Bab Satu: Bara Api Di Bawah Langit Yang Terlupakan
Dia tidak ingat namanya saat ia telah dilahirkan. Jika dia ingat, ia tidak akan menjawabnya. Sekarang, dia berjalan sebagai Sora, nama yang diambil olehnya dan bukan diberikan dari seseorang. Sebuah kata dalam bahasa kuno yang berarti langit setelah api. Tidak seorang pun yang memanggil dia dengan kata itu dan juga tidak ada seorang pun yang tersisa memiliki nama itu.
Hutan yang dia lalui itu, berbisik kepadanya seperti sesuatu yang hidup namun tidak ada satu burung yang berkicau di antara pohon-pohon. Hanya terdengar sebuah tangisan lembut abu yang jatuh dari dahan-dahan pohon yang sudah lama mati dan retakan tanah yang rapuh tidak lagi berakar.
Reruntuhan yang dulunya sebuah bangunan megah itu berserakan di mana-mana puing bangunannya di antara pepohonan yang dari sisa-sisa dunia pernah percaya pada sebuah cahaya dan harapan. Altar untuk dewa-dewa yang terlupakan dengan patung-patung yang terkikis hingga menjadi bongkahan batu yang sudah tak menyerupai seperti bentuk aslinya, dan beberapa baju besi yang telah lama berkarat masih menempel di tulang-tulang para pejuang telah lama mati di bawah beberapa pepohonan yang sudah lama mati juga itu.
Sora tidak bisa berbicara. Karena, ia tidak bisa berbicara sama sekali atau bisu sejak ia dilahirkan. Dia diam seperti batu yang menahan hembusan angin yang tidak ada seorang pun dapat mengajaknya berbicara atau bahkan ia sendiri tak memiliki suara untuk berbicara atau berteriak meminta pertolongan sekalipun.
Namun, sebuah pertanyaan muncul untuk menanyakan perihal dirinya itu.
Apa yang dia bawa? Tidak ada yang pernah tahu mengenai hal itu.
Namun, yang pastinya itu sangatlah berat seperti beban. Tidak di tangannya, tapi di langkahnya itu. Setiap langkahnya yang terus melangkah di atas tanah rusak itu bagaikan sebuah sumpah. Dengan perlahan dan setiap pengalaman yang ia pernah lalui di dalam hidupnya itu.
Sora berjalan melewati Gerbang yang memiliki bentuk wujudnya seperti gigi taring yang sangat besar untuk ukuran seperti gerbang dari binatang buas yang sangat tajam dan di mana lengkungannya itu tertutup rapat menandai akhir dari jalan terakhir dari perjalanannya itu.
Sora mendekati gerbang yang ia lihat di depannya itu yang hanya diketahui oleh beberapa orang yang pernah melihatnya dan menemukannya itu yang tidak pernah kembali sebelum sempat mengatakan apa yang mereka lihat di sana.
Di sana, di bawah langit dengan bintang-bintang yang masih berkedip-kedip seperti perapian yang hampir hilang dari semesta itu. Sora melihat satu sosok jauh berada di hadapannya yang seperti tengah menunggu seseorang datang.
Sebuah sosok yang tak menyerupai seperti manusia lagi. Tidak bergerak sama sekali walau Sora mengetahui sosok itu masih hidup. Baju besinya itu seperti terbuat dari kaca hitam yang retak dan seolah-olah sedang bernafas. Dia tidak berbicara namun ketika Sora sedang berjalan ke arahnya itu, sosok itu seperti mengawasi dirinya itu yang berjalan perlahan mendekat ke dirinya itu. Seperti sebuah patung yang hidup dengan baju zirah prajurit yang sudah lama membusuk di entah-berantah. Seakan-akan makhluk itu telah menunggu kedatangan Sora yang telah melakukan perjalanan entah dari mana itu.
Dan Sora yang tidak memiliki senjata itu bahkan tidak memiliki nama di dunia ini selain yang ia bawa adalah dirinya sendiri seperti orang yang telah mengalami kematian namun bangkit kembali dari dalam kuburannya itu, orang yang sudah lama mati dan seharusnya beristirahat di dalam tanah sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.
Sora tetap melangkah maju tanpa mengetahui siapa sosok makhluk itu. Angin berhembus melaluinya. Begitu pula dunia yang selalu berputar sesuai dengan keinginannya. Sosok itu tetap tidak bergerak walau Sora perlahan mendekatinya. Baju besinya terbuat dari obsidian dan dihiasi oleh sesuatu dengan bentuk retakan yang berdenyut samar dalam cahaya yang redup dari dalamnya.
Bukan sebuah kehangatan dan bukan juga sebuah kehidupan. Akan tetapi, sesuatu yang lebih tua dan sesuatu yang rusak namun menolak untuk mati oleh peradaban dan zaman yang telah berlalu.
Sora berhenti berjalan dan melihat sosok itu dari jarak yang cukup itu berada tepat di hadapannya saat ini. Debu-debu bergejolak di bawah kaki mereka seperti berputar-putar hal yang tak pernah dilihat sebelumnya oleh manusia manapun.
Tidak ada tanda-tanda sorang musuh, tidak ada juga tantangan yang diberikan untuk duel oleh sosok itu, dan tetap saja sosok itu mengangkat tangannya dan menunjuk Sora dengan jarinya itu telah berubah menjadi tulang.
Jari-jarinya itu bersarung tangan besi dan bergerigi, terulur ke luar...
Bukan untuk menyerang Sora tetapi untuk memberi sebuah isyarat kepadanya bahwa di belakangnya itu terdapat udara yang berkilauan dan sebuah hutan yang telah lama mati itu sebagai sebuah bentuk yang muncul dengan samar-samar yang bergeser antara apa yang dulu ada dan apa yang sekarang masih tersisa.
Sebuah gerbang atau pintu, dan itu adalah Gerbang Memori yang ditempa dari kesedihan dan gema masa lalu seseorang yang penampilan gerbang itu berkedip-kedip seperti cahaya lilin di tengah sebuah badai.
Sora mengetahui hal ini yang ia tahu persis bahwa hal ini bukan dari pengetahuannya tetapi dari perasaannya. Sora sebelumnya pernah melihat wujud gerbang seperti itu dalam mimpinya yang dijahit dengan darah. Pintu yang bukan menunjukkan tempat, melainkan menunjukkan kebenaran yang pernah terkubur di bagian paling bawah lapis dunia sekalipun.
Suara sosok berbaju besi itu terdengar seperti kaca di atas batu, meskipun mulutnya tidak pernah bergerak dan ia berkata kepada Sora, "Kau membawa beban yang belum disebutkan namanya."
Sora terdiam sesaat dan di dalam benaknya itu mulai bertanya-tanya.
Apa mungkin hal ini sebuah ujian bagi dirinya?
"Masuklah, jika kau ingin tahu apa yang menyebabkan api pertama menyala." Kata sosok itu lagi
Sora melangkah maju ketika sosok itu menyuruhnya masuk ke dalam gerbang memori itu dan Sora memulai perjalanannya itu dengan memasuki gerbang memori yang berada di hadapannya.
Udara tersentak ketika gerbang itu mulai melebar dan dunia sesaat terasa miring baginya. Hanya untuk sesaat, mungkin tidak terjadi ada apa-apa. Namun di dalamnya itu terasa seperti... Tidak ada hembusan angin dari dalamnya, tidak ada sebuah pijakan untuk melangkahkan kakinya ke dalam gerbang itu, dan hanya sebuah ingatan yang berdarah dari gema masa lalunya itu.
Lalu...
Sora melihat Sebuah menara yang hancur di depannya itu terasa seperti bangunan itu dibangun dari marmer yang penuh dengan darah dan tangga yang memiliki pancaran kilauan seperti warna darah itu yang mengarah ke Sora sendiri. Langitnya di atas itu serasa retak seperti sebuah tulang tua, patung-patung yang Sora lihat ketika ia berjalan-jalan untuk menemukan petunjuk itu di dalam menara itu meneteskan darah dari mata patung itu.
Sora berdiri di dalamnya seorang diri yang tak memiliki petunjuk dan tak ada pemandu yang mengarahkannya. Namun setelah Sora berkeliling di dalam menara itu, ia menemukan sesuatu. Hanya ada satu prasasti yang setengahnya itu terbakar di bawah kakinya dan masih terasa hangat bahwa prasasti itu tak lama dibakar. Dan tulisan prasasti itu bertuliskan;
‘Kebenaran pertama tidak pernah diucapkan. Namun, kebenaran itu diingat.’
Sora memejamkan matanya untuk mengingat sebuah kebenaran di dalam dirinya itu dan mengikuti arahan yang dituliskan oleh prasasti ditemukannya dan ketika dia membuka matanya lagi, dia tidak sendirian. Bayangan-bayangan yang tidak diketahui keberadaannya itu mengawasinya dalam penglihatannya dan salah satu dari mereka... bergerak menuju Sora.
Fragmen Memori Sora, Tahun-tahun Setelah Keheningan:
Dia tidak dilahirkan dalam cinta seseorang bahkan buaian seorang ibu dan dia ditinggalkan begitu saja di dunia yang baru saja telah hancur oleh orang tuanya itu. Tidak di bawah bintang-bintang yang bersinar indah itu melainkan di bawah Pohon Cleft ia ditinggalkan.
Pohon yang keriput dan membusuk yang berada di pinggiran Desa Mireholt, desa yang terlupakan bahkan dalam peta sekalipun yang di mana tanahnya hanya ditumbuhi rumput liar, dan setiap kelahiran dianggap sebagai kutukan kecuali jika itu mendatangkan panen.
Anak itu tidak mempunyai nama. Hanya kedinginan karena ditelantarkan dan tangisannya bukan tangisannya yang meratapi nasibnya sendiri itu tapi tangisan jiwanya yang tak diinginkan seorangpun.
Dia akan mati di sana.
Seharusnya begitu untuk seorang bayi yang baru saja dilahirkan dan diasingkan entah di mana itu tapi para dewa yang melihat bayi itu kejam dan takdirnya, bahkan lebih kejam lagi untuk sorang bayi.
Dan pada akhirnya, seseorang menemukannya. Eyla Varn, bidan yang terbuang dari sekolahnya itu. Dua kali diasingkan oleh orang-orang karena tindakannya itu. Pertama, karena ia membantu persalinan seorang wanita yang melahirkan anak itu dalam keadaan mati saat baru saja keluar dari rahim wanita yang melahirkan itu di depan mata para warga desa yang melihat hal tersebut dan yang kedua, karena ia menolak bayi wanita itu untuk menguburnya di bawah kuil desa sebagai tempat pemakaman bagi para warga desa adalah pemakaman yang layak.
Namun Eyla mengetahui itu bukan pemakaman namun sebagai sebuah persembahan untuk dunia yang sudah hancur dan mayat bayi itu nantinya akan dimakan oleh binatang buas yang akan menghampirinya itu.
Tangan Eyla dibakar atas hukuman pembangkangannya tapi dia masih memiliki harapan untuk dibawa dan begitulah yang dia lakukan. Dia membawa anak yang masih menangis itu ke gubuknya yang tak layak dihuni itu melewati ladang yang penuh lumpur ke arah gubuknya itu dan juga lumut tumbuh di dinding gubuknya dan atapnya itu saat hujan.
Di sana, awalnya Eyla tidak memberinya sebuah nama tapi hanya keheningan dan bayi itu dibesarkan dengan sedikit lebih dari itu. Keheningan dan mata yang belajar untuk mengamati daripada bertanya. Bayi itu tidak menangis setelah dibawa oleh Eyla.
Namun, para warga desa itu membalasnya dengan nada yang jijik, ada juga yang ketakutan akan nasib sial dari bayi yang dibawa Eyla, dan mereka tidak pernah membicarakannya dengan terang-terangan mengenai bayi itu. Para warga desa itu menyebutnya sebagai 'Mireborn'.
Anak busuk yang tidak pernah diinginkan di dunia ini dan kelahirannya itu dianggap sebagai pembawa malapetaka dan nasib sial bagi desa Mireholt itu kecuali seorang anak yang lahir di desa itu bisa mendatangkan sebuah keuntungan bagi desa atau panen yang melimpah untuk desa.
Namun, anak yang dianggap sebagai Mireborn itu tetap tumbuh di desa itu dan ketika dia memasuki usia tujuh tahun itu, sekumpulan serigala datang ke desanya. Oh, tentu saja ini bukanlah sekumpulan atau gerombolan serigala atau binatang buas lainnya tapi sekelompok yang memiliki sifat seperti itu dengan baju zirah besinya dan senjata yang sangat tajam di genggaman tangan mereka itu.
Nama kelompok itu adalah Black Maw, tentara bayaran dari Eastern Gulch yang di mana kelompok itu adalah tentara bayaran pengambil emas, panen, dan kehidupan seseorang.
Ketika seluruh penduduk diseret keluar dari rumah mereka, di saat itulah Eyla menyembunyikan dia di sebuah tempat persembunyiannya di bawah lantai kayu reyot gubuknya itu dan anak itu hanya bisa melihat Eyla yang diseret oleh mereka dengan paksaan dan kekerasan setelah berhasil menyembunyikannya dari bahaya bagi anak itu sebelum sekelompok tentara bayaran itu memasuki gubuk mereka itu.
Teriakan Eyla itu terdengar sangat jelas di telinga anak itu dan teriakannya itu perlahan menjauh dari gubuk hingga teriakan Eyla itu terdengar di aula desa.
Anak itu mengamati dari bawah papan lantai kayu gubuknya itu untuk melihat seluruh kejadian yang akan membuat desanya itu terbakar oleh api.
Para warga desa menjerit dan meminta pengampunan untuk lepas dari pembunuhan massal saat mereka dikeluarkan secara paksa dan teriakan mereka sunyi dalam sekejap ketika tentara bayaran itu memegang pedangnya dan menebaskan pedang mereka yang sudah berlumuran darah para warga desa itu. Kepala-kepala para warga desa yang sudah terpisah dari jasadnya itu kini tertancap di setiap tombak tentara bayaran yang membunuh mereka. Tubuh-tubuh warga desa yang tanpa kepala itu kini tertumpuk dan dibakar bagaikan api unggun yang disertai sebuah himne tanpa suara tengah berdengung dengan nada yang penuh dengan keheningan, kematian, jiwa, dan tawa mereka yang setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan itu.
Anak itu melihat dan menyaksikan semua kejadian itu dari tempat persembunyiannya itu melalui celah kecil yang memperlihatkan kejadian tersebut dari awal hingga tawa para tentara bayaran itu menggema. Anak itu seperti saksi hidup yang bisu atas pembantaian yang mereka lakukan pada warga desa.
Saat fajar tiba, gubuk itu menjadi abu. Desa itu, tanahnya kini penuh dengan darah segar dan rumah penduduk desa berubah menjadi abu. Anak itu berjalan keluar dari tempat persembunyiannya itu setelah ia mengetahui bahwa ia satu-satunya korban yang selamat dari kejadian itu. Dia berjalan dengan mengamati semua itu karena dia tahu bahwa menetap di desa ini, ia tidak bisa tinggal atau menetap ketika melihat kondisinya seperti itu dan anak itu menatap langit yang biru dengan kumpulan asap hitam sisa pembakaran.
Sejak saat itu, dia menyandang nama Sora yang kini ia kenal. Dia mengukirnya di serpihan meja Eyla yang telah hangus akan api itu dan membawa ukirannya yang bertuliskan namanya itu hingga serpihan itu membakar tangannya. Rasa sakit itu menjadi namanya bagai langit yang menjadi saksi bisu selain dirinya. Sumpah yang tidak pernah diucapkan olehnya tetapi selalu dirasakan dalam hatinya dan kenangannya juga.
Kembali ke menara kenangan:
Sora berdiri diam... dan tangannya itu terasa mengepalkan sesuatu seolah ia memegang sebuah pecahan kaca yang telah terbakar. Dan dari sudut tempat itu yang hanya ada bayangan saja dan sebuah suara berbisik bukan ke telinganya, tetapi ke jiwanya:
"Kau ingat kenanganmu itu... tetapi apakah kau sudah memaafkan masa lalumu itu?"
Dan Sora menengok ke arah belakangnya itu dan mendapati bayangan yang bergerak itu mulai terbentuk seperti sosok yang tak diketahuinya itu. Sosok itu seperti memakai topeng tulang rusa. Topeng tulang rusa yang memiliki retak di rahangnya, Sosok itu juga memakai jubah yang terlihat seperti dijahit dari kulit orang-orang yang berteriak meminta pertolongan, tangannya memiliki jari yang panjang seperti manusia tetapi warna jarinya pucat pasi, dan tangannya itu berdenyut karena ingatan akan kekerasan gema masa lalu Sora sebelumnya.
Sora melangkah lebih dekat ke arah sosok itu tanpa rasa takut dan menara itu, mulai bergetar. Sora berhenti ketika menara ingatan bergetar. Tidak ada pedang dalam genggamannya dan perisai juga dan terlebih lagi Sora tak memiliki suara untuk meminta pertolongan kepada siapapun yang berada di menara ini. Hanya gema dari dirinya yang dulu itu ia miliki.
"Kau berjalan di bawah namanya, Wanita yang terbakar untukmu di akhir hidupnya itu." Makhluk bertopeng itu berkata lagi dan hendak meraih Sora.
Sora tidak bergeming sekalipun atas gertakan bayangan yang telah bertransformasi menjadi sosok yang bertopeng dengan kegelapan yang ingin menyergapnya itu. Sosok itu berjalan mengelilinginya dengan perlahan, seolah mencoba membangkitkan rasa takut dari dalam diri Sora. Namun, Sora jelas tidak ada rasa takut akan sosok yang mulai untuk memprovokasinya itu. Hanya sebuah ingatan... dan tekad yang Sora memiliki akan gemanya.
“Mengapa kau tidak punya dendam? Mengapa kau tidak berteriak? Mengapa kau tidak melawan?” Tanya Sosok itu sambil mengelilingi Sora dengan perlahan dan suaranya yang serak itu dengan mengancamnya.
Tetap saja, Sora tetap diam seperti biasanya dan tidak memedulikan perkataan Sosok itu. Namun di tangannya itu, tangan kanannya yang sedari tadi menggenggam pecahan kaca itu perlahan genggamannya terbuka dan sebuah pedang dari bentuk bara api yang di mana ia genggam pecahan kaca itu sebelumnya bertransformasi menjadi sebuah pedang tersebut.
Sora tidak merasakan tangannya terbakar ketika menggenggam pedang itu yang seperti bara api yang menyala. Sora merasa bahwa hal itu bukanlah api dan bukan sebuah cahaya juga tapi hal itu adalah sebuah beban yang berasal dari memorinya kini berubah menjadi sebuah senjata baginya.
Serpihan meja Eyla yang terbakar dan satu-satunya sisa terakhir dari peninggalan gubuk yang pernah Sora tinggali sebelumnya berubah menjadi sebuah pedang berbentuk dari bara api yang telah lama padam.
Melihat hal tersebut, Sosok itu mulai goyah dan khawatir akan apa yang telah ia lihat pada kejadian itu.
"Nama itu... masih terasa hangat rupanya." Bisik Sosok tersebut.
Kemudian Sosok itu, mulai menerjang Sora dengan emosi yang tidak terkontrol. Serangan tanpa teriakan, kukunya yang tajam itu seperti bilah pedang yang terhunus dari bayangannya sendiri melengkung ke arah Sora seperti ingatan yang berubah menjadi amarah. Sora bergerak tidak dengan tergesa-gesa ketika melihat Sosok itu mulai melancarkan serangannya itu dan Sora tidak panik ketika konforntasi mereka telah dimulai. Sora dengan konsentrasi penuh melawan Sosok tersebut.
Sora menunduk ke bawah untuk menghindari serangan pertama Sosok itu ke arahnya dan meluncur ke sisi buta musuh dan saat makhluk bertopeng itu berbalik arah ke Sora, semuanya itu sudah terlambat bagi Sosok itu. Sora menusukkan pedangnya yang membara bagai bara api itu ke dada Sosok itu.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari Sosok itu ketika pedang yang tertancap di dadanya dengan penuh tekanan dari Sora dan tidak ada teriakan yang keluar juga dari mulutnya itu. Hanya sebuah api terlihat dari pedang Sora itu saat menusuk dadanya. Pedang itu menyala bukan ke luar, tetapi ke dalam bilahnya. Raungan sunyi meletus di balik topeng tulang, dan Sosok itu terhuyung-huyung, mencengkeram dadanya saat api pedang itu membakar sisa-sisa keinginannya yang telah dicuri dan pedang itu lenyap ke dalam dada Sosok itu dalam api yang masih membara.
Sora melihatnya jatuh ketika pedangnya tertancap dan tak bisa dilepaskan dari dada Sosok itu. Sosok itu tidak mati, tidak hilang, hanya dilepaskan begitu saja bagai abu yang berterbangan dan sepenuhnya lenyap.
Menara itu bergetar ketika konfrontasi Sora telah usai dan kemudian cahaya datang dari arah yang tak bisa disebutkan. Cahaya itu tidak terang, tidak hangat juga, tapi keheningan total setelah semuanya terjadi begitu saja.
Bongkahan batu-batu di sekitar Sora tersusun ulang dengan tanpa suara seolah-olah ingatan yang perlahan tersusun untuk mengingat sesuatu untuk memberi ruang bagi pemahamannya akan kebenaran dari gema masa lalunya.
Dari bawah lantai itu, satu frasa muncul, terbakar dalam rune yang pucat:
‘Yang diam mengingat kebenaran lebih dalam daripada yang berbicara dengan suara yang lantang.’
Dan jalan berada di depannya itu terbuka dengan cahaya yang muncul begitu saja dan terdapat sebuah tangga sudah tersusun yang berputar seperti spiral mengarah ke bawah dengan diukir dari obsidian dan tulang. Arah tangga itu menunjukkan arahannya bukan turun ke reruntuhan tetapi ke kebenaran yang selama ini terpendam. Sora melihat sekali lagi ke arah tempat Sosok yang memudar bagai abu itu tidak bergerak lagi dan hanya terlihat abunya terbang karena ada hembusan angin keluar dari arah cahaya itu.
Kemudian tanpa suara, Sora melangkah maju dan dia turun ke dalam apa yang telah menantinya itu ke dalam beban yang tidak pernah dia ucapkan itu menjadi-jadi.
Hutan yang dia lalui itu, berbisik kepadanya seperti sesuatu yang hidup namun tidak ada satu burung yang berkicau di antara pohon-pohon. Hanya terdengar sebuah tangisan lembut abu yang jatuh dari dahan-dahan pohon yang sudah lama mati dan retakan tanah yang rapuh tidak lagi berakar.
Reruntuhan yang dulunya sebuah bangunan megah itu berserakan di mana-mana puing bangunannya di antara pepohonan yang dari sisa-sisa dunia pernah percaya pada sebuah cahaya dan harapan. Altar untuk dewa-dewa yang terlupakan dengan patung-patung yang terkikis hingga menjadi bongkahan batu yang sudah tak menyerupai seperti bentuk aslinya, dan beberapa baju besi yang telah lama berkarat masih menempel di tulang-tulang para pejuang telah lama mati di bawah beberapa pepohonan yang sudah lama mati juga itu.
Sora tidak bisa berbicara. Karena, ia tidak bisa berbicara sama sekali atau bisu sejak ia dilahirkan. Dia diam seperti batu yang menahan hembusan angin yang tidak ada seorang pun dapat mengajaknya berbicara atau bahkan ia sendiri tak memiliki suara untuk berbicara atau berteriak meminta pertolongan sekalipun.
Namun, sebuah pertanyaan muncul untuk menanyakan perihal dirinya itu.
Apa yang dia bawa? Tidak ada yang pernah tahu mengenai hal itu.
Namun, yang pastinya itu sangatlah berat seperti beban. Tidak di tangannya, tapi di langkahnya itu. Setiap langkahnya yang terus melangkah di atas tanah rusak itu bagaikan sebuah sumpah. Dengan perlahan dan setiap pengalaman yang ia pernah lalui di dalam hidupnya itu.
Sora berjalan melewati Gerbang yang memiliki bentuk wujudnya seperti gigi taring yang sangat besar untuk ukuran seperti gerbang dari binatang buas yang sangat tajam dan di mana lengkungannya itu tertutup rapat menandai akhir dari jalan terakhir dari perjalanannya itu.
Sora mendekati gerbang yang ia lihat di depannya itu yang hanya diketahui oleh beberapa orang yang pernah melihatnya dan menemukannya itu yang tidak pernah kembali sebelum sempat mengatakan apa yang mereka lihat di sana.
Di sana, di bawah langit dengan bintang-bintang yang masih berkedip-kedip seperti perapian yang hampir hilang dari semesta itu. Sora melihat satu sosok jauh berada di hadapannya yang seperti tengah menunggu seseorang datang.
Sebuah sosok yang tak menyerupai seperti manusia lagi. Tidak bergerak sama sekali walau Sora mengetahui sosok itu masih hidup. Baju besinya itu seperti terbuat dari kaca hitam yang retak dan seolah-olah sedang bernafas. Dia tidak berbicara namun ketika Sora sedang berjalan ke arahnya itu, sosok itu seperti mengawasi dirinya itu yang berjalan perlahan mendekat ke dirinya itu. Seperti sebuah patung yang hidup dengan baju zirah prajurit yang sudah lama membusuk di entah-berantah. Seakan-akan makhluk itu telah menunggu kedatangan Sora yang telah melakukan perjalanan entah dari mana itu.
Dan Sora yang tidak memiliki senjata itu bahkan tidak memiliki nama di dunia ini selain yang ia bawa adalah dirinya sendiri seperti orang yang telah mengalami kematian namun bangkit kembali dari dalam kuburannya itu, orang yang sudah lama mati dan seharusnya beristirahat di dalam tanah sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.
Sora tetap melangkah maju tanpa mengetahui siapa sosok makhluk itu. Angin berhembus melaluinya. Begitu pula dunia yang selalu berputar sesuai dengan keinginannya. Sosok itu tetap tidak bergerak walau Sora perlahan mendekatinya. Baju besinya terbuat dari obsidian dan dihiasi oleh sesuatu dengan bentuk retakan yang berdenyut samar dalam cahaya yang redup dari dalamnya.
Bukan sebuah kehangatan dan bukan juga sebuah kehidupan. Akan tetapi, sesuatu yang lebih tua dan sesuatu yang rusak namun menolak untuk mati oleh peradaban dan zaman yang telah berlalu.
Sora berhenti berjalan dan melihat sosok itu dari jarak yang cukup itu berada tepat di hadapannya saat ini. Debu-debu bergejolak di bawah kaki mereka seperti berputar-putar hal yang tak pernah dilihat sebelumnya oleh manusia manapun.
Tidak ada tanda-tanda sorang musuh, tidak ada juga tantangan yang diberikan untuk duel oleh sosok itu, dan tetap saja sosok itu mengangkat tangannya dan menunjuk Sora dengan jarinya itu telah berubah menjadi tulang.
Jari-jarinya itu bersarung tangan besi dan bergerigi, terulur ke luar...
Bukan untuk menyerang Sora tetapi untuk memberi sebuah isyarat kepadanya bahwa di belakangnya itu terdapat udara yang berkilauan dan sebuah hutan yang telah lama mati itu sebagai sebuah bentuk yang muncul dengan samar-samar yang bergeser antara apa yang dulu ada dan apa yang sekarang masih tersisa.
Sebuah gerbang atau pintu, dan itu adalah Gerbang Memori yang ditempa dari kesedihan dan gema masa lalu seseorang yang penampilan gerbang itu berkedip-kedip seperti cahaya lilin di tengah sebuah badai.
Sora mengetahui hal ini yang ia tahu persis bahwa hal ini bukan dari pengetahuannya tetapi dari perasaannya. Sora sebelumnya pernah melihat wujud gerbang seperti itu dalam mimpinya yang dijahit dengan darah. Pintu yang bukan menunjukkan tempat, melainkan menunjukkan kebenaran yang pernah terkubur di bagian paling bawah lapis dunia sekalipun.
Suara sosok berbaju besi itu terdengar seperti kaca di atas batu, meskipun mulutnya tidak pernah bergerak dan ia berkata kepada Sora, "Kau membawa beban yang belum disebutkan namanya."
Sora terdiam sesaat dan di dalam benaknya itu mulai bertanya-tanya.
Apa mungkin hal ini sebuah ujian bagi dirinya?
"Masuklah, jika kau ingin tahu apa yang menyebabkan api pertama menyala." Kata sosok itu lagi
Sora melangkah maju ketika sosok itu menyuruhnya masuk ke dalam gerbang memori itu dan Sora memulai perjalanannya itu dengan memasuki gerbang memori yang berada di hadapannya.
Udara tersentak ketika gerbang itu mulai melebar dan dunia sesaat terasa miring baginya. Hanya untuk sesaat, mungkin tidak terjadi ada apa-apa. Namun di dalamnya itu terasa seperti... Tidak ada hembusan angin dari dalamnya, tidak ada sebuah pijakan untuk melangkahkan kakinya ke dalam gerbang itu, dan hanya sebuah ingatan yang berdarah dari gema masa lalunya itu.
Lalu...
Sora melihat Sebuah menara yang hancur di depannya itu terasa seperti bangunan itu dibangun dari marmer yang penuh dengan darah dan tangga yang memiliki pancaran kilauan seperti warna darah itu yang mengarah ke Sora sendiri. Langitnya di atas itu serasa retak seperti sebuah tulang tua, patung-patung yang Sora lihat ketika ia berjalan-jalan untuk menemukan petunjuk itu di dalam menara itu meneteskan darah dari mata patung itu.
Sora berdiri di dalamnya seorang diri yang tak memiliki petunjuk dan tak ada pemandu yang mengarahkannya. Namun setelah Sora berkeliling di dalam menara itu, ia menemukan sesuatu. Hanya ada satu prasasti yang setengahnya itu terbakar di bawah kakinya dan masih terasa hangat bahwa prasasti itu tak lama dibakar. Dan tulisan prasasti itu bertuliskan;
‘Kebenaran pertama tidak pernah diucapkan. Namun, kebenaran itu diingat.’
Sora memejamkan matanya untuk mengingat sebuah kebenaran di dalam dirinya itu dan mengikuti arahan yang dituliskan oleh prasasti ditemukannya dan ketika dia membuka matanya lagi, dia tidak sendirian. Bayangan-bayangan yang tidak diketahui keberadaannya itu mengawasinya dalam penglihatannya dan salah satu dari mereka... bergerak menuju Sora.
Fragmen Memori Sora, Tahun-tahun Setelah Keheningan:
Dia tidak dilahirkan dalam cinta seseorang bahkan buaian seorang ibu dan dia ditinggalkan begitu saja di dunia yang baru saja telah hancur oleh orang tuanya itu. Tidak di bawah bintang-bintang yang bersinar indah itu melainkan di bawah Pohon Cleft ia ditinggalkan.
Pohon yang keriput dan membusuk yang berada di pinggiran Desa Mireholt, desa yang terlupakan bahkan dalam peta sekalipun yang di mana tanahnya hanya ditumbuhi rumput liar, dan setiap kelahiran dianggap sebagai kutukan kecuali jika itu mendatangkan panen.
Anak itu tidak mempunyai nama. Hanya kedinginan karena ditelantarkan dan tangisannya bukan tangisannya yang meratapi nasibnya sendiri itu tapi tangisan jiwanya yang tak diinginkan seorangpun.
Dia akan mati di sana.
Seharusnya begitu untuk seorang bayi yang baru saja dilahirkan dan diasingkan entah di mana itu tapi para dewa yang melihat bayi itu kejam dan takdirnya, bahkan lebih kejam lagi untuk sorang bayi.
Dan pada akhirnya, seseorang menemukannya. Eyla Varn, bidan yang terbuang dari sekolahnya itu. Dua kali diasingkan oleh orang-orang karena tindakannya itu. Pertama, karena ia membantu persalinan seorang wanita yang melahirkan anak itu dalam keadaan mati saat baru saja keluar dari rahim wanita yang melahirkan itu di depan mata para warga desa yang melihat hal tersebut dan yang kedua, karena ia menolak bayi wanita itu untuk menguburnya di bawah kuil desa sebagai tempat pemakaman bagi para warga desa adalah pemakaman yang layak.
Namun Eyla mengetahui itu bukan pemakaman namun sebagai sebuah persembahan untuk dunia yang sudah hancur dan mayat bayi itu nantinya akan dimakan oleh binatang buas yang akan menghampirinya itu.
Tangan Eyla dibakar atas hukuman pembangkangannya tapi dia masih memiliki harapan untuk dibawa dan begitulah yang dia lakukan. Dia membawa anak yang masih menangis itu ke gubuknya yang tak layak dihuni itu melewati ladang yang penuh lumpur ke arah gubuknya itu dan juga lumut tumbuh di dinding gubuknya dan atapnya itu saat hujan.
Di sana, awalnya Eyla tidak memberinya sebuah nama tapi hanya keheningan dan bayi itu dibesarkan dengan sedikit lebih dari itu. Keheningan dan mata yang belajar untuk mengamati daripada bertanya. Bayi itu tidak menangis setelah dibawa oleh Eyla.
Namun, para warga desa itu membalasnya dengan nada yang jijik, ada juga yang ketakutan akan nasib sial dari bayi yang dibawa Eyla, dan mereka tidak pernah membicarakannya dengan terang-terangan mengenai bayi itu. Para warga desa itu menyebutnya sebagai 'Mireborn'.
Anak busuk yang tidak pernah diinginkan di dunia ini dan kelahirannya itu dianggap sebagai pembawa malapetaka dan nasib sial bagi desa Mireholt itu kecuali seorang anak yang lahir di desa itu bisa mendatangkan sebuah keuntungan bagi desa atau panen yang melimpah untuk desa.
Namun, anak yang dianggap sebagai Mireborn itu tetap tumbuh di desa itu dan ketika dia memasuki usia tujuh tahun itu, sekumpulan serigala datang ke desanya. Oh, tentu saja ini bukanlah sekumpulan atau gerombolan serigala atau binatang buas lainnya tapi sekelompok yang memiliki sifat seperti itu dengan baju zirah besinya dan senjata yang sangat tajam di genggaman tangan mereka itu.
Nama kelompok itu adalah Black Maw, tentara bayaran dari Eastern Gulch yang di mana kelompok itu adalah tentara bayaran pengambil emas, panen, dan kehidupan seseorang.
Ketika seluruh penduduk diseret keluar dari rumah mereka, di saat itulah Eyla menyembunyikan dia di sebuah tempat persembunyiannya di bawah lantai kayu reyot gubuknya itu dan anak itu hanya bisa melihat Eyla yang diseret oleh mereka dengan paksaan dan kekerasan setelah berhasil menyembunyikannya dari bahaya bagi anak itu sebelum sekelompok tentara bayaran itu memasuki gubuk mereka itu.
Teriakan Eyla itu terdengar sangat jelas di telinga anak itu dan teriakannya itu perlahan menjauh dari gubuk hingga teriakan Eyla itu terdengar di aula desa.
Anak itu mengamati dari bawah papan lantai kayu gubuknya itu untuk melihat seluruh kejadian yang akan membuat desanya itu terbakar oleh api.
Para warga desa menjerit dan meminta pengampunan untuk lepas dari pembunuhan massal saat mereka dikeluarkan secara paksa dan teriakan mereka sunyi dalam sekejap ketika tentara bayaran itu memegang pedangnya dan menebaskan pedang mereka yang sudah berlumuran darah para warga desa itu. Kepala-kepala para warga desa yang sudah terpisah dari jasadnya itu kini tertancap di setiap tombak tentara bayaran yang membunuh mereka. Tubuh-tubuh warga desa yang tanpa kepala itu kini tertumpuk dan dibakar bagaikan api unggun yang disertai sebuah himne tanpa suara tengah berdengung dengan nada yang penuh dengan keheningan, kematian, jiwa, dan tawa mereka yang setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan itu.
Anak itu melihat dan menyaksikan semua kejadian itu dari tempat persembunyiannya itu melalui celah kecil yang memperlihatkan kejadian tersebut dari awal hingga tawa para tentara bayaran itu menggema. Anak itu seperti saksi hidup yang bisu atas pembantaian yang mereka lakukan pada warga desa.
Saat fajar tiba, gubuk itu menjadi abu. Desa itu, tanahnya kini penuh dengan darah segar dan rumah penduduk desa berubah menjadi abu. Anak itu berjalan keluar dari tempat persembunyiannya itu setelah ia mengetahui bahwa ia satu-satunya korban yang selamat dari kejadian itu. Dia berjalan dengan mengamati semua itu karena dia tahu bahwa menetap di desa ini, ia tidak bisa tinggal atau menetap ketika melihat kondisinya seperti itu dan anak itu menatap langit yang biru dengan kumpulan asap hitam sisa pembakaran.
Sejak saat itu, dia menyandang nama Sora yang kini ia kenal. Dia mengukirnya di serpihan meja Eyla yang telah hangus akan api itu dan membawa ukirannya yang bertuliskan namanya itu hingga serpihan itu membakar tangannya. Rasa sakit itu menjadi namanya bagai langit yang menjadi saksi bisu selain dirinya. Sumpah yang tidak pernah diucapkan olehnya tetapi selalu dirasakan dalam hatinya dan kenangannya juga.
Kembali ke menara kenangan:
Sora berdiri diam... dan tangannya itu terasa mengepalkan sesuatu seolah ia memegang sebuah pecahan kaca yang telah terbakar. Dan dari sudut tempat itu yang hanya ada bayangan saja dan sebuah suara berbisik bukan ke telinganya, tetapi ke jiwanya:
"Kau ingat kenanganmu itu... tetapi apakah kau sudah memaafkan masa lalumu itu?"
Dan Sora menengok ke arah belakangnya itu dan mendapati bayangan yang bergerak itu mulai terbentuk seperti sosok yang tak diketahuinya itu. Sosok itu seperti memakai topeng tulang rusa. Topeng tulang rusa yang memiliki retak di rahangnya, Sosok itu juga memakai jubah yang terlihat seperti dijahit dari kulit orang-orang yang berteriak meminta pertolongan, tangannya memiliki jari yang panjang seperti manusia tetapi warna jarinya pucat pasi, dan tangannya itu berdenyut karena ingatan akan kekerasan gema masa lalu Sora sebelumnya.
Sora melangkah lebih dekat ke arah sosok itu tanpa rasa takut dan menara itu, mulai bergetar. Sora berhenti ketika menara ingatan bergetar. Tidak ada pedang dalam genggamannya dan perisai juga dan terlebih lagi Sora tak memiliki suara untuk meminta pertolongan kepada siapapun yang berada di menara ini. Hanya gema dari dirinya yang dulu itu ia miliki.
"Kau berjalan di bawah namanya, Wanita yang terbakar untukmu di akhir hidupnya itu." Makhluk bertopeng itu berkata lagi dan hendak meraih Sora.
Sora tidak bergeming sekalipun atas gertakan bayangan yang telah bertransformasi menjadi sosok yang bertopeng dengan kegelapan yang ingin menyergapnya itu. Sosok itu berjalan mengelilinginya dengan perlahan, seolah mencoba membangkitkan rasa takut dari dalam diri Sora. Namun, Sora jelas tidak ada rasa takut akan sosok yang mulai untuk memprovokasinya itu. Hanya sebuah ingatan... dan tekad yang Sora memiliki akan gemanya.
“Mengapa kau tidak punya dendam? Mengapa kau tidak berteriak? Mengapa kau tidak melawan?” Tanya Sosok itu sambil mengelilingi Sora dengan perlahan dan suaranya yang serak itu dengan mengancamnya.
Tetap saja, Sora tetap diam seperti biasanya dan tidak memedulikan perkataan Sosok itu. Namun di tangannya itu, tangan kanannya yang sedari tadi menggenggam pecahan kaca itu perlahan genggamannya terbuka dan sebuah pedang dari bentuk bara api yang di mana ia genggam pecahan kaca itu sebelumnya bertransformasi menjadi sebuah pedang tersebut.
Sora tidak merasakan tangannya terbakar ketika menggenggam pedang itu yang seperti bara api yang menyala. Sora merasa bahwa hal itu bukanlah api dan bukan sebuah cahaya juga tapi hal itu adalah sebuah beban yang berasal dari memorinya kini berubah menjadi sebuah senjata baginya.
Serpihan meja Eyla yang terbakar dan satu-satunya sisa terakhir dari peninggalan gubuk yang pernah Sora tinggali sebelumnya berubah menjadi sebuah pedang berbentuk dari bara api yang telah lama padam.
Melihat hal tersebut, Sosok itu mulai goyah dan khawatir akan apa yang telah ia lihat pada kejadian itu.
"Nama itu... masih terasa hangat rupanya." Bisik Sosok tersebut.
Kemudian Sosok itu, mulai menerjang Sora dengan emosi yang tidak terkontrol. Serangan tanpa teriakan, kukunya yang tajam itu seperti bilah pedang yang terhunus dari bayangannya sendiri melengkung ke arah Sora seperti ingatan yang berubah menjadi amarah. Sora bergerak tidak dengan tergesa-gesa ketika melihat Sosok itu mulai melancarkan serangannya itu dan Sora tidak panik ketika konforntasi mereka telah dimulai. Sora dengan konsentrasi penuh melawan Sosok tersebut.
Sora menunduk ke bawah untuk menghindari serangan pertama Sosok itu ke arahnya dan meluncur ke sisi buta musuh dan saat makhluk bertopeng itu berbalik arah ke Sora, semuanya itu sudah terlambat bagi Sosok itu. Sora menusukkan pedangnya yang membara bagai bara api itu ke dada Sosok itu.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari Sosok itu ketika pedang yang tertancap di dadanya dengan penuh tekanan dari Sora dan tidak ada teriakan yang keluar juga dari mulutnya itu. Hanya sebuah api terlihat dari pedang Sora itu saat menusuk dadanya. Pedang itu menyala bukan ke luar, tetapi ke dalam bilahnya. Raungan sunyi meletus di balik topeng tulang, dan Sosok itu terhuyung-huyung, mencengkeram dadanya saat api pedang itu membakar sisa-sisa keinginannya yang telah dicuri dan pedang itu lenyap ke dalam dada Sosok itu dalam api yang masih membara.
Sora melihatnya jatuh ketika pedangnya tertancap dan tak bisa dilepaskan dari dada Sosok itu. Sosok itu tidak mati, tidak hilang, hanya dilepaskan begitu saja bagai abu yang berterbangan dan sepenuhnya lenyap.
Menara itu bergetar ketika konfrontasi Sora telah usai dan kemudian cahaya datang dari arah yang tak bisa disebutkan. Cahaya itu tidak terang, tidak hangat juga, tapi keheningan total setelah semuanya terjadi begitu saja.
Bongkahan batu-batu di sekitar Sora tersusun ulang dengan tanpa suara seolah-olah ingatan yang perlahan tersusun untuk mengingat sesuatu untuk memberi ruang bagi pemahamannya akan kebenaran dari gema masa lalunya.
Dari bawah lantai itu, satu frasa muncul, terbakar dalam rune yang pucat:
‘Yang diam mengingat kebenaran lebih dalam daripada yang berbicara dengan suara yang lantang.’
Dan jalan berada di depannya itu terbuka dengan cahaya yang muncul begitu saja dan terdapat sebuah tangga sudah tersusun yang berputar seperti spiral mengarah ke bawah dengan diukir dari obsidian dan tulang. Arah tangga itu menunjukkan arahannya bukan turun ke reruntuhan tetapi ke kebenaran yang selama ini terpendam. Sora melihat sekali lagi ke arah tempat Sosok yang memudar bagai abu itu tidak bergerak lagi dan hanya terlihat abunya terbang karena ada hembusan angin keluar dari arah cahaya itu.
Kemudian tanpa suara, Sora melangkah maju dan dia turun ke dalam apa yang telah menantinya itu ke dalam beban yang tidak pernah dia ucapkan itu menjadi-jadi.
Other Stories
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...