku ingin menemuimu, sekali saja. Bukan untuk mengulang kisah, bukan untuk menuntut apa-apa, hanya untuk merasakan lagi bagaimana dunia pernah terasa sederhana ketika ada senyummu. Mungkin hanya untuk duduk berhadapan, menukar satu dua kalimat, atau sekadar menatap tanpa perlu menjelaskan apa-apa.
Pernahkah kau merasakan hal yang sama? Ataukah aku hanyalah pejalan yang sesekali singgah dalam cerita panjangmu? Jika memang begitu, biarlah. Sebab bagiku, kau tetap menjadi bagian yang tak bisa kuserahkan kepada lupa.
Aku menuliskan namamu dalam setiap doa yang diam, dalam setiap jeda yang hening. Semoga kau baik-baik saja, meski aku tak lagi berada di dekatmu. Semoga semesta masih menjagamu dengan lembut, sebagaimana dulu kau menjaga kehadiranku dengan cara yang sederhana tapi penuh makna.
Dan jika suatu hari, entah kapan, entah bagaimana, kita dipertemukan kembali aku hanya ingin satu hal biarkan aku mengucapkan semua yang tak pernah sempat terucap, meski hanya sekali.
Hingga saat itu tiba, biarlah surat ini tetap tersimpan. Biarlah ia menjadi saksi bahwa aku pernah merindukanmu dengan seluruh hatiku, meski tanpa pernah kau baca.
Dari aku,
yang masih menyimpan cahaya dirimu dalam setiap langkah.
Other Stories
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Rumah Nenek
Liburan memang menyenangkan. Piyan, yang berumur 9 tahun. Hanya mengerti, liburan itu adal ...
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Dua Tangkai Edelweis
Dalam liburan singkat di Cianjur, Rani—remaja tomboy berhati lembut—mengalami pertemua ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...