Deru Suara Kagum

Reads
6.8K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
Deru Suara Kagum
Deru Suara Kagum
Penulis Pale

Saat Semua Harus Dilepas

Ada momen dalam hidup ketika kita dipaksa menghadapi kenyataan segala yang terasa begitu dekat, begitu hangat, pada akhirnya harus dilepas. Tidak peduli seberapa keras kita ingin menggenggam, waktu tetap punya caranya sendiri untuk mengajarkan bahwa tak ada yang benar-benar abadi.

Hari itu tiba lebih cepat dari yang pernah kubayangkan. Kabar itu datang begitu saja, tanpa banyak tanda, meski sebelumnya bisikan-bisikan perpisahan sudah sering singgah di pikiranku. Ia harus pergi bukan karena keinginannya, melainkan karena keadaan yang memanggilnya. Keluarga, masa depan, dan alasan-alasan lain yang tak bisa kuhalangi.

Aku diam. Tidak ada kata-kata yang sanggup keluar. Hanya dada yang terasa sesak, menahan sesuatu yang tidak pernah benar-benar kumiliki tapi begitu sulit untuk kulepaskan. Rasanya aneh bagaimana bisa seseorang yang tidak pernah benar-benar terikat denganku meninggalkan ruang kosong sebesar ini dalam hidupku?

Kenangan sederhana yang dulu kuanggap sepele kini berubah menjadi luka kecil yang menyayat tiap kali terlintas. Suaranya, senyumnya, langkahnya, bahkan caranya menatap buku semua seakan menjadi potongan-potongan memori yang bertebaran, dan aku tidak tahu harus merangkainya kembali atau membiarkannya hancur perlahan.

Aku sadar, melepaskan bukan berarti melupakan. Melepas hanyalah cara lain untuk berdamai dengan kenyataan. Bahwa meski ia pergi, rasa yang pernah hadir tetap akan tinggal. Bahwa meski jarak tercipta, kenangan tidak pernah bisa dihapus begitu saja.

Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang paling berat yaitu menerima bahwa aku tidak punya hak untuk menahannya. Ia bukan milikku. Ia tidak pernah menjadi milikku. Aku hanyalah pengagum sunyi yang berdiri di kejauhan, menikmati cahaya tanpa pernah mampu menggenggam sumbernya.

Dan mungkin memang begitu seharusnya. Ada orang-orang yang hadir hanya untuk singgah, meninggalkan jejak, lalu pergi membawa cerita. Ada orang-orang yang diciptakan hanya untuk kita kagumi, bukan untuk kita miliki.

Hari itu, aku menatap sisi belakang badannya untuk terakhir kali di halaman sekolah. Ia berjalan menjauh, dan aku berdiri tanpa bergerak, membiarkan bayangannya menghilang di tikungan. Tidak ada perpisahan resmi, tidak ada janji, tidak ada ucapan yang bisa kusimpan. Hanya hening yang panjang, dan hatiku yang perlahan-lahan belajar menerima inilah saatnya semua harus dilepas.

Malamnya, aku kembali menulis. Tangan ini gemetar, tapi kata-kata tetap mengalir. Barangkali hanya itu caraku bertahan, dengan menuliskan sesuatu yang sudah tak bisa lagi kuucapkan. Aku menulis bukan untuknya, tapi untuk diriku sendiri untuk mengingatkan bahwa meski terasa pahit, perpisahan juga adalah bagian dari hidup.

Dan di akhir tulisanku, aku hanya menuliskan satu kalimat “Terima kasih, karena pernah hadir, meski hanya sebentar.”


Other Stories
Setelah Perayaan Itu Usai.

Amara tumbuh di sebuah dusun kecil, ditemani sahabatnya, Angga. Setiap hari mereka lalui d ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Saat Cinta Itu Hadir

Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...

Melupakan

Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...

Bapakku Bukan Pengkhianat

Udin, seorang laki-laki biasa, berharap kehidupannya baik-baik saja saat para pengkhianat ...

7 Misteri Di Korea

Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...

Download Titik & Koma