The Unkindled Of The Broken Soil

Reads
453
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
the unkindled of the broken soil
The Unkindled Of The Broken Soil
Penulis SaltSea

Bab Enam: Takhta Yang Menunggu Mereka

Mereka beristirahat di sudut ruangan itu yang berada di samping pintu yang sudah terbuka segelnya dan bayangan mereka masih bergeser akan cahaya obor di sepanjang jalan seperti kenangan yang tidak mau menetap.

Udara yang penuh dengan aroma besi dan abu yang hanya dipenuhi dengan nafas lambat dari tiga orang yang dulunya kehilangan sesuatu yang tidak bisa mereka lupakan.

Sora duduk tak bergerak dan tangannya masih memegang erat di gagang pedangnya yang di mana luka di tangannya yang masih baru itu berdenyut di robekan kain yang digunakan sebagai pembalut lukanya.

Tanda-tanda pucat dari rune di dadanya terasa ingin bangun dan sangat terasa di telapak tangannya yang masih mencengkeram pedangnya dan berdenyut seperti gema dari sesuatu yang sangat kuno.

Sesuatu yang terikat padanya oleh asal-usul kekuatannya atau oleh sebuah kutukan yang abadi. Kaelith yang meletakkan busur barunya di sampingnya, diberikan oleh sosok dengan tulang dan perban saat ini ia tengah bersandar di dinding untuk beristirahat.

Matanya setengah tertutup, layaknya mendengarkan kesunyian itu akan menghiraukan sesuatu yang tengah berbisik dari arah pintu itu kepadanya.

Sementara itu, Vael tengah duduk bersila di pinggir dan diam-diam membungkus lukanya yang baru saja didapatkannya yang berada di tangannya masih berdarah akan serangan patung itu untuk mempersiapkan yang jauh lebih berbahaya dari patung itu dari apa yang menantinya di balik pintu ini.

“Beristirahatlah saat ini tetapi itu satu-satunya kebenaran yang tersisa yang masih bisa kita pura-pura mempercayainya.” Ujar Vael kepada mereka yang saat ini beristirahat.

Sora menoleh ke sekelilingnya ketika dirasa sudah cukup untuk beristirahat dan instingnya mengatakan bahwa sesuatu telah menunggu mereka di dalam pintu itu. Perlahan ia berdiri dari tempat duduknya serta mempersiapkan pedangnya itu untuk apa yang telah menantinya di balik pintu itu.

Tidak ada kata-kata namun hanya sebuah tujuan untuk mengetahui dari apa yang dikatakan Vael itu benar atau hanyalah sudut pandangnya yang ia manipulasi untuk menjebak mereka saja.

Sora melangkah menuju pintu yang disegel itu yang membuat lainnya seperti Kaelith serta Vael yang tengah duduk itu ikut berdiri juga dan mengikuti Sora yang sudah berada di depan pintu yang di mana tiga lubang yang menjadi kunci pembuka segelnya itu masih menunggu kedatangan mereka untuk mengetahui apa yang berada di baliknya atau bahkan sesuatu yang lebih buruk dari apa yang mereka duga telah menunggunya.

Kaelith dan Vael mempersiapkan senjatanya sebelum Sora membuka pintu itu.

“Kita selesaikan sekarang, apa pun yang ada di balik pintu ini bukan sekadar pertarungan biasa. Itu adalah jiwa Borreal yang telah digerakkan oleh seseorang yang membangkitkannya untuk merusaknya.”

Kata Vael dengan suaranya yang tegas tetapi tetap tenang untuk pertarungan yang akan menanti mereka semua itu. mereka melangkah maju dan hanya berdiri di samping Sora yang saat ini menghadap ke arah pintu di depannya.

Dan kemudian, Sora membukakan pintu itu terbuka dengan lebar dan di balik pintu itu yang menyembunyikan misteri yang telah terlama terkubur, debu berjatuhan dari atas, dan angin yang tak terlihat menderu dari terowongan gelap di baliknya.

Bau dari ruangannya, lebih tua dari pembusukan mayat yang lebih tua bahkan dari bau dari bau tulang-tulang yang terbakar.

Mereka melangkah masuk ke dalam hingga mereka melihat tulisan di samping mereka dengan papan yang telah lama roboh itu bertuliskan dengan menamai tempat itu adalah Hollow Basilica, yaitu ruang singgasana berskala kolosal, terkubur di bawah kerajaan mayat hidup sebagai tempat peristirahatan para raja Borreal selamanya di sana.

Patung-patung yang rusak berjejer di dinding yang terlihat bukan seperti patung para raja, tetapi tokoh-tokoh tanpa nama dan semua wajahnya hilang serta hancur oleh peradaban.

Kubah di atas ruangan itu yang menjulang tinggi hingga kaca yang pecah di atasnya, cahayanya masuk melalui celah-celah retakannya yang pecah.

Di ujung terjauh dari ruangan itu terdapat singgasana yang sudah menghitam dan diukir menawan akan menunggu seseorang yang telah disediakan untuknya pantas menduduki singgasana itu.

Namun, di singgasana itu terdapat seseorang telah menduduki singgasana itu dengan berpakaian jubah berwarna putih yang sudah tercampur oleh abu dari tulang dan mayatnya, sosok itu juga bermahkota duri yang melingkari kepalanya berwarna perak, matanya terlihat seperti bintang yang berwarna merah yang bersinar walau dari kejauhan itu terlihat. Sosok itu adalah raja dari mayat hidup serta Varnished.

Sosok itu melihat kedatangan mereka dari kejauhan, akhirnya bangkit dari singgasananya dan suaranya memenuhi seluruh kolosal itu dengan bergema serak.

“Kalian telah datang melalui abu dan kenangan... tetapi kau tidak akan pergi dengan keduanya dari tempat ini untuk mengetahui apa yang telah menjadi misteri itu akan terungkap.”

Sosok itu mengangkat tangannya ke depan sebagai pemanggilannya dan para mayat hidup itu bangkit dari dari tanah di dekatnya dengan perawakan seperti ksatria dengan pedang yang berkarat.

Dinding-dinding d sekitar mereka mulai bergetar dengan hebat seperti gempa karena pemanggilan dari raja mayat hidup itu membangkitkan puluhan atau ratusan prajurit lebih yang hampa akan jiwanya.

Beberapa dari yang lainnya itu seperti ksatria tadi dan sebagiannya menyatu dengan akar-akar tumbuhan melilit di bagian area tubuh mayat hidupnya seakan-akan terpelintir oleh kesetiaan terhadapnya dan tujuannya dalam membungkam orang-orang yang ingin mencari tahu akan kebenaran dari penyebab runtuhnya kerajaan Borreal itu.

Sora menghunuskan pedangnya dari sarung pedangnya, Kaelith mempersiapkan anak panah pertamanya dan Vael mencengkeram erat pedangnya itu sebagai tanda amarahnya, sekarang hanya kemauan yang mentah untuk membalaskan dendamnya di masa lalunya dan jiwa yang perlahan terbakar di bawah kulitnya.

Raja mayat hidup itu berbicara lagi dengan suara seraknya dan menunjuk mereka dengan jari jemari tulangnya itu:

“Ini bukan hukuman untuk mereka yang mencari sebuah kebenaran di balik tabirnya melainkan ini sebuah pembebasan bagi mereka. Jangan takut gelap para pendatang dan mari kita mulai pestanya.”

Kemudian para mayat hidup itu mulai berlarian ke arah mereka bertiga secara serentak dan pertempuran mereka terhadap raja mayat hidup itu dimulai.

Pertarungan yang akan menjadi panjang dan penuh dengan kebrutalan nantinya di depan takhta dari istana mayat hidup itu.

Mereka yang sudah menyiapkan senjatanya itu, bertarung dalam lingkaran kematian yang telah dibuat dari raja yang sudah mati menjadi penggerak yang sudah mati itu mengantarkan kematian mereka nantinya.

Sora berlari ke arah depannya dengan cepat dan memimpin serangan, bilah pedangnya mulai menebaskan ke arah pasukan mayat hidup itu dan bergerak melalui celah yang didapat dari setiap musuhnya dengan cepat tetapi dengan setiap tenaga yang ia miliki dan penuh luka juga yang ia semakin terasa sakit ketika badannya digerakkan untuk mencapai batasnya.

Setiap serangan tidak hanya menembus daging busuk dari mayat hidup tetapi juga setiap ingatan dan matanya yang perlahan mulai berubah menjadi emosi atas frustasinya yang mencoba untuk menyembunyikan sebuah kebenaran yang harusnya diungkapkan kepada mereka yang mencari kebenaran itu.

Kaelith berlari ke arah samping sambil melepaskan melepaskan anak panahnya dengan tepat dan cepat. Ia mencari di sekitar area itu untuk mencari tempat yang lebih tinggi untuk spot memanah yang bisa melindungi Sora dan Vael dari atas.

Kaelith yang menemukan spot untuk memanah di antara pilar dan pecahan-pecahan altar di sampingnya yang membuat rambutnya berlumuran debu dan abu.

Vael meraung dan mulai menebaskan pedangnya yang lengannya terus menerus mengayunkan pedangnya membuat ototnya terus dipaksakan memegang berat pedangnya, rasa sakit setiap goresan dari serangan mayat hidup yang mengenainya, dan dia tetap berdiri walau terlihat mustahil untuk dikalahkan namun dia tetap meyakini peluang sekecil apapun untuk bertarung mengungkapkan kebenaran yang ia ingin ketahui.

Pertarungan mereka itu tidak akan berakhir untuk setiap satu mayat hidup yang jatuh di atas tanah, dua lagi mendatangi mereka yang merangkak dari tanah.

“Ini tidak ada habisnya!” teriak Kaelith, menarik tali busurnya hingga lengannya mulai gemetar karena kelelahan dan otot-ototnya mulai terasa.

“Raja itu, terus merapalkan pemanggilan mereka untuk menghabisi kita. Lakukan sesuatu!”

Kemudian, Sora yang sibuk mengayunkan pedangnya untuk mengurangi jumlah mayat-mayat hidup itu sambil mendengarkan teriakan Kaelith tadi, ia melihat sesuatu yang sangat janggal dari setiap pemanggilan raja mayat hidup itu.

Di bawah singgasananya, terdapat sebuah lubang celah yang bersinar gelap aneh di sana yang terlihat seperti mata air yang keluar dengan warna hitam dan berdenyut di setiap alirannya yang menuangkan sebuah kegelapan ke setiap dalam daging para mayat hidup yang dipanggil oleh raja mayat hidup itu sebagai penggerak mereka.

Vael mengutuk raja itu yang menggunakan jiwa serta jasad dari orang-orang Borreal sebagai pemanggilannya itu yang di mana ia disibukkan oleh kerumunan mayat hidup saat ini.

“Dia menggunakan orang-orang Borreal yang sudah lama mati, nama mereka dan wajah mereka yang dihidupkan dari kematiannya hanya digerakkan olehnya itu. Mereka terikat oleh pemanggilannya itu!”

Sora yang mendengar hal itu langsung bertindak tanpa ragu-ragu, sesaat setelah Vael mengatakan hal itu dan luka dan goresan yang terus menerus melukainya saat ini mulai bergerak dengan insentif dan membukakan jalan baginya.

Namun, apa dayanya ketika luka lamanya dan luka bau yang ia dapatkan saat ini menumpuk di sekitar tubuhnya hingga ia tak bisa merasakan lagi keinginannya untuk melawan dari pasukan mayat hidup yang terus menerus muncul dari bawah tanah setelah ia berhasil menjatuhkan mereka satu per-satu namun lusinan dari mereka muncul dari permukaan tanah dan mulai menyerangnya dengan brutal yang membuatnya terhuyung akan pendarahan yang sangat hebat hingga ia berlutut tanpa daya lagi.

Kaelith yang fokus melepaskan tembakan anak panahnya dan hendak ingin mempersiapkan anak panahnya yang baru di busurnya itu mendapati gerombolan yang mulai menyerangnya dari arah bawahnya dan membuatnya jatuh dari atas pilar hingga gerombolan itu mulai menyerangnya ketika lengah.

Terpaksa Kaelith harus melakukan pertarungan jarak dekat dengan berteriak kasar kepada mayat-mayat hidup itu yang mengelilinginya saat ini sambil menyerangnya,

“BAJINGAN, ARGH!”

Kaelith yang sudah mempersiapkan tongkat daruratnya dan menaruh busurnya itu dengan cepat di belakang punggungnya itu mulai memukuli mayat hidup itu dengan amarah tapi tetap saja luka yang ia dapatkan juga begitu banyak hingga Kaelith terpukul mundur dan terpojok pada akhirnya oleh mereka.

Vael yang mencoba menyerbu maju untuk membantu mereka tetapi para mayat hidup itu tak ada habisnya hingga menghalangi jalannya untuk membantu mereka yang Kaelith terpojok dan Sora yang sudah tergeletak di atas tanah setelah berlutut akan rasa sakit yang diterimanya.

Ketika keputusasaan telah melanda dalam diri mereka dari Kaelith yang terluka, Vael yang tak bisa membantu mereka, hingga Sora yang sudah tergeletak itu masih diserang terus menerus bagai mangsa yang sudah menyerah kepada pemangsanya itu mulai tak kondusif bagi mereka.

Namun, sesuatu di dalam keheningan dan keputusasaan mereka yang sudah menatap arti dari sebuah kematian itu, Sora bangkit dari keputusasaannya yang masih diserang oleh pasukan mayat hidup itu bukan karena sesuatu yang lain dan luka di dadanya itu menyala lagi seperti sebelumnya.

Cahaya api dan bayangannya membara bagai bara api muncul dari tubuhnya yang sudah penuh luka itu seperti jiwa keduanya dan hal itu adalah sebuah bentuk kehadiran akan seseorang yang terus menerus menyembunyikan sebuah rahasia yang tak diungkapkan kebenarannya atas kemunafikan, kebohongan, dan manipulasi akan satu hal yang dipendam cukup lama bangkit untuk mengungkapkannya.

Semua mayat hidup yang menyerang di sekitarnya mulai membeku atas kekuatan yang menyala bak api yang memancar di tengah-tengah mereka itu dan kemudian, Sora yang memegang pedangnya mulai menebaskan mereka hingga hancur menjadi abu.

Kaelith yang terpojok dan terus melakukan perlawanannya itu terkejut melihat sesuatu yang aneh namun sama seperti sebelumnya yang berasal dari arah Sora itu dan Vael hanya bisa terdiam ketika melihat fenomena itu dari arah Sora yang pendiam itu mulai menunjukkan kekuatannya yang aneh.

Sedangkan penguasa dari mayat hidup itu yang sedari tadi berada di area singgasananya turun dari tempatnya melalui anak tangga itu dengan perlahan pada akhirnya ketika melihat Sora melepaskan kekuatannya itu.

\"Kau yang membawa api itu rupanya. Sebuah kenangan terakhir dari benih api yang tak bertuhan itu...\" Desis raja mayat hidup itu ketika melihat Sora seperti itu.

Sora yang sudah membukakan jalannya dan kini berhadapan langsung dengan raja mayat hidup itu, mengangkat pedangnya yang sekarang bersinar dengan cahaya api yang membara dan hidup dari kenangan dan kehancuran itu mengarahkan pedangnya menunjuk ke arah raja mayat hidup itu.

Raja mayat hidup itu melihat aksinya itu hanya bisa tertawa serak seperti mengejek tindakan Sora itu yang mengarahkan pedangnya ke arahnya dan berkata dengan suara seraknya yang khas.

\"Kalau begitu keinginanmu api yang tak bertuhan, biarkan dunia terbakar lagi beserta isinya.\"

Singgasana yang berada di belakangnya kini hancur menjadi reruntuhan bebatuan dan raja mayat hidup berdiri tegak di tengah kolosal yang hampir hancur dan tangannya mengangkat ke arah kubah di atas yang retak akan pecahan kacanya.

Bayangannya terlihat membesar dari jahitan jubahnya dan sesuatu yang berkilauan dengan warna ungu kepucatan di sepanjang tubuhnya berputar dengan simbol yang lebih tua dari iman.

\"Kau bukan penyelamat yang dinantikan oleh yang masih hidup itu melainkan kau adalah sebuah ancaman bagi dunia ini.\"

Lanjut raja mayat hidup kepada Sora dengan tegas setelah tawanya itu berhenti dan mengeluarkan tongkat sihirnya muncul dari bawah tanah berbentuk tulang dan bola sihir berwarna hitam di ujung ata tongkat itu.

Sora tidak menanggapi perkataannya itu namun matanya saat ini yang menyala dengan membara itu, berbicara lebih keras daripada sebuah kata-kata yang diucapkan oleh seseorang di dunia ini dan bentrokan pertama keduanya itu terjadi dengan Sora yang bergerak lebih dulu untuk menyerang raja mayat hidup itu.

Sora melompat dengan gerakan yang lincah, pedangnya yang sekarang ini terbungkus dengan api yang bercahaya dari tubuhnya mengalir ke senjatanya dan goresan yang ia tebaskan ke arah raja mayat hidup itu adanya kilatan api yang membakar hingga bertabrakan dengan tongkat sihir Sang Penguasa yang terbuat dari tulang dari mayat-mayat hidup itu.

Percikan api beterbangan dan suaranya memecahkan kubah kaca yang tersisa di atas kubahnya hingga membuat serpihan-serpihan kaca itu berjatuhan di sekitarnya seperti pecahan pertarungan orang yang melawan seseorang yang menyembunyikan kebenarannya yang dikubur di bawah tanah.

Raja mayat hidup itu menanggapi serangan Sora yang sudah membenturkan tongkat sihirnya itu dengan memanggil semburan api yang bukan dari tanah sekarang, tetapi dari dirinya sendiri melalui tulangnya itu sendiri.

Kaelith yang sedari tadi berteriak akan terpojoknya dia kini berhasil melepaskan dirinya dari kepungan mayat hidup yang menyerangnya di sekelilingnya dengan menggunakan tongkat daruratnya lagi itu dalam keadaan terluka dan darah yang menetes dari beberapa bagian tubuhnya serta luka yang didapatnya itu kini lebih banyak dari pertarungan sebelumnya, melepaskan anak panahnya lagi dengan lebih cepat dari nafasnya.

Masing-masing anak panah itu menjadi rasa kekesalannya atas apa yang dialaminya tadi dan frustasi akan tidak ada habisnya pertarungan ini. Busur barunya itu bernyanyi dengan memberikan beban musuh menjadi terlalu berat saat ini ketika anak panahnya mulai menancap satu persatu di antara mereka saat ini.

Salah satu mayat hidup dari arah belakangnya mencapainya dan mulai menyerang Kaelith dengan pedang rusak yang berkarat mayat hidup itu bawa dan Vael ada di sana mencoba untuk mencegahnya dengan menusukkan pedangnya ke tengkorak makhluk itu.

Darah yang berwarna hitam itu berceceran di lantai yang beralaskan tanah dan Vael mengayunkan pedangnya ke arah leher mayat hidup itu dengan memisahkan kepala dengan tubuhnya yang mencoba kembali bangkit setelah terkena serangan di kepalanya.

Kaelith yang terkejut melihat Vael dari belakangnya hanya bisa berkata

“Aku berhutang nyawa kepadamu hanya kali ini!” teriak Kaelith yang masih melepaskan anak panahnya dengan beruntun dan cepat.

Vael yang mendengar hal itu mencoba fokus apa yang berada di depan Kaelith dan mulai memerhatikan pola serangan mayat hidup itu.

“Mereka terus menerus bangkit dari tanah, bertahanlah selagi kau bisa!” Ujar Vael dengan mempersiapkan pedangnya sebelum maju ke depan untuk menghabisi sisa dari mereka itu yang mencoba bangkit dari tanah.

“Kalau begitu kita kubur seluruh kolosal terkutuk ini!” Ujar Kaelith dengan meludah ke arah tanah dengan bercampur darah saat ia melepaskan anak panahnya.

Sedangkan itu, Sora tidak kehilangan konsentrasinya sedikit pun dan ia terus maju, selangkah demi selangkah ke arah raja mayat hidup itu meskipun bayangan-bayangannya muncul untuk membuatnya kebingungan yang mana sosoknya asli atau ilusi buatannya dan Sora berhasil menemukan yang asli di antaranya dengan memerhatikan polanya hingga ia mengayunkan pedangnya ke salah satu di antara bayangan sihirnya itu membuat raja mayat hidup itu terkena goresan dari serangannya itu.

Kemarahan raja mayat hidup itu menjadi-jadi hingga ia mengangkat kedua tangannya dengan tongkat yang masih digenggamnya dan mulai merapalkan mantra sihirnya lagi selagi mayat hidup yang muncul di hadapan Sora menyibukkannya dan memberinya waktu untuk melakukan rapalan sihirnya itu.

Ketika ia mulai merapalkan mantranya itu, udara di sekitar area itu terasa membengkok dan dari atasnya, pilar-pilar api turun dengan cepat yang membentuk spiral api hitam keunguan seperti badai.

Sora yang disibukkan oleh mayat hidupnya itu, melihat bada api yang berwarna hitam keunguan itu menghindari dengan cepat dan naasnya ketika ia menghindar dari serangan itu, kakinya tersandung batu dan membuatnya jatuh di lantai batu dengan suara yang sangat keras seperti mematahkan tulang belakangnya itu.

Satu ledakan api badai itu terus menghantam pilar-pilar di sekitarnya yang membuat di belakangnya itu meleleh menjadi abu begitu saja dan bebatuan yang menghitam akan bekas api yang membakarnya.

Kaelith yang melihat serangan itu, dengan cepat menunduk di balik puing-puing dan ketika ia melihat sebuah celah pada raja mayat hidup itu, ia langsung keluar dari tempatnya bersembunyi lalu dengan berguling ke arah sampingnya lalu ia membidikkan anak panahnya dan menembakkannya tepat menembus ke arah bahu raja mayat hidup itu.

Raja mayat hidup itu menggeram ketika sebuah anak panah menyasar ke arah bahunya saat ini. Ia menoleh ke arah serangan anak panah itu dilesatkan kepadanya dan Kaelith sudah menghilang dari tempatnya, ia sudah melompati puing-puing dan menghilang ke dalam badai pertempuran. Kaelith tahu bila terlalu lama di sana sama saja dengan memberikan kematian baginya.

Geram melihat hal itu, raja mayat hidup itu memanggil sekelompok mayat hidup dari bawah tanah lagi, kali ini mayat hidup yang dipanggil memiliki perawakan mulut yang dijahit rapat, kulit mereka seperti terkelupas hingga terlihat campuran pengelupasan antara daging dan tulang, dan kerangka tengkorak dari bangsawan dan ksatria yang terlupakan.

Raja mayat hidup itu juga melantunkan mantra dalam diam dan kutukan kehancuran berdesir keluar dari mulutnya setelah membangkitkan mayat hidupnya itu.

Ketika rapalan raja mayat hidup itu dilantunkan, tiba-tiba Sora berlutut tanpa sebab seakan-akan dirinya itu telah ditekan oleh sesuatu yang menekan dari atas pundaknya hingga berlutut saat mencoba bangkit.

Kulit Sora perlahan ikut terkelupas dari tangannya hingga kakinya dengan darah yang berwarna merah kehitaman itu keluar dari areanya. Vael yang menyadari rapalan itu, dengan cepat menukik di depan Sora ketika raja mayat hidup itu memiliki kesempatan untuk menyemburkan bola api hitam ke arah Sora yang sedang berlutut, Vael dengan cepat menjatuhkan pedangnya dan menyilangkan tangannya yang berusaha menyerap ledakan bola api yang ditujukan untuk Sora itu.

Dia berteriak saat darah menyembur dari hidung dan telinganya akibat menahannya sendirian.

\"CEPATLAH PERGI!\" Teriaknya dengan semburan darah dari mulutnya itu hingga terbatuk-batuk.

Sora memaksakan dirinya untuk mencoba lepas dari rapalan kutukan raja mayat hidup itu terbebas berkat runenya aktif kembali sehingga ia melesat maju dengan kecepatan penuh bak burung elang yang melihat mangsanya.

Dengan dalam keadaan pedangnya yang kini berlumuran darahnya yang menetes dari arah lengannya yang terkelupas itu, Sora beradu kembali dengan raja mayat hidup itu lagi.

Pedangnya beradu dengan tongkat untuk kedua kalinya hingga percikan api menyelimuti pedangnya dengan darahnya, senjata Sora dan raja mayat hidup terasa beradu antara api kebenaran yang berwarna merah padam dan api berwarna hitam kegelapan yang mempertaruhkan kebenaran itu sendiri.

Raja mayat hidup itu tertawa dengan suara yang kejam dan bergema saat melihat dirinya beradu dengan Sora yang memiliki api tak bertuhan itu menurutnya dan berkata.

\"Kau membawa api yang di mana para dewa telah meninggalkanmu, dan kau pikir itu akan membuatmu utuh?\" Desisnya yang mencoba memprovokasi emosi Sora itu.

Namun, Sora tidak peduli dengan ucapan atau gertakannya itu yang terbilang murahan menurutnya. Ia tetap menusukkan pedangnya ke sisi tengkorak raja mayat hidup itu ketika memiliki kesempatan yang memberikannya celah dan pedangnya itu memotong lapisan kutukan dan daging tua yang bersemayam di antara tulang-tulangnya.

Bukan darah yang keluar ketika Sora berhasil membuatnya terluka, melainkan nanah dari raja mayat hidup itu keluar dengan berwarna keunguan yang mengalir dari bagian lukanya mengepul di satu titik vitalnya.

Tak memedulikan serangan Sora itu, raja mayat hidup itu membalas dengan sihirnya yang membelokkan serangan Sora ke arahnya sendiri yang menghempaskan Sora sangat jauh yang membuatnya terpental hingga ke seberang ruangan, di mana darahnya berterbangan sekali lagi di udara sebelum badannya menabrak tangga singgasana yang sudah hancur menjadi puing-puing bebatuan dari singgasananya dengan benturan yang sangat keras.

Seisi tempat itu dapat mendengarkan suara tulang yang patah pada saat Sora terpental dari sana atas serangan mematikan itu. Sora mengerang dan menggeliat di atas tanah dengan batuk darah hingga muntahan darah yang keluar dari mulutnya akibat pendarahan yang menggumpal dari dalam organnya itu.

Kaelith yang melihat kebrutalan dialami Sora langsung berteriak ke arah raja mayat hidup itu dengan emosi,

“MAKHLUK TAK BEROTAK, MATI SAJA KAU ITU!” Kaelith melepaskan selusin anak panah dengan amarah yang tak terkendali dan masing-masing anak panahnya itu melesat seperti kilat.

Tiga anak panah mengenai sasarannya membuat raja mayat hidup itu belum siap menerima serangannya atas serangan Sora yang berhasil hingga ia tak memerhatikan selain Sora itu kembali terluka dan menembus jubahnya itu yang membuat tubuhnya dari tengkorak retak dan hancur di beberapa bagian badannya.

Namun, untuk mengalahkan pengendali mayat hidup itu, membutuhkan ratusan atau ribuan anak panah baginya untuk beristirahat kembali ke dalam tanah itu.

\"Kau bukanlah yang menanggung takdirnya, kau hanya hama baginya dan pengganggu.\" Bisiknya dengan geram ketika dia menerima serangan untuk kedua kalinya dari Kaelith.

Kaelith yang melihat reaksinya itu serta sudah menemukan keberadaannya saat ini, langsung berlari dengan cepat dan berpindah tempat.

Kaelith berbalik untuk mundur dari areanya tetapi tanah di bawahnya sudah terbelah dan sebuah tangan tulang keluar dan menghampirinya serta mencengkeram kakinya dengan erat seperti lilitan tumbuhan. Kaelith yang tertangkap itu menjerit kesakitan dan berlutut seketika.

Raja mayat hidup itu tampaknya sudah merapalkan mantra secara diam-diam terhadapnya dan mengangkat tangannya lagi ke atas dan melanjutkan mantra kutukannya ke arah Kaelith saat ini.

Kaelith yang sudah berlutut dan tak bisa bergerak lagi walau berusah untuk melepaskan cengkeraman yang kuat dan mampu meremukkan kakinya itu tidak bisa menghindari dari rapalan mantranya itu.

Dan pada saat momen itu, Sora melihatnya dengan mata yang masih kabur akan lukanya yang cukup serius dan sudah berada di ambang kematiannya sekali lagi.

Bahkan dengan penglihatan yang masih kabur dan tidak bisa mengontrol caranya bernapas dengan teratur, Sora memaksakan dirinya sekali lagi dengan bantuan runenya yang aktif tadi untuk bergerak menyelamatkan Kaelith dan membatalkan rapalan mantra kutukan raja mayat hidup itu.

Sora dengan sekuat tenaga yang ia miliki, melemparkan pedangnya yang menghantam tongkat sihir dari raja mayat hidup itu membuat mantranya meledakkan dirinya ketika rapalannya terganggu dan mengakibatkan efek ledakan yang hebat ke dirinya sendiri seperti terkena semburan bola api hitamnya itu.

Melihat hal itu, memberikan Sora sebuah peluang untuk mengalahkannya sekali lagi dan ia bangkit kembali dengan sisa tenaga yang dimilikinya untuk berjalan menghadapi raja mayat hidup itu dengan tangan kosong dan darahnya yang membasahi tangannya.

Dan saat Sora mendekatinya yang lengah itu, rune di dalam dirinya bangkit sepenuhnya.

Api Tak Bertuhan meletus dari dadanya seperti matahari kedua dan dengan tubuhnya yang sudah hancur akan luka-luka yang memenuhi badannya tetap ia menolak untuk tetap tidak jatuh di hadapan raja mayat hidup itu sebagai bentuk perlawanannya.

Sora mengangkat tangannya ke samping dan memanggil kembali pedangnya yang telah ia lemparkan sebelumnya itu melayang kembali ke arah tangannya, senjata itu terbang di udara dan kembali ke genggamannya dan ditempa kembali dalam api yang membakar sebagai bentuk esensinya.

Tubuh raja mayat hidup itu mulai runtuh dengan sendirinya atas kerusakannya yang terlalu parah dari ledakan kekuatannya sendiri namun tetap saja ia mencoba berbicara di saat dirinya tak mampu untuk bangkit dari kerusakannya.

“Kalian semua sudah terlambat. Borreal selalu dikutuk dan kau, membawa abunya dan kutukannya—”

Namun Sora mengangkat pedangnya itu dan membungkamnya tanpa memberikannya kesempatan untuk melanjutkan perkataan terakhirnya sebelum ajalnya yang untuk kedua kalinya.

Dengan satu tebasan terakhir, Sora melayangkan pedangnya itu dari atas ke bawah hingga menembus mahkota raja mayat hidup itu.

Menembus tengkoraknya dan menembus singgasana yang telah diberikannya itu untuk dirinya sendiri yang membelah dirinya menjadi dua bagian. Raungan yang tak seperti manusia lain pada umumnya tak terdengar lagi di seisi reruntuhan tempat itu.

Tubuh raja mayat hidup itu hancur bagaikan abu dan debu yang dihempaskan oleh angin, mayat hidup yang ia panggil sebelumnya itu lenyap menjadi abu sebagai peristirahatan mereka untuk kedua kalinya.

Singgasana dari raja mayat hidup itu telah hancur berkeping-keping dan menandakan tidak ada lagi selain bekas pertarungan yang tersisa dari tempat itu dan setelah semuanya itu telah usai, keheningan kembali lagi seketika setelah akhir yang cukup panjang dari pertarungan mereka bertiga itu.

Kaelith yang melihat semuanya berakhir, ia dengan cepat dan sisa kekuatannya masih ada berlari ke arah Sora saat ia jatuh dari tempat berdirinya itu dan tak sadarkan diri dalam keadaan penuh luka hingga pendarahan yang sangat hebat.

Kali ini, tak ada cara lain yang bisa membantunya seperti sebelumnya dan hanya menunggu waktu saja baginya untuk menemui kematiannya setelah apa yang ia lakukan itu.

Vael berjalan dengan tertatih-tatih ke arah mereka, darahnya membasahi tubuhnya yang masih penuh dengan luka juga dan berkata dengan lirih disertai batuk darahnya itu.

“Apakah dia—?”

Kaelith yang sudah mencapai ke sisi Sora yang tergeletak dengan keadaan tak bisa dijelaskan lagi oleh akal sehat manusia itu berkata dengan gemetar,

“Masih bernapas namun tak tahu sampai berapa lama ia bisa bertahan.”

Vael yang sampai di dekat Kaelith dan melihat Sora yang masih muda itu terlihat jelas bahwa ia tak menyangka ada manusia yang sepertinya saat ini demi menyelamatkan mereka dan menjadi orang yang terdepan untuk mengorbankan nyawanya sekalipun ketika bahaya menjemput dia dan yang lainnya yang pantas untuk diselamatkannya.

Mereka menunduk dengan lesu ketika melihat Sora dengan kondisinya seperti itu atas apa yang ia lakukan untuk mereka saat ini. Kaelith berbisik dengan suara gemetar dan genangan air matanya terlihat di sisi matanya itu,

“Kau, sudah kukatakan jangan lakukan hal itu namun...”

Namun mata Sora sudah terpejam. Pedangnya itu, yang tadinya ia genggam dengan api yang menyala di sekitar area pedangnya kini redup dan tergeletak berada di sampingnya. Jauh di atas, di kubah hancur yang cahayanya mulai bersinar untuk pertama kalinya setelah lamanya raja mayat hidup itu bersemayam dalam kegelapan paling bawah itu.

Keheningan kembali menguasai seisi reruntuhan itu tanpa adanya suara sedikitpun yang memerhatikan perjuangan seorang anak yang bisu itu dalam menghadapi kekuatan yang tak bisa dicerna oleh kata manapun.

Dulu ada api yang tak ada henti-hentinya layaknya baja dan amarah.

Sekarang hanya ada asap, aroma darah busuk yang telah menjadi abu, dan keheningan yang tak bisa bernafas diikuti oleh bencana alam yang dibuat oleh seseorang.

Kini, Sora terbaring tak bergerak disertai nafasnya yang perlahan akan menghilang hingga detak jantungnya berhenti berdenyut. Takhta itu telah hancur dan raja mayat hidup sudah kembali beristirahat kembali.

Namun, sebagian dari mereka juga hancur ketika melihat Sora yang tubuhnya telah ambruk setelah memberikan pukulan terakhir, bilah pedangnya jatuh dari tangannya seolah-olah kehilangan tujuan, kulitnya terkelupas yang mengikuti garis aliran runenya, dan terlebih lagi sekarang, jantungnya hanya berdenyut samar-samar.

Kaelith berlutut di sampingnya, tangannya gemetar di dadanya dan mulai membisikkan hal-hal yang tidak bisa didengarnya.

Kata-kata itu bukan rapalan mantra atau doa tetapi permohonan pribadi yang malu akan diucapkannya dengan pelan.

\"Jangan pergi dahulu dasar bodoh yang pendiam.\" Gumamnya kepada Sora yang masih tergeletak itu.

Vael yang berdiri di dekatnya dengan lengan yang disilangkan erat di atas lukanya dan membiarkan darahnya mengalir di pelipisnya.

Matanya, yang biasanya kasar dan kosong kini berkedip-kedip hanya sesaat dengan sesuatu seperti rasa takut akan kehilangan seseorang yang ia hormati.

Dan di tengah-tengah kejadian yang tragis dan hanya menunggu hitungan waktu saja—

Terdengar suara langkah kaki yang lambat, bergema, dan tidak beraturan serta diiringi dengan suara dentingan botol kaca dan lonceng.

Dari lengkungan pintu depan yang sudah hangus dan lepas segelnya di belakang mereka berdua, datanglah seseorang yang melangkah ringan di atas abu dan debu itu seorang pria berjubah pelancong usang dengan topi bertepi membayangi wajahnya dan tongkat kayu biasa yang melengkung mengetuk tanah yang tandus dan terlihat pecah.

“Lagi? Sepertinya aku datang tepat saat keadaan menjadi buruk atau... sudah berakhir rupanya.” Kata seorang pedagang pengembara yang dikenali oleh Kaelith dengan suaranya yang kering seperti debu.

Kepala Kaelith sontak langsung menoleh ke arahnya dan pertemuan dengannya kembali lagi di matanya yang melebar dan terkejut.

“Kau—” Ujar Kaelith dengan terkejut melihat pedagang pengembara itu kembali lagi di hadapannya.

“Memang selalu seperti ini kehadiranku penuh dengan kejadian tak lazim hingga menyedihkan, ya? Aku yakin kau pernah berhutang kepadaku sebuah botol dan itu sekali. Senang melihatmu masih bernafas dan menagih hutangmu itu kepadaku.” Kata pedagang itu dengan senyum tipis yang memperkenalkan dirinya sekali lagi dengan menyela perkataan Kaelith yang belum selesai itu.

Vael melangkah maju dan bilahnya belum diturunkannya itu bertanya ke Kaelith mengenai pedagang itu.

“Kau kenal pria ini?”

Kaelith menjawab Vael yang mengusap air matanya dan mengisak tangisan yang hampir diperlihatkannya itu mengangguk pelan

“Dia yang memberiku obat yang menyelamatkan nyawa Sora… sebelumnya.”

Tak mau basa-basi yang berkesinambungan, pedagang itu berlutut perlahan di samping Sora yang tak sadarkan diri itu dan memegangi ujung topinya itu dengan ekspresi yang memperlihatkan mata emasnya yang pucat mengamati sosok yang hancur itu dengan kelembutan yang tak terduga.

“Dua kali sekarang dan kalian telah hidup lebih lama dari kematian kalian.” Bisik pedagang itu kepada mereka yang berada di sana dan dia menoleh ke arah Kaelith dan Vael untuk memberi isyarat dengan dua jari sebagai penjelasannya serta mengatakan.

“Dia butuh istirahat. Saat ini juga, kalian telah mencabik-cabik tubuhnya seperti perkamen dan menyiksanya hingga aku tak tahu lagi apakah hal ini wajar bagi luka seorang manusia pada umumnya?”

Kaelith mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan mengatakan “Kami mencoba untuk—”

“Aku tahu maksudmu dan Aku melihatnya. Api di dalam dirinya seharusnya tidak ada... tidak tanpa sebuah pengorbanan darinya.” Sela pedagang itu sebelum Kaelith bisa menyelesaikan ucapannya.

Akhirnya, pedagang itu meraih tasnya dan mengeluarkan serangkaian botol-botol aneh yang terbuat dari bahan yang aneh lainnya itu membuka satu per-satu di bawah hidung Sora untuk dihirupnya.

Desisan samar keluar dengan aroma yang bisa dirasakan pahit dan metalik itu keluar dari dalam botol itu dengan pekat. Kaelith mencondongkan tubuhnya lebih dekat untuk mengetahui kondisinya setelah diberikan sebuah obat mungkin dari pedagang itu dengan bertanya kepadanya.

“Apakah dia akan selamat dari ancaman kematiannya kali ini?”

Pedagang yang mendengar hal itu tidak langsung menjawab pertanyaan Kaelith tadi.

Sebaliknya, ia meletakkan tasnya, duduk bersila di samping Sora, dan mulai menunggu apakah berefek pada Sora atau tidak.

\"Ia membuatku terpesona, Wadah tanpa suara... namun kesunyiannya membelokkan dunia di sekitarnya.\" Pedagang itu bergumam dengan pelan dan matanya tak pernah lepas dari bocah itu.

\"Apa yang kau inginkan darinya?\" tanya Vael sambil mengerutkan keningnya ketika mendengar gumaman pedagang itu.

\"Tidak ada, bocah ini belum sadar, bukan? Juga belum bisa memberikan jawaban dari pilihannya saat ini dan aku hanya mengawasinya dan menunggunya saja, sama seperti kalian di sini.\" Kata pedagang itu sebagai jawaban dari Vael pertanyakan kepadanya tadi.

Kaelith yang masih khawatir dengan kondisi Sora saat ini, pada akhirnya ia menuju ke arahnya lebih dekat lagi di sampingnya. Ia menarik jubah di sekelilingnya lebih erat, memperhatikan wajahnya.

\"Kalau kau mengharapkan sebuah jawaban dari orang yang tak bisa berbicara ini, tunggulah di sini bersama kami. Bila nanti ia akan bangun dari pertarungannya melawan kematiannya sendiri.\" Ujar Kaelith kepada pedagang itu dengan suara yang pelan dan membuat pedagang itu mengangguk pelan dan mengerti maksud dari Kaelith sebagai jawaban yang diberikannya.

Dan begitulah, mereka bertiga seorang pemanah, kesatria, dan seorang pedagang pengembara itu duduk di samping orang yang telah mengorbankan nyawanya dan tak dapat berbicara telah menumbangkan seorang raja mayat hidup sebelumnya.

Di luar ruangan itu, angin berhembus melalui celah-celah reruntuhan yang mengaduk abu-abu yang berterbangan dan sisa dari sebuah kenangan menjadi sebuah sejarah yang terpendam itu.

Namun di dalam ruangan yang hancur itu... masih mendengarkan suara nafas yang sangat kecil dan menggetarkan dada seseorang yang berhasil menumbangkan salah satu sosok yang memendam sebuah kebenaran yang dikubur dengan lama sekali yang bernama Sora itu.

Saat ini, dia pingsan sekarang namun tidak ada yang mengetahui bahwa nyawa Sora saat ini berada di pinggir jurang layaknya bermain-main dengan waktu kematiannya sendiri dalam pengorbanan terhadap orang-orang yang baru saja ia temui itu dan mengenalnya.

Api unggun di hadapan mereka bertiga yang menanti seseorang bangkit dari pertarungannya melawan kematiannya sendiri, berderak dengan pelan dan begitu menghangatkan ketika mereka beristirahat di dekatnya.

Alam bawah sadar Sora:

Jauh di dalam pikiran bawah alam sadar Sora, Menara itu kembali lagi. Menara kenangan yang kembali dan bangunannya yang menjulang tinggi dan kokoh telah dibangun ulang setelah hancur sebelumnya, kini berada di hadapannya sekali lagi. Puncak menaranya yang melengkung ke dalam kehampaan dan geometri yang mustahil untuk berputar di atasnya lautan bisikan yang berasal dari dalam dindingnya.

Sora berdiri sekali lagi di dalam menara itu dengan keadaan yang hanya menggunakan pakaian yang sudah robek itu, luka yang berada di sekitar tubuhnya yang dipenuhi dengan darah yang masih mengalir, dan pedang tanpa nama yang ia genggam.

Melihat hal itu, Sora merasakan hal ini sebagai sebuah ujiannya kali ini yang di mana ia mengingat menara ini hanya menyediakan sebuah memori dari seseorang yang pernah memasuki bangunannya dan turut berinteraksi dengan tempatnya juga.

Merasakan sesuatu hal yang aneh akan datang, Sora mempersiapkan dirinya itu dan dan tak lama dari instingnya itu, Makhluk pertama yang memberikannya sebuah pedang dan juga beban yang harusnya ia tidak memikulnya itu muncul dari sudut ruangan yang paling gelap di sekitar Sora.

\"Kau masih membawanya wahai yang tak bisa berbicara, pedang yang kau bawa itu ditempa ulang sejak pemilik sebelumnya mematahkannya.\" Suara makhluk itu bergema di sekitar tempat itu.

Sora melihat dirinya bertemu lagi oleh Makhluk pertama itu, menurunkan kewaspadaannya dan tidak menanggapi apa yang ia katakan kepadanya akan maksud dari ucapannya itu.

Namun, Sora mengetahui bahwa kehadiran Makhluk pertama itu pasti ada sebab dan akibat dari apa yang ia lakukan di dunianya yang telah hancur dan ia siap akan sebuah ujian baginya untuk kembali lagi ke dunianya yang hancur itu dengan menggenggam erat pedang yang diberikan oleh Makhluk pertama itu.

Makhluk pertama itu yang melihat reaksi Sora seperti itu, hanya bisa diam dan menunjuk jarinya ke arah Sora lalu berkata;

\"Untuk maju ke depan, kau harus mengetahui terlebih dahulu dan apa yang menahan beban saat ini yang berada di belakang punggungmu sedang kau pikul itu hingga saat ini.\"

Makhluk pertama itu mengetuk tanah di bawahnya dengan menghantamkan kakinya dan muncullah sebuah gerbang dari bawah tanah di belakang makhluk pertama itu.

Ketika gerbangnya telah muncul seutuhnya, gerbang itu terbuka dengan suara yang sangat bergema dan di dalamnya bukan bebatuan, puing-puing reruntuhan, atau ingatan dari memori Sora lagi melainkan hanya sebuah ingatan yang menuntun Sora maksud dari kehadirannya di dunia yang sudah hancur itu apa dan apa tujuannya dalam melakukan sebuah perjalanannya itu?

Dan begitulah Sora yang berjalan masuk ke dalam gerbang itu tanpa sebuah kata atau tulisan yang ingin ia tanyakan kepada makhluk pertama itu.

Sora saat ini berdiri di sebuah tempat yang sangat hancur dan hanya terlihat di depan matanya sebuah desa yang terbakar dan hancur oleh kobaran api.

Di sana, Sora melihat seorang anak tengah berdiri sambil menangisi sesuatu dan terlihat bahwa anak itu memendam rasa sakit yang tak tertahankan setelah melihat apa yang terjadi oleh tempat tinggalnya itu.

Desa yang tidak menginginkannya itu terlihat membentangkan semua wajah yang melihat dirinya berpaling itu hanya terlihat kepala mereka tertancap di sebuah tombak yang berkarat dengan berlumuran darah dan digunakan sebagai pajangan bagi siapapun yang melihatnya.

Ketika Sora menghampiri anak yang tengah menangis itu, semua yang berada di hadapannya berubah menjadi kegelapan absolut yang tak menyisakan satupun yang ada di hadapannya saat ini dan hanya gelap gulita yang ia lihat.

Ketika semuanya berubah menjadi gelap, sosok yang berbayang muncul dari arah belakang Sora dan bayangan itu memperlihatkan keseluruhan fragmen memori masa lalu Sora berada di hadapannya layaknya sebuah gambar yang bergerak dengan cahaya yang menunjukkannya seperti rekapan gambar yang bergerak menunjukkan perjalanan dirinya saat ia masih kecil hingga kondisinya saat ini.

Melihat hal ini, Sora langsung menoleh ke arah belakangnya dan sosok bayangan itu menghilang dari hadapan Sora sebelum Sora melihat dirinya dan meninggalkan gema suara tawanya yang terkekeh pelan itu.

Di tengah-tengah itu, Sora yang menghadap kembali dari fragmennya itu dan menjumpai di depan fragmennya yang diputar itu terlihat seorang wanita dengan sosok menyerupai seseorang yang ia kenali namun ia tidak menghampirinya dan mencoba untuk mengenalinya karena ia tidak pernah tahu namanya bahkan mengenalnya sekalipun.

Namun dengan cepat ketika Sora mencoba untuk mengenalinya lagi, tempat itu langsung berubah menjadi gelap dengan perlahan dan sosok wanita yang dilihat Sora tadi memudar ke dalam kegelapan di dalamnya.

Pedang yang digenggam Sora dari tadi itu ikut lenyap tak bersisa dari tangannya dan sebagai gantinya muncul sosok bayangan tadi di tengah kegelapan yang berada di depannya saat ini dan tempat itu langsung berubah menjadi sebuah desa yang sudah hancur tak bersisa selain reruntuhan kayu rumah-rumahnya dan suasana malam hari yang memancar sinar bulan di atasnya akan sebuah rasa keheningan yang menggerogoti keyakinan seseorang yang tengah berdiri di tempat itu akan masa lalunya.

Sosok bayangan yang kembali muncul sebelumnya, memiliki bentuk perawakan refleksi dari penampilan Sora persis dengan mata yang berwarna merah disertai sebuah dendam yang membara dari sisi lain Sora itu.

Sosok bayangan yang menyerupai Sora itu membuat salinan pedang tanpa nama itu dan berkata kepada Sora yang berada di hadapannya saat ini.

\"Kau ingin melupakanku, bukan? Tetapi akulah satu-satunya alasan mengapa kau masih hidup hingga saat ini.\" Desis bayangan itu yang menyerupainya namun bayangan itu bisa berbicara layaknya manusia yang normal itu.

Sora yang melihat hal itu, mulai mengepalkan tangannya tanpa pedangnya itu mulai merasa frustasi akan perkataannya itu.

“Hahahaha... kau sungguh menyedihkan, bahkan dirimu tak bisa berbicara maupun berteriak untuk mengatakan sesuatu yang penting, bukan? Kau hanyalah wadah kosong yang hanya bisa diisi oleh dendam dan keputusasaan saja. Mengapa kau tidak menyerah saja, bocah pendiam?” Ujar bayangan itu yang mengejek dan memprovokasi Sora yang sudah mengepalkan tangannya dengan tawanya dan merendahkan dirinya.

Sora yang tak tahan melihat hal itu yang menyerupai dirinya, mulai bergerak maju dan menghadapinya dengan tangan kosong yang sudah terkepal dengan kuat walau lawannya menggunakan pedang yang menyerupai pedang yang diberikan oleh makhluk pertama kepada dirinya.

Mereka bertarung satu sama lain untuk mempertahankan siapa yang benar di antara mereka berdua itu, apakah Sora yang asli, bisu, bahkan manusia yang tak pernah diinginkan oleh siapapun itu atau bayangan yang menyerupai dirinya itu yang dipenuhi oleh rasa kebencian, dendam, bahkan ingin menghancurkan seluruhnya yang membuatnya harus menerima takdirnya dalam penderitaan itu?

Antara hantu dan yang asli serta pertarungan ini bukan dengan strategi tetapi dengan keputusasaan di antara mereka yang mencoba untuk membungkam sisi dari mereka tak sukai itu.

Pedang yang digenggam oleh bayangan Sora itu mulai menebaskannya ke arah Sora dengan brutal dan tanpa ampun. Setiap serangannya tidak membuat Sora merasakan luka secara fisik di tubuhnya namun rasa akan makna di dalamnya yang terluka oleh serangannya itu.

Darah terus mengalir dari dalam tubuh Sora setelah menerima beberapa serangan dari bayangannya itu. Bayangan itu tertawa dan mengejek Sora yang terluka olehnya itu.

\"Kau memakai rasa sakit seperti zirah yang tebal tetapi itu tetap membuatmu hampa dan kesepian.\" Sora yang sudah mencapai batasnya hanya bisa terjatuh ke tanah dengan badan terlentang dan tidak berdaya di setiap serangannya yang menggunakan salinan dari pedangnya sendiri itu.

Bayangannya itu mulai menekan tenggorokan Sora dengan pedangnya selagi Sora menahan serangannya itu yang hampir saja ia tak tangkap tusukan pedang itu ke arah lehernya.

Darah dari tangannya kini berlumuran darah ketika menahan tusukan langsung ke arah lehernya dan berusaha menolak kematian jiwanya yang direngut oleh dendam dan kebencian dari bayangan itu yang akan mengambil alih nantinya.

Di tengah-tengah kebrutalan itu, Sora yang masih menahan serangan bayangannya itu teringat akan kehangatan tangan dari Kaelith yang pernah ia sentuh, keheningan Vael memupuk rasa bersalahnya atas sumpah yang pernah ia langgar itu dan kesunyiannya yang terasa membuat dirinya hampa namun memiliki sebuah tujuan agar terus hidup tanpa membuang nyawanya yang pernah diselamatkan oleh Eyla Varn pada saat itu.

Sora menghembuskan nafas panjangnya selagi ia menahan serangan dari bayangannya itu dan mulai menunjukkan kekuatan seseorang yang hampir putus asa dan mengorbankan nyawanya demi orang lain yang tak pernah ia ketahui sebelumnya itu melemparkan pedang dari bayangannya itu, menendang bayangannya itu hingga membuatnya terpental ke belakang, dan bangkit sekali lagi untuk melawannya.

Bahkan diri Sora yang hancur dan tanpa suara itu mulai menunjukkan apa yang harus ia perjuangkan dalam melawan pertarungan batinnya sendiri selain pertarungan fisik dan akalnya di dunianya itu.

Sora berjalan menuju pedang milik bayangannya itu dan meraih pedangnya itu dengan tangan kosong yang sudah berlumuran darahnya itu.

Kemudian hal yang tak pernah terduga itu terjadi dan tak pernah terpikirkan oleh seseorangpun untuk melakukannya, Sora menusukkan pedang milik bayangannya itu ke dirinya sendiri yang terkoneksi oleh jantung dari bayangannya itu yang membuat bayangannya itu meraung kesakitan sambil mencerca Sora dalam keadaan masih tergeletak dan menggeliat di atas tanah

“BAJINGAN! APA YANG KAU LAKUKAN? KAU MAU MEMBUNUH KITA SEMUA DI SINI? DASAR BANGSAT KAU!”

Bayangan yang menyerupai Sora itu hanya meraung kesakitan sedangkan Sora hanya bisa tersenyum pahit ketika pedang itu tertancap di area jantungnya itu sambil darah mulai keluar dari arah mulutnya lalu tak lama dari itu mulai menyemburkan darah segar dari dalamnya tanpa henti.

Dan kedua sosok itu, Sora dan bayangan yang menyerupai dirinya mati tergeletak di atas tanah yang sudah rusak itu. Jantung Sora itu kini hancur menjadi fragmen yang bercahaya dan menjadi pecahan serta kebenaran akan dirinya yang sebetulnya dan tujuannya untuk tetap hidup itu akan seperti apa nantinya.

Di luar alam bawah sadar Sora:

Nafas Sora mulai tercekat dan terlihat merasa kesakitan yang sangat hebat hingga badannya terangkat oleh gerakan yang seperti mengerang kesakitan itu.

Kaelith yang sedari tadi berada di sampingnya itu terkejut dengan matanya terbelalak dan mulai menenangkannya dengan mempertahankan kondisinya yang sudah dibalut banyak dengan perban luka dari pedagang pengembara itu dengan tangannya berkata dengan panik ke arah pedagang itu.

\"Dia—\"

Namun pedagang itu mengangkat tangannya dengan cepat dan memotong pembicaraan Kaelith yang belum selesai itu.

\"Belum waktunya, dia... hampir melakukannya dan memerlukan waktu baginya untuk menyelesaikan urusannya dengan batinnya sendiri itu.\"

Vael menyipitkan matanya ketika mendengar pernyataan pedagang itu sekali lagi.

\"Apa yang kau ketahui tentang yang dialaminya?\"

Pedagang itu menoleh ke arah Vael, mulai bersandar ke reruntuhan batu di belakangnya itu dan memainkan cincin perak di sarung tangannya.

\"Jiwanya itu mulai melepaskan rantainya atau menghancurkan rantainya.\"

Kaelith yang tak mengetahui hal itu mulai mempertanyakan apa yang seharusnya ia ketahui, bertanya dengan merendahkan suaranya.

\"Apakah dia akan bangun nantinya?\"

\"Mungkin saja, Tapi jangan terlalu berharap ia akan bangun atau tidak. Tergantung bagaimana hasilnya dan apa yang akan ia pilih dalam alam bawah sadarnya itu\" jawab pedagang itu.

Pedagang itu akhirnya berdiri dari tempat duduknya dan menatap mereka yang berharap bahwa Sora akan bangun dari alam bawah sadarnya dan hidup seperti apa yang mereka harapkan itu.

\"Saat dia nantinya bangun dan mungkin berhasil di alam bawah sadarnya itu, aku ingin menawarkan sesuatu kepada kalian semua yang mungkin sebuah keuntungan bagi kalian dan bagiku juga.\" Tambah Pedagang itu sambil meregangkan badannya yang terlalu lama duduk itu dengan menawarkan sesuatu yang menarik perhatian Kaelith dan Vael itu.

\"Tawaran?\" tanya Vael yang bingung dan heran akan penawaran dari pedagang itu.

Pedagang itu berbalik arah, jubahnya terseret di atas marmer yang pecah dan berkata kepada Vael.

“Ada sebuah negeri, sebuah kerajaan, dan sebuah tanah yang layak ditinggali yang bisa dikatakan sebagai sebuah rumah mungkin.”

Kaelith mengerutkan kening dan mulai mempertanyakan tawaran yang ditawarkan oleh pedagang itu.

“Kenapa kau menawari kami hal itu?”

Pedagang itu menoleh ke arah Kaelith yang sedang berada di samping Sora dan menenangkannya itu berkata lagi dengan pelan

“Karena tempat yang kalian tuju nantinya… lebih tua dari kerajaan Borreal dan bahkan lebih tua dari kehancuran yang kalian rasakan saat ini.”

Setelah perkataannya itu, pedagang itu mulai memandang ke arah cakrawala yang pucat akan malam hari dan beberapa bintang yang membentuk sebuah rasio mungkin.

“Sebuah kerajaan yang masih berdiri melawan kegelapan dan menolak kehancuran dari dunia ini yang ditawarkannya, bukan karena kekuasaannya yang bisa bertahan dari hal itu namun karena keyakinannya yang dimilikinya untuk menolak hancur dan punah dalam kondisi dunia seperti ini.”

“Kau ingin kami ikut denganmu?” Tanya Kaelith dengan masih bingung dan tak mengerti maksud yang diucapkan pedagang itu kepadanya.

“Kalian sudah menjadi bagian dari apa yang akan datang, bukan? Terutama anak itu yang sedang berusaha mati-matian untuk hidup demi kalian mungkin.”

Jawab pedagang itu sambil menunjuk ke arah Sora yang masih terbaring dan menggeliat kesakitan itu untuk menjelaskan kepada mereka dengan sederhana atas tawarannya terhadap mereka sebuah hal yang mustahil di tengah-tengah kehancuran dunia ini.

Pedagang itu menoleh ke arah Sora dengan senyum aneh yang melengkung di ujung bibirnya yang terlihat tidak kejam tetapi melankolis.

“Dia membawa lebih dari sekadar rasa sakit dan penderitaan. Dia membawa makna dan sebuah beban yang harusnya tak dipikulnya sendirian dan kegelapan dalam dirinya haus akan makna lebih dari apapun untuk merengut dirinya saat ini.”

Di dalam alam bawah sadar Sora,

Sora yang mendapati dirinya tergeletak di satu tempat itu dan terbangun dalam keadaan nafas yang tak beraturan itu yang tergeletak di atas lantai dari menara kenangan.

Sora langsung bangkit dan melihat dirinya itu tak dipenuhi oleh luka ataupun pedang yang masih menancap di dadanya sebelumnya, semua tampak tak terjadi apapun melainkan kembali di tempat awal yang sangat hening itu. Sora berdiri dan melihat di hadapannya saat ini terdapat sebuah cermin besar yang memanjang dari atas hingga ke bawah lantai itu dengan adanya pantulan dari sosoknya saat ini yang cermin itu memberikannya sebuah kenyataan bagi tujuannya akan menunjukkan keberadaannya saat ini, baik itu di alam bawah sadarnya maupun di dunianya yang sudah rusak itu.

Cermin itu yang tadinya hanya memperlihatkan pantulan diri Sora, kini memperlihatkan memori yang terekam oleh Sora di masa lalunya itu yang bermula dari desanya yang memandangnya sebagai Mireborn, penolakan dari semua orang yang melihat dirinya, rasa sakit ketika satu-satu orang yang peduli terhadapnya mati di depan matanya, dan menyaksikan seluruh kejadian pembantaiannya.

Namun, dari semua masa lalu yang pedih itu masih terdapat kehangatan dari tangan Kaelith ketika Kaelith merawat luka-lukanya saat ia pingsan, kata-kata Vael yang menyesali atas perbuatannya dan mengharapkan bantuan darinya untuk menebuskan dosa yang telah ia perbuat, hadiah dari makhluk pertama yang diberikan kepadanya dengan pedang tanpa nama itu untuk mengetahui kebenaran yang terselubung dan disembunyikan banyak orang atau makhluk lainnya, dan beban sunyi yang telah ditanggungnya sejak hari ia mulai ditinggalkan untuk menanggungnya sebagai tugasnya untuk memperlihatkan seperti apakah dunia ini perlu ditanggung olehnya.

Sora yang melihat itu tidak memecahkan cermin itu sebagai bentuk emosinya dari apa yang ia lihat dari gambaran sesaat dari gema masa lalunya itu melainkan ia menyentuh kaca dari cermin itu dan ketika ia menyentuhnya, dunia di sekitarnya itu terasa sangat ringan dan cahaya yang sangat menyilaukan matanya bersinar terang di hadapannya dengan terang—

Kembali ke tempat peristirahatan mereka:

Sora yang terbangun dengan tiba-tiba itu menarik nafasnya dalam-dalam seperti seseorang yang telah melalui banyak hal dari mimpi buruk yang tak berujung itu.

Matanya terbelalak seakan-akan tak mempercayai apa yang ia lihat dari dalam mimpinya itu. Di tempat itu tampak jelas yang terdengar suara Kaelith yang memanggil-manggil namanya yang membuat telinganya berdengung cukup lama, pedagang yang di sekitar area sana hanya mengangkat alis sebelahnya ketika melihat Sora yang sudah sadar dan langsung duduk itu, dan Vael bernafas lega ketika melihat Sora sudah sadar dan mengangguk pelan tanpa suara keluar dari mulutnya selain helaan nafasnya.

Sora mengembuskan nafasnya yang tidak teratur itu terasa sangat pedih apa yang ia rasakan saat ini di seluruh badannya.

Namun kondisinya kali ini tidak membuat dirinya sendirian lagi. Kaelith yang melihat reaksi Sora seperti, meraih tangannya dengan menggenggamnya sembari berkata.

“Kau adalah orang terbodoh yang pernah kutemui dalam seumur hidupku. Akhirnya kau kembali, bodoh.”

Ujar Kaelith dengan suaranya yang sudah terdengar isak tangisannya yang tak terbendung itu karena orang yang menyelamatkannya itu hidup kembali walau penuh dengan bekas luka yang sangat hebat dan banyak yang ia terima serta hampir seluruh badannya dipenuhi oleh perban berwarna putih dengan bercak-bercak darah yang mengering di sekitar perbannya itu.

Sora yang melihat reaksinya itu begitu terkejut dan tak tahu bagaimana ia harus menanggapi kondisinya saat ini melainkan ia hanya mengangguk sekali dengan keringat yang terbilang sangat banyak di sekujur tubuhnya dan Sora sedari tadi hanya memerhatikan dirinya yang dipenuhi oleh banyaknya perban yang melilit di sekujur tubuhnya bahkan di kepalanya itu.

Pedagang itu yang melihat reaksi Kaelith dan Sora yang hanya bisa terdiam hanya bisa tersenyum dan berkata sambil berjalan mendekat ke arah Sora yang masih duduk di sana.

“Kalau begitu, haruskah kita berbicara tentang kerajaan yang kutawarkan kepada kalian yang bangun sebelumnya? Tentang apa yang ada di balik kerajaan itu dan keuntungan yang kalian dapatkan nantinya mungkin?”

Sora yang tengah duduk dengan perlahan dan keringat di perbannya bercampur dengan darah keringnya itu untuk mendengarkan apa yang mereka diskusikan sebelumnya selama ia tak sadarkan diri itu.

Perjalanan mereka belum berakhir namun itu baru saja dimulai setelah apa yang mereka lalui sebagai rintangan pertama mereka sebelum menghadapi yang kedua.

Cahaya bulan telah menipis menjadi keheningan keperakan dan masih menyinari gelapnya malam melalui celah-celah kubah di atas ruangan itu. Sora membenarkan posisi duduknya dengan tegak dan mengatur nafasnya dengan perlahan serta tatapannya mulai fokus pada apa yang akan mereka diskusikan dengan orang yang disebut sebagai pedagang pengembara itu.

Beberapa pendarahan namun tak banyak itu masih membasahi perbannya itu walau sebagian lukanya itu telah mengering dan sebagiannya masih basah dan luka-lukanya dibalut dengan salep aneh yang terasa di kulitnya saat ini sedikit rasa terbakar sebelum dibalut oleh perban.

Kaelith melepaskan tangannya dengan perlahan dari tangan Sora ketika situasi di tengah-tengah mereka itu serius dan mulai membahas akan destinasi mereka selanjutnya.

Pedagang itu berdiri di dekat Sora dan Kaelith dengan tangan terlipat di belakang punggungnya, menatap bara api yang hampir padam, seolah-olah api itu sendiri menyimpan peta yang tidak dapat dilihat orang lain dan berkata dengan ciri khasnya itu.

\"Akhirnya kau bangun juga, nak. Baguslah kalau begitu, kau datang sebelum acara utamanya dimulai.\" Ujarnya dengan suaranya yang tenang dan serius.

Ia menoleh ke arah mereka dengan kedipan cahaya api yang menangkap dengan matanya yang tajam yang lunak seperti batu yang terkikis oleh setetes air dan sebuah pilihan yang harus dipikirkan selama berabad-abad itu.

\"Sekarang, setelah kalian bernafas lagi aku harus memberitahu kalian mengapa aku masih bisa bertahan hingga saat ini di tengah-tengah kehancuran dunia ini.\"

Ia melangkah maju dengan jubahnya tertinggal di belakang seperti asap yang menempel di medan perang yang sudah menemui titik kehancurannya.

“Jauh dari tempat yang hancur ini… di balik padang tandus selatan, ada sebuah kerajaan yang masih berdiri hingga saat ini dan tempat itulah yang disebut Elarion.”

Suaranya merendah seperti keheningan pengkhotbah yang suci dengan mengarahkan umatnya yang tersesat itu.

Alis Kaelith sedikit berkerut tetapi dia tidak mengatakan apa pun melainkan mendengarkan ucapan pedagang itu dengan seksama dan apa yang sebetulnya yang pedagang itu inginkan dari mereka.

“Tempat itu tak tersentuh oleh makhluk-makhluk yang kalian hadapi tadi, tetapi tempat itu bertahan darinya dan menjaga orang-orangnya yang berada di dalamnya. Melawan hal-hal gelap yang mencakar dari bawah tanahnya, melawan keheningan yang merayap dari zaman yang terlupakan, dan orang-orang yang masih berharap serta masih membangun untuk mengingat kedamaian yang diinginkan. Mungkin tidak sesempurna yang kalian pikirkan namun dengan makna penuh di dalamnya, kalian akan mengetahuinya bila melihatnya dengan mata kalian sendiri.” Lanjutnya dengan melihat satu persatu dari mereka dengan mata yang lelah saat ini yang tengah mendengarkannya pembicaraannya tadi.

“Dan mereka yang tinggal di dalamnya saat ini tengah membutuhkan pedang yang telah merasakan kehancuran atau yang telah diuji oleh kehancuran itu sendiri. Dan aku, saat ini berdiri di depan kalian, menawarkan sebuah perjalanan ke Elarion untuk kalian yang telah diuji oleh kehancuran kalian miliki untuk melihat apa yang belum kalian lihat sebelumnya dan sudah lama tak kalian membayangkan apa itu sebuah ketenangan dan kedamaian di dunia yang sudah hancur ini. Untuk bertemu dengan raja dari kerajaan Elarion itu, aku telah melihat apakah apa yang kalian bawa mungkin lebih dari sekedar dari bekas luka saja?”

Dia membiarkan kata-katanya mengendap di benak mereka bertiga itu. Keheningan dalam yang sangat besar dari pertanyaannya itu membuat mereka bertanya-tanya akan hal yang diucapkan pedagang itu, ada benarnya juga.

Bahkan angin pun tampak berhenti berhembus ketika pertanyaannya masih mendengung dengan jelas di telinga mereka saat ini.

Kemudian pedagang itu menambahkan dengan seringai di wajahnya dan senyumnya itu:

“Tetapi, aku bukanlah pemimpinmu. Aku tidak memerintahkan kalian untuk menerima tawaranku atau mempertimbangkan keuntungan ini kepada kalian terutamanya, namun dia berhak atas memilih ke mana tujuan kalian selanjutnya, benar begitu?”

Pedagang itu mengalihkan pandangannya ke Sora dan menunjuknya sebagai pemimpin yang ia maksud untuk mereka saat ini. Kaelith yang mendengarkan hal itu, mulai berpikir dua kali akan yang dimaksud oleh pedagang itu dan secara tak sadar, Kaelith mengiyakan perkataannya tadi.

Bahkan Vael, sang ksatria yang berpegang teguh dengan sumpah setianya kepada kerajaan Borreal itu, berdiri dari tempat duduknya dan melangkah maju ke depan api unggun itu yang membuat semua orang di sana kini memerhatikannya dengan jelas.

“Di sinilah jalan kita mungkin terpisah, karena aku… tidak bisa pergi bersama kalian.” kata Vael dengan lembut dan suaranya seperti batu retak.

Sora yang duduk itu dan mulai mendongakkan kepalanya dengan perlahan ke arahnya untuk memerhatikannya dengan seksama.

Borreal adalah kuburanku, tempat tinggalku, dan penebusan dosaku atas kehancurannya. Sumpahku mengikatku di sini sampai hancur hingga menjadi debu yang dihembuskan angin nantinya.”

Vael melanjutkan perkataannya dengan nada yang lirih itu yang membuat Kaelith membuka mulutnya seolah ingin memprotes, tetapi kesatria itu dengan cepat mengangkat tangannya untuk menghentikan apa yang hendak Kaelith katakan kepadanya.

“Aku tahu apa yang ingin kau katakan. Kita berdua tahu hal ini dan aku adalah hantu sejak awal untuk kalian yang hanya memanfaatkan kalian untuk melakukan penebusan dosaku.”

Kemudian Vael melangkah ke arah Sora dan berlutut untuk menatap mata Sora sembari berkata.

“Namun, jika kau memanggilku dan meminta... aku akan tetap mengikutimu untuk meninggalkan sumpahku yang telah kulanggar dan kerajaanku yang telah mati karena kehancurannya ini.”

Katanya dengan suara yang rendah dan siap melepaskan kehormatannya sebagai ksatria Borreal yang melepas sumpahnya itu membuat keheningan di antara mereka dalam ruangan itu.

Mata Vael bertemu dengan mata Sora yang terlihat kelelahan dan sebuah percikan api itu meletus sekali dalam keheningan tatapan mata mereka berdua. Sora yang melihat Vael serta mendengar apa yang dikatakan Vael tadi membuat tangannya terangkat perlahan dan dengan hati-hati, Sora mengulurkan tangannya ke depan untuk mencengkeram lengan bawah Vael yang bukan sebagai perintah... tetapi sebagai sesuatu yang lebih kuat dari ikatan yang sudah terjalin dengannya dan yang lainnya.

Permohonan diam-diam dari Sora untuk Vael yang telah kehilangan segalanya dan hanya sumpahnya yang sudah penuh noda itu masih dijaga walaupun sekotor apapun itu atau tercela sekalipun. Sebuah ikatan terjalin dari tatapan mata ksatria itu sedikit melebar dan kemudian Vael tersenyum yang memahami maksud Sora kepadanya itu.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Vael yang diterima dengan tulus dan pengertian dari kesalahan yang telah


Other Stories
Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

Pintu Dunia Lain

Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...

Dari Luka Menjadi Cahaya

Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...

Tes

tes ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Download Titik & Koma