Bab Tiga Puluh: Api Dan Bayangan
Di bagian bawah tanah kerajaan yang hancur dan lembap, Lyra mengumpulkan pasukannya yang terdiri dari prajurit-prajurit bayangan yang tenang dan langkah-langkah yang mantap, baik pria maupun wanita yang telah hidup terlalu lama dalam kegelapan untuk percaya pada keadilan akan sirna suatu hari nanti dan Sora berjalan di koridor remang-remang menuju cahaya yang sudah dikenalnya.
Deretan logam yang beradu bergema di koridor seperti himne dan itu suara yang berasal dari bengkel Feron hidup dengan panas api tungkunya dan tujuan akan penempaan senjata yang telah lama ia buat.
Sora masuk ke dalam bengkel dengan langkah kaki perlahan, melangkah ke dalam cahaya jingga yang berdenyut dari tungkunya.
Punggung Feron menghadapnya, palunya naik turun dengan irama yang terlatih pada sepotong besi datar. Tanpa sepatah kata pun, Sora meletakkan selembar kertas yang telah ditulisnya itu terlipat di tepi meja kerja Feron dan melangkah mundur dari tempat berdirinya.
Feron berhenti melakukan perkerjaannya sesaat dan alisnya berkerut sebelum melirik ke samping dan melihat Sora yang meletakkan suratnya di meja kerjanya itu. Feron mengambilnya dengan tangannya yang penuh akan jelaga dari ototnya, lalu membukanya.
Matanya membaca setiap tulisan tangan Sora itu perlahan.
‘Maaf karena telah bersikap menyebalkan sebelumnya, Feron. Aku tahu aku benar-benar salah pada saat itu. Apa yang kau katakan itu sepenuhnya benar. Aku ingin meminta maaf atas tindakanku sebelumnya, karena dikuasai oleh amarah dan dendam. Aku tidak bisa melihat dengan jelas sebelumnya itu yang telah menguasai diriku antara berjuang dengan kalian karena memiliki harapan untuk bebas dari cengkraman tiran itu atau memilih untuk membalaskan apa yang telah diperbuat orang-orang itu kepada temanku hingga seperti itu. Tapi, kata-katamu tetap ada di dalam benakku akan apa sebenarnya yang ingin kulakukan dan aku telah memutuskannya. Aku telah memikirkannya dengan mendalam dan sekarang aku melihat keadilan dan kebencian tidaklah sama seperti hitam dan putih. Terima kasih... karena telah mengingatkanku siapa aku sebenarnya.’
Di akhir surat itu, dua kata digarisbawahi dalam kesederhanaannya, terima kasih.
Feron melihat ke arah Sora yang kini berubah dari sebelumnya dengan berdiri diam di tempat berdirinya sambil memandang Feron dan tatapannya mantap, namun rendah hati.
Bukan badai amarah seperti sebelumnya, sekarang dia menjadi sesuatu yang lain dan Feron merasakan sesuatu masih membara di dalam dirinya, namun api balas dendamnya telah diredam sebelumnya yang lebih terkendali. Feron melipat surat itu dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam sakunya.
"Baiklah, lebih baik seperti ini dibandingkan sebelumnya setidaknya." Kata Feron dengan suaranya yang dalam dan rendah.
Dia berjalan ke arah Sora, menatap prajurit yang diam itu dengan pandangan lama dan penuh pertimbangan.
“Matamu masih berapi-api… tapi sekarang api itu mengarah ke depan dan sesuatu yang tak bisa kujelaskan, tapi api itu bukanlah api yang tidak membakar semua yang ada di jalanmu dan aku suka itu, Nak. Aku sangat suka itu.”
Sora melepaskan pedang yang berada di pinggulnya itu yang sebelumnya di genggam dengan dendam dan kini berubah menjadi sebuah harapan yang diletakkannya di meja kerja Feron itu.
Sora kemudian menulis di kertas baru dan memberikan Feron itu,
‘Aku datang untuk minta maaf. Bukan untuk bertanya lagi, dan kau tidak perlu melakukan ini bila dirimu tak mau.’
Feron membacanya, lalu menggerutu geli. Feron meletakkan catatan Sora itu dan meninju bahu Sora dengan ringan.
“Di situlah letak kesalahanmu dan sepantasnya aku harus melakukannya untuk menyadarkan apa yang membuatmu tersesat di jalan itu.”
Feron berbalik ke bengkelnya dan tangannya sudah bergerak. “Sebelumnya kau datang kepadaku dengan perasaan dendam yang kurasakan. Tapi sekarang, kau adalah pria yang berjalan dengan akal sehat yang memikirkan setiap tindakan dan konsekuensinya serta dengan tekad saat ini. Pedangmu itu? Pedang itu tidak hanya membawa baja, bukan? Pedang itu membawa arti dari sebuah kebenaran bahkan kebenaran itu terasa pahit untuk diterimanya.”
Feron menyeringai dan mengangkat palunya lagi. "Dan jika aku akan menempa sesuatu malam ini, biarlah hal itu sesuatu yang sesuai dengan tujuanmu saat ini dan jangan kau mengubah jalanmu itu dengan jalan yang membuatmu harus membayar dengan harga yang sepantasnya. Ini untuk dirimu juga dan aku tak mau melihat seseorang yang putri angkatku, Lyra kenali itu dan menjadi temannya terjerumus ke dalamnya."
Sora memperhatikan Feron yang tengah mulai bekerja dengan sungguh-sungguh. Percikan api dari palu yang menempanya menari seperti kunang-kunang saat lagu pandai besi mulai didengungkan Feron yang membawa nyanyian berirama dari tanah yang terlupakan melalui bengkelnya.
Sebuah lagu sudah lama yang dinyanyikan oleh tangan penempa yang berdarah untuk apa yang mereka buat yang berasal dari The Profaned Capital itu. Sora duduk di kursi dekat bengkelnya dengan tenang, memperhatikan, mendengarkan, dan menunggu hingga pedangnya telah selesai dikerjakan. Pedangnya sedang ditempa ulang dan begitu juga di dalam dirinya.
Cahaya bulan menyinari ubin-ubin yang pecah di bawah tanah saat bayangan-bayangan berjalan dengan penuh harapan. Di koridor-koridor yang remang-remang, Lyra bergerak seperti hantu dan jubahnya terbang di belakangnya akan hembusan anginnya.
Ia telah memilih tujuh orang terbaik yang akan menyusup ke penjara bersamanya dari antara para revolusioner, masing-masing adalah hantu dalam hak mereka sendiri.
Pria dan wanita yang selamat di tepi jurang baja dan kesunyian. Nama-nama mereka tidak disebutkan dan yang terpenting sekarang adalah kepercayaan, ketepatan, dan tujuan mereka dalam misi kali ini.
Lyra telah menyiapkan segalanya mulai dari pisau lempar yang cukup tajam, bom asap, peledak eksplosif, dan tali panjang yang cukup untuk situasi darurat nanti. Belati kembarnya tersarung di balik jubahnya saat Lyra mulai menarik tudungnya lebih erat untuk menutupi wajahnya dengan bayangannya dan sebuah kain yang menutupi sebagian wajahnya.
Kehadirannya tenang, dingin, dan fokus saat ini, namun langkahnya sekarang membawanya ke bengkel tempat panas masih menari dan percikan api melompat seperti kunang-kunang ke dalam kegelapan.
Palu Feron berdenting sekali lagi sebelum berhenti dan Lyra melangkah masuk ke dalamnya dengan suara sepatunya di atas tanah. Lyra menemukan Sora di sana yang sedang duduk di tepi bengkel Feron yang memperhatikan dengan saksama saat Feron dengan lengannya yang basah oleh keringat itu mengencangkan gagang pedangnya pada pedangnya.
"Masih lama untuk dikerjakan, pak tua?" tanya Lyra dengan lengan disilangkan saat dia mengamati baja itu dengan rasa ingin tahu.
Sora hanya berbalik untuk melihat siapa yang berbicara dan ketika Sora melihat Lyra, ia membiarkan pandai besi itu berbicara kepada Lyra dan membuat Feron terkekeh yang masih menyelesaikan perkerjaannya.
"Hampir, beri aku waktu sedikit lagi, kucing kecil pencuriku."
Lyra memutar bola matanya. "Masih memanggilku seperti itu setelah bertahun-tahun lamanya?"
Feron menjawab. "Nama panggilan yang diperoleh untukmu itu adalah nama yang unik diingat selain kau memanggil dengan sebutan pak tua."
Tak lama setelah itu, Feron telah menyelesaikan perkerjannya itu dan ia mengangkat pedang Sora ke arah cahaya bengkel.
Pedang itu berkilau bukan karena kekuatannya atau menunjukkan sesuatu yang memiliki kelebihan, tetapi karena potensinya yang tak bisa dijelaskan dengan kata sekalipun bahkan seorang master pandai besi atau dewa penempa sekalipun ketika melihat pedang yang dibawa oleh Sora ini.
Gagang pedangnya telah ditingkatkan dengan sarung pedangnya yang baru terbuat dari kulit serigala yang berasal dari selatan yang berwarna hitam pekat, dan pedang itu bentuknya kini begitu sempurna setelah melakukan beberapa perbaikan dan mempertajam bilahnya itu hingga membuat kertas terbelah menjadi dua.
Pedang itu telah diseimbangkan kembali yang ujungnya diasah hingga tajam yang tak mengenal ampun dan rasanya pedang itu seperti senjata yang dibuat untuk takdir seseorang yang membawanya dengan bukan tujuan untuk balas dendam, tetapi untuk ditanggung ketika memegangnya.
Hal itu bisa dirasakan oleh Feron ketika memegang pedang Sora yang tak memiliki nama itu, dan Feron menyerahkan pedang itu kepada Sora kembali.
"Ambillah pedangmu ini, sekarang pedang ini menahan semua bebanmu, Nak. Dan ingatlah, apa yang kau telah katakan kepadaku atau janjimu itu kepadaku ketika kau mengayunkan pedang ini harus memiliki sebuah tujuan yang jelas dan hal itu bukan didasari oleh kemarahan atau kebencian untuk membalaskan dendam pribadi atau orang lain. Kau tahu, bahwa pedang ini ditakdirkan bukan untuk seperti itu, bukan? Dan kau begitu mengerti daripada diriku yang tua ini." Kata Feron dengan tegas.
Sora mengambil pedang itu dari Feron dengan hati-hati. Saat jari-jarinya mulai menggenggam pedangnya itu, Sora merasakan sesuatu hal yang aneh dan entah mengapa ia bisa mengetahui apa yang dimaksud oleh Feron itu dan apa yang telah diucapkannya tadi.
“Oh, aku lupa satu hal untuk memberitahumu, nak. Berbicara akan takdir, sebenarnya apa yang membuatmu menjadi seperti sekarang ini? Aku hanya ingin mengingatkanmu pada satu hal yang paling penting sebelum kau pergi keluar dengan pencuri kecilku ini dan aku menitipkan dirinya bersamamu saat menjalankan misi ini. Peluang kita hanya satu saja dan saat ini saja dengan momen waktu yang pas. Jangan sia-siakan pemberianku ini kepadamu atau aku sendiri yang akan menghantammu dengan paluku ini, mengerti?” kata Feron yang diakhiri dengan candaan kasarnya itu.
Membuat Lyra yang mendengar perkataannya itu hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menggeleng-gelengkan saja dan bergumam, “Dasar orang tua.”
Sora yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum tipis, lalu ia menundukkan kepalanya sebagai rasa terima kasihnya dan ketika Sora mengangkat kepalanya, ia menaruh tanganya di dadanya yang menandakan ia akan menepati janjinya itu.
Lyra meliriknya saat Sora melakukan hal itu langsung berujar, “Jangan terlalu dianggap serius, orang tua itu memang suka begitu.”
Sora dan Lyra melihat Feron yang hanya bisa tertawa lugas itu hanya bisa tersenyum. Ketika momen mereka bertiga telah usai di sana, Sora dan Lyra meninggalkan bengkel Feron dan mereka berdua mulai mempersiapkan apa yang harus mereka berdua lakukan sebelum memulai misi penyelamatan mereka ke sisa-sisa rekan mereka yang masih terpenjara itu.
Ketika mereka berdua berjalan berdampingan, Lyra menyikut Sora dengan lembut dengan sikunya. "Apakah kau siap sekarang, Sora?"
Sora menatapnya dengan wajahnya yang tak terbaca, tetapi sebuah anggukan kecil yang mengikutinya adalah semua yang perlu Lyra ketahui.
Tapi, di saat Lyra hendak ingin berbicara, Sora mengangkat satu jari yang menandakan adanya sesuatu yang harus ia lakukan. Lyra hanya memiringkan kepalanya dan bertanya lagi kepadanya, “Apa ada lagi?”
Sora meraih kantongnya yang berisi kertas dan pena itu untuk menuliskan sesuatu kepada Lyra. Ketika selesai, Sora memberikan catatannya itu dengan menuliskan,
‘Aku perlu melakukan satu hal sebelum pergi menyelesaikan misi ini. Tunggulah aku di depan saja, aku akan menyusul dan ini tidak akan memakan waktu lama.’
Lyra yang membaca ini hanya bisa mengangguk paham walau ia sendiri tak tahu apa yang hendak Sora lakukan sebelum memulai misinya itu. ketika Sora mendapatkan jawaban berupa anggukan dari Lyra, ia hanya tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya sebagai ucapan terima kasih sebelum pergi ke arah tenda-tenda pasukan revolusi yang meninggalkan Lyra sendirian di sana.
Lyra hanya bisa menghela napasnya saja dan menuruti keinginan Sora itu dengan menunggunya di depan pintu keluar.
Sebelum kelompok itu memulai misinya dalam membebaskan kawan-kawannya melalui bayang-bayang Jargmund, Sora mendapati dirinya berjalan ke tenda dokter yang berada di ujung terjauh dari perkemahan yang tenda itu hampir tidak terlihat cahaya lenteranya melalui kanvas usangnya dan tempat itu terasa begitu berat karena kesedihan yang telah banyak menumpuk.
Di dalam tendanya, dunia begitu terasa hening dan saat Sora mencari seseorang di dalamnya, ia akhirnya menemukan orang tersebut yaitu Kaelith tengah duduk di tempat tidurnya dengan menyandarkan punggungnya dibelakangnya dan tak bergerak sedikitpun dari posisinya.
Tubuh Kaelith terlihat begitu rapuh ketika dirinya diselimuti dengan kain tebal di area bawahnya, rambut pirangnya kusam oleh debu dan keputusasaan, dan matanya hanya menatap ke depannya dengan tatapan kosong seolah-olah dia mencoba meraih sesuatu yang jauh dengan kedua tangannya untuk melampaui apa yang diinginkannya yaitu dunia yang pernah dikenalnya.
Sora melangkah ke arah Kaelith dengan tenang, dan setiap langkahnya begitu terasa berat ketika mata Sora melihat sosok Kaelith yang ia kenal tak seperti ia kenali saat ini dan hal itu membuat hati Sora begitu hancur juga mati rasa.
Sora bergerak ke sisinya dengan perlahan-lahan dan berlutut di samping tempat tidur Kaelith yang menatap ke depannya saja dengan tatapan kosong.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Kaelith yang hanya keheningan menyesakkan hati Sora ketika melihat Kaelith tak merespon atau melakukan apa yang pernah dilakukannya ketika melihat Sora seperti menunjukkan ekspresinya yang malu atau peduli terhadapnya.
Dengan lembut dan dengan kedua tangan Sora yang memiliki banyak bekas luka dan kasar itu, meraih tangan Kaelith dengan memegang tangannya yang Kaelith tidak menolak genggaman dari Sora itu.
Tapi, Sora merasakan jari-jari tangan Kaelith gemetar dan dingin yang masih tak menunjukkan reaksi apapun setelah digenggam tangannya dan kemudian, bisikan yang begitu samar terdengar dari mulut Kaelith yang berkata. ‘Sora…’
Mendengar perkataan kaelith yang memanggil namanya dengan tatapan kosong di depannya itu membuat hati Sora hancur yang melihat momen tersebut dan tanpa di sadarinya, air matanya mengalir di pipinya dengan rasa bersalah ketika meninggalkan Kaelith yang mendapatkan pengalaman yang buruk ketika Sora tak berada di sisinya itu.
Sora tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan ketika ia tak tahan dengan apa yang ia lihat saat ini terhadap Kaelith yang terus berulang-ulang menyebutkan namanya itu dengan kondisi yang sama dan Sora tahu, ini bukan Kaelith yang pernah ia kenal melainkan Kaelith kini menjadi orang asing bagi dirinya sendiri.
Sekarang… Kaelith sudah benar-benar tenggelam oleh lubang neraka yang seharusnya tempatnya tak berada di sana.
Ketika Kaelith terus mengulang-ulang memanggil nama Sora, Sora hanya bisa menundukkan kepalanya ke genggaman tangannya yang masih menggenggam tangan Kaleith dan didalam hatinya mengatakan sesuatu yang menjadi sebuah janjinya,
‘Aku berjanji kepadamu untuk tak meninggalkan dirimu lagi di dalam gelapnya kegelapan yang kau rasakan saat ini dan kapanpun itu. Aku janji, akan selalu berada di sisimu walau harus mengorbankan diriku untuk menggantikanmu untuk masuk ke dalam lubang yang tergelap sekalipun agar dirimu tak merasakan hal ini lagi.’
Sora tidak menulisnya dan tidak menandatanganinya. Namun, ia bersumpah dengan setiap detak jantungnya bahwa ia akan melakukan segala cara apapun itu untuk tak membiarkan Kaelith seperti ini lagi walau dirinya harus berubah menjadai sesuatu yang tak pernah ia inginkan untuk menyelamatkan satu orang saja yang berharga baginya dan karena itu, Sora kini memiliki sebuah alasan untuk mengingat siapa dirinya saat ini dengan apa yang telah ia ucapkan dalam hatinya itu sebagai sumpahnya.
Sora mengangkat kepalanya lalu berdiri, ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan dengan lembut mencium kening Kaelith sebelum ia meninggalkannya untuk menyelamatkan yang lainnya di dalam penjara.
Kemudian, dengan usapan terakhir di buku-buku jarinya, Sora melepaskan genggamannya dan pergi keluar dari tenda itu untuk memulai misinya bersama Lyra membebaskan teman-temannya.
Di luar, bayangan-bayangan sudah bergerak dan di depan pintu keluar, terlihat Lyra tengah menunggu Sora bersama dengan unit kecilnya yang sudah berkumpul itu yang siap untuk menyusup ke dalam penjara Jargmund. Sora yang sebagai anggota terakhir dari tim penyusup datang ke arah Lyra dan yang lainnya yang membuat Lyra tidak bertanya apapun yang membuat dirinya menunggu Sora sedikit lama dan Lyra tidak ingin mengetahui walau dirinya tahu apa yang Sora lakukan sebelumnya.
Saat Sora sudah datang dan seluruh tim penyusup kini sudah lengkap, Sora tidak menoleh ke belakangnya namun, janjinya itu tetap ada dalam hatinya untuk kembali kepada Kaelith untuk menemaninya.
Dan di malam hari itu, tim penyusup mulai bergerak dengan cepat seperti angin yang tengah berbisik melalui lorong-lorong jalanan Jargmund dan menyapu debu di atas pijakan batu jalanan yang bulat dan kotor.
Kota itu tertidur atau berpura-pura tertidur, namun di dalam tulang-tulangnya ada sesuatu yang bergerak dan sesuatu yang sunyi tapi begitu cepat pergerakannya.
Lyra yang sebagai pemimpin dari tim penyusup bergerak lebih dulu dan anggota lainnya meluncur di belakangnya seperti kedipan angin. Sora mengikuti di dekat bagian tengah dan setiap langkahnya terukur untuk mengikuti pergerakan mereka yang cepat itu dengan setiap napasnya terkendali.
Tidak ada ruang untuk kesalahan kali ini, tidak untuk malam ini. Tim penyusup melesat melintasi rumah-rumah, gang-gang sempit, dan atap-atap yang sunyi seperti hantu di antara bintang-bintang.
Aroma dari pemabuk dan anggur masih tertinggal di udara akan pesta sang raja yang diadakan di dalam istananya dengan selir-selirnya dan tawa mabuk yang bergema dengan samar-samar dari istana yang lokasinya jauh dari tempat tim penyusup bergerak.
Tiba-tiba, Lyra berhenti dan mengangkat tangannya sebagai sebuah gerakan tajam dan aba-aba darinya yang menandakan untuk berhenti sejenak.
Tim penyusup langsung menghentikan pergerakan mereka itu dan berpencar untuk menghilang ke dalam bayangan disekitarnya. Sora meluncur di balik sebuah gapura dengan tangannya bersandar lembut di gagang pedangnya yang baru ditempa oleh Feron dengan baja pedangnya itu terasa tenang di bawah jari-jarinya dan begitu siap untuk sebuah pertarungan yang akan datang.
Lyra melirik ke arah Sora, lalu berbalik dan menghilang ke gang gelap di depannya. Langkahnya membawanya ke ceruk kota tua yang lebih dalam, sudut terlupakan yang basah kuyup dalam bayangan.
Di sana, di dalam gang yang sempit dan bau gang itu seperti bangkai tikus, seorang pria berdiri menunggu dengan baju zirahnya menandainya sebagai penjaga Jargmund, tetapi matanya hanya berbicara tentang keserakahan.
Ketika penjaga itu menyadari Lyra sudah datang dan terlihat di depannya tengah menuju ke arahnya dengan perlahan itu, penjaga itu mulai bertanya kepada Lyra tanpa basa-basi, "Kau membawanya?"
Lyra meraih kantongnya dan melemparkan kantong yang berat itu ke arah penjaga itu. Kantong itu mengenai tanah dengan bunyi dentingan koin yang terdegar dentingannya sangat banyak.
Penjaga itu berlutut dengan rasa lapar di jari-jarinya yang tengah mengambil kantong berisi koin itu, lalu membukanya untuk mengeceknya terlebih dahulu dan terlihat wajahnya berseri-seri seperti anjing kelaparan yang diberikan makanan oleh majikannya.
"Aku tidak mengulangnya untuk kedua kalinya. Jadi, dengarkanlah ini dengan seksama!" kata penjaga itu dengan cepat dan berbisik kepada Lyra.
"Kunci blok sel timur disimpan di dalam kantor sipir yang berada di lantai dua bagian sayap kiri menara. Dua penjaga ditempatkan di depan kantornya namun mereka kini dalam keadaan setengah mabuk sehabis berpesta dengan yang lainnya untuk merayakan hari ulang tahun sang raja di dalam penjara. Malam ini? Mungkin sepenuhnya para penjaga dan bahkan sipir sekalipun lengah dalam pengawasan mereka."
Penjaga itu melirik ke sekelilingnya, lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat dan kembali berbisik-bisik kepada Lyra.
“Dan tahanan yang kau cari selama ini, mereka semua berada di sel terbawah sayap utara menara, lantai dua. Satu terkunci di balik jeruji besi yang diperkuat oleh sihir dan menurut rumor yang beredar, dia berbahaya dan bisa menggunakan sihir. Tapi, kondisi dari para tahanan yang kau cari ini sudah babak belur sepenuhnya, tulang mereka dipatahkan, dan mengalami luka yang begitu fatal di bagian vitalnya tapi ajaibnya, mereka semua yang kau cari ini masih hidup dan masih bernapas dari terakhir yang kudengar.”
Lyra tidak berkata apa-apa selain mendengarkannya. Penjaga itu berhenti mengoceh untuk mengambil napas sebelum berbisik lagi.
“Oh, dan satu hal lagi yang perlu kau ketahui, sebut saja ini bonus informasi dariku. Sebagian besar penjaga masih tertidur akan efek mabuk karena menghadiri perjamuan raja di istana sebelumnya. Ini mungkin malam terbaik yang akan kau dapatkan dari penjara yang dinilai ketat dan tak kenal ampun bagi yang mencoba kabur dari dalamnya.”
Tanpa sepatah kata pun, Lyra berbalik dan menghilang ke dalam bayangan gang sekali lagi. Penjaga itu bahkan tidak menyadarinya karena dia terlalu sibuk menghitung koin yang didapatkannya itu.
Kembali di titik pertemuan, Lyra muncul lagi seperti bisikan, jubahnya menari-nari di belakangnya saat dia berlutut di samping Sora dan timnya.
“Tetap pada rencana sebelumnya, kita bergerak dengan cepat. Pertama, ke menara bagian sayap timur yang lokasi kunci selnya berada di kantor sipir dan 2 penjaga yang tengah menjaga kantor itu kini sepenuhnya mabuk untuk dilumpuhkan dengan mudah. Kedua, ketika sudah mendapatkan kuncinya, langsung bergerak ke menara bagian sayap utara untuk membebaskan teman-teman kita yang berada di sana serta Sora, teman-temanmu juga berada di sana.” Kata Lyra yang menjelaskan seluruh rencana dengan informasi yang didapatkannya itu.
“Aku ingin semua selain Sora dan aku sendiri yang menjalankan rencana ini, untuk melumpuhkan seluruh penjaga yang terlihat di depan mata kalian serta mengamankan jalan keluarnya. Mengingat kita hanya punya satu jalan masuk dan jalan keluar yang sama, yaitu pintu masuk penjara. Aku ingin kalian semua mengamankan kondisi dan situasi selama rencana ini berjalan sebelum terjadi sesuatu yang buruk akan terjadi dan kalian semua pasti mengetahuinya, bukan?”
Sisa timnya itu yang mengangguk dengan tegas dan mengerti akan arahan Lyra itu. "Bagus, bergerak ke tempat lokasi, sekarang!” ujar Lyra kepada seluruh timnya termasuk Sora.
Tim penyusup langsung bergerak kembali dan menjalankan rencana mereka yang telah disusun tadi dan begitulah, bayangan-bayangan itu kembali muncul di antara bayangan malam dengan diam, cepat, dan mematikan yang penjara Jargmund terlihat di depan mereka saat ini telah menunggu kedatangan mereka.
Udara di penjara itu lebih pekat dari darah, lebih pekat dari kesedihan. Baunya seperti keringat kering, rantai berkarat, dan kebusukan yang sudah berlangsung berhari-hari.
Dalam kegelapan sel itu, tiga pria yang hancur duduk berdampingan. Namien hampir tidak bisa dikenali lagi wajahnya dengan kondisinya yang lidahnya dulu tajam dan sarkastis itu kini terdiam karena wajahnya yang bengkak dengan memar dan luka yang sudah mengering, bibirnya robek, darah masih menggumpal di samping bibirnya itu dan dagunya.
Ia bernapas melalui hidungnya dengan napas tersengal-sengal dan setiap napasnya adalah kemenangan baginya yang menyakitkan untuk dirasakan.
Vael duduk dengan punggungnya yang menempel di dinding batu, tubuhnya penuh luka dan memar. Baju zirahnya sudah lama hilang, digantikan oleh kain compang-camping yang menempel di tubuhnya seperti kulit mati.
Bagian dadanya terlihat cairan putih yang seperti nanah mengalir dari bekas cambukan dan tusukan dari benda berkarat yang membuat lukanya itu terinfeksi di sekitar area dadanya dan tangannya. Setiap napasnya adalah api di tulang rusuknya namun, matanya masih menyala bukan karena amarah melainkan dengan sesuatu yang lebih dingin yaitu tujuannya terlihat jelas untuk melenyapkan tirani yang semena-mena ini.
Arelan yang pernah ditakuti di hadapan musuh-musuhnya dalam medan peperangan hingga dijuluki serigala yang meraung dengan ganas dan tak terkendalikan kini terdiam seribu bahasa dengan lukanya yang terlihat memanjang dan menjalar dari dahinya hingga rahangnya dan dadanya yang telanjang memperlihatkan ukiran kasar dari siksaan para penjaga yang menggunakan senjata berkarat dan benda tumpul untuk menyiksanya hingga babak belur, bekas memar, hingga luka yang sudah mengering berwarna kekuningan itu.
Dia tidak meringis akan rasa sakitnya itu yang telah menjadi temannya bukan sebagai penyiksa baginya.
Dan tetap saja, di tengah semua itu, Silas Verne... masih bernyanyi yang masih bersenandung sendiri saat berjalan melingkar kecil di selnya yang begitu sempit. Tapi, selama dia bernyanyi tak jelas dengan nada yang fals itu, pikirannya tetap tajam seperti biasa.
“Tanah berguncang sekali lagi, anak-anak… Dan suara runtuhnya jembatan, begitu terdengar ke ujung samudra. Hmm… aneh sekalai. Hei, kalian di seberang! Apakah kalian merasakannya? Seperti terdengar suara ketukan genderang perang dari bawah tanah ini.” Ujar Silas yang tersenyum tipis lalu tertawa terbahak-bahak ketika merasakan sesuatu yang dinanti-natinya itu, kini akan datang.
Yang lainnya tidak berkata apa-apa karena mereka terlalu lelah untuk menanggapi perkataannya itu namun, tetap saja mereka mendengarkan semua ocehan Silas dari sel mereka tentunya dalam kondisi yang sudah babak belur itu.
Silas melihat tidak ada reaksi dari mereka bertiga, mulai tertawa pelan. “Itu akan datang, yakinlah akan kebebasan kita sebentar lagi. Seperti pencuri di malam hari dengan kunci yang terbuat di antara giginya untuk membebaskan dari perangkapnya.”
Dari seberang koridor, seorang penjaga berjalan dan tak sengaja mendengar perkataan Silas yang sudah dianggap gila oleh para penjaga itu, mulai mencibir perkataan Silas dengan sinis.
“Diam kau, dasar orang tua gila! Teruslah berbicara seperti itu dan aku akan menutup mulutmu yang kotor itu, bajingan busuk!” Ancam penjaga itu dengan seringainya kepada Silas yang tertawa mendengar perkataannya.
Silas berbalik perlahan dan menatap mata penjaga itu dengan seringai yang tidak seharusnya ada di wajah orang waras mana pun untuk membalas perkataannya. “Kenapa kau tidak masuk ke sini dan mencobanya, babi kecil busuk?”
Penjaga itu menggertakkan giginya yang menandakan emosinya ketika mendengar hinaan itu langsung kepadanya dari orang gila itu dan penjaga itu sekejap membanting pintu sel besi Silas dengan keras hingga terbuka, ia melangkah masuk ke sel Silas dengan tongkat di tangannya yang sudah digenggamnya.
Tanpa ragu, penjaga itu memukul Silas dengan keras dan tanpa ampun bahkan tak diberikan jeda sekalipun untuk berteriak.
Anehnya, Silas tidak berteriak kesakitan melainkan dia tertawa dengan tidak terkendali dan hal itu terdengar seperti ejekan bagi penjaga yang memukulinya tanpa henti.
Darah Silas menetes ke lantai selnya, tetapi senyumnya tidak pernah pudar.
“Kau merasakannya, bukan? Tanah ini… berguncang dengan hebat dan akan runtuh malam ini karena getaran yang kalian bisa tanggulangi itu.” Bisik Silas kepada penjaga itu yang nyaris membuat wajahnya itu mendapat pukulan telak dari penjaga itu.
Penjaga itu berhenti karena tenaganya terbuang sia-sia untuk meladeni orang gila itu pikirnya yang membuatnya terengah-engah karena kelelahan dan penjaga itu menanggapi perkataan Silas.
“Kau sudah gila bahkan tak ada kewarasan dari dalam dirimu sebagai manusia.”
“Tidak, Aku tidak gila sebetulnya karena hanya diriku sajalah yang mengerti bagaimana cara berpikirku dibandingkan dirimu yang masih berusaha memproses di dalam otakmu yang lambat itu, keledai yang bernyanyi.” Balas Silas penuh sarkastik kepada penjaga itu dengan menunjukkan mulutnya yang sudah dipenuhi oleh darah.
Penjaga itu merasa kesal dihina lagi, ia memilih untuk meludahi Silas dan keluar dari sel dengan marah tanpa meladeni orang gila itu, membanting pintu selnya sambil mengumpat kepada Silas yang hanya tertawa mendapatkan cercaan dan hinaan dari penjaga itu seperti makanan setiap harinya itu.
Namien, yang hampir tidak mampu mengangkat kepalanya, melirik ke arah sel Silas ketika penjaga itu pergi menjauh dari area sel mereka dan bertanya kepada Silas.
"Apa… yang sebenarnya kau rasakan, orang tua?" Silas bersandar di dinding dan menyeka darah dari bibirnya, menjawab pertanyaan Namien itu.
"Bulan sudah mencapai titiknya. Para penjaga sudah termakan oleh kesenangan akan anggur dan perempuan yang membuat mereka semua mabuk dan kini, angin malam ini… berbisik ke tulang-tulang kita untuk menyampaikan pesan kepada kita saat ini. Apakah kau mendengarkannya, ular?"
Vael menegakkan tubuhnya yang mengerang karena rasa sakit di badannya itu setiap kali digerakkan mulai berbicara. "Kau bilang untuk menunggu dan hingga kini kami sudah menunggu seperti apa yang kau katakan."
"Dan sekarang, sekarang kau dengarkan baik-baik… apakah ada sesuatu yang berbeda yang kau dengarkan itu?" kata Silas dengan matanya berbinar untuk bersabar sedikit lagi.
Di luar sel mereka dan di suatu tempat yang berada di dalam penjara, getaran lembut bergema melalui dinding yang hampir tak terasakan, tetapi tanda yang seperti Silas katakan tidak salah lagi. Kebebasan mereka… akan segera datang tak lama lagi
Bulan sudah berada di posisi tertingginya yang berada di balik awan hitam, cahayanya yang pucat menghasilkan bayangan samar-samar di sepanjang jalan yang ditutupi lumut dan pintu masuk penjara mulai terlihat di hadapan tim penyusup saat ini.
Udara terasa lembap dan bau besi serta bau busuk yang khas dari sektor bawah Jargmund. Lyra yang mengamati dari samping batu besar, tangannya yang bersarung tangan terangkat dengan gerakan tajam.
Matanya berbinar, terfokus pada dua penjaga di dekat pintu masuk penjara yang berkarat yang para penjaga itu bersandar di dinding batu dengan tertawa seperti orang bodoh.
Kata-kata mereka tidak jelas akibat dari botol-botol anggur di sekitar mereka dan di tangan mereka yang tergenggam itu.
Sora berlutut tanpa suara di sampingnya, napasnya teratur. Ujung pedangnya yang baru ditempa berkilauan sedikit di bawah sinar bulan, tetapi dia tidak bergerak. Dia sekarang menjadi bayangan yang diam dan waspada kondisi di depannya. Lyra menunjuk dua anggota timya untuk melumpuhkan kedua penjaga itu. Anggota yang ditunjuk Lyra mengangguk sekali dan menghilang ke dalam kegelapan yang dipenuhi kabut.
Dalam beberapa saat, tawa para penjaga berhenti seketika bahkan penjaga itu tidak menyadari akan adanya serangan ke arah mereka akibat kelalaian mereka. Dua ancaman pertama, kini lenyap tak bersisa, dua tubuh yang ambruk, dan satu sinyal dari Lyra untuk melumpuhkan mereka dengan mematikan.
Sisa anggota tim penyusup mulai muncul dengan diam-diam menyelinap melalui celah-celah bayangan. Mayat dua penjaga itu diseret ke semak-semak terdekat dengan ditutupi karung-karung tua untuk mengurangi kecurigaan.
Lyra melihat ke arah Sora dan memiringkan kepalanya sedikit ke depan dan memberikan aba-aba kepadanya melalui gerakan tangannya yang berarti,
‘Kita bergerak sekarang!’
Sora dengan cepat memahami bahasa isyarat Lyra dan mereka berdua langsung masuk ke dalam penjara bersama anggota tim penyusup lainnya. ketika Tim penyusup memasuki koridor-koridor gelap di persimpangan antara keempat menara itu.
Lyra kembali memberikan pesan yang menggunakan bahasa isyarat kepada seluruh timnya itu dengan mengangkat tangannya lagi dan menggerakkan tangannya seperti menandakan sesuatu hal yang berarti sinyal untuk berpisah.
Timnya langsung memecah formasi. Seperti benang yang terurai dari simpul pusat, mereka berpencar melintasi aula masing-masing berpasangan dengan satu tujuan: mengumpulkan informasi, melenyapkan penjaga, dan memetakan titik-titik buta.
Itulah metode yang telah diajarkan Lyra kepada mereka dalam pelatihannya yang merupakan bagian dari efisiensi tanpa menimbulkan kekacauan. Dan sekarang, hanya tersisa Lyra dan Sora. Lyra menoleh pada Sora dengan bisikan yang nyaris tak terdengar,
"Kita pergi ke sayap timur terlebih dahulu. Di situlah kantor sipir berada. Jika betul kita menemukannya seperti apa yang dikatakan informan, kita bisa membebaskan mereka serta mendapatakan beberapa dokumen berupa daftar para tahanan yang ada untuk informasi yang diserahkan ke markas nantinya. Kunci sel teman-temanmu itu berada di tempat yang sama juga. Jadi, jangan khawatir akan hal-hal lainnya."
Sora yang mendnegar perkataan Lyra itu hanya bisa mengangguk pelan dan berjalan bersama Lyra dengan langkahnya yang ringan, bahkan tidak menyapu debu dari ubin lantai yang retak. Bersama-sama, mereka bergerak seperti dua bayangan yang menyatu melawan bayangan yang lebih gelap.
Saat mereka melewati gerbang besi tua, suara lembut mengerang dari sel-sel di balik seseorang yang sedang bermimpi, atau mungkin menghidupkan kembali mimpi buruk.
Mereka tidak berhenti hingga tujuan mereka benar-benar terfokus pada kantor sipir yang menyimpan kunci sel teman-teman mereka ditahan itu. Setiap derit pintu kayu terdengar dan setiap tetes air dari langit-langit yang bergema di koridor adalah peringatan bagi mereka berdua, tetapi keduanya tidak goyah karena hal semacam itu.
Setelah beberapa tangga yang sempit dan belokan lain mereka berdua lalui itu, mereka berdua akhirnya mencapai pintu kayu ek dengan penyangga besi berkarat dan di pintu itu tertulis ‘Kantor Sipir.’
Lyra berhenti dan matanya menyipit ketika mencoba membuka pintu kantor sipir itu. "Terkunci, tapi tidak akan lama." Bisiknya.
Dia meraih kantongnya, mengeluarkan alat-alat tipis dari logam dan tulang, itu adalah alat pembobol kunci yang dia buat sendiri. Saat Lyra berlutut di depan lubang kunci pintu kantor, Sora berdiri berjaga yang matanya mengamati setiap koridor gelap untuk mencari tanda-tanda pergerakan dari musuh dan cengkeramannya mantap pada gagang pedangnya. Ketika terdengar suara pintu yang menandakan pintu kantor sipir itu terbuka dan Lyra memberikan isyarat kepada Sora untuk masuk ke dalamnya.
Di dalam kantor sipir itu, bermacam-macam bau yang mulai dari bau tembakau tua, keringat, dan tinta. Tumpukan kertas berserakan di atas meja kerja yang beberapa diantaranya robek dan yang lain dicap dengan tanda rezim Jargmund.
Di dinding terjauh, terlihat sebuah rak kunci tergantung di bawah diagram sayap penjara yang merupakan cetakan peta dari area penjara Jargmund. Lyra bergerak cepat ke meja dan mencari dokumen terbaru seperti shift, penugasan, dan nama.
Sementara itu, Sora mendekati rak kunci dengan mencari label kunci hingga dia menemukan apa yang dibutuhkan. Sora menemukan kunci-kunci yang terdapat tulisan ‘kunci sel-sel sayap utara.’
Sora mengangkat kunci hingga membuat dentingan lembut sebagai tanda ia menemukan kunci sel penjara yang dicari, dan Lyra yang baru saja selesai membaca dokumen untuk mencari keberaaan pemimpin pasukan revolusi yang juga berada di sel bagian sayap utara di maan ia ditahan.
Lyra mengangguk pelan. "Sebelum itu, aku mengambil cetakan peta ini dan kita langsung bergerak."
Setelah mengambil cetakan peta yang berada di dekat rak gantungan kunci dan disimpan dalam kantong Lyra, bayangan mereka berdua bergerak dengan cepat ke arah sayap utara dan tidak akan menunggu lama.
Karena, badai berikutnya pun tidak akan bisa mengatasi pergerakan mereka saat ini dalam membebaskan teman-temannya.
Setelah mendapatkan kunci dan beberapa dokumen penting dari kantor kepala sipir, Lyra bergerak secepat bayangan. Setiap koridor adalah labirin yang familier bagi Lyra yang hanya melihat dan menganalisis sesaat sebelum peta yang diambilnya itu dimasukkan ke dalam kantongnya. Sora mengikutinya dari belakang dengan pedangnya yang baru ditempa terasa seimbang dan hidup di tangannya, setiap langkahnya nyaris tanpa suara dan menyatu dengan keheningan penjara yang memiliki nuansa penindasan.
Mereka berdua bergerak cepat hingga tiba di sebuah persimpangan koridor yang sedikit lebih terang. Di sana, terlihat di dekat sebuah meja kayu dengan empat penjaga duduk mengelilingi yang tengah bermain kartu dan beberapa botol-botol anggur murah berserakan di sekitar mereka.
Tiba-tiba, tawa kasar dan keras meledak dari salah satu penjaga yang jelas baru saja kalah dari taruhan besarnya dalam bermain kartu dengan penjaga lainnya.
"Sialan kau, Oric! Kau pasti curang kali ini!"
Melihat celah tersebut, Lyra tidak menunggu kesempatan itu. Tangannya bergerak dengan perlahan mengeluarkan dua bilah pisau lempar yang dilemparkannya begitu saja dan melesat di udara dengan desisan yang nyaris tak terdengar.
Dua dari penjaga itu tersentak, yang mata mereka terbelalak kaget sebelum mereka jatuh tersungkur ke atas meja dengan darah yang keluar dari arah leher mereka, pisau lempar tertancap dengan presisi mematikan di pangkal leher mereka.
"Apa—"
Dua penjaga yang tersisa melompat berdiri karena terkejut, menatap ngeri pada tubuh rekan-rekan mereka yang kini berlumuran darah.
Ketika dua penjaga itu masih terpaku dalam keterkejutan, Sora memanfaatkan momentum itu dengan melesat maju seperti hantu.
Dalam satu gerakan yang mengalir dan tanpa suara, bilah pedangnya yang baru ditempa mengiris kedua penjaga yang menebas kedua penjaga itu tak tersisa dalam satu serangan lengkungan yang bersih.
Dua penjaga itu langsung jatuh ke lantai tanpa sempat berteriak dalam satu serangan Sora yang mengenai keduanya.
Keheningan kembali menyelimuti koridor penjara dan hanya menyisakan bau anggur dan darah yang menggenang di lantainya.
Lyra menatap Sora dengan kekaguman yang memuji dalam hatinya akan kecepatan dan ketepatannya itu yang hampir tidak manusiawi bagi Lyra. Mereka bertukar pandang dan anggukan singkat, lalu bergerak kembali menuju blok sel teman-teman mereka di sayap utara.
Suara langkah kaki yang terdengar begitu aneh di koridor penjara yang sunyi membuat Silas Verne, yang sedang bersandar di jeruji selnya mengangkat kepalanya.
"Mereka sudah datang rupanya." Ujarnya dengan senyum tipis.
Namien, yang terbaring tak berdaya di dekatnya, mendengar hal itu bertanya kepadanya. "Siapa yang datang?"
Silas menatapnya, matanya berbinar di cahaya obor yang redup. "Kebebasan kita tentunya, ular."
Tidak lama setelah Silas berkata, dua sosok bayangan muncul di ujung koridor yang membuat Vael matanya selalu waspada, melihat siluet itu lebih dulu hingga menyadari salah satu sosok itu dengan yang dikenalnya dan berkata dengan sekuat tenaganya.
"Di sini, Sora!"
Sora yang muncul dari kegelapan, diikuti oleh Lyra. Mereka bertiga Vael, Namien dan Arelan yang melihat wajah Sora kembali, kini dipenuhi oleh kelegaan yang luar biasa dalam hati mereka.
Mereka bertiga mencoba untuk berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang mereka punyai saat itu.
Lyra tidak membuang waktu dan ia langsung bergerak ke sel Silas ketika menyadari bahwa selnya itu bersebrangan dengan sel teman-teman Sora.
"Silas, maafkan aku bila terlambat. Aku akan membuka selmu segera." Kata Lyra dengan membungkuk bahkan berlutut untuk hormat kepada Silas lalu, kembali berdiri untuk membebaskan Silas dari selnya.
Sambil mengeluarkan set kunci, Lyra mulai membuka pada gembok yang berkarat. "Luangkan waktumu yang ada, Lyra."
Namien yang melihat Sora di hadapannya itu, tidak bisa menahan sarkasmenya yang khas darinya meskipun dengan suara yang lemah akan rasa sakit diterimanya. "Hei, kenapa kau lama sekali, Sora? Kita bisa mati membusuk di sini jika kau tidak menyelamatkan kami dengan cepat."
Sora menatap Namien lalu ke luka-lukanya, dan dengan cepat memberi isyarat permintaan maaf yang tulus.
Namien hanya terkekeh pelan yang membuatnya meringis kesakitan. "Yah... setidaknya kau adalah penyelamat hidup kami. Apakah kau ingin ciuman dari orang yang kau selamatkan ini sebagai balasnanya seperti dalam adegan pertunjukan sirkus keliling mungkin?"
Sel Silas terbuka dan Lyra kemudian bergerak cepat untuk membuka sel teman-teman Sora. Namun, di tengah proses itu, salah satu penjaga yang sebelumnya pingsan karena terlalu banyak minum di ruangan lain tersadar ketika ia keluar dari ruangan nya itu, melihat keempat mayat rekannya dengan menatap dan melihatnya terbelalak ngeri.
Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan berlari sekuat tenaga ke arah tangga yang menuju atap menara penjara yang tujuannya satu: membunyikan lonceng alarm.
Akan ada perang dan akan ada pertumpahan darah dari hal terburuk yang Lyra bicarakan sebelumnya.
Kebebasan mereka yang baru saja terasa begitu dekat kini harus dibayar dengan harga yang jauh lebih mahal dan mereka akan menghadapi tantangan dari badai yang sebenarnya sekarang.
Besi berat itu berdenting dan berderit saat Lyra membuka kunci pintu sel terakhir. Namien, Vael, dan Arelan dengan pakaian compang-camping dan berlumuran darah itu, melangkah keluar dengan perlahan dan gerakan mereka tegang karena siksaan yang telah mereka alami.
Dalam cahaya obor yang redup, mata mereka bertemu dengan mata Sora yang kosong namun masih menyala dengan semangat yang sama yang telah mereka bawa melalui setiap pertempuran.
"Aku... aku minta maaf tentang Kaelith." Kata Vael dengan suaranya yang pelan disertai serak dan pecah.
Arelan menundukkan kepalanya dan menanmbah perkataan Vael, "Aku masih belum cukup kuat untuk melindungi siapa pun. Ini... ini semua adalah salahku."
Namien, bibirnya pecah dan berkerak dengan darah kering, terkekeh getir, "Dan si jenius ini, akulah yang menumpahkan kisahku ke telinga yang salah. Akulah yang menyalakan percikannya dan seharusnya aku yang bertanggung jawab atas semua ini."
Sora melangkah maju.
Tidak ada kata-kata, hanya gerakan diam tangannya yang diletakkan di dadanya, lalu perlahan menunjuk ke luar sebagai tanda permintaan maaf, dan kesalahan bersama.
Dia menatap mereka masing-masing dengan mata yang tidak hanya lelah, tetapi juga penuh rasa bersalah.
“Tidak sepenuhnya dan bukan kau yang seharusnya menanggungnya. Kami adalah temanmu... tetapi kami menjadi bebanmu bahkan penghalangmu.” Kata Namien yang membaca ekspresi Sora.
Suara Lyra terdengar tajam, lebih tajam dari cahaya obor yang redup. “Hei, Halo yang masih bereuni? Waktu kalian memang menyenangkan untuk bertemu kembali, tetapi mungkin sebaiknya kita tidak melakukannya saat ini di tempat seperti ini?”
Silas hanya bisa tertawa saat dia tertatih-tatih keluar dari selnya ketika melihat hal tersebut di hadapannya dan menyapukan tangannya ke arah Lyra seperti konduktor yang memimpin simfoni yang muram. “Ayolah, pencuri kecil. Biarkan mereka setidaknya saling memandang setelah selamat dari apa yang tidak akan pernah kau alami. Lihatlah seni bertahan hidup mereka, mereka benar-benar dijahit dengan darah sebagai hasil buktinya.”
Tak lama dari perkataan Silas itu, bel alarm penjara mulai berdentang dan gema alarm itu menggelegar melalui lorong-lorong penjara bahkan terdengar sampai istana raja yang menandakan sebuah peringatan kematian mereka akan segera datang.
Senyum Silas memudar perlahan dan berkata. “Uh-oh… dan tirai pertunjukan pun jatuh untuk mengakhiri sesi reuni kali ini.”
Mata Lyra melotot. “Bergerak, Sekarang!”
Mereka semua berlari sekuat mungkin ke arah pintu keluar penjara Jargmund.
Lyra memimpin di depan, membaur dengan bayangan melalui koridor-koridor yang telah diingatnya dalam keheningan. Sora berjalan dengan langkah cepat di sampingnya, pedang tersarung tetapi siap untuk tenang sebelum letusan.
Silas memimpin di tengah, lincah seperti hantu meskipun usianya sudah tua. Di belakang, Namien, Vael, dan Arelan bergerak secepat tubuh mereka yang hancur memungkinkan rasa sakit yang tajam dalam setiap napas, setiap langkah, tetapi mereka tidak goyah.
“Ayo, kita tidak punya waktu sebelum Vorlag tiba di sini.” Bentak Lyra yang sempat menoleh ke belakangnya.
Nama itu seharusnya tidak disebutkan dan tidak boleh disebutkan dalam keadaan seperti mereka saat ini.
Rahang Arelan mulai terkatup saat hawa dingin menggigil melewatinya dan berkata kepada Lyra, “Vorlag anomali daging dan tulang itu?”
“Ya, Vorlag yang itu.” Jawab Lyra dengan suaranya rendah dan muram.
Arelan merasa mulutnya kering ketika ia mengingat dan telah mendengar beberapa cerita-cerita tentang Vorlag sang anomali daging dan tulang yang setiap prajurit pernah mendengar ceritanya.
Seorang pria yang tidak pernah membungkuk dan tidak pernah berdarah seperti yang lain saat dirinya menerjang medan perang seperti bencana yang hidup.
Vorlag tidak dipilih oleh para dewa bahkan tidak ditandai oleh rune sebagai kekuatannya melainkan dirinya hanya manusia yang begitu murni akan kebrutalannya dan tak terhentikan ketika bertarung.
Jika ia datang… maka pelarian ini hanya menjadi hitungan mundur menuju malapetaka bagi mereka yang mencoba mendatangkan sosok anomali daging dan tulang ini.
Other Stories
Percobaan
percobaan ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...