Epilog
“Kala Kisah Menjadi Cahaya”
Setiap cerita selalu memiliki akhirnya, tapi tidak semua akhir berarti selesai. Ada yang berakhir untuk dikenang, ada yang berakhir untuk dirindukan, dan ada pula yang berakhir hanya agar hati belajar berdamai dengan kehilangan.
Aku menutup lembaran ini dengan perasaan yang tak pernah benar-benar tuntas. Sebab rindu bukan sesuatu yang bisa selesai begitu saja namun ia hanya berganti rupa, dari tatapan yang tak lagi bertemu menjadi doa yang pelan-pelan kupanjatkan.
Kisah ini, meski sederhana, telah menjadi cahaya bagiku. Kau, dengan hadir dan senyummu, pernah membuat hari-hariku lebih terang, meski tanpa janji, meski tanpa ikatan. Dan cahaya itu, entah bagaimana, masih tersisa hingga kini.
Mungkin aku tak akan pernah berani menuntut pertemuan lain. Tapi jika semesta mengizinkan, aku hanya ingin satu kesempatan, duduk di hadapanmu sekali lagi, menyapa dengan ringan, lalu tersenyum seolah semua luka dan rindu ini akhirnya menemukan rumahnya.
Namun jika tidak, biarlah. Biarlah semua tetap tinggal di sini dalam tulisan yang tak pernah kukirim, dalam doa yang diam-diam kupeluk, dalam kenangan yang kusimpan baik-baik. Karena bagiku, mengenangmu saja sudah cukup untuk membuat hari-hari terasa lebih hidup.
Dan ketika aku menutup buku ini, aku menyadari satu hal bahwa kala kisah menjadi cahaya, ia tak akan pernah padam.
Ia akan tetap ada di antara jeda, di balik rindu, dalam setiap langkah yang kutempuh setelah ini.
Setiap cerita selalu memiliki akhirnya, tapi tidak semua akhir berarti selesai. Ada yang berakhir untuk dikenang, ada yang berakhir untuk dirindukan, dan ada pula yang berakhir hanya agar hati belajar berdamai dengan kehilangan.
Aku menutup lembaran ini dengan perasaan yang tak pernah benar-benar tuntas. Sebab rindu bukan sesuatu yang bisa selesai begitu saja namun ia hanya berganti rupa, dari tatapan yang tak lagi bertemu menjadi doa yang pelan-pelan kupanjatkan.
Kisah ini, meski sederhana, telah menjadi cahaya bagiku. Kau, dengan hadir dan senyummu, pernah membuat hari-hariku lebih terang, meski tanpa janji, meski tanpa ikatan. Dan cahaya itu, entah bagaimana, masih tersisa hingga kini.
Mungkin aku tak akan pernah berani menuntut pertemuan lain. Tapi jika semesta mengizinkan, aku hanya ingin satu kesempatan, duduk di hadapanmu sekali lagi, menyapa dengan ringan, lalu tersenyum seolah semua luka dan rindu ini akhirnya menemukan rumahnya.
Namun jika tidak, biarlah. Biarlah semua tetap tinggal di sini dalam tulisan yang tak pernah kukirim, dalam doa yang diam-diam kupeluk, dalam kenangan yang kusimpan baik-baik. Karena bagiku, mengenangmu saja sudah cukup untuk membuat hari-hari terasa lebih hidup.
Dan ketika aku menutup buku ini, aku menyadari satu hal bahwa kala kisah menjadi cahaya, ia tak akan pernah padam.
Ia akan tetap ada di antara jeda, di balik rindu, dalam setiap langkah yang kutempuh setelah ini.
Other Stories
Reuni Mantan
Arif datang ke vila terpencil bersama para mantan Sarah lainnya. Ketika seorang pembunuh m ...
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Liburan kelulusan SMA membawa Cakra Abiyoga dan sahabat-sahabatnya ke Pantai Parangtritis. ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...
Pulang Tanpa Diikuti
Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Ilusi Yang Sama
Jatuh cinta pada wanita yang selalu tersakiti, Rian bertekad menjadi pria yang berbeda. Na ...