Getar Yang Diam-diam Tumbuh
Kedekatan itu tumbuh bukan karena sengaja, melainkan karena keadaan yang kerap mempertemukan.
Kadang kami duduk bersebelahan saat rapat, hanya terpaut beberapa jarak dari kursi guru-guru lain. Kadang kami pulang bersamaan, langkah kaki seirama menuju parkiran yang mulai sepi. Bahkan hal-hal sepele seperti ia meminjam spidol, atau aku membantu menata berkas terasa seperti peristiwa kecil yang membekas lebih lama dari seharusnya.
Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya, meski tetap menjaga jarak. Ada percakapan singkat yang kadang terasa lebih hangat daripada diskusi panjang dengan orang lain. Ada tatapan mata yang singgah sebentar, namun cukup membuat hari terasa lebih ringan.
Dan yang paling aneh, aku tidak lagi mencari alasan untuk mendekat. Dunia seolah mengatur ritme sendiri sebuah kursi kosong di sampingnya, sebuah kesempatan mengawas kelas bersama, atau sekadar tawa yang pecah karena hal remeh di ruang guru. Semua itu menyusup begitu saja, tanpa bisa kutolak.
Namun di balik setiap momen itu, selalu ada bisikan dalam hati jangan terlalu berharap. Sebab yang kurasakan ini mungkin hanya getar sepihak, sementara baginya tak lebih dari pertemanan biasa.
Tetapi begitulah, hati tak pernah bisa benar-benarnetral. Semakin sering bertemu, semakin sulit untuk berpura-pura biasa saja.
Kadang kami duduk bersebelahan saat rapat, hanya terpaut beberapa jarak dari kursi guru-guru lain. Kadang kami pulang bersamaan, langkah kaki seirama menuju parkiran yang mulai sepi. Bahkan hal-hal sepele seperti ia meminjam spidol, atau aku membantu menata berkas terasa seperti peristiwa kecil yang membekas lebih lama dari seharusnya.
Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya, meski tetap menjaga jarak. Ada percakapan singkat yang kadang terasa lebih hangat daripada diskusi panjang dengan orang lain. Ada tatapan mata yang singgah sebentar, namun cukup membuat hari terasa lebih ringan.
Dan yang paling aneh, aku tidak lagi mencari alasan untuk mendekat. Dunia seolah mengatur ritme sendiri sebuah kursi kosong di sampingnya, sebuah kesempatan mengawas kelas bersama, atau sekadar tawa yang pecah karena hal remeh di ruang guru. Semua itu menyusup begitu saja, tanpa bisa kutolak.
Namun di balik setiap momen itu, selalu ada bisikan dalam hati jangan terlalu berharap. Sebab yang kurasakan ini mungkin hanya getar sepihak, sementara baginya tak lebih dari pertemanan biasa.
Tetapi begitulah, hati tak pernah bisa benar-benarnetral. Semakin sering bertemu, semakin sulit untuk berpura-pura biasa saja.
Other Stories
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Dentistry Melody
Stella ...
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...
Desviar : Libur Dari Kata-kata
Dua penulis yang berniat berlibur justru terjebak dalam kolaborasi tak disengaja ketika ke ...