Bab Dua: Pedang Tanpa Nama
Tangga yang terbuat dari obsidian itu memberi jalan ke tanah yang begitu dingin dan di sana tidak ada pintu serta tidak ada ujungnya itu adalah bagian luarnya saja.
Tiba-tiba, tak ada kejadian apapun ketika Sora menuruni setiap tangganya itu, tanpa ia sadari sudah berada di suatu tempat dalam waktu yang sangat cepat seperti teleportasi yang tak pernah ia sadari akan perubahan yang sangat cepat itu.
Di tempat itu, Sora melihat kabut yang sangat tebal hingga menutupi penglihatan di depannya itu dan udara di sana sangat tenang sekali, seperti tak ada hembusan angin sama sekali di tempat itu seolah-olah ada yang menahan angin agar tak bisa bertiup di area tersebut.
Sora mencoba melangkah ke tempat itu dengan melewati kabut yang berada di depannya itu dengan sedikit rasa kekhawatirannya akan keberadaan di tempat itu saat ini.
Menara di belakangnya itu tenggelam seperti kapal karam yang berada di tengah laut, ke dalam sesuatu yang menghisapnya dari bawah bagai pasir hisap, menghilang ke dalam tanah tanpa meninggalkan bekas ataupun jejak yang seolah-olah menara itu beserta reruntuhannya itu dari kejauhan Sora melihatnya tidak pernah dibangun namun hanya diingat oleh orang-orang yang bisa mengatasi sebuah tantangan dari gema masa lalunya.
Dan di sanalah terdapat sosok tengah berdiri yang berada di seberang tanah lapang yang sangat luas di tempat itu. Sosok itu adalah Makhluk Pertama dari pembuat dunia memori dan yang telah memberikan Sora tantangan sebelumnya.
Makhluk Pertama itu tidak mempunyai wajah layaknya seorang manusia dan wajahnya sendiri itu membuat Sora yang pertama kali melihatnya ketika perlahan mendekatinya, tidak bisa menjelaskan bentuk dan penampilan wajahnya seperti apa.
Makhluk Pertama itu menggunakan mahkota yang bertanduk seperti rusa dan ada akar-akar yang melilit di tanduknya itu seperti duri dari bunga mawar dan Makhluk itu menggunakan jubah yang mempunyai warna matahari senja yang berlapis-lapis serta jubahnya itu terlihat seperti terkoyak oleh waktu dan zaman yang datang dari seluruh waktu di alam semesta mana pun.
Makhluk itu tidak bergerak dan hanya duduk diam saja di kursinya bagai singgasananya itu hingga Sora berjalan dengan perlahan menujunya.
Kemudian Makhluk Pertama itu mengangkat tangannya bukan untuk menyapa Sora yang menghampirinya tetapi untuk mengeluarkan sesuatu dari udara dan keluarlah sebuah senjata dari dalam lubang yang ia buat seperti adanya kedistorsian antara ruang dan waktu yang menjadikannya sebagai sebuah tempat penyimpanannya di dalam lubang itu bagai portal ketika tangannya melakukan gerakan seperti itu layaknya sihir pemanggil.
Tidak dipanggil, tidak ditempa, tapi pedang itu untuk diingat layaknya sebuah memori.
Sebuah pedang. Memiliki lengkungan yang sangat rapi seperti logam yang terbuat dari selain bahan-bahan di dunia melainkan dari ingatan seseorang. Bilahnya tidak setajam pedang manapun namun pedang itu berdenyut dengan samar dan terdapat cahaya yang seperti bara api yang redup dan menolak untuk mati seolah-olah pedang itu tidak ditujukan untuk tidak memotong daging, tulang, bahkan mengambil jiwa seseorang tapi pedang itu ditujukan untuk menyuarakan sebuah kebenaran yang telah lama tersembunyi.
Makhluk itu berbicara tanpa suara yang keluar dari mulutnya dan tidak tahu mengapa, Sora dapat mengerti apa yang Makhluk pertama itu berbicara tanpa mendengarkan suara apapun yang keluar dari mulutnya.
“Pedang ini tidak memiliki nama maupun sebuah julukan. Jika kau berikan nama untuk pedang ini, ia akan memiliki ikatan yang khusus antara pemilik dan pedangnya untuk berbagi nasib apa yang telah dilalui oleh seorang pemilik dengan senjatanya itu. Tapi kau, tidak ditakdirkan untuk memiliki ikatan dengan pedang ini. Melainkan, Kau ditakdirkan untuk menanggungnya di setiap langkahmu yang mengharuskan dirimu untuk membawa pedang ini di sepanjang perjalananmu itu agar kau tetap mengingat kebenaran yang telah dilupakan banyak orang di duniamu yang sudah rusak itu.”
Makhluk itu melepaskan pedang yang tak memiliki nama itu dan entah mengapa pedang itu melayang di udara dan menuju ke arah Sora dengan perlahan dan menancap di atas tanah yang berdekatan dengan kakinya itu seakan-akan pedang itu menunggu pemiliknya untuk menggenggamnya dan siap untuk menemaninya di setiap perjalanan yang akan membawanya itu.
Sora melihat pedang yang telah diberikan oleh Makhluk Pertama itu dengan mencoba untuk mengambil dengan tangannya yang meraih gagang pedang itu. Saat Sora menyentuhnya, kabut di sekitarnya terasa seperti bergetar.
Denyut dari pedang itu. Seperti detak jantung dunia bawah yang terkubur di tanah yang terdalam. Pedang itu terasa ringan saat digenggam, tetapi tujuannya terasa seperti tak terbatas. Pedang itu tidak bersinar seperti cahaya, pedang itu tidak berdengung seperti berbicara kepada yang telah menggenggamnya tapi pedang itu mengingat setiap orang yang menggenggamnya itu dan memori pemegangnya juga.
Di balik kabut, gema samar bergejolak, bayangan desa-desa yang telah lama hancur dan bisikan para dewa yang telah lama tenggelam karena tak ada hamba yang sudah beriman dengan meyakini tuhannya, dan Sebuah jalan baru terbuka di hadapan Sora yang jalan itu bukan seperti jalan yang diterangi oleh takdir atau nasib seseorang melainkan jalan yang dipilih oleh keheningan itu sendiri terhadap orang-orang yang mampu melewatinya.
Makhluk pertama itu berdiri dari singgasananya itu dan berjalan ke arah belakangnya itu yang hendak meninggalkan Sora yang masih berada di sana itu. Bentuknya mulai memudar ke dalam kabut yang akan hilang karena Makhluk pertama itu telah menyelesaikan tugasnya itu untuk mewariskan pedang tanpa nama itu kepada pemilik yang seharusnya untuk membawanya setelah sekian lama Makhluk itu menunggu seseorang yang tepat untuk menjadi pemilik sementara dari pedang itu.
Namun sebelum menghilang, sebuah gema tunggal yang diucapkan oleh Makhluk pertama itu di udara:
"Untuk melangkah maju, yang pendiam... kau harus mengajari dunia untuk mendengarkanmu terlebih dahulu sebelum dunia itu memberikanmu sebuah jawaban dari orang yang menanggung beban yang tak pernah disebutkan itu dan tak pernah diketahuinya."
Mendengar perkataan Makhluk Pertama itu sebelum ia menghilang begitu saja dari hadapan Sora yang Makhluk itu menghilang di antara kabut-kabut itu menunjukkan bahwa perjalanan Sora saat ini telah dimulai. Bukan untuk membalaskan dendamnya bahkan bukan untuk menaklukkan dunianya yang rusak dan berada di ambang kehancuran itu melainkan untuk mengingat suatu kebenaran yang terpendam, menyaksikannya, dan membawanya di setiap perjalanan Sora itu.
Dan di tangannya kini terdapat sebuah pedang tanpa nama yang telah diberikan dari Makhluk Pertama tadi. Pedang yang akan memotong lebih dari sekedar kebohongan yang bersembunyi di balik bayangan kebenaran.
Pedang itu akan memotong hal-hal yang tak pernah terucapkan oleh orang manapun dan diamnya yang membuat dunia tidak pernah terbangun dari tidurnya itu sebelumnya.
Malam telah menelan jalan perlahan dengan kegelapan yang di sertai bintang-bintang di langit yang menemani pancaran cahaya bulan itu...
Sora berjalan di bawah langit yang tak menunjukkan adanya sebuah matahari lagi namun terdapat sebuah retakan di langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang tergantung seperti cahaya lilin yang hanya memiliki sedikit cahaya tapi menolak untuk padam dan bulan yang tampak seperti obor yang hampir mati akan kayunya itu tak dapat menopang apinya yang membakar kayunya dengan perlahan-lahan namun enggan untuk padam layaknya bintang-bintang yang menemani di sebelahnya itu.
Sora telah menyeberangi sungai yang terletak tidak jauh dari Cave of Memory itu dan setelah Sora menyeberangi sebuah jembatan yang menghubungkan sungai itu dengan area sekitar Cave of Memory, ia berjalan melalui bukit-bukit yang menjulang tinggi dan jalan yang dipenuhi dengan banyaknya rumput liar dan pohon-pohon yang hampir mati.
Dan Sora telah berjalan tiga hari tanpa berbicara kepada siapapun setelah kejadian sebelumnya dan belum makan apapun yang membuat perutnya terus-terusan berbunyi akan rasa laparnya itu, seolah-olah hanya keheningan yang dapat menopangnya untuk tetap hidup.
Saat ini, dia sedang menapaki jalan bukit yang sepi dan jalannya tak terlihat utuh karena masih banyak sisa-sisa dari bongkahan batu sebuah reruntuhan yang pernah berdiri di bukit itu, puncak bukitnya itu seperti memegang mahkota sebagai pohon-pohon bengkok yang sebagiannya itu gundul, tinggi, ada yang miring, dan berbisik saat angin berhembus melaluinya.
Di sana, Sora berhenti sejenak. Bukan untuk berdoa agar rasa laparnya itu menghilang namun untuk mengambil nafas sejenak sebagai waktu istirahatnya itu karena badannya sedari tadi dicoba paksa untuk tetap berjalan dan kini badannya itu telah mencapai batasnya.
Sora melihat di sekelilingnya itu dan mengambil beberapa ranting-ranting bahkan kayu yang terlihat cukup untuk membuat sebuah api unggun untuk menghangatkan dirinya yang hendak ingin beristirahat saat malam hari itu dan api itu cukup untuk menghasilkan bayangan setelah sekian lama ia membuat api unggun sebelum ia merebahkan badannya di dekat pohon tua sebagai sandaran untuk badannya itu.
Angin berhembus di bawah sepatunya itu yang mencoba untuk memberikan udara yang segar untuknya ketika ia beristirahat dari dunia yang telah dia lewati sebelumnya selama perjalanannya. Sora dengan perlahan memejamkan matanya dan mencoba beristirahat dengan tenang.
Sora duduk di tepi tanah lapang yang di antara bukit bertemu dengan hutan mati sebagai pembatasnya. Suara angin merayap melalui cabang-cabang seperti bisikan sebuah peringatan. Sora merasakan ada kehadiran sosok lainnya dan beranggapan dalam pikirannya itu bahwa ia sendirian atau tidak? Begitulah yang ia pikirkan dalam benaknya dengan kondisi mata masih tertutup.
Kemudian tak lama dari itu, terdengar suara patahan ranting pohon yang terdengar disengaja dan suara langkah kaki yang berat menuju ke arah Sora saat ia beristirahat di situ.
Sora tidak bergeming sama sekali terhadap sesuatu hal yang mengganggu itu. Hingga ia berpikiran bahwa hal tersebut mungkin dilakukan binatang yang sedang lewat di dekatnya itu.
Namun semakin lama, semakin dekat suara tersebut terus muncul. Sora memutuskan untuk meraih gagang pedangnya itu dengan perlahan yang ia taruh berada di sampingnya. Suara batu kerikil, langkah kaki yang sangat pelan, dan siluet yang tampaknya seperti seorang... perempuan?
"Jangan bergerak!"
Sora menoleh dengan perlahan ke arah di mana suara tersebut dan terlihat sosok wanita itu berdiri di dekat pohon untuk menyembunyikan penampilannya dengan bayang-bayang yang berada di dalam hutan dan di luar jangkauan api unggun yang membuat Sora sulit untuk melihat seseorang yang berbicara dengannya itu.
Wanita itu terlihat dari bayang-bayang samarnya dalam hutan itu tampak tinggi, seperti mengenakan jubah yang memiliki tudung, rambutnya terlihat sedikit berwarna keemasan dan terikat di belakangnya seperti ekor kuda, sepatunya yang menahan suara langkah kakinya di hutan itu selagi ia membidik dengan senjatanya itu dan sebuah anak panah terlihat yang tampak dari luar bayang-bayangnya itu.
Sebuah anak panah yang diarahkan kepada Sora yang bukan bagian dadanya, tetapi ke arah tenggorokan Sora.
"Aku sudah bertanya sekali, Siapa kau?" katanya, meskipun Wanita itu tidak bertanya sama sekali.
Tali busur itu berderit lebih kencang ketika wanita itu merasa Sora adalah sosok ancaman baginya yang ia temui saat ini.
Sora tidak melakukan tindakan yang gegabah untuk memperburuk keadaan dan situasi saat ini ketika setelah sekian lama ia berjalan dan menemukan seseorang yang masih hidup di dunia yang sudah hancur ini dan kondisinya saat ini terbilang dalam keadaan yang tidak bisa dibayangkan lagi bila seperti ini terus-menerus.
Sora tetap duduk di tempatnya dan mencoba untuk meyakinkan wanita yang sudah mengarahkan anak panahnya itu ke dirinya yang tengah beristirahat itu dan melihatnya dengan mata yang sudah menunjukkan kelelahan saja setelah berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya.
“Hah, apa yang kau lakukan? Hei! apakah kau tuli atau bisu untuk tidak menjawab pertanyaan seseorang yang berada di hadapanmu ini sedang mengarahkan panahnya kepadamu, bodoh? Katakan sesuatu sebelum anak panah ini menembus tenggorokanmu!” Ujar seorang wanita itu dengan nada emosi ketika melihat sesuatu yang tak bisa ia percayai walau targetnya itu seperti tidak menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan namun ia tetap berwaspada kepada orang yang baru saja ia temui itu dan mencoba untuk memastikannya apakah ia berbahaya atau tidak.
Sora tidak melakukan apapun dan ia hanya diam saja sementara Sora masih tetap melihat ke arah wanita itu yang masih mengarahkan anak panahnya itu kepadanya dan tentu saja hal ini membuat kesabaran dari wanita itu habis hingga wanita itu tersentak dan melepaskan anak panahnya itu.
WHOOSH—
Anak panah itu melesat dengan cepat dan mendarat di tanah yang beberapa inci dari kaki Sora yang sedang beristirahat itu membuat dedaunan berterbangan di sekitarnya akan hempasan angin cepat dari pemanah wanita itu.
Sora tetap tidak bergerak sama sekali dari tempatnya itu walau wanita itu telah menembakkan anak panahnya sebagai peringatan dan meminta sebuah jawaban dari Sora yang bisu tersebut.
Bahkan Sora tidak bergeming atas ancamannya itu yang sudah melesatkan anak panahnya yang menunjukkan betapa seriusnya kondisi Sora saat ini bila tak bisa menjawab pertanyaannya itu sebelum nyawanya yang akan melayang karena tak bisa menjawab pertanyaan wanita itu.
Sora mencoba untuk tidak mengeluarkan nafas yang menunjukkan kekhawatiran ataupun takut akan hal itu hanya keheningan di antara mereka saat ini.
Melihat hal itu, nafas wanita itu menjadi tak beraturan saat melihat reaksi Sora seperti itu ketika ancamannya merasa gagal untuk menggertaknya. Mengetahui akan hal tersebut, anak panah kedua terpasang di gagang busurnya dan kali ini, wanita itu mengarahkannya lagi ke arah Sora namun bukan membidik area dadanya atau tenggorokannya saat ini melainkan tepat ke kepalanya untuk bersiap-siap sebuah ancaman yang tak terduga dari pergerakan orang itu.
“Kau pikir kau bisa menipuku untuk tidak menjawab pertanyaanku tadi untuk memberimu belas kasih dan memberikan ampunan untukmu itu?! Kau itu berjalan seperti mayat hidup tapi bernapas layaknya manusia, orang seperti apa dirimu ini? Doppelganger? Humanoid? Vampir?" Ujar wanita itu dan ia melangkah lebih dekat ke arahnya untuk memastikan siapa dirinya itu.
Dengan tingkat kewaspadaan tinggi dan wanita itu melintasi cahaya api unggun membuat wajah wanita itu terlihat lebih jelas saat ini dengan setengah berbayang dari kerudungnya yang berwarna hitam melindungi kepalanya itu dengan bekas goresan kecil di bagian pipi kirinya dan matanya yang berwarna biru tidak berbinar dan terlihat wanita itu terus melotot ke arah orang itu.
Namun cahaya api juga memperlihatkan wajah Sora untuk yang dilihat oleh wanita itu ketika mendekatinya dengan perlahan dan masih mengarahkan busurnya itu ke arahnya.
Seorang pemuda yang lelah karena melakukan perjalanannya tanpa henti selama beberapa hari dan wanita itu melihat tatapan seseorang yang melupakan suatu hal yang dimiliki setiap manusia yaitu rasa ketakutan dan di mata Sora yang berwarna coklat itu, wanita itu melihat tidak ada perlawanan darinya serta tidak ada permintaan untuk memohon meminta melepaskan dirinya itu yang seperti halnya tatapan mata Sora berkata
‘lakukanlah bila kau ingin melakukannya’.
Hanya keheningan mencerminkan diri Sora yang sudah melakukan perjalanan kehidupannya yang tak henti-hentinya mengalami sesuatu yang seharusnya manusia itu tidak mengalami pengalamannya itu, tidak ada kebencian yang tersirat dari raut wajah Sora melainkan raut wajah yang sudah lelah terhadap kehidupannya itu namun menolak untuk mati saja, dan tidak ada penghakiman yang membuat wanita itu akan berhenti melakukan atas tindakannya itu ke Sora (dengan bahasa isyarat).
Lengan wanita itu turun dengan perlahan ketika terasa sudah jelas bahwa orang yang ia ancam itu bukanlah ancaman baginya melainkan sosok yang sudah lelah terhadap segala hal.
Suaranya perlahan melembut tapi masih ragu akan hal itu dan mencoba untuk bertanya ke orang itu.
"Kau... benar-benar tidak bisa bicara?"
Sora menganggukkan kepalanya sebagai tanda untuk menjelaskan kepada wanita itu. Wanita itu mengalihkan pandangannya dan menggelengkan kepalanya karena malu atas tindakan sebelumnya yang membuat orang itu dipaksa berbicara dengan mengarahkan anak panahnya ke orang itu dan melesatkan anak panahnya ke orang itu sebagai ancaman.
Wanita itu berkata lagi dengan nada yang berbeda dari sebelumnya yaitu lebih ke arah lega dan bercampur aduk malu atas tindakannya yang membuat orang itu terlihat ketakutan atau terancam.
"Dunia ini telah membuat suara-suara menjadi mayat dan mungkin, suaramu itu yang pertama kalinya dicuri oleh mereka yang sudah lama mati."
Hening seketika ketika wanita itu mengharapkan sebuah jawaban dari orang itu namun ia baru menyadari lagi bahwa orang itu bisu hingga ia memalingkan wajahnya lagi untuk kedua kalinya untuk menutupi rasa malunya lagi.
Kemudian... Sora mengulurkan tangannya ke arah wanita itu sebagai bentuk sesama manusia yang masih hidup di dunia yang sudah hancur ini dan melupakan sebuah harapan untuk hidup di dunia ini. Telapak tangan Sora itu berada tepat di depan wanita itu sebagai tanda pertemanan juga baginya dan wanita itu.
Wanita itu menatap orang tersebut dengan kebingungan yang juga bercampur aduk dengan rasa malunya tadi itu dalam ekspresi wajahnya. Pada akhirnya, wanita itu mencoba untuk tetap tenang dan bersikap seperti biasa dengan nadanya yang pelan dan dingin seperti angin.
"Kau itu bodoh... atau satu-satunya orang yang masih waras tersisa di dunia ini?"
Wanita itu melangkah maju dengan perlahan dan jari-jarinya menyentuh jari-jari tangan Sora untuk menyalami tangannya itu sebagai permintaan maafnya secara tidak langsung itu dan ia tidak memiliki kepercayaan yang ada untuk ditukarkan dengan orang itu.
Hanya benang pertama dari sebuah pemahaman yang belum terjalin dan kesalahpahaman dari wanita itu.
"Namaku Kaelith, Kau tidak perlu memberitahuku milikmu. Keheningan juga punya nama." gumamnya.
Sora yang mendengar hal tersebut, mulai mencari ranting kayu di sekitarnya untuk menuliskan sesuatu. Kaelith melihat tindakan Sora yang memegang ranting kayu itu dan menuliskan sesuatu di atas tanah itu. Ia melihat tulisan Sora di atas tanah yang dituliskan orang itu dan orang itu mencoba untuk mengatakan dengan bahasa isyarat itu dengan memperkenalkan dirinya itu sebagai Sora. Kaelith hanya bisa melihat Sora itu dan akhirnya mengerti maksudnya itu.
"Kau itu bodoh atau bagaimana? Bila kau masih memaksa untuk memperkenalkan dirimu itu, ya sudahlah." Jawab Kaelith atas pengenalan Sora itu dengan nada yang datar dan dingin sebagai jawabannya kepada Sora.
Kaelith berpaling dari Sora dan melihat sekitar area mereka itu.
"Sora, kau ini sebenarnya ingin ke mana? Dari tampangmu saat ini, kau melakukan perjalanan bukan?" Tanya Kaelith yang perlahan duduk berseberangan dengan Sora di api unggun untuk menjaga jaraknya dengan Sora yang ekspresinya heran ketika melihat dirinya setelah mengamati di sekitarnya itu cukup lama.
Sora kembali menuliskan sesuatu di atas tanah dengan ranting kayu yang ia pegang tadi, ‘Aku tidak tahu ke mana aku ingin pergi namun, aku hanya berjalan untuk bertahan saja untuk sementara ini.’
Melihat tulisan Sora di atas tanah itu, Kaelith semakin bingung dengan pernyataannya yang cukup aneh karena di dunia ini walau kau berjalan sebagai pengembara dari satu tempat ke tempat lainnya dengan berdiam diri di tempat tinggal-pun akan membuat mati juga dikarenakan dunia ini tidak layak bagi Kaelith untuk terus hidup di dalamnya yang kondisinya sudah seperti saat ini.
"Kau satu-satunya orang yang sangat aneh dengan alasan yang sangat mustahil bagi orang lain pada umumnya itu dan aku tidak heran bila melihat kondisimu saat ini bisa bertahan dari banyaknya... kau tahu bila dunia ini penuh dengan hal-hal yang tak bisa dijelaskan dengan akal sehat manapun tentunya." Ujar Kaelith dengan nadanya yang pelan namun memiliki perasaan yang bingung ketika melihat Sora yang sebagai manusia biasa itu, bisa bertahan dari dunia ini yang telah lama rusak dan hancur itu.
"Lalu, kau hendak pergi ke mana bila kau mengembara dari satu tempat ke tempat yang lainnya untuk... bertahan hidup?" Tanya Kaelith dengan nada pelan namun memiliki rasa heran dan penasaran terhadap Sora.
Mendengar hal itu, Sora kembali menuliskan sesuatu di atas tanah lagi.
‘Tidak tahu, aku tak punya arah tujuan yang jelas untuk saat ini dan mengembara sejauh mana dan tentunya untuk bertahan dari ancaman dunia ini.’
Melihat tulisan itu, Kaelith dibuat tidak mengerti maksud dari Sora itu. mungkin tulisannya sudah betul ia baca tapi apa yang Sora maksud tak mempunyai tujuan untuk mengembara selain bertahan hidup itu?
Kaelith memutuskan untuk mengajak Sora ke tempat berikutnya walau ia tak bisa mempercayai sepenuhnya terhadap Sora yang baru ia temui itu namun, mau bagaimana lagi jika ia ditinggalkan sendiri itu dan terlebih lagi Sora salah satu manusia yang waras dengan pikiran yang masih abu-abu bagi Kaelith itu.
"Jika kau ingin mengembara namun tak mengetahui ke manakah tujuanmu selanjutnya, kusarankan kau menuju ke reruntuhan kerajaan Borreal... untuk itu, aku akan menemanimu selama perjalanan sebagai permintaan maafku sebelumnya untuk sementara waktu." Ujar Kaelith dengan nada yang datar dan ajakan untuk Sora itu.
Sora akhirnya berdiri dari duduknya dan mengangguk kepada Kaelith pertanda ia setuju untuk mengembara bersamanya ke arah reruntuhan kerajaan Borreal yang Kaelith maksud itu.
Anak panah Kaelith itu masih tertancap di atas tanah dekat kaki Sora dan Sora mengambil anak panah itu yang membuat Kaelith berwaspada.
Namun, Sora mengambil anak panahnya itu untuk mengembalikan kepada Kaelith dan Kaelith menerima anak panah itu setelah memerhatikan cukup lama tindakan Sora itu.
Bersama-sama, mereka berjalan menembus gelapnya malam hari. Pedang tanpa nama di sisi pinggul Sora yang menggantung dan Kaelith yang berada di belakangnya, memerhatikan sekitar pepohonan untuk tetap berwaspada di sekitarnya serta waspada terhadap Sora yang bisa saja berkhianat sewaktu-waktu itu.
Jalan yang berada di depan mereka berdua saat ini mengarah ke kerajaan yang sudah menjadi reruntuhan itu terlupakan dan meninggalkan masa kejayaannya dulu akan banyaknya ilmu pengetahuan hingga perkembangan teknologi di zamannya itu kini menghilang lenyap bak ditelan bumi.
Perjalanan mereka yang sebenarnya baru saja dimulai dengan awal yang memiliki rasa kecurigaan dan kewaspadaan itu berakhir menjadi sekutu untuk sementara waktu. Bulan memancarkan cahaya yang sangat pucat di atas puncak-puncak pohon tua menjulang tinggi.
Kaelith berjalan di belakang Sora, matanya selalu mengamati di area sekitarnya bila ada pergerakan yang mencurigakan atau ancaman yang datang ke arah mereka itu dan Sora mengikutinya dari belakangnya, diam seperti biasa dan langkahnya juga penuh pertimbangan ketika melihat Kaelith yang sangat waspada dengan sekitarnya.
Kemudian…
GrrrrrrRRRMM.
Suara yang tidak diketahui keberadaannya dan berdeguk gema canggung di udara malam itu membuat Kaelith membeku seketika dan ia langsung menyiapkan anak panahnya ke busurnya dengan sigap di pertengahan jalan dan Sora memberhentikan langkahnya ketika melihat reaksinya karena Kaelith yang merasa ada suara yang sangat aneh itu mendekat ke arah mereka saat ini. Suara itu terdengar lagi beberapa saat kemudian.
GrmmMMrrrrkkk.
Suara itu bukan berasal dari hutan melainkan sumber suara itu berasal dari arah Sora. Kaelith langsung menoleh ke arah belakangnya dan matanya tak mempercayai ketika mendengar suara itu berasal dari Sora hingga mata Kaelith berkedip sekali untuk memastikan suara tersebut.
“Apakah itu suara perutmu?” Tanya Kaelith dengan heran kepada Sora tentang suara tersebut yang sangat familiar ketika seseorang kelaparan.
Mungkin karena malu, Sora mengalihkan pandangannya dan tidak bergerak sama sekali dari tempatnya itu dengan rasa malu yang seakan-akan menggantung di pundaknya saat ini seperti jubah namun lebih berat daripada yang dikenakannya.
Kaelith mendesah karena tak tahu harus berkata apa lagi ke Sora yang kelaparan itu dengan menarik kembali tudungnya.
“Oh Tuhan… Sudah berapa lama kau tidak makan?”
Sora tidak menjawab pertanyaannya langsung karena dia tidak bisa mengingat kapan terakhir kali ia makan itu.
Namun tatapan mata Sora sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Kaelith yang sudah kehabisan kata-kata untuknya.
Sora memberi tanda tiga jari kepadanya bahwa mungkin selama 3 hari ia belum makan atau mungkin lebih dan hanya minum air saja selama dalam perjalanannya itu.
Tangan Kaelith bergerak ke kantong ikat pinggangnya untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan untuk diberikan ke Sora namun, tidak ada apa-apa selain pisau berburunya, beberapa obat yang dimilikinya, dan batu api yang pecah untuk mengasah anak panahnya serta membuat api unggun.
"Aku sudah muak dengan hal ini. Baiklah, aku akan menemukan sesuatu untuk kita makan malam ini dan kau carilah tempat untuk istirahat kita nantinya."
Kaelith melihat ke arah barisan pepohonan hutan itu untuk mencari mangsa buruannya untuk makan malam mereka namun Sora menggelengkan kepalanya dan mengikuti Kaelith yang hendak berburu itu.
Ia melangkah maju untuk mengikuti Kaelith dari belakangnya. Kaelith yang menyadari hal ini ada seseorang yang mengikutinya dari belakangnya itu, langsung menoleh ke arah belakang dan melihat Sora mengikutinya dan kelihatannya dia ingin membantu dirinya yang sedang berburu itu.
"Kau bukan satu-satunya hantu dengan pedang yang kau bawa saat ini dan aku mengerti kau ingin membantuku namun terima kasih sudah menawarkan jasamu itu. cukup aku sendiri saja dan carilah tempat peristirahatan untuk kita!" gumam Kaelith yang sedikit kesal dan merasa ada yang memedulikan sosoknya itu namun Kaelith menolaknya dengan mentah-mentah karena hanya dia saat ini yang bisa berburu.
Namun Sora bersikeras untuk tetap mengikutinya dari belakang hingga Kaelith menghembuskan nafas kekesalannya dan akhirnya menyerah dengan sikap Sora yang keras kepala untuk ikut dengannya berburu itu.
"Baiklah... baiklah, aku ingin kau diam saja dan ikuti arahanku dengan seksama tanpa merepotkan diriku, oke?" Ujar Kaelith dengan nada yang terpaksa dan kesal juga terhadap Sora itu.
Pada akhirnya, mereka menyusuri hutan-hutan itu untuk mencari buruan mangsa mereka sebagai makan malam mereka.
Mereka mengamati hutan di setiap sudutnya seperti elang yang mencari mangsanya dari atas. Ranting-ranting pohon yang berada di bawah telapak sepatu mereka itu hampir tidak berdesir di bawah langkah mereka dan tidak mengeluarkan suara sama sekalipun.
Kaelith bergerak dengan anggun seperti seorang pemburu yang telah ahli dan terlalu lama hidup di dalam hutan dan Sora memperhatikan dan mempelajari setiap apa yang dilakukan Kaelith yang mencari sesuatu untuk diburunya itu.
Lalu terdengar suara gemerisik di depan mereka yang berasal dari balik semak-semak itu. terlihat di depan mereka saat ini terdapat seekor babi hutan yang memiliki tanduk abu-abu dan moncongnya seperti akar pohon ek yang sudah mati.
Taring babi hutan itu terlihat sepanjang lengan bawah Kaelith. Matanya mendung karena marah yang sepertinya babi itu lapar mungkin atau terlihat habis berkelahi mungkin karena masih ada sisa darah yang membekas di area badannya itu.
Kaelith mencoba menenangkan tangannya selagi menyiapkan anak panahnya itu di busurnya untuk menembakkan ke arah babi hutan itu yang sedang diam di tempatnya itu, bibir Kaelith terbuka sedikit untuk bisa fokus dengan mengeluarkan nafasnya dengan perlahan untuk mengenai targetnya.
Namun sebelum Kaelith melepaskan anak panahnya itu—
WHOOSH!
Seekor babi hutan datang dari arah lainnya dan babi hutan itu menyerbu dari arah semak-semak yang di mana Sora dan Kaelith bersembunyi di sana. Babi hutan itu melesat lurus ke arah Sora yang tak jauh keberadaannya dari Kaelith yang mencoba melepaskan anak panahnya tadi dan membuat babi hutan yang pertama mereka jumpai itu lari begitu saja karena ketakutan akan babi hutan lainnya itu hendak menyerangnya.
Tidak ada waktu untuk memperingatkan dan tidak ada waktu juga untuk memanggil seseorang yang bisa menolong mereka saat ini dengan harus berhadapan dengan buruan mereka saat ini. Kaelith memutarkan badannya itu dan dengan sengaja menjatuhkan badannya itu ke bawah untuk memberikan waktu yang cukup untuk menembakkan anak panahnya ke arah babi hutan yang menyerang Sora itu.
THWIP—
Sebuah anak panah mengenai babi hutan itu yang mengamuk dengan buas itu tapi pergerakannya tidak bisa dihentikan. Itu adalah binatang buas yang besar, bertahan dari ancaman pemangsa, dan liar untuk ditundukkan.
Sora tidak sempat menggenggam pedangnya yang membuatnya terdorong ke arah belakangnya dengan kekuatan yang tak bisa dibayangkan untuk seekor hewan yang sedang marah karena babi itu menyeruduk Sora ketika Sora tidak siap saat itu dan tidak bisa diprediksi pergerakannya.
Kaelith berteriak dengan suara yang cukup keras dan pertama kalinya Sora mendengar suara darinya yang tidak getir atau tertahan.
"Menunduklah, bodoh!"
Babi hutan yang tengah menyeruduk Sora itu mendapati lesatan anak panah dari Kaelith lagi dan tertancap anak panahnya itu di tubuhnya untuk kedua kalinya yang membuat babi itu berhenti menyeruduk Sora dan Sora terpental cukup jauh.
Babi itu mendapati kondisinya terluka parah, berputar-putar karena rasa sakit anak panah dari Kaelith tadi yang dilesatkan itu cukup membuatnya kesakitan sangat hebat, mendenguskan nafas yang tak beraturan karena rasa sakitnya, dan air liur yang menetes dari arah mulutnya yang bercampur dengan darah.
Mata Sora menatap ke arah babi hutan itu yang sudah kehilangan konsentrasi dan dengan perlahan, Sora berdiri dan menghunuskan pedangnya ke arah babi hutan itu.
Cahaya bulan berkelap-kelip di sepanjang bilah pedangnya yang membuat pedang itu berkilau di tengah kegelapan malam dan begitu senyap seperti Sora sendiri.
Babi hutan itu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Sora yang sudah mengabaikan rasa sakitnya itu dan menyerang Sora lagi untuk kedua kalinya.
Sora menunggu waktu yang tepat untuk menyerangnya walau babi hutan itu berlari ke arahnya dengan cepat dan Sora tetap masih menunggu ketika babi tersebut mendekati jarak jangkauan serangannya.
Ketika babi itu sudah masuk ke area jangkauan serangannya, Sora bergerak dengan kekuatan yang tidak besar namun dengan kefokusan dan konsentrasi yang tinggi untuk mendapatkan celah dari serangan babi hutan tersebut.
Pedang itu seakan-akan bernyanyi di udara malam yang sesuai dengan melodi yang diharapkannya. Lengkungan tebasan yang sangat bersih bahkan rapi untuk tebasan pedang manapun itu.
Babi itu akhirnya jatuh di tengah serangan yang ia lancarkan itu gagal dan meluncur di atas tanah dan dedaunan dengan pukulan terakhir dari Sora tersebut. Babi itu berakhir dengan napas yang menggigil untuk menunggu waktu ketika ajalnya itu akan menjemputnya.
Hutan kembali sunyi setelah kejadian itu. Sora menahan pendarahan di lengannya yang ia alami saat diseruduk oleh taring babi hutan itu dengan darah yang menetes perlahan dari lengannya.
Kaelith mendekat ke arah mereka itu dan busurnya diturunkan.
"Kau benar-benar tidak bisa bicara rupanya." Ujar Kaelith yang sebelumnya masih meragukan Sora yang tak dapat berbicara atau bisu itu sebagai kebohongannya namun dalam kondisi seperti sebelumnya itu.
Kaelith memastikan bahwa Sora memang tak bisa berbicara sama sekali. Sora tidak menjawab pernyataan Kaelith mengenai dirinya itu dan Sora masih memegangi lengannya dengan tangan yang satu lagi.
Hanya menatap makhluk yang telah jatuh terkapar tanpa nyawa itu di hadapan mereka saat ini. Kaelith mengeluarkan pisau berburunya dan berlutut di samping babi yang sudah tak bergerak itu.
“Baiklah. Selagi aku menguliti ini, aku juga akan memasaknya dan kau yang menyalakan api unggunnya. Kedengarannya bagus?” Tanya Kaelith dengan nada yang datar dan sedang fokus untuk memisahkan antara daging dan kulit babi tersebut.
Sora mengerjap sekali dengan anggukan kepalanya yang samar itu atas tugas yang diberikan Kaelith yang Saat ini ia mengolah daging babi itu dengan tangan yang terlatih dan memotong setiap dagingnya itu dengan hati-hati.
“Kau bergerak seperti seseorang yang pernah mati sebelumnya.” Pertanyaan Kaelith membuat Sora yang hendak pergi dari sana itu terdiam begitu saja ketika mendengarnya.
Sora menoleh ke arahnya itu yang sedang menguliti dan memilah daging babi buruan mereka.
“Tidak banyak orang yang bisa menahan rasa lapar seperti itu dan masih punya energi untuk berpikir.” Lanjut Kaelith dengan masih memotong beberapa daging.
Sora meninggalkan Kaelith di sana dan mencari kayu bakar untuk membuat api unggun di dekat tempat perburuan mereka tadi setelah Kaelith selesai berbicara.
Ketika Sora telah mengumpulkan kayu bakar, ia meletakkan batu-batu yang agak besar dengan membentuknya seperti sebuah lingkaran dan kayu bakar itu disusun dengan rapi. Setelah selesai, api unggun pun menyala segera setelahnya.
Kemudian, di dekat derak api unggun dan aroma daging panggang yang sedang dimasak itu, Kaelith duduk di seberangnya yang tetap menjaga jarak dari Sora itu dan membuka pembicaraan mereka yang sempat hening dan menatap api unggun itu menyala di hadapan mereka selagi menunggu matangnya daging babi yang mereka masak itu.
“Dunia ini memangsa yang lemah,” Kaelith memberikan sepotong daging yang tertancap oleh kayu yang terlihat sudah matang itu memberikannya kepada Sora.
“tapi kau... kau tidak terlihat begitu lemah bagiku melainkan hanya belum usai saja bagiku.” Lanjut Kaelith dengan mengambil daging itu untuknya dengan kedua tangannya yang hati-hati.
Mereka tidak berbicara setelah itu dan mencoba untuk menikmati hasil dari buruannya itu. Hanya berbagi api untuk kehangatan malam yang dingin itu dan sebuah makanan untuk mengenyangkan perut mereka sebagai energi esok hari.
Sebuah busur dan sebilah pedang sedang melakukan perjalanan bersama.
Dua hantu di ujung dunia yang sudah hancur dan rusak itu tak mereka ketahui, fajar akan membawa perjalanan mereka ke arah kerajaan Borreal yang sudah menjadi reruntuhan itu.
Namun di malam itu, mereka berdua mengingat bagaimana rasanya bertahan hidup yang sebenarnya.
Other Stories
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Jika Nanti
Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Test
Test ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...