Deska

Reads
7K
Votes
1
Parts
27
Vote
Report
Penulis Pale

Merindu

Hari-hari setelahnya berjalan dengan ritme yang sama, namun aku merasa ada sesuatu yang terlepas dariku. Seperti langkah yang tidak lagi berpijak dengan utuh, seperti ruang yang tiba-tiba kehilangan kehangatan. Aku masih menjalani rutinitas, mengajar, menyusun rencana pembelajaran, menilai tugas-tugas murid, namun kehadirannya menjadi satu-satunya hal yang hilang.

Ruang guru yang dulu penuh percakapan kini terasa asing. Kursi yang pernah didudukinya seakan memiliki bekas hangat yang diam-diam kurindukan. Sesekali aku menatap ke arah itu, berharap ia muncul membawa tumpukan buku atau sekadar senyum singkat, tapi yang kutemui hanyalah meja kosong dengan kertas yang berserakan. Anehnya, meskipun aku tahu ia tak lagi ada di sana, mataku tetap mencari.

Rindu tidak selalu datang dengan keras. Ia sering menyusup dalam diam, di sela tawa murid-murid yang riang, di balik rapat guru yang terasa terlalu panjang, bahkan di saat aku pulang sendirian menapaki jalan yang dulu pernah kulalui bersamanya meski hanya sepintas. Ada kenangan yang berputar tanpa bisa kuhentikan, bahkan langkahnya yang terburu-buru menuju kelas.

Malam hari menjadi ujian yang paling berat. Ketika semua orang sudah terlelap, pikiranku justru semakin terjaga. Aku sering menyalakan lampu kamar hanya untuk menatap meja belajarku yang penuh catatan, seakan dengan begitu aku bisa kembali ke masa-masa ketika kami sama-sama tenggelam dalam tugas sekolah.

Dalam diam aku sering bertanya, “Apa ia juga merindukanku, atau hanya aku yang terjebak dalam bayangan sendiri?”

Rindu itu juga melahirkan keinginan. Keinginan yang sederhana, tapi terasa begitu sulit dengan bertemu sekali lagi. Aku membayangkan jika suatu hari ia tiba-tiba datang ke sekolah, berjalan melewati pintu ruang guru, dan menatapku sambil berkata, “Lama tidak bertemu.”

Itu saja sudah cukup untuk meredakan kegelisahan yang selama ini aku pendam. Aku tidak menginginkan banyak, tidak menuntut apa-apa, hanya ingin memastikan bahwa yang pernah ada tidak benar-benar hilang begitu saja.

Namun, hidup tidak pernah sesederhana itu. Hari-hari berlalu tanpa kabar. Aku hanya bisa merangkai doa, semoga suatu saat semesta memberi kesempatan, walau sekilas, untuk berbicara dengannya sekali lagi.

Rindu yang kupeluk ini semakin lama semakin kuat, tapi anehnya ia tidak membunuhku. Justru sebaliknya, rindu itu menjelma cahaya yang menuntunku melewati hari-hari yang sepi. Ia mengingatkanku bahwa aku pernah menemukan sesuatu yang indah di sela rutinitas yang membosankan. Sesuatu yang tidak semua orang bisa alami, sebuah perasaan yang sederhana, tapi meninggalkan jejak yang tidak pernah padam.

Kini aku tahu, merindukannya bukan hanya tentang menunggu kehadirannya kembali. Merindukannya adalah tentang menjaga cahaya itu tetap menyala dalam hati. Tentang mengingat bahwa pernah ada sosok yang membuat langkahku lebih berarti. Tentang menerima bahwa meski tak lagi bersama, kenangan itu akan tetap tinggal.

Dan di setiap detik aku merindukannya, aku menyimpan satu harapan kecil, semoga suatu saat ia membaca kisah ini, menyadari bahwa di balik kata-kata sederhana ini ada rindu yang tulus, ada keinginan yang belum selesai, untuk sekali saja bisa berbicara dengannya lagi.


Other Stories
Pasti Ada Jalan

Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Cahaya Menembus Semesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Download Titik & Koma