The Unkindled Of The Broken Soil

Reads
462
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
the unkindled of the broken soil
The Unkindled Of The Broken Soil
Penulis SaltSea

Bab Sembilan: Cahaya Yang Telah Lama Hilang

Lentera-lentera di luar lembah berkedip-kedip di balik tabir gelap malamnya yang terasa masih lembut karena angin yang berhembus dari arah utara menuju selatan itu dengan membawa rasa dingin yang dari arah Borreal itu.

Di dalam tempat berteduh hanya tumpukan antara kayu dan batu yang sempit tempat mereka beristirahat, keheningan menguasai bukan karena ketidaknyamanan tetapi karena rasa hormat yang berubah dari ketegangan sebelumnya.

Sora yang duduk tegak dengan napasnya yang teratur itu dan dadanya merasakan hal aneh ketika seseorang mulai menyebutkan nama itu kembali yang masih membekas dalam memori dan ingatannya itu walau hanya singkat di masa lalunya namun hal itu sangat berarti baginya. Jari-jarinya sedikit gemetar saat dia menempelkannya di dekat lututnya dan semua orang tetap diam untuk mendengarkan kisah Sered itu yang mengenai Eyla Varn ibu angkat dari Sora.

Api unggun itu hampir meredup dan kayu bakarnya sudah sepenuhnya terbentuk oleh arang dan abu saja yang membentuk keemasan di dinding seperti gema waktu yang hilang dengan perlahannya.

“Kau… mengenalnya?” Tanya Kaelith dengan suara pelan dan suaranya nyaris tak terdengar ketika bertanya kepada Sered.

Sered mengangguk iya dengan pelan sebagai penanda ia mengetahui sosok Eyla Itu dan berkata. “Eyla Varn, dulu dia adalah penjaga dan salah satu dari guru di Azure College sebelum dia meninggalkan sekolah itu. Namun lebih dari itu, dia adalah jantungnya jika Namien Otaknya. Dia merawat siswa dan siswi termuda yang ada di sana dengan penuh kasih sayang yang diabaikan oleh kecemerlangan dan ambisi yang dia punya.”

Mata Sered mulai beralih ke Sora dan berkata. “Dia orang pertama yang menemukanmu, bukan?”

Tangan Sora mengepal lebih erat dan kepalanya hanya bisa menunduk ke bawah setelah mendengar hal itu dari Sered dan mulai mengangguk sebagai jawabannya.

Kaelith yang melihat di antara mereka berdua itu hanya bisa memerhatikan setiap katanya dan mendengarkan siapa sosok Eyla itu yang menurut Sora sangat penting baginya dan melihat reaksi Sora seperti itu hanya membuat Kaelith semakin penasaran siapa Eyla ini sebetulnya, begitu pula Vael dan sedangkan Namien, dia hanya tetap diam dan hal ini bukan saatnya untuk menyela pembicaraan mereka itu.

“Kami sangat dekat saat itu, bukan sebagai sepasang kekasih. Tidak ada niatan bagiku untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya tapi di sisi lain, aku mencintainya dengan cara yang tidak sering dipahami dunia ini yang membuatku kebingungan untuk memilihnya. Dia adalah... harapan yang bukan seperti harapan yang kau dambakan melainkan sebuah harapan yang melekat lebih dekat kepadamu dan tidak peduli seberapa jauh dirimu itu bahkan kau jatuh di dalam jurang yang terdalam sekalipun.” Sered melanjutkan, sekarang lebih lembut. Sered berhenti sejenak untuk mengingat-ingat momen tersebut sebelum melanjutkan ceritanya lagi.

“Eyla mengatakan kepadaku bahwa dia telah mengadopsi seorang anak laki-laki yang tidak dapat berbicara di desa ia tinggali itu, bahwa ada sesuatu yang aneh dalam kesunyianmu. Sesuatu yang tidak rusak tetapi terikat dengan erat oleh suatu hal dan dia percaya kau hadir ke dunia ini karena suatu alasan tertentu. Dia tidak pernah mengatakannya secara langsung tetapi... dia tahu seseorang akan datang untukmu, suatu hari nanti.”

Mendengar perkataan Sered mengenai Eyla itu, tubuh Sora mulai berguncang peralahan dan air matanya mulai mengumpul di area pelipis matanya hingga turun dengan perlahan ke pipi Sora.

Mulutnya mencoba untuk tidak bergerak tetapi Sora menginginkan suara yang keluar dari mulutnya untuk mengucapkan sesuatu untuk menanggapi hal itu.

Hanya napasnya yang terdengar bergetar seperti angin yang keluar dari jendela lalu pecah karena tekanannya yang kuat itu dan air mata yang sudah tak terbendung mulai mengalir perlahan dari matanya. Air mata itu mengalir tanpa diundang yang terasa hangat dan hampa dengan satu persatu mengalir di pipi hingga ke rahangnya.

“Dia tidak memberitahuku seberapa buruk keadaannya di desa Mireholt yang pernah ia ceritakan dalam suratnya, tidak ketika Azure College mulai runtuh namun dia tetap tinggal di desa itu untuk melindungi mereka yang tidak bisa lari dari bencana yang akan datang ke sana nantinya. Dan dari keseluruhan hal itu, aku mendapatkan kabar melalui percakapan seorang pengembara yang melewati desa tersebut bilang desa itu sudah hancur luluh lantak dan semua penghuninya telah dibakar tanpa kepala di aula desa itu ketika tentara bayaran datang untuk membersihkan desanya yang tidak terbakar oleh mantra Namien.” Kata Sered dengan tak bisa menahan isak tangisannya ketika berbicara tentang bagaimana ia mendapatkan kabar mengenai Eyla Varn yang sudah tidak bernyawa itu.

Namien tersentak ketika mendengar hal itu tetapi Sered tidak peduli lagi terhadapnya dan tidak menoleh ke arahnya sekalipun yang hanya terdiam ketika telah menyelesaikan perkataannya tadi. Sered melihat ke arah Sora yang mencoba untuk mengusap air matanya itu namun tak bisa dihentikan derasnya air matanya yang terus keluar akan tersebutnya nama Eyla di telinganya hingga apa yang diceritakan oleh Sered tadi yang ia rindukan akan sosoknya itu.

“Tetapi aku tahu dia tetap tinggal di desa itu… karena dirimu itu.” Kaelith melihat Sora serasa ingin menenangkannya dengan mengulurkan tangannya perlahan ke arah Sora tetapi ia ragu-ragu dan tidak ingin mengganggu momennya itu untuk menghibur dirinya yang dia rasakan saat ini.

“Dia sempat menyuruhmu untuk pergi sebelum penyerbuan, bukan?” Tanya Sered yang kembali bertanya kepada Sora dan Sora membalasnya dengan anggukan serta yang mencoba untuk tetap tenang dan mengatur emosinya itu saat ini.

Yang lainnya merasakan untuk pertama kalinya apa yang Sora rasakan itu di masa lalunya yang diungkapkan oleh sisa-sisa tentara bayaran Black Maw itu dan cerita dari Sered yang mengenal Eyla langsung itu, rasa sakit di balik anggukan kecil Sora sangatlah terasa akan seorang anak bisu yang yatim piatu melewati sepak terjang kondisinya yang terbilang sangatlah brutal untuk dijalani setiap anak di dunia itu.

Seperti, teriakan yang tak seorang pun bisa menyuarakannya akan rasa penderitaan yang dipendam selama bertahun-tahun lamanya.

\"Dia meninggal saat memastikan kau hidup untuk memastikan kehidupanmu ke depannya lebih baik dari yang sekarang ini dan kupikir... jika kau bisa berbicara, dia akan memberitahumu untuk tidak mengutuk dunia seisinya tetapi untuk mengingatkannya seperti apa bentuk cahaya di dalam kegelapan yang pekat di dalamnya itu.\" Kata Sered itu. Sora mendongakkan kepalanya yang sempat tertunduk tadi yang bukan karena amarahnya tetapi dengan rasa sakit dari memori masa lalunya itu.

Kesedihan yang telah terkubur begitu dalam di bawah pertempuran abu, darah, dan api membuatnya kembali mengingat hal yang paling penting dari keseluruhan yang telah ia lewati sebelumnya, yaitu kenangan tentang dirinya di masa lalu itu yang penuh penderitaannya.

Kaelith memberanikan dirinya untuk mencoba menghiburnya dengan menggosokkan punggungnya dengan lembut untuk menenangkan Sora dan kali ini ia lakukan tanpa ragu-ragu dengan tangannya yang bersandar kokoh di belakang punggungnya itu yang mempunyai bekas luka fisik dan batinnya.

Namien menundukkan kepalanya ke bawah dengan matanya yang mulai berlinang air mata dan untuk sekali ini, ia tidak mengatakan apapun bahkan tidak untuk membela dirinya yang penuh dengan penyesalannya di masa lalunya.

Sedangkan Vael, ia berdiri di dekat pintu dengan memperhatikan langit yang mulai berganti dengan warna keemasan di sana mulai terlihat sinar mentari yang menjulang di balik bebatuan bukit.

Dia juga telah merasakan apa artinya kehilangan sesuatu.

Tapi ini? Ini berbeda dari yang pernah ia dengar dan merasakan penderitaannya dan hal ini adalah sebuah warisan yang tak pernah padam dan goyah sekalipun serta terasa sangat sakit yang tak mengeluarkan darah namun begitu kejam untuk dialami oleh seseorang yang masih hidup di bawah naungannya. Sora menyeka wajahnya yang sudah membasahi pipinya dengan tangan yang masih gemetar.

Kaelith mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Sora dan berbisik dengan pelan di dekatnya, \"Kau tidak seharusnya menanggung semuanya itu sekaligus terutama kematiannya dengan sendirian lagi.\"

Sora yang mendengar bisikan Kaelith, hanya mengangguk pelan saja dan melalui jendela dan matahari mulai terbit yang memancarkan garis-garis emas panjang melalui awan seperti hadiah terakhir dari jiwa yang lama telah pergi dengan jiwa yang baru.

Mereka semua berdiri bersama kecuali Sered yang masih duduk di tempatnya itu dan terdiam sejenak hingga Namien memecah keheningan dengan suara lembut: “Kita harus bergerak, sekarang juga. Jalan menuju Lembah Lentera akan semakin gelap setelah fajar dan lentera hanya bersinar bagi mereka yang bersedia berjalan di bawah bayangan mereka di setiap perjalanannya.”

Sora menatap Sered sekali lagi dan tidak ada kebencian dari ceritanya yang Sora dengar di sana. Tidak ada rasa bersalah hanya sebuah gema cinta yang tak pernah diungkapkan dan hilang. Mereka meninggalkan pondok itu satu persatu dan meninggalkan Sered yang masih di pondok itu masih duduk di tempatnya itu.

Namun kenangan akan Eyla Varn, seorang wanita yang memberi Sora kehidupan bukan hanya perlindungan melainkan sebuah tujuan yang nantinya berjalan bersama dengan mereka semua dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang panjang itu dan tanpa kata-kata... keheningan anak yang dilahirkan dalam keadaan bisu itu berbicara lebih keras daripada apa pun di dunia ini. Jalan setapak di depan mereka terbentang dengan cahaya mentari pagi di bawah sepatu mereka yang sempit dan dipenuhi dengan lumut, diselimuti cahaya yang mulai redup dari lentera masih tergantung di tiang tinggi yang sudah bengkok di sekitar pemukiman yang terlupakan.

Kabut yang terlihat seperti bergulung di sepanjang lantai hutan seolah-olah bernapas bersama tanah itu sendiri, meredam langkah mereka hingga kesunyian yang ada. Namun pikiran Kaelith sama sekali tidak tenang ketika ia mengetahui gambaran walau hanya sedikit tentang Sora itu yang terus menghantui di benaknya, Ia berjalan di samping Sora bukan karena suatu kewajiban tapi karena ada sesuatu yang di dalam dirinya telah berubah.

Kaelith mencoba untuk melirik ke arahnya dari waktu ke waktu dan langkahnya yang berjalan perlahan seperti biasanya terasa seperti terbebani oleh bebannya juga yang dirasakannya tadi. Bahunya membungkuk dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya dan meskipun Sora tidak membawa pedang di genggaman tangannya sekarang, pertempuran yang dihadapinya sebelumnya itu ada di dalam dirinya yang telah meninggalkan bekas luka permanen yang lebih dalam dari yang pernah bisa ditimbulkan oleh bilah pedang manapun.

Kurasa ia tidak bisa menangis bahkan kupikir dia tidak bisa merasakan hal-hal seperti itu. Namun, dia adalah manusia biasa seperti kita pada umumnya yang dibedakan dari pengalaman pahitnya saja dalam masa lalunya itu.’ Gumaman dalam pikiran Kaelith di dalam benaknya itu.

Kaelith telah melihat Sora berdarah, melihatnya bertarung walau nyawanya yang menjadi taruhannya, dan melihatnya jatuh dan bangkit lagi bahkan tanpa kata-kata tetapi tidak pernah kosong di dalam tindakannya itu.

Tapi, hal ini adalah luka yang tidak dibuat oleh cakar atau baja melainkan hal itu dibuat oleh ingatan. Kaelith membiarkan jari jemarinya menyentuh tepi busurnya yang diberikan kepadanya oleh sosok yang tak diketahui telah menjaga ruangan itu di Borreal yang hancur. Senjatanya adalah jalannya untuk melindungi sosok yang lebih rapuh daripada dirinya itu.

Dan Sora? Dia adalah tujuannya sekarang ini untuk memberikan perlindungan semampu apa dirinya bisa dilakukan untuknya. Di lain sisi, Sora hanya menatap lurus ke jalan yang ada di depannya dengan wajahnya yang tanpa ekspresi lagi tetapi Kaelith memerhatikannya itu.

Ketika mereka meninggalkan Lembah Lentera itu dan terus berjalan menuju Bonewilds yang menjadi tujuan mereka saat ini. Kaelith kembali bergumam dalam pikirannya ketika melihat ekspresi Sora yang tak menunjukkan apapun dalam raut wajahnya selain memandang jalan di depannya itu

Dia membawa sesuatu di dalam wajahnya seperti sosok hantu yang menempel pada jiwa yang masih hidup untuk menghantuinya dan dia tidak akan pernah berbicara atau mendengar suaranya yang keluar dari mulutnya itu lagi, bahkan dalam mimpinya sekalipun. Dia... mungkin tidak akan pernah bisa melakukannya.

Pikirnya dengan kesadaran yang menghancurkan sesuatu dalam dirinya bukan rasa iba dan bukan juga perasaan bersimpati kepadanya tetapi sebuah resonansi lebih tepatnya.

Mereka yang tengah berjalan melewati pepohonan dan bebatuan itu membuat Kaelith akhirnya berkata dengan lembut di sisi Sora itu setelah memikirkannya cukup lama,

\"Hei, kau tidak perlu menyembunyikan itu lagi dariku dan jangan selalu pernah berpikir bahwa akulah satu-satunya yang menderita di dunia ini. Tapi... di lain sisi jangan menanggungnya sendirian lagi seperti yang kukatakan sebelumnya ketika kau harus menghadapinya. Meminta pertolongan kepada orang lain tidak membuat dirimu lemah melainkan kau juga sama rapuhnya seperti orang lain di sekitarmu ini untuk meminta pertolongan untuk keluar dari penderitaan akan kerapuhanmu itu juga.\"

Sora yang mendengar perkataan Kaelith yang tiba-tiba seperti itu membuatnya langsung menoleh ke arahnya dengan alis terangkat yang terkejut dan matanya sedikit melebar yang bukan rasa takutnya hanya saja hal itu membuatnya cukup terkejut mendengar hal itu keluar dari mulut Kaelith yang ia ketahui itu.

Kaelith hanya bisa tersenyum ketika melihat ekspresi terkejut Sora kepadanya itu.

\"Aku tahu kita tidak bisa berbicara dengan cara yang sama dan benar, tetapi kesedihan juga memiliki bahasanya sendiri dan aku mungkin mendengar bahasamu dengan cara yang berbeda untuk mengertinya tapi dengan maksud yang sama seperti yang kau rasakan itu. Jadi, jangan kau sampai memiliki pikiran itu lagi mengenai apa yang membuatmu begitu terasa menyedihkan.\" Lanjutnya dengan sambil memandang tatapan Sora yang membuat Sora terkejut untuk kedua kalinya senyum dari seseorang yang memiliki raut wajah yang sama dengan Eyla baginya dan sisi kelembutannya juga dari seorang Kaelith itu.

Sora mengangguk sekali bukan untuk berterima kasih kepadanya dan bukan untuk mengabaikannya hanya untuk memberi tahu dia bahwa dirinya mengerti apa yang dimaksud Kaelith tadi. Mungkin dengan cara tertentu yang Sora tak mengerti itu, Kaelith akan berusaha untuk selalu mengerti apa yang membuatnya begitu terbebani. Untuk beberapa saat, mereka berjalan dalam keheningan lagi namun kali ini tidak sendirian lagi.

Saat kabut semakin tebal dan area Bonewilds yang tak menunjukkan bahaya atau ancaman di daerahnya itu, mereka kini telah mencapai ujung punggung bukit yang cekung dan tempat pepohonan mulai terbelah dan memberi jalan bagi mereka di depannya hanya sebuah Sungai yang mengalir dengan aliran yang tenang.

Di hadapan mereka saat ini telah mencapai sebuah tempat yang hampir tak tersentuh banyak orang yang terbentangnya Sungai Kabut berkelok-kelok dan lebar serta bersinar samar dari cahaya matahari siang di bawah aliran sungainya itu seolah-olah mengandung cahaya bintang yang terperangkap lama.

Pijakan-pijakan batu tua dan setengahnya dipenuhi oleh lumut itu, melintasi ruas-ruas yang sempit mengarah ke lentera-lentera yang muncul dari suatu tempat yang terlepas dan melayang dalam keheningan seperti ubur-ubur yang pucat.

Namien melangkah maju ke depan dengan menarik jubahnya erat-erat saat air lembap mulai membasahi sepatunya.

\"Itu dia, tempat yang kita cari-cari dan kita sampai di Sungai Kabut dan di balik gua itu terdapat jalan pintas menuju Elarion.\" Katanya dengan penuh semangat setelah melalui banyaknya jalan yang membuatnya hampir terasa putus asa karena kerasnya dunia ini untuk tempat yang seperti ini baginya.

Vael menyipitkan matanya di antara kabut dan memerhatikan gua yang dimaksud Namien itu. \"Tempat ini terasa dijaga oleh sesuatu tapi aku tidak merasakan seseorang di sekitar sini yang saat ini berjaga di tempat ini namun hal itu tidak berarti tidak ada yang mengawasi, bukan?\" Tanyanya.

Namien mengangguk dan menjawab pertanyaan Vael itu dengan seringai di wajahnya. \"Aku tidak tahu apakah matamu Vael yang terasa jeli atau instingmu yang tajam itu membuatku terpukau. Tapi kau benar akan hal itu, roh-roh tua yang telah menjaga tempat ini lebih dari 50 tahun yang lalu. Lebih tepatnya, mereka disebut Penjaga lentera menurut sebagian orang yang melewatinya dan sebagian lainnya mengatakan mereka hanya adalah gema peringatan.\"

Sora melangkah maju melalui pijakan-pijakan batu tua itu untuk menuju gua yang ditunjuk Namien dan begitu pula mereka mengikutinya dari arah belakangnya. Matanya yang terus-menerus memerhatikan apa yang ada di lama gua itu karena sesuatu yang ia rasakan sangat aneh kita merasakan sesuatu yang kuat dari dalam gua itu yang seolah-olah menarik perhatiannya dengan sesuatu yang lain yaitu ketetapan hati.

Kaelith mengikutinya tepat di belakangnya dengan beban pikiran sebelumnya yang masih berdengung di benaknya dengan sumpahnya yang tak diucapkan namun diingat dalam pikirannya yang tenang.

Dunia ini telah membuatmu membawa kesunyian yang tak bisa kau meneriakkannya atau mengatakannya secara langsung, tapi aku akan memastikan dunia ini untuk mendengarkan apapun yang kau lakukan terhadapnya bahkan di saat kau tak bisa berteriak atau berteriak sekalipun kepadanya itu.’ Pikirnya.

Mereka melangkah ke pijakan-pijakan batu tua yang dipenuhi lumut itu dan lentera-lentera terbang keluar dari arah gua dengan hembusan angin di dalamnya yang seolah-olah menyambut kedatangan mereka itu.

Kabut di dalam gua itu semakin menebal hingga membuat udara di dalamnya semakin dingin dan sungai yang mengalir dari dalam gua itu mulai berbisik kepada mereka yang terdengar bukan seperti kata-kata tapi dengan setiap kenangan dan memori orang yang melewatinya.

Mulai dari nama-nama yang hilang dan kebenaran yang mulai memudar dari dunia ini seiring waktu oleh mereka yang menyembunyikannya.

Di balik kabut itu dan di balik tabir terakhir dari hal-hal yang terlupakan, Elarion telah menunggu kedatangan mereka tak langsung yang melalui Sungai kabut itu bukan hanya sekadar aliran air sungai yang dipenuhi oleh kabut saja, itu adalah kenangan yang berubah menjadi cairan dan jiwa orang-orang yang berubah menjadi kabut dalam keheningan yang berubah menjadi suara berbisik itu sendiri.

Saat keempatnya melangkah dengan hati-hati ke jalan yang dipenuhi bebatuan itu menuju tempat yang lebih dalam di dalam gua itu, udara terasa lebih berat dan lentera-lentera di atas mereka tidak terlihat lagi bukan karena angin yang menghembuskannya keluar melainkan karena kehadiran sesuatu yang sangat tua mengawasi dan mendengarkan setiap kenangan mereka itu.

Lalu kabut semakin menebal di sekitar mereka masing-masing hingga memisahkan mereka dengan tabir-tabir aneh yang seperti dipisahkan oleh kabut itu sendiri. Kabut itu tidak terbelah seperti sebuah dinding bagi mereka yang melingkar ke dalamnya membungkus mereka dalam bola-bola cahaya keperakan seperti ditelan oleh pikiran mereka sendiri itu.

Mereka telah melangkah ke dalam kabut dari Sungai Kabut tersebut untuk melewati ujiannya. Pertama, Namien berdiri di dalam kabut itu dengan bibir mengerucut dan matanya yang sayu. Lalu, sebuah gema dari kabut itu yang tidak diucapkan dengan keras tetapi terasa langsung di dalam hatinya bergema seperti bisikan yang lembut:

\"Namien, kau telah memakai banyak wajah selama perjalanan yang kau lalui dari waktu ke waktu. Yang mana wajah aslimu itu?\"

Kabut di sekelilingnya membentuk dirinya menjadi cermin dan memperlihatkan dirinya di berbagai titik dalam kehidupannya yang memiliki gambaran seperti:

Seorang sarjana muda sihir yang terbakar oleh api dalam jubah penyihirnya yang berwarna emas, Seorang pembelot yang getir dari apa yang dilakukan di masa lalunya dengan tangan yang berlumuran darah, Seorang pedagang yang mencoba untuk hidup tenang dari semua kesalahannya di masa lalunya dengan tertawa saat ia menipu seorang penjaga agar tidak membayar pajak, dan satu lagi, dan seorang anak laki-laki yang baru berusia sepuluh tahun dengan buku-buku yang telah ia baca itu terbakar di belakangnya dan air mata yang mulai mengalir di wajahnya.

Nafas Namien tercekat di tenggorokannya untuk menjawab pertanyaan itu dan membuatnya terus terngiang-ngiang pertanyaan itu dalam benaknya.

Namien harus memilih, siapakah dirinya itu? Lalu, Namien mengatupkan rahangnya dan mulai menjawabnya. \"Akulah dari perwujudan mereka semua itu, tetapi jika aku harus memilih... akulah orang yang masih menyesal telah membakar perpustakaan itu.\"

Katanya dengan suaranya yang serak. Kabut itu terasa berdenyut dan secercah cahaya keperakan yang mulai menghangatkan dadanya itu, membuat ujiannya telah menerima kebenaran akan dirinya itu. Lalu, Namien melangkah ke depan setelah jalan dari kabut itu mulai menipis dan membukakan jalan baginya.

Yang kedua, Mantan kesatria itu berdiri teguh dengan lengan disilangkan di dadanya telah menghadapi ujian daging dan pedangnya itu. Vael merasakan hal ini adalah sesuatu yang lain baginya.

Bisikan kabut itu yang dibumbui dengan penilaian mulai memenuhi udara dengan bisikan pertanyaannya:

\"Vael Ksatria dari kerajaan utara, kau pernah bersumpah namun kau mengingkarinya. Katakan kepada kami, mengapa kau mengingkari sumpahmu itu?\"

Vael mulai menggertakkan giginya dan gambar takhta Borreal muncul di depannya dengan pedang yang sudah patah di tangannya dan mahkota yang ia tolak untuk dilindunginya melintas di hadapannya.

Dan tiga jawaban mulai dibentangkan dalam kabut dan cahaya yang kelap-kelip di depannya itu: Karena kerajaannya itu mulai mengkhianati rakyatnya sendiri, Karena dia terlalu lemah untuk berpegang pada sumpahnya pada kerajaannya itu, atau Karena dia memilih apa yang benar dan bukan apa yang diperintahkan kepadanya ketika mengingkari sumpahnya itu.

Vael yang dihadapkan oleh jawaban di depannya itu mulai berbicara dengan lirih dan yakin ia mengetahui hal apa yang membuatnya seperti itu: \"Karena aku memilih apa yang benar. Bahkan jika itu berarti aku hidup dengannya.\"

Kabut itu menerimanya meskipun tidak meninggalkan beban yang dipikulnya saat ini dan jalan di depannya terbuka dengan kabut yang mulai menipis itu hingga Vael melanjutkan jalannya di depannya.

Yang ketiga, Kaelith berdiri dengan diam dan tangannya mulai mengencang di sekitar busur baru yang diberikan kepadanya dan kabut di depannya saat ini berdengung lembut dengan lembut untuk membisikkan pertanyaan untuknya saat ini yang terlihat sangat waspada akan keadaannya itu.

Kemudian sebuah bisikan yang diselingi sesuatu yang aneh membisikkan ke arahnya yang Kaelith sendiri tak mengetahui apa yang dibisikkannya itu.

\"Kaelith dari Virandel, kau telah memburu monster dan membunuh penyihir raja mayat hidup. Tapi, sekarang... kau mulai merasakan hal yang meragukan dirimu sendiri. Katakan kepada kami, apa yang membuatmu ragu terhadap perasaanmu saat ini?\"

Tiga jawaban terbentang di kabut itu yang berada di depan Kaelith tengah membacanya itu membuat dirinya tercengang.

Kewajiban untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai olehnya itu, Takut kehilangan apa yang telah ditemukannya selama ini, dan Orang yang berjalan di sampingku saat ini.

Melihat jawaban yang seperti itu hanya ada satu jawaban yang membuat nafasnya tersendat dan bisikan kabut itu seakan-akan menanti jawaban yang akan dipilihnya itu yang pada akhirnya pipi Kaelith mulai terlihat memerah seketika dan dia langsung mengalihkan pandangannya karena telinganya juga terasa memanas akan wajah yang merah merona akan malu itu.

“Pertanyaan macam apa ini?!” Ujarnya dengan kebingungan dan terlihat dirinya sedang dipermainkan oleh bisikan kabut itu.

Namun tak ada selain keheningan yang menjawab pernyataannya itu yang membuatnya dia melawan detak jantungnya yang berdetak cepat di dadanya. Kaelith menatap kabut itu, lalu dengan nada pelan seperti sebuah rahasia ia menjawab pertanyaan itu:

“…Orang yang berjalan di sampingku.”

Kabut itu berkilauan dan kehangatan lembut bersemi di depannya yang membukakan jalannya untuk melanjutkan perjalanannya itu dengan wajah yang terlihat kemerahan.

Yang terakhir, seperti biasa dia menarik perhatian orang lain yang ingin mengenalnya lebih dalam. Sora berdiri dengan diam dalam keheningan di sekeliling kabut itu dan dia tidak bisa bicara karena kebisuannya sejak lahir itu.

Namun kabut itu mengenali suaranya di dalam dirinya hingga pertanyaan muncul seketika di hadapan Sora yang sedang diam di sana.

Si Pendiam, kau membawa banyak penderitaan di setiap langkahmu namun tapi tak satu pun di antaranya kau ucapkan. Mengapa kau memilih untuk membawa penderitaan di perjalananmu dibandingkan dengan kebencianmu itu sendiri?\"

Seketika tiga pilihan muncul bukan dalam kata-kata tetapi dalam cerminan hatinya yang terus terbebani oleh penderitaannya sendiri:

Karena cinta lebih kuat dan tak bisa dipatahkan oleh halangan apapun itu, Karena dendam itu adalah kehampaan yang tak memiliki ujungnya, dan Karena dia percaya pada sesuatu yang lebih baik walau hal itu akan membawanya ke penderitaan selanjutnya.

Sora yang melihat seluruh jawaban ini, ia tidak perlu berpikir atas pilihan yang telah diberikannya itu untuk memilih. Jiwanya telah menetapkan dan mengatakan jawaban yang ia inginkan dengan suara yang tak dapat didengar siapa pun kecuali kabut itu benar-benar mengerti apa yang dia ucapkan dalam hatinya:

Karena dia percaya pada sesuatu yang lebih baik walau hal itu akan membawanya ke penderitaan selanjutnya.

Kabut di sekelilingnya terasa berdenyut yang memiliki suara yang sama seperti detak jantung dan di dalam keheningan itu bukan rasa sakit melainkan kejelasan akan sesuatu yang dipilihnya. Kemudian, kabut itu membukakan jalan di depan Sora seperti tirai yang ditarik ke samping dan kabut itu perlahan menghilang di sekelilingnya.

Keempatnya bertemu di satu titik temu yang sama dan berdiri lagi di tepi jalan bebatuan dalam gua itu dan dalam pandangan satu sama yang lainnya terlihat berubah dan ditandai oleh kebenaran yang telah diucapkan mereka atau telah mengakui apa yang ada di dalam diri mereka yang disembunyikannya.

Kaelith menghindari kontak mata dengan Sora karena telinganya masih memerah, Namien hanya menundukkan kepalanya ke bawah yang lebih sadar akan dirinya saat ini dari biasanya, Vael berdiri tegak di sana tetapi entah kenapa hatinya lebih tenang dari sebelumnya yang terlihat gusar dan ragu itu, dan terakhir Sora melihat mereka masing-masing dan tidak bertanya mengenai hal sebelumnya yang mereka lalui itu hanya sebuah pengertian yang sama saja.

Kabut di belakang mereka menghilang dengan perlahan-lahan seperti telah menyelesaikan tugasnya itu dan jalan di depan gua itu sudah terlihat ujungnya yang memperlihatkan cahaya matahari yang mengubah warna langitnya menjadi oranye di luarnya yang memperlihatkan kemegahan bangunan kerajaan Elarion di kejauhan sana akhirnya berdiri kokoh di bawah sinar matahari senja yang tengah menanti kehadiran mereka.

Ketika yang lainnya melihat bahwa Elarion sudah di depan mata mereka, Namien hanya mencari tempat duduk di dalam gua yang beralas bebatuan itu dan berkata,

“Sebaiknya kita beristirahat terlebih dahulu saat ini. Aku tahu kalian mungkin bersemangat melihat hal itu namun apakah kalian tidak merasa lelah setelah berjalan di dalam kabut tadi? Aku tahu kalian adalah anak muda yang bisa diharapkan tapi aku? Aku mungkin terlihat muda hanya saja aku menyimpan jiwa yang sudah tua ini. Bagaimana menurut kalian?” Tanya Namien kepada mereka semua itu untuk beristirahat di tempatnya itu.

Kaelith yang mendengar hal itu mulai menanggapi pertanyaannya dengan wajahnya yang masih memerah itu. “Aku… aku setuju, tapi bisakah kau berhenti bicara seolah-olah kau akan runtuh menjadi debu? Suaramu saja sudah cukup membuatku lelah.” Gumamnya dengan menghindari tatapan Sora dan memilih untuk fokus pada busur di tangannya

“Namien ada benarnya, kita tidak akan berguna jika kita tiba di Elarion dalam keadaan setengah mati.” Vael menimpali dengan suara serak, menyandarkan tubuhnya yang lelah ke dinding gua. Sora menatap yang lain lalu memberikan anggukan singkat untuk istirahat saat ini.

“Lihat? Bahkan yang pendiam pun setuju, kalau begitu sudah diputuskan. Kita akan membuat api, memakan apa pun yang tersisa, dan berpura-pura kita tidak baru saja memuntahkan rahasia diri kita ke dalam kabut ajaib tadi.” Namien berkata dengan seringai yang sama sekali tidak terpengaruh oleh nada tajam Kaelith.

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, mereka mencari tempat yang terlindung di dalam gua. Sora seperti biasa, bergerak lebih dulu dan mulai mengumpulkan kayu bakar kering yang berserakan. Sementara Vael, mengambil posisi mengawasi di dekat pintu masuk gua.

Dan Kaelith, dengan wajah yang masih memerah dan dengan enggan membantu mencoba untuk tidak melakukan kontak mata dengan siapa pun akan wajahnya yang masih memerah itu.

Api berderak pelan di udara yang tenang, menjilat lembut kayu bakar yang terkumpul seolah berusaha tidak mengganggu keheningan rapuh yang telah menyelimuti mereka sejak mereka melewati ujian dari Sungai Kabut.

Elarion berdiri tepat di balik cakrawala, tujuan mereka begitu dekat sekarang sehingga siluet samarnya tampak terlukis di langit. tempat cahaya bintang menyentuh kabut dan atap-atap.

Awalnya mereka tidak berbicara dan masing-masing dari mereka terbungkus dalam pikiran mereka sendiri tentang apa yang telah mereka lihat sebelumnya serta apa yang telah mereka akui di ujiannya.

Sora duduk di dekat api unggun, matanya tetap tenang dan menjauh, jari-jarinya tanpa sadar menelusuri gagang pedangnya yang tak bernama itu dengan ekspresinya tidak terbaca meskipun Kaelith yang duduk tepat di sampingnya, mencoba untuk tidak mencuri pandang padanya namun pada akhirnya gagal dan ia mencoba sedikit untuk melirik Sora sekali lagi ketika dia pikir tidak ada yang akan memperhatikannya.

Vael yang sedari tadi beristirahat dengan bersandar di bongkahan batu besar di belakangnya memulai pembicaraan mereka dengan berkata.

\"Mungkin, alangkah baiknya saatnya kita menertawakan hasil ujian kita masing-masing tadi.\" Katanya dengan menyadarkan badannya itu dan menyilangkan lengan di belakang kepalanya.

Kaelith yang mendengar perkataan Vael, langsung menegang ketika mencoba melirik sekali lagi ke arah Sora.

Namien yang menunggu momen-momen ini menanggapi perkataan Vael dengan memiringkan kepalanya sambil tersenyum licik dan bertanya dengan halus.

\"Maksudmu seperti pengakuan sebuah dosa di api unggun untuk ditertawakan secara bersama-sama? Jika kau memulainya terlebih dahulu aku akan mengatakannya juga, Vael. Mari kita lihat seberapa mulianya si pelanggar sumpah itu lebih dulu.\"

Vael hanya bisa terkekeh pelan mendengar perkataan Namien dan mengatakan apa yang ia lakukan dalam ujian Sungai Kabut tadi.

\"Baiklah, sumpahku. Sederhana, mereka bertanya mengapa aku melanggar sumpahku dan aku mengatakannya karena aku memilih apa yang benar bukan karena apa yang diperintahkan. Aku tetap pada sumpahku bahkan jika itu mengorbankan segalanya.\" Ujarnya sambil memandangi api unggun di depannya itu dengan postur tubuh yang masih bersandar pada bebatuan besar.

Namien hanya mengangguk pelan untuk mengakui keberanian Vael dengan ujiannya itu. \"Tidak buruk, meskipun aku terkejut kamu tidak mengatakan demi cinta atau sesuatu yang tragis mungkin dalam hidupmu seperti seorang ksatria yang sudah kehilangan taringnya karena rumahnya digetarkan oleh gempa bumi itu yang membuatnya hancur tak bersisa.\"

Vael menggelengkan kepalanya ketika mendengar hal itu dari Namien dan menanggapi akan Namien janjikan sebelumnya itu. \"Aku serahkan itu kepada penyair yang merenung untuk menceritakan seluruh kisahnya nanti. Sekarang giliranmu, penyihir yang terlalu banyak berbicara.\"

Namien mengeluarkan hembusan napas panjang serta meregangkan tubuh sebelum menceritakan miliknya itu. \"Ujianku bertanya versi diriku yang mana wujud nyata dari diriku sebetulnya. Seorang sarjana, pengecut, pedagang, atau pembohong. Tapi, aku memilih orang yang menyesal telah membakar apa yang pernah dicintainya dulu itu sebagai jawabanku.\" Ujarnya yang dengan menggaruk-garuk rambutnya itu.

Ada keheningan singkat bahkan seringai Vael pun melembut ketika mendengarkan perkataan Namien itu, Kemudian Vael dan Namien mulai memerhatikan Kaelith yang menegang lagi saat mereka berdua menoleh kepadanya.

\"Nah, Kaelith?\" Tanya Vael dengan nadanya kini penuh dengan rasa ingin tahu yang jenaka dan usil itu. Seringai Namien mulai melebar dengan niat jahilnya.

\"Ya, salah satu pemanah terbaik kita ini pastinya menghadapi ujian dengan senyummu tentang pertempuran atau balas dendam di masa lalumu atau mungkin... perasaan cinta yang bersemi di pepohonan yang tandus dan dunia yang sudah lapuk ini?\"

Kaelith langsung menundukkan kepalanya dan menarik lututnya ke dadanya untuk membenamkan raut wajahnya yang memerah dengan lengan yang melingkarinya.

\"P-Pass!\" Gumamnya dengan nada yang terbata-bata dan penuh rasa malu itu.

\"Oh ayolah, jika kau seperti ini dan tidak menjawab pertanyaan kita, kau akan membuatku berpikir jika itu benar-benar ujian tentang perasaan cinta seperti Namien katakan tadi.\" Bujuk Vael yang matanya mulai berbinar akan kejahilannya dan dengan tawa yang pelan.

Namien mulai menyikut Vael dengan lembut dan berkata. \"Kau tahu, menurut statistik dari yang ada, jika wajahmu semerah tomat itu pasti ujiannya tak lain dari tentang orang bisu yang memegang gagang pedang di sampingmu itu saat ini, bukan?\"

Mendengar hal itu, Kaelith mengeluarkan suara teredam seperti dia dicekik oleh rasa malunya sendiri dan dia mulai menunjuk jarinya ke arah mereka tanpa mengangkat kepalanya dari lututnya itu berkata dengan nada kesal.

\"Aku benci kalian berdua.\"

Vael hanya bisa tertawa dengan suara tawa yang sangat tulus dan di lain sisi, Sora yang mendengarkan pembicaraan mereka bertiga itu dan memerhatikannya mulai berkedip dengan perlahan, penuh kebingungan apa yang mereka maksud itu, dan akhirnya ia menoleh ke arah Kaelith yang masih membenamkan raut wajahnya di lututnya itu.

Kaelith dengan perlahan mengangkat kepalanya ketika hal itu sudah mulai mereda menurutnya, ia mencoba untuk melihat di depan matanya itu dan tanpa disadari ia melihat Sora yang memerhatikannya dari tadi.

Mata mereka bertemu dalam tatapan yang mungkin ada sepersekian detik saja dan begitulah, ketika Kaelith mengeluarkan suara gerutunya yang kecil dan frustrasi yang di mana ia menjatuhkan dirinya ke samping jalan bebatuan untuk menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang saat ini terlihat terbakar dan di atas kepalanya terlihat asap mulai mengepul.

Namien mengangkat alisnya yang mengetahui jawaban Kaelith dari pertanyaannya tadi. \"Jadi itu jawabannya, ya?\"

Kaelith yang masih frustasi dan kesal karena tingkah Namien seperti itu mulai menggeram dari bawah telapak tangannya yang menyembunyikan wajahnya itu.

\"Tidurlah kau hingga tak terbangun lagi, penyihir licik.\"

Sora yang melihat tingkah laku Kaelith seperti itu, masih belum sepenuhnya mengerti apa yang baru saja terjadi tetapi tatapannya tertuju pada Kaelith beberapa saat untuk mengetahui apa yang sebetulnya terjadi.

Namun, di sudut mulutnya itu mulai berkedut yang membentuk sebuah senyuman ketika melihat hal ini di antara mereka itu.

Vael dan Namien bertukar pandang dan mengangguk setuju bahwa mereka telah puas dan melakukan bagian mereka dalam menyalakan udara yang terasa sesak di hati seseorang yang tak mengungkapkan perasaannya kepada orang lain itu.

Api unggun itu terus menyala hingga kesunyian kembali seperti sebelumnya namun kali ini, api unggunnya lebih hangat dari biasanya mereka buat dan tidak lagi terbebani oleh beban kenangan yang terisi dengan ikatan tak terucap muncul dari keberhasilan yang melewati satu demi satu ujian dan halangan di hadapan mereka.

Elarion menunggu kedatangan mereka. Namun, untuk malam ini, mereka hanya beristirahat di dalam gua Sungai Kabut dengan api unggun yang menyala dan memberikan kehangatan bagi keempat jiwa yang berada dalam satu api yang baru saja lahir dan seribu bintang di langit yang memerhatikan perjalanan mereka itu.

Kabut pagi perlahan terangkat di dalam gua itu saat kelompok itu mengemasi perlengkapan dan barang-barang mereka untuk bersiap melakukan perjalanan terakhir mereka menuju Elarion.

Jalan yang terbentang di depan telah berubah yang bukan lagi jalan berbatu yang rusak atau keheningan reruntuhan terkutuk yang menghantui setelah mereka keluar dari gua itu melainkan jalan setapak tanah yang lembut diukir rapi di antara bukit-bukit yang dipenuhi padang rumput hijau yang luas dan bergoyang-goyang terkena hembusan angin itu.

Aroma tanah dan gandum yang mulai tercium dari kejauhan memenuhi udara dan langit sendiri tampak lebih tenang di sini dibandingkan perjalanan mereka sebelumnya yang langitnya sendiri tak menentu itu.

Elarion.

Itu bukan sekadar nama kerajaan yang dibisikkan dari jauh atau mitos selalu dipegang teguh dengan harapan keputusasaan menjadi kenyataan dan saat mereka mencapai puncak bukit terakhir, kerajaan dengan perkataan Namien itu benar adanya seperti yang dikatakan sebelumnya kini terbentang di hadapan mereka dengan mata mereka sendiri.

Pemukiman warga yang tersebar di seluruh negeri seperti titik-titik yang dicat oleh masing-masingnya mulai berdengung dengan kehidupan dan tawa, asap yang mengepul dari cerobong asap dalam bentuk spiral terlihat menyentuh langit di atasnya.

Ladang-ladang gandum yang membentang berwarna kekuningan dan keemasan itu siap panen yang menyelimuti lembah serta di setiap jalannya dipenuhi pekerja dan anak-anak yang berlarian tanpa rasa akan ketakutan dari apa yang ada dalam dunia yang hancur itu.

Di tempat yang lebih jauh lagi, mereka melewati sungai yang berkilauan seperti benang perak dan ketika mereka melihat dari kejauhan gerbang depan dari kerajaan Elarion itu, mereka melihat juga kastil Elarion yang berdiri tegak, tinggi, tak ternoda, dan menara-menara putihnya hampir mencapai cakrawala di siang harinya.

Bukan reruntuhan yang mereka lihat dan juga bukan pula sebuah kenangan pahit dari masa lalu yang memiliki banyak penderitaan serta kesedihan itu melainkan sebuah tempat perlindungan yang aman dan nyaman itu.

Sora yang sedari tadi berjalan di belakang Namien yang memimpin jalan mereka menuju Elarion itu mulai melambat dan napasnya sedikit terasa lebih ringan saat ia menikmati semua yang ia lihat itu. Rasanya aneh melihat kehidupan lagi setelah berjalan begitu lama di antara kematian dan ketidakpastian dalam perjalanan mereka itu di tempat yang tak mengenal harapan sekalipun.

Namien yang berjalan dengan pelan itu berhenti, matanya menatap cakrawala seolah mengukur seberapa banyak yang telah berubah sejak terakhir kali ia berdiri di sini dan ekspresinya tak terbaca dengan menunjukkan ekspresi sebagian kagum, sebagian kecemasan, dan sebagian sesuatu yang sama sekali berbeda untuk dirasakan.

Kaelith yang berjalan di samping Sora mulai menunjukkan sesuatu yang lama tak ia lihat sebelum dunia hancur begitu saja sembari mengatakan kekagumannya dengan suaranya yang lembut.

\"Ini... ini tidak mungkin.\"

Vael yang berada di belakangnya hanya bersiul pelan dan setelah itu ia mengatakan sesuatu yang lupa untuk dirasakannya selama di kerajaan Borreal itu.

\"Aku hampir lupa seperti apa kedamaian itu hingga aku melihatnya dengan mataku sendiri saat ini.\"

Namien menoleh ke arah mereka dengan mengajak mereka untuk memasuki kerajaan Elarion itu. \"Ayolah, kalian bisa menikmati semua hal yang kalian tak bisa bayangkan itu ketika kita sudah masuk ke dalamnya. Rumahku dekat dengan tikungan sungai dan berada di tepi pasar lama. Kita ke sana terlebih dahulu. Setelah itu… aku akan membawa kalian semua ke hadapan penguasa kerajaan ini tapi hanya setelah aku berbicara dengan ayahku nantinya.\" Katanya dengan suaranya lebih pelan dari biasanya dan ia melanjutkan jalannya itu sambil melihat di hadapannya sebuah gerbang depan kerajaan Elarion itu.

“Ayahmu? Tunggu dulu, kau tidak pernah menyebut—” Kaelith yang terkejut dengan matanya mulai berkedip-kedip tidak percaya akan hal itu dengan menanyakan hal itu kepada Namien.

Sebelum Kaelith menyelesaikan pertanyaannya itu, Namien tidak langsung menjawab dan ia hanya mulai berjalan dengan menyela perkataannya itu sebelum selesai.

“Kau akan lihat nanti ketika kita sudah sampai di rumahku nanti.”

Mereka mengikutinya dalam diam yang takjub dan sepatu mereka mengetuk pelan di jalan batu mengilap saat mereka mendekati pinggiran kota yang terhalang oleh gerbang utamanya itu. Para penjaga di gerbang yang melihat mereka berjalan ke arah gerbang utama itu, nyaris tidak bertanya kepada mereka begitu mereka melihat sosok Namien yang dihormati oleh kalangan para penjaga kerajaan maupun para bangsawan di kerajaan itu.

Para penjaga itu mulai menyapa Namien dengan sebutan sir ketika para penjaga gerbang itu membukakan pintu gerbangnya dan saat mereka telah melewati gerbang utama itu dan memasuki daerah perkotaan itu, Vael heran melihat tingkah laku penjaga gerbang itu kepada Namien dengan bertanya kepada Namien itu.

“Kau sepertinya seorang bangsawan yang bersembunyi di balik jubah pedagang, rupanya?”

Namien yang hanya bisa terkekeh pelan mendengar hal itu dari Vael menanggapinya. “Mungkin iya, dan mungkin juga tidak sepenuhnya.”

Vael mulai merasakan bahwa dari jawaban Namien tadi itu sebagai ia adalah orang yang memiliki jasa dan turut andil dalam kerajaan ini yang melihat tingkah laku penjaga gerbang itu yang memberikan salam hormat kepadanya.

Di dalam kerajaan itu, jalan-jalannya bersih yang berbatu tertata dengan rapi dan dipenuhi lentera kaca yang berwarna-warni. Para pedagang berjualan dari kios-kios yang berteriak untuk menarik perhatian warga sekitarnya untuk membeli barang dagangannya itu, anak-anak yang berlarian di sekitar area pasar dengan syal yang menjuntai di belakang mereka serta penuh tawa itu, dan penyanyi keliling di tepi jalan sedang memainkan musik dengan alunan lembut di sudut-sudut jalan yang alunan musik mereka menari dan mengikuti arah angin berhembus.

Orang-orang di sekitar mereka itu mulai menoleh saat mereka lewat dengan ekspresi yang berbeda-beda, mulai dari ada yang penasaran, ada yang terkejut saat melihat Namien, dan yang lain mengangguk pelan sebagai tanda salamnya kepada mereka itu. Sora memperhatikan bagaimana Namien memegang dirinya lebih erat di sini dengan bahunya sedikit lebih kaku dan seringainya yang seperti biasanya itu teredam oleh senyuman di wajahnya itu untuk menyapa setiap orang yang ia kenal itu dan pada akhirnya, mereka tiba di sebuah rumah yang lebih besar dari kebanyakan rumah dan memiliki fondasi bangunan yang dibangun dari batu bata yang berwarna pucat serta tanaman ivy yang merambat di dinding samping rumahnya itu.

Terlihat tidak megah dan tidak norak namun terasa hangat, nyaman, dan familiar dikenali oleh Namien sendiri. Namien berdiri di depan pintunya sejenak dengan menatap pintu rumahnya itu dan kemudian dia mengembuskan napas untuk mengumpulkan energinya itu sebelum menemui ayahnya dan mengetuk pelan pintu rumahnya itu.

Dari dalam rumah, terdengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat dan tak lama dari itu, gagang pintu itu mulai berputar untuk membuka.

Ketika pintu rumah itu terbuka, terlihat seorang pria yang sudah tua berdiri di sana dengan postur badannya tinggi, rambutnya memutih hingga menjangkau bagian pelipis matanya yang memiliki warna yang sama dengan Namien itu, dan jubahnya yang ditandai dengan lambang-lambang tak diketahui Sora, Kaelith, serta Vael itu yang tampaknya memudar.

Pria itu menatap Namien untuk waktu yang lama hingga mengatakan sesuatu kepada Namien yang berada di depannya saat ini.

“Jadi, kau sudah kembali dari perjalananmu itu, nak?” Kata pria itu yang akhirnya suaranya terdengar tenang tetapi berbobot.

Namien hanya mengangguk pelan dan menjawab pertanyaannya. “Aku membawa tamu selama aku melakukan perjalanan, Ayah.”

Lelaki tua itu memandang ke seberangnya dan matanya mulai mengamati satu persatu yang dimulai dari Kaelith, Vael, dan Sora secara bergantian.

Dia tidak mengatakan apa-apa lagi hanya membuka pintu lebih lebar dan mengatakan kepada mereka semua itu dengan senyumnya yang hangat.

“Kalau begitu, masuklah.”

Mereka memasuki bagian dalam rumah Namien yang jauh dari apa yang mungkin orang harapkan dari tempat tinggalnya itu.

Rumah itu tidak dipenuhi relik berkilauan atau rak-rak yang penuh dengan buku-buku mantra melainkan rumah itu sangat sederhana, layak dihuni, dan begitu nyaman.

Perapian masih menyala dengan api merah yang lembut dan tenang serta beberapa lukisan tergantung di dinding, satu lukisan tampak memudar yang bergambar: seorang anak laki-laki muda dengan mata berwarna keemasan dan rambut yang seperti api liar, tersenyum di samping seorang pria yang lebih tinggi dengan mengenakan jubah yang sama dengan yang dikenakan ayah Namien sekarang ini.

Mereka melangkah masuk satu persatu ke ruang tamu di tengah rumah Namien itu, Kaelith mengerjapkan mata karena kenyamanan rumah Namien yang lembut dan suasana yang hangat di dalam rumahnya.

Vael mengangguk sopan ke arah ayah Namien lalu berjalan ke arah satu set patung kayu yang diukir dengan sangat detail di rak buku terdekat, Sora hanya berdiam diri berlama-lama di dekat pintu yang matanya mengamati sekeliling ruangan seolah-olah mengingat setiap detail isi rumah Namien itu, dan Namien sendiri telah merosot ke pangkuan kursi di dekat perapian rumahnya yang tengah terlihat mengisi kembali energinya saat dia melakukan perjalanan yang cukup panjang itu mulai meregangkan tubuhnya dan mengembuskan napas kelegaan ketika sudah sampai di tempat yang seharusnya itu.

“Jadi, kau telah membawa rumah ini menjadi meriah dengan teman-temanmu, Namien. Siapa saja mereka ini?” Kata ayahnya yang memberi isyarat kepada yang lain untuk duduk di kursi yang telah disediakannya untuk mereka bertiga itu.

“Perkenalan akan dimulai kalau begitu, dari kiri ia adalah Kaelith, Vael, dan yang terakhir si pendiam, Sora.” Kata Namien yang menunjuk mereka bertiga satu persatu dari kiri dengan seringainya itu.

Ayah Namien yang sedari tadi mengamati mereka satu persatu untuk mengenal mereka, matanya mulai terpaku pada Sora sedikit lebih lama daripada yang lain.

Tidak bermaksud untuk kasar dan tidak sopan melainkan dengan rasa ingin tahu yang cenderung dimiliki penyihir tua itu ketika ia mengenali kehadiran yang tidak begitu wajar di ruangan itu.

“Begitu rupanya, yang tidak berbicara tetapi tetap terdengar suaranya.” Katanya dengan lembut sembari kembali menyandarkan punggungnya di kursi goyangnya itu.

Sora yang merasa kebingungan dan memiringkan kepalanya sedikit untuk menanggapi kata-kata itu dengan rasa hormat yang tenang.

“Panggil aku Aldren, Ayah dari anak nakal ini dan mulutnya seperti bisa ular yang beracun. Meskipun sudah lama sejak terakhir kali aku menjamu seseorang di rumah ini.” Jawab Aldren itu dengan menuangkan air putih ke dalam gelas kayu untuk mereka.

“Kau tidak... mirip dengannya, bukan dengan ketidaksopananku. Maksudku, kau tampak begitu—” Kata Kaelith sebelum dia bisa menahan dirinya lalu langsung tersipu.

“Lebih muda?” Aldren yang menyela perkataan Kaelith sebelum selesai itu dan menawarkan dengan seringai yang khas dari Namien biasanya itu.

“Itu reaksi yang sangat umum di kalangan banyak orang yang mengatakan diriku lebih muda sepertinya.” Tambah Aldren dengan terkekeh pelan ketika mendengar perkataan Kaelith itu. Vael menyilangkan lengannya dan bertanya kepada Aldren itu.

“Kau yakin Namien bukan campuran dari ras lain mungkin atau semacamnya? Kau tampak sedikit lebih tua darinya dan mungkin dirimu itu, setengah Elf mungkin?”

Aldren mulai dengan tawa pelannya ketika mendengarnya dan mengatakan hal itu sebagai pujian baginya. “Terima kasih karena sudah menyamakanku dengan Elf.”

Namien yang mencoba meminum minumannya itu tertawa seketika dengan sangat keras hingga hampir menumpahkan minumannya dan mulai berbicara.

Blood-elf? Ayolah Vael, apakah aku tampak seperti mempunyai kehidupan yang hampir abadi itu atau terlalu puitis untuk dikatakan sebagai pujian dari penyair ulung?”

Kaelith mengangkat sebelah alisnya dan mencoba untuk tidak tertawa dengan mengatakan. “Sebenarnya—”

Namien langsung mengangkat tangannya untuk menghentikan perkataan Kaelith sebelum keluar dari mulutnya itu dengan cepat. “Jangan jawab itu dan aku berterima kasih atas pendapatmu yang begitu cepat. Aku tahu kau ingin mengatakan apa, Kaelith. Mungkin aku bukan pewaris blasteran dari alam hutan seperti yang kalian katakan namun ayahku ini hanya menua dengan baik. Mungkin karena semua kepahitan kopi yang diminumnya dan sihir yang sudah lama ia kuasai sebelumnya.”

Aldren juga tertawa dan suara tawanya sangat keras dan penuh pengertian akan perkataan hal itu hingga membuat seisi ruangan mulai ikut tertawa kecuali Sora yang hanya bisa tersenyum dan Namien yang terlihat kebingungan dengan apa yang lucu dari yang ia katakan itu.

“Hidup sendiri cenderung melestarikan apa yang tidak dapat ditanggung oleh waktu. Itu trik lama dari mentorku meskipun aku tidak akan merekomendasikannya kepada kalian meskipun hal itu membuat teh terasa seperti lumpur yang sudah mengendap selama tiga puluh tahun lamanya.”

Ruangan itu pun meledak dengan tawa pelan bahkan Sora hanya bisa tersenyum ketika mendengar lelucon dari ayah Namien itu, Aldren. Namien bersandar dan melirik ke sekeliling mereka semua itu dan berkata dengan nada yang pelan.

“Terasa aneh, bukan? Duduk di sini seperti ini yang begitu damai dan hampir terlalu berlebihan untuk menyia-nyiakan kenikmatan yang kau dustakan ini tengah menantimu, bukan?”

Kaelith mengangguk perlahan sebagai tanda setuju dan tangannya diletakkan di dekat sisi tubuhnya saat dia melihat ke api unggun dalam perapian itu dengan berkata. “Aku lupa bagaimana rasanya untuk bernafas dengan lega dalam waktu yang cukup lama mungkin.”

Aldren yang mengamati mereka dengan tenang perlahan bangkit dari tempat duduknya dan mengambil beberapa cemilan yang ada di dalam dapur itu untuk disuguhkan kepada yang lainnya itu dengan berkata.

“Mungkin aku tidak tahu masa lalu kalian hingga salah satu dari kalian mengatakan hal seperti itu, aku hanya bisa mengatakan cobalah untuk menikmati sedikit kehangatan dan rasa aman di dalam sini. Mungkin ini hanya meringankan bebanmu namun bukan berarti kalian tak pantas mendapatkannya, bukan?” Ujar Aldren kepada mereka sambil menaruh sepiring yang penuh dengan camilan khas buatannya itu

Mereka tinggal beberapa saat lebih lama, berbagi cerita, kehangatan, dan tawa yang terasa sangat langka untuk didengar yang asing bagi mereka untuk merasakannya setelah sekian malam yang dihabiskan dalam kegelisahan yang tak menentu dan ketakutan akan tak bisa melihat fajar di esok hari.

Meskipun jalan di depan mereka masih menjanjikan badai, untuk saat ini mereka mendapatkan ketenangan yang dirasakannya dengan penuh ketidakpercayaan ketika melihat tempat yang sangat damai dan nyaman dalam dunia yang sudah hancur itu.

Namun di rumah kecil itu, mereka memiliki waktu yang cukup untuk menikmati kenyamanan yang mereka dambakkan itu.


Other Stories
Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Ophelia

Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Download Titik & Koma