The Unkindled Of The Broken Soil

Reads
782
Votes
0
Parts
31
Vote
Report
the unkindled of the broken soil
The Unkindled Of The Broken Soil
Penulis SaltSea

Bab Dua Puluh: Sebuah Surat, Seekor Rubah, Dan Permintaan Terakhir Dari Seorang Guru

Seminggu telah berlalu sejak perang berakhir, di balik tembok Elarion yang telah dibangun kembali oleh semua penduduknya di sana.

Aroma abu dan darah mulai memudar yang digantikan oleh kayu-kayu untuk membangun kembali apa yang telah hancur dan bunga-bunga yang dibawa oleh tangan-tangan yang berduka ke kuburan dari para martir peperangan sebelumnya dengan luka-luka di pikiran mereka yang membawa bunga itu untuk kerabat atau salah satu keluarga terdekatnya dan di dalam hati mereka masih dalam tahap penyembuhan akan hal itu.

Namien yang hendak ingin membuka tokonya kembali itu terus melihat batu nisan yang bertuliskan Solhen Merach dengan kuburannya yang sederhana di area pemakaman di sana dan Solhen sudah dikubur beberapa hari lalu setelah perang usai itu.

Namien hanya menaruh setangkai bunga Lily dan ester sebagai bentuk bela sungkawanya kepada mentornya itu sebelum pergi meninggalkan are pemakaman itu dengan melihat terakhir kalinya batu nisan mentornya itu.

Kota Elarion masih berdiri dan terlihat hidup di dalamnya pasca perang itu dan begitu pula mereka yang telah berjuang sedemikian rupa untuk melindungi tempat tinggal mereka dan kelompok yang hanya ingin melindungi tempat tinggal orang lain juga.

Sora meskipun beberapa lukanya sudah mengering dengan bantuan sihir penyembuh dari tabib yang ditugaskan oleh raja dan masih tampak lelah itu, ia memperoleh kembali sebagian kekuatannya.

Perbannya sedikit demi sedikit telah terbuka yang menunjukkan cepatnya pemulihannya akan sihir penyembuh dan juga obat yang diberikan tabib dan Namien yang sesekali mampir untuk menjenguknya, meskipun bekas luka di dadanya masih ada.

Sora yang merasa ia dapat menggerakkan badannya itu memulai berjalan dengan tenang keluar dari ruangannya dan berjalan kaki di sepanjang kota Elarion untuk menyaksikan anak-anak berlarian di sepanjang jalannya, pedagang yang membukakan tokonya itu kembali berteriak untuk menawarkan barang dagangannya, dan tawa beberapa orang telah kembali seperti biasanya.

Tembok-tembok yang sebelumnya hancur karena serangan raksasa dan naga mayat hidup itu masih dalam tahap proses dibangun kembali.

Namun, harga dari kerusakannya itu tidak akan pernah terlupakan dengan pembayarannya yang sepadan.

Di siang hari itu, Sora yang sedang berjalan-jalan di sepanjang pasar kota Elarion, melihat toko Namien dan ia mendatangi Namien di tokonya itu yang bangunan tokonya dulu berdebu dan kini menjadi tempat perdagangan alat sihir dari hasil kekacauan yang sudah dikenal Sora dan kekacauan yang terkendali oleh Namien sendiri.

Sora yang datang ke tokonya memberi isyarat perlahan kepada Namien yang terkejut melihat Sora berada di tokonya itu. Namien yang memperhatikan Sora dengan saksama akan bahasa tubuhnya itu mulai menyipitkan mata, lalu berkata kepada Sora.

“Kau mau ke mana? Maaf, aku masih belum mengerti maksud ucapan bahasa tubuhmu itu.”

Sora mengulang gerakannya lagi sebagai isyaratnya kepada Namien hingga Namien menerka-nerka apa yang dimaksud Sora itu dan bertanya kepadanya.

“Kau mau ke… tempat Solhen? Lagi?”

Sora mengangguk pelan terhadap Namien dan dengan itu, ia menambahkan gerakan lain yang kali ini lebih lambat dan lebih hati-hati.

Di akhir gerakannya itu, Sora menunjuk dirinya sendiri lalu ke Namien yang akhirnya menirukan sebuah gerakan… memberi.

Mata Namien menyipit yang melihat keanehan itu dan berkata.

“Kau… membawaku ke sana untuk suatu hal yang ingin kau tunjukkan? Tapi, apa—”

Sora hanya memberi tatapan penuh pengertian hingga membuat Namien yang melihat tatapannya itu mulai mendesah lelah akan hal itu yang tak bisa diganggu gugat olehnya dan Namien mulai menyilangkan lengannya kemudian dengan perlahan Namien berkata.

“Baiklah, sekali lagi untuknya.”

Mereka berdua sepakat tentang hal itu dan memulai perjalanan mereka di keesokan harinya setelah merencanakan hal tersebut.

Keesokan paginya, dua ekor kuda telah disiapkan dan berdiri di depan gerbang depan Elarion yang telah diberi pelana oleh penjaga gerbang itu di gerbang depan.

Para penjaga mengangguk dengan hormat baik kepada Sora maupun Namien yang hendak pergi tanpa memberikan pesan kepada para penjaga atau berpamitan.

Namun, dengan anggukan kepada para penjaga gerbang sebagai tanda terima kasih mereka berdua dan mereka berdua itu akan kembali setelah melakukan perjalanan ke pondok Solhen Merach.

Kaelith dan Vael tetap tinggal di Elarion yang sudah diberitahu oleh Sora dan Namien di pondok mereka yang disediakan oleh raja dan keduanya mengerti tanpa perlu kata-kata atas tindakan Sora dan Namien itu.

Mereka berdua melakukan perjalanannya itu dengan cepat hingga mereka tiba di hutannya yang di mana pondok Solhen terdapat di sana ketika menjelang senja, mereka berkuda ke dalam hutan hijau tempat Solhen Merach pernah tinggal.

Namun, ada sesuatu yang berbeda dari hutan tersebut yang biasanya burung-burung masih berkicau di berbagai pohonnya kini tidak ada suara burung yang berkicau dan tidak ada suara gemeresik di pepohonan akan hembusan anginnya itu.

Hutan yang dulunya terasa hidup akan kehidupan di dalamnya itu kini terasa seperti kehilangan sebagian jiwanya.

Lalu di tengah perjalanan mereka berdua itu, mereka melihat seekor rubah muncul dari semak-semak yang berdiri di jalan setapak mereka dengan tenang memperhatikan mereka berdua dengan mata kuningnya bersinar akan cahaya matahari senjanya.

Secara naluriah Namien melihat hal tersebut kebingungan dan terasa ada sesuatu yang salah dengan ini namun, Sora memberikan isyarat kepadanya dengan pandangan sekilas dan sedikit menggelengkan kepalanya sebagai jangan lakukan apa pun terhadap rubah itu.

Rubah itu berbalik arah dan berjalan menuju arah semak belukar di depan mereka. Rubah itu sempat berhenti sekali untuk melihat ke belakang yang mengarah mereka berdua di atas kudanya itu.

Namien melihat tingkah laku rubah itu mulai memahaminya.

"Kita mengikuti rubah itu?" tanya Namien dengan pasti ketika melihat gerakan rubah tersebut.

Sora mengangguk sekali dan begitulah yang mereka lakukan dengan mengikuti seekor rubah yang menuntun jalan mereka berdua.

Mereka berdua mengikuti rubah itu mulai berjalan melalui semak-semak yang tenang, berkelok-kelok melalui akar-akar dan pepohonan yang menjulang tinggi, hingga pondok Solhen yang dikenal mereka itu mulai terlihat di depan mereka.

Rubah itu berjalan mendekati pintu dan masuk ke dalam pintu yang terbuka karena anginnya itu tanpa ragu-ragu.

Mereka berdua menuruni kuda mereka, Namien melangkah maju tetapi Sora mengangkat tangannya dan memberi isyarat lagi kepada Namien untuk pergi terlebih dahulu untuk mengikuti rubah itu dan sedangkan ia hanya menetap di tempatnya itu.

Namien mulai melihat reaksi Sora yang aneh itu dan mulai bertanya kepadanya. "Kenapa kau akhir-akhir ini? Tidak ingin masuk ke dalam pondok dan memilih untuk menikmati udar segar di luarnya?"

Namun, Namien mendapati Sora tidak memberikan jawaban apa pun dari pertanyaannya itu dan Namien hanya menghela napasnya yang menuruti perkataan Sora itu akan rasa ingin tahunya dan gelisah dengan maksudnya itu untuk melangkah masuk ke dalam pondok Solhen itu.

Di dalam, pondok itu terdapat banyak aroma dari tinta tua dan sisa-sisa kayu yang sudah terbakar lama dalam perapiannya hingga memenuhi seisi ruangan tengah baunya dan abunya.

Ruangan itu tidak tersentuh tetapi terasa berbeda dari sebelumnya ketika Namien berkunjung itu yang seolah-olah ada sesuatu yang berubah tanpa memindahkan beberapa barangnya sama sekali.

Di depan pintu ruangan observasi, rubah itu memerhatikan Namien dan ketika melihatnya di depan pintu itu rubah itu mulai masuk ke dalamnya dan duduk diam ketika ia melompat ke meja yang berada di dekat jendelanya dengan ekornya melingkari badannya mungil itu.

Rubah itu menatap Namien yang memasuki ruang observasi itu lalu dengan perlahan rubah itu turun dari mejanya dan mulai bergerak ke suatu sudut ruangan observasi itu dan mulai menggaruk sebuah titik di lantai kayu di sudut ruangannya itu.

Namien melihat reaksi rubah itu menghampirinya dan berlutut di dekat rubah itu. Ia menekan telapak tangannya ke lantai kayu yang dimaksud oleh rubah itu dan di sana, tersembunyi di bawah lantainya dan serat kayu yang samar terdapat sebuah pahatan yang tersembunyi di bawahnya.

Namien mencoba untuk mengeluarkan isi drai di bawah lantai kayu itu hingga ia menemukan gagangnya dan menariknya hingga terbuka. Sebuah kotak muncul setelah Namien membukanya itu yang begitu sederhana yang terbuat dari kayu dan begitu tua jika dilihat dari kondisi kayunya yang hampir lapuk oleh rayap dan di atasnya ada sepucuk surat dengan namanya.

Jantung Namien entah mengapa begitu berdebar kencang ketika melihat sepucuk surat yang bertuliskan namanya di amplop suratnya itu.

Namien memutuskan untuk membukanya dengan perlahan dan saat matanya mulai membuka isi suratnya dan membaca baris pertama, tenggorokannya mulai tercekat akan tulisan yang dikenalnya itu ditulis oleh mentornya sendiri yakni Solhen Merach yang meninggalkan pesan kepadanya setelah ia pergi untuk selamanya kepada murid kesayangannya itu.

‘Wahai muridku yang nakal dan tidak patuh, Jika kau membaca ini... aku telah pergi seperti yang kau lihat.

Aku meninggalkanmu suatu barang yang berharga milikku ini di dalam kotak yang sebagai hadiah peninggalan dariku kepadamu yang telah kau temukan kotaknya ini. Mungkin dengan hadiah ini yang aku berikan kepadamu adalah satu-satunya orang yang lebih keras kepala daripada dirimu. Namun, aku hanya punya satu permintaan. Hanya satu, bukan sepuluh, dan juga bukan dua puluh seperti sebelumnya. Hanya satu saja.

Temanilah Sang Pendiam yang kau ikuti selama ini dalam perjalanannya.

Ia membawa lebih dari sekadar kekuatan dan ia memegang benang yang menenun dunia ini. Ia adalah kunci yang kau cari selama bertahun-tahun akan jawaban yang kau minta kepadaku dan tak pernah kau temukan jawaban sebelumnya ketika kau telah menemukannya.

Jadi, tetaplah temani sang pendiam itu di sampingnya saat perjalanannya telah dimulai bahkan saat ia tak berkata apa-apa... dengarkanlah ia seperti aku mengajarimu yang keras kepala dan sombong ketika saat itu dan bersabarlah terhadap seluruh ujiannya selama kau melakukan perjalanan bersamanya. Hanya itu yang kuminta darimu, Ular berjubah robek.

Damai menyertaimu dan api akan selalu menuntunmu di mana kau berada,

—Solhen Merach.’

Namien menatap dan membaca surat itu dengan lama sekali hingga membuat bibirnya terbuka tetapi tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya lalu, ia tertawa sejenak dengan pahitnya isi surat itu dan membuat suara tawanya bergetar.

“…Orang tua itu. Masih saja memerintahku bahkan hingga sekarang.”

Air mata mulai mengalir perlahan dari matanya dan Namien mulai menyeka air matanya dengan lengan bajunya hanya untuk mengingat apa yang dikatakannya kepada dirinya ketika ia mulai mengoceh lagi lebih banyak lagi dari isi surat yang ditulis untuknya.

“Kau selalu tahu, bukan?”

Rubah di sampingnya menguap ketika Namien menanyakan kepadanya lalu rubah itu menggeliat di lantai kayu tersebut, perlahan bangkit dari tempat duduknya, dan mulai berjalan ke ambang pintu ruang observasi dan menghilang dari pandangan Namien karena tugasnya telah selesai.

Namien tetap duduk di lantai untuk waktu yang lama yang bukan sebagai murid yang meratapi gurunya itu melainkan sebagai seorang pria yang menerima beban pelajaran terakhir dari mentornya.

Di suatu tempat di luar jendela itu, Sora menunggu Namien dengan angin yang berhembus dengan lembut hingga membuat jubahnya mengambang dan matanya terpejam seolah-olah entah bagaimana Sora bisa merasakan semua yang baru saja dirasakan Namien di dalam pondok Solhen dan dengan dalam diamnya, Namien berjanji untuk meneruskan sisanya apa yang telah dimandatkan gurunya itu kepadanya.

Keesokan harinya, matahari pagi bersinar lebih lembut dari sebelumnya yang masuk melalui jendela dan tirainya hingga membentuk garis-garis keemasan di lantai kayunya itu.

Sora yang tertidur di dalam pondok yang diberikan oleh raja kepadanya untuk ditinggalinya itu, mulai bergerak di bawah selimutnya yang menyelimuti dirinya dan ia mulai menyipitkan mata saat cahaya matahari pagi mulai mencapai wajahnya.

Untuk sesaat, ia hanya bernapas dengan tenang dan keheningan lembut di sekitarnya yang tidak ada api, tidak ada pedang, dan tidak ada tanah berlumuran darah yang dirasakannya saat ini.

Hanya sebuah kedamaian dari hasil apa yang telah ia lakukan itu.

Lalu ketika ia sepenuhnya terbangun, perutnya mulai mengerang seperti binatang buas yang terbangun dan bergemuruh seperti nada perang yang bertabuh dari dalam tubuhnya itu. Sora yang terkejut dengan hal itu menghela napasnya.

Beberapa pertempuran tidak pernah berakhir pikirnya, sambil menekan tangannya ke perutnya yang keroncongan dan tak ada isi apa pun.

Sora berdiri perlahan dan mulai meregangkan badannya yang pegal itu dengan hati-hati dengan luka yang baru saja mengering.

Sora mulai mengenakan pakaiannya yang sederhana dan bersih itu yang sudah tergantung rapi di pengait samping tempat tidurnya.

Setelah ia berpakaian itu dengan mengencangkan tali terakhir tuniknya sebagai kancing dari bajunya itu, ia mulai berjalan keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga untuk menuju dapur di bawahnya.

Aroma rempah-rempah yang tercium dari arah dapur dan telur yang baru saja dimasak dalam wajannya menyambut hidung Sora terlebih dahulu untuk melangkah masuk ke dalam dapur.

Sora melangkah dengan langkah kakinya yang pelan ke dapur dan berhenti di ambang pintu untuk melihat yang tengah memasak itu adalah Kaelith yang berdiri sedang memasak dengan bersenandung pelan yang lengan bajunya digulung dan rambut pirangnya diikat menjadi sanggul longgar hingga punggungnya mulai berbalik saat dia sedang memasak sesuatu di panci yang mendesis itu merasa ada seseorang di belakangnya sedang memerhatikannya.

Tepat saat Sora melangkah maju yang masuk ke dalam dapur itu bunyi dari suara perutnya mulai bergemuruh lagi.

Groooowl...

Langkahnya berhenti seketika hingga membuat Kaelith terkekeh pelan ketika kebiasaannya itu sudah ia ketahui ketika suara tersebut sangat tidak asing baginya.

"Itu dia lagi..." gumam Kaelith yang menoleh ke arah Sora di belakangnya karena suara perutnya itu yang membuat Sora tak bisa menahan lagi untuk menunjukkan ekspresi malu di wajahnya.

Kaelith melihatnya itu dengan senyum geli. "Apa yang kau inginkan untuk sarapan kali ini?"

Sora hanya menunjuk ke arah telur dan roti di samping Kaelith itu.

Kaelith melihat keinginan Sora itu mulai mengangkat alisnya.

"Hanya itu?"

Sora mengangguk pelan dan tepat pada waktunya ketika perutnya bergemuruh lagi yang kali ini lebih keras suara gemuruhnya.

Kaelith yang mendengar suara perutnya itu lagi hanya bisa terkekeh pelan lagi seperti melihat hal yang sebagai hiburannya itu dan menggelengkan kepalanya.

"Baiklah, baiklah. Duduklah sebelum perutmu mulai memberontak lagi."

Sora bergerak menuju meja makan dan duduk di kursi seperti kucing yang kelaparan dan menginginkan makanannya itu dengan duduk dengan desahan lega yang pelan.

Kaelith berbalik ke arah kompornya dan mulutnya mendengungkan nada yang khas saat ia memasak.

Beberapa saat kemudian, Vael masuk ke dalam dapur karena terlihat ramai seperti biasanya itu dengan bajunya yang sebagian terbuka dan rambutnya masih basah karena keringatnya yang latihan pagi dia lakukan sebagai rutinannya itu.

Vael berhenti di ambang pintu dan melihat Sora dan Kaelith yang sudah berada di dapur itu dengan senyum mengembang di wajahnya dan berkata.

"Selamat pagi, sepasang kekasih."

Kaelith yang sedang mengaduk masakannya itu membeku seketika lalu, suara Kaelith mulai meninggi karena kesal digoda oleh Vael itu

"V-VAEL!!"

Wajahnya memerah saat dia berputar cepat untuk melihat Vael datang dan sendok kayu masih di genggaman tangannya.

Sora hanya tersenyum lembut ketika melihat reaksi mereka berdua di pagi hari itu dan melirik ke sampingnya untuk menghindari dari amukan badai yang sebentar lagi akan mengamuk ke dalam dapur yang tenang itu.

Vael tertawa terbahak-bahak ketika melihat reaksi Kaelith itu dan melanjutkan perkataannya.

"Ah, reaksi klasik. Aku tidak akan pernah bosan untuk menggoda sepasang kekasih ini."

Kaelith tampak seperti akan melemparkan sendok ke seberang ruangan yang kemudian, tepat pada saat Kaelith ingin melemparkan sendok itu ke arah Vael, pintu pondok berderit terbuka.

Di saat yang tepat juga, Namien yang selalu pandai mengatur waktu itu perlahan berjalan masuk sambil melemparkan apel ke atas dengan satu tangannya yang ia beli di toko buah saat perjalanannya ke pondok itu dengan menyeringai seperti rubah yang baru saja menemukan kandang ayam ketika menuju arah dapur dan mendapati reaksi yang membuatnya sangat senang untuk menggoda seperti Vael.

“Semoga kalian semua baik-baik saja— Oh, tidak apa-apa. Aku tidak bermaksud mengganggu sarapan bulan madu kalian tentunya.”

Vael yang mendengar perkataan Namien yang baru saja datang itu membungkukkan badannya karena tawanya kini lepas kendali.

“Bintang di atas sana, menurut astronomi dalam perkataannya—!”

Rahang Kaelith ternganga ketika mendengar perkataan Namien yang menambah bensin ke dalam api kekesalannya setelah Vael menggodanya itu dan sendok yang masih terangkat sebagai tanda protes dan senjatanya bila sudah waktunya untuk melayang ke targetnya itu.

“Kau juga, Namien?!”

Namien mulai menggigit apel itu dan memakannya sebagian lalu bersandar santai di kusen pintu itu dan mulai melambaikan tangannya dengan kepolosan yang berlebihan.

“Oh tidak, tidak. Kami hanya lewat saja dan tidak akan berani mengganggu apa yang pengantin baru lakukan saat hari pertamanya telah tiba dan tentunya kami akan keluar sebentar lagi. Vael, biarkan mereka menyelesaikan drama rumah tangga romantis ini yang tengah berlangsung di sini dan sedangkan kita harus mencari kesibukan di luar sana agar tidak mengganggu kekhidmatan mereka berdua ini dengan aktivitas pengantin baru yang baru saja menikah kemarin.”

Sora hanya tersenyum ketika mendengar perkataan Namien dan sementara itu Kaelith tampak siap meledak menjadi badai yang seperti Sora bayangkan.

Namien menoleh ke arah Sora dan mengedipkan mata licik.

“Senang melihatmu seperti biasanya, Sora. Kau jelas telah menemukan metode penyembuhan terbaik yang pernah ada untuk luka yang kau terima tentunya.”

Sora berkedip yang kebingungan maksud dari perkataannya itu lalu, Namien mengedipkan matanya lagi dengan licik hingga Kaelith yang menyadari maksudnya itu mulai melemparkan sendok di tangannya itu ke arah Namien seketika.

Namien menghindar dengan susah payah dan sementara itu, Vael hanya bisa tertawa lebih keras dari sebelumnya ketika melihat kejadian itu.

Setidaknya untuk saat itu, tidak ada perang, tidak ada kerugian yang didapat, dan tidak ada ketakutan yang membayangi mereka.

Hanya suara dentingan piring, tawa menggoda, dan kenyamanan yang tenang dari mereka yang masih berdiri itu.

Mereka mungkin telah menderita dari fisik hingga batinnya dalam perjalanan mereka lakukan itu namun, mereka tidak kehilangan satu sama lain.

Jadi, dalam kehangatan sederhana di dapur pun itu bisa menjadi momen kebersamaan perjalanan mereka ke depan nantinya dan menunggu sedikit lebih lama dengan momen saat ini yang mereka nikmati.

Setelah sarapan yang dipenuhi candaan, tawa, dan godaan itu suasana hati perlahan berubah dan waktunya telah tiba untuk mereka. Piring-piring telah dibersihkan saat mereka selesai sarapan, sinar matahari semakin terang, dan dengungan samar keberangkatan mulai terdengar di udara.

Satu per satu, mereka menyiapkan ransel mereka mulai dari Vael yang setelah menyiapkan barang-barangnya itu mengencangkan tali pengikat baju besinya, Namien sibuk memikirkan cara sempurna untuk menggulung peta yang ditemukannya dalam perjalanannya nanti, Kaelith memeriksa tabung panahnya dan membersihkan busurnya itu untuk ketiga kalinya, dan Sora hanya diam seperti biasa di dalam kamarnya yang mengikat simpul terakhir tasnya dengan keheningannya yang setelah selesai, ia keluar dari kamarnya dan menemui mereka di bawah itu.

Ketika semuanya sudah siap, mereka berkumpul di luar pondok yang telah menjadi tempat berkumpul mereka sebelum meninggalkan Elarion itu.

Seorang penjaga Elarion sendirian menunggu mereka di luar pondok itu dengan postur tubuhnya yang tinggi, tenang, dan helmnya dibawa di lengannya.

“Kalian semua akan pergi sekarang?” tanya penjaga itu.

Namien mengangguk pelan dan Kaelith memberikan reaksi dengan melambaikan tangannya kepada penjaga itu.

Sora melangkah maju ke hadapan penjaga itu untuk memberikan kunci pondok itu dari sakunya.

Penjaga itu menerima kunci yang diberikan Sora dan dengan khidmat ia menundukkan kepalanya kepada mereka berempat itu sebagai tanda terima kasihnya dan bentuk penghormatannya.

“Kalian akan selalu punya tempat di sini. Elarion selalu mengingat jasa kalian selamanya.”

Penjaga itu mengangkat tangannya ke dada yang memberikan isyarat penghormatan tradisional Elarion dan melangkah ke samping dari jalan mereka.

Mereka berjalan dalam diam melalui jalan-jalan beraspal batu, suara sepatu bot mereka dilembutkan oleh keheningan pagi.

Para pedagang berhenti untuk memperhatikan mereka. Anak-anak berbisik-bisik di gang-gang kecil. Kota yang telah diselamatkan oleh tangan mereka sekarang memperhatikan mereka pergi.

Di alun-alun utama kota Elarion ketika mereka berempat berjalan menuju ke gerbang depan, sebuah suara yang dikenal mereka memanggil mereka untuk berhenti: “Tunggu.”

Suara itu membuat mereka berbalik dan mereka melihat Raja Aetheryn berdiri di dekat air pancur yang tanpa penjagaan dari penjaga kerajaannya dengan penampilan baju yang dikenakannya itu polos tetapi sikapnya sangat sederhana sebagai cerminan dari seorang rakyat Elarion itu.

“Aku datang bukan untuk menghentikan kalian melainkan untuk mengucapkan terima kasih sekali lagi yang diriku ini bukan sebagai raja yang kalian lihat saat ini tetapi, sebagai orang yang salah satu dari rakyat kerajaan ini masih hidup karena perjuangan kalian tentunya.” Katanya dengan berjalan mendekat mereka berempat.

Sang Raja melihat mereka masing-masing dan melanjutkan perkataannya. “Gerbang kerajaan ini tidak akan pernah tertutup untuk kalian semua. Ke mana pun kalian pergi, kalian akan selalu diterima di negeri ini.”

Sora melangkah maju dan Dia tidak membungkuk namun sebaliknya, dia hanya mengangkat dua jari ke dadanya dan menundukkan kepalanya.

Raja itu melihat gestur yang dilakukan Sora itu lalu ia mulai tertawa pelan ketika menyadarinya.

“Gerakan yang sama lagi. Kau tidak pernah berubah rupanya, Si Pendiam.”

Namun sebelum mereka bisa melanjutkan perjalanan mereka itu, suara menggelegar dan bergema di jalanan Elarion yang memanggil mereka setelah kehadiran sang Raja Aetheryn itu: “OI! Jangan berani-beraninya kalian pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal kepadaku, dasar kalian bangsa terkutuk berkaki panjang!”

Mereka melihat ketika tepat pada waktunya untuk melihat Thramund yang palunya masih digenggam di tangannya, celemek yang dipenuhi abu dan noda dari hasil perkerjaannya itu masih terikat, dan mendengus saat dia berlari ke arah mereka.

Rahang Namien ternganga ketika melihatnya itu, Vael berkedip karena terkejut, dan Kaelith menutup mulutnya berusaha untuk tidak tertawa melihat tingkah Thramund itu.

Thramund menghentakkan kakinya yang berhenti di depan mereka dan mengatur napasnya.

“Kalian melupakanku, untuk kesekian kalinya?” gerutunya dengan kesal.

Mereka semua yang mendengar hal itu langsung mengangkat bahunya yang canggung bahkan Sora memiringkan kepalanya yang mencoba untuk berpura-pura kebingungan.

Thramund melihat reaksi mereka seperti itu, ia mulai menggerutu dan menghujat mereka.

Ketika Thramund telah selesai menghujat mereka, ia menoleh ke Vael dan meraih kantong kulit di sakunya itu dan mengeluarkan gulungan yang tersegel yang terbungkus dengan pita biru tua yang menandai dua lambang, kerajaan Borreal dan The Profaned Capital.

Thramund menyerahkannya kepada Vael dan berkata. "Ini, bukan sekadar perkamen biasa. Ini adalah piagam yang di tanda tangani berabad-abad lalu tetapi diperbarui oleh kita sekarang yang memiliki sisa dari kerajaannya. Persaudaraan Api dan Baja masih hidup hingga kini dan ke mana pun kau pergi, Vael. Bawalah ikatan ini bersamamu, aku mohon kepadamu!"

Vael menerimanya dengan penuh hormat dengan membungkuk rendah dengan gaya tangan ke dada yang menjadi ciri khas dari para kesatria Borreal yang lututnya ditekuk dengan kepalanya tertunduk.

Thramund menanggapi penghormatan Vael lakukan itu dengan gerakan sang ahli penempa dari The Profaned Capital yang mengepalkan tangannya di dadanya lalu mengetukkan palunya sekali ke tanah.

Sesaat berlalu di antara mereka, sumpah lama dan yang baru telah dibuat dari orang-orang yang hidup dari sisa-sisa kerajaan yang sudah tidak ada lagi itu yang dihormati dalam penghormatan yang mereka lakukan itu dan kemudian tanpa basa-basi lagi, mereka melewati gerbang besar Elarion dengan langkah mereka bergema di jalan terbuka dan di balik mereka.

Padang yang hijau tak berujung, bahaya yang tak terlihat tengah menunggu mereka, dan cerita yang masih belum tertulis dalam kisah mereka itu dengan perangnya yang telah usai namun, perjalanan mereka baru saja dimulai.

Sora menoleh sekali lagi ke belakangnya itu untuk melihat kota itu sekali lagi yang berdiri tegak di belakangnya dengan tembok-temboknya yang diperbaiki menara-menaranya dan atap-atapnya yang menyilaukan mata karena memantulkan cahaya sinar mataharinya.

Namun, di depan mereka jalan yang mengarah bukit-bukit berkelok-kelok dan hutan lebatnya membuat langkah mereka membawa beban yang tak terucapkan di setiap langkahnya yang terlihat santai itu.

Vael berjalan di samping Sora dengan tenang, Kaelith berada di belakang Sora dengan busur yang ditaruh di punggungnya, dan Namien yang sedari tadi bergumam sendiri tentang jalanan yang berdebu itu dan perang yang tak terlupakan dalam benaknya itu berjalan di belakang Sora dan di samping Kaelith itu.

Meskipun mereka sebagian dari mereka tak berbicara tentang mereka sendiri, hembusan angin yang tenang itu mulai menggoyangkan rumput dengan lembut dan membuat pepohonan di sekitarnya berbisik seperti teman mereka.

Mungkin dunia mereka tinggali itu akan menuliskan dan mengingat kisah mereka dan mungkin langit menyaksikan apa yang mereka lakukan di bawahnya itu.

Namun untuk saat ini, jalan itu milik mereka dan begitulah kisah mereka yang terus berjalan maju untuk sesuatu hal yang mustahil di dunianya itu.


Other Stories
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?

Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...

Hantu Dan Hati

Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Don't Touch Me

Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...

Mentari Dalam Melody

Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...

Download Titik & Koma