Bab Empat Belas: Tenang Sebelum Badai
Bagian dalam pondok batu itu terasa seperti mereka melangkah ke dunia yang tak tersentuh oleh waktu sekalipun dengan pemandangan buku-buku yang berjejer di rak dindingnya, gulungan-gulungan yang dijilid dengan tali kulit, beberapa peta yang diukir di kayu, dan beberapa artefak yang memiliki kekuatan magisnya yang bersinar dengan cahaya remang-remangnya.
Beberapa rempah-rempah yang akan dijadikan obat herbal tergantung kering di langit-langitnya dengan aromanya yang bercampur dengan asap dari perapian kecil di sudut ruang tengahnya itu dan suasana di dalam pondok terasa hangat, tenang dan nyaman tetapi, penuh dengan kaya pengetahuannya.
Namien melangkah masuk dengan hati-hati dan santai dan Sora yang mengikutinya dari belakang dengan matanya sedang mengamati barang-barang aneh yang terukir di batu-batu dekat perapiannya.
Pria yang menyambut mereka itu memiliki postur tinggi dan sudah tua tetapi, tenang ketika ia memberi isyarat kepada mereka agar masuk dengan mempersilahkan mereka seperti tamu pada umumnya.
“Duduklah kalian berdua dan biarkan debu lama yang mengendap itu menghilang dari tempatnya sebelum napas kalian membawa beban darinya.” Kata mentor Namien itu dengan sedikit bercanda kepada Namien dan Sora itu.
Namien hanya terkekeh pelan ketika mendengar mentornya tak berubah seperti terakhir kali ia menemuinya.
“Kau selalu berbicara seperti teka-teki dan puitis seperti anak umur lima tahun yang baru bisa berbicara saja.”
Pria itu hanya mengangkat alisnya lalu tersenyum tipis dengan tingkah laku muridnya yang masih sama kurang ajarnya saat ia masih mengajar Namien itu.
“Dan kau masih saja bicara seperti orang yang tengah mabuk dan terbakar oleh alkohol yang kau bawa itu.”
Namien tertawa pelan dan menurunkan tudung kepalanya yang memperlihatkan rambutnya yang juga beruban. “Senang bertemu denganmu lagi, orang tua.”
“Dan juga kau, Si Ular Berjubah Robek.” Balas mentor Namien dengan tersenyum ketika melihat Namien itu.
Sora yang mengamati mereka hanya bisa memperhatikan pembicaraan dan reuni mereka berdua itu terasa aneh dan membingungkan hingga ia sendiri memiringkan kepalanya dengan senyum bingungnya itu .
Namien menggaruk tengkuk kepalanya sembari berkata ke Sora.
“Dulu dia memanggilku dengan sebutan julukanku di Azure College. Katanya aku pandai dalam menghindari beberapa setiap kesalahan dengan seringai dan rencana yang gila.”
Mata lelaki tua itu berkerut di ujungnya dan hanya bisa tersenyum mendengarnya. “Nama yang pantas untuk dirimu hingga saat ini.”
Namien tersenyum lalu menundukkan kepalanya. “Kau juga tahu mengapa aku pergi dari Azure College dan apa yang telah aku hancurkan di sana. Semenjak hari itu, aku tidak pernah kembali lagi karena aku—”
Mentor Namien itu mengangkat tangannya untuk menyela perkataan Namien itu yang ia tahu mengarah ke mana pembahasannya dan ia berkata dengan tenang.
“Aku tahu hal itu.”
Pria tua itu meletakkan tangannya di bahu Namien. “Aku juga tahu mengapa kau kembali saat ini yang bukan sebagai penebusan dosa tapi, sebagai tujuan dan hal itu sudah cukup bagimu terus berjalan ke depannya.”
Namien menghela napasnya dengan lega dan bebannya yang terasa sangat berat itu dengan sedikit mengurangi beban yang ia pikul itu atas kesalahannya yang bukan sebagai pengampunan bagi dirinya melainkan pengertian yang cukup dari seseorang yang dekat dengannya atas perubahan yang ia tampakkan saat ini.
“Terima kasih, Arsitek Keheningan.” Ujar Namien.
Namien menoleh ke arah Sora dan berkata kepadanya. “ Dan begitulah mereka memanggilnya dengan Arsitek Keheningan. Dia adalah satu-satunya penyihir di Azure College yang tidak pernah meninggikan suaranya tetapi, kehadirannya itu dapat membuat seluruh isi tempat itu menjadi sunyi karena murid-muridnya itu menaruh rasa hormat kepadanya dan mereka mendengarkan setiap perkataan Arsitek ini.”
Pria tua itu sekarang menatap langsung ke arah Sora dan tatapannya tidak menyelidikinya dan tidak pula menghakiminya hanya pandangannya itu melihat sesuatu yang menarik perhatian pria tua itu kepada Sora yang tak biasa itu.
“Kau tidak berbicara tetapi, kesunyianmu bukanlah sebuah kekosongan dan kehampaan seperti orang yang sudah putus asa akan menjalani kehidupannya di dunia ini dan hal itu adalah beban yang kau bawa. Dibawa dan dipertajam sedemikian rupanya dalam kesunyianmu untuk memikul di setiap langkahmu itu, Si Pendiam.” Katanya dengan lembut.
Sora yang mendengarkannya itu hanya bisa menundukkan kepalanya dan secara tak sadar ia melakukan sebuah gerakan hormat kepadanya akan yang dikatakan Namien itu benar seutuhnya.
Arsitek Keheningan itu mengangguk kecil lalu memperkenalkan namanya dengan tegas tapi dengan nadanya yang pelan untuk pertama kalinya: “Aku Solhen Merach dan kau tidak perlu berbicara agar aku tahu siapa dirimu itu, Si Pendiam.”
Solhen beranjak dari tempat duduknya itu menuju ke perapian untuk mengaduk ketel besi kecil di atas bara apinya yang sudah mendidih itu dan menuangkan teh herbal yang mengepul ke dalam tiga cangkir yang sudah ia sediakan lalu berbalik ke arah mereka berdua sembari menawari mereka dan menaruh cangkirnya di meja tepat berada di hadapan mereka.
\"Sekarang katakan kepadaku, mengapa kau datang jauh-jauh kemari, Namien? Dunia akan berakhir dan genderang perang sudah bertabuh yang sudah kau dengar tentunya. Kau mencari seorang lelaki tua ini yang bersembunyi di balik pepohonan hutan untuk meminta saran atau apakah ada hal lainnya yang ingin kau katakan, mungkin?\" Tanyanya dengan nada suaranya serius.
Setelah itu, ia meminum teh herbal yang ia buat itu dengan perlahan-lahan. Namien mulai membenarkan posisi duduknya itu dan meletakkan cangkir teh di atas mejanya.
\"Kita membutuhkan jawaban, Solhen. Bukan dari buku dan bukan dari ramalan, melainkan dari seseorang yang mengerti api yang tidak terbakar oleh amarah.\"
Lalu Namien mulai menunjuk ke arah Sora dan melanjutkan pembicaraannya.
\"Anak itu bertahan dari penderitaan yang sudah dilaluinya seorang diri yang orang lain mungkin belum pernah mengalaminya yang bukan sekedar nasibnya yang pialang itu. Melainkan, ia hidup dan lahir dari setiap akan ingatannya hingga setiap langkahnya yang diambilnya itu membuat dunia yang hancur ini sedikit tertekuk oleh tindakannya yang melebihi teriakan seseorang yang meminta pengampunan maupun pertolongan. Rune di dadanya itu bukan sekedar Rune yang pernah kami pelajari bahkan mungkin dirimu tak mengetahui apa yang menjadikan anak ini tak bisa dijelaskan oleh kata-kata karena hanya dunia ini saja yang mengingatnya di setiap langkah dan mungkin sebuah jawaban atas Rune yang ia miliki dan bawa hingga saat ini.\"
Mata Solhen sedikit menyipit dan menoleh ke Sora sekali lagi.
\"Dan apa yang kau cari, Si Pendiam?\" Tanyanya yang lebih mengarah kepada jiwanya daripada pikirannya.
“Kebenaran? Identitas? Atau kau hanya mencoba membawa apa yang telah ditinggalkan orang lain sebagai warisan bagimu?”
Sora tidak berkata apa-apa setelah mendapatkan beberapa pertanyaan Solhen tetapi, tangannya bergerak ke gagang pedang di sarungnya yang di mana jari-jarinya beristirahat di sepanjang gagangnya dengan lembut.
Solhen yang melihat reaksi Sora itu hanya mengangguk pelan dan mengerti apa yang dimaksudnya itu.
“Kalau begitu, kita masih mempunyai banyak hal untuk dibicarakan. Gunakan waktumu sebaik mungkin, Si Pendiam.”
Solhen mengambil posisi duduknya itu dengan tenang dan suaranya melembut saat matanya memantulkan cahaya dari perapian.
“Karena apa yang kau bawa itu dari yang kulihat, lebih tua dari darah dan lebih berat dari keheninganmu itu sendiri. Hanya api di dalam dirimu yang dapat mendengarkan dan menunjukkan kepadamu bagaimana cara membawanya tanpa harus membakar siapakah dirimu itu sebenarnya.”
Maka dimulailah percakapan panjang antara Si Ular Berjubah Robek, Arsitek Keheningan, dan Si Pendiam dalam satu ruangan di dalam pondok itu.
Pertemuan yang berada di satu meja dan tiga orang sedang duduk yang akan memulai segala pertanyaan yang menunjukkan diri mereka masing-masing dan bukan hanya untuk ke depannya tetapi, juga mengungkap apa sebenarnya api yang dibawa oleh Sora selama ini yang membuat Solhen berkata sedemikian rupa kepadanya.
Api di perapian Solhen berderak pelan dan baranya masih bersinar seperti bintang yang sedang tertidur di atas langit.
Teh di atas meja telah menghangat yang tak tersentuh saat keheningan di antara mereka bertiga semakin dalam bukan karena canggung tetapi, karena mereka mulai memberikan jawaban dari setiap pertanyaan kepada mereka itu nantinya.
Solhen yang bersandar di kursinya itu dengan menyandarkan badannya dengan lembut meskipun suaranya tetap tenang seperti biasa dan ia menatap Sora dengan tatapannya tenang, penuh perhatian, dan rasa penasaran Solhen semakin menguat ketika ia melihat sosok Sora yang begitu berbeda dengan setiap orang yang pernah ia temui itu.
\"Bolehkah aku bertanya sesuatu, Si Pendiam?\" Tanyanya dengan pelan.
Sora mengangkat kepalanya yang tengah menunduk sedari tadi untuk melihat wajah Solhen yang ingin bertanya mengenai dirinya itu. Solhen mengangkat satu jari dan berkata.
\"Pertama, kapan pertama kali kau merasakan api di dalam dirimu? Bukan kekuatannya dan bukan perasaan yang kau rasakan di setiap pertarungannya itu melainkan api itu apakah ada sesuatu di dalam dadamu yang tidak membakar tubuhmu tetapi hal itu menghanguskan keheninganmu?\"
Pertanyaan Solhen yang pertama itu kepada Sora membuatnya membeku seketika dan matanya mulai berkedip perlahan-lahan.
Ketika kepalanya tertunduk yang bukan karena malu melainkan karena setiap kenangan yang teringat dalam benaknya.
Yang dimulai dari kenangan masa lalunya abu dan bau hangus dari sebuah desa yang pernah ia tinggali bersama Eyla, gema langkah kaki yang berlari menjauh ketika ia berinteraksi dengan dunia luar untuk pertama kalinya, dan kehangatan tangan Eyla saat hari di mana Eyla menghangatkan dirinya dari musim salju di dalam gubuknya yang kecil itu.
Lalu, Sora menarik nafasnya dalam-dalam dan tangannya bergerak dengan perlahan dan menempelkannya di dadanya dengan telapak tangan terbuka.
Kemudian Sora menelusuri garis dari dadanya ke bawah hingga melintasi bekas luka dalam yang masih terukir di kulitnya itu.
Dan jawaban Sora untuk pertama kali ia merasakan api itu ketika saat ia seharusnya mati tetapi menolak untuk membiarkan dirinya untuk tergeletak di atas tanah demi sebuah kenangan yang terus membuat dirinya mengingat siapakah dirinya itu sebenarnya.
Namien memperhatikan Sora dalam keadaan diam dan Solhen juga mengangguk pelan sembari berkata.
\"Lahir dari kematian, bukan karena kehancurannya yang menimpa dirinya tetapi, penolakan akan hancur yang membuat dirinya mendekati kematiannya sendiri. Itu sangat langka ditemui.\" Kata Solhen yang mengetahui maksud perkataan Sora itu.
Kemudian, Solhen mengangkat jari kedua dan memberinya pertanyaan lagi.
\"Kedua, apa yang akan kau lakukan jika dunia yang kau coba lindungi itu menolak untuk berubah? Dan bagaimana jika kau membakarnya akan rasa putus asamu dalam mengubahnya itu untuk menuntunnya dan tetap saja, dunia lebih memilih untuk menetap dalam bayangan tergelapnya?\"
Tanyanya dengan suaranya lebih lembut sekarang ini dan pertanyaan ini membuat mata Sora sedikit menyipit.
Sora tidak langsung menjawab pertanyaan Solhen itu melainkan ia menatap perapian di sudut ruangan itu.
Lalu Sora menunjuk ke arah dirinya sendiri yang di mana ia ragu-ragu akan sebuah jawaban yang tak bisa ia harapkan hingga membuat jari-jarinya mengepal lalu mengendur ketika ia hendak memberikan jawaban yang berasal dari hatinya itu dengan ia membuat gerakan.
Yang pertama, ia berpura-pura memegang sesuatu lalu perlahan ia melepaskannya begitu saja dan kemudian ia menunjuk dirinya sendiri dan mengangguk dengan pelan sebagai jawaban darinya.
Solhen memejamkan matanya sejenak hingga ia bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya Sora katakan itu. \"Kau akan tetap melangkah maju bahkan jika dunia memunggungimu sekalipun.\"
Lalu, pertanyaan terakhir datang yang di mana Solhen bertanya dengan nada yang paling pelan dari sebelumnya: \"Dan terakhir, Sora...\"
Solhen mulai mencondongkan tubuhnya ke depan dan kedua tangannya itu memegangi lututnya itu.
\"Apa yang akan kau lakukan, saat perjalananmu itu telah menemukan akhirnya?\"
Kali ini, Sora tidak langsung bergerak untuk mengatakan sebagai jawabannya. Ia tampak tenggelam dalam pikirannya seolah-olah ide itu sendiri terlalu jauh untuk disentuh dan dipikirkan olehnya.
Nafas panjang berlalu dari helaan nafasnya dan pada akhirnya ia mendongak untuk melihat wajah Solhen itu lalu dengan lembut ia mulai mengangkat jari-jarinya dan menunjuk api di perapiannya itu lalu ia menunjuk kepada dirinya sendiri setelah itu dan setelah kepada dirinya itu ia menunjuk ke arah kepada Namien.
Dan di akhir jawabannya itu... Sora menggambar sebuah lingkaran di udara bukan sebagai lingkaran api atau lingkaran takdir melainkan lingkaran kelanjutan dari kehidupannya dan teman-temannya itu.
Solhen yang memperhatikannya itu, mulai tersenyum lembut kepadanya dan penuh pengertian yang tersungging di sudut mulutnya. \"Begitu rupanya, kau tidak ingin perjalanan ini berakhir. Kau hanya ingin beban yang kau pikul bisa menerangi jalan bagi orang lain bahkan jika kau sudah tiada sekalipun.\"
Sora yang mendengarkan perkataan Solhen itu mengangguk sekali sebagai tanda untuk membenarkan apa yang Solhen katakan dengan ekspresinya tenang dan perasaan yang nyaman. Solhen duduk bersandar kembali setelah menyandarkan tubuhnya dengan nyaman.
\"Kalau begitu kau bukan hanya sekedar sebagai pembawa api, kau adalah penjaganya dan hal itu lebih langka lagi.\" Katanya dengan senyum yang tulus dan menyimpulkan dari keseluruhan jawaban Sora dari pertama hingga akhirnya.
Namien yang memerhatikan mereka berdua itu hanya bisa menggaruk kepalanya. \"Kau... mengerti semua yang diucapkannya itu?\"
\"Aku tidak perlu mendengarkannya. Hanya saja, aku pernah melihat keheningan seperti itu sebelumnya pada siswa yang selamat dari keruntuhannya kepada penyihir yang kehilangan suaranya tetapi, tidak pada keyakinan yang mereka bawa.\" Jawab Solhen dengan tegas dan lembut kepada Namien.
Solhen menatap Sora sekali lagi. “Kau bukanlah api, Sora. Namun kau adalah wujudnya dan segera kau akan diuji cepat atau lambat.”
Solhen berdiri dari tempat duduknya itu lalu berjalan menuju rak-rak yang berisikan gulungan-gulungan yang disimpan olehnya itu untuk mengambil gulungan kecil yang terselip di antara batu bata dekat perapiannya.
“Jadi, kau akan membutuhkan petunjuk untuk jalan ke depannya karena ketika musuh sejati melangkah ke jalanmu… itu tidak akan hanya menantang pedangmu, atau kekuatanmu.” Gumamnya dengan membuka gulungan kecil itu dengan perlahan dan memperlihatkan tulisan kuno yang samar-samar dan bersinar merah bercampur dengan keemasan.
Lalu, Solhen menatap Sora dan Namien dengan suaranya yang rendah, serius, dan penuh keyakinan. “Itu akan menantang juga apa yang diingat oleh apimu.”
Perkataannya itu... akan menjadi sebuah ujian yang tidak akan pernah bisa dilawan oleh pedang mana pun.
Api menyala pelan di perapian, keheningan kini terasa lebih berat daripada badai mana pun. Solhen memegang gulungan kecil itu dengan hati-hati, rune-rune itu bersinar dengan bara api lembut yang berdenyut seperti napas.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah maju dan mengulurkannya kepada Sora.
Sora menerima gulungan itu dengan kedua tangannya yang penuh hormat dan hati-hati seolah-olah ia tidak memegang sebuah perkamen melainkan seperti sepotong jiwa seseorang.
Sebelum membuka gulungan itu, Sora menoleh sedikit ke arah Solhen dan dengan gerakan kecil, ia mulai memiringkan tangannya yang sedikit menekuk untuk meminta izin kepada Solhen sebelum membaca isi suratnya itu.
Solhen menatap matanya dan mengangguk perlahan. \"Silakan.\"
Sora membuka gulungan itu dengan perlahan hingga tulisan di dalam gulungan itu mulai berkilau dengan samar saat bergeser di sepanjang halamannya yang bukan karena sihir berada di dalamnya tetapi, karena pengenalannya akan tinta itu seperti tahu siapa yang akan membacanya.
Mata Sora mengamati setiap tulisan yang ada pada gulungan itu yang sesaat ia tidak bereaksi apa-apa.
Namun, ketika ia semakin membacanya itu perlahan membuat napasnya tercekat yang di dalam gulungan itu bertuliskan yang membuatnya ada sesuatu dari dalam dirinya telah diberi sebuah gambaran bagi orang-orang seperti dirinya itu. Namien yang melihat perubahan reaksi Sora itu dengan segera menanyakan kondisinya.
\"Sora...?\"
Namun Sora tidak menoleh ke arah Namien yang terus menerus membaca isi dari tulisan gulungan itu. Hingga ketika ia selesai membaca gulungan itu, dengan perlahan menurunkannya ke pangkuannya hingga menggulungnya seperti sebelumnya.
Genggaman tangan Sora mulai mengendur dan matanya yang telah membaca setiap tulisan itu dalam gulungannya hanya bisa berpasrah diri ketika mengetahui isinya.
Lalu... senyum tipis yang rapuh terlihat di bibirnya yang menandakan nasibnya itu apakah seperti melihat penglihatan masa depannya sesaat dan dengan berat menerima apa yang mungkin hal itu bisa terjadi pada dirinya di masa depannya.
Namien menatap antara Sora dan Solhen yang membuatnya kebingungan.
\"Oke, apa yang baru saja terjadi? Apa isi dari gulungan itu kau berikan kepadanya, pak tua?\"
Solhen tidak langsung menjawab pertanyaan Namien itu sebaliknya, ia berjalan kembali ke kursi di seberang Sora dengan melipat tangannya ke belakang dan berbicara pelan seolah-olah mengungkap kenangan yang lebih tua dari mereka berdua.
\"Itu memberitahunya akan kebenaran yang mungkin Si Pendiam itu mencarinya, bukan tentang siapa dia... melainkan tentang apa yang tengah diemban olehnya itu selama melakukan perjalanan.\" Kata Solhen dengan menyadarkan kembali punggungnya di sandaran kursi itu.
Namien mulai mengerutkan keningnya dan ekspresinya mulai berubah. “Kau harus lebih jelas dari itu, Arsitek.”
Mata Solhen tetap menatap Sora saat dia hanya melihat reaksinya itu dan ketika menoleh ke arah Namien untuk menjawab pertanyaannya dengan nadanya yang datar.
“Gulungan itu tidak mengungkapkan ramalan atau pun tidak menunjukkan takdir seseorang. Melainkan hal itu menunjukkan beban yang diingat oleh seseorang yang membawa api itu selain dibawa di dalam dirinya sendiri itu.”
Solhen seketika langsung berbicara dengan nada yang serius ke arah Namien.
“Sora… ia membawa sisa-sisa dari seseorang yang sudah lama terlupakan dan seseorang yang membawa api yang berbeda di dalam siklus yang jauh sebelum dunia ini. Itu tidak diwariskan kepadanya… melainkan hal itu terlahir kembali di dalam dirinya dengan sesuatu yang berbeda dengan dirinya saat ini.”
Bibir Namien sedikit terbuka dan tak mengerti apa yang dimaksud oleh Solhen itu. “Kenangan? Tentang orang lain? Apa maksudmu itu?”
Sora melihat ke arah Namien dan ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan perlahan untuk menghentikan pertanyaan Namien itu.
Solhen melanjutkan apa yang dimaksud oleh perkataannya tadi, “Ketika saatnya telah tiba, kenangan itu mungkin akan bangkit yang bukan sebagai kepemilikan dan bukan sebagai kegilaan tetapi, sebagai sebuah pilihan baginya. Satu pilihan yang akan ditawarkan oleh api itu kepada dirinya sendiri.”
Namien menggaruk-garuk kepalanya itu yang masih kebingungan dan penuh keheranan yang sudah tak bisa mencerna setiap perkataan yang sudah berada di luar jangkauannya itu.
“Yah, itu sedikit tekanan kosmik yang sama sekali aku tak paham bila kau terus menerus mengatakan hal seperti itu, pak tua.”
Solhen hanya terkekeh pelan ketika melihat Namien sudah menyerah dengan menemukan jawaban atas pertanyaannya itu. “Dia menanggapinya dengan tenang untuk setidaknya saat ini, bukan?”
Namien kembali menatap dengan senyum pahit yang samar dan merasakan apa yang dirasakan Sora saat ini.
“Terlalu tenang untuk Si Pendiam.”
Untuk beberapa saat, ruangan itu kembali sunyi dengan api perapiannya yang menyala namun tak membara lagi dan gulungan itu masih memancarkan sinar samar di tangan Sora akan kebenaran yang pahit tentang dirinya itu.
Lalu Namien memecah kesunyian di tengah-tengah ruangan itu.
“Arsitek Keheningan, aku datang ke sini tidak hanya untuk memintamu menguji jiwanya saja melainkan, kau telah mengetahui apa yang akan terjadi ke depannya dan kau merasakannya, bukan? Jika kita tidak memenangkan peperangan ini… Elarion akan terbakar oleh sesuatu yang tak dapat kau bayangkan mungkin hingga semuanya akan menyisakan tanah dan puing-puing reruntuhan kerajaan yang berdiri untuk rakyatnya.”
Solhen hanya menoleh dan tak menanggapi pernyataan Namien itu dengan tidak mengatakan apa-apa.
Hingga Namien menghembuskan napasnya itu dan berdiri dengan bahunya yang mulai menegang. “Aku membutuhkan bantuanmu bukan sebagai mentor yang kukenal dan bukan sebagai orang tua bangka yang sering kurang ajar kepadamu dan menunggu akan hukuman yang kau berikan tapi sebagai Arsitek Keheningan itu sendiri. Karena itu, tidak ada yang tahu cara melawan apa yang akan datang ke Elarion ini yang lebih baik dari dirimu itu dan aku tidak malu untuk mengatakannya… bahwa kau adalah kunci untuk satu-satunya kesempatan bagi kami untuk memenangkan pertempuran yang akan datang nantinya.”
Suara Namien mulai merendah dan ia tak ragu untuk memohon kepada Solhen yang dulunya sebagai mentor dan salah satu pendamping terdekatnya ketika masih berada di Azure College itu.
Solhen mengalihkan pandangannya itu menatap api perapian yang berderak kecil dengan waktu yang cukup lama dan kemudian, akhirnya Solhen menanggapi permohonan Namien itu.
“Kau telah mengetahui diriku ini yang selalu menjauh dari kondisi perang, Namien. Aku mengubur semua ilmu sihirku dan pengetahuanku untuk peperangan yang kau maksud itu di dalam hutan ini untuk melindungi kehidupan yang ada di sini dan bukan untuk menghancurkannya.”
Ekspresi Namien menegang seketika dan berusaha keras untuk membujuknya itu. “Jika kau tidak membantu kami... tidak akan ada yang tersisa untuk dilindungi termasuk tempat ini, kami sendiri, dan mungkin umat manusia akan menemui akhirnya itu.”
Ketika Namien memohon kepada Solhen agar turut andil dalam peperangan di Elarion yang akan datang itu, Sora hanya menatap Solhen dengan tenang dan cahaya samar gulungan itu kini meredup di pangkuannya.
Dan di saat itu, mata Solhen bertemu pandang dengan Sora dan di sana, tidak terlihat permohonan tetapi, sebuah tekad yang setelah lama terdiam melihat Sora itu, Solhen memutuskan untuk berdiri dari tempat duduknya itu dan ia beranjak ke sebuah peti usang yang berada di sudut pondok dan ia membukanya dengan perlahan serta mengeluarkan sebuah barang-barangnya yang dibungkus oleh kain panjang dengan kain berwarna merah pudar yang diikat dengan tali hitam itu.
Solhen berbalik arah untuk melihat mereka berdua dan berkata dengan sederhana: “Kalau begitu, aku akan membantu kalian berdua untuk permohonanmu yang terakhir kalinya ini.”
Dan begitu saja, Arsitek Keheningan setuju untuk kembali berperang selama bertahun-tahun lamanya yang membuat julukannya itu tak dikenang oleh generasi saat ini dan ia membantu mereka berdua bukan karena untuk melampiaskan amarahnya atau merasa iba kepada mereka berdua melainkan untuk menuntun api muda itu yang akan menentukan nasib dari sebuah kerajaan.
Cahaya yang begitu hangat dari perapian kini meredup saat Solhen berdiri dengan membawa bungkusan kain merah itu yang berada di tangannya seperti kenangan yang kembali menjadi daging dalam kulitnya itu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Solhen berbalik ke kamarnya itu yang berada di dekat ruang tengahnya itu dan membuka pintu kamarnya yang berderit dengan pelan. Kamarnya itu memperlihatkan sebuah ruangan yang diterangi oleh satu lentera dan dipenuhi beberapa gulungan, jubah miliknya, dan artefak yang sudah lama tidak tersentuh.
\"Aku tidak akan lama, tunggulah aku di luar pondok. Aku harus mempersiapkan beberapa barangku untuk perjalanan nanti.\" Katanya dengan nada pelan itu dan menutup pintu kamarnya.
Sora dan Namien hanya bisa melihat tindakan Solhen yang menyetujui untuk membantu mereka itu bisa mengangguk saja dalam diam dan melangkah keluar pondok yang di mana senja matahari dan angin yang sejuk mulai berhembus.
Di luar pondok, keheningan hutan menyambut mereka berdua lagi yang begitu damai seperti waktu telah melipat mereka di seluruh dunia ini dan waktu memperlambat waktunya menjadi momen yang di mana mereka bisa menghirup napas dengan kelegaan.
Mereka berdua berjalan beberapa langkah melewati ambang pintu depan dan menunggu Solhen di dekat pohon besar yang berada di tepi jalan setapak pondoknya.
Namien mulai menghembuskan napasnya dengan perlahan dan lengannya disilangkan di atas dadanya itu saat dia melihat atap pondok yang tertutup lumut.
“Baiklah, aku harus bertanya akan rasa penasaranku tadi di dalam ruangan.” Katanya dengan pelan saat ia menoleh ke arah Sora yang memiringkan kepalanya sedikit atas perkataan Namien itu.
Nada bicara Namien kini lebih lembut dari biasanya yang tidak mengejek dirinya dan tidak mendesaknya hanya… menyelidiki apa yang Sora lihat itu.
“Apa yang kau lihat di dalam gulungan itu?”
Sora terdiam sejenak dengan kepalanya menunduk ke bawah lalu berpaling dari Namien yang bukan karena rasa bersalah tetapi, sesuatu yang lebih pribadi dan lebih dalam bagi dirinya. Sora tidak menjawab pertanyaan Namien terkait hal itu.
Namien mengerutkan keningnya dan mengepalkan tangannya lebih erat. “Kau tidak bisa memberitahuku?”
Sora membalasnya dengan menatapnya dan ekspresi wajahnya saat ini tenang tetapi, kesedihan masih terpancar di matanya itu hingga ia hanya menggelengkan kepalanya untuk tidak menjawabnya.
Namien mengusap pangkal hidungnya dan mulai menghembuskan napasnya. “Solhen mengatakan sesuatu yang berkaitan bukan dari dunia ini yang terikat oleh api dengan kemisteriusan dalam dunia ini yang sekarang terlihat samar-samar.”
Namien tertawa kecil tetapi tidak sekuat biasanya. “Baiklah kalau begitu. Pertanyaan berikutnya.”
Namien mengajukan pertanyaan yang penuh dengan kesadaran ke Sora. “Apa yang kau katakan kepada Solhen?”
Sora merasa bingung apa yang diucapkan Namien dengan mengangkat sebelah alisnya yang heran itu.
Namien memberi isyarat dengan lambaian kecil agar ia memahami maksudnya. “Maksudku, pria tua itu bilang dia sudah selesai dengan perang bahwa dia meninggalkannya sudah lama sekali. Kau lihat betapa ragunya dia pada awalnya tapi saat kau melihatnya, dia setuju untuk meninggalkan rumahnya dan bergabung dengan kita. Tidak ada pertanyaan dan tidak ada perubahan pikiran kedua kalinya untuk membantu kondisi kita saat ini.”
Namien menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan perkataannya itu. “Aku sudah mengenalnya selama bertahun-tahun dan dia tidak pernah bergerak seperti itu tanpa sebuah alasan.”
Sora terdiam sejenak untuk memahami maksud Namien itu lalu, dia menunjuk dirinya sendiri dan meletakkan tangannya di dadanya. Hanya itu saja mungkin yang membuat Solhen tertarik dalam membantu kita saat ini.
Tidak ada kata-kata dan tidak ada gerakan persuasi.
Hanya menyaksikan sesuatu kepada orang lain dan membiarkan mereka membuat pilihannya sendiri.
Namien berkedip ketika melihat jawaban Sora seperti itu dan mulai mengerutkan keningnya. “Maksudmu… kau tidak bertanya kepadanya terkait alasannya itu?”
Sora menggeleng-gelengkan kepalanya dan bibir Namien sedikit terbuka lalu melengkung menjadi senyum samar dan dipenuhi kebingungan.
“Kau baru saja… memandanginya, saja?”
Sora mengangguk dengan pelan.
Namien menghela napas kecilnya yang hampir tidak percaya dengan Sora katakan. “Tidak bisa dipercaya bahwa Arsitek Keheningan menerima permohonan untuk kembali ke medan peperangan hanya bertukar pandang saja? Mustahil sekali.”
Tak lama dari kejadian itu, pintu di belakang mereka berderit terbuka dengan perlahan. Solhen Merach melangkahkan kakinya keluar dari pondoknya itu dan kini ia mengenakan jubah abu-abu tua yang berlapis selempang merah tua dan sewarna kulit kayu.
Di punggungnya tersampir bungkusan panjang yang masih belum dibuka dan di pinggangnya, ia mengenakan ikat pinggang yang dihiasi beberapa jimat perak tua dan cincin berukir api yang berdenyut samar dengan sihir yang telah lama disegelnya.
Solhen menatap hutan di sekitarnya dan tangannya menyentuh kusen pintu pondoknya itu dengan lembut dan ujung jarinya berlama-lama di anak tangga batu.
Ia membisikkan sesuatu yang tidak mereka berdua pernah dengar sebelumnya seperti ucapan selamat tinggal kepada pepohonan, kepada keheningannya, dan kepada kehidupan yang telah dibentuk olehnya dengan keheningan.
Lalu, menoleh ke dua pengembara yang menunggunya itu di hadapannya.
“Ayo, kita pergi.”
Maka, ketiganya Si Pendiam, Si Ular Berjubah Robek, dan Si Arsitek Keheningan melangkah ke dunia yang bersiap untuk menghadapi peperangan di kerajaan Elarion itu dengan bersama-sama dan hutan di belakang mereka, kini menyaksikan mereka bertiga pergi dari sana dan tidak berkata apa-apa selain mendoakan mereka bertiga dalam keheningannya.
Matahari menggantung rendah dan berwarna merah merona di langit saat ketiga sosok itu bergerak melalui jalan setapak di hutan belantara dengan bayangan mereka yang ikut memanjang.
Jalan-jalan yang mengarah kembali ke Elarion berkelok-kelok melalui perbukitan dan penyeberangan tepi sungai, setiap langkah yang membawa mereka lebih dekat ke kota yang kini bersiap menghadapi badai yang akan datang tentunya.
Namien berjalan di depan dengan memegang peta dan menggumamkan perhitungan yang setengah jadi. Sora tetap berada di sisinya yang selalu waspada di sekelilingnya itu dengan kesunyiannya yang mantap dan tenang.
Solhen yang berjalan di belakang mereka tampak tidak terpengaruh oleh beratnya perjalanan yang dilaluinya dengan langkah kakinya ringan yang hampir tanpa suara itu seolah-olah dia bergerak mengikuti angin daripada melawannya.
Keheningan itu telah berlangsung lama, hingga akhirnya Solhen memecah keheningan dengan suara tenangnya: \"Berapa lama lagi persiapannya itu sebelum genderang perang ditabuhkan?\"
Namien menoleh dari ke arahnya.
\"Kami menyerahkan strategi kami kepada raja sebelum kami pergi dan pastinya mereka sudah mulai bergerak untuk mengatur jebakan, unit pelatihan, rotasi pemanah... semuanya yang diperlukan.\"
Namien membetulkan tali tasnya itu sebelum melanjutkan perkataannya. “Kita punya waktu sekitar dua bulan dan kini sudah mendekati enam minggu dari sekarang, kurasa.”
Solhen mengangguk sekali dengan tatapannya mengamati langit berwarna oranye itu berkata. “Dan apakah anginnya itu bertiup dengan kencang di dekat kota?”
Namien menunjukkan ekspresi keterkejutannya itu akan tak mempercayai yang ia dengar.
“Apa?”
Solhen menatapnya sekali lagi dengan samar-samar terhibur di wajahnya. “Angin, Namien. Apakah anginnya bertiup kencang? Melintasi dataran selatan? Atau melewati punggung bukitnya? Atau apakah masih tenang hingga tidak ada tanda-tandanya?”
Namien mengerutkan keningnya. “Maksudku, apakah anginnya ini… tenang? Ya, anginnya sudah tenang selama berhari-hari. Kenapa?”
Solhen tersenyum tipis dan kembali menatap cakrawala. “Baiklah, kalau begitu.”
Dan ia tidak berkata apa-apa lagi setelah dari hal itu. Sora yang melihat ke arah Namien hendak ingin menanyakan maksud Solhen tadi dan dengan cepat Namien mengangkat bahunya yang tak berdaya untuk menjawab pertanyaan Sora.
“Jangan menatapku seperti itu seolah-olah aku memahaminya juga.”
Sang Arsitek tidak mengatakan apa-apa lagi di wajahnya yang tidak terbaca dengan matanya yang menerawang itu seolah-olah mendengarkan sesuatu dari pepohonan atau angin yang tidak dapat didengar oleh mereka berdua itu dan mereka pun melanjutkan perjalanannya menuju Elarion.
Mereka melewati padang rumput liar, melintasi punggung bukit yang disinari bintang-bintang di langit, dan melewati beberapa sungai kecil yang suara aliran airnya dengan lembut di atas batunya.
Siang berganti malam dan malam berganti fajar dan begitulah mereka yang masih terus berjalan yang sampai pada akhirnya ketika langit terbuka dengan cahaya keemasan dan memancarkan sinar pagi pertama ke seluruh lembah dan di ujung sinar keemasan itu terlihat siluet ketiga orang itu yang mencapai puncak bukit terakhir dan terlihat dari bukit itu kerajaan Elarion yang menara-menaranya masih berdiri dan dimahkotai panji-panji yang berkilauan ditiup angin pagi.
Dinding-dindingnya yang dibentengi dengan perancah dan api unggun kini tampak seperti ujung bilah tombak yang siap dihunuskan kapan saja.
Dari dalam gerbang-gerbang itu, suara penduduk kota yang tengah bersiap mengungsi dan suara para prajurit yang meneriakkan gema latihan mereka untuk persiapan peperangan yang berbisik di antara angin yang berhembus melalui mereka itu.
Solhen melangkah maju dengan jubahnya terbang dihembuskan oleh angin di belakangnya, Namien mengembuskan napas leganya ketika melihat Elarion sudah berada di depan matanya itu.
\"Baiklah. Tidak ada jalan kembali untuk saat ini.\"
Sora tidak mengatakan apa-apa selain gulungan pemberian dari Solhen kini berada di dalam tasnya yang begitu hangat di sisinya.
Maka mereka bertiga mulai menuruni bukit itu dengan perlahan-lahan menuju kota.
Si Ular, Arsitek, dan Si Pendiam sebagai potongan terakhir dari rencana Elarion telah tiba dan angin, akhirnya mulai berubah arah ke arah selatan yang berhembus begitu pelan.
Gerbang Elarion yang menjulang tinggi di hadapan mereka saat ini dibingkai oleh benteng yang tajam dan patung-patung pembawa api.
Tidak seperti saat mereka pertama kali pergi, jalanan kini ramai dengan intensitas yang setiap belokan dipenuhi oleh tentara lapis baja, barikade yang sudah terpasang di beberapa titiknya, dan pengintai yang berpatroli secara teratur.
Busur silang siap sedia dan setiap mata tampak mengamati atap-atap untuk mencari tanda-tanda pergerakan mencurigakan.
Namien, Sora, dan Solhen berjalan dengan tenang melalui jalan luar kota itu yang bergeser di sekeliling mereka seperti binatang buas yang terkontrol itu siap bertempur.
Lebih banyak penjaga dari sebelumnya berpatroli di sekeliling, beberapa di antara mereka melirik ketiganya dengan minat pasif sampai salah satu dari mereka, yang ditempatkan di sepanjang gapura di depan berkedip saat dia mengenali dua orang pertama.
\"Tuan Namien Solis?\" Gumam penjaga itu lalu meninggikan suaranya kepada yang lainnya.
\"Tuan Namien Solis dan temannya yang pendiam itu sedang mendekati gerbang! Buka pintu gerbangnya!\"
Sinyal diberikan dan Portcullis bagian dalam yang diperkuat mulai terangkat dengan gemuruh rantai gerbangnya.
Namun kemudian...
Mata penjaga itu beralih melewati Namien dan Sora yang mulai tertuju pada sosok tenang berjalan tepat di belakang mereka.
Langkahnya terukur, jubahnya mengalir seperti asap yang gelap, dan kehadirannya itu... tak salah lagi.
Suara penjaga itu tercekat di tenggorokannya dengan matanya terbelalak akan tak mempercayai apa yang dilihatnya itu.
\"Demi dewa di atas sana.\" Bisik penjaga itu dengan gemetar.
\"Itu—Itu Solhen Merach—!\"
Penjaga itu kini berbalik ke arah penjaga lainnya dan membentak ke barisannya itu.
\"Beri tahu raja, SEKARANG! Solhen Merach mendekati gerbang istana!\"
Terdengar suara teriakan prajurit bergema di antara para penjaga di dekatnya. Mereka telah mendengar cerita yang beberapa di antaranya dianggap mitos, beberapa terukir dalam sejarah itu sendiri tentang ahli strategi yang mengakhiri tiga perang sebelum dimulai, dan penyihir yang membungkam seluruh medan perang dengan satu gerakan saja.
Saat ketiganya mendekat ke gerbang kastel, kapten gerbang di dinding istana melangkah maju yang terlihat ia masih muda dan tidak lebih dari tiga puluh tahun tetapi beban akan penghormatannya itu membuat tulang punggungnya menjadi lemas ketika bertemu sosok Solhen Merach itu.
Dia berlutut dengan satu kaki disertai kepalanya menunduk ke bawah. “Arsitek Keheningan… Ini adalah suatu kehormatan yang tak bisa saya ucapkan sekalipun.”
Namun, Solhen hanya mendekat perlahan ke arah penjaga muda itu hingga ia mengulurkan tangannya ke depan dan dengan lembut membantunya berdiri.
“Saya bukan arsitek sekarang, hanya seorang pria yang sudah tua dan lelah saja. Sama seperti Anda, jadi jangan berlebihan?” Katanya dengan lembut itu.
Pria muda itu menelan ludah dan berdiri dengan anggukan kaku yang masih tidak mampu menatap mata Solhen secara langsung karena kehormatannya itu yang masih merendah walau namanya begitu terkenal tetapi dia melangkah ke samping dan tetap memberikan bungkuk dengan hormat kepadanya.
“Lewat sini, tuan. Raja telah menunggu di ruang perang saat ini.” Kata penjaga muda itu sambil mengarahkan mereka bertiga itu.
Mereka dituntun melalui aula kastel bagian dalam hingga koridornya yang sekarang dipenuhi dengan spanduk ditandai untuk pertempuran, baju besi mengilap di bawah lampu gantung, dan setiap langkah bergema menuju takdir.
Hingga pintu ganda Ruang Perang terbuka dengan lebar yang memperlihatkan di dalamnya itu meja yang berada di tengahnya itu memanjang dan dikelilingi oleh pikiran-pikiran paling terpercaya kerajaan.
Raja Aetheryn berdiri di ujung ruangan yang diapit oleh para komandannya dan mata sang raja menatap peta yang dipenuhi penanda dan formasi pasukan baru.
Di sampingnya terlihat Kaelith yang lengannya disilangkan, busurnya disampirkan di punggungnya, dan matanya yang tajam mengamati pertahanan dinding dari peta itu.
Vael yang berdiri di dekat ujung ruangan berlawanan dengan zirahnya yang lengkap dan tengah mendiskusikan pergerakan infanteri dan kavalerinya yang melalui punggung bukit.
Suara mereka tiba-tiba terdiam saat pintu ruangan itu terbuka dan saat mata raja bertemu dengan sosok tinggi yang berdiri di belakang Namien dan Sora, tiba-tiba suasana ruangan itu berubah drastis dengan keheningan yang mencengangkan melanda ruangan itu.
Mata Raja membelalak seketika yang membuatnya berdiri dari tempat duduknya hingga dia melangkah menuju sosok itu.
Tanpa ragu, Raja Aetheryn Velaros sang penguasa Elarion berlutut di hadapan Solhen Merach.
\"...Demi api dan batu, Anda berkunjung kemari tanpa mengabari kami terlebih dahulu, Tuan Merach.\" Kata sang Raja dengan suaranya pelan dan seluruh ruangan mengikutinya juga untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada Solhen Merach.
Mulai dari para komandan, ahli strategi, bahkan para bangsawan tua yang tidak pernah berlutut selama puluhan tahun itu menundukkan diri mereka untuk memberi hormat kepada seorang pria yang tidak pernah melangkah ke aula takhta bahkan tak mengira ia kembali lagi ke kerajaan Elarion itu selama puluhan tahun.
Semuanya tanpa terkecuali memberikan hormat kecuali dua orang saja, Kaelith dan Vael saling menatap dengan kebingungan ketika keduanya membeku saat yang lainnya mulai membungkuk.
Kemudian mata tajam Kaelith melirik ke arah pintu masuk dan melihat Sora yang membuat nafasnya tercekat hingga mata Vael mengikuti ketika melihat Namien berdiri di sampingnya dengan lengan yang berada di belakang punggungnya itu.
Tetapi, yang benar-benar membuat mereka gelisah adalah pria di antara mereka itu yang sosoknya begitu tenang dalam jubah tua, berdiri dengan tatapan lembut, dan mata seperti pancaran senja di atas air yang begitu tenang.
Kaelith melangkah mendekati Vael dan berbisik kepadanya, \"Siapa dia?\"
Vael berbisik kembali untuk menjawabnya, \"Jika dia membuat seorang Raja berlutut... kita akan segera mengetahuinya.\"
Sora hanya berdiri diam di momen penuh kekaguman itu tengah menyaksikan dunia berputar di sekitar Solhen Merach yang bukan karena ia menginginkannya tetapi karena ia telah mendapatkan sebelumnya atas pencapaian dan jasanya itu dan perang yang sesungguhnya bahkan belum dimulai, bahkan saat ruangan itu tetap berlutut dalam keheningan yang khidmat, Kaelith dan Vael tetap tegak dengan mata mereka yang menyipit dalam penolakan setengah penasaran itu.
Kaelith mencondongkan tubuh lebih dekat ke arah Vael dan berbisik pelan lagi, \"Aku tidak berlutut untuk sosok yang kuanggap hantu itu.\"
Vael menjawab dengan seringai tipis, \"Aku akan berlutut jika hantu itu menatapku seperti saat ini juga yang kau lakukan terhadapku.\"
Sebelum keduanya bisa berkata lebih banyak, sang raja berdiri dan ekspresinya penuh rasa hormat saat dia mendekati Solhen Merach dengan langkah lambat dan hati-hati.
Dia menundukkan kepalanya sekali lagi, bukan karena formalitas tetapi rasa terima kasih yang tak bisa ia ucapkan atas kehadiran Solhen itu di kediamannya dan kerajaannya.
\"Suatu kehormatan yang sangat langka, Tuan Merach. Melihatmu berdiri di dalam tembokku dan aku tidak pernah mengira negeri ini akan mengetahui kehadiranmu di masaku.\" Kata Raja Aetheryn dengan pelan.
Solhen hanya bisa tersenyum lembut dengan matanya yang berkerut karena usia dan ingatannya.
\"Aku tidak akan berada di sini jika bukan karena seekor ular yang menolak untuk berhenti berbisik di telingaku itu.\" Sang raja mengangguk sedikit ke arah Namien.
\"Ular yang compang-camping itu memiliki racun yang gigih, yang mulia.\" Raja hanya terkekeh pelan meskipun rasa tidak percaya masih membayangi wajahnya.
\"Kalau begitu, tampaknya para dewa telah mengirim bukan hanya bala bantuan tetapi juga seorang legenda hidup.\" Solhen hanya mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum.
\"Legenda yang menua bagai mitos, Baginda. Aku di sini untuk mengabdi bukan meminta dibuatkan monumen untuk dipahat di tengah-tengah kota nantinya.\"
Ketegangan di ruangan itu mengendur dan Raja Aetheryn menunjuk kembali ke meja perang. \"Kalau begitu, mari selesaikan apa yang telah kita mulai. Komandan, lanjutkan pembahasan sebelumnya yang sempat tertunda agar Tuan Merach mengetahui kondisi peperangan yang akan terjadi beserta informasi yang kita punyai saat ini.\"
Salah satu komandan yang lebih muda dan orang yang sama telah memberikan pengarahan kepada mereka itu sebelum mereka masuk ke dalam ruangan itu, komandan itu melangkah maju lagi yang terlihat tampak gugup dan suaranya sedikit bergetar saat dia mencoba kembali ke penjelasannya.
\"Y-ya, Yang Mulia. Seperti yang saya katakan sebelumnya...\" Komandan itu melirik ke arah Solhen dengan menelan ludahnya dan melanjutkan pembahasannya.
“Kami telah menempatkan para pemanah di sepanjang dinding selatan dan barat yang nantinya dipimpin oleh Kaelith dan difasilitasi juga dengan unit-unit balista yang sudah diperkuat pada punggung menaranya. Infanteri akan dipimpin oleh Vael yang akan mengambil posisi di dekat Valecrest Ridge untuk menyerang musuh dengan kavaleri dan prajuritnya setelah umpan berhasil menarik musuh ke dalam jebakannya.”
Komandan itu menunjuk ke arah peta yang berada di atas meja itu. “Garis umpan kami akan mundur melalui corong sempit yang dipenuhi lubang minyak dan ter tentunya yang berfungsi sebagai saluran apinya. Setelah barisan depan berkomitmen untuk mengejar, unit pemicu atau para pemanahnya akan menyalakan api di anak panahnya dan memulai menyalakan apinya itu sebagai jebakan bagi musuh kami saat ini.”
Solhen mengamati meja dengan saksama dengan tangan di belakang punggungnya dan wajahnya yang memerhatikan peta dan mendengarkan rencana yang telah disusun itu membuat ekspresinya tidak terbaca.
Para komandan terdiam, menunggu apa yang hendak ingin dikatakan oleh Solhen yang pada akhirnya, Solhen memecah keheningannya itu dengan bertanya tenang kepada komandan muda itu: “Siapa yang mengusulkan jebakan api sebagai rencana perangkapnya?”
Namien mengangkat tangannya sedikit. “Itu aku.”
Solhen menoleh ke arahnya untuk melihatnya dan kemudian muncul pertanyaan yang lembut dari Solhen: “Apakah kamu percaya itu akan berhasil?”
Namien berdiri lebih tegak dan percaya diri akan jebakannya itu menjawab. “Ya, tentu saja.”
Solhen mengangguk sekali.
“Pastinya begitu, bukan?”
Namien berkedip karena ada sesuatu yang aneh dari Solhen itu.
“Lalu?”
Mata Solhen memancarkan cahaya samar saat ia bertanya lagi: “Apakah kau ingat apa yang kutanyakan padamu sebelumnya? Saat kita menyeberangi tepi sungai dalam perjalanan ke sini?”
Pikiran Namien mulai bergejolak dan hal ini membuat kepalanya menunduk sejenak untuk mencari ingatan akan hal itu hingga ia teringat dari perkataan Solhen itu.
“…Angin?”
Solhen tersenyum tipis. “Ya, tepat sekali.”
Namien mengerutkan keningnya lagi dan kini tak begitu mengerti apa yang dimaksud oleh Solhen sedari tadi.
“Tapi sudah kubilang bahwa angin tidak bertiup kencang selama beberapa hari ini dan anginnya saat ini begitu tenang.”
Senyum Solhen semakin tajam yang bukan mengejek tetapi mencoba meyakinkan Namien itu.
“Dan kukatakan sekali lagi, anginnya akan bertiup kencang saat waktunya tiba dan aku akan menjamin hal itu.”
Jawabnya dengan tenang dan senyumnya yang lembut itu. Ruangan itu sunyi saat Namien menatapnya ketika roda-roda gigi dalam benaknya berputar seperti kunci berkarat yang terkunci pada tempatnya.
Dan sekali lagi, seperti bertahun-tahun yang lalu Sang Arsitek membuat Ular Compang-camping itu terdiam untuk kesekian kalinya.
Solhen kembali ke meja perang.
“Dengan angin di belakang kita, perangkap api itu tidak hanya menjadi penyergapan tetapi juga baji. Api akan melengkung dengan kuat ketika mendorong ke sisi-sisi mereka dan mulai menyebar melalui semak-semak kering yang lebih cepat daripada yang dapat mereka lakukan sebelum kabur dari perangkapnya itu. Pasukan mereka akan berhamburan dan mereka tidak akan melihat sinar cakrawala lagi melainkan asap dan aroma abu yang tercium di sekitar mereka ketika api itu mulai membakar mereka perlahan-lahan.” Katanya yang meletakkan jarinya dengan lembut di bagian tengah peta yang di mana hal itu adalah inti dari perangkapnya sendiri.
“Dan di situlah api akan mengencang dengan arah mata angin yang akan berhembus.”
Solhen mengangkat kepalanya dan memandangi setiap orang yang berada di sana. “Jaga agar umpan tetap disiplin dan jangan biarkan pertahanan kalian rusak terlalu dini. Gunakan sinyal asap sudah tepat dibandingkan pembawa pesan. Jaga agar pemanah tetap berada di titik tinggi dan jaga juga agar angin tetap berada di belakang mereka tentunya. Nyalakan api dengan pola menyebar dan saat asap mengepul di antara mereka… biarkan mereka terbakar hingga menjadi abu di atas tanahnya itu.”
Suaranya merendah menjadi kepastian yang sangat dingin yang membuat seisi ruangan itu sunyi seketika.
Dan kemudian, dengan perlahan sang Raja mengangguk setuju dari yang direncanakannya itu.
“Begitulah yang akan terjadi.” Gumam Raja Aetheryn yang rencana itu yang dulunya benar sekarang menjadi tepat karena telah menemukan arsiteknya.
Dan api yang akan menentukan nasib peperangan di Elarion telah dinyalakan sehingga halaman Elarion kini berubah menjadi mesin perang di bawah komando Solhen Merach yang baru dibentuk dengan seluruh struktur pelatihan, strategi, dan persiapan berubah total yang bukan dengan kekacauan tetapi, dengan ketepatan dan presisi yang sudah terukur.
Perintah tidak diteriakkan tetapi disampaikan dengan jelas, mengalir melalui barisan seperti arus yang tenang, dan menyentuh setiap sudut persiapan kotanya.
Arsitek Keheningan itu telah kembali dan kota itu bergerak mengikuti napasnya. Dia tidak meneriakkan perintah dan dia berjalan di antara para komandan, pelatih, dan prajurit, berbicara pelan, mengajukan pertanyaan yang tidak pernah mereka pertimbangkan, serta membuat mereka berpikir lebih dalam dari sebelumnya.
Yang penting baginya bukan hanya kekuatan tetapi fungsinya dalam cara bekerjanya juga.
Di lapangan panahan, Kaelith mendapati dirinya menghadapi tantangan baru dengan perintah Solhen yang begitu jelas: \"Bagi pemanah kalian menjadi dua kelompok. Setengah bertahan di area dinding tenggara dan sisanya, ke tepi hutan dekat Valecrest Ridge. Ajari mereka bergerak seperti mangsa dan menyerang seperti pemburu.\"
Kaelith mengangkat alisnya saat itu dan menanggapi pernyataan Solhen itu. “Kebanyakan dari mereka belum pernah menembakkan anak panah dan mereka tak memiliki kemampuan untuk bergerak lebih cepat dari targetnya.”
Solhen hanya menjawab permasalahannya dengan, \"Kalau begitu, jadikan mereka pemburu. Biarkan mereka mengingat saat pertama kali mereka menarik busur yang bukan digunakan untuk bertarung melainkan untuk bertahan hidup.\"
Sekarang, di bawah bimbingannya yang ketat, unit pemanah kedua berlatih di tengah hutan dan di antara akar serta bayangan, dari pohon ke pohon, dan berbisik di setiap langkah.
Kaelith mengajari mereka cara menembak dari tempat berlindung dan cara bergerak dalam keheningan serta cara melihat tanpa terlihat dari pandangan musuh.
Tetap saja, Kaelith memperhatikan Solhen dari kejauhan itu bukan sebagai seorang jenderal melainkan dia berbicara dengan otoritas seseorang yang telah melihat lebih banyak perang berakhir sebelum dimulai daripada yang pernah diperjuangkan kebanyakan pria.
Mata Kaelith mulai menyipit dan Solhen tahu terlalu banyak untuk melihat sesuatu yang terlalu dalam seperti halnya dia telah melihat sepuluh langkah lebih maju dari medan perang yang tengah didiskusikan oleh para strategi dalam waktu 10 bulan itu.
Kaelith begitu bencinya dia untuk menghormatinya.
Di medan timur, Vael melatih kavaleri dan infanterinya hingga Solhen mendatanginya dan telah memberinya instruksi langsung kepadanya: \"Kavaleri tidak ada artinya tanpa komunikasi. Infanteri tidak ada artinya tanpa persatuan. Buat keduanya bernapas dengan napas yang sama.\"
Jadi Vael mulai melatih mereka dengan melatih mereka membentuk dinding perisai seperti batu yang tak tergoyahkan dan tidak hancur saat berhantaman dengan apa yang ada di depannya.
Ia meneriakkan perintah untuk mengatur pergerakan mereka dengan presisi dan detak jantungnya. Vael mengajari kavaleri untuk membaca sinyal dari pemanah di atas dan dari infanteri di daratan.
Namun, Vael juga mengamati Solhen dari jauh yang bukan dengan kecurigaan tetapi, minat kritisnya akan pengetahuan dalam medan peperangannya.
Suatu pagi, saat Solhen mengamati dari dinding sementara Vael mengatur kuda-kudanya yang mengapit itu, sang ksatria mendekatinya.
\"Kau mengerti banyak tentang simetri medan perang, Arsitek.\" Kata Vael dengan melepaskan sarung tangannya satu persatu saat ia berjalan mendekatinya.
Solhen tidak mengalihkan pandangan dari lapangan dan menanggapi Vael.
\"Aku adalah siswa yang gagal sebelum menjadi ahli strategi.\"
Vael menyeringai tipis. \"Bukankah kita semua begitu?\"
Mereka berdua berdiri dalam diam sejenak dan kemudian Vael menambahkan, \"Kau berbicara tentang pemegang sumpah pada komandan yang tengah bertugas. Namun caramu dalam membentuk medan perang... terasa kurang seperti kehormatan, lebih dari seperti... konsekuensi menurutku.\"
Solhen akhirnya menoleh kepadanya. \"Kehormatan adalah perisai sedangkan konsekuensi adalah pedangnya. Tanpa adanya perisai, pedang yang digunakan itu hanyalah kesombongan orang bodoh atau pikiran seorang tukang jagal.\"
Mata Vael menyipit. \"Jadi, kita mengasah keduanya?\"
Solhen mengangguk. \"Dan tahu juga, kapan seseorang harus mengangkat perisainya ketika berada di atas yang lainnya juga.\"
Mereka sering berselisih pendapat yang Vael mempertanyakan penggunaan rotasi tidak terduga oleh Solhen, sementara itu Solhen menantang kekakuan Vael dalam formasi yang dibentuknya itu.
Namun, perdebatan mereka tidak pernah berubah menjadi gosip melainkan mereka beradu seperti baja yang ditempa, saling memukul, dan menekuk tetapi tidak pernah hancur olehnya karena keduanya berbicara dalam bahasa logika dan pengalaman bukan dari ego.
Dari dinding hingga pepohonan, dari kandang kuda hingga halaman batu, denyut nadi Elarion mulai berdetak lebih kencang, dan itu berdetak dalam irama yang ditetapkan oleh nada-nada drum perang yang sudah bertabuh dari sekarang tetapi oleh keheningan seorang pria yang pernah mengubah medan perang menjadi keheningan itu membuat sebuah rencana itu terbentuk dengan beberapa potongan yang bergerak dan sepanjang waktu.
Sora memperhatikan dan mendengarkan untuk belajar merasakan api di dalam dirinya tumbuh dan terfokus.
Waktu untuk menyalakan api di dalam dirinya itu semakin dekat dan di bawah perintah Solhen yang tenang, percikan itu tidak pernah lebih dekat untuk menerangi langit yang sudah gelap akan lupa sosok sinar mentari yang meneranginya saat tidak ada cahaya yang menyinarinya.
Other Stories
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
Reuni Mantan
Arif datang ke vila terpencil bersama para mantan Sarah lainnya. Ketika seorang pembunuh m ...
Di Luar Rencana
Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...
Hotel Tanpa Cermin
Kala memilih menetap sementara di sebuah hotel yang terasa berbeda dari tempat-tempat yang ...