The Unkindled Of The Broken Soil

Reads
776
Votes
0
Parts
31
Vote
Report
the unkindled of the broken soil
The Unkindled Of The Broken Soil
Penulis SaltSea

Bab Dua Puluh Tiga: Sumpah Ksatria Borreal Yang Hancur Dan Darah Dari Orang-orang Yang Tidak Beriman

Alun-alun desa yang berkecamuk dengan kacau di bawah cahaya obor dan beberapa senjatanya yang berdentang di tengah-tengah peperangan.

Jeritan para penduduk desa mengubah suara mereka berlima menjadi hening tak ada suara yang keluar dan keheningan mereka itu segera menjadi suara dari orang-orang yang mencoba untuk bertahan hidup dari ancaman yang membahayakan dari orang-orang yang mengikuti sekte aliran sesat.

Ini bukan sekadar medan pertarungan lagi melainkan hal ini adalah pembantaian yang tak terkendali.

Di tengah pertarungan itu, Sora berdiri di hadapan Sang Penjagal yang dengan parang milik Sang Penjagal yang berlumuran darah itu mengasah ke arah palunya yang kasar dan meninggalkan percikan apinya di hadapan Sora.

Mata Sora menyipit yang pedangnya hanya seukuran sebagian kecil dari parang milik Sang Penjagal yang jauh lebih tajam daripada kebusukannya di sekitar mereka.

Senjata mereka beradu dalam satu tebasan yang menggelegar ketika Othegrun mulai menyerang Sora dan membuat tanah di sekitar mereka hingga mereka pijak itu retak di bawah kaki mereka.

Hembusan angin membuat hawa di sekitar mereka terasa panas akan yang membuat kulit mereka terkelupas oleh hawanya dan Sora terus maju untuk melawan Othegrun yang liar dan brutal itu.

Di tempat lain, Kaelith menembakkan anak panahnya ke arah penduduk desa dengan frsutasi saat anak panahnya menancap di antara penduduk desa yang hanya untuk membuat penduduk desa itu bangkit dari jatuhnya dan mulai maju dan sebagian mereka memuntahkan cairan yang berwarna hitam ketika terkena anak panah Kaelith itu.

“Lakukan yang terbaik, bodoh.” Gerutu Kaelith yang mengatakannya kepada dirinya sendiri yang memencoba melumpuhkan pergerakan penduduk desa itu yang brutal.

Namien yang sedari tadi merapalkan mantra sihirnya berupa bola api terus menerus ke arah gerombolan di depannya dan mengibaskan darah-darah dari penduduk desa dari tangannya itu mulai menggeram,

“Aku benci aliran sesat. Apakah diriku pernah mengatakan betapa bencinya aku pada aliran sesat sebelumnya?”

“Tidak, tapi itu sangat jelas ketika aku melihat raut wajahmu saat ini.” Jawab Kaelith dengan melepaskan anak panahnya lagi yang menembus tiga penduduk desa di depannya.

Punggung mereka saling menempel dalam kekacauan dalam desa itu, baja dan sihirnya mulai berkelap-kelip seperti bintang kembar yang menolak untuk dipadamkan oleh pembusukan.

Sedangkan itu, Arelan mencoba membuka jalannya dari gerombolan penduduk desa itu yang menghampirinya dengan kehausan akan darahnya dan dagingnya itu, dengan secepat mungkin Arelan menebaskan kapaknya ke mereka bak kertas yang terpotong oleh pisau.

Vael yang melihat Arelan di sampingnya itu mencoba untuk membantunya dengan mengikuti Arelan dari belakangnya dan membantunya juga dalam membukakan jalan mereka itu menuju gereja yang dimana pendeta sesat itu sedang menertawai orang-orang yang ingin selamat dari kekacauan yang dibuatnya itu.

Di dalam gereja, pintu yang lapuk mulai terbuka dengan perlahan dan disertai derit pelannya dengan memperlihatkan Arelan dan Vael yang baru saja datang dengan keadaan berlumuran darah di zirah mereka dan senjata mereka genggam itu basah dengan darah orang-orang yang percaya akan kepalsuan dari khotbah pendeta yang membawa aliran sesat.

Di altar itu, berdiri pendeta sesat yang sudah diselimuti dengan aura kebusukannya, lingkaran api hitam telah dirapalkan oleh pendeta itu dengan mengelilingi di atas kepalanya, matanya terlihat seperti sumur kering yang cekung dan tak berdasar dengan kegelapannya, dan jubahnya yang berwarna putih dengan bercak berwarna hitam yang terisi sesuatu kebusukannya.

Pendeta itu melihat ke arah mereka dan memecah keheningan di dalam gereja dengan berkata. “Ah… Arelan yang ditolak dan Vael Si anjing setia dan keduanya dari Borreal.”

Rahang Arelan menegang dan ia melangkah maju dengan kapaknya di tangannya terangkat menuju arah pendeta itu berkata kepadanya. “Kau... aku masih mengingat raut wajahmu itu sebelum aku pergi dari Borreal karenamu dan aku sudah menyadari sedari awal ketika aku melihatmu di sini untuk membalaskan apa yang menimpa saudara-saudaraku, tempat tinggalku, dan diriku.”

Pendeta itu hanya tertawa ketika mendengar perkataan Arelan dan bertanya kepadanya dengan senyum sinisnya, “Oh, Anjing penjaga Borreal. Sudah berapa lama kita tak berjumpa? Setelah kau pergi dari kerajaan itu sebelum keruntuhannya mungkin?”

Arelan tidak menanggapi pertanyaan Pendeta itu melainkan ia sudah mencapai titik frustasinya dan memilih untuk tetap pada posisinya yang sudah siap akan kemarahannya tengah berkobar di dalam matanya saat ini. Lalu, pendeta itu menoleh ke arah Vael dan berkata kepadanya,

“Ah, Vael. Serigala Liar ini Apakah kau masih berpegang teguh dengan sumpahmu itu yang telah kau langgar? Apakah kau tidak mengetahui betapa bodohnya dirimu itu setelah ditipu oleh kerajaanmu sendiri?”

Vael menggeram dan menjawabnya, “Kau… Kau yang di Borreal. Aku masih mengingat kau yang datang sebagai seorang sarjana—”

Pendeta itu tertawa lepas dan memotong perkataan Vael yang belum selesai itu. “Dan pergi dari tempat itu sebagai algojonya.”

Vael yang mendnegar hal itu sudah tak bisa menahan emosinya lagi dan dengan tingkat kemarahan yang sudah meledak itu.

Ia menyerbu maju sambil berteriak akan kemarahannya kepada pendeta sesat itu tengah mengangkat tangannya yang mencoba untuk merapalkan sebuah mantra kegelapan yang membuat lengan-lengan busuk muncul dari bawah lantai gereja itu yang di mana tangan itu adalah para mayat hidup yang melindungi pendeta tersebut saat memanggilnya dengan kekuatannya.

“Kau berbicara tentang sumpah tetapi, sumpah itu sendiri adalah rantai yang mengekang di lehermu itu dan harus kau patuhi setiap waktu dengan loyalitas kebutaan dan kau menyebutnya kesetiaan tapi aku menyebutnya sebagai kebodohan.” Kata pendeta sesat itu dengan menertawai Vael yang sedang menyerbunya itu.

“Kalau begitu, sebut saja ini penghakimanku atas nama sumpahku yang bodoh itu untuk kematianmu.” Vael menjawab perkataan pendeta sesat itu dengan menenbaskan lengan-lengan yang mencoba untuk menghentikannya dari bawah lantainya itu dan menghancurkan gelombang pertama dari mantra sihir pendeta sesat itu yang hendak ingin membunuhnya.

Arelan bergerak mengikutinya dengan cepat dan brutal yang kapak-kapaknya mulai digerakkan untuk menembus tulang dan busuk sebagai barikade dari pendeta sesat itu untuk mencapai jangkauannya ke pendeta sesat itu.

Pendeta itu terkekeh ketika gelombang pertamanya dihancurkan dan melihat Vael serta Arelan cukup dekat dengan jaraknya itu membuatnya tak mempunyai pilihan selain mengubah wujudnya yang sesungguhnya dengan penampilan kulitnya yang menghitam, membusuk, dan dan pancaran auranya seperti aroma kematian dan pembusukan dari hasil transformasinya dengan sihir kegelapannya.

Pendeta sesat itu tidak lagi mengenakan jubah putih pendetanya tetapi badannya sudah diliputi oleh tulang-tulang dan daging-daging yang membusuk dijadikannya sebagai pakaiannya yang memperlihatkan urat nadinya yang berdenyut dengan warna kehitaman, jari-jarinya menjulur menjadi cakar yang seperti binatang buas, dan perwujudan korupsi kekuatan kegelapann yang bersinar berwarna hitam dan berdenyut di dadanya seperti inti dari semua aliran sihir kegelapannya itu berkumpul di satu titik tertentu.

Pendeta sesat itu menampakkan wujud aslinya dengan bertarnsformasi menjadi daging yang membusuk dari api kehitaman yang memancar di sebagian badannya itu telah menampakkan siapa dirinya itu sebenarnya.

Vael dan Arelan berhenti sejenak di hadapan mereka yang pendeta itu kini sepenuhnya berubah menjadi iblis berwujud manusia sebelumnya itu mulai mengencangkan kembali genggaman mereka berdua pada senjatanya, dua ksatria yang tempat tinggalnya hancur melawan pendeta sesat yang bertransformasi menjadi iblis saat ini telah dimulai.

Setiap serangan yang dilancarkan Vael dan Arelan kepada pendeta sesat itu membuat serangan mereka itu dikembalikan dengan menggunakan gelombang kejut yang dirapalkan pendeta sesat itu kepada mereka berdua yang membuat mereka berdua terhempas menjauhi pendeta itu dan membuat seluruh isi gereja itu porak-poranda seperti bangku-bangku yang ikut terpental, kaca patri gerejanya itu pecah, dan setiap lilin yang menyala di sekitar areanya itu kini mati seluruhnya karena hempasan anginnya yang kuat.

"INI ADALAH GEREJA EVOLUSI!" jeritan seorang pendeta sesat itu dengan mengangkat kedua tangannya ke langit sambil melihat Vael dan Arelan yang terhempas itu mencoba bangkit dari tanah.

"Tidak sampai diriku menghancurkanmu, iblis." Jawab Vael dengan bangkit kembali sambil meludah ke sampingnya yang air liurnya sudah bercampur dengan darahnya itu dan mereka berdua kembali maju dan menyerangnya lagi setelah itu.

Sementara itu, di luar gereja... Othegrun menggeram dengan mengayunkan goloknya dengan jangkauan serangan yan melebar pada Sora dan Sora yang melhat hal ini sebagai peluang emasnya.

Dengan cepat ia meluncur rendah ke bawahnya dan menusuk Othegrun yang bilah pedangnya menancap dalam tulang rusuk raksasa itu melalui punggungnya.

Sang Penjagal hendak ingin mencengkeram Sora yang berada di belakangnya itu dengan tangannya yang membuat Sora melangkah mundur kembali serta mencabut pedangnya yang menusuk bagian belakangnya itu. Sora yang melihat lawannya ini sudah berlumuran darah dengan napas Othegrun yang terengah-engah tetapi masih hidup setelah menerima banyak serangan dari Sora.

Lalu, di saat Othegrun membalikkan badannya yang melihat ke arah Sora itu dengan penuh amarah, Sora melihat ke sekelilingnya dan ia melihat obor di dekatnya dan hendak ingin mencoba sesuatu dengannya dan Sora melihat ke arah Sang Penjagal.

Sora berlari dengan cepat untuk mendekati Othegrun sebelum ia melancarkan serangannya itu tapi, Othegrun sudah mengangkat goloknya untuk melakukan tebasan terakhirnya sebelum Sora mencapainya itu.

Sora bergerak cepat dan ketika sudah mendekati Othegrun itu yang sudah mengayunkan ke arah Sora, Othegrun tidak dapat menemukan Sora di manapun yang Sora sendiri menghilang dari pandangannya itu.

Lalu, Sora muncul kembali dan mengambil obor yang berada di dekatnya itu untuk memukuli bagian belakang Othegrun dengan obor yang membuatnya terbakar di bagian belakangnya dan Sora melihat kesempatan untuk menaklukannya itu dalam keadaan terbakar.

Sora menusukkan bilah pedangnya ke arah Othegrun di bagian belakang lehernya itu.

Dengan suara gemuruh, Othegrun itu mulai terlihat sudah tak bisa menahan serangan dari Sora itu yang membuatnya terbakar, akhirnya Sang Penjagal jatuh berlutut ke depan dan ambruk dalam getaran tanah yang membakar dagingnya menjadi abu tak lama lagi.

Sora yang mencabut pedangnya dari Othegrun yang sudah tak bernyawa itu, mulai bergerak lagi ke arah Kaelith dan Namien yang masih berusaha melawan penduduk desa yang mengepung mereka berdua dengan cepat.

Kaelith dan Namien yang masih terkepung oleh penduduk desa itu dengan berlumuran darah dari penduduk itu yang mencoba mendekati mereka itu, melihat Sang Penjagal telah dikalahkan ketika tanda-tanda dari Sora yang sudah sampai di bagian belakang penduduk desa itu dengan menyerang penduduk desa dari arah belakangnya itu.

Namien yang masih memfokuskan dirinya itu dengan aliran mana sihirnya itu, mengembuskan napas dan berkata kepada Kaelith, "Akhirnya, satu monster tumbang."

Kaelith menanggapi Namien dengan, "Tiga ratus lagi yang masih berdatangan ke arah kita, Namien. Tetaplah fokus!"

Desa itu masih berkecamuk dengan pertarungan yang mematikan dan dipenuhi dengan hal-hal yang brutal dari lima penyintas melawan ratusan penduduk desa yang kanibal dan kewarasannya sudah tidak ada lagi itu masih berkecamuk di antara mereka itu.

Gereja yang berguncang karena sihir kegelapan dari transformasi pendeta sesat itu membuat seluruh isi desa dilanda kekacauan dan juga membuat semua hal ini menjadi sesuatu yang tak pernah dipikirkan oleh seorangpun sekalipun dan di dalam gerejanya itu.

Pendeta sesat dengan hati yang tidak beriman dari sekte sesatnya itu begema lebih kuat, lebih keras, dan lebih gelap dari sebelumnya.

Namun, Si Pendiam, Si Pemanah, Si Ular Berjubah Robek, Sang Ksatria dengan Sumpah Terakhirnya, dan Sang Ksatria yang di cap pengkhianat karena Prinsipnya tidak akan membiarkannya bergema lebih lama lagi karena keberadaannya saja itu mengundang kematian terhadap semua orang yang berada di sekitarnya.

Pertarungan ini lebih dari sekadar pertarungan, melainkan lebih seperti pngusiran setan dari ajaran yang sesat dari pembawanya itu baru saja dimulai.

Altar di dalam gereja yang sudah hancur itu di bawah kaki ksatria Borreal dan pendeta sesat itu juga membuat pertarungan di dalamnya semakin mematikan dan abu-abu dari sisa pembakaran mantra sihir api hitam itu jatuh seperti salju dari langit-langit dan kaca patri gereja yang berada di atas mereka hancur sebagiannya dengan sisa-sisa cahaya rembulan yang masuk ke dalamnya itu sebagai pertarungannya itu adalah simfoni dari dentingan baja, remukan tulang-tulang mayat hidup dibangkitkan, dan kebusukan sihir yang dirapalkan satu waktu dalam satu tempat yang sama.

Vael yang sedari tadi menyerang dan bertahan mulai terlihat terengah-engah dan kelelahan yang sudah mengayunkan bilah pedangnya berulang kali bernyanyi saat menebas ke arah pendeta yang telah memanggil mayat hidup sebagai tameng daging dari orang-orang yang telah mati itu untuk melindunginya yang sudah berubah menjadi makhluk lebih dari sekadar binatang buas dan manusia yang paling kejam sekalipun.

Tubuhnya yang membusuk berwarna hitam, sebagian kulitnya terkelupas, dan matanya berwarna kehitaman pukat yang menandakan kekuatannya yang bersumber pada kegelapan.

Serangan Vael terus dilancarkan dan mencoba menghindari setiap serangan sihir dan serangan mayat hidupnya juga saat pendeta itu merapalkan mantranya dengan menyerang Vael walau mengenai mayat hidup yang telah dipanggilnya itu.

Arelan yang hanya fokus apa yang ada di depannya dengan mengayunkan kedua kapaknya itu dengan teriakan seorang prajurit dan pejuang yang dikhianati dan dianggap sebagai pengkhianat itu mengerahkan semua yang ia miliki untuk melenyapkan apa yang telah membuatnya hancur dalam sisa-sisa kehidupannya di masa lampau dan masa kini yang telah diasingkan oleh tempat tinggalnya sendiri bukan dari kesalahan keseluruhannya itu.

Pendeta sesat itu mulai menertawakan mereka berdua dengan tetap memanggil pasukan mayat hidup yang terus menerus muncul dari lantai gereja yang sudah hancur itu dengan kekuatan yang dimilikinya itu.

"Biarkan aku mencicipi kesetiaanmu..." suara pendeta sesat itu serak dan suaranya seperti ribuan bisikan yang bergema di dinding gerejanya.

Vael menggertakkan giginya saat darah mulai mengalir dari bagian lengannya akan serangan yang diterimanya dan ingatannya tentang Borreal yang dirusak olehnya itu mencoba untuk mengerahkan seluruh kemampuannya itu untuk menyerang pendeta sesat itu.

Bayangan dari ingatan Borreal terbakar tak ada sisa hingga kehancurannya, saudara-saudaranya yang pernah bersumpah di bawah panji Borreal dengannya itu telah gugur satu persatu, dan sumpah-sumpah yang pernah diingkarinya itu mulai terbesit di pikirannya hingga apa yang dilihat di depan matanya itu sudah membuatnya cukup lelah hingga membuat kakinya yang berdiri tegak akan membalaskan apa yang pernah menjadi penyesalannya itu lemas hingga kehilangan keseimbangannya dalam bertarung itu.

Hingga, pusaran kapak dari Arelan mulai menghantam ke sisi pendeta sesat itu ketika Arelan berhasil menerobos barikade dari pasukan mayat hidup itu dengan kebrutalannya yang seperti perwujudan iblis dalam peperangan itu membuat celah hingga menyerang pendeta sesat itu.

Arelan yang juga lelah akan semua hal itu telah membukakan jalan bagi Vael dengan amukan badainya yang Arelan melancarkan rentetan serangan tanpa henti yang akhirnya mendorong pendeta sesat itu mundur untuk melepaskan kekuatan sihirnya yang sebelumnya mengarah ke Vael kini hendak menargetkan ke Arelan.

Namun, semua itu telah terlambat. salah satu serangan Arelan mengenai bagian pendeta sesat itu hingga membuat sebuah sayatan yang sangat dalam dan besar di tulang rusuk pendeta sesat itu yang menyemburkan darah hitam pekat keluar dari dadanya itu.

Pendeta sesat itu menjerit kesakitan dan mengehmpaskan Arelan dengan sihirnya itu untuk menjauhkan Arelan dan mencengkeram lukanya itu.

Arelan yang terhempas begitu saja mencoba untuk menahan hempasannya itu dengan kakinya yang masih stabil keseimbangannya itu hingga serangan Arelan itu membuat mayat hidup itu jatuh ke tanah ketika serangannya itu memberikan dampak bagi keadaan kesua ksatria Borreal itu.

"Berani-beraninya kau membuatku berdarah seperti ini!" desis pendeta sesat itu dengan kegilaannya mulai frustasi dan mencoba untuk merapalkan sihir kematian yang disertai kutukan di dalam rapalannya.

Dari lantai dan dinding gerejanya itu, keluar lagi prajurit mayat hidup muncul dengan mengenakan baju besi berkarat dan menghunuskan senjata tajam mereka yang matanya mereka bersinar dengan cahaya biru mematikan.

Gerombolan mayat hidup itu yang sisa dari para pejuang gugur itu mulai menyerbu Vael dan Arelan yang berjumlah puluhan.

Tak ada pilihan selain Vael dan Arelan bertarung lagi dengan berdampingan dengan menjaga punggung mereka satu sama lain dari kepungan puluhan mayat hidup dengan perlengkapan yang sudah usang dan berkarat itu.

Baja berdenting lagi, stiap serangan ksatria Borreal membuat tulang-tulang mayat hidup itu hancur tak bersisa, dan di dalam gereja jauh lebih menakutkan daripada di luarnya itu ketika kondisinya bukan lagi brutal dan kacau melainkan lebih dari misi bunuh diri sendiri.

Di saat pertarungan berlangsung, tanah di sekitar gereja terasa sangat bergetar akan kemunculan pasukan mayat hidup tak ada habis-habisnya itu.

Pendeta sesat itu yang terluka mencoba untuk merapalkan mantra kematian dengan membuat tubuhnya melayang di atas altar dengan bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih horror dari sebelumnya itu menyelesaikan mantranya dan ia mengambil bilah pedang hitamnya dari hasil rapalannya itu yang terbentuk dari kegelapan yang sangat mematikan dengan pedangnya bergerigi dan ditempa dari bayangan dan api kebusukan.

Mulut pendeta itu merapalkan sihir lagi yang mengucapkan kutukan dengan mengaliri sihirnya itu ke setiap bilah pedangnya itu dengan api hitam menyelimuti pedangnya.

Gereja bergetar dengan kekuatan pendeta sesat itu hingga membuat semua benda yang berada di dalam gereja hancur tak bersisa.

Vael yang sedang bertahan itu, melihat sebuah celah dan peluang yang memungkinkan dengan ia melesat ke bagian kanan untuk mengitari pendeta sesat itu ketika gerombolan mayat hidup itu mengejarnya dan pendeta sesat itu menyadari pergerakannya itu berbalik ke arahnya dengan mengangkat bilah pedangnya terkutuk itu lalu melontarkan serangan ke depan Vael sambil menertawainya.

Namun, Vael menghilang begitu saja saat serangan pendeta sesat itu mengenai pasukan mayat hidupnya sendiri saat mengejar Vael itu hingga Vael muncul di belakangnya dan berkata.

"Di belakangmu!"

Terlambat untuk pendeta sesat itu untuk menghentikan tawanya dan berbalik ke belakangnya itu dengan merasakan suara pedang Vael yang merobek dagingnya itu dengan serangan kejut dari Vael yang bergerak dengan tidak semestinya.

Vael yang sudah menyerangnya itu, memotong lengan kanan pendeta sesat itu dan pedang gelap yang digenggamnya itu jatuh dengan tangannya yang terpotong di lantai gerejanya dan raungan akan kesakitan pendeta sesat itu bergema dengan keras.

Saat pendeta itu masih meraung kesakitan, Arelan yang terbebas dari kepungan mayat hidup menyambutnya dengan kedua kapaknya yang disilangkannya dan menebas pendeta sesat itu dengan tebasan lengkungan bersih merobek dadanya lagi hingga sayatan serangan kapaknya itu mencapai bagian atas leher pendeta sesat itu dengan menyemburkan dan menumpahkan nanah hitam.

Pendeta sesat itu terhuyung-huyung hingga berlutut akan ketidakberdayaannya dan pendeta itu masih mencoba berbicara kepada mereka berdua.

Namun Vael melangkah maju ke hadapannya itu yang pendeta itu memegangi bagian lehernya untuk mencoba memohon kepada mereka berdua itu dan dengan seluruh kekuatan sumpah Vael tanpa harus mendengarkan perkataan pendeta itu.

Vael menusukkan pedangnya ke jantung pendeta sesat itu yang tubuhnya sudah terkutuk itu dan matanya kehilangan sinar kehidupannya meredup begitu saja.

Hembusan terakhir dari pendeta sesat itu keluar dari mulutnya yang hancur membuat seluruh pasukan mayat hidup yang dipanggilnya itu jatuh ke lantai gereja yang menandakan pertarungan kedua ksatria Borreal sudah mencapai akhirnya.

Lalu, keheningan di dalam gereja menjadikannya sunyi.

Arelan menurunkan kapaknya dengan mencoba mengatur napasnya atas akhir dari pertarungan itu dan Vael masih berdiri di tempatnya dengan pedangnya masih digenggamnya itu melihat dada pendeta itu yang mengeluarkan aliran darah hitam dan membuat tanganya bergetar.

Kemudian, Vael menyarungkan pedangnya itu dan membuatnya terdiam sejenak dan berkata setelah sudah tenang.

"Sumpah ini takkan pernah mati walau dihancurkan olehmu sekali pun yang bukan hanya untukku saja tapi, untuk Borreal dan orang-orangnya juga." Bisik Vael sambil memandangi pendeta sesat yang sudah tak bernyawa itu dan tak lama setelah dari perkataannya itu.

Vael meludah ke arah mayat pendeta sesat itu dengan air liurnya yang sudah bercampur dengan darahnya.

Arelan yang melihat hal itu, tidak berkata apa-apa namun, tatapan mata Arelan ke Vael saling bertatapan itu bukanlah tatapan memaafkan atau persahabatan mereka melainkan tatapan pengakuan dari perkataan Vael itu benar seutuhnya kepada orang yang menghancurkan tempat tinggal mereka.

Dua ksatria terakhir dari kerajaan yang runtuh telah menemukan kemenangan dan balas dendam mereka yang membuat pedang mereka terhunus atas nama kerajaannya dan di belakang mereka, kebusukan mulai terbakar dengan sendirinya untuk menemui ujungnya dan bayangan mulai terangkat oleh cahaya yang selalu menutupinya.

Sora, Kaelith, dan Namien telah menyelesaikan tugas mereka yang seluruh penduduk desa itu sudah jatuh di tangan mereka yang jumlahnya sangat banyak hingga jasad mereka memenuhi jalan desa itu melangkah ke arah gereja dan masuk ke dalam gereja yang rusak itu, bilah pedang Sora diturunkan tetapi tergenggam erat di tangannya dengan darah hitam kemerahan atas darah penduduk desanya.

Di belakangnya, Kaelith masih bersiaga dengan anak panahnya sudah siap di busurnya itu karena refleks daripada kesiapannya dan Namien mengikutinya dalam keadaan terengah-engah dan menggerutu pelan akan merapalkan sihirnya sebanyak itu.

“Penduduk desa ini berdarah dan terus berkembang biak seperti jamur namun setiap yang hidup, pasti menemui ajalnya. Menurutmu Kaelith, mayat hidup yang kita lawan ini bisa merasakan kelelahan juga? Karena aku sudah merasakannya.” Gumam Namien tengah membersihkan darah dari lengan bajunya.

Kaelith menoleh ke arahnya dengan menyeka darah dari pipinya. “Kurangi rengekanmu itu, Namien. Lebih banyak berjalan.”

Di dalam gereja yang telah hancur, berdiri di sana bayangan ksatria yang berdiri dari pertarungannya dan sinar matahari mulai terlihat dari lubang-lubang langit gerejanya yang memperlihatkan dua kesatria Borreal.

Vael dengan baju besinya setengah hancur dan dipenuhi dengan darah itu kini tidak memegang senjata apa pun bahkan pedangnya sudah disrungkan olehnya di pinggulnya.

Vael berbalik ke belakang dan melihat Sora, Kaelith, dan Namien itu dengan mata kosong penuh kemenangan.

Ia tidak berkata apa-apa lalu, Vael berjalan melewati mereka bertiga dan meninggalkan gereja tanpa sepatah kata pun.

Langkah kakinya bergema di bangku-bangku yang sudah rusak dan suara langkah kakinya terdengar hampa.

Yang lain memperhatikannya pergi keluar dari gereja dan beberapa saat kemudian, Arelan tetap diam dan tidak bergerak di dekat altarnya itu dengan kedua kapaknya di sarungkan kembali ke punggungnya itu.

Matanya yang dulu tajam karena prinsip yang dibawanya yang memegang tegih makna dari seorang pejuang sesungguhnya itu kini menemui apa yang ditemukannya selama ini dan ia tidak berbicara sejak pendeta itu tak bernyawa bahkan kepada Vael sekali pun.

Baru pada saat ia menyadari yang lain mulai memperhatikannya dari Sora, Kaelith, dan Namien yang melihatnya itu ketika ia berbalik seolah terbangun dari ingatannya yang jauh.

Namien memecah kesunyian terlebih dahulu dengan menyeka keringat dari alisnya bercampur dengan sisa percikan darah.

“Wah, itu sangat mengharukan. Apakah aku melewatkan pembaruan sumpah persaudaraan yang telah dilupakan atau apakah seseorang lupa membawa anggur untuk merayakannya?”

Arelan tidak ingin membalas sarkasme itu namun mendengar Namien berkata seperti itu, ia menanggapi perkataan Namien dengan tegas.

“Itu bukan urusanmu.” Katanya dengan singkat.

Namien mengangkat sebelah alisnya yang jelas tidak terkesan atas tanggapan Arelan. “Ck... selalu bersikap kaku semua ksatria Borreal yang pernah kutemui.”

Arelan memunggungi mereka dan berjalan menuju pintu gereja. Kaelith mengembuskan napasnya dengan perlahan dan menurunkan busurnya dan Sora hanya menatap kedua kesatria itu tanpa kata-kata yang hanya beban dipikul mereka dalam mata mereka.

Ketika berada di luar gereja, Arelan berhenti sejenak cukup lama untuk melihat Vael yang sedang duduk di atas bongkahan batu besar dan pemandangan di depannya sudah dipenuhi penduduk desa yang terkapar dan tak bernyawa itu.

Udara di luar gereja dipenuhi aroma darah dan iman yang telah hancur serta didoktrin dengan ajaran pendeta sesat itu dan kini desa itu, yang sekarang sunyi senyap telah kembali ke keheningannya yang mematikan dengan penduduknya tidak lebih dari bejana-bejana pecah dari sebuah aliran sesat yang terlupakan di atas tanahnya.

Vael yang sedang duduk itu hanya bisa menundukkan kepalanya dengan meletakkan pedangnya bersandar di dekatnya.

Mata Vael tidak terpaku pada pemandangannya tetapi, matanya menerawang jauh di suatu tempat yang lebih dalam melewati reruntuhan, melewati bukit-bukit berkabut, dan melewati waktu itu sendiri yang pikirannya menuju ke Borreal.

Teriakan penduduknya, api yang membakar setiap tempatnya, panji-panji yang berjatuhan dengan bercak darah di benderanya, dan semuanya itu telah menghantuinya seperti bayangan yang hidup di sisinya setiap saat untuk mengingatkannya.

Arelan berdiri di sampingnya dengan lengannya yang dilipatkan di dadanya itu dan kapak kembarnya membebani punggungnya dengan matanya yang tertuju pada cakrawala desa yang kelabu itu.

Keduanya tidak saling memandang satu sama lain yang mereka tidak perlu melakukannya untuk mengetahui apa yang sebenarnya mereka rasakan itu.

"Masih menyesali masa lalumu?" tanya Arelan yang memecah keheningan di antara mereka berdua itu dengan suaranya yang pelan.

Vael menjawabnya. "Kurang lebih seperti dirimu saat ini."

Lalu Arelan menanggapinya “Sama sepertiku? Yang masih menghantui mimpiku dan masih membusuk dalam mimpiku lebih tepatnya.”

Vael memiringkan kepalanya sedikit untuk menoleh ke arah Arelan itu, berkata dengan suaranya yang rendah. “Kau tidak sepenuhnya salah, kau tahu hal itu. Aku merasakannya saat kau berbicara di gereja itu dan kau juga merasakannya melalui semua tindakanmu itu tentunya kau berbicara, bukan?”

Arelan mengangguk samar. “Dan sekarang kau merasakannya dan mengetahui apa yang selama ini kumaksud.”

Keheningan di antara mereka membentang bukan hanya dari kejauhan yang terdengar tetapi, dari pengertian akan rasa dan kenangan mereka yang selalu membekas itu.

“Kalau begitu… beban ini yang harus kita tanggung selamanya.” Gumam Vael dengan pelan yang wajahnya melihat ke arah pemandangan desa saat ini di depannya itu.

“Ya, tapi untuk menebusnya… kita terus melangkah maju bahkan jika tanah yang kita pijak ini runtuh ke bawah.” Jawab Arelan dengan pelan dan tegas.

Akhirnya Vael menatapnya dengan serius dan untuk pertama kalinya sejak kejatuhnan Borreal yang mempertemukan kembali dua kesatria yang pernah berdiri di bawah panji yang sama dengan menapak jalan yang berbeda itu, berbagi lebih dari sekadar kesalahan dan penyesalan mereka.

Namun, mereka juga berbagi beban dan penerimaan mereka satu sama lainnya dalam menghadapinya.

Vael berdiri dari tempat duduknya itu dan mengambil pedangnya yang diletakkannya itu dan kini, mereka berdiri yang di mana sang ksatria dengan sumpahnya dan ksatria dengan prinsipnya itu tidak lagi dipisahkan oleh pengkhianatan tetapi, terikat oleh setiap dosa mereka di masa lalunya itu yang masa lalu itu sendiri tidak dapat dilupakan dengan mudah begitu saja tetapi, masa lalu dapat dibawa seperti halnya rasa sakit mereka yang dibawa bagai beban kehidupannya.

Keheningan di pelataran gereja yang telah hancur itu terasa lebih berat dari bau darah yang masih menggantung di udaranya.

Sora, Kaelith, dan Namien melangkah keluar dari dalam gereja itu dan mereka langsung melihat pada dua sosok ksatria Borreal yang berada di dekat bongkahan batu yang Vael yang berdiri di dekatnya itu.

Vael dan Arelan saling memandang yang aura mereka berdua seperti percakapan intens yang tak terucap terasa begitu kental di antara mereka berdua.

Dan di sanalah di tengah keheningan itu, mereka akhirnya saling memahami mulai dari Vael yang mengerti alasan mengapa Arelan pergi dan Arelan akhirnya merasakan beratnya beban yang Vael pikul selama ini dalam keadaan kesepian saat Borreal hancur dari dalamnya.

Keheningan yang sakral itu tentu saja tidak bertahan lama di hadapan Namien yang mengusap kembali keringatnya dengan jubahnya dan melihat ke tumpukan mayat penduduk desa yang mengerikan dan memadukan suasana dengan nada sarkasme yang khas di hadapannya itu.

"Wah, wah, wah. Komite penyambutan yang luar biasa setidaknya yang mereka tidak lagi tersenyum rupanya. Itu sebuah kemajuan sangat signifikan, kurasa." Katanya sambil menyeka keringatnya itu.

Vael dan Arelan sama-sama menoleh ke arah Namien di belakangnya itu dengan ekspresi muram yang mereka tunjukkan dan merasa sedikit terusik akan ucapan Namien itu.

Kaelith hanya bisa menghela napasnya dengan pelan akan tingkah Namien itu dan sementara Sora tetap diam yang mengamati interaksi itu.

Arelan melihat ke arah Namien lalu, kembali melihat ke Vael dengan bertanya keheranan.

"Apakah dia selalu seperti ini?"

Vael menghela napas panjangnya yang menandakan sebuah gerakan kelelahan sekaligus penerimaan akan hal itu.

"Kau akan terbiasa dengan orang-orang yang selalu banyak bicara ini nantinya." Jawabnya dengan nada datar tanpa memberikan sedikit pun nada permusuhan.

Senyum yang sangat tipis dan nyaris tak terlihat, tersungging di bibir Arelan. Itu untuk pertama kalinya ia menunjukkan ekspresi selain ketegangan atau amarah sejak mereka berdua bertemu.

Tak lama setelah itu, Arelan menegakkan tubuhnya dan ia berjalan melewati Vael untuk mendekati Sora yang berdiri di antara mereka bertiga yang paling tenang. Mata sang ksatria Borreal itu menatap lurus ke mata Sora yang diam dan berkata.

"Aku telah melihat mengapa ia mengikutimu dan ia masih memegang sumpahnya pada Borreal yang sebuah sumpahnya itu seharusnya mengikatnya pada kerajaannya. Namun, kau memberikan jalan untuk tetap menunaikan sumpah itu tanpa harus terkurung oleh seseorang yang mengikuti orang yang diikutinya itu untuk bersumpah kepada orang tersebut dan meninggalkan sumpah lamanya." Kata Arelan dengan suaranya kini lebih tegas dan ketika ia menghentikan perkataanya sebentar.

Ia menoleh ke arah Vael dan berhenti sejenak memandangnya lalu, langsung bertanya kepada Sora, "Izinkan aku berjalan bersamamu seperti dirnya itu dan aku ingin melihat jalan yang Vael tempuh itu juga bersamamu sebagai orang yang diikutinya itu."

Sora tidak langsung menjawab permohonan Arelan yang keheningannya terasa seperti sebuah pertimbangan yang mendalam.

Alih-alih mengangguk atau menggelengkan kepalanya, Sora melakukan sesuatu yang tak terduga.

Dengan perlahan, ia menunjuk dengan jarinya yang terangkat itu dan mengarahkan lurus ke arah Vael yang seolah-olah Sora berkata, ‘itu bukan keputusanku. Tanyakan kepadanya!

Sekali lagi, semua mata mereka mulai dari Kaelith, Namien, dan Arelan tertuju kepada Vael dan mereka menunggu penjelasannya dan keputusannya itu terkait permohonan Arelan.

Ketegangan kembali terasa namun, kali ini berbeda yang bukan lagi ketegangan permusuhan melainkan penantian akan sebuah awal yang baru.

Vael menatap Arelan ketika ia melihat tindakan Sora untuk menjawab permohonan Arelan itu lalu, pandangannya beralih ke jalan setapak yang terbentang di depan mereka itu jalan yang akan membawa mereka pergi dari lembah terkutuk itu.

Vael menarik napasnya dalam-dalam dan udara dingin memenuhi paru-parunya yang lelah itu.

Borreal sudah hancur sepenuhnya, Arelan. Yang tersisa dari kerajaan itu saat ini hanyalah abunya dan sumpah kita yang masih terikat kepadanya.” Kata Vael dengan suara rendah namun jelas yang setiap katanya membawa beban sejarah mereka.

Vael akhirnya menoleh untuk menatap mata Arelan secara langsung dengan ekspresinya yang keras kini melunak dan digantikan oleh pemahaman yang lahir dari pertumpahan darah dan rekonsiliasi.

“Dan jalan ini... adalah tempat kita menunaikannya sekarang.” Lanjut Vael yang melihat Sora setelahnya dan sedikit mengangguk ke arah Sora itu lalu, berhenti sejenak untuk membiarkan kata-katanya meresap.

Dengan ketegasan seorang komandan dan kehangatan seorang saudara yang telah lama hilang, ia memberikan penjelasannya.

“Berjalanlah di samping kami, saudaraku.” Arelan yang mendnegar hal itu tidak tersenyum tetapi, bahunya yang tegang tampak sedikit lebih rileks.

Arelan hanya bisa mengangguk sekali sebagai sebuah anggukan yang mengandung rasa hormat, penerimaan, dan janji. Kelompok yang hancur akibat pertempuran kini telah utuh kembali dan lebih kuat dari sebelumnya.

Di bawah langit yang mulai cerah, lima pengembara kini berdiri bersama dan siap melanjutkan perjalanan mereka.

Dengan sumpah yang diperbarui dalam kedamaian, pengembara kelima itu kembali dari desa yang terkutuk itu, meninggalkan mayat-mayat yang tersenyum dan gereja yang hancur menjadi abu dan tulang.

Jalan setapak yang membawa mereka keluar sama sunyinya dengan jalan masuk sebelumnya tetapi kali ini, kenyamanan itu terasa bersih, seolah-olah demam telah pecah.

Mereka kembali melewati hutan kuburan, tempat mayat hidup pernah menggiring mereka. Namun sekarang, tidak ada yang bergerak.

Burung-burung gagak telah pergi dan tawa mereka yang mengerikan menghilang dari pepohonan. Batu-batu nisan itu kembali menjadi batu, miring dan sunyi, penjaga yang tak lagi gelisah dari tempat mereka yang telah lama terlupakan.

Hutan itu tidak lagi terasa seperti ancaman; hutan itu terasa seperti makam yang akhirnya menemukan kedamaiannya.

“Jadi, pendeta itu adalah sumbernya. Cabut kepalanya dan tubuhnya pun ikut mati bersamanya.” Gumam Namien yang lebih kepada dirinya sendiri saat mereka keluar dari kabut hutan itu.

“Kuharap pendeta itu tak bangkit menjadi mayat hidup. Sangat merepotkan bila hidup kembali.” Jawab Vael dengan muram yang berharap agar hal tersebut tidak terjadi.

Perjalanan mereka berlanjut, menjauh dari Linshuin Pass yang berhantu dan menuju ke medan yang lebih pembohong dan tak terjangkau. Selama berjam-jam mereka berjalan, hingga jalan setapak itu menyempit dan diapit oleh dinding batu curam yang menjulang tinggi di kedua sisinya seperti tulang rusuk dunia.

Di lembah yang terlindung inilah mereka akhirnya berhenti untuk beristirahat saat bayang-bayang sore memanjang seperti jari-jari mereka yang lelah.

Api unggun yang dibuat Vael menyala dengan cahayanya yang berkedip-kedip menari-nari di atas bebatuan yang menjulang tinggi, menciptakan tempat perlindungan yang intim di tengah-tengah alam liar yang luas.

Kaelith duduk di dekat Sora, Namien mengeluarkan botol berisi minuman keras yang entah dari mana asalnya, dan Vael mengawasi dari bayang-bayang, kehadirannya terasa menenangkan.

Namun, Arelan-lah yang menjadi pusat perhatian yang tak terucapkan. Namien, yang tidak pernah bisa menahan rasa ingin tahu, memulai pembicaraan mereka.

"Baiklah, Arelan. Kau sudah resmi saat ini berjalan bersama kami, berdarah bersama kami, dan bertukar pandang muram dengan kami tapi, lebih khusus ke Vael saja. Sudah waktunya kau berbagi sedikit tentang dirimu mungkin."

Kaelith menoleh dengan melihat ke arah Arelan yang rasa ingin tahunya itu ingin mendengar dari Arelan juga.

"Vael hanya mengatakan sebelumnya bahwa kau pergi dari Borreal dan dia tidak pernah mengatakan alasannya kepada kami mengapa kau meninggalkannya." Tambah Namien sambil menuangkan minuman itu untuk dibagikan ke seluruh orang di sana.

Arelan menatap api unggun yang wajahnya datar tanpa ekspresi terpahat oleh cahaya dan bayangan.

“Aku pergi karena aku melihat kebusukan yang bukan dari musuh yang hendak menyerang gerbang depan tetapi, dari dalamnya yang kulihat para penasihat raja dan para sarjana itu menggali sesuatu yang seharusnya tidak mereka gali. Sebuah artefak kuno yang begitu gelap akan ilmu kegelapannya yang tak bisa dijelaskan dan mereka menyebutnya sebuah kesejahteraan untuk diterapkannya.” Kata Arelan dengan suaranya pelan karena mengingat setiap kenangan yang tak bisa ia lupakan dari itu.

“Mereka mengira itu adalah sumber kekuatan dan cara untuk memajukan peradaban di Borreal selamanya tetapi, artefak itu tidak memberikan apa yang mereka bicarakan kepada raja melainkan artefak itu mengambil seluruh yang ada di Borreal. mereka yang membuat sang raja meyakini hal tersebut memuat keyakinan kebusukan di dalamnya dan sebuah harapan palsu yang diberikan kepada sang raja. Aku melihat para kesatria yang baik menjadi kejam dengan membunuh rakyatnya sendiri saat sihir kegelapan mengontrol mereka sebagiannya dan para sarjana yang bijaksana dan tidak mengikuti mereka yang meyakini artefak kuno itu menjadi paranoid ketika kekacauannya sudah terjadi. Aku berbicara karena aku menentangnya dan mereka menyebutku pengkhianat. Jadi aku memilih pergi yang tujuannya bukan untuk menyelamatkan diriku sendiri tetapi, untuk mencari cara untuk melawan kebusukan itu dari luarnya. Namun, pada akhirnya aku gagal untuk melakukan hal tersebut pada saat aku menemukan seseorang pengembara yang mengetahui kabar bahwa Borreal sudah menjadi abu dan rata dengan tanah ketika aku mendnegarnya secara langsung saat itu.” Lanjutnya dengan mengambil kapaknya dari punggungnya itu lalu sambil memeganginya dengan erat akan kepergiannya yang disesalinya itu.

Keheningan akan penyesalan Arelan itu terdengar sangat berat dengan beban pengakuannya.

Kemudian, Arelan mengangkat kepalanya dan matanya kini tertuju kepada Sora dan berkata kepadanya. “Aku telah menceritakan bebanku dan sekarang aku ingin mengetahui mengapa orang-orang di sini memilih untuk mengikutimu, Si Pendiam.” Katanya dengan nadanya berubah yang lebih keheranan.

Arelan ingin mengetahui dari Sora secara langsung mengapa orang seperti dia ini mendapat pengakuan dari orang-orang sekitarnya ini menurut Arelan yang kebingungan itu.

Sora melihat ke arah Arelan dengan ekspresinya yang tenang seperti permukaan kolam yang dalam. “Apa yang mendorongmu untuk melakukan perjalanan tanpa tujuan ini sebetulnya? Maaf, bila aku sedikit lancang mengenai pertanyaanku ini.” Arelan bertanya dengan mencondongkan tubuhnya yang sedikit lebih mendekat kepada Sora yang berada di sampingnya itu.

"Semua hal yang kau lakukan saat ini baik itu pertempuran yang kau jalani, rasa sakitmu, dan berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya ini, untuk apa sebenarnya? Apakah kamu menginginkan namamu diukir di batu atau patung yang menyerupaimu? Atau kau menginginkan namamu itu dinyanyikan dalam lagu-lagu atau dalam puisi oleh penyair atau penyanyi jalanan akan kehebatanmu itu?" tambah Arelan yang sedikit serius mengenai hal itu dengan ekspresinya datar itu.

Sora hanya menatapnya hingga Arelan selesai menanyakan kepadanya itu, lalu dengan perlahan Sora mengeluarkan alat tulisnya yang berupa pensil dan kertas usangnya yang sudah banyak tulisan itu dan memulai menuliskan sesuatu kepada Arelan.

Namun, di tengah-tengah Sora menuliskan sesuatu, Arelan sedikit mendesaknya untuk menjawab pertanyaannya dengan memberikan pertanyaan lagi kepadanya. “Kalau begitu, apakah kau ingin menjadi seorang pahlawan yang akan dikenang dalam menyelamatkan dunia ini dari kehancurannya dan Untuk diakui sebagai penyelamat dunia yang hancur ini?” tanya Arelan yang mendesak Sora sedang menulis itu.

Sora yang mendengar hal itu dari Arelan bersamaan dengan selesai ia menuliskan untuk Arelan itu, Sora menggelengkan kepalanya dengan pelan dan senyum di wajahnya kini terlihat kepada Arelan itu.

Arelan melihat matanya dengan nadanya menjadi kebingungan setelah melihat reaksi Sora seperti itu. "Atau mungkin sebaliknya, mungkin kau ingin melihat semuanya terbakar menjadi abu dan setelah semua itu yang telah diambil atau direngut oleh darimu itu, kau ingin menghancurkan dunia ini yang sudah hancur untuk balas dendam, bukan?"

Mendengar hal itu, Sora terdiam sesaat dan keheningannya menjadi jawaban yang lebih keras daripada teriakan mana pun.

Ia tidak membetulkan satu pun pertanyaan Arelan karena tidak ada yang mendekati kebenaran dari jawaban yang dipegang olehnya itu dan semua anggapan itu tentang kemuliaan, kepahlawanan, atau kehancuran terasa asing di telinganya seperti bahasa dari dunia lain menurut Sora.

Kemudian, dengan perlahan Sora memeberikan kertas yang dituliskannya itu sebagai jawaban kepada Arelan yang bukan dijawab dengan bahasa isyaratnya itu.

Lalu, setelah memberikan kertas itu kepada Arelan, mata Sora bertemu dengan mata Arelan dan dalam keheningannya yang ada di lembah itu, Sora menjawab dengan satu hal dari seluruh pertanyaan Arelan yang ditanyakan kepadanya dengan jawaban di kertas itu yang merangkum seluruh keberadaannya dan jawaban yang ia pegang selama saat ini.

Arelan membaca isi dari kertas itu yang sebagai jawaban dari Sora itu dengan sederhana, Sora menjawab.

Untuk menjadi Saksi.

Itu saja jawaban yang diberikan oleh Sora yang ia inginkan hanya menjadi saksi dari keberadaannya di dunia yang hancur itu dan bukan untuk memimpin, bukan untuk menyelamatkan, bukan untuk menghakimi, dan bukan untuk menghancurkannya melainkan hanya untuk menjadi saksi bagi mereka yang berada di dunia ini untuk mengetahui apa yang sebenarnya dunia ini inginkan dan dihancurkan oleh manusia itu sendiri.

Sora juga menambahkan beberapa tulisan di bawahnya itu berbunyi, ‘Untuk berjalan bersama mereka yang telah terluka dan hancur kehidupannya sebagai manusia, untuk berbagi dan menemani keheningan dengan mereka yang tidak dapat berbicara akan keadaan serta kondisi mereka yang disembunyikan sebagai rahasia mereka itu, dan untuk memikul beban di samping mereka yang tidak dapat lagi memikulnya sendirian.

Tujuannya bukanlah sebuah tujuan biasa atau tujuan yang dipertanyakan Arelan tadi melainkan Sora hanya menginginkan sebuah kehadirannya saja di dunia ini dengan orang-orang yang seperti dalam tulisannya itu.

Arelan yang membaca isi tulisan Sora itu melihat ke mata Sora yang begitu tenang dan untuk pertama kalinya, sang kesatria kapak itu tidak memiliki pertanyaan lagi untuk disanggah kepada Si Pendiam itu hingga Ia melihat sumpah yang lebih tua dari sumpah yang pernah melekat pada ksatria Borreal mana pun bahkan dirinya dan Vael itu yang terlihat sebagai sebuah ikatan yang ditempa bukan dari baja namun dari empati dan kebesaran hatinya.

Di bawah langit malam itu, terdapat bintang-bintang yang mengawasi kelima pengembara itu yang tengah duduk dalam keheningan yang baru ditemukan dengan memahami bahwa perjalanan mereka yang berada di depan itu bukanlah tentang mencapai suatu tempat tetapi, tentang bagaimana mereka bisa terus berjalan bersama di dunia yang sudah hancur itu seperti Sora tuliskan itu yang lebih penting.


Other Stories
Blek Metal

Cerita ini telah pindah lapak. ...

DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Love Falls With The Rain In Mentaya

Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...

Rembulan Digenggam Malam

Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...

Download Titik & Koma