Bab Delapan Belas: Dia Yang Tak Pernah Berbicara
Tak ada lagi kata-kata yang terdengar, tak ada ejekan dari komandan musuh itu, dan tak ada tawa yang menggelegar lagi di sepanjang pertarungannya hanya suara dua rune yang menyala bertarung di suatu tempat itu.
Sora yang jiwanya menyala dengan nyala api merah yang membara dari ingatan dan jiwanya itu akan perasaan balas dendamnya yang tak bisa ia kendalikan lagi.
Sedangkan komandan musuh, runenya menyelimuti dirinya dengan api hitam yang merupakan manifestasi dari gema kekuatan yang terpelintir dari keserakahan dan lahir dari kebenciannya.
Mereka bergerak menyerang satu sama lainnya untuk menentukan siapa yang paling layak untuk bertahan atas penderitaan mereka itu dan dunia terasa menghilang di sekitar mereka saat bertarung itu.
Pedang yang beradu secepat kilat dan terlalu cepat untuk dilihat oleh mata yang hanya suara bajanya saja yang terdengar saat ditebas di udara yang mampu membelahnya dan api dari setiap rune yang mereka berdua pancarkan itu juga beradu seperti pedang mereka yang beradu dengan memberi tahu bahwa pertempuran itu benar-benar terjadi.
Gelombang kejut berdesir melintasi batu yang hangus dan mengirimkan retakan tanah melalui dunia yang sudah hancur itu. Api berwarna merah dan api berwarna hitam mulai menari-nari seperti ular yang berduel di sekitar tubuh mereka dan beradu di udara ketika mereka berdua berdekatan yang akhirnya meledak dalam percikannya sangat besar dan panas yang membuat di area sekitarnya terdengar sangat keras suaranya.
Komandan musuh menghadapi kemarahan Sora dengan serangan balik yang tepat dan brutal yang setiap serangan Sora ditanggapi dengan gerakan yang sudah diprediksi olehnya itu. Dia tidak hanya mengejek sekarang namun, dia bertarung untuk membunuh Sora kali ini dengan serius.
Namun, Sora bertarung dengan lebih dari sekadar kekuatan tanpa arahan melainkan dia bertarung dengan ingatannya, dengan kekalahan, dan dengan tujuan balas dendamnya di masa lampaunya.
Serangan demi serangan, duel mereka berubah menjadi perang para semi-dewa yang dua manusia yang hancur itu mencoba mengakhiri apa yang seharusnya tidak pernah dimulai oleh mereka.
Kemudian, ketika sebuah celah terlihat yang sebuah gerakan kecil dengan sebuah perubahan dengan satu pijakannya saja dapat mengembalikan keadaan Sora itu.
Mata Sora menangkap celah tersebut dengan ia berputar di bawah ayunan serangan sang komandan, api merahnya mulai membuntuti hingga ke bagian belakang komandan itu seperti komet yang jatuh dan mulai menebaskan serangannya ke atas yang mengincar kepala komandan musuhnya itu hingga menuju tulang rusuk pria itu yang terbuka dari celah yang dilihatnya itu.
Namun, serangan Sora tidak mengenainya melainkan tubuh komandan musuh itu menghilang di hadapannya dengan cepat seperti hantu, lalu komandan musuh itu muncul di belakang Sora dalam kepulan debu yang sudah menyamarkan keberadaannya.
Sebelum Sora membalikkan badannya itu, Pedang dengan aliran api hitam sang komandan menusuk ke bahu Sora yang mencabik daging, tulang, dan aliran rune-nya itu.
Kemudian, komandan itu melanjutkan serangan beruntun dengan tebasannya yang mengarah punggung Sora dan menendang dada Sora yang membuatnya terpental ke belakangnya dengan sepatu besinya itu yang keras.
Sora yang terpental dan jatuh terbanting di atas tanah yang retak itu dengan darah dan luka yang diterimanya.
Api merah rune nya itu perlahan memudar dari area badannya tapi Sora mencoba bangkit untuk melawan namun, anggota tubuhnya gemetar akan luka yang diterimanya mulai mencapai batasnya itu dan penglihatannya mulai kabur.
Darah mengalir dari lukanya dengan perlahan menetes dan membasahi tanah di tempat berdirinya saat dunia mulai terasa berputar di sekelilingnya.
Komandan itu berjalan perlahan ke arahnya dengan bilah pedangnya yang sekarang diseret di sisinya itu dengan ujung pedangnya meninggalkan garis hitam membara di atas tanahnya.
Lalu, komandan musuh itu berhenti beberapa langkah di dekat Sora. "Hanya itu saja? Rasa sakitmu... dendammu... apakah ini semuanya yang kau keluarkan?"
Tapi, komandan musuh itu mulai tersenyum sinis, kejam, dan dingin ke arah Sora yang terlihat tak berdaya di hadapannya. Namun Sora tidak bisa mendengarkan suaranya lagi dan dunia di sekitarnya menjadi... sunyi dan gelap seketika.
Lalu kegelapan datang dari ketidaksadarannya namun, dalam pekatnya kegelapan itu ada sesuatu yang bergerak di sekitarnya itu yang merupakan sebuah kilasan ingatannya kembali yang bukan ingatan akan pertempuran dan api milik Sora seperti di menara kenangan melainkan ingatan akan dia.
Suara yang samar lembut, tidak asing, dan bergema seperti angin di hutan yang sudah lama tak Sora dengar dan menghilang begitu saja dan kemudian, melalui kegelapannya yang hanya dipenuhi rasa sakitnya itu melalui bayang-bayang ujung dari kematiannya.
Sora melihat sosoknya kembali berdiri di bawah pohon dari desa yang jauh itu yang terbakar begitu lama. Rambutnya berwarna keemasan, matanya begitu ramah dan hangat, dan tangannya selalu terbuka untuk orang yang meminta bantuannya.
“…Sora? Mengapa kau berada di sini? Kau belum usai dalam memperjuangkan hidupmu bukan?” bisik sosok wanita itu dengan suaranya yang hangat dan lembut.
Itu… Eyla Varn yang sedang tersenyum dan menunggu seseorang dengan memanggil namanya kembali. Dan untuk pertama kalinya… hati Sora mulai terbakar lagi ketika melihat orang yang sangat ia sayangi dan cintai itu berada di hadapannya saat ini walau berada di dalam mimpinya sekalipun.
Sora berdiri yang terhenti di antara perbatasan antara hidup dan mati dan di bawah langit yang dilukis dengan kenangan dan gema dari orang-orang yang melaluinya itu untuk menentukan kehidupan atau kematiannya.
Di hadapannya, Eyla berdiri dengan wajah berseri-seri dan tenang serta senyum lembutnya itu cukup untuk meredakan badai di hatinya.
Sora melangkah maju dengan kakinya yang gemetar dan mencoba meraih Eyla dengan tangannya tetapi, tangannya mengenai sesuatu yang tak terlihat seperti adanya tembok atau penghalang yang berdengung seperti kaca yang keras dan tak terlihat itu hingga Sora menempelkan telapak tangannya di sana dengan bibirnya gemetar dan matanya menunjukkan memohon untuk mendekati ibunya itu walau Sora tak terikat darah olehnya itu.
Ia hanya ingin melihatnya lagi dari dekat dan memeluknya untuk sekali saja tetapi, ia tidak bisa bergerak lebih jauh lagi dan ia hanya berdiri di sana dengan senyumnya tidak pernah goyah akan kehadiran Eyla seperti kehangatan dan kenangan yang menolak diri Sora untuk memudar dari kehidupannya.
“Nak, kau harus hidup di duniamu itu.” Kata Eyla dengan lembut dan suaranya seperti angin yang menembus dedaunan.
“Di dunia ini, tempatku tinggal bukanlah milikmu, anakku. Belum saatnya kau pergi kemari untuk bertemu kembali denganku.”
Ketika mendengar Eyla berkata seperti itu, mata Sora mulai berkaca-kaca dan tubuhnya mulai menempel di dinding tak terlihat itu dengan bahunya yang gemetar dan tangisan air matanya keluar perlahan-lahan dari matanya.
Di belakang Eyla… sosok lainnya muncul dan mulai melangkah maju untuk melihat Sora juga dengan langkah kakinya yang lembut dan dengan kepastiannya. Ketika Sora melihat ke arahnya itu, nafasnya mulai tercekat tak menjadi-jadi karena tak mempercayai bahwa sosok yang ia kenal kini juga telah meninggalkan dunia yang hancur itu.
Sosok itu adalah Solhen Merach yang penyihir tua itu mulai tersenyum ramah ke arahnya dengan melipatkan lengannya di belakang punggungnya seperti seorang profesor yang kembali ke aula yang istirahat dari jam mengajarnya.
“Jangan buat wajah seperti itu, Si Pendiam. Kita berdua tahu hal ini akan terjadi cepat atau lambat.” Kata Solhen dengan lembut.
“Seperti yang kukatakan sebelumnya… kau adalah kunci dari pertempuran ini. Tidak peduli seberapa baik rencana-rencana yang telah dibuat itu bergerak, kau yang akan memilih akhir dari pertempuran ini untuk masa depanmu dan yang lainnya.”
Sora menundukkan kepalanya ke bawah dan membiarkan air matanya jatuh dalam keheningan dan penderitaannya yang sudah mencapai batasnya itu ketika mendengar pernyataan Solhen.
Sora berlutut di sana dengan lututnya yang lemah dan hatinya tercabik-cabik. Seorang anak laki-laki yang membawa api itu adalah seorang manusia yang hanya bisa merasakan abu dan apa yang sudah terbakar itu.
Sora menggelengkan kepalanya sebagai jawaban darinya yang berarti ‘aku tidak bisa’ namun, kemudian suara Eyla terdengar lagi dengan memiringkan kepalanya sedikit untuk melihat wajah Sora dan rambut emasnya bersinar seperti cahaya bintang ketika jatuh dari pundaknya.
“Hei… anakku, apakah kau ingat apa yang sering kukatakan kepadamu saat kau masih kecil?” Sora menoleh ke arah Eyla itu dengan tangisannya masih tak berhenti.
Senyum Eyla semakin dalam bukan karena kegembiraan ketika melihat Sora yang tak pernah berubah menurutnya tetapi, karena kebenaran.
“Kebencian tidak akan pernah menyelesaikan apa yang bisa diperbaiki oleh cinta. Bersikaplah baik kepada siapa pun bahkan saat dunia tidak baik terhadapmu dan jadilah lilin di malam yang gelap. Bahkan jika apinya kecil dan berkedip-kedip itu… biarkan tetap menyala walau gelapnya malam itu tak memiliki ujungnya. Jauh di bawah sana, jauh dari cahaya yang bisa menggapainya di dasar yang paling gelap. Akan selalu ada cahaya yang tidak akan pernah pergi dari kegelapan itu ketika kau tenggelam di dalamnya. Percayalah hal itu, anakku.”
Nafas Sora tercekat ketika ia mendengar perkataan itu yang menyambar seluruh pertanyaan yang meragukan dirinya itu telah menemukan jawaban yang Sora butuhkan selama ini. Ia menyeka air matanya dan mengangguk perlahan.
Sekali lagi, Sora menekan dinding dengan tangannya yang di antara mereka bukan untuk menerobosnya tetapi untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mereka yang telah membantunya itu.
Sora mengalihkan pandangannya ke Solhen sekali lagi dan penyihir tua yang bijak itu mengangguk perlahan dan berkata. “Dan jangan lupa, takdirmu yang membawa jawaban dari kebenaran di balik kekuatanmu itu telah tertulis di dalam gulungan yang telah kuberikan kepadamu dan kau baca itu. Kau sudah membawanya di dalam dirimu saat ini dan itu cukup.”
Dan kemudian, tubuh Sora mulai bersinar terang akan cahaya dari dalamnya yang berasal dari runenya itu.
Rune-nya yang pernah redup karena rasa sakit membara kini mulai berdenyut dengan kehidupan sekali lagi.
Namun, kali ini berbeda seperti sebelumnya itu dengan bukan berwarna api merah padam yang melambangkan akan balas dendam melainkan berwarna merah yang bercampur dengan warna putih terus membara di sekitar area badannya itu seperti tarian api di dalam cahaya bulan yang menyinari kegelapan malamnya.
Api yang begitu murni sehingga tidak membakar lebih tepatnya melainkan memurnikan apa yang seharusnya itu. Seperti air dalam kemurniannya namun, menyala dengan api dan kekuatan jiwanya yang terbentuk dari keinginannya.
Di belakangnya, Sora merasakan Eyla tersenyum sekali lagi ketika melihatnya berubah menjadi apa yang diharapkannya dan Solhen mengelus janggutnya itu dengan senyumannya lalu mereka berdua melangkah mundur dari tempatnya untuk meninggalkan Sora untuk menghadapi tantangannya dengan tangan mereka terangkat untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya sebelum kembali ke tempat mereka berdua seharusnya.
Dan penglihatan itu seketika hancur dengan kembali ke dunia darah dan baja, hingga komandan musuh itu berbalik badannya karena ia merasakan sesuatu yang harus ia katakan kepada Sora di belakangnya itu.
"Sangat memalukan bagiku, aku mengharapkan lebih dari anak laki-laki yang masih hidup itu untuk menghiburku lebih lama lagi." Gumamnya saat ia menjauh dari tubuh Sora yang masih tergeletak di atas tanah itu.
Namun kemudian, udara berubah di sekitar medannya dan membuat komandan musuh itu berhenti di tengah langkahnya. Terasa denyut nadi mulai berdenyut kembali dari tanahnya dan angin pun berhenti sejenak akan hal itu.
Kemudian, muncul sebuah api dari badan Sora yang api itu berwarna putih membara dengan cahayanya meletus dari tubuh Sora, di sekelilingnya dalam kobaran api kemurnian dan bukan amarah, bukan balas dendam, melainkan keadilan.
Komandan itu berbalik dengan matanya mulai menyipit tajam di balik helmnya dan di sana ia melihat Sora bangkit dengan ekspresinya sekarang yang lebih tenang dan mantap.
Cahaya merah menyala dengan bercampur berwarna putih bak mutiara berkilauan di sekelilingnya, rune-nya sekarang menyala seperti bara surgawi. Wujudnya berubah tidak mengerikan yang bukan merupakan dari api yang terbentuk oleh ilahi tetapi, api yang tidak bisa dihancurkan oleh kegelapan sekalipun.
"Apa... ini?" gumam komandan itu kepada fenomena yang baru saja ia lihat ke Sora itu.
Sora tidak mengatakan apa-apa namun, dalam keheningannya itu sebuah kehadirannya merupakan sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan orang di sekitarnya dan untuk pertama kalinya... komandan itu merasakan sesuatu yang asing di dalam dadanya yang merupakan keraguannya.
Api putih-merah menari-nari di sekujur tubuh Sora seperti kerudung yang ditenun dari napas bintang-bintang dan api tekadnya.
Tangan Sora mulai mencengkeram gagang pedangnya dengan mantap dan tak tergoyahkan.
Bilahnya itu kini tidak lagi terasa seperti alat pembalasan dendam melainkan perpanjangan dari keinginannya seperti sebuah mercusuar yang menjadi cahaya di tengah kegelapan tentang apa yang harus dilakukannya.
Sora mengangkat pedangnya dan mulai melangkah maju untuk menyerang komandan musuh itu dengan kekuatannya yang baru itu.
Komandan musuh itu yang dulunya dipenuhi dengan keyakinan dapat memenangkan pertarungannya melawan Sora kini merasakan ragu-ragu untuk memenangkannya. Komandan itu mulai menyipitkan matanya di balik bayangan helmnya.
“Apa… apa kau?” dia mendesis pelan dan pikirannya terguncang ketika menyadarinya tetapi, dia mulai menepis keraguan yang muncul di dalam dirinya.
“Tidak, tidak, tidak. Anak itu masih sama seperti sebelumnya bukan? Namun, kini hanya dengan tambahan cahaya dengan tipu dayanya saja sebagai kekuatannya itu dan aku pernah menghancurkannya sekali itu dengan membuatnya terjatuh di atas tanah dan dengan mudah aku bisa melakukannya untuk kedua kalinya lagi.” Gerutunya pada dirinya sendiri untuk meyakinkan dirinya itu.
Tetapi, medan perang tidak lagi mematuhi kehendaknya.
Tanah di bawah mereka berdua itu berdenyut dengan gelombang tak terlihat dan berkilauan seperti api yang tertiup angin dan udaranya terasa bergetar di sekitarnya yang membuat medan duel mereka telah menjadi sesuatu yang sakral dan tak tersentuh oleh sesuatu yang lebih besar dari mereka berdua sendiri.
Aura yang murni dan tenang seperti katedral yang terbuat dari api dan keheningan yang auranya itu mulai menyebar ke seluruh penjuru Elarion.
Dari luar benteng kastel, Vael berbalik dengan tajam saat ia berjalan dengan pincang dan tertatih-tatih itu yang tangannya masih bertumpu pada gagang pedangnya dan darahnya menggumpal di garis-garis baju besinya dari pertempurannya dengan Thelan.
Dia melihat ke arah tepi barat medan perang yang di mana pilar api putih sekarang itu membentang ke langit.
Dadanya terangkat dengan kesadaran yang tiba-tiba dan berkata. "Sora..."
Di dalam benteng kastil yang di mana kesedihan menggantung seperti kerudung, Kaelith duduk di anak tangga tepat di samping tenda komando dengan lengannya melingkari bagian tengah tubuhnya untuk menutupi luka-lukanya yang terasa sakit.
Dia tidak banyak bicara sejak pengumuman dokter akan kematian Solhen dan begitu pula Namien, yang berdiri di dekatnya dengan kepala tertunduk dan lengannya disilangkan erat.
Namun, udara berubah di sekitarnya dan angin bertiup melalui jendela yang terbuka hingga membuat tirainya beterbangan yang tidak dingin dan tidak panas tetapi, aneh untuk dirasakannya. Angin yang tidak bersuara dan hanya ada perasaan seperti nafas yang tertahan dalam penghormatannya.
Namien mulai menegakkan tubuhnya itu dan dia menoleh ke arah api putih yang berkedip dari kejauhan itu karena kebingungan.
“Perasaan apa ini?”
Kehadiran api menggelitik indranya yang begitu kuno dan intim yang bahkan sihirnya pun tidak bisa menyebutnya dan mendeteksinya.
Mata Kaelith membelalak seketika dan tangannya menekan dadanya dengan perlahan ketika melihatnya dalam keadaan bangkit dari tempat duduknya dengan menghadap ke arah api putih itu.
“Itu dia...” bisiknya dengan pelan yang membuat Namien menatap Kaelith dengan tajam dan bertanya.
“Siapa?”
Kaelith tidak langsung menjawabnya dan matanya mulai berbinar. Dia berjalan perlahan dengan tertatih-tatih ke arah api putih itu dan berkata dengan suaranya mantap tetapi lembut.
“Si Pendiam.”
Dan di balik dinding kastel, langit tampak putih dan di ruang singgasana sang raja tempat bayangan-bayangan tampak berat sejak meninggalnya Solhen.
Raja Aetheryn duduk merosot di kursinya itu yang berhias akan perhiasan dengan telapak tangannya menutupi wajahnya hingga jari-jarinya gemetar karena beban kepemimpinan yang ditanggung di pundaknya.
Kemudian, keheningan yang membuat kondisi di dalamnya terasa aneh yang sang raja merasakannya sebelum dia melihatnya. Kehangatan dan keheningan yang aneh hingga sang raja mendongak untuk melihatnya yang sebuah cahaya api berwarna putih merembes melalui kaca patrinya dan menyinari aula dengan rona putih keemasan yang lembut.
Raja perlahan bangkit dari tempat duduknya dan dia berjalan melewati para penjaga yang memberikan hormat kepadanya dan melewati singgasananya hingga melewati meja perang yang besar untuk menuju ke balkon untuk melihatnya lebih dekat lagi.
Dan ketika dia melangkah ke tempat terbuka... dia melihatnya dengan jelas akan sebuah pilar cahaya yang menyala di tepi medan perang seperti terbitnya matahari dari fajarnya yang tak tersentuh oleh darah atau kegelapan.
“Itu adalah harapan terakhir... tidak ada jalan mundur dan tidak ada penundaannya lagi untuk kali ini.” Bisik sang raja dengan pelan namun, di matanya tergambar secercah harapan kembali untuk kerajaannya itu dan tempat tinggal orang-orangnya.
Pertempuran terakhir telah dimulai dan Sora yang terlahir kembali dalam api yang dapat memurnikan kegelapan, kenangan yang hangat, dan cinta kini berdiri sebagai kunci terakhir untuk menentukan nasib Elarion dan rakyatnya akan kesunyian yang menolak untuk dipatahkan kecuali jika dijawab dengan api miliknya itu.
Other Stories
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...
Desa Di Ujung Senja
Namaku Anin, aku hanya ingin berlibur ke rumah oma untuk mengisi liburanku seperti biasany ...
Puzzle
Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Escape [end]
Setelah setahun berlarut- larut dalam luka masa lalunya, Nadine pun dipaksa oleh sahabatny ...