Bab Dua Puluh Sembilan: Satu-satunya Cahaya Dalam Kegelapan
Matahari telah lama terbenam di balik tepi dunianya, dan rona merah tua masih samar-samar tertinggal di langit barat bagai ditelan perlahan oleh malam yang berganti.
Jauh di bawah kerajaan Jargmund dan jauh dari mata tiran yang haus akan keserakhan dunianya itu, Sora duduk sendirian di reruntuhan bawah tanah saluran air kuno yang pernah digunakan aliran air yang mengalir di sana dan kini hanya tanah kering di salurannya itu yang tak difungsikan lagi.
Sora terlihat duduk di atas batu besar yang usang di bawah celah-celah jalan Jargmund di atasnya melihat ke arah langit-langit tempat cahaya rembulan menyinari dari celahnya itu seperti tinta perak di tanah. Cahaya itu menyinari wajahnya dengan lembut, memperlihatkan matanya yang bengkak merah dengan tubuhnya terdiam, dan jiwanya hancur akan perkataan Feron sebelumnya.
Tatapan Sora terkunci ke atas yang melihat ke arah lingkaran kecil kedamaian di dunia yang telah menjadi gila melalui penampakan bulan purnama yang terlihat di celahnya itu yang begitu tenang dan tak bergerak dari posisinya itu namun, pikiran Sora berputar tanpa henti yang memikirkan segalanya setelah mengingat pedangnya yang dilempar begitu saja oleh Feron kekecewaan atas hasratnya sebelumnya, dan beban mata cekung Kaelith.
Dan semua itu lebih dari sekedar akan semua kenangan tentangnya selama ini dalam melakukan perjalanannya yang selalu mengingat perkataan Eyla sebelumnya di dalam benaknya yang lebih jelas dari apa pun.
Suara hatinya bergema dalam ingatannya yang begitu lembut dan hangat bukan sebagai seorang pejuang, tetapi sebagai seorang ibu yang menasehati anaknya:
"Kebencian tidak memperbaiki apa yang bisa diperbaiki cinta. Bersikap baik, bahkan saat dunia tidak baik untuk dirimu dan jadilah lilin di malam yang gelap. Bahkan jika apinya berkedip... biarkan tetap menyala."
Sora telah melupakan semua yang dikatakan Eyla mengenai tentang dirinya itu dan telah membiarkan amarah menguasai dirinya juga membiarkan dendamnya sekali lagi mengendalikan pedangnya.
Sora menyadari bahwa dirinya telah mengingkari janjinya tidak hanya kepada Eyla, tetapi juga kepada dirinya sendiri yang berujung kehancuran bagi dirinya.
Air mata sebagai bukti terbesar penyesalannya di tempat itu saat ia diam menatap langit malam dan derasnya air mata mengalir di pipinya saat ia menundukkan kepalanya sejenak, menutupi matanya dengan tangannya yang membuat terisak-isak dalam kehampaan dan penyesalannya di dalam dirinya.
Ia menangis bukan sebagai seorang pejuang, bukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai seorang anak laki-laki yang telah kehilangan segalanya dan tidak tahu bagaimana cara menanggung bebannya lagi.
Dan di saat itulah Lyra menemukannya yang Lyra berjalan di sekitar area terowongan saluran air bawah tanah untuk menjernihkan pikirannya, tetapi berhenti ketika ia melihat Sora terduduk diam di bawah sinar bulan.
Lyra belum pernah melihat Sora seperti ini sebelumnya bahkan dalam pertempuran sekali pun. Tetapi sekarang? Sekarang Sora hanyalah manusia biasa seperti pada umumnya. Lyra mendekati Sora dengan langkahnya selembut angin malam dan ketika Lyra mencapainya, dengan perlahan-lahan duduk di sampingnya, tangannya mengusap lembut bahu Sora itu.
"Hei, tidak apa-apa... kau bisa meluapkannya. Kau tidak menjadi lebih lemah karena merasakannya dan kau menjadi lebih manusiawi karena hal itu." Kata Lyra dengan lembut dan berbisik,
Sora menoleh ke arahnya dengan pipinya yang basah dan badannya gemetar. Tanpa sepatah kata pun, Sora mencondongkan tubuh ke depan dan memeluk Lyra itu yang seorang anak laki-laki akhirnya melepaskan seluruh emosi, beban, serta penyesalannya yang selama ini dipendam begitu lama.
Lyra membeku sesaat, terpana oleh pelukan Sora yang tiba-tiba itu dan kemudian... Lyra membalas pelukannya itu dengan lembut, yang Lyra melingkarkan lengannya di sekelilingnya dan memeluknya juga dengan erat hingga jari-jarinya perlahan menyisir rambutnya, dan suaranya menjadi lebih lembut.
"Tidak apa-apa... aku tak tahu mengapa dirimu begitu rapuh, namun aku juga tahu hal ini menyakitkan dan apa artinya dia itu untukmu. Aku tahu aku tidak bisa menjadi dirinya sebagai penggantimu itu, tapi dia mencintaimu, bukan? Bahkan dalam kehancurannya itu, kau harus hidup untuknya juga dan bukan hanya sekedar berjuang saja. Hiduplah hingga dia bisa melihatmu kelebihan dan kerentananmu itu, Sora!" bisik Lyra yang membuat tangisan Sora semakin pelan, dan kata-katanya menjadi obat untuk lukanya.
"Aku akan berada di sini, selama yang kau butuhkan. Selama kau berjalan di jalan ini."
Di atas mereka, bintang-bintang berkilauan yang satu per satu jatuh di langit malam seperti air mata para dewa yang bertebaran.
Bulan menjadi saksi yang bersinar tenang dengan menerangi jalan bagi mereka yang tersesat dalam kegelapan di sudut dunia yang sunyi itu, di antara tumpukan tulang-tulang kota yang terlupakan, dan dua jiwa duduk di malam hari dengan pelukannya. Yang satu meratapi penyesalannya, dan yang lain mendengarkannya. Api kebencian mulai padam dan sebagai gantinya, lilin harapan berkedip sekali lagi.
Sementara itu, jauh di dalam kemewahan istana Jargmund yang pertunjukan para penari telah berakhir dan tepuk tangan dari para hadirin masih bergema di aula singgasana, tetapi Goulash yang duduk di kursi singgasananya sedang memikirkan hal lain.
Matanya berbinar penuh hasrat saat ia mencondongkan tubuhnya ke arah jenderalnya. "Bawakan aku Kaelith, orang yang menari dan menunjukkan bakatnya itu. Aku ingin dia berada di kamarku malam ini." Bisiknya dengan seringai aneh.
Tetapi, sebelum sang jenderal bisa berdiri sepenuhnya, wanita yang duduk di pangkuan Goulash itu membisikkan sesuatu di telinganya.
"Hmm... Sudah ada gadis lain? Apakah kau sudah lupa tentang kulit yang kau sentuh ini atau bagaimana aku membuatmu menginginkan untuk bermain kepadaku ini, raja?" goda wanita itu yang mendengar perkataan Goulash tadi dengan suara seperti madu beracun.
Pikiran Goulash yang dirusak oleh hawa nafsu dan kerakusannya itu, dengan cepat mengalihkan fokusnya ke arah wanita yang duduk di pangkuannya itu. Ia tertawa dan membiarkan jari-jarinya yang gemuk menjelajahi paha wanita itu seperti anak manja yang teralihkan oleh mainan baru.
"Ah, ya, ya... lain kali saja. Biarkan dia pergi. Tapi besok malam—"
ia menunjuk sang jenderal dengan tegas, "Aku ingin dia di samping tempat tidurku. Kau mendengarku?"
Sang jenderal mengangguk kaku sebelum kembali ke posnya yang telah mendnegar perintah Goulash itu. Saat sang jenderal melewati pilar-pilar batu besar setelah keluar dari aula singgasana itu, sebuah bayangan terlihat di dinding.
Vorlag ada di sana dengan aura seperti raja dari binatang buas yang pendiam dan tengah bersandar dengan tombaknya di bahunya. Sang jenderal nyaris tidak melirik ke arahnya dan terus berjalan ke depan, tapi mata dingin Vorlag mengikutinya dan berbicara dengan nada meremehkan.
"Hmmph... sangat lemah." Gumam Vorlag kepadanya yang jenderal itu pura-pura tidak mendengar perkataannya, tetapi cukup berat untuk dirasakan.
Sementara itu, Goulash tertawa terbahak-bahak dan membiarkan selirnya menuntunnya dengan jari-jarinya menuju kamarnya itu. Goulash sangat bersemangat untuk malam yang dipenuhi kemewahan dan delusi lainnya itu.
Di luar gerbang istana, perencana penari tetap menjadi orkestra bayangan yang tenang dengan para penarinya yang tenang, fokus tak teralihkan, dan terlatih mengikuti di belakangnya, semuanya mengenakan topeng keanggunan profesional yang sama.
Melewati para penjaga di gerbang depan, mereka mengangguk dengan hormat, tidak membiarkan secercah pun tujuan mereka yang sebenarnya lolos dari ekspresi mereka.
Begitu mereka cukup jauh dari pandangan para penjaga, perencana itu membuat gerakan cepat dengan jari-jarinya yang cepat untuk memberikan aba-aba kepada yang lainnya dan para penari segera berpisah dan berhamburan ke gang-gang hingga jalan-jalan sempit dengan mengambil rute yang berbeda di dalam kota seperti benang yang menghilang dalam kegelapan malam.
Mereka sekarang bukan lagi penari melainkan agen pasukan revolusi saat ini.
Masing-masing dari mereka tahu jalan yang akan membawa mereka ke pangkalan revolusioner yang tersembunyi di bawah kota.
Seperti asap, mereka menyelinap melalui celah-celah kerajaan dan perencana penari yang terakhir bergerak dengan menghembuskan napas panjangnya sekali dan melebur ke dalam bayangan bagian bawah yang berjalan cepat.
Kembali ke kamp, tempat persembunyian bawah tanah pasukan revolusi itu berdengung dengan urgensi yang tenang. Veyla untuk sementara bertanggung jawab atas logistik dan pengumpulan informasi yang tengah berdiri di tengah tendanya itu dengan mengamati peta-peta yang tersebar dan formasi pasukan yang diterangi cahaya lilin.
Satu per satu, para penari tiba di dalam kamp Veyla yang penari pertama masuk tanpa mengetuk, membungkuk sekali sebagai salamnya kepada Veyla, dan meletakkan gulungan kecil yang tersegel di atas meja.
Kemudian, penari kedua dan penari ketiga hingga seterusnya seperti dilakukan oleh penari pertama lakukan itu. Pada penari kelima, Veyla sudah mengerti akan rencananya berhasil karena intelnya sudah ada di sini dengan informasi yang dibutuhkannya itu dan itu dilakukan sangat bersih.
Salah satu gulungan berisi daftar tahanan yang ditahan selama lima tahun terakhir dan yang lainnya merinci tata letak aula penjara. Veyla juga memerhatikan isi gulungan itu yang menandai rotasi rutinitas para penjaga berpatroli dan mengidentifikasi tempat tinggal kepala sipir hingga catatan kaki mengenai kelemahan patroli para penjaga.
Dan yang terpenting, satu gulungan berisi nama-nama penjaga saat ini yang dapat disuap atau yang memiliki keluarga di luar kerajaan Jargmund tengah mengalami kesulitan.
Mata Veyla mengeras karena tujuannya yang bisa direalisasikan itu dengan melihat peta perang darurat di depannya dan menempelkan kedua tangannya ke atas peta itu.
"Inilah saatnya, ini adalah awal dari akhir." Katanya kepada siapa pun yang berada di tendanya yang tepat saat itu, seorang penjaga menyerbu ke dalam tendanya.
"Komandan Veyla, Lyra dan Sora meminta pertemuan dengan anda segera." Katanya dengan tenang, dan jawaban Veyla hanya mengangguk sekali kepada penjaganya itu. Roda revolusi telah berputar dan tiran dari kerajaan ini akan segera diuji.
Sora dan Lyra berjalan berdampingan dengan tenang dan langkah kaki mereka bergema pelan melalui terowongan bawah tanah sempit yang mengarah ke tenda komando pusat.
Keheningan di antara mereka tidak canggung tetapi berat untuk dirasakan seperti keheningan sebelum badai.
Masing-masing dari mereka membawa pikiran tentang apa yang akan terjadi dan saat mencapai pintu masuk tenda Veyla, mereka bertemu dengan dua penjaga yang ditempatkan di luar dan berdiri kaku karena kewaspadaannya. Lyra melangkah maju dengan percaya diri seperti biasanya.
"Kami perlu berbicara dengan Veyla, sekarang!"
Para penjaga bertukar pandang sejenak sebelum salah satu dari mereka mengangguk singkat dan masuk ke dalam tenda untuk memberi tahu komandan mereka.
Beberapa menit yang menegangkan berlalu, dan kemudian dia muncul kembali, memberi isyarat agar mereka masuk ke dalam tenda.
"Kalian diizinkan masuk." Sora dan Lyra masuk ke dalam tenda Veyla.
Di dalam tenda, Veyla berdiri membungkuk di atas peta darurat besar yang diletakkan di atas meja perang.
Gulungan, sketsa, dan diagram disematkan dan tersebar di atasnya, sebagian besar bertuliskan tulisan tangan yang elegan dan tajam dari perencana penari dan agennya. Lilin-lilin berkedip di sisi-sisi ruangan tenda itu yang menghasilkan bayangan di atas alis Veyla yang berkerut itu.
Begitu dia melihat Sora dan Lyra masuk ke dalam tendanya, Veyla menegakkan tubuhnya dan tidak membuang-buang waktunya. "Aku tahu apa maksud kalian datang kemari, tapi, malam ini adalah satu-satunya kesempatan yang kita miliki untuk memulai rencana infiltrasi penjara."
"Pesta raja telah berlangsung lama dan informan kita di dalam sebelumnya mengatakan para penjaga kekurangan tenaga. Setengah pasukannya mabuk dan beberapa di antaranya tertidur karena kelelahan yang lingkaran barisan pertahanan mereka dalam keadaan belum bisa kembali bertugas. Inilah saatnya kita melancarkan semua apa yang telah dipersiapkannya."
Veyla mulai menatap Lyra terlebih dahulu. "Lyra, kau akan memimpin kelompok penyusup. Masuk dan bebaskan siapa saja yang menjadi prioritas kita ke penjara secara diam-diam dan singkirkan para penjaga yang ada, amankan jalannya, dan temukan kunci utama dan penjaranya. Lalu temukan di mana mereka menahan pemimpin kita Silas Verne dan juga..." Dia melirik Sora.
"...teman-temannya. Bebaskan mereka semua dengan diam-diam, jika memungkinkan."
Lyra melipat tangannya dan bertanya kepada Veyla itu. “Siapa yang akan mendukung kita jika keadaan ini menjadi buruk?”
“Douglas akan membantu kalian jika keadaannya sudah tak memungkinkan.” Jawab Veyla tanpa ragu dan Lyra mengerjap akan perkataannya itu.
“Douglas itu? Kau benar-benar akan melepaskannya untuk malam ini?”
“Dia satu-satunya yang bisa melawan Vorlag jika dia muncul. Kau ingat apa yang terjadi terakhir kali dia bertemu dengannya, bukan?” jawab Veyla terhadap pertanyaan Lyra Sora mengerutkan keningnya dan dia mengeluarkan kertasnya dan menulis satu pertanyaan singkat, lalu menyerahkannya kepada Veyla.
‘Siapa Vorlag itu?’
Veyla membaca tulisan Sora yang diberikan kepadanya, lalu menjawab dengan nada serius.
“Vorlag bukanlah manusia. Dia seorang monster yang berwujud manusia. Tidak ada rune, dan tidak ada sihir sebagai kekuatannya hanya kebrutalan mentah. Dia bisa membuat satu batalion hancur dengan sendirian. Kami memanggilnya Si Anomali Daging dan Tulang yang adalah algojo pribadi raja. Jika dia muncul... keluarlah dari sana dan hindari pertarungan dengannya secepat mungkin atau mimpi buruk akan mengahntuimu dengan kedatangannya.”
Veyla mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke meja dan menatap Lyra. “Kau mengerti akan hal itu, Lyra?”
Lyra mengangguk singkat. “Mengerti.”
Veyla menoleh ke Sora. “Dan kau. Kau akan pergi bersamanya. Jika terjadi kesalahan, kami akan membutuhkan kedua keahlianmu untuk mengeluarkan semua orang dari sana.”
Mata Sora bertemu dengan mata Lyra sejenak, dan dia mengangguk dengan tegas. Veyla memberi mereka satu perintah terakhir.
“Pergilah dan bersiap-siap mulai dari sekarang. Kita serang sebelum bulan mencapai puncaknya.”
Mereka semua keluar dari tenda komando bersama-sama kecuali Veyla yang masih terus memerhatikan kertas yang berhamburan di mejanya sendirian, hati mereka tenang tetapi membara.
Di suatu tempat di balik batu dan dinding kerajaan yang lapuk, teman-teman mereka menunggu dalam rantai dan malam ini, rantai itu akan mulai putus.
Penjara itu terbungkus dalam keheningan yang begitu dalam dan tidak nyaman, hanya suara rantai yang berdenting ketika angin menggerakkannya dan erangan samar dari para narapidana yang harapannya telah lama tenggelam di bawah darah dan kegelapan.
Silas duduk bersila di sudut selnya yang redup, awalnya bersenandung pelan sebuah melodi menghantui yang bergema melalui aula-aula batu seperti bisikan hantu.
Kemudian dia mulai bernyanyi, rendah dan tegas, sebuah lagu yang bukan keputusasaan tetapi api. “Revolusi tidak pernah tidur… ia tumbuh di bawah tanah… dan ketika tiran memimpikan kekuasaannya, api akan membakarnya…”
Namien yang terbaring lemas di samping jeruji selnya dengan bibirnya berdarah, kesombongannya yang biasa hancur, dan terdiam saat Silas mennyayi itu. Matanya yang bengkak nyaris tidak terbuka, tetapi bahkan dia tidak bisa mengabaikan lagu yang mengalir melalui batu dan baja.
Jari-jarinya berkedut, dan napasnya serak tetapi dia tetap diam. Terlalu hancur untuk tertawa, terlalu keras kepala untuk menangis. Vael duduk dengan punggungnya yang menempel di dinding, tangannya mengepal gemetar, dan memar menghiasi kulitnya seperti tato.
Arelan di sampingnya, tak bergerak, dan napasnya pendek tapi mantap seperti batu besar yang menolak runtuh.
Lagu itu terus berlanjut hingga langkah seorang penjaga menyela paduan suara yang menyeramkan itu. Sosok penjaga muncul di depan sel Silas dengan mengunyah daging kering dan menyeringai lebar.
Dia bersandar di jeruji, mengetuknya dengan mengejek dengan gagang pentungannya.
“Hei, orang tua gila! Masih menyanyikan lagu sialan itu, ya? Revolusi? Dalam mimpimu saja.”
Silas tidak bergeming.malah ia terkekeh pelan dan membalas perkataan penjaga itu. “Apa kau tidak merasakannya? Angin, berubah arahnya sekarang dengan tenang dan perlahan... tapi mengukir di sebuah batu nisan seseorang. Bentengmu ini akan menjadi debu sebelum matahari terbit nanti.”
Penjaga itu yang mendengar perkataannya itu mulai kebingungan akan perkataan Silas itu, lalu tertawa terbahak-bahak. “Hah! Kau benar-benar sudah gila. Kau akan bernyanyi dari tali yang akan menggantungmu selanjutnya.” Silas hanya menyeringai lebih lebar.
Vael yang sedari tadi terdiam, bangkit perlahan dari lantai batu. Darah mengeras di sudut mulutnya, tetapi suaranya jernih dan tajam.
“Di mana dia?”
Penjaga itu berbalik.
“Di mana Kaelith temanku yang kalian bawa?” Vael bertanya lagi dengan melangkah maju ke jeruji besi dengan menggenggam jeruji besi selnya itu bergetar karena cengkeramannya dan api mulai berkobar di balik matanya yang merah.
Penjaga itu menyeringai “Masih di istana. Mungkin menghibur raja, ya? Atau mungkin dia sudah tergantung di pohon di belakang istana sebagai pertunjukan sang raja? Yang Mulia suka pertunjukan seperti itu terutama saat mereka berteriak untuk meminta permohonan ampunan.”
Vael menghantamkan tinjunya ke jeruji besi, meraung seperti binatang buas, “Kau akan menyesali setiap kata yang kau katakan. Aku bersumpah demi darah Borreal.”
“Oh, aku begitu takut dan merinding melihatmu seperti itu. Ingatlah wajahku ini brengsek, ksatria Borreal. Kau akan melihat temanmu itu lagi tepat sebelum wajahmu digantung bersama dirinya nanti disebelahmu.” Penjaga itu mengejek dengan merentangkan tangannya dan mulai terkekeh pelan lalu berjalan pergi, tawanya bergema di batu yang dingin.
Vael menggertakkan giginya dengan mencengkeram jeruji besi selnya hingga buku-buku jarinya memucat karena memar.
Silas melangkah maju ke dalam selnya, meretakkan lehernya dan memutar bahunya. “Vael, katakanlah sesuatu kepadaku. Apakah malam ini bulan purnama?”
Vael melirik ke atas melalui jendela sempit di atas selnya yang terlihat cahaya bulannya yang pucat menerobos jeruji, membasahi lantai sel dengan warna perak. “Ya, mengapa?”
Silas terkekeh, lalu menarik napas dalam-dalam. “Bagus. Itu artinya roda-rodanya telah berputar dari sekarang dan hanya menunggu waktunya saja.”
Silas mulai meregangkan lengannya lalu lehernya di dinding selnya, suaranya berubah menjadi dengungan lagi. Matanya berkedip dengan sesuatu yang tidak pernah terlihat jelas selama berhari-hari.
Namien yang telah hancur itu dan menyandarkan punggungnya di dinding, matanya menatap Silas dan menyipit dengan darah yang membasahi alisnya.
"Kau serius akan hal itu, bukan?" tanya Namien dengan suara seraknya.
"Seratus persen."
Dan untuk pertama kalinya sejak rantai mereka ditutup, udara dingin di penjara mulai terasa lebih tipis. Seperti menunggu untuk mematahkan sesuatu yang keras seperti tulang dan bisa mencium bau asap dari sesuatu yang akan terbakar dan datang itu.
Other Stories
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...