Bab Dua Puluh Enam: Satu-satunya Yang Masih Berdiri
Setelah berhari-hari bepergian dengan tujuan mereka berlimma itu menuju Jargmund, akhirnya mereka berlima tiba di perbatasan kerajaan Jargmund yang perjalanan dari desa itu membawa mereka melewati hutan lebat, bukit-bukit terjal, reruntuhan yang ditumbuhi tanaman liar, dan bahkan di bawah air terjun yang menderu tampaknya menandai batas dunia yang dikenal mereka itu.
Matahari yang begitu terik berada di atas mereka yang berada di langit yang cerah dan berawan menghasilkan bayangan panjang saat mereka perlahan mendekati gerbang Jargmund yang menjulang tinggi sebelum senja menelan seluruh jalannya.
Namien yang tidak seperti biasanya itu, terlihat diam selama beberapa jam terakhir yang perjalanan mereka semakin dekat dengan Jargmund.
Dia terus melihat ke cakrawala seolah-olah dibebani oleh kenangan atau firasat yang tidak dapat dia bagikan hingga merasakan akan sesuatu hal buruk mungkin akan terjadi cepat atau lambat.
Sora memperhatikan Namien yang tidak seperti biasanya itu tetapi Sora memilih untuk tidak mengatakan apa pun. Semua orang berjalan dengan ketegangan yang tenang, langkah mereka semakin lambat saat kerajaan itu tampak lebih besar dalam pandangan mereka saat ini.
Di depan gerbang kerajaan Jargmund, prajurit Jargmund yang bertugas mengawasi gerbang depan itu terlihat bersenjata lengkap dan ketika prajurit itu melihat mereka berlima mendekati kerajaan Jargmund itu memutuskan untuk keluar dari pos mereka dan melangkah keluar dari gerbang untuk menghampiri mereka berlima dengan tombaknya yang sudah berada di genggaman tangan prajuritnya itu dan matanya menyipit.
"Berhenti! Sebutkan nama kalian dan tujuan kalian hendak kemari ini!" ujar salah satu dari prajurit yang membentak mereka berlima dan yang lainnya mengamati kelompok itu dengan curiga.
Mereka semua memberhentikan langkah mereka dan Namien melangkah maju ke hadapan para prajurit itu dengan suaranya tenang namun Namien berkata kepada mereka itu dengan memasang ekspresi yang tidak pernah seperti ini sebelumnya.
"Apakah kalian bisa menjamin bahwa menyebutkan nama kami ini akan membuat kalian mempersilahkan masuk kami ini ke dalamnya?"
Tatapan prajurit itu menajam ke arah Namien. "Setidaknya kau sebutkan namamu atau lidahmu itu tak bisa kau gunakan untuk berkata-kata lagi."
Namien menarik napas perlahan, lalu menghembuskannya. "Namien, Namien Solis."
Ada jeda seperti udara telah tersedot keluar dari tanah.
Para prajurit segera mengeluarkan secarik kertas dan membaca isi kertas itu yang kembali memerhatikan Namien lagi lalu, prajurit Jargmund itu langsung mengangkat senjatanya dan menghunuskannya ke arah mereka berlima itu tanpa ragu.
"Ha? Kau mengatakan dirimu Namien? Kau ditahan karena kau berada di list orang yang harus mati dihadapan raja Goulash itu. Sebaiknya kau persiapkan kata-kata terakhirmu itu sebelum menemui sang raja yang akan membuat kepalamu terpisah dari lehermu itu." Kata salah seorang prajurit itu yang sudah siap menghabisinya.
Mereka berlima di gerbang depan dan hal ini tentunya menimbulkan reaksi bagi mereka berlima langsung mengambil posisi bersiap-siap untuk menyerang mereka berlima.
Sebelum ada yang bisa bereaksi baik itu dari mereka dan kedua prajurit Jargmund itu, terjadi konfrontasi kecil yang memebuat kejadian itu mengundang lebih banyak prajurit Jargmund yang muncul dari balik dindingnya dan suara pedang para prajurit itu mulai berdenting saat dikeluarkan dari sarung pedang mereka dan membentuk sebuah formasi yang mengepung mereka berlima itu dengan ketat dan tak memberikan celah untuk mundur.
Mata Kaelith mulai membelalak. "Namien... apa yang kau lakukan, bodoh?"
Namun, keadaan di sana semakin memburuk ketika salah satu jenderal kerajaan Jargmund muncul dengan kudanya itu dan ketika jenderal itu sampai di hadapan mereka berlima, ia turun dari kudanya dan matanya mulai mengamati satu persatu dari setiap wajah mereka berlima itu seperti elang yang mencari mangsanya.
Matanya berhenti ketika jenderal itu melihat ke arah Kaelith yang sudah bersiaga dengan busurnya.
"Kau! Kau adalah Kaelith Virandel. Kau memiliki hadiah untuk kepalamu sebesar sepuluh ribu koin emas dan seharusnya kau sudah lama mati sampai sekarang, tetapi aku tak menyangka bahwa hari keberuntunganku mengatakan kau masih hidup dan terlebih lagi berada di sini saat ini."
Kaelith yang terkejut hal itu langsung mengubah posisinya ketika seseorang mengetahui tentang dirinya dan dengan cepat tangannya menarik tali busurnya dengan kencang ke arah jenderal itu yang mengetahui dirinya.
Kemudian tatapan sinis jenderal itu beralih ke Vael dan Arelan yang melihat lambang di zirah mereka yang memudar.
"Lambang Borreal? Tangkap mereka berdua ini juga yang menggunakan zirah berlambangkan Borreal!"
Ekspresinya menjadi muram dan murka hingga nadanya juga ikut meninggi ketika melihat lambang Borreal ada pada zirah Vael dan Arelan itu.
Kaelith menggertakkan giginya dengan frustasi hebat saat para prajurit Jargmund itu hendak ingin memusnahkan mereka berlima di sana bahkan Sora yang tadinya tenang saat berjalan kini melihat kondisinya sangat tidak kondusif dan kondisinya jika pecah dengan pertarungan mereka itu, tak mungkin bisa dimenangkan dengan jumlah pasukan Jargmund itu.
Kaelith bergumam dengan emosi itu yang masih mengarahkan anak panahnya ke arah jenderal itu, "Mereka melakukan kesalahan fatal untuk menangkap kita."
Vael menghunuskan pedangnya yang dirasa akan terjadi pertarungan dalam waktu dekat dan wajah Arelan menjadi dingin hingga mengeluarkan kapaknya itu dan membuat kuda-kudanya yang bertahan sambl memerhatikan kepungan prajurit Jargmund itu.
Namun Namien meninggikan suaranya bukan karena panik melainkan untuk menghentikan teman-temannya itu.
"Berhenti! Kalian tidak bisa memenangkan pertarungan ini melawan mereka di sini. Jika kalian ingin mati, lakukanlah tanpa menyeret aku dan yang lainnya bersamamu, tetapi siapa yang akan menjaganya jika kita jatuh sekarang?"
Matanya beralih ke Sora dan perkataan Namien itu membuat Kaelith, Vael, dan Arelan membeku seketika karena ada benarnya juga yang Sora sedari tadi tak disebutkan apa yang membuatnya bisa ditahan di dalam kerajaan Jargmund ini dan bila mereka menyulut pertarungan di sini, secara tidak lamgsung juga mereka berlima melibatkan Sora itu.
Sora yang mendengar hal itu langsung menoleh ke arah Namien dengan memberikan ekspresi wajahnya yang tak mampu lagi ia tunjukkan kepada teman-temannya bial berpisah dengan mereka itu yang tampak muram dan hanya bisa terdiam begitu saja saat memperhatikan para penjaga mulai mendekati Kaelith, Vael, Namien, dan Arelan itu dengan siaga dan perlahan-lahan yang memulai mengikat tangan mereka untuk dijadikan tahanan dalam kerajaan Jargmund.
Tangan Sora secara tak sadar mengepal dengan kuat ketika ia menundukkan kepalanya ke bawah tanpa melihat teman-temannya yang ditangkap tanpa dirinya bisa berbuat apapun selain diam dan memerhatikan mereka berempat berjalan dengan tali yang mengikat kedua tangannya tetapi Sora juga tidak bergerak untuk memulai pertarungan juga karena dirinya tahu perlawanannya itu akan sia-sia dan menyebabkan hal yang lebih parah lagi nantinya bila terjadi bentrokan dengan prajurit Jargmund itu.
Kaelith menoleh ke belakang untuk melihat Sora terakhir kalinya itu sebelum dirinya dibawa masuk ke dalam penjaranya dengan bergumam pelan dan lirih, "Sora..."
Namun Sora yang melihat hal itu hanya bisa berdiri di sana tanpa daya dan tanpa adanya tindakan dari dirinya yang masih menundukkan kepalanya dengan menggenggam pedangnya dengan erat.
Pada akhirnya Sora menyarungkan kembali pedangnya itu ke sarungnya dengan pasrah. Kaelith, Namien, Vael, dan Arelan semuanya dibawa dengan tangan terikat dan diseret ke dalam gerbang seperti penjahat yang terikat oleh kesalahan yang pernah dilakukan mereka dan bayang-bayang masa lalu mereka membuatnya berdampak hingga saat ini.
Hanya Sora yang tersisa dengan berdiri sendirian di depan gerbang kerajaan yang penuh dengan keheningan dan mengempat perasaannya ketika melihat teman-temannya ditangkap begitu saja.
Prajurit yang melihat Sora tak memiliki catatan apapun atau hal lainnya yang mencurigakan mempersilahkan Sora itu masuk ke dalam Jargmund dan membukakan jalan untuknya, membiarkannya lewat dengan bebas, dan tombak mereka diturunkan ke bawah tanah.
Sora berjalan melalui gerbang dengan langkah yang berat saat melihat teman-temannya yang sudah dianggap sebagai sebagian dari perjalanan hidupnya itu kini berada di balik jeruji atas kesalahan mereka berempat yang dilakukan di masa lalu tanpa diketahuinya dan di belakangnya.
Matahari menghilang sepenuhnya, yang hanya menyisakan rasa penyesalan di dadanya dan sesuatu yang diketahuinya saat ini, dialah satu-satunya yang masih tersisa berdiri saat ini.
Sora berjalan tanpa tujuan melalui jalan-jalan di dalam Jargmund, langkah kakinya bergema samar di antara bangunan-bangunan batu yang tak layak bahkan beberapa di antaranya kumuh yang berbeda jauh dengan Elarion itu.
Kota itu lebih dingin dari Elarion baik dari kondisinya maupun jiwa orang-orangnya yang berjalan dengan bahunya membungkuk dan matanya tertunduk lesu dan ekspresi mereka terukir dari kepahitan akan kehidupannya tak menentu.
Pengemis yang berada di sudut-sudut gang seperti bayangan, dan penjaga melewati mereka tanpa meliriknya sedikit pun.
Itu sama sekali tidak seperti kerajaan yang telah ia bantu dalam mempertahankan sebelumnya.
Dan lebih buruknya lagi, sekarang teman-temannya itu berada di balik jeruji besi yang ditangkap bukan karena apa yang telah mereka lakukan hari ini, tetapi karena apa yang diingat dunia tentang mereka di masa lalunya.
Kebenaran yang terasa begitu berat di dadanya dan pahit untuk diterimanya seperti kesedihan dan emosi yang bercampur aduk hingga tak bisa terucapkan oleh mulutnya atau tulisan sekali pun untuk dirasakannya.
Kakinya akhirnya berhenti di depan sebuah bar yang remang-remang dengan papan kayunya berderit ketika tertiup angin seperti peringatan baginya.
Tanpa sepatah kata pun, Sora mendorong pintu bar itu hingga terbuka dan masuk ke dalamnya.
Keheningan di bar begitu pekat yang mata orang-orang dengan perlahan melihat menuju ke arahnya yang cangkir-cangkir mereka setengah terisi dengan bir mereka, dan tatapannya lebih tajam untuk mengamati orang asing yang bukan berasal dari Jargmund itu.
Bau bir basi dan asap rokok yang mengudara hingga ke langit-langit atap bar dan tidak ada yang menyambut di dalamnya melainkan hanya tatatpan kecurigaan ke arah Sora itu.
Sora yang perlahan berjalan ke meja yang di mana pelayan bar itu berada dengan langkah tenang, memberikan isyarat sederhana kepada pelayan bar dengan tangan terbuka dan jari-jarinya menghadap ke bawah, lalu mendekatkannya ke mulutnya untuk meminta sebuah air untuk dipesannya.
Pelayan bar itu mengerutkan kening dan menghardik Sora itu. "Apa kau ini bisu atau hanya orang bodoh saja berkomunikasi dengan bahasa tubuh yang tidak berguna itu, huh?"
Cercaan pelayan bar itu juga membuat dirinya membanting kain lap kotor ke meja di depan Sora.
"Kami menyediakan minuman asli di sini selama kau mempunyai uang yang cukup, bisu."
Sora meraih kertas dan pena yang selalu dibawanya dan menulis: ‘Hanya air saja.’
Bibir pelayan bar itu berkerut karena kesal sedari tadi Sora tidak melakukan hal seperti itu pada awalnya dan berkata dengan kasar.
"Baiklah, harganya itu lima belas perak. Jika kau tuli untuk tidak mendengarkan perkataanku atau tidak mempunyai uang cukup untuk membayarnya, keluarlah dari sini secepatnya!"
Pelayan bar itu membentak Sora dan meraih gelas yang terlihat sudah pecah di bagian atasnya itu dan mengisinya dari kendi air itu.
Sora dengan ragu-ragu ketika mendengar perkataan pelayan bar itu dan mulai meraih kantongnya dan meletakkan semua uang yang dia punya selama ini yang hanya mempunyai lima koin perak diletakkan di atas meja itu.
Pelayan bar yang melihat hal itu, langsung memarahinya sebelum hendak ingin mengusirnya dari bar tersebut. "Lima belas perak, dungu."
Sora yang mendengar hal itu dengan perlahan berdiri dari tempat duduknya dan siap untuk pergi sebelum diusir oleh pelayan bar itu. “Masukkan ke dalam tagihan milikku untuk orang itu.”
Sebuah suara muncul dengan tenang yang berasal dari sudut ruangan bar itu yang rupanya suara seorang wanita yang terdengar sangat Sora kenali sebelumnya.
Sora membalikkan badannya itu dan melihat ke arah sumber suara itu dan terlihat di sanalah dia yang tanpa penutup kepalanya lagi, rambutnya kusut karena angin dingin di luar bar itu, dan mata hitamnya bersinar dalam kegelapan bagai kucing hitam saja.
Lyra Vesperia yang meletakkan sepuluh koin perak ke meja dan duduk di samping Sora itu.
“Kau masih tidak tahu bagaimana cara meminta bantuan, rupanya?” gumamnya dengan pelan dan lembut.
Sora kembali duduk di sampingnya itu, entah harus merasa bersyukur atau curiga terhadapnya atas kejadian sebelumnya. Sora mengambil gelas yang sudah dipenuhi oleh air dan emminumnya sampai habis, lalu menarik kertasnya lagi dan menulis untuk Lyra itu,
‘Kenapa kau berada di sini?’
Lyra membacanya dengan matanya berkedip-kedip di atas huruf-huruf itu dan menjawab pertanyaan Sora itu. “Aku tinggal di sini, tumbuh besar di jalanan ini. Belajar bagaimana menghilang di kerajaan ini jauh sebelum The Gallows Sun menemukanku dan aku bergabung dengan mereka untuk keluar dari sini.”
Sora terdiam sesaat ketika ia sudah mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud Lyra akan perkataan sebelumnya itu dan melihat sedikit isi dari kerajaan Jargmund saat ini.
Sora menulis pertanyaan lain dengan hati-hati:’Apa yang kau ketahui tentang penjara kerajaan?’
Membaca tulisan Sora itu, ada sesuatu yang berubah di wajah Lyra yang wajah dinginnya itu berubah seketika dan mulai mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Sora, dan suaranya kini lebih pelan untuk memberitahu Sora terkait hal itu.
"Mengapa kau bertanya tentang hal itu?" tanyanya dengan sambil melirik ke area sekitarnya.
Sora membalikkan kertasnya itu ke halaman berikutnya, menuliskan sesuatu dengan cepat: ‘Teman-temanku ditangkap oleh prajurit Jargmund atas masa lalu mereka dan sekarang mereka mendekam dipenjara.’
Lyra duduk dengan posisi membungkukan badannya dan mencoba untuk tidak memperlihatkan pergerakan misterius ke area sekitar bar itu dengan jari-jarinya mengetuk mejanya.
Matanya sedikit menyipit bukan karena menghakimi, tetapi karena perhitungan akan pertanyaan Sora itu.
"Aku juga mempunyai seorang teman di sana yang terkurung di tempat itu, dan tanpa bisa disuap oleh uang penjaganya. Aku sudah bertahun-tahun mengawasi penjara itu yang saat ini masih belum ada kasus terkait pembobolannya, yang ada hanya menunggu saat tembok penjara itu runtuh dengan sendirinya karena keketatannya itu." Kata Lyra dengan berbisik.
Sora kembali menuliskan sesuatu dengan penanya lagi. ‘Lalu, mau sampai kapan kita akan menunggunya untuk bisa menerobos masuk ke dalam penjaranya itu untuk membebaskan temanmu dan teman-temanku itu?’
Lyra tidak langsung menjawab ketika membacanya dan dengan hati-hati, ia mengambil kertasnya dan menulsikan beberapa kata-katanya dengan pena Sora itu, lalu memberikan kepadanya.
‘Mungkin, saat ini kita tidak hanya menunggunya selama itu yang kau bayangkan, tapi kita bersiap-siap untuk meruntuhkannya lebih tepatnya.’
Tulisannya itu yang akhirnya dibaca oleh Sora dan membuat mata Sora tidak berkedip ketika membacanya yang tulisan Lyra itu mengatakan‘Kita’ di dalam tulisannya itu.
Hal ini membuat Sora berpikir keras dengan perkataan Lyra yang ia bertemu di desa itu yang menawarkan perjalanan ke jargmund itu hingga saat ini ia bertemu dengannya yang meningglakna dua pertanyaan penting di dalam benaknya,
‘apa yang sebenarnya terjadi di kerajaan ini? Dan siapakah kita yang dimaksud Lyra itu?’
Hingga saat ini pertanyaan itu terus terngiang dalam benak Sora yang mencoba menebak-nebak apa yang dimaksud Lyra saat ini kepadanya.
Di sana, di dalam bar Jargmund yang kumuh dan terlupakan itu, dua pemberontak yang pendiam duduk bersampingan yang satu lahir dari kobaran api perang dan yang satu lagi lahir dari bayang-bayang kerajaan korup untuk bertahan hidup, keduanya terikat oleh misi yang sama, yaitu; untuk menghancurkan yang tidak bisa dihancurkan saat ini dan menyelamatkan yang terpenting bagi mereka berdua itu.
Sementara itu di dalam penjara Jargmund, Kaelith, Vael, Namien, dan Arelan mendapati diri mereka didorong dan dicerca sambil menyusuri koridor panjang dan sempit yang diapit di kedua sisi oleh jeruji sel berkarat dan mata buas menatap ke arah mereka berempat dari para penghuninya.
Langkah kaki mereka berempat bergema dengan setiap gerakannya, tetapi bukan karena suara rantai yang telah tergantikan dengan tali sebelumnya untuk mengikat tangan mereka atau sepatunya yang suaranya memenuhi seisi penjara itu.
Itu adalah tawa kasar dan ejekan vulgar dari para narapidana di balik selnya.
"Lihatlah, apa yang kita dapatkan di sini dan hari ini!" salah satu dari mereka menggeram dan berteriak ke arah mereka berempat dari balik jeruji.
"Daging segar dan seorang malaikat manis yang baru saja turun dari surga ke neraka rupanya, apakah itu seorang wanita yang masih perawan untuk dicicipi mungkin?" ejekan yang vulgar dari salah satu mereka yang langsung melihat ke arah Kaelith dan bagi mereka hal itu, adalah pertama kalinya mereka melihat seorang wanita di dalam penjara itu selama belasan tahun lamanya.
Bisik rasa lapar akan hasrat dan godaan mengisi satu koridor saat beberapa pria mendorong wajah dan lengan mereka melalui jeruji selnya, dan mata mereka menatap Kaelith dengan hasrat yang sudah lama tak dilampiaskan oleh mereka dan dengan menunjukkan ekspresi menjijikkan untuk dilihatnya.
Di satu momen saat mereka berempat berjalan menyusuri koridor penjara itu, terlihat seorang narapidana menjulurkan lidahnya seperti anjing yang kelaparan akan hasratnya ketika melihat Kaelith dan di samping orang itu, tanpa malu-malu mendorong pinggulnya ke depan jeruji besi dan memperlihatkan alat kelaminnya yang sudah tegak saat melihat Kaelith berada di dalam penjara itu dengan seringai cabulnya dari balik jeruji selnya.
Kaelith memalingkan wajahnya dan matanya tertutup rapat untuk tidak melihat tingkah laku orang-orang di dalamnya yang membuatnya muak bukan karena malu, tetapi karena emosinya yang ingin membunuh mereka satu persatu dengan pelecehannya kepada dirinya.
Tangannya terikat, tetapi otot-ototnya menegang karena keinginan untuk menancapkan anak panahnya di setiap tengkorak yang berani menatapnya dan bertingkah seperti itu.
Napasnya tajam dan terasa panas dirasakan, meskipun dia tidak mengatakan apa-apa, rasa jijik dalam tatapannya lebih keras daripada kata-kata.
Vael yang berjalan di belakangnya, melihat semuanya itu dengan mencoba menahan emosinya selama tangannya terbelenggu itu yang masih terkepal begitu erat hingga kulit sarung tangannya mengencang.
Napasnya melambat, terkendali, seperti hendak menghunuskan pedangnya yang berada di pinggulnya itu, tetapi nasib berkata lain ketika dia tidak bisa bertindak apa pun selain diam dan menahan seluruh emosinya yang sudah mendidih di permukaannya itu.
Arelan yang berada di belakangnya tetap diam, tetapi otot-otot di sepanjang lehernya mulai berkedut dan wajahnya seperti dinding batu yang siap menghantam siapapun hendak ingin menerobosnya dengan api yang mendidih di bawah dinding batunya itu.
Dia telah berpartisipasi dalam banyak berperang yang melihat pengkhianatan dan darah tertumpah di atas tanah dan mednanya, tetapi apa yang dilihatnya saat ini, membuat kuku-kuku jarinya gatal untuk mencari senjata dan menebas mereka yang berani-beraninya mempermalukan salah satu kawanannya itu di hadapannya.
Namien yang berjalan berada di depan Kaelith, langsung melambatkan jalannya hanya untuk menutupi Kaelith yang menerima pelecehan secara verbal dan kontak fisik secara tidak langsung itu dan mengejek mereka yang berada di dalam jeruji selnya yang berkata.
"Penghuni penjara ini sangat memalukan diri mereka sebagai seorang manusia, diberi karunia sebuah pikiran untuk berpikir dan mereka menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang kotor dengan menuruti hasratnya seperti binatang kelaparan." Gumamnya yang begitu sinis saat melihat tanpa henti-hentinya mereka yang berada di balik jeruji melontarkan hinaan, pelecehan, bahkan mengancam mereka berempat itu.
Namien melirik ke samping dan tatapannya menuju ke salah satu tahanan yang mendesis padanya seperti binatang yang mengamuk dan berkata kepadanya dengan bualannya. “Tolong bantu kami semua untuk memuaskan hasrat kami yang belum terpuaskan, monyet.”
Kebisingan itu baru pecah ketika sipir penjara membentak, “TUTUP MULUT KALIAN, DASAR BAJINGAN BINATANG LIAR TAK TAHU MALU!”
Nada itu pecah di udara seperti cambuk kepada para narapidana yang membuatnya terdiam dan tersentak, perlahan mundur dari jeruji selnya, menggerutu hal-hal yang tak pantas bahkan mengumpat kepala sipirnya, tetapi susana di dalam penjara itu diam seketika walau terdengar beberapa bisikan dari mereka itu.
Kepala sipir penjara, yang seorang pria kekar dengan bekas luka berada di lehernya, menatap mereka berempat yang tengah menunggu kedatangan mereka di koridor penjara yang sudah kembali dengan ketegangan dan penuh kegelisahan.
Saat itulah Namien melihat seseorang yang berada di seberang sel yang nantinya menjadi selnya itu, seseorang yang sendirian di selnya yang tampaknya lebih seperti seseorang yang berbahaya dari semua narapidana yang ada di dalam penjaranya, duduk seorang pria dengan rambut pendek dan badannya sudah dipenuhi dengan noda yang diwarnai hitam keabu-abuan itu dengan lengannya melipat ke area dadanya, kakinya terentang santai, dan ekspresi wajahnya tidak terbaca.
Dia terdiam saat mereka berjalan ke dalam selnya yang sementara semua narapidana yang ada di dalam penjara itu yang seperti monyet kelakuannya, mulai menunjukkan nafsu birahi mereka tetapi dia yang berada di seberang sel itu hanya tertawa pelan ketika mereka terdiam oleh seekor gorila yang ukurannya lebih besar di antara mereka yang memberi peringatan untuk diam sesaat saja.
Alis Namien berkerut. "Yah, lihat siapa yang aku temui ini di seberang sel, duduk seperti raja di antara para tikus-tikusnya di dalam kerajaan tikusnya." Gumamnya dengan pelan yang terdengar oleh pria itu dan membuat pria itu mendongak ke arah Namien.
Mata mereka saling bertemu yang di tatapan mata pria itu tidak ada ejekan dan tidak ada seringai mengejek kepada Namien hanya tatapan terheran dan matanya setengah terbuka.
Kemudian pria itu berbicara. "Kupikir kau akan lebih tinggi dari yang kukira, ular yang bermain dengan apinya."
"Dan kupikir kau akan mati digerogot oleh tikus-tikus di sini." Suara tawa menggelegar dari pria itu dan menjawab Namien itu.
"Belum waktunya kurasa."
"Namamu Silas, kan?" tanya Namien yang Kaelith, Vael, dan Arelan menatap pria di seberang selnya itu.
"Tergantung siapa yang bertanya kepadaku dan kurasa aku menganggapnya seperti jawaban ya atau mungkin." Jawab Silas sambil menyandarkan kepalanya ke dinding batu di belakangnya.
"Apa yang dilakukan pria sepertimu di sini dengan binatang buas ini?" desak Namien yang melangkah mendekati jeruji selnya.
Namien mengabaikan emosi Kaelith yang masih tersisa saat mengingat perjalanan mereka menyusuri koridor penjara tadi.
“Sama sepertimu, mungkin. Tertangkap karena aku tidak bersalah apa pun.” Jawab Silas dengan terkekeh pelan dan suaranya seperti kerikil batu yang ditendang itu.
“Bersiap-siap dirimu ular ketika waktunya telah tiba.” Tambah Silas dengan seringainya yang samar-samar Namien memiringkan kepalanya.
“Bersiap untuk apa?”
Silas menyeringai lembut. “Sesuatu yang disebut revolusi.”
Kata-kata itu menggantung di udara seperti percikan api di dekat kayu bakar kering hingga membuat Vael menoleh ke arahnya yang sedikit tertarik dengan perkataan Silas itu, Arelan mengangkat alisnya karena Silas menggumamkan suatu hal yang bisa diharapkan atau kepalsuan di balik perkataannya itu, dan Kaelith yang masih tegang dan penuh emosi itu karena sebelumnya, akhirnya melihat ke arah percakapan itu dengan rasa ingin tahunya.
Namien tidak berkedip dan bertanya lagi kepada Silas. “Kau serius akan hal itu?”
Silas tersenyum lebih lebar kali ini. “Benar sekali.”
Namien mencondongkan tubuhnya. “Kapan hal itu terjadi?”
Silas terkekeh pelan. “Segera, bahkan bisa lebih cepat dari yang kau kira. Kau akan tahu saat kau merasakan tanah di bawahmu itu mulai berguncang dan suara teriakan terdengar ketika hal itu telah dimulai. Tunggu saja sinyalnya.”
Mata Silas berbinar di bawah cahaya obor penjara yang redup itu.
Namien menatap Silas begitu lama, lalu melangkah mundur dari jeruji selnya yang mengetahui perkataan Silas itu tidak memungkinkan karena ia pernah berada di Jargmund itu dan mengetahui seluk beluknya.
“Kau gila dari yang pernah kudengar sebelumnya dan hal itu terbukti dari mataku ini.”
“Mungkin benar seperti katamu bahwa aku ini gila, tetapi orang gila pun tahu kapan sistem yang busuk pun perlu dibakar hingga tak menyisakan abunya lagi, bukan?” kata Silas yang tertawa itu dengan melipat tangannya di belakang kepala seperti sedang beristirahat di bawah pohon yang rindang.
Namien duduk di sudut selnya itu yang tempat duduknya hanya beralaskan batu yang begitu dingin di dalam selnya.
Dia tidak melihat yang lain, tetapi satu pikiran terus berputar-putar di benaknya seperti elang di atas rusa yang sekarat sebagai mangsanya terhadap perkataan Silas tadi.
Ketika sinyalnya telah datang... Namien begitu tidak yakin apakah dia takut akan suatu hal yang pernah ia dengar itu akan muncul atau gembira bila perkataan Silas itu terjadi nantinya.
Langit di atas Jargmund telah gelap menjadi selimut malam yang sunyi saat Sora dan Lyra meninggalkan bar kumuh itu dan di belakang mereka, udara masih terasa berat dengan bau aroma yang busuk dari makanan busuk, dan keputusasaan yang menempel di setiap batu jalanannya serta gang-gangnya di dalamnya.
Tanpa sepatah kata pun, Lyra memimpin jalan yang mengarahkan Sora ke tempat persembunyiannya selama ini. Sora mengikutinya tanpa mengalihkan pandangannya sekalipun dengan langkah kakinya bergema mengikuti langkah Lyra saat mereka berdua melewati kios-kios pasar yang kumuh dengan aroma buah busuk dan daging yang kering bercampur dengan kotoran di samping selokannya itu.
Pengemis bergumam sendiri di sudut-sudut kota yang meminta sedikit uang, dan terdapat perkelahian di depan kios yang hanya memperebutkan apel yang sudah setengah dimakan terjadi di belakang mereka berdua, seorang pencuri melesat lewat tengah mencengkeram barang curiannya dan hampir menyentuh bahu Sora dan tidak ada satu pun yang menghentikannya mau pun mengejarnya.
Kehidupan di sini adalah kematian yang begitu lambat untuk dirasakan.
Mereka berbelok ke lorong sempit yang tempat para wanita berpakaian sutra compang-camping dengan mencondongkan tubuhnya untuk menarik perhatian setiap pengunjung yang lewat di antara gang-gang itu berada di samping ambang pintunya dan tepi jalan gangnya, dan mata mereka dihiasi dengan bedak yang membuatnya cantik sedemikian rupanya dan aroma parfum yang menggoda itu serta mencoba menarik perhatian pengunjungnya itu dengan bajunya yang setengah terbuka di bagian tertentu.
Salah satu dari mereka yang melihat Sora tengah berjalan mengikuti Lyra memulai aksinya dengan menggodanya. "Wah, bukankah kau adalah bunga yang begitu langka yang aku cari selama ini, tampan?"
Wanita itu menggoda Sora dengan ciri khasnya yang menawan dan kecantikannya sudah dihiasi oleh dandanan membuatnya seperti malaikat yang berwujud setan itu, menggerakkan jari-jarinya di sepanjang dinding dan menggerakkannya lebih dekat dengan gerakan jarinya yang lambat menuju Sora.
"Ayo bermainlah denganku, Sayang. Aku janji tidak akan menggigitmu kecuali kau memintanya untukku ini menjadi liar dari apa yang kau bayangkan itu atau bahkan lebih dari itu."
Sora yang mendengar godaannya itu mulai menelan ludahnya ketika jalannya dihalangi oleh wanita itu, dan ia mencoba melangkah mundur dengan canggung.
Tepat saat wanita itu mulai melangkah maju untuk mendekati Sora, tangan Lyra terjulur dan meraih pergelangan tangannya.
"Tidak untuk sekarang!" katanya dengan dingin kepada wanita itu dan menarik Sora melewati wanita itu.
Pelacur itu mendecakkan lidahnya saat Sora dan Lyra telah jauh di pandangannya dan memutar matanya sambil berkata dengan kesal. "Hmph, bajingan itu mengambil mangsaku."
Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti di area pelacuran itu menuju tempat persembunyian Lyra yang akhirnya, Lyra menyingkirkan kereta dorong rusak yang menghalangi jalan yang mengarah ke terowongan selokan telah terlupakan.
Udara berubah menjadi lebih dingin sekarang dari dalam lubang selokan itu yang diwarnai lumut lembap dan logam yang sudah berkarat.
Mereka turun ke bawah lubang itu melalui apa yang dulunya merupakan saluran air kering yang sudah tidak lagi berfungsi, tetapi sekarang dialihfungsikan menjadi sesuatu yang lebih berarti.
Mata Sora membelalak ketika sampai di tempat yang ditujukan Lyra itu melihat tempat yang terkubur di bawah kebusukan dan bayang-bayang Jargmund itu, ada sesuatu yang tidak ia duga sebagai basis perlawanan tersembunyi. Lentera-lentera bersinar di dinding-dinding batu yang menghasilkan bayangan-bayangan panjang di sekitarnya.
Tenda-tenda usang dan meja-meja darurat di tata dengan rapi dan di tempat itu hanya ada beberapa lusin orang saja, tetapi mereka bergerak dengan tujuan yang begitu tenang.
Peta-peta, senjata-senjata, dan dokumen-dokumen mengenai perlawanan yang mereka pancarkan di tempat itu begitu hidup.
Tidak seorang pun di sana yang mengenakan baju besi bagus atau spanduk yang tergantung.
Namun di mata setiap orang yang dilewati Sora, ia melihat secercah perlawanan di balik kebusukan yang terjadi pada tempatnya itu.
Seorang wanita muda dengan rambut ikal hitam pendek, kulit sawo matang, dan senyum menggoda memperhatikan kedatangan Lyra dan Sora itu yang matanya langsung terkunci pada tangan Lyra yang masih memegang pergelangan tangan Sora dengan longgar.
"Wah, wah, Lyra. Apakah itu pacar baru yang berhasil kau selundupkan dari luar?" katanya sambil terkesiap pura-pura tidak mengetahui dan menggoda Lyra.
Sora berkedip kebingungan ketika mendengarnya.
Lyra tidak melepaskannya tetapi juga tidak mengubah ekspresinya. "Dia sudah menjadi milik seseorang, Rose. Jika aku membawa orang ini dan menganggapnya sebagai pacarku, akan ada badai yang tidak ingin aku hadapi nantinya." Katanya dengan ringan itu dan menunjukkan ekspresi santainya.
“Ooooh, kalau begitu dia pasti istimewa bagi seseorang yang menggenggam tanganya itu dan berujar orang itu telah dimiliki oleh seseorang darimu.” Rose bergumam dengan menyeringai lebar saat dia bersandar di tiang tenda di belakangnya.
Lyra berjalan melewatinya dengan tidak meneruskan topik itu. “Jangan merusak apa pun saat aku pergi bahkan suasana pun, Rose.”
Rose hanya tertawa di belakang mereka berdua ketika melewatinya.
Sora yang dibuat kebingungan oleh Lyra itu, akhirnya dituntun masuk lebih dalam ke tenda tengah yang tendanya itu lebih besar dari yang lain, dengan peta kain yang disematkan di sepanjang dinding tenda dan cahaya lilin berkedip-kedip di atas kertas yang berisi strategi, tulisan tangan, dan pola musuh akan bergerak.
Di tengahnya itu berdiri seorang wanita berusia awal tiga puluhan dengan postur tubuh yang tegas dan terlihat fokus pada satu hal di dalam benaknya. Dia tidak mengenakan baju zirah, hanya sarung tangan kulit gelap dan syal di bahunya.
Pandangannya tertuju pada peta yang setengah terbuka sebelum dia melihat para pendatang baru memasuki tendanya. “Lyra, kau terlambat. Dan, apakah kau membawa... dia?” katanya dengan mengangkat alisnya yang kebingungan.
Lyra menepi dan memperlihatkan Sora lebih jelas. “Inilah orang yang selama ini kita cari, orang yang menyelamatkan Elarion dan orang yang membungkam komandan Black Maw seorang diri di Elarion.” Kata Lyra tanpa basa-basi.
Wajah wanita itu berubah dari curiga menjadi keterkejutan dan penasaran akan yang ia lihat itu sosok Sora yang begitu tenang.
"Namaku Veyla. Komandan sementara sampai pemimpin kita yang sebenarnya kembali." Veyla mengangguk pada Sora untuk memperkenalkan dirinya dan memberikan hormatnya.
"Dan kukira kaulah yang telah membuat lubang di barisan musuh tanpa mengatakan sepatah kata pun, apakah hal itu benar?"
Sora tidak mengatakan apa-apa terhadap pertanyaan Veyla kepadanya, tetapi postur tubuhnya berbicara lebih dari seluruh jawaban yang ada.
Mata Veyla sedikit menyipit dan menyadari satu hal. "Dia... benar-benar tidak berbicara?"
Lyra menggelengkan kepalanya. "Tidak dengan kata-kata, karena dia bisu sejak lahir katanya."
"Baiklah, saat ini kita lebih membutuhkan tindakan yang lebih besar dampaknya daripada sekadar pidato yang lantang." Kata Veyla dengan tegas.
Sora yang melihat peta besar di atas meja Veyla itu yang di tengah-tengahnya ada lingkaran merah yang ditandai di atas bangunan batu tinggi yang dimaksudkan untuk lokasi penjara kerajaan Jargmund itu sendiri.
Veyla mengikuti tatapannya. "Kau bukan satu-satunya yang memiliki seseorang di dalamnya. Komandan kita yang sebenarnya terkunci di dalam sana dan dialah alasan kita belum meluncurkan revolusi dan serangan kita yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan untuk membebaskannya saja demi rencana kami terwujud. Namun, rencananya... butuh sebuah percikan."
Sora menatap mata Lyra dan kini Sora mengetahui jawaban yang dimaksud Lyra selama ini mulai dari awal pertemuannya hingga saat ini.
"Jadi, kau datang ke sini untuk memebebaskan teman-temanmu yang berada dipenjara dan sekarang, takdir memberimu kesempatan untuk membebaskan mereka serta membebaskan pemimpin kita di saat yang sama ini." Veyla menambahkan sambil tangannya bertumpu pada peta di atas mejanya.
Sora mengangguk sedikit untuk mengerti maksudnya itu dan Lyra melangkah mendekat.
"Pertanyaannya sekarang adalah... bisakah kau menunggu sampai perlawanannya itu dinyalakan saat waktunya telah tiba?"
Dalam cahaya lilin yang redup, dengan revolusi dan misi penyelamatan yang tergantung pada keseimbangannya.
Sora hanya menganggukkan kepalanya dengan tegas yang menandakkan bahwa dirinya sudah siap untuk hal itu.
Other Stories
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
Jogja With You
Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
O
o ...
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...