The Unkindled Of The Broken Soil

Reads
463
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
the unkindled of the broken soil
The Unkindled Of The Broken Soil
Penulis SaltSea

Bab Tujuh: Berjalan Di Bawah Bintang Jatuh

Pale Fields, tempat yang membentang seperti kain usang di atas tanah yang sudah rusak dan tanahnya yang dilapisi seperti kulit pucat seorang manusia yang sudah mati dan dari beberapa makhluk-makhluk yang pernah hidup mati di sana sehingga jasad mereka membuat tanah di sekitarnya mengubah warna dari tanah aslinya.

Tulang-tulang makhluk yang telah lama punah, zirah yang terlupakan serta yang setengahnya lagi tenggelam ke dalam tanah, dan sisa-sisa pertempuran yang rapuh dan tidak pernah dikenang maupun dinyanyikan oleh seorang penyair untuk dijadikan sebagai syair sejarahnya.

Pedagang itu memimpin di barisan depan dengan jubahnya yang berkibar dan dahan kayu yang ia temukan di sepanjang jalannya itu di genggamannya layaknya tongkat yang telah melihat lebih banyak perubahan dari tahun ke tahunnya hingga musim berganti silih daripada yang seharusnya oleh dihitung siapapun.

\"Ah, Pale Fields, Kuburan para raja, pencuri, dan filsuf yang gagal dalam kehidupannya dan berakhir di tanah yang sudah pucat warnanya ini. Dan tahukah kalian, bila ada seorang pria yang mencoba untuk mengklaim tempat ini dan digunakan untuk mengembangkan pertanian. Dan aku tak tahu harus bereaksi apa selain tertawa mendengar cerita itu ketika di tempat ini tidak menumbuhkan apa pun kecuali kutukan dan rasa bersalah itu sendiri yang jasad dari beberapa orang itu mulai menghantui orang tersebut.\" Gumam pedagang itu yang mencoba menahan tawanya dan menyeringai pada dirinya sendiri.

Tidak ada yang tertawa oleh candaannya itu, melainkan keheningan datang di antara mereka dan tidak terdengar tawa terhadap leluconnya sekalipun. Tetapi Kaelith mengangkat alisnya dan mulai bertanya apa yang barusan pedagang itu ucapkan.

\"Kau menceritakan semua kisahmu itu kepada mayat di tempat ini atau hanya mereka yang membawa senjatanya?\"

Pedagang itu mengedipkan matanya dan menoleh ke arah Kaelith untuk menjawab pertanyaannya.

\"Hanya mereka yang tampan dan muram saja serta yang tidak pernah tersenyum.\"

Vael yang sedari tadi berjalan dengan tenang sebelum mendengarkan perkataan pedagang itu, tiba-tiba ia hanya tidak tahu bagaimana caranya beraksi atas apa yang dikatakan pedagang itu yang membuatnya mendesah dan menimpali apa yang dikatakan oleh pedagang itu dari mulutnya.

\"Biarkan orang yang telah mati itu tertidur dengan tenang. Tanah ini tidak suka dihina oleh candaanmu seperti itu.\" katanya.

\"Aku juga tidak mau bila aku mendengar perkataannya di tempatku beristirahat itu.\" Tambah Kaelith juga yang menimpali perkataan Vael tadi.

Meskipun udaranya suram, pedagang itu terus berbicara seakan-akan itulah caranya dengan mengisi keheningan dengan ketidaksopanan yang ia lontarkan sebagai humornya.

“Hei, aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi, ayolah. Mana selera humor kalian? Kalian tampak seperti kuburan yang berjalan kecuali si bisu itu.”

Setiap kali angin terasa seperti membisikkan nama-nama ke telinga mereka namun dia mengusirnya dengan omong kosong dan humor gelapnya. Sampai matahari mulai terbenam di cakrawala dan mereka memutuskan untuk beristirahat di tengah-tengah perjalanan mereka di dekat batang pohon yang akarnya melingkar seperti jari-jari tua itu.

Api unggun yang dibuat Vael itu kecil dan tidak terlihat tenang namun Kaelith menambahkan beberapa ranting kering yang membuat apinya semakin membesar dan cukup untuk menghangatkan mereka malam itu untuk mengumpulkan energi mereka selama perjalanan nantinya.

Vael yang beristirahat terlebih dahulu, punggungnya disandarkan pada batu besar di belakangnya dan bilah pedangnya dalam jangkauannya tapi matanya perlahan mulai tertutup karena sudah terasa lelah badannya yang terus melakukan perjalanan panjangnya. Pedagang itu segera menyusul Vael ke dalam mimpi juga, menggumamkan sesuatu tentang mimpinya tentang tengkorak yang menari-nari di atas panggung dan kambing yang mulai berterbangan di atas tengkorak-tengkorak yang sedang menari itu, ia meringkuk di sepetak lumut dengan jubahnya meliliti tubuhnya sebagai selimutnya.

Sedangkan Sora, ia tidak bisa tidur semenjak kejadian itu dan ingatan akan kejadian sebelumnya masih terngiang-ngiang dalam benaknya itu. Ia bisa saja tidur untuk mengistirahatkan badannya yang penuh luka dan perban yang masih memenuhi badannya itu dengan luka yang hampir sembuh itu tetapi ia tetap tidak bisa melupakan apa yang terjadi di tempat itu sebelumnya yang masih memikirkan apa yang diucapkan raja mayat hidup itu dan pedagang yang menawarkan sebuah perjalanan menuju kerajaan Elarion itu hingga rasa sakit yang ia derita dan rasakan baik itu fisik dan batinnya.

Sora pada akhirnya memutuskan duduk di dekat api unggun sebentar dan memperhatikan api yang terpantul dari bilah pedangnya sampai sesuatu semacam tarikan di dadanya menarik dirinya untuk menjauh dari tempat api unggun itu dan berjalan-jalan di sekitar area tempat peristirahatannya itu.

Ia berjalan ke punggung bukit tepat di balik barisan pepohonan dan sepatunya diam di tanah yang sudah retak dengan angin malam yang masih menyanyikan melodi di seluruh tempat itu hingga pohon-pohon di belakangnya itu menari-nari hingga membisikkan sesuatu kepadanya. Di sana ia duduk, bersila di bawah langit terbuka dan di atas hamparan tanahnya sambil menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang yang sangat jarang sekali dilihatnya selama ia melakukan perjalanannya itu.

Bintang-bintang di langit itu tidak pernah sebanyak ini semenjak dunia ini sudah hancur tak tersisa lagi kehidupan yang masih memiliki akal sehatnya di dunia ini. 

Terlihat seperti sebuah aliran sungai yang mengalir dan bercahaya yang menyala di atasnya dan saat Sora memiringkan kepalanya, seberkas cahaya merobek langit yang di mana bintang jatuh menyala bagai lintasan yang sangat berkilau dan cepat itu turun ke bumi seperti jiwa yang dilahirkan kembali di dunia yang sudah tak memiliki harapan untuk diharapkan dan pada saat itu. 

Sora teringat akan sebuah kedipan mata seseorang yang selalu membekas di ingatannya, jeritan seorang wanita yang peduli terhadapnya ketika bencana datang ke tempat mereka dan ia mengatakan lari sejauh mungkin yang kau bisa, dan suara dari rumah yang terbakar oleh kobaran api hingga membuat kayu-kayunya menjadi abu.

Saat ini pedang tanpa nama itu di pinggulnya dan nasib dari pedang itu juga sama sepertinya yang ditinggal sendirian oleh orang-orang sebelumnya yang memiliki pedang itu. Sora menaruh tangannya di dada sebagai suatu hal yang ia ketahui dan selalu ia ingat akan beban itu selalu ada di sana, jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam akan sebuah tanggungan yang ia harus pikul demi masa depannya yang lebih baik.

Namun saat ini, bebannya itu sangat terasa berdenyut seakan-akan beban itu mencoba berbicara kepadanya saat ini. Sebuah nama yang tak dapat didengarnya dan sebuah suara yang hilang di tengah hujan.

Sora tahu akan perasaan mengenai kehilangan bahkan penderitaan yang tak bisa dibicarakan oleh kata-kata saja dan tetap saja, di dalam benaknya itu ia selalu memikirkan apakah hal ini adalah sebuah hadiah baginya? Atau sebuah kutukan baginya?

Sora tidak tahu hal itu namun selama pedang itu masih bersamanya, ia akan menemui jawaban yang pasti mengenai apakah hal itu pantas atau layak untuk ia perjuangkan dari segala penderitaan yang telah ia lalui hingga saat ini?

Dan kemudian—

Tangan seseorang menyentuh bahunya dari arah belakang, Sora terkejut ketika seseorang menpuk bahunya dengan pelan dan lembut itu membuatnya berbalik dan melihat siapa yang berada di belakangnya saat ini.

Ia melihat Kaelith berdiri di sampingnya dengan jubahnya yang di ujungnya terdapat bekas sobekan kecil dan sedikit terbakar di ujungnya, rambut pirangnya kusut karena hembusan angin, dan matanya yang berwarna biru itu memancarkan sinar dari rembulan berbayang namun terdapat sesuatu di matanya itu untuk mengatak sesuatu sepertinya.

“Kau selalu duduk menyendiri.” Katanya dengan lembut dan Kaelith duduk tepat di sampingnya itu.

Tidak menyuruhnya untuk kembali ke tempat peristirahatan atau menyuruhnya untuk beristirahat karena lukanya yang begitu banyak namun ia hanya ingin mengamati bintang-bintang juga sama seperti Sora lakukan itu. Sora yang mendengar dan melihatnya duduk di sampingnya itu tidak bergerak sama sekali dan memberikan ruang baginya untuk duduk itu dengan bergeser ke arah sampingnya.

“Kau tahu, kau bukanlah satu-satunya orang yang bermimpi ditinggal oleh orang-orang yang kau sayangi itu.”

Kaelith memulai pembicaraannya dengan menarik lututnya ke dadanya sebagai posisi duduknya sambil melihat cakrawala langit malam yang dipenuhi bintang-bintang seperti hamparan debu yang berkilau di angkasa.

Angin berhembus dengan pelan ke arah mereka dan Kaelith melanjutkan lagi perkataannya dengan suara yang lembut dan tidak pernah didengar oleh Sora sekalipun.

“Dulu kupikir diam berarti tak seorangpun bisa menyakitimu baik itu secara perkataan dan tindakan namun tak seorangpun tahu apa yang harus dideritanya dan tak seorang pun tahu bagaimana rasa sakit yang telah dipendamnya itu dalam waktu yang cukup lama.”

Kaelith menoleh ke arah Sora dan matanya kini tidak lembut seperti tadi melainkan menunjukkan kelelahan akan sesuatu yang ia pendam seperti apa yang ia katakan sebelumnya.

Namun, dalam kelelahan itu ada sesuatu yang lebih kuat untuk tetap diperjuangkan dan dipikulnya hingga saat ini.

“Tapi kau, aku merasa iri kepadamu yang bisa sekuat itu walau dirimu tak butuh sebuah kata untuk berteriak akan beban yang kau pikul itu.” bisiknya dengan wajahnya kini ditutupi oleh pahanya dengan posisi duduknya yang seperti sebelumnya.

Sora yang mengerti apa yang Kaelith maksudkan itu, kembali menatap bintang-bintang di langit dan menemukan bintang jatuh sembari menunjuk ke arah bintang jatuh itu dengan mengangkat tangannya di langit untuk memberitahu Kaelith di sampingnya. Satu bintang jatuh lagi jatuh ke bumi tak lama dari Sora menunjuk itu.

“Apa yang kauinginkan?” Tanya Kaelith yang masih memerhatikan bintang jatuh itu ketika Sora memperlihatkan kepadanya.

Sora menoleh ke arah Kaelith itu tidak menjawabnya melainkan hanya kembali menatap langit itu sembari hatinya berbisik suatu permohonan yang mungkin seseorang mendengarkan suara hatinya yang saat ini memohonkan satu hal saja.

Dan setelah itu, Sora dengan lembut mengulurkan tangannya ke arah Kaelith di antara mereka berdua yang sedang duduk itu. Kaelith menatapnya dengan lama dan mencoba memahami maksud dari Sora itu, lalu meletakkan jari-jari Kaelith di atas jari-jari Sora dengan lembut dan tidak seperti sebuah janji dari dua orang melainkan terasa seperti kebenaran yang sama diucapkan dengan tanpa suara.

Mereka duduk di sana hingga api unggun tempat peristirahatan mereka perlahan padam karena angin yang berhembus di belakang mereka hingga waktu fajar mulai menyingsing.

Hingga pada saat ia tertidur sejak kejadian itu, Sora mengetahui bahwa ia tidak sendirian lagi dan ada seseorang yang ternyata masih peduli terhadap dirinya saat ini.

Perlahan-lahan, matahari menerobos cakrawala dengan sinar cahayanya yang lembut, hangat, dan keemasan seperti nafas yang menyentuh kulit mereka.

Embun-embun menempel di rerumputan yang pucat, melayang seperti hantu yang enggan meninggalkan dunia di belakang. Sora yang terbangun oleh sinar mentari pagi dari tempatnya mulai melihat langit yang kini bintang-bintangnya menghilang ketika fajar telah menyingsing dan langit menjadi lebih cerah dari sebelumnya itu.

Tempat di mana para burung-burung muncul dari pepohonan sambil bernyanyi di bawah sinar matahari terbit namun yang membuat Sora terkejut saat ia terbangun dari mimpinya itu adalah Kaelith yang masih tertidur dan bersender di sampingnya saat ini dengan lengannya yang disilangkan itu dan matanya yang perlahan terbuka oleh silaunya mentari pagi meskipun sulit untuk mengatakan apakah dia benar-benar tertidur atau tidak.

Dan saat itu, kesunyian yang tak terucapkan oleh kata-kata namun penuh dengan kesungguhan yang sama dan keheningan di tempat itu tidak terasa berat kali ini melainkan tampak hangat sebaliknya dan rasanya seperti... terlahir kembali.

Dan kemudian—

“Wah, wah, wah, apa yang kita miliki di sini.”

Terdengar suara pedagang itu yang cukup membuat Sora dan Kaelith Terkejut dengan seringainya seperti rubah yang telah melihat sebuah rahasia terdalam yang tak pernah terungkap di hadapannya saat ini.

“Lihat siapa yang memutuskan untuk menghabiskan waktu tengah malamnya untuk melihat konstelasi bintang. Kuharap kalian berdua membuat permohonan pada malam itu.”

Vael yang baru datang dari balik pepohonan dan berdiri di samping pohon tengah melihat Sora dan Kaelith yang baru terbangun dari tidurnya itu, bersandar pada pohon berkata dengan nada yang datar namun seperti menggoda itu,

\"Aku tidak pernah menyangka bahwa bintang-bintang di langit malam itu bisa dijadikan bantal yang empuk untuk tempat tidur sepasang kekasih.\"

Mendengar hal itu, sontak kepala Kaelith langsung berbalik ke arah mereka berdua dan matanya menyipit mengikuti Vael dan pedagang itu.

\"Kami sedang melihat langit malam saat kami tak bisa tidur dan tertidur setelahnya, hanya itu saja.\" Bantah Kaelith kepada mereka berdua yang terasa kesal ketika dijahili oleh mereka berdua.

\"Tentu, Hanya mengamati langit sebentar, sendirian, di bawah bintang jatuh... dalam kegelapan. Berpegangan tangan seperti sepasang kekasih yang lelah terhadap perang di dalamnya terdapat banyak tragedi, mungkin?\" Kata pedagang itu sambil menggambar hati kecil di udara dengan jarinya yang bersarung tangan itu yang melambangkan seperti sepasang kekasih.

Mendengar hal itu, wajah Kaelith langsung memerah seketika dan mengatakannya dengan ledakan emosi setelah melihat tindakan pedagang itu.

\"Aku akan memasukkan sarkasmemu itu begitu dalam hingga ke tenggorokanmu dan kau akan mulai mengucapkan puisi secara terbalik dari mulutmu itu.\" Pedagang itu hanya bisa tertawa dengan keras dan tanpa rasa bersalah.

\"Nah, itulah Kaelith yang kutahu. Kau bersinar saat waktunya tiba dan pastinya hal itu adalah pengamatan bintang yang sangat mengharukan dan berkenang dalam sejarah di dunia yang rusak telah menemukan sebuah romansa di tengah tragedi, bukan?\" Ujar pedagang itu yang masih tertawa akan apa yang telah ia temukan di pagi hari itu yang membuat Sora berdiri dengan perlahan dan membersihkan embun dari jubahnya, kepalanya miring karena bingung dengan apa yang mereka bicarakan itu.

Sora hanya bisa melihat mereka bertiga dengan ekspresinya kosong namun dengan penuh penasaran. Jelas tidak yakin apa yang mereka diributkan di pagi hari itu yang berbeda dari sebelum-sebelumnya itu.

“Jangan khawatir, bocah pendiam. Kau tidak bersalah untuk saat ini.” Kata pedagang itu dengan menyikutnya dengan siku dan pergi meninggalkan Sora yang kebingungan dan Kaelith yang masih malu namun emosinya meledak itu hingga wajahnya memerah saat ini.

Vael hanya mengangguk setuju pada Sora yang masih belum mengetahui apa artinya dari mereka katakan itu dan memakluminya ketika melihat reaksi Sora seperti tak tahu apa yang mereka bicarakan itu.

Kaelith yang hanya bisa mengerang kesal setelah melihat reaksi mereka terhadap Sora sangat berbeda dengannya, mulai mengikat rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya yang kasar dan bergumam,

“Aku bersumpah, jika seseorang mencoba menggodaku lagi seperti tadi saat penyergapan nanti, aku tidak akan menyelamatkan siapapun yang meneriaki namaku.”

Setelah dari kejadian itu, mereka berempat kembali ke arah tempat peristirahatan dan pedangang itu memasak sarapan untuk mereka berempat di pagi hari itu. Mereka menyantap sarapan dengan menu berupa sup yang hangat serta beberapa potongan sayuran yang telah dikumpulkan oleh pedagang itu dan roti.

Pedagang itu juga membuat teh pahit dengan aroma mint sebagai minumannya dan menuangkannya dari botolnya yang retak, menuangkan ke beberapa cangkir untuk mereka dan dirinya. Sora tidak makan banyak tetapi dia memperhatikan apa yang terjadi pagi ini dan mencoba mencari tahu apa maksud dari mereka bicarakan sebelumnya.

Sedangkan, Kaelith menghindari tatapannya ke arah Sora karena dia merasa Vael dan terutama pedagang itu akan menggodanya lagi jika dia ketahuan melakukannya lagi.

Saat matahari sudah berada tepat di atas kepala mereka telah menunjukkan waktu di siang hari, mereka bergerak lagi dan sepatu mereka memotong jalan setapak yang sunyi melalui Pale Fields.

\"Kita akan menyeberangi Bonewilds saat senja nanti dan setelah itu, jika anggota tubuh kita masih utuh, kita akan melihat puncak hutan luar Elarion sebelum malam hari tiba.\" Kata pedagang itu sambil berjalan dan ia berhenti sejenak yang tampaknya berpikir suatu hal yang ia lewati.

\"Meskipun... jika kita beruntung, kita mungkin bertemu dengan penjaga gerbang di sebuah benteng sebelum memasuki kawasan Bonewilds nantinya.\"

\"Beruntung? Itu kata yang kau gunakan untuk menjelaskannya?\" Tanya Kaelith dengan keraguan akan pernyataannya tadi.

\"Tentu saja, Mereka para penjaga benteng hanya menembak pada waktu siang hari seperti biasanya dan mulai berpatroli dari malam hingga matahari mulai menyingsing.\"

Pedagang itu berkata dengan tersenyum ketika mendengar pertanyaan Kaelith seperti itu kepadanya. Sora, berjalan di sampingnya, matanya mengamati segalanya.

Namun saat angin bertiup lagi dan membawa aroma samar bunga liar dan hembusan angin yang membawa daun ke mana itu pergi, ia memejamkan matanya sebentar, dan di suatu tempat ia merasa di dadanya itu... ada sesuatu yang melunak.

Namun hal itu bukan keheningan yang datang akan bersama kekosongan melainkan kebingungan yang masih ada seseorang yang selain dari mereka hidup di dunia yang sudah hancur itu dan hal ini berbeda dari apa yang Sora rasakan sebelumnya... datang bersama teman-temannya yang bersamanya saat ini.

Pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya muncul terus di dalam benaknya tapi ia memilih untuk tidak menjawabnya sekarang dan membiarkan waktu yang menjawab nantinya walau ia mengetahui jawabannya.

Oleh karena itu, beban makna yang akan segera terungkap di balik perjalanan mereka itu sedang menunggu jawaban yang mereka cari dan penawaran dari pedagang itu juga.

Setelah selesai menyantap sarapan, mereka mengemasi barang-barang mereka dan mulai melanjutkan perjalanan mereka ke Elarion namun seperti pedagang itu mengatakannya, bakal terdapat benteng sebelum mencapai kerajaan Elarion di kawasan Pale Fields nantinya.

Mereka berjalan saat angin mulai bertiup kencang ketika mereka mendaki punggung bukit yang sempit di kawasan Pale Fields dan tampak siluet mereka yang mulai membentuk bayangan panjang di atas rumput liar yang kusut dan kasar itu. Setiap langkah mereka untuk maju, memperlihatkan lebih banyak cakrawala yang terputus dan di sana terselip di antara batu hitam yang menjulang tinggi berdiri sisa-sisa benteng penjaga yang terlihat di sana seperti bangunan yang dikatakan pedagang sebelumnya itu.

Namun, benteng itu terlihat jelas terkikis oleh peradaban yang selalu bergerak maju yang saat ini terlihat usang dan di beberapa bata dinding dan kayu yang tinggi menjulang sebagai pagarnya terdapat lumut yang sudah menghinggapinya.

\"Itu dia, benteng itu saat ini banyak yang menyebutnya sebagai benteng Lastlight. Dulunya merupakan benteng yang megah dan tak bisa ditembus oleh siapapun akan pertahanannya yang absolut sebelum dunia mulai menemukan zaman keheningannya dan kegelapannya.\" Gumam pedagang itu ketika mulai terlihat benteng itu di hadapan mereka dan memperlambat langkahnya.

Pedagang itu menoleh ke arah Sora dan melanjutkan perkataannya, \"Itu cerita untuk nantinya bila kita bisa masuk ke dalam bentengnya... namun, saat ini kita harus mengasumsikan dan meyakinkan mereka untuk tidak menembak kita dan menganggap kita sebagai ancaman bagi mereka terlebih dahulu.\"

Kaelith yang melihat benteng itu dan mendengarkan perkataan dari pedagang itu mulai bertanya dan menyiapkan busurnya itu di genggaman tangannya untuk bertindak bila sesuatu akan terjadi jika tak sesuai rencana nantinya.

\"Masih terus berjaga dan waspada penjaganya itu hingga saat ini?\"

Vael yang hanya tahu sedikit mengenai benteng itu dan mendapatkan informasi tambahan dari pedagang itu hanya bisa menimpali pertanyaan dari Kaelith dengan suaranya yang rendah serta mulai menggenggam gagang pedangnya yang berada di pinggulnya itu.

\"Selalu. Namun, tidak semua yang mengenakan baju zirah di tanah ini ingat mengapa mereka melakukannya untuk apa dan untuk siapa.\"

Mendengar hal itu, mereka memutuskan untuk melanjutkan dengan berjalan menuju benteng itu dengan hati-hati. menuruni tanah turunan yang licin, dan sepatu bot mereka berderak di atas kerikil dan tanah yang tandus.

Gerbang dari benteng Lastlight tampak lebar dan terlihat juga ukiran yang sudah terkikis dengan gambaran lambang kuno yang setengah terkubur oleh waktu dan setengahnya lagi terbakar oleh api di gerbang bentengnya.

Tungku yang menyala di kedua sisi dan api yang bergejolak sedang menari-nari meskipun tidak ada angin yang berhembus sebagai tampang dari benteng Lastlight itu.

Saat mereka sampai tak jauh dari gerbang bentengnya dan mulai mendekatinya, suara terompet terdengar dari atas bentengnya yang menembus kesunyian di sekitar tempat itu yang tajam dan terdengar seperti sebuah Peringatan.

Kemudian terdengar suara dari seorang Prajurit yang berjaga di atas gerbangnya itu meneriakkan sesuatu kepada mereka yang mendekati gerbang benteng Lastlight:

\"Beri tahu jalanmu dan tujuanmu atau kami akan mengubah tulang-tulang kalian menjadi abu di bawah tembok kami.\"

Pedagang itu melangkah maju dan kedua tangannya terangkat untuk memberi tanda kepada prajurit itu bahwa mereka hanyalah manusia biasa dan mencoba untuk meyakinkan prajurit itu juga.

\"Kami hanyalah pengembara yang berjalan ke satu tempat ke tempat yang lainnya seperti kau lihat saat ini, mencari kata yang berarti, tempat berlindung, dan jalan di dunia yang sudah hancur ini sebagai penyintas darinya. Kami tidak membawa wabah, racun, atau bahasa yang tidak berguna untuk mencari tempat berlindung.\" Kata pedagang itu dengan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh penjaga benteng itu kepadanya.

Ada kesunyian di antara kedua belah pihak kecuali suara derak api dari arah belakang benteng itu dan ketegangan di tali busur Kaelith yang sudah ia raih bila sesuatu yang mengharuskan dirinya untuk melakukannya bila tak sesuai itu.

Setelah mendengar jawaban pedagang itu dan prajurit itu meninggalkan pos penjagaannya itu mulai berteriak sesuatu kepada rekan-rekannya yang tak bisa mereka paham apa yang dikatakannya namun, tak lama dari itu gerbang benteng itu terbuka perlahan-lahan di hadapan mereka yang tengah menunggu sebuah jawaban.

Gerbang itu terbuka tidak lebar tetapi cukup untuk seseorang yang bisa masuk dan keluar dari celahnya itu dan terlihat seorang pria jangkung, wajah tersembunyi di balik helm besinya, dan zirahnya yang berwarna merah dan abu-abu yang sedikit berkarat itu menghampiri mereka dan mulai pembicaraan mereka yang menunggu jawaban.

“Salah satu di antara kalian membawa sesuatu yang tua. Pedang itu… pedang itu tidak pernah melewati gerbang ini dan tak pernah aku ketahui dari manakah asalnya setelah jatuhnya dunia ini dalam kehancuran.” Kata seorang sipir penjaga benteng itu dengan tatapannya satu persatu kepada mereka dan akhirnya tertuju pada Sora dengan suaranya merendah.

Sora yang menyadari perkataan sipir penjaga benteng itu memilih untuk tidak menjawab pertanyaannya dalam bentuk apapun, melainkan ia hanya melangkah maju menuju ke dalam gerbang itu ketika mereka yang terdiam dan mendengarkan perkataan sipir itu dan terkejut ketika Sora melangkah maju untuk masuk ke dalamnya.

Hanya keheningannya yang berbicara dan menjawab pertanyaan sipir itu dan sipir penjaga gerbang itu memahami apa yang Sora maksud kepadanya sebagai jawabannya dan menyerukan kepada penjaga lainnya dengan mengatakan.

“Biarkan mereka lewat dan biarkan mereka berbicara kepada Sang Penjaga Api.” Kata Sipir penjaga itu kepada para pemanah di tembok.

Gerbang itu berderit terbuka kembali dengan penuh sekarang dan memperlihatkan halaman yang hangus oleh api, menara yang setengah runtuh, serta deretan patung yang telah lama rusak. Patung dari para prajurit di sana telah berubah menjadi batu oleh sesuatu yang jauh lebih kejam daripada waktu. Lastlight bukan lagi sebuah benteng dengan kekuatan pertahanannya yang kokoh saat ini melainkan itu terlihat seperti kuburan yang berdiri tegak bagi para penjaga benteng itu sebagai peristirahatan terakhir mereka yang telah mengabdi di dalam benteng itu.

Di dalam bangunan benteng Lastlight itu, dituntun ke dalam bangunan di dalam bentengnya dan mereka memasuki ruang tengah tempat Sang Penjaga Api berada yang Penjaga Api itu adalah seorang wanita tua dengan penutup mata dan suara yang sudah termakan usia yang ia habiskan untuk menjadi pemimpin di benteng itu tengah duduk di atas singgasana yang singgasana itu berhiaskan dengan lambang api di atasnya yang terlihat menyatu seperti kobaran api dan Penjaga Api itu mulai merasakan kehadiran para tamu yang mendatangi bentengnya itu memulai pembicaraannya.

“Kalian semua membawa aroma dari Borreal, bukan? Dan bau kematian yang menempel pada anak laki-laki itu seperti kekasih.” Katanya kepada mereka semua itu.

Sora yang mendengar hal itu, tidak gentar dengan pernyataan wanita tua itu dan juga tidak menyalahkannya sepenuhnya apa yang dikatakannya. “Kalian mencari Elarion dalam perjalanan, bukan? Maka, kalian harus melewati Weeping Hollow dan menyeberangi Lembah Lentera tapi sebelum itu, ada sesuatu yang harus kau ketahui, Yang Pendiam!” Lanjutnya dengan menunjuk ke arah Sora dengan jari-jemarinya yang sudah tua dan keriput itu.

“Kalau begitu, katakan kepada kami yang menjaga api!”

Kaelith yang mendengar pernyataan itu dengan menyuruhnya untuk melanjutkan perkataannya itu yang terdengar seperti menantangnya daripada bertanya akan suatu hal yang ingin diketahuinya dari apa yang dikatakannya.

Sang Penjaga Api bangkit perlahan dari tempat duduknya dan tangannya melayang di atas gagang pedang yang tertancap di lantai yang ada di hadapan singgasananya serta api muncul di sekelilingnya yang pas dengan julukannya sebagai Penjaga Api dari benteng Lastlight itu berdenyut sekali lalu meredup dengan perlahan-lahan.

“Kegelapan yang kalian ikuti... tidak datang kepada kalian melainkan tengah mempersiapkan sebuah rencana yang menghalangi kalian untuk tidak mengetahui kebenaran tersebut di balik tabir yang telah disembunyikannya dan semakin kalian takut kepadanya, darah akan tumpah sekali lagi di antara kalian hingga kalian tergenggam di atas telapak tangannya. Dia tahu nama-nama kalian baik yang kalian bawa maupun yang kalian kubur itu.”

Ujarnya yang memperingatkan kelompok yang hanya mendengarkan wanita tua yang telah buta itu dan tidak mengatakan apa-apa dari mulut mereka mengenai sebuah ramalan darinya yang mungkin akan terjadi nantinya bahkan pedagang itu pun juga terdiam ketika mendengarkan Sang Penjaga api itu.

“Menginaplah dan beristirahatlah di sini. Saat fajar nanti menyingsing, kalian akan pergi dari tempat ini namun, pilihlah pertanyaan kalian yang kalian pertanyakan dalam hati kalian dengan bijak. Karena, setiap jawaban yang menunjukkan gigi taring pemangsa yang bisa membuat kalian terancam ketika kalian memilihnya tanpa berpikir dua kali.” Tambahnya di akhir perkataannya itu kepada mereka.

Mendengar hal itu, mereka hanya bisa terdiam dan suasananya menegang di sekitar mereka karena ramalan dari wanita tua itu membuat mereka berpikir dua kali dan tidak sepenuhnya memercayainya.

Namun, Sora yang sedari tadi hanya bisa menerka-nerka apa yang dimaksud oleh wanita tua itu akhirnya memahami bahwa yang dimaksudnya adalah hal lain namun ia memilih untuk memendam jawabannya untuk tak membuat yang lainnya salah paham apa yang dimaksudkan oleh Penjaga Api itu.

Para penjaga benteng Lastlight mengantarkan mereka ke kamar yang di arahkan dari petunjuk Sang Penjaga Api tadi dan mereka di arahkan menuju ruangan kecil yang diukir dari batu, jauh dari kehangatan, tetapi dijaga oleh keheningan api yang masih menyala.

Malam itu saat yang lain beristirahat, Sora duduk di dekat api unggun yang dibuat oleh para penjaga benteng dengan setengah menyala yang berada di luar bangunan benteng Lastlight itu dan menatap ke arah nyala api yang tengah menari-nari di bilah pedangnya diletakkan di sampingnya. Tak lama dari itu, pedagang itu datang menghampiri Sora yang sedang menatap api unggun di luar bangunan yang tadinya hanya menikmati udara malam sambil berjalan-jalan sebentar yang pada akhirnya menemukan Sora sedang berada di sana dan duduk di sampingnya. Dengan lembut, pedagang itu berkata:

“Mereka memanggilku Namien, dulunya.” Pedagang itu tidak melihat Sora melainkan ke arah api unggun yang sedang dilihat oleh mereka berdua, dan melanjutkan perkataannya lagi.

“Sebuah nama yang kupendam dulunya. Seperti dirimu, mungkin.”

Tatapan mata Sora yang tadinya memerhatikan api unggun itu langsung melihat ke arah Namien dan menunjukkan ekspresi keheranan ke arahnya. Namien yang sebagai pedagang itu hanya bisa tersenyum pahit melihat reaksi Sora seperti itu kepadanya dan berkata lagi.

“Tapi kau... kau tidak mengubur nama milikmu, bukan? Milikmu sudah kau perlihatkan ke semua orang bukan?”

Sora tidak menunjukkan reaksi apa yang telah dikatakannya melainkan ia ingat akan api itu masih berdenyut dalam dirinya yang paling dalam dan di luar sana, bintang-bintang mulai berjatuhan lagi satu persatu.

Sisa dari bintang-bintang itu bertahan lebih lama di malam hari untuk menemani bulan di sampingnya.

Di koridor benteng Lastlight, obor-obor menyala dengan kesabaran yang muram dan cahaya apinya menerangi kenangan di setiap temboknya yang menolak untuk tetap terkubur oleh peradaban yang melupakan sejarahnya.

Mereka berpisah di berbagai kamar untuk malam itu dan masing-masing dari mereka mencari kesunyian dengan caranya sendiri, seolah-olah kesunyian benteng itu menuntun mereka ke refleksi diri mereka masing-masing sebelum mengetahui sebuah kebenaran yang akan menanti mereka dari musuh-musuh mereka yang menyembunyikannya selama ini.

Vael yang berdiri sendirian di gudang senjata benteng Lastlight, menatap helm berkarat dan perisai yang hampir hancur oleh sebuah retakan hebat di besinya yang memuat lambang Borreal di perisainya bergambar sigil serigala yang mengaum dengan warisan dan kejayaannya yang sudah hancur oleh kehancurannya sendiri.

Jari-jarinya mulai menyentuh spanduk yang telah pudar warnanya dan telah lama ditinggalkan sehingga bekas bercak darah di atas spanduk itu telah lama mengering tapi rasa malu masih meresap jauh di dalam hatinya akan kesalahannya yang membuatnya tak mampu memandang lambang kerajaannya itu sendiri.

Vael melepaskan sarung tangannya dan melihat tangannya yang penuh bekas luka akibat pertempuran yang pernah ia alami mulai dari jari-jarinya yang memiliki banyak sayatan pedang dan bekas kapal yang ada di tangannya akan pertempuran yang pernah ia lalui itu terlihat dan membuatnya sedikit gemetar di tangannya itu.

“Seharusnya aku ditakdirkan untuk mati di sini, bersama dengan yang lainnya dalam mempertahankan kerajaan dan sumpahku itu.” Gumam Vael kepada dirinya sendiri akan rasa bersalahnya di masa lalu yang telah menjadi gemanya.

Tak lama dari itu, sebuah suara langkah kaki bergema dari belakangnya dan terdengar suara seseorang berbicara dari belakangnya juga.

“Namun kau tetap hidup, bukan?”

Itu adalah Sang Penjaga Api yang matanya masih ditutup tapi matanya itu sekilas tampak setua bara yang mampu melihat apa yang ada di depannya atau mendengar seseorang melalui dirinya itu.

\"Kau menjauh dari jalurmu dan kau terlihat dihukum untuk terus berjalan di tanah yang menjadikan tempat sumpahmu itu gagal terpenuhi.\" Tambahnya lagi.

\"Aku tidak memakai warisan itu lagi.\" Vael menjawabnya dengan cepat serta menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa yang berbicara dengannya itu dan ternyata yang ditemuinya adalah Sang Penjaga Api itu sendiri.

\"Tapi hal itu masih utuh di dalam dirimu hingga dirimu saat ini berujar untuk memperbaikinya dan menganggapnya sebagai penebusan dosamu atas masa lalumu yang membuatmu dirimu terbentuk sebuah tujuan dan sumpah yang baru, bukan?\" Penjaga Api itu melanjutkan kalimatnya yang membuat Vael tertegun mendengarkannya dan menjawab perkataan Sang penjaga Api itu dengan pelan dan seperti meragukan dirinya sendiri.

\"Dia lebih kuat dariku dan dia bahkan tidak membutuhkan kata-kata untuk meyakinkan seseorang hingga aku sendiri tak tahu apakah aku layak menjadi sepertinya itu?\" Kata Vael yang mengacu pada Sora dengan membandingkan dirinya itu. Ekspresi Penjaga Api tidak berubah dan melainkan memberikannya sebuah petunjuk mengenai dirinya itu dengan mengatakan.

\"Dan kau masih lebih banyak bicara daripada bertindak. Gunakanlah hal itu sebagai perantara dirimu untuk menjadi perisai bagi yang tak memiliki suara itu.\"

Jeda dalam percakapan mereka membuat hening seketika di gudang senjata itu. Tak lama dari itu, Penjaga Api itu mulai menanyakan hal yang penting kepada Vael yang sudah keluar dari kerajaannya sendiri dan bisa sampai menuju kemari itu.

\"Maukah kau mengikutinya?\" Tanyanya dengan suara yang pelan. \"Aku tidak tahu apakah dia membutuhkanku sebagai perisainya dan suaranya itu.\" Jawab Vael dengan gusar

\"Kalau begitu, layani dia bukan karena gengsi yang kau miliki... tapi karena sebuah tujuan yang membentukmu saat ini dan ke depannya.\" Ujar Penjaga Api itu dengan membalikkan tubuhnya ke arah pintu keluar gudang senjata dan dia meninggalkannya dengan perkataan yang masih menggema di dinding gudang senjata itu dan cahaya obor yang menerangi bayangan panjang dari Vael di atas panji Borreal yang sudah pudar itu.

Sementara itu, Kaelith sedang duduk di atas tembok pembatas benteng dan kedua kakinya tertekuk di bawahnya saat ia membersihkan busurnya yang didapat dari Borreal.

Bintang-bintang terpantul di matanya yang biru itu, tetapi pikirannya melayang ke tempat lain teringat ketika saat jari-jarinya pertama kali menarik tali busurnya untuk melindungi ibu dan saudara perempuannya yang tidak akan pernah melihatnya lagi di hari itu hingga suara terdengar dari dalam benteng itu yang berada di bawahnya.

“Masih belum tidur ketika seharusnya waktunya untuk tidur sekarang?” Suara Namien meninggi dari arah bawahnya. Kaelith tidak menolehnya dengan menanggapinya dengan nada yang datar.

“Bulan tidak pernah tidur, kenapa aku harus tidur?”

Namien yang mendengar hal itu, menaiki tangga dengan hati-hati karena ia membawa dua cangkir yang berisi teh rempah yang menghangatkan itu.

Ketika sampai di tempat Kaelith dan duduk di sampingnya dengan tidak menumpahkan setetes cangkir teh yang panas itu, Namien menyerahkan satu padanya dan Kaelith menerimanya dengan diam dan hati-hati. Menoleh ke arahnya yang seolah-olah sedang mempertimbangkan harga dari momen kebersamaan itu.

“Kau ternyata masih terus menjaga jarak dariku dan tetap berwaspada terhadapku, rupanya?” Tanya Namien dengan seringai kecil di bibirnya itu sambil meniup-niup tehnya yang panas itu.

“Kau berurusan dengan misteri yang tak ingin aku ketahui. Begitu juga dengan diriku, yang jarang untuk memercayai terhadap bayangan kita sendiri.” Jawab Kaelith dengan nada yang datar sambil memandang langit malam yang dipenuhi bintang-bintang yang masih menemani bulan di sampingnya.

Namien yang mendengar hal itu hanya bisa terkekeh pelan dan berkata. “Aku telah melewati banyak jalan yang tak terhitung. Namun, aku jarang bertemu seseorang yang menyembunyikan kesedihannya di balik amarah dan ketepatannya saat bertarungnya.”

Mendengar hal itu, Kaelith melihat ke arahnya dan bertanya dengan heran serta merasa ada yang aneh dari Namien itu.

“Kau pikir aku marah?”

Namien melihat ke arah cakrawala sembari menanggapi perkataan Kaelith itu.

“Kurasa begitu, kau berusaha untuk tidak berduka, bukan?”

Bibir Kaelith mengencang dan tertutup rapat ketika mendengar perkataannya yang tak sepenuhnya salah juga dan jari-jarinya mulai mencengkeram erat cangkir teh yang ia genggam itu.

“Anak itu… Sora, dia membawa kesunyian yang lebih berat daripada teriakan siapapun yang pernah kudengar. Aku melihat di dalam matanya dan aku melihat apa yang mungkin terjadi juga kepada diriku jika aku tidak bertemu dengannya pada saat itu.” Jawab Kaelith dengan nada yang pelan dan mulai mengenang apa yang terjadi di masa lalunya itu hingga saat ini.

“Berarti, kau peduli dengannya!” Kata Namien dengan lebih lembut terhadap pernyataan Kaelith yang Kaelith sendiri tadi tidak melihat Namien saat ia berbicara kepadanya hingga menoleh ke arah Namien saat ini.

“Aku tidak tahu apa yang kurasakan terhadapnya hanya saja saat dia terluka, ada sesuatu di dalam diriku yang terasa ikut terluka juga seperti menanggung penderitaannya.”

Namien tidak mendesak lebih jauh dengan menanyakan mengenai hubungan antara Kaelith dengan Sora itu dan sebagai gantinya, mereka minum teh dengan tenang dan mereka berdua duduk berdampingan di bawah cahaya perak bulan yang menyinarinya.

Di dalam kamar, Sora berbaring diam di tempat tidurnya namun dia tidak tidur dan Matanya terbuka yang pantulan samar dari cahaya api yang berkelap-kelip di dalam matanya itu. Dia mendengarkan suara dari dalam gema masa lalunya yang bermula dari teriakan Eyla yang sekali lagi selalu menghantui di benaknya hingga melihat ekspresi Kaelith, Vael, dan Namien ketika terakhir ia bertarung melawan raja mayat hidup itu yang hampir merengut nyawanya sendiri.

Ketika Sora mencoba merasakan setiap napas dari orang-orang yang bepergian bersamanya dan perasaan akan kekosongan yang menyakitkan telah mengikutinya sejak lahir itu membuatnya tak bisa tertidur hingga ia meraih perlahan ke sisinya dan menghunuskan pedang tanpa nama itu dari sarung pedangnya.

Ujung pedangnya itu berkilau samar yang seolah menanggapi pikirannya dan ingatannya, seakan-akan pedang itu juga mengingat gema yang ia miliki itu juga. Sora menatap bilah pedang itu dengan seksama dan dalam bisikan samar yang hanya bisa didengar oleh pedang itu:

Aku tahu siapa diriku sekarang.

Fajar menyingsing dan sinar bulan kini tergantikan oleh silau dari cahaya mentari pagi. Kelompok Sora itu berkumpul di depan gerbang utama benteng Lastlight dengan diberikan jubah yang baru serta pakaian yang baru untuk mereka setelah melihat pakaian mereka penuh dengan sobekan dan juga kerusakan pada jahitannya itu sebagai tamu dari benteng Lastlight itu.

Mereka dan senjata mereka siap yang sudah berada di tempatnya dan Sang Penjaga Api mengawasi mereka dari jalan setapak yang tak jauh memerhatikan mereka itu mulai mendekat dan mengatakan.

\"Di luar sini, jalan tidak akan menawarkan kenyamanan maupun kejelasan bagi mereka yang terus mencari dan hidup sebagai penyintas dan hanya orang yang mampu dapat bertahan dari ancaman pemangsa yang telah menanyakan keinginan kalian.\" Seru Sang Penjaga Api itu kepada mereka yang hendak ingin berangkat dan meninggalkan benteng Lastlight itu.

Vael hanya mengangguk pelan ke arah Sang Penjaga Api, lalu Sora juga mengikuti tindakan Vael dengan tatapan mata yang penuh akan keyakinannya yang tatapannya tertuju ke depan, memiliki tekad, dan masih banyak bertindak walau dalam keheningannya saat bersuara.

Kaelith melirik sekali ke arah Sora yang melihatnya bagaimana dia mencengkeram gagang pedangnya itu sedikit lebih erat dari biasanya.

Dan Namien, sang pedagang pengembara hanya menyeringai ketika mendengar hal itu sambil membetulkan jubahnya.

“Kalau begitu, ke Lembah Lentera dan kita lihat apakah takdir masih mau menyalakan obor untuk orang-orang bodoh seperti kita ini.”

Ujar Namien yang memulai perjalanan mereka itu yang nantinya menuju ke arah kerajaan Elarion namun harus melalui Bonewilds dan Lembah Lentera itu sebelum mencapainya dan gerbang benteng Lastlight itu terbuka dengan lebar dan para penjaga benteng memberikan hormat di hadapan mereka sebelum keluar dari benteng itu.

Perjalanan mereka dilanjutkan dengan bergerak menuju tanah yang pernah mengingat akan adanya cahaya dan takut akan kembalinya cahaya itu juga.


Other Stories
Test

Test ...

Kabinet Boneka

Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Download Titik & Koma